Mercusuar Atok (1)

Rasa-rasanya aku tidak pernah segelisah ini kalau ada angin kencang. Biasanya orang-orang di sekitar akan menutup jendela atau pintu rapat-rapat, mengamankan rumah dan hewan ternaknya masing-masing, setelah itu menunggu angin berlalu beberapa menit kemudian. Tapi kali ini sepertinya beda. Angin berderu lebih lama dan lebih kencang. Aku duduk di ruang tamu dan menatap jendela kaca yang basah kena hempasan air hujan. Tatapanku terfokus lebih jauh ke luar jendela, ke arah mercusuar di lereng bukit. Lampunya tidak menyala. Mungkin memang sengaja dimatikan, atau mungkin ada masalah di puncaknya sana.

Aku kembali menyandarkan punggungku. Mengusap-usap rambut cepakku yang baru dicukur pagi tadi. Cahaya lilin kecil di atas meja sedikit bergoyang kena angin yang masuk dari sela pintu. Kalau sudah angin kencang begini, listrik akan dipadamkan berjam-jam. Dan itu menyebalkan. Kuminum kopi hitamku perlahan.

“Tok, PR-mu udah selesai belum?”, Bang Moli berseru dari garasi rumah. Entah apa yang ia lakukan dari tadi di dalam garasi, mungkin berusaha membangun pembangkit listrik khusus untuk rumah ini.

Aku menghela napas kesal. “Belum, Bang.”

“Kerjakan dulu lah, Tok. Mau kamu dihukum bersihkan mercusuar lagi?” Ibuk ikut menyahut dari dalam dapur. Salah satu kerugian memiliki rumah kecil yang ekonomis adalah tidak peduli selirih apa obrolanmu, tetap akan terdengar ke seluruh penjuru rumah. Dan itu menyebalkan.

“Mana bisa ngerjakan PR kalo listrik belum nyala?”, Aku menyahut setengah hati.

“Alesaaan aja. Lilin di depan hidungmu itu kan udah terang.” Jawab Bang Moli. Sekilas terlihat dari bayangannya di garasi, ia sedang sibuk melilit kabel. Aku tak punya pilihan lain. Aku beranjak masuk ke kamar dan kembali duduk di ruang tamu dengan buku tulis.

Ya. Aku masih kelas 2 SMP. Jangan tertipu dengan kebiasaanku minum kopi, jangan terkecoh dengan kebiasaan melamunku yang seolah aku punya masalah dengan lilitan utang. Mengenai kopi, entah beberapa tahun yang lalu, sepertinya pak mantri pernah menyuruh ibuku agar aku rutin minum kopi untuk mengatasi kepala peningku yang waktu itu tak kunjung sembuh. Dan memang jadi kebiasaan rutin, hingga detik ini.

Buku tulis sudah di hadapanku. Tepat di bawah cahaya lilin yang bergoyang-goyang. Aku melihat tulisan di sudut halaman buku, BUKU TUGAS MATEMATIKA. Angin kencang nyaris badai, listrik padam, dan PR matematika. Dan ini sungguh menyebalkan.

Namaku Alberto Callisto. Keegoisan mendiang Ayahku yang ingin memberi anaknya sebuah nama yang terkesan bule dan ‘mahal’. Sampai di satu titik ketika orang-orang satu rumah kesulitan memanggil nama asliku, dan jadilah aku dipanggil Atok. Ayah pernah bilang bahwa namaku itu nama bagus. Nama pemberian Ayah yang sudah beliau persiapkan bertahun-tahun sebelum aku lahir. Tidak ada yang tahu dari mana sebenarnya Ayah mendapat inspirasi namaku itu. Karena saat teknologi internet sudah menjangkau desaku, iseng aku mencari namaku di salah satu mesin pencarian di komputer sekolah. Kuketik nama lengkapku, dan hasil pencarian yang keluar adalah seseorang bernama Alberto Callisto yang merupakan pengedar narkoba di Amerika Latin sana. Sejak saat itu, aku berhenti mencari tahu arti nama lengkapku. Namaku Atok, sesederhana itu saja.

Aku tinggal bersama Ibuk, juga Abangku, Timothy Liam, dipanggil Bang Moli. Ya, dia korban pertama keegoisan Ayah. Bang Moli dua belas tahun lebih tua dariku. Ia dipandang sebagai orang pintar di desaku. Dan memang ia pintar. Bang Moli lulusan SMK mesin. Tamat SMK, ia memilih untuk kembali mengabdi ke desa. Aku tak pernah paham alasan pastinya, karena seingatku ia sudah mendapat tawaran untuk melanjutkan kuliah gratis. Tapi ia memutuskan untuk kembali. Ia mulai membenahi sistem listrik di desa yang menurutnya kurang efektif dan serba ribet. Bang Moli juga berhasil membujuk kepala desa dan pemerintah setempat untuk segera meluaskan jangkauan listrik dan internet ke desa-desa di lereng bukit, termasuk desaku. Alhasil, seluruh penduduk desa seolah berhutang nyawa ke Bang Moli dan keluargaku. Kami tak pernah kehabisan makanan atau pun kebutuhan lain. Semua warga di sini selalu memberi bermacam-macam bingkisan hingga makanan sebagai tanda terima kasih atas pengabdian dari Bang Moli.

Dan aku yang kena getahnya. Punya abang terpandang di desa, tiba-tiba aku dapat beban moral yang seketika bertengger di pundakku. Aku tidak sepintar Bang Moli. Satu-satunya keahlianku adalah membuat kopi hitam yang manis dan pahitnya pas dengan suhu tidak terlalu panas. Mungkin itu salah satu daya tarik warga sekitar yang datang ke rumahku selain bertemu Bang Moli. Ingin mencicipi kopi buatanku yang kata orang-orang memang enak. Ibuk pernah bilang bahwa aku sama pintarnya dengan Bang Moli. Tapi kenapa untuk menyelesaikan sepuluh soal matematika di depanku ini saja rasanya otakku sudah sama ributnya seperti angin di luar.

“Kok ngelamun, Tok? Pusing? Gak bisa ngerjakan?” Ibuk datang dari dapur dengan membawa tiga mangkuk sup kacang merah. “Moliii! Sini makan dulu, sekalian bantuin Adekmu ini!” Ibuk mengambil semangkuk sup dan menyesapnya pelan.

“Moli, ini listrik udah hampir lima jam mati. Ada apa ya?”

Bang Moli keluar dari gudang sambil mengelap tangannya yang kotor. “Gak tau, Buk. Gara-gara angin nih. Moli juga gak berani ngecek ke pangkal. Anginnya masih begini.” Aku mengambil sup kacang merahku dan mulai memakannya lahap.

“Belum selesai matematikanya, Tok?” Ujar Bang Moli sambil mengunyah. Aku menggeleng pelan. “Yaudaah. Makan dulu lah. Abis ini aku bantu.” Itulah yang aku suka dari abangku. Ia tidak pernah menuntut dan menghakimi. Kami bertiga pun makan dalam diam. Di tengah gemuruh suara angin dan hujan yang tak kunjung berhenti. Aku melirik ke luar jendela. Lampu mercusuar itu terlihat menyala beberapa detik kemudian mati lagi. Sepertinya memang ada yang rusak.

***

Bel pulang sekolah sudah berbunyi setengah jam yang lalu. Sekolah pun sudah sepi. Aku masih duduk di mobil perpustakaan keliling yang hari ini mengunjungi sekolahku. Sudah 3 buku habis kubaca. Aku memang beda dengan teman-temanku yang lain. Menyendiri dan membaca seolah sebagai ritual meditasi tersendiri buatku. Lagipula aku juga tidak punya banyak teman, hanya beberapa saja sudah cukup, yang penting aku tidak punya musuh. Aku mencari-cari koleksi buku lainnya di dalam mobil. Tetap saja tidak ada yang menarik perhatianku.

“Mau cari buku apa, Tok?” Tanya Pak Heri, supir mobil perpustakaan.

“Gak punya buku tentang mercusuar pak?”

“Ha? Mercusuar? Wah, gak ada tuh kayaknya.” Pak Heri ikut membolak-balik kumpulan buku di mobilnya.

“Besok kalo ada, tolong dibawa ya, Pak? Aku pengen baca-baca soal mercusuar.”

“Iya deh. Coba besok bapak carikan ya.”

“Makasih ya pak.” Aku hendak beranjak pulang saat aku mendengar seseorang memanggilku dari halaman sekolah. “Atook!”

Aku menoleh ke asal suara. Ternyata Bu Meyla, anak Pak Kades yang juga bekerja sebagai guru di sekolahku. Ia mengerem laju sepedanya dan berhenti di depanku. Aku langsung menunduk mencium tangannya dengan sopan. “Bu Meyla, ada apa bu?”

“Oh, ituu, ehmm, kemaren ibu ngobrol sama abangmu soal sekolah kita butuh guru lagi. Ibu disuruh Pak Kepala buat bilang ke abangmu siapa tahu dia mau ngajar di sini. Tapi masih belum ada jawaban. Bilang sama abangmu buat cepet kasih kabar ya?”

“Oh iya bu. Nanti saya bilangin Bang Moli.”

“Ibu akan seneng sekali kalo abangmu mau ngajar juga. Biar ada tenaga tambahan. Salam buat Bang Moli ya, Tok?” Bu Meyla tersenyum lembut.

“I-Iya, Bu.”

“Yaudah, Ibu pulang dulu.” Bu Meyla mengayuh sepedanya lagi.

Sudah bukan rahasia lagi kalo Bang Moli itu lelaki idaman semua perempuan di desa ini. Dan Bu Meyla adalah salah satu pengagumnya. Tapi membayangkan Bang Moli jadi guru di sekolahku… ah sialan!

***

Aku berjalan menuruni bukit ke arah mercusuar. Masih dengan seragam sekolahku yang kusut dan tas ransel yang menggantung di punggungku. Dulu aku pernah dihukum guru matematikaku untuk membersihkan halaman luar dan lantai dalam mercusuar ini gara-gara aku ketiduran di kelas. Semenjak kejadian itu, rasanya aku menemukan tempat persembunyian baru. Mercusuar ini sebenarnya sedikit aneh. Dari tempatnya yang agak jauh dan tinggi dari garis pantai, membuat mercusuar satu ini sebenarnya tidak memiliki fungsi yang pas. Entah siapa yang pertama kali membangunnya dan kenapa harus dibangun di lereng bukit.

Setengah jalan aku menaiki tangga mercusuar, tiba-tiba aku mendengar suara dentingan logam dari puncak. Aku mendongak, melihat ada orang yang sepertinya sedang membetulkan sesuatu di sana.

“Ngapain, Tok? Dihukum suruh bersihin mercusuar lagi?”

Ah, Bang Moli. Hampir semua permasalahan teknis di desa ini selalu diselesaikan oleh Bang Moli. Dan pasti nanti malam ada yang mengantar sembako ke rumah, sebagai balasannya. Aku terus naik sampai ke puncak mercusuar.

“Nggak, Bang. Pengen main aja. Pasti gara-gara angin semalem, lampunya mati?”

“Iya…” Jawabnya pelan. Matanya masih terpaku dengan instalasi listrik di hadapannya. “Untung cuma kabelnya yang bermasalah, kalo sampe lampunya yang rusak, waah gak punya uang kita buat beli lampu mahal begini.”

Aku hanya melirik sekilas. Tak paham juga apa yang ia bicarakan. Aku mengambil tempat di sudut ruangan dengan pemandangan langsung ke laut lepas. Ruangan puncak ini hanya dikelilingi kaca-kaca yang besar dan tinggi. Seluruh desaku terlihat jelas dari atas sini. Bahkan desa di dekat pesisir sana pun terlihat. Aku sudah jatuh cinta dengan pemandangannya sejak pertama kali naik ke sini. Bang Moli ikut duduk di sampingku.

“Oh iya, Bang. Bu Meyla tadi titip salam. Katanya Bang Moli harus cepat kasih kepastian mau jadi guru di sekolahku nggak.”

Bang Moli hanya tersenyum sekilas dan melirikku, “Kamu mau jadi muridku di sekolah? Mau aku jadi gurumu?”

Aku menggeleng cepat. Bang Moli tertawa pelan. “Itulah kenapa aku gak jawab tawaran itu, Tok. Bosan aku harus ngeliat adekku tiap hari.”

Bang Moli memang manusia yang sangat sederhana dalam pemikirannya. Hanya karena aku tidak mau jadi muridnya saja, ia sudah menolak tawaran kerja yang kesekian kali.

“Abang kenapa dulu gak lanjut kuliah?” Tanyaku tiba-tiba. Bang Moli menatapku lekat, sedikit terkejut.

Ia menarik napas panjang. “Abang pengen terus sekolah, Tok. Tapi percuma kalo Abang selalu kepikiran kamu dan ibuk di rumah. Mending Abang pulang. Jaga kamu dan ibuk di rumah, biar Abang lebih tenang.” Segampang itulah pikiran Bang Moli. Sudah banyak kesempatan emas yang ia korbankan hanya untuk memastikan aku dan Ibuk aman di rumah.

“Bang Moli terlalu pintar buat desa ini, Bang.” Aku menyahut lesu. Merasa kasihan dengan Abangku yang mungkin saja sebenarnya punya mimpi untuk menjadi insinyur hebat.

Bang Moli menepuk pundakku. “Bapak udah nggak ada, Tok. Kamu dan Ibuk udah jadi tanggunganku sekarang. Dosa kalo Abang harus ninggal kalian. Udahlah, pokoknya nanti kamu yang harus sekolah sampe sarjana.”

Bang Moli beranjak dan mencoba menyalakan lampu mercusuarnya sekali lagi. “Toh berkah desa ini sudah cukup buat rumah kita bertahun-tahun kan, Tok? Ngapain Abang harus cari uang jauh-jauh.”

Aku masih merenung menatap pemandangan di depanku. “Emang Abang gak punya cita-cita?”

“Punya, Tok. Tapi masih buat nanti. Gak perlu keburu dikejar.” Bang Moli membereskan perkakasnya dan berjalan menuruni tangga. “Gak pulang?”

“Aku di sini dulu, Bang.”

Langkah Bang Moli semakin turun dan semakin jauh terdengar. Aku kembali diam di puncak mercusuar. Hidup ini rasanya rumit dan sederhana secara bersamaan. Bang Moli yang tidak pernah ambisius dan egois, sedangkan aku yang tidak tahu harus jadi apa nantinya untuk keluargaku, untuk membayar pengorbanan Bang Moli yang begitu besar. Atau mungkin aku akan jadi Alberto Callisto saja, jadi pengedar narkoba.

***

Aku mengaduk cangkir kopi ketiga. Dengan nampan kecil aku membawa tiga cangkir kopi ke ruang tamu. Kebiasaan keluargaku ketika malam tiba ya seperti ini. Berkumpul di ruang tamu, sekedar minum kopi atau makan malam, dan kami akan membicarakan banyak hal.

“Kenapa tawaran ngajar di sekolah Atok gak diambil, Mol?” Ibuk membuka pembicaraan.

“Atok gak mau kalo aku jadi gurunya.” Jawab Bang Moli cuek sambil menyeruput kopinya.

Ibuk langsung menjitak kepalaku. “Kau ini! Sudah enak yang ngajar Abangmu sendiri malah gak mau. Gimana sih!” Aku tersedak. Ibukku ini, kalau lagi senewen jangkauan tangannya kadang di luar batas.

“Pikir-pikir lagi lah, Mol. Itu tawaran langsung dari Pak Kepala, Ibuk gak enak kalo nolak.”

Bang Moli menghela napas. “Iya nanti Moli mikir dulu, Buk.”

Aku hanya menunduk dan minum kopi. Daripada salah omong dan kena jitak lagi.

“Itu lampu mercusuar kenapa gak nyala lagi ya?” Bang Moli mendongakkan kepalanya melihat puncak mercusuar yang gelap. Aku mengikuti pandangannya.

“Kabelnya lagi kali, Bang.”

Bang Moli mengambil teropong kecil dan keluar ke teras rumah. Ia melihat puncak mercusuar lewat teropongnya.

“Tok, coba tolong kamu kesana, mungkin harus dinyalain lagi, bisa?”

“Eeh, ini udah malem ngapain kesana? Nyuruh adekmu sendirian pula.” Ibuk protes.

“Gak apa-apa, Buk. Cuma nyalain lampu kok.” Lagipula aku suka ke puncak malam-malam gini. Suasananya jauh lebih tenang.

“Kamu tinggal geser aja tuas di bawah lampunya, sampe nyala ya. Kalo belum nyala, coba diulang-ulang lagi. Nanti kasih kode pake senter. Abang lihat dari teras sini.”

Aku menyambar jaket di gantungan baju, meraih senter dan tak lupa mengambil teropongku.

“Ati-ati, Toook!” Ibuk berseru dari ruang tamu.

“Iya, Buuk.” Aku menyahut sekenanya dan mulai berjalan menyusuri jalan desa yang lembab.

Orang-orang di desaku bilang sekitar mercusuar ini angker, banyak setannya. Aku tidak pernah peduli dengan urusan alam lain begitu. Bahkan kalaupun aku ketemu setan, aku berencana untuk mengajaknya ke rumah dan memaksanya minum kopi buatanku. Aku mengedarkan cahaya senterku ke depan. Pintu masuk mercusuar sudah terlihat. Sepertinya besok aku harus membuat beberapa lampu obor di sekitar sini. Gelapnya benar-benar pekat. Kedatanganku langsung disambut udara lembab di dalam mercusuar. Kakiku mulai menaiki tangganya pelan-pelan, masih dengan lampu senterku yang menjadi penerangan satu-satunya.

Sampai di puncak, aku menikmati pemandangannya sejenak. Bulan purnama bersinar cantik di atas laut lepas, kerlap-kerlip lampu rumah yang warna-warni. Wah, sepertinya aku harus lebih sering kesini malam hari. Aku mengintip lewat teropongku, kuarahkan ke rumahku. Terlihat Bang Moli masih menunggu di teras. Aku arahkan cahaya senterku ke Bang Moli, memastikan bahwa aku sudah di puncak. Kukalungkan lagi teropongku. Aku beralih ke lampu mercusuar yang mati. Lampu mercusuar ini terletak tepat di tengah-tengah ruangan puncak. Ukurannya besar dan bulat. Mungkin dulunya lampu ini berfungsi seperti lampu-lampu mercusuar yang lain, yang bergerak memutar untuk memberi tanda para nelayan atau pelaut di laut lepas sana. Tapi yang satu ini sudah dimodifikasi oleh Bang Moli. Lampu ini tidak lagi berputar, jadi hanya mengarah pada laut lepas, dan menyala selama tiga menit tiap satu jam sekali saja. Itu pun lampunya tidak seterang dulu.

“Tuas lampu… Tuas… Tuas… yang mana ya?” Aku mencari-cari tuas yang dimaksud Bang Moli. Kemudian terlihat ada tuas kecil berwarna biru. Ah, mungkin yang ini. Coba kugeser, lampunya menyala beberapa detik kemudian mati lagi. Aku geser lagi tuasnya, malah tidak mau hidup. Kubiarkan beberapa saat, kemudian aku geser lagi tuasnya. Lampunya menyala terang. “Nah, akhirnya.” Aku mengarahkan senterku ke Bang Moli di bawah sana, memberi tanda lagi.

Tiba-tiba terdengar suara gemeretak dari lampu mercusuar. Aku menoleh. Lampu itu bergetar dan goyang-goyang seperti mau lepas. Aku mulai panik. Aku cek lagi apa yang salah dari lampu itu. Mungkin aku menggeser tuas yang salah? Tidak. Cuma ada satu tuas di situ. Tanganku coba mematikan, tidak bisa. Tuasnya macet. Lampu di depanku terasa makin terang dan bergetar keras. Kupegang lampunya, sontak aku langsung menarik tanganku dengan cepat. Panas sekali. Aku berusaha mematikan lampunya lagi, tapi tuasnya masih macet. Aku geser sekuat tenaga juga belum bisa. Satu hal yang bisa dilakukan adalah memberi tanda ke Bang Moli tapi rasanya akan buang-buang waktu menunggu Bang Moli ke sini. Getarannya terasa sampai di kakiku dan lampu ini semakin terang sampai aku tidak bisa membuka mataku saking silaunya. Tangan kananku coba menggeser tuasnya tapi susahnya minta ampun. Lampunya berpendar terang dan panas seakan mau meledak. Aku membuka kelopak mataku sedikit, memastikan aku meraih tuas yang benar kemudian aku tarik sekuat tenaga dengan kedua tanganku. Sedetik kemudian aku mendengar suara ledakan kecil dan aku terhempas jatuh hingga menabrak kaca.

Tidak, aku tidak sampai pingsan. Dinding kaca yang aku tabrak juga tidak pecah. Tapi telingaku sakit dan berdengung. Bahuku lecet-lecet sedikit dan punggungku juga sakit karena menabrak tembok. Aku menggoyang-goyangkan kepalaku sejenak. Pening rasanya. Tanganku menjangkau senter yang tadi terlempar dan mengarahkan ke lampu mercusuar di depanku. “Lampu kampret!”

Aku coba berdiri dan mengecek lampu itu sekali lagi. Sekarang sudah mati dan tidak bergetar seperti sebelumnya. “Haash, dimarahi Bang Moli lah abis ini.” Aku berdecak kesal. Suara petir menyadarkan aku akan satu hal. Aku melihat sekeliling dan seketika mengerutkan kening. Kenapa tiba-tiba badai dan hujan deras? Meskipun kepalaku pening tapi aku masih ingat dengan jelas tadi langit begitu terang, bahkan ada bulan purnama. Aku mengedarkan pandanganku lagi. Listrik satu desa juga padam, diganti dengan lilin-lilin dan penerangan darurat di masing-masing rumah. Aku semakin bingung. Angin bertiup kencang sekali sampai jaketku juga dibuat basah kena hempasan air hujan. Aku meraih teropong di balik jaket dan mencari-cari rumahku di bawah sana. Listrik rumahku juga padam. Bang Moli juga tidak menunggu di teras lagi. Mungkin ia menyusul kesini untuk memastikan bahwa aku ba… Tunggu dulu…

Aku memegang teropong di depan mataku dengan kedua tangan, menajamkan penglihatanku yang semoga salah. Bang Moli ternyata ada di dalam ruang tamu yang hanya diterangi cahaya lilin. Ia sedang mengelap tangannya dan ngobrol dengan Ibuk yang melahap sup. Di dekat ibuk ada… Aku?

Aku mundur beberapa langkah dan napasku jadi memburu. Kuturunkan teropongku dengan kepala yang semakin pening. “A-apa ini?” untuk sekian menit rasanya aku tidak bisa berpikir jernih. Kenapa ada aku di rumah? Aku kan ada di sini. Dengan tangan gemetar aku kembali melihat rumahku melalui teropong. Masih ada Bang Moli, Ibuk, dan aku di ruang tamu sedang makan sup kacang merah.

“Apa-apaan ini? Ke-kenapa jadi begini?” Bang Moli tidak berpesan apa-apa sebelum aku kesini. Ia hanya menyuruhku menyalakan lampu, itu saja. Aku melirik lampu mercusuar di belakangku. Lalu melihat aku yang lain di dalam rumah. Rasanya aku ingat kejadian di ruang tamu itu. Kukalungkan teropongku. Aku memijat kepalaku sendiri. Suara angin kencang dan hujan deras malah membuat ingatanku semakin kabur.

“Dua malam yang lalu, iya, du-dua malam yang lalu.” Aku kembali ke dua malam yang lalu. Saat angin kencang dan hujan deras tak kunjung berhenti, dan listrik satu desa harus padam selama lima jam lebih. Aku berdiri dan panik. Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana caranya aku bisa kembali ke waktu asalku tadi? Hal terakhir yang kulakukan adalah menyalakan lampu sialan ini. Dadaku rasanya naik-turun menahan deru napas karena serangan panik tiba-tiba. Tanganku gemetar saat berusaha menarik tuas lampu itu lagi. Kucoba beberapa kali masih belum menyala. Setelah tiga kali akhirnya lampu itu menyala lagi dengan sangat terang. Aku langsung menutup mataku rapat-rapat sembari merapal doa semoga aku bisa kembali ke waktu semula. Saat kurasakan lampu itu semakin bergetar, kutarik lagi tuasnya untuk mematikan lampu. Mataku masih tertutup rapat. Saat kurasakan lampunya sudah meredup, kulihat sekelilingku lagi. Tidak ada badai dan hujan yang deras. Bulan purnama kembali muncul di langit. Segera aku melihat rumahku lewat teropong. Terlihat Bang Moli sedang menunggu di teras dengan tatapan yang masih terpaku ke puncak mercusuar ini. Aku menghela napas lega. Kulirik sekilas lampu mercusuar yang berpendar dengan tenang. Aku segera meraih senterku dan berlari menuruni tangga.

Aku meninggalkan mercusuar dengan berlari sekuat tenaga. Sambil memikirkan apakah Bang Moli tahu tentang ini? Apakah aku harus menceritakan kejadian tadi ke Bang Moli? Napasku rasanya sudah habis ketika berlari memasuki halaman rumah. Bang Moli terheran-heran melihatku yang berlari seolah dikejar setan.

“Eh kenapa, Tok? Ada apa? Ada yang gak beres, hah?” Bang Moli meremas pundakku dan menatapku lekat-lekat.

“A-Aku tadi… tadi…” Sialan! Apa aku harus cerita yang sebenarnya?

Ibuk sampai ikut menghampiriku. “Atook, kenapa heh? Kamu kok basah-basahan begini?” Giliran Ibuk yang meremas kedua pipiku.

“Aku tadi… tadi ngeliat…” Bang Moli dan Ibuk menatapku serius menunggu kelanjutan cerita. “Ngeliat setan, di-di dekat mercusuar sana.” Aku menjawab asal. Jangankan mereka, aku saja sama sekali tidak tahu apa yang baru saja terjadi di atas sana. Bang Moli dan Ibuk saling berpandangan sejenak.

“Kau sih aneh-aneh aja, Mol. Nyuruh adekmu kesana sendirian malem-malem gini. Jadi ngeliat yang nggak-nggak kan dia.” Kepala Bang Moli dijitak dua kali oleh Ibuk, ditambah telinga kirinya yang dijewer sampai merah.

“Aduh, Buk. Aduh! Ya mana tahu kalo di sana ada begituan, Buk.”

Ibuk melepas jaketku yang basah kena air hujan di dua malam yang lalu. “Terus ini kenapa jaketmu jadi basah semua begini, Tok?”

“A-Aku lari sampe gak liat ada selokan, Buk.” Aku menjelaskan semua dengan masih terbata-bata, antara masih kehabisan napas dan panik.

“Yaudah masuk lah ganti baju. Aduuh ini tanganmu sampe lecet giniii. Lain kali kalo mau nyalain lampu, Moli berangkat sendiri.” Ibuk masuk ke dalam rumah mengambil handuk dan obat luka buatku.

Bang Moli masih memandangiku heran. “Liat setan apaan? Katanya gak percaya setan, tapi sekalinya keliatan langsung lemes!” Bang Moli berlalu sambil memegangi telinga kirinya yang merah. “Tapi lampu di atas aman kan, Tok?” Tanya Bang Moli lagi.

“Moliii, adekmu nyaris digondol setan, masiiih aja nanya lampu. Sana kau cek lampumu sendiri ke atas.” Teriak Ibuk.

Di tengah-tengah perseteruan Bang Moli dan Ibuk, aku masih harus menjernihkan pikiranku lagi. Aku menatap puncak mercusuar di atas sana. Lampunya masih menyala dengan tenang. Berbeda jauh dengan bagaimana bergemuruhnya suasana yang aku alami tadi. Tempat apa itu sebenarnya? Mesin waktu?

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi
ilustrator : @msekarayu

Leave a Reply