Mercusuar Atok (2)

Sudah kuhabiskan dua buku tentang mercusuar di mobil perpustakaan Pak Heri, tapi aku belum puas. Kubolak-balik kumpulan buku di dalam mobil dan tidak menemukan petunjuk lain. “Cari apa lagi, Tok?” Tanya Pak Heri.

“Buku tentang mercusuarnya cuma ini, Pak?”

“Iya, Tok. Pak Heri cuma dapet itu aja. Masih kurang?”

Aku menghela napas pasrah. “Kurang puas rasanya, Pak.”

Pak Heri menggeleng pelan dan tersenyum simpul. “Atook… Atok. Kamu satu-satunya pengunjung setia mobil ini di sini. Bapak seneng kamu suka sekali baca buku, bagus itu. Tapi maaf kalo koleksi buku di mobil ini masih belum cukup buat kamu. Jangan pernah kenyang sama ilmu, kamu harus cari terus sebanyak-banyaknya. Inget itu.”

Aku tertegun dengan perkataan Pak Heri. Membaca adalah hal kesukaanku kedua setelah membuat kopi. Aku tidak pernah menganggapnya spesial. Tapi apa yang aku cari kali ini rasanya tidak cukup lewat buku-buku di sini.

“Besok kalo kesini lagi, Bapak bawain buku yang banyak ya buat kamu.” Pak Heri mengacungkan jempolnya. “Sudah sana, katanya mau main bola. Teman-temanmu sudah di lapangan kamu malah masih di sini.”

Aku membalas tersenyum sambil memasang sepatu bolaku. “Iya, makasih, Pak.” Aku berlalu meninggalkan mobil perpustakaan Pak Heri.

Matahari mulai miring ke barat. Jam 3 sore. Aku berlari kecil menuju lapangan bola di belakang kantor kepala desa. Dari sini terlihat puncak mercusuar yang misterius itu. Masih teringat ngerinya bertaruh waktu di atas sana, dan aku juga masih belum tahu jawabannya. Tidak. Aku belum mau dan belum siap untuk kembali ke atas sana lagi.

“Atook! Langsung main! Masuk timku!” Teriak Dodik dari tengah lapangan. Aku mempercepat lariku. Sesekali melirik puncak mercusuar itu lagi. Jangan-jangan di atas sana ada aku dari masa depan sedang memperhatikan aku yang sekarang main bola ini. Semakin dipikirkan semakin ngeri.

***

Aku duduk di teras rumah sambil merapatkan jaket. Udara malam ini lebih dingin dari kemarin. Mungkin karena sudah berganti musim. Fokus pandanganku juga belum berubah, sesekali aku melihatnya lewat teropong yang kukalungkan di leherku ini. Puncak mercusuar yang kali ini lampunya bekerja dengan baik tanpa ada masalah. Kadang aku penasaran, tapi kadang aku takut memandanginya lama-lama.

Semilir angin bertiup lagi, kali ini aku sudah tidak kuat. Aku beranjak masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Bang Moli sedang makan malam di ruang tamu. Ruang tamu kami memang berfungsi sekaligus sebagai ruang makan dan ruang keluarga. “Makan, Tok.” Ada sepiring nasi lengkap dengan lauknya yang ternyata sudah disiapkan Bang Moli buatku. Aku duduk di hadapan Bang Moli dan ikut makan. Kalau sudah berdua bareng Bang Moli seperti ini, ada keinginan untuk menceritakan kejadian di puncak mercusuar kemarin. Tapi aku ragu.

“Bang?”

“Hmm?” Bang Moli masih sibuk mengunyah.

“Kemaren yang Bang Moli benerin lampu mercusuar siang-siang itu…” Bang Moli mendongak menatapku. Masih sambil mengunyah. “Ehmm, yakin yang rusak cuma kabelnya?”

“Yakin, yang lainnya gak rusak, kok. Kenapa emangnya, Tok? Ada yang rusak lagi?”

“Nggak, cuma waktu aku kesana malam-malam itu, kayaknya tuas lampunya agak macet, Bang. Susah banget nariknya.”

“Ooh, emang begitu, Tok. Soalnya belum diganti, jadi ya emang kadang macet.” Bang Moli melanjutkan makannya dengan santai. Sepertinya Bang Moli tidak tahu apa-apa tentang rahasia lampu mercusuar itu. Harus ke mana dan ke siapa lagi aku mencari-cari jawabannya?

Beberapa menit kemudian Ibuk datang. Buru-buru masuk ke rumah karena cuaca yang dingin di luar. “Ibuk dari mana?” Tanya Bang Moli.

“Rumah Pak Kades.”

“Ngapain?”

Ibuk menarik napas sebelum menjawab lembut. “Nanti ya Ibuk ceritain. Kalian makan dulu lah.”

Aku dan Bang Moli saling bertatapan. Sepertinya akan ada obrolan menarik malam ini.

***

Aku bersyukur tidak diajak Ibuk untuk ngobrol malam ini. Karena ternyata ini menyangkut masa depan kehidupan Bang Moli. Jadi ya aku di sini. Meringkuk di kasurku sambil menajamkan telinga mencoba mendengarkan pembicaraan Ibuk dan Bang Moli di ruang tamu. Sudah kubilang kan, percuma saja mau menyimpan rahasia di rumah ini. Obrolan selirih apapun akan tetap terdengar seisi rumah. Sama percumanya ketika Ibuk menyuruhku ke kamar agar beliau bisa bicara berdua dengan Bang Moli.

Berita besar untuk malam ini adalah Pak Kades ingin segera menikahkan anaknya, Meyla, yang juga jadi guruku di sekolah. Dan pilihan terbaik yang akan jadi calon suaminya adalah Bang Moli. Aku sudah tahu sejak lama kalau Bu Meyla itu diam-diam suka dengan Bang Moli. Dan mungkin Bu Meyla memanfaatkan posisi ayahnya untuk menyampaikan perasaannya itu pada Bang Moli, yang masih harus lewat perantara Ibuk dulu. Menurutku agak egois. Tapi cinta mana yang tidak egois?

Aku tidak bisa menebak bagaimana reaksi Bang Moli. Karena daritadi aku hanya mendengar suara Ibuk yang lebih banyak bicara. Aku cuma mendengar kata-kata ‘Iya’, ‘Bukan begitu, Buk’, ‘Moli tahu’, ‘Semoga’ dari mulut Bang Moli. Selain itu hanya terdengar petuah-petuah pernikahan dari Ibuk. Beberapa menit kemudian Bang Moli sudah masuk kamar. Ya, aku sekamar dengan Bang Moli. Kadang Bang Moli tidur di sebelahku, kadang ia tidur di bawah hanya beralaskan karpet. Tapi kali ini Bang Moli tidak langsung tidur. Ia duduk menghadap mejanya, di salah satu sudut kamar.

Aku pura-pura tidur saja daritadi. Hanya mengintip dari kelopak mataku yang kubuka sedikit. Bang Moli itu orang dengan raut muka paling datar yang pernah kutahu. Tapi saat ini aku bisa melihat wajah gelisahnya meskipun lampu kamarku redup. Ia mengusap-usap wajahnya yang makin kusut. Kemudian tangan kiri Bang Moli menarik laci meja, diambilnya dompet hitam kusam miliknya dan mengeluarkan sebuah lipatan kertas. Bang Moli membukanya dan seperti sedang membaca beberapa tulisan di balik lipatan kertas itu. Wajahnya yang terlihat menyesal dan bersalah.

Kuregangkan badanku perlahan dan mengubah posisi tidurku menghadap jendela, masih dengan mata yang pura-pura terpejam. Aku tidak tega melihat Bang Moli yang gelisah begitu. Sepertinya ia akan mengorbankan sesuatu lagi untuk menyelesaikan masalah perjodohan dadakan ini. Sejenak aku lupa dengan misiku untuk mencari tahu tentang mercusuar. Rasanya suasana rumah malam ini lebih misterius dari mercusuar sialan itu. Dan ini menyebalkan.

***

Minggu pagi. Jadwal rutinku untuk lari pagi keliling desa. Ayah yang pertama kali mengajarkan kebiasaan ini. Dulu waktu Ayah masih ada, aku selalu lari berdua dengan beliau. Kadang juga bertiga sama Bang Moli. Katanya, lari adalah senjata utama dan terpenting kita untuk perlindungan diri, asal bukan lari dari masalah. Biasanya kami akan mulai berlari jam lima pagi dari rumah, mengelilingi jalan utama desa, kalau sedang bersemangat kadang sampai atas bukit atau bahkan pantai di bawah sana. Tapi kali ini aku berlari-lari kecil mengelilingi desa saja. Cukup untuk membuat peredaran darahku kembali lancar.

Pagi ini aku mengambil rute yang berbeda dari biasanya. Aku memutari jalan utama desa sekali, kemudian aku berlari kecil menuju mercusuar. Setelah beberapa kali pikiranku terusik gara-gara kejadian itu, aku memutuskan harus kembali ke atas sana. Mencari tahu rahasia apa yang tersembunyi di mercusuar itu. Sengaja aku pergi kesana dengan pemanasan lari-lari kecil. Siapa tahu lampu itu mulai aneh-aneh lagi, badanku sudah siap untuk lari sekencang-kencangnya.

Aku memasuki badan mercusuar dengan bimbang. Dengan sekali tarik napas panjang, aku berjalan menaiki tangganya dengan sigap dan cepat. Sampai di atas nyaliku ciut lagi. Terakhir kali aku memegang lampu itu rasanya bikin pusing dan tanganku sampai terbakar saking panasnya. Aku meraih patahan ranting pohon di lantai, berjalan mendekati lampu yang besar dan bulat itu. Semakin dekat, aku mengetuk-ngetuk bolam lampu dengan ranting. Tidak ada reaksi apa-apa. Saking takutnya aku sampai bertindak bodoh begini. Aku perhatikan lagi lampu itu dengan seksama. Lampunya dipasang di atas beberapa penyangga besi yang besar. Ada lapisan lensa tebal yang berfungsi untuk menyebarkan cahaya agar lebih jauh dan terang. Jalur listrik bercabang jadi dua. Yang satu ke kotak –entah itu apa namanya tapi terlihat semacam kotak– di bawah penyangga lampu. Yang satu lagi menjulur ke bawah tangga sana. Aku baru tahu kalau instalasi listrik untuk lampu mercusuar saja seribet ini.

Aku melihat sekeliling, hanya untuk memastikan aku tidak berpindah waktu lagi. Suasananya masih sama seperti saat aku masuk tadi. Aku melirik lampu mercusuar itu sekali lagi, belum juga paham apa yang sebenarnya aku cari di sini. Aku tidak paham listrik seperti Bang Moli. Jadi buang-buang waktu saja kalau aku hanya menunggu lampu itu berulah lagi. Aku turun tangga dengan bingung. Apa waktu itu aku hanya berhalusinasi saja? Tapi tidak mungkin. Bahkan jaketku waktu itu kena hujan dari dua malam sebelumnya.

***

Belum sempat aku ganti baju dan lepas sepatu, Bang Moli malah mengajakku lari lagi. Sampai pesisir pula. Aku turuti saja. Biasanya kalo ada masalah, Bang Moli memang kadang agak keterlaluan memanfaatkan adeknya ini untuk sejenak mengalihkan pikirannya. Tepat jam 10 pagi kami tiba di pantai. Kami berdua sudah telanjang kaki dan menaiki kano kecil yang cukup untuk berdua. Aku duduk di depan, Bang Moli mendayung di belakang. Kapal-kapal nelayan sibuk bongkar muatan di sisi pantai yang lain. Anginnya masih sejuk dan segar. Ombaknya hanya bergoyang-goyang tenang. Setelah agak jauh dari garis pantai, Bang Moli berhenti mendayung. Dan di sini kami, dua jejaka pendiam yang terapung-apung di tengah laut. Kami berdua seolah diam menikmati bisingnya pikiran masing-masing.

“Kadang aku mikir, Bang Moli tu sebenernya orang paling bermasalah di dunia ini, Bang.” Aku memancing pembicaraan.

Bang Moli menatapku dengan kening berkerut. “Kok gitu?”

Aku memelankan suaraku. “Udah lah, Bang. Aku tahu. Aku denger omongan Abang sama Ibuk kapan hari itu.” Bang Moli masih menatapku. “Abang jangan berkorban buat orang lain terus dong, Bang.”

Bang Moli tersenyum tipis. Ia menatap air laut yang tenang. “Itu satu-satunya keahlian Abang, Tok. Berkorban.”

Aku menatap Bang Moli heran. “Gak adil, Bang. Orang lain seneng, Abang yang nanti bakal susah.”

“Abang gak merasa susah. Kamu aja yang kasihan sama Abang.”

Seringkali aku tidak mengerti maksud Abangku ini, tapi aku justru semakin menghormatinya sebagai Abang. “Setidaknya jangan kecewain Atok, Bang. Abang harus punya sesuatu untuk dikejar.”

Bang Moli tersenyum dan mengangguk mantap. Ia kembali mendayung kano ke tengah laut.

“Terus Bu Meyla gimana, Bang? Abang mau dijodohin sama Bu Meyla?”

“Nanti malam Pak Kades ke rumah, Tok. Doakan semoga keputusan Abang sudah yang terbaik.” Jawab Bang Moli sambil terus mendayung.

Ah, aku diam saja, walaupun aku sudah tahu nanti malam akan seperti apa. Aku melirik mercusuar yang terlihat menjulang dari sini. Kalau memang benar tempat sialan itu adalah mesin waktu, aku ingin kembali ke masa Bang Moli masih kecil. Biar aku didik dia jadi pendekar.

***

Aku memilih untuk berbaring di atas genteng rumah. Aku memilih untuk menghitung bintang di langit malam yang cerah ini. Aku memilih untuk menutup telingaku rapat-rapat. Aku lebih memilih untuk mendukung saja pengorbanan besar seorang Timothy Liam malam ini. Seperti yang kuduga, Bang Moli pasrah dijodohkan dengan Bu Meyla.

Aku menghela napas berat. Jelas aku tidak mampu dan tidak sanggup melakukan pengorbanan sebesar itu. Sampai-sampai tidak punya ruang untuk memikirkan dirinya sendiri. Aku memeluk teropongku erat sambil terus menghitung bintang di langit. Memang mustahil bintang bisa dihitung. Tapi setidaknya ini bisa mencegah air keluar dari mataku.

“Cuma orang gila yang bisa ngitung bintang, Tok!” Teriak Bang Moli dari teras rumah.

Aku menghapus air mataku yang jatuh setitik. “Mending gila daripada pasrah sama hidup, Bang.”

Ada jeda cukup lama sebelum akhirnya Bang Moli menyahut lagi. “Biar Abang yang berkorban semuanya, Tok. Jatahmu juga Abang yang ambil. Biar nanti kamu gak perlu dituntut untuk berkorban lagi buat kehidupan.”

Kemudian ia masuk ke dalam rumah. Meninggalkan aku dan mataku yang semakin basah. Abangku itu sepertinya punya perjanjian khusus dengan semesta. Semua yang ia minta hampir selalu dikabulkan. Dan konsekuensinya adalah pengorbanan tiada henti. Satu hal yang Bang Moli belum paham. Ia sama saja menaruh beban kehidupan yang jauh lebih berat ke pundakku. Karena orang-orang akan memandang Bang Moli adalah orang hebat, yang mana adeknya juga harus lebih hebat dari Bang Moli.

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

Leave a Reply