Mercusuar Atok (3)

Sudah hari minggu lagi. Hari ini aku tidak bersemangat untuk lari pagi. Jadi ya aku bikin kopi saja di dapur. Aku menggiling biji kopi sambil merenung. Sejak malam Pak Kades ke rumah itu, aku semakin diam. Apalagi Bang Moli. Kami berdua juga jarang bicara karena Bang Moli jadi lebih sibuk dengan pekerjaan barunya, untuk membuktikan dia bisa jadi calon kepala keluarga yang baik. Rumah ini yang awalnya sudah sepi jadi terasa lebih sepi lagi. Aku tidak kecewa apalagi marah dengan keputusan Bang Moli. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku jadi bersikap seperti ini.

Kumasukkan kopi hasil gilinganku ke dalam plastik. Aku mengambil termos berisi air panas, jaket, dan tas pinggangku lalu bergegas pergi ke pasar ikan di sisi desa paling barat. Biasanya pasar ini akan jadi rute lariku. Tapi kali ini aku ingin jalan-jalan saja. Aku sudah janji mau menemui Mbah Marto, salah satu nelayan di desa ini. Dulu waktu kecil aku sering ikut kapal Mbah Marto mencari ikan atau sekedar ingin bermain-main dan menyelam di tengah laut sana. Beberapa hari lalu beliau memberiku biji kopi yang didapat dari kampung istrinya dan aku berjanji untuk menyeduhnya.

Pasar ikan terlihat agak sepi pagi ini. Aku mendekati ke salah satu gubuk yang biasa dipakai Mbah Marto untuk menjual ikan-ikannya. Sudah ada Mbah Marto menungguku.

“Heee Atook. Sinii!” seru Mbah Marto yang kegirangan melihatku. “Nggak lupa kopinya toh?”

Aku mengacungkan termos kecilku.

“Aah, bagus bagus. Sini sini!” Mbah Marto menggeser duduknya. Aku mengambil tempat berhadapan dengan beliau. “Ini namanya kopi Gondo. Kata istriku dua tahun sekali bisa panen aja syukur, Tok. Kopi langka iniii!”

Mbah Marto meletakkan dua cangkir kosong di antara kami. Aku langsung memulai ritualku menyeduh kopi. Mbah Marto menghirupnya dalam-dalam sambil memejamkan mata. “Waaahh, aromanya aja udah mantep, Tok.”

“Emang segitu enaknya ya, Mbah?” Aku ikut menghirup uap yang mengepul dari cangkir. Terasa ada bau coklat, atau caramel, atau gula aren, aku sampai ikut memejamkan mata mencoba menebak-nebak aromanya.

“Coba dulu nih. Katanya kamu pinter ngaduk kopi. Tapi minum Gondo aja belum pernah.”

Aku dan Mbah Marto menyesap kopi perlahan. Ternyata benar seperti ada campuran rasa cokelat. Manis alami. Padahal aku tidak menambah gula sedikit pun. Tapi seperti ada rasa karamelnya.

“Kok bisa manis banget ya, Mbah?”

Mbah Marto tertawa pelan. “Ya itu khasnya Gondo. Kopi, tapi manis rasa cokelat.”

Kami berdua kembali menikmati kopi masing-masing. “Abangmu mau nikah katanya, Tok. Bener itu?”

Aku mengangguk pelan. Mbah Marto melirikku sekilas. “Kamu dukung lah si Moli itu. Jangan sedih gitu. Abis nikah toh dia tetep di desa ini.”

Kopiku sudah setengah cangkir. Kemudian aku menenggaknya sampai habis. Bukan masalah Bang Moli akan tinggal dimana setelah menikah. Tapi soal dimana pendiriannya selama ini.

“Ehm, Mbah Marto…”

“Hmmm?”

“Mbah Marto tau mercusuar itu gak?” Aku menunjuk puncak mercusuar yang terlihat dari sini.

“Ya tau lah, siapa yang gak tau mercusuar itu. Tinggi begitu kan siapa aja bisa liat.”

“Bukan, Mbah. Maksudnya Mbah Marto tau nggak yang bikin mercusuar itu siapa, dipake buat apa, ada cerita-cerita seremnya mungkin?”

Mbah Marto menatapku sejenak, lalu tertawa. “Dari Mbah lahir, itu mercusuar udah ada, Tok. Ya udah tua jelek begitu.” Mbah Marto kembali meminum kopinya. “Tapi dulu kakekmu sering ke mercusuar itu.”

“Ha? Bener itu, Mbah?” Aku terkejut.

“Iya. Tapi cuma ngerjain tanah di sekitar mercusuar itu, Tok. Soalnya tanah di situ subur. Bisa buat nanem sayur-sayuran. Kakekmu yang rajin nanem di sana. Berkali-kali panen sampe bisa buat kebutuhan orang-orang sedesa. Tok.”

Aku baru tahu kisah ini dari Mbah Marto. Sepertinya Ibuk tidak pernah menceritakan kesibukan kakek yang mengelola lahan sekitar mercusuar jadi tempat bertani. “Kok Atok gak pernah tahu ya kalo kakek sering bertani di sana.”

“Ya kan kamu masih kecil, Tok. Mana ingat. Kakekmu mati juga kamu masih kecil. Mana ngerti kamu. Lagian cuma bertani, Tok. Kerjaan biasa itu, gak perlu dibanggakan sampe turun-temurun.” Ucap Mbah Marto sambil menikmati kopinya lagi.

Angin bertiup pelan, menerpa wajahku yang lembab, sekaligus meniup harapanku tentang jawaban soal mercusuar misterius itu.

***

Sudah jam 12 siang. Satu jam lagi bel pulang sekolah akan berdering. Tapi menunggu satu jam dengan pelajaran biologi di kelas rasanya mau mati saja. Aku sudah malas mencatat materi lagi. Buku tulisku penuh dengan gambar-gambar artistik yang aku sendiri tidak tahu itu bentuk gambar apa. Pak Joni di depan juga masih semangat menerangkan anatomi mahluk laut. Aku memandang ke jendela kelas. Lapangan sekolah sepi. Matahari terasa terik bukan main. Bel sekolah sudah bunyi. Ah, akhirnya! Aku membereskan buku-bukuku dan bergegas berlari ke luar sekolah.

“Atoook!”

Kakiku baru saja keluar dari gerbang sekolah saat ada yang memanggilku. Aku mencari sumber suara.

“Tok, sini ikut!” Ternyata Pak Heri yang memanggil dari dalam mobilnya.

Aku berjalan mendekat. “Kemana, Pak?”

“Ikut ke kantorku. Mau? Di sana bukunya lebih banyak. Aku gak bisa lama-lama mangkal di sini sekarang. Kamu ikut aja. Cari buku apa aja di sana banyaak. Tenang aja, nanti aku antar pulang lagi. Ayo naik!”

Aku melirik puncak mercusuar. Rencananya sepulang sekolah aku mau langsung ke sana. Ah sudahlah, aku bisa ke sana setelah dari kantor Pak Heri. Lagipula aku masih harus cari tahu lebih banyak tentang mercusuar itu. Mungkin aku akan menemukan jawaban di kantor Pak Heri nanti. Aku membuka pintu mobil dan duduk di sebelah Pak Heri.

Seperti kata Pak Heri, kantor perpustakaan pusat memang koleksi bukunya jauuh lebih banyak. Sudah lima buku habis kubaca, dan kali ini buku keenam masih kubolak-balik.

“Tok…” Pak Heri menepuk pundakku. “Tuh pake komputerku kalo mau cari-cari di internet. Sapa tau yang kamu cari gak ada bukunya di sini.”

“Boleh, Pak?”

“Ya boleh doong. Udah sana pake aja. Tapi jangan cari yang aneh-aneh lho.”

Aku pindah duduk di meja kerja Pak Heri, menatap layar komputer yang sudah membuka laman mesin pencarian. Aku memasukkan kata kunci mercusuar. Yang keluar adalah tentang fungsi mercusuar, sejarah dan persebaran mercusuar, bagian-bagian lampu mercusuar, yang semuanya aku sudah paham dan pernah baca. Apa lagi yang harus aku cari? Aku melihat sekeliling. Memastikan tidak ada Pak Heri. Berikutnya aku ketik kata kunci mesin waktu. Yang keluar justru lebih rumit dari yang aku bayangkan. Perbedaan gravitasi, kecepatan cahaya, percobaan pembuatan mesin waktu, time traveler, orang-orang yang dianggap datang dari masa depan. Banyak hal yang belum sepenuhnya aku pahami. Aku semakin lesu. Rasanya jalanku buntu.

***

Jam 3 sore aku baru pulang ke rumah. Seragamku sudah kusut dan basah kena keringat. Aku duduk di teras sambil melepas sepatuku.

“Kok jam segini baru pulang, Tok?” seru Ibuk dari dalam.

“Diajak Pak Heri ke kantornya, Buk. Cari-cari buku.”

Ibuk keluar dengan baju yang sudah rapi. “Eh, Ibuk keluar dulu. Kamu di rumah aja jaga rumah, ntar lagi Bang Moli juga dateng. Ibuk mau ke kantor Pak Kades.” Ibuk langsung pergi meninggalkan rumah. “Ibuk udah masak, Tok. Ada di dapur semua.”

Sehari-harinya Ibuk hampir selalu tidak ada di rumah. Beliau memang suka kesibukan. Kesana-kemari mengurus keperluan desa. Ibuk juga jadi kepercayaan Pak Kades untuk membantu mengurus desa. Mungkin itulah yang menyebabkan Ibuk sedikit memaksa Bang Moli untuk mengiyakan saja perjodohan dari Pak Kades. Beliau tidak enak hati harus menolak.

Aku masuk ke rumah dan langsung ganti baju. Cahaya matahari masuk dari sela-sela pintu dan jendela, semakin memperjelas rumahku yang kosong dan sepi. Aku periksa dapur, ternyata sudah banyak makanan. Beberapa menit kemudian Bang Moli datang dan langsung masuk ke kamar. “Tok, bikin kopi dong.” Kata Bang Moli dari dalam kamarnya.

Kami duduk berhadapan di ruang tamu. Dengan secangkir kopi dan makan siang –yang agak telat– masing-masing. Ya, kita bisa makan berat langsung dengan minum kopi, tanpa air putih. Dan lidah kami masih baik-baik saja, semoga perut kami juga begitu. Hanya terdengar suara dentingan sendok di antara kami. Dari dulu Ayah selalu mengajarkan jangan berbicara saat sedang makan. Bang Moli sudah selesai duluan. Ia menikmati kopinya pelan-pelan.

“Kamu kenapa sih, Tok?” Tanya Bang Moli tiba-tiba. Aku menatap Bang Moli bingung, masih dengan mulut penuh makanan.

“Marah sama Abang?”

Aku menggeleng pelan.

“Kecewa sama Abang?”

Kali ini aku tidak bereaksi apa-apa. Selain aku tidak bisa menjawab karena mulutku masih sibuk mengunyah, aku juga tidak bisa bohong bahwa akhir-akhir ini aku memang sedikit kecewa dengan Abangku ini.

Bang Moli menghela napas dan meletakkan cangkir kopinya. “Kan Abang udah bilang, Tok. Ini semua buat…”

“Buat aku dan keluarga. Aku tau, Bang.” Aku sudah menelan suapan terakhirku. “Yang aku gak tau, kenapa harus selalu Bang Moli?”

Bang Moli mengerutkan keningnya. “Terus? Kamu pengen berkorban buat Abang? Kamu mau dinikahin sama Bu Meyla, gurumu sendiri?”

“Ya nggak lah!”

“Ya udah! Emang harus Abang yang mau.” Bang Moli tertawa pelan. “Udah lah, Tok. Berapa kali Abang harus bilang, gak usah mikirin Abang.”

Aku diam sambil menyesap kopiku. Sudah capek aku berdebat begini. Keputusan Bang Moli untuk jadi orang yang hanya bisa berkorban juga tidak akan berubah.

Aku teringat dengan apa yang aku cari di kantor Pak Heri tadi. Sebenarnya masih ada satu orang yang mungkin saja bisa menjawab apa yang aku temui di puncak mercusuar waktu itu. Dan orang itu di depan hidungku, sedang duduk manis sok paling tampan satu desa.

“Bang,”

“Hmm?”

“Bang Moli percaya ada mesin waktu?” tanyaku pelan-pelan.

Bang Moli sejenak memandangiku penuh tanya. “Percaya. Ya teorinya sih emang ada. Tapi kalo secara kenyataan, kayaknya belum ada. Kenapa? Mau bikin mesin waktu?”

Aku tarik napas panjang. “Bukan mau bikin, Bang. Tapi aku pernah masuk mesin waktu.” Jawabku cepat.

Bang Moli langsung terkejut. “Ha? Kapan? Dimana?”

Aku menatap Bang Moli. Entah apa yang bakal ia pikirkan kalo aku cerita kejadian itu. Mungkin aku dikira gila. Tapi Bang Moli sudah terlanjur menunggu jawabanku dengan antusias dan penasaran. Aku menarik napas lagi. “Bang Moli inget waktu malem-malem nyuruh aku nyalain lampu mercusuar itu? Yang aku pulang lari-lari dan jaketku basah?”

Bang Moli mengangguk cepat, tidak sabar menunggu kelanjutannya. Aku melanjutkan cerita sambil menunduk, merasa bersalah karena aku membohongi Bang Moli malam itu. “Aku bukan abis liat setan, Bang. Aku abis masuk mesin waktu. Waktu itu aku nyalain tuas lampu, terus tiba-tiba lampunya goyang-goyang dan nyala teraaaang banget. Aku sampe gak bisa melek. Terus tuasnya aku matikan paksa, abis itu lampunya mati. Tapi aku ada di dua hari sebelumnya. Waktu malam badai dan mati listrik itu. Aku takut banget, Bang. Rasanya aku kayak…”

Tiba-tiba tangan Bang Moli sudah menarik kerah bajuku. Ia menatapku lekat-lekat dengan tatapan seperti abis liat setan betulan. “Be-bener itu, Tok? Gak bohong kamu?” aku menggeleng cepat. Tangan Bang Moli semakin erat mencengkeram kerahku. Kurasakan napas Bang Moli memburu. Ia menatap puncak mercusuar yang terlihat dari sini dan berkata lirih, “Jadi mesin itu berhasil?”

Giliran aku yang terkejut. “Ma-Maksud Bang Moli?”

Belum sempat pertanyaanku terjawab, Bang Moli sudah menyambar jaketnya dan bergegas pergi ke luar rumah. Ia berlari kencang menuju mercusuar itu. “Baang! Bang Molii!” aku ikut berlari menyusul Bang Moli. Bang Moli sudah jauh di depanku. Apa maksud Bang Moli? Apanya yang berhasil? Kulihat Bang Moli sudah sampai di pintu mercusuar lebih dulu. Aku mempercepat lariku. Bang Moli membuka kotak instalasi listrik di dekat pintu masuk.

“Bang, Bang Moli, apa maksudnya, Bang? Mesin apa ini? Bang Moli tau ini semua?”

Bang Moli tidak menjawab. Matanya masih terpaku dengan kabel-kabel di depannya. Aku mulai panik dan resah. Jangan-jangan…

“Bang jawab, Bang!” Bang Moli tidak menghiraukanku sama sekali. Ia menutup kotak listrik di hadapannya dan bergegas lari ke puncak.

“Bang Moli!” aku ikut berlari di belakang Bang Moli. Aku tarik tangan kiri Bang Moli yang langsung ditepis. Ia masih menaiki tangga tanpa henti. Sampai di puncak, Bang Moli langsung membuka kotak listrik di bawah lampu. Aku hanya berdiri mematung dan tertegun. “Bang Moli yang buat semua ini, Bang?”

Bang Moli masih tidak menjawab. Seolah aku tidak ada di sana. Aku mulai putus asa. “BANG MOLIII!” aku teriak sekuat tenaga dan Bang Moli menatapku. Saat itulah aku menyadari kilat mata Bang Moli yang berubah. Di depanku tiba-tiba ada Bang Moli yang angkuh dan ambisius, tidak lagi pasrah pada kehidupan.

“Bang.. jawab, Bang.” Aku rasakan air mataku mulai turun. Mata Bang Moli masih menatapku tajam.

“Sudah bertahun-tahun aku mencoba bikin mesin waktu ini, Tok. Kalo memang kamu pernah berpindah waktu di sini, berarti aku berhasil. Dan mesin ini sudah siap.”

Aku menggeleng tidak percaya. “Tapi buat apa, Bang?” air mataku jatuh lagi.

Bang Moli kembali sibuk memasang beberapa kabel di lampu mercusuar. “Karena Abang harus kembali, Tok. Ada yang harus Abang cari di masa lalu. Ada yang harus Abang ubah.” jawabnya tegas.

Aku menarik lengan Bang Moli. “Gak mungkin, Bang. Kenapa Bang Moli pengen kembali masa lalu?” tanganku ditepis lagi.

“KAMU SENDIRI YANG BILANG ABANG HARUS PUNYA AMBISI!” Bang Moli menyentakku lantang. Aku terdiam. Ini pertama kalinya aku melihat Bang Moli membentak. “Abang pengen bisa kembali ke masa lalu, Tok.”

Bang Moli kembali sibuk dengan lampu di depannya, sementara aku masih belum bisa berpikir waras. “Maksud Bang Moli, Itu ambisi Bang Moli selama ini? Iya?” Bang Moli tidak menjawab lagi. “Abang mau ninggalin aku sama Ibuk? Iya?” suaraku meninggi. “Terus Bu Meyla gimana, Bang?” Aku berteriak di sebelah Bang Moli. Bang Moli seketika terdiam. “Bang Moli mau mengingkari janjinya sendiri? Iya?”

Bang Moli terdiam dan mengatupkan rahangnya kuat, seperti menahan egonya yang sudah ia pendam bertahun-tahun. Ia menghembus napas berat. “Maaf, Tok.” Jawab Bang Moli. Kemudian ia menarik tuas lampu mercusuar. Lampu itu seketika menyala dengan terang dan bergetar.

Aku mulai panik dan takut. “Bang, Bang Moli, jangan Bang! Jangan tinggalin Atok, Bang!” tanganku memegang lengannya erat.

“Setelah masalahku selesai Abang bakal kembali, Tok. Abang janji.”

Lampu itu semakin terang. “Titip Ibuk, Tok.” Bang Moli mendorong badanku sekuat tenaga. Aku tersungkur jatuh di beberapa anak tangga. Aku cepat-cepat bangkit. “Bang Moliii!”

Cahaya lampu itu semakin silau, getarannya juga terasa sampai kakiku. Sekilas kulihat bayangan Bang Moli menatapku dengan perasaan bersalah. Kemudian ia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan menggenggamnya erat. Kertas yang sama yang ia pandangi sebelum memutuskan untuk menerima perjodohannya dengan Bu Meyla.

“Bang Moliii! Jangan tinggalin Atok Baaang!” Aku mulai menangis keras.

Hal terakhir yang aku lihat adalah Bang Moli menarik tuas lampunya lagi dan ada ledakan kecil yang membuat badanku terhempas. Aku masih menutup mataku. Aku masih tersungkur di tangga. Aku masih berusaha mengatur napasku. Aku masih berharap kalau aku cuma mimpi. Sayangnya, badanku ternyata terasa sakit. Air mataku ternyata benar-benar jatuh. Aku membuka mata perlahan. Lampu mercusuar itu sudah mati. Dan Bang Moli sudah tidak ada di sana.

Aku menangis lagi. Sesaat yang lalu aku sama sekali tidak mengenali Bang Moli. Beberapa menit yang lalu aku sama sekali berharap bahwa mesin waktu itu tak pernah ada. Aku berharap bisa kembali ke beberapa menit yang lalu agar aku tidak jadi menceritakan kejadian malam itu ke Bang Moli. Dan mungkin sesaat yang lalu adalah terakhir kalinya aku melihat Bang Moli. Aku menggerakkan badanku perlahan, rasanya benar-benar sakit semua. Aku bangkit dan berjalan terhuyung ke lampu mercusuar itu. Aku berlutut di hadapan lampu itu dan masih menangis. Bahuku naik-turun dan dadaku terasa sesak.

“Bang Moliii…” Air mataku mengalir semakin deras. “Kembali, Baang.”

“BANG MOLIIIII!” suaraku menggema ke seluruh ruangan. Dan Bang Moli benar-benar sudah pergi.

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

Leave a Reply