Mercusuar Atok (4)

Aku duduk di samping makam Ayah dan memandangi nisannya yang kusam. Kalo lagi berdiam diri di makam Ayah begini, aku hanya bisa mengingat-ingat kenangan yang sudah kulakukan bersama Ayah. Hubungan Ayah denganku dan Bang Moli lebih pantas disebut seperti hubungan antara pelatih dengan murid-muridnya. Ayah orang yang serba bisa, kemampuan macam-macamnya itu ia tularkan sebanyak mungkin ke kami berdua. Dan sepertinya, Bang Moli-lah muridnya yang paling berhasil. Langit makin mendung dan terasa dingin hari ini. Kusiram air ke atas makam Ayah yang tanahnya mengering, lalu aku beranjak pergi. Sampai di rumah, sudah disambut dengan makanan Ibuk.

“Makan, Tok.” Hanya itu yang diucap Ibuk saat aku masuk rumah.

“Iya, Buk.” Siang itu aku lalui makan berdua dengan Ibuk. Tanpa banyak bicara seperti biasa.

Hari ini tepat hari ke-1000 Bang Moli menghilang. Tidak. Itu sama sekali bukan hal yang pantas untuk dikenang atau dirayakan. Setiap bertambahnya hari rasanya aku makin benci dengan sosok Timothy Liam. Kepergiannya yang entah kemana itu menghadirkan banyak persoalan baru. Warga desa yang kehilangan orang kepercayaan, Pak Kades yang kehilangan calon menantunya, aku dan Ibuk yang kehilangan tulang punggung keluarga, serta Bu Meyla yang kehilangan calon suaminya.

Sekarang aku sudah masuk SMK, mau naik kelas 3. Ambil jurusan mesin seperti Bang Moli. Aku harus belajar bagaimana mesin waktu sialan itu berfungsi lagi agar aku bisa mencari Bang Moli. Dan sampai sekarang pun aku masih belum tahu bagaimana mesin itu bekerja. Bang Moli membangunnya dengan sistem yang serba manual dan rumit. Sudah hampir satu tahun ini aku membongkar mesin di dalam mercusuar itu namun nihil. Tetap tidak berfungsi seperti dulu. Seolah Bang Moli membangun mesin itu sebagai tiket sekali jalan, dan sekali tiket pulang. Dan aku pun akhirnya menyerah. Hanya bisa menatap lampu mercusuar itu dengan harapan suatu saat ia akan menyala terang, bergetar seperti dulu dan membawa Bang Moli pulang.

Pertanyaan terbesarnya adalah untuk apa? Untuk apa Bang Moli membuat semua ini? Kenapa ia harus kembali ke masa lalu? Kesalahan apa yang harus ia ubah? Aku kadang menyesal tidak mengenal Bang Moli lebih jauh selama ini. Kalau diingat-ingat, aku tidak pernah tahu masalah apa yang mengganjal di hatinya. Tapi sudah terlambat, Bang Moli sudah tidak di sini dan rasa bersalahku sudah digantikan oleh rasa benci yang sangat dalam.

Tapi beban terbesar tetap ditanggung Ibuk. Beliau memang tidak pernah cerita dan membahas hilangnya Bang Moli lagi. Tapi aku tahu ia menanggung malu. Menanggung segala masalah yang harus diselesaikan karena hilangnya anak sulungnya tanpa penjelasan. Ibuk tidak pernah mencari tahu lagi dimana Bang Moli sekarang. Baginya, lebih penting untuk membereskan masalah yang datang ke rumahnya daripada mencari-cari anaknya yang mungkin sudah mati. Mati? Itu kemungkinan terburuk.

Ibuk selesai makan lebih dulu, membereskan piringnya dan beranjak ke dapur. Kemudian beliau bersiap-siap hendak pergi. “Tok, Ibuk keluar dulu. Kalau mau pergi, jangan lupa kunci rumah.” Aku mengangguk pelan. Ibuk pergi meninggalkan rumah, berjalan tegap dan tegas seperti biasa. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa dengannya. Dan sekarang giliranku yang menjadi penerus Bang Moli di rumah dan di desa. Aku harus membantu banyak orang di desa untuk menebus segala hutang moral yang ditinggalkan Bang Moli. Tentunya, aku juga harus jadi tulang punggung keluarga, terutama untuk Ibuk.

Setelah menutup pintu dan mengunci rumah, aku bergegas berangkat ke kantor desa. Ada acara rapat dengan perangkat desa yang harus aku ikuti. Sampai di balai desa, hanya ada beberapa orang yang datang. Sepertinya aku datang terlalu awal.

“Atok.”

Seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh. Ternyata Bu Meyla. Aku langsung menunduk mencium tangannya.

“Gimana kabarmu, Tok?”

“Baik, Bu. Bu Meyla apa kabar?” tanyaku balik.

“Baik juga, Tok. Cukup baik.”

Kemudian sapaan basa-basi itu berlanjut pada obrolan panjang tentang rencanaku nanti setelah lulus SMK, rencana Bu Meyla yang hendak merantau untuk memulai karirnya, dan tentu saja, masih mencari-cari jawaban tentang hilangnya Bang Moli yang tiba-tiba itu. Aku tidak pernah sampai hati menceritakan kejadian sebenarnya pada orang-orang yang bertanya soal kepergian Bang Moli, apalagi ke perempuan yang sempat menjadi calon istrinya ini. Selain mungkin aku dianggap gila dan mengada-ada, aku sendiri juga tidak pernah tahu kemana tujuan Bang Moli. Siapa yang mengira ternyata lelaki biasa berumur 26 tahun dari desaku di lereng bukit ini sudah menemukan dan membangun mesin waktunya sendiri. Tidak akan ada yang percaya.

Aku dan bu Meyla masih duduk di balai desa. Sambil menunggu peserta rapat desa lainnya yang belum datang.

“Atok minta maaf, Bu.” Kataku pelan.

“Untuk apa, Tok?” jawab Bu Meyla bingung.

Aku menghela napas. “Untuk semuanya, Bu. Kalo aku, Ibuk, atau Bang Moli punya salah besar sama Bu Meyla dan keluarga.”

Bu Meyla hanya tersenyum lembut. “Tok, Ibu tahu semua yang kamu hadapi sekarang gak gampang. Jadi jangan nambah bebanmu dengan merasa bersalah gitu. Soal Bang Moli, Ibu sudah memaafkan. Justru Ibu yang minta maaf, kalo selama ini Ibu dan keluarga sudah menuntut banyak hal, Tok.” Bu Meyla menepuk pundakku pelan. “Sudahlah, Tok. Kamu harus janji sama Ibu, selesaikan apa yang harus kamu selesaikan. Tapi jangan terus-terusan dibebani sama yang udah lalu. Ya?”

Aku mengangguk pelan. Bu Meyla beranjak dan masuk ke kantor Pak Kades, ayahnya. Siapa yang tahu kalau Bu Meyla bisa saja sangat dan teramat sakit hati dengan hilangnya Bang Moli. Tapi sekarang ia justru memilih untuk memaafkannya, hal yang tidak bisa aku lakukan hingga detik ini.

***

Dan aku kembali lagi ke mercusuar sialan ini. Dari hari pertama sejak Bang Moli pergi aku selalu kesini setiap hari. Mencari-cari apapun yang mungkin saja aku lewatkan. Tapi semakin hari aku semakin putus asa dan lelah. Sudah beberapa bulan ini aku hanya kesini untuk menikmati pemandangan di puncaknya, sama seperti dulu. Kadang aku membawa bekal dan makan siang di sini, kadang aku tertidur di sini, kadang juga aku hanya menatap lampu mercusuar seharian seolah lampu itu adalah patung Bang Moli.

Kali ini aku hanya duduk menikmati senja sambil makan kue sisa rapat tadi. Langit sore hari ini benar-benar cantik, cerah dan merah. Aku menatapnya sampai sinarnya benar-benar tenggelam dan gelap. Digantikan oleh cahaya bulan dan lampu-lampu rumah yang mulai menyala. Bulan malam ini terlihat lebih besar dan lebih terang dari biasanya. Aku melahap potongan terakhir kue di tanganku. Rasanya tidak perlu menyalakan lampu mercusuar ini para nelayan di laut sana sudah bisa melihat dengan jelas. Cahaya bulan lagi baik hati kali ini, terang sekali.

Aku berdiri dan membersihkan celana jinsku yang kotor kena debu. Tidak terasa sudah lewat jam 7 malam. Aku berbalik dan menyalakan lampu mercusuar. Seketika sinarnya memancar jauh sampai ke laut di bawah sana. Setelah memastikan semuanya tidak ada masalah, aku langsung berjalan menuruni tangga. Satu-persatu anak tangga aku lewati kemudian satu suara itu membuat kakiku berhenti. Suara gemuruh yang sama yang pernah membawaku bermain-main dengan waktu. Getaran yang sama yang pernah bikin aku panik setengah mati. Aku membalikkan badan, menatap lampu mercusuar yang semakin terang dan semakin keras bergetar. Detik berikutnya yang aku ingat adalah badanku terhempas hingga jatuh tergulung menuruni beberapa anak tangga. Hal berikutnya yang aku sadari adalah suasana gelap yang hanya diterangi cahaya bulan menembus dinding-dinding kaca, pertanda lampu mercusuar yang tiba-tiba mati.

Punggungku terasa remuk bukan main. Kurasakan lenganku yang memar dan banyak goresan luka. Tapi kupaksakan badanku untuk berdiri dan kembali naik ke puncak. Sesampainya di puncak, napasku mulai tersengal, tapi kufokuskan penglihatanku untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Apakah mesin waktu itu berfungsi lagi?

Kemudian mataku menangkap sosok laki-laki yang tersungkur tak jauh dari lampu. Badannya masih tengkurap tak bergerak. Jantungku serasa berhenti. Siapa laki-laki itu? Bang Moli kah? Aku hanya berdiri mematung saat tubuh itu mulai menggeliat bergerak. Terdengar ia mengerang kesakitan dan perlahan mencoba berdiri. Ia berdiri membelakangiku, sepertinya ia sama sekali tidak menyadari kehadiranku di sini. Susah payah aku memperhatikan punggung itu di kegelapan seperti ini. Tapi demi apapun aku sangat mengenali tubuh Bang Moli. Suaraku rasanya tercekat di tenggorokan.

“Ba-Bang… Mo-Moli?”

Sosok itu mematung, perlahan memutarkan badannya menghadap kepadaku. Penampilannya masih sama persis seperti terakhir kali aku melihatnya menghilang di sini. Hanya bajunya yang sedikit lusuh dan kotor

Ia nanar melihatku. “Tok?…”

Aku tidak sanggup berkata apa-apa. Orang yang selama ini kucari, kurindukan dan kubenci setengah mati tiba-tiba muncul di hadapanku dengan begitu mudahnya, ketika kedatangannya sudah tidak lagi aku harapkan.

“Atok?…” Suaranya mulai bergetar, air matanya mulai mengalir. “Ini Bang Moli, Tok.” Perlahan ia mendekat. Aku mundur beberapa langkah. “Tok? Ini Bang Moli, Tok. Maafkan Bang Moli, Tok.” Bang Moli mulai menangis seperti memohon ampun.

Aku menggeleng tak percaya, dan tak mau lagi percaya. “Bang Moli sudah mati.” Aku menatapnya dengan geram. Untuk apa ia harus kembali saat semuanya mulai baik-baik saja tanpa kehadirannya.

“Nggak, Tok. Ini Bang Moli. Susah payah Bang Moli mencari cara supaya bisa balik ke sini. Susah payah, Tok. Bahkan aku nyaris mati.”

Mataku mulai panas menahan tangis. Ingin rasanya aku membunuhnya saja sekalian. “Mungkin malah bagus Bang Moli mati aja.”

Bang Moli mendekat dan memegang kedua bahuku, ia mencoba meyakinkanku lagi. “Tok, Bang Moli memang salah, aku tahu itu. Maafkan Bang Moli yang sudah meninggalkan kalian entah berapa tahun Bang Moli tidak tahu. Bang Moli sudah be…”

“TERUS BUAT APA BANG MOLI PULANG? AKU BILANG APA, MALAH BAGUS BANG MOLI MATI!!!” Satu pukulanku mendarat di wajahnya sampai ia tersungkur. Air mataku sudah meleleh pun aku tidak menyadarinya. Bang Moli memegang sudut bibirnya yang berdarah. Ia tidak melawan. “Selama ini Bang Moli kemana? Tiba-tiba pergi gitu aja, ninggalin aku sama ibuk, ninggalin gitu aja tanggung jawab Bang Moli, pergi gak ada alasan.” Aku jadi meracau. Banyak yang harusnya kulampiaskan pada Bang Moli tapi rasanya aku malah tak tahu harus bilang apa lagi. “Kenapa, Bang? Kenapa Bang Moli pergi?”

Dengan darah yang masih mengalir, Bang Moli menatapku putus asa. “Ada yang harus kucari, Tok. Ada jawaban yang Bang Moli inginkan, biar Bang Moli bisa punya pendirian seperti yang selalu kamu bilang.”

***

Maafkan Bang Moli, Tok…

Maafkan Moli, Buk…

Maafkan Abang, Meyla…

Aku hanya terus mengingat ketiga wajah mereka saat tubuhku terasa ditarik dan dihimpit hingga dihempas dengan keras. Badanku terguling cukup lama sampai kupaksa berhenti dengan tangan kiriku yang penuh goresan luka. Punggungku rasanya sudah mau putus, tangan dan kakiku nyeri bukan main. Aku mengatur napasku yang sesak, kemudian kupaksakan badanku untuk segera bangkit. Lampu mercusuar sudah mati dan berhenti berputar. Dengan pandangan masih kabur dan kepala yang pening setengah mampus, kulepas beberapa kabel penghubung lampu untuk mencegahnya menyala otomatis dan mengubah kalkulasi waktu yang sudah kuatur dengan hati-hati. Membangun mesin waktu dengan serba manual memang membutuhkan ketelitian luar biasa. Sayangnya aku tidak tahu bagaimana kalkulasi terakhirnya saat kutahu ternyata Atok tidak sengaja masuk ke dalam mesin ini. Semoga tidak merubah perhitunganku terlalu banyak.

Kalau perhitunganku benar, harusnya aku kembali ke enam tahun yang lalu. Waktu aku masih berumur 20, waktu Atok masih kelas 4 SD, waktu Ayah masih ada. Langit yang berwarna jingga dan perlahan menggelap pun membuatku bergegas turun. Ini tidak main-main. Aku harus tetap bersembunyi dan tidak boleh ketahuan siapapun. Apa jadinya kalo ada orang-orang yang melihatku sementara ada aku yang lain berumur enam tahun lebih muda berkeliaran di desa yang sama. Aku harus segera mencari Ayah, tapi yang terpenting, aku harus mencari tahu dulu tanggal pasti hari ini. Untung saja malam cepat datang, jadi aku bisa dengan mudah bersembunyi dalam gelap.

Desaku enam tahun yang lalu masih lebih gelap, karena jangkauan listrik desa masih belum menyeluruh sehingga lampu-lampu jalan hanya ada beberapa. Aku menyusuri jalan utama desa dengan waspada. Kututup kepalaku dengan jaket. Keran air di pinggir jalan seolah jadi oase baru untuk tubuhku. Aku menghampirinya dan langsung menyalakan air untuk membasahi kerongkonganku. Memasuki mesin waktu itu rasanya seperti masuk ke mesin cuci. Sebelum dikeluarkan, cairan-cairan yang tersisa diperas sampai habis. Itulah yang membuat kepalaku pusing bukan main. Setelah puas minum, aku lanjut berjalan ke arah rumahku. Jalanan sepi dan baru dilalui beberapa motor saja. Aku meraih koran hari ini yang ada di pos kamling, dan kucek tanggal. Enam tahun yang lalu.

Sesampainya di depan rumah, aku merasa seperti seorang maling yang sedang mengamati target. Aku sama sekali tidak ingat apa yang dilakukan keluargaku di tanggal ini, dan di waktu ini. Di balik semak-semak aku mencoba menangkap pemandangan yang ada di dalam rumah. Terlihat Atok duduk di ruang tamu, sepertinya sedang belajar atau mengerjakan PR, ditemani Ibuk yang duduk di sebelahnya. Lalu ada aku yang sedang mengobrol dengan Ayah. Jantungku rasanya berhenti sedetik melihat sosokku yang lain berdiri di situ. Saat itu sekalipun aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan diintai oleh aku sendiri dari masa depan. Tapi melihat Ayah di sana, sungguh aku rindu berbincang dengannya, mencari tahu banyak hal, dan mencari jawaban yang aku inginkan selama ini.

Ayah adalah seorang pekerja serabutan. Ia tidak pernah memiliki pekerjaan tetap. Apapun yang bisa dan mampu ia kerjakan, pasti akan dikerjakan, asal bisa menafkahi keluarga. Ayah bisa saja bekerja di bengkel saat pagi, jadi tukang bangunan yang siap memperbaiki berbagai masalah rumah di siang hari, dan mendadak ikut menangkap ikan ketika malam. Dan malam hari ini sepertinya Ayah akan pergi dengan teman nelayannya untuk ikut melaut. Aku masih mengintai dari balik semak. Terlihat ayah keluar meninggalkan rumah. Aku mulai mengikutinya dari jauh. Ayah menyusuri jalan desa sendirian. Beberapa saat kemudian ketika kami berdua sudah berada jauh dari pemukiman dan orang-orang, aku beranikan untuk memanggilnya.

“Ayah…”

Ayah menoleh lalu tertegun, menatapku dengan tajam. Aku melepas jaket yang menutupi kepalaku, agar Ayah bisa melihat wajahku dengan lebih jelas. Ayah tidak bisa menahan ekspresi terkejutnya, namun ia tetap diam dengan tegas. Aku masih menatapnya dengan menebak-nebak apa yang ada di pikiran Ayah.

“Mo-Moli?” Akhirnya Ayah bersuara.

Aku mengangguk pelan. “Dari masa depan.”

Aku bisa melihat ketakutan di wajah Ayah. Sedetik kemudian Ayah menatap puncak mercusuar yang terlihat dari tempat kami berdiri. Dugaanku benar.

“Sudah kuduga. Ayah tahu tentang mercusuar itu.”

 Ayah kembali menatapku, tapi kali ini ia mulai panik. Ia mendekat dan mencengkeram kerah jaketku dengan kasar, “Buat apa, Mol? Buat apa?!” Dengan jarak sedekat ini, bisa kulihat raut wajah Ayah yang tak bisa kutebak. Entah antara marah, tidak percaya, kecewa, atau muak. Detik berikutnya tangan kanan Ayah justru menampar pipiku keras sekali, seketika membuatku tersentak.

“Ayah gak pernah sekalipun mengungkit soal mercusuar itu. Kamu tahu dari mana, hah?”

“Harusnya Moli tanya begitu, Yah. Buat apa? Buat apa Ayah menyembunyikan semuanya? Ayah lupa kalo Moli juga tukang listrik, bahkan lebih andal dari Ayah. Semua jejak instalasi di mercusuar itu buat Moli seperti buku yang bisa dibolak-balik, Yah. Dari awal Moli memperbaiki mercusuar itu Moli sudah tahu kalo itu bukan instalasi lampu mercusuar biasa.”

Cengkeraman tangan Ayah di kerahku mulai melonggar. “Moli, satu hal yang kamu gak bisa baca dari mercusuar itu adalah dia gak punya kemudi, dan untuk bisa kembali ke waktu asal, kamu butuh pengemudi.” Ayah melepaskan genggamannya dan menatapku masih dengan perasaan kecewa. Ayah belum tahu alasanku sebenarnya kembali ke sini.

“Perhitungan Moli udah paling teliti dan tepat. Moli bisa kembali ke waktu asal Moli. Ayah gak usah bingung.”

Ayah menarik tanganku dengan paksa. “Pulang, Mol. Kamu harus kembali ke waktu asalmu, sebelum terlambat.” Tangan Ayah menyeretku kembali ke mercusuar.

“Nggak, Yah. Moli harus menyelamatkan Ayah.”

“Menyelamatkan Ayah dari apa?”

Aku meraba sakuku dan mengambil secarik kertas itu, sebuah kertas yang membuatku melakukan hal gila dalam hidupku ini.

“Ini.”

Ayah meraih lipatan kertas itu dengan ragu, ia menatapku sebentar lalu segera membukanya. Aku bisa melihat air muka Ayah berubah sewaktu membaca tulisan di dalam kertas itu. “Dari mana kamu ambil ini, Moli?”

Perlahan aku mengatur napasku sebelum menjelaskannya. “Moli kesini untuk Ayah.” Sebisa mungkin aku mencoba untuk tetap tenang, suaraku bergetar tapi aku tidak ingin menangis. Tidak di sini. “Yah, Ini Moli dari enam tahun yang akan datang. Dan di masa Moli berasal… Ayah udah meninggal.” Sekuat-kuatnya seorang lelaki menahan emosinya, nyatanya air mata yang jatuh dari mata lelaki adalah sebuah kejujuran yang murni. Air mataku jatuh, tak terbendung, meleleh di hadapan Ayah yang sama sekali tak kuinginkan melihatku menangis. Di hadapanku, Ayah hanya mematung, diam melihatku menyelesaikan kata-kataku.

“Yah, Moli kesini untuk Ayah. Moli butuh Ayah. Keluarga kita memang baik-baik saja di enam tahun ke depan, Yah. Tapi Moli, Moli seolah menjual semua harga diri Moli, Yah. Bahkan Moli udah gak pernah tahu lagi tujuan hidup Moli untuk siapa.” Pundakku naik turun seiring tangisan yang makin menjadi. “Moli kangen banget sama Ayah.”

Kurasakan tangan Ayah memegang kedua bahuku. Aku langsung luluh dan memeluk Ayah seerat mungkin. Iya, aku lelah. Iya, aku muak. Iya, aku tersesat dalam pilihan hidupku sendiri. Sejak aku kecil, Ayah selalu menenangkanku dengan cara itu. Sebagai pertanda bahwa aku punya rumah untuk pulang, kapanpun saat aku lelah dengan hidupku. Sebagai pengingat, bahwa aku harus mengistirahatkan kakiku sejenak sebelum kembali menantang dunia. Ayah balas memelukku lebih erat. Sungguh, aku benar-benar merindukan dekapan Ayah yang sanggup meruntuhkan beban-beban di hatiku.

“Maaf, Mol. Maaf kalo Ayah sudah tidak bisa menemani kamu lagi di tempat asalmu. Maafkan Ayah, Moli.”

Aku masih memeluk Ayah selama yang aku bisa. Belum tentu aku bisa bertemu lagi dengannya setelah ini.

***

“Kamu kesini mau apa, Mol? Mau menyelamatkan Ayah dari apa?”

Kami duduk di salah satu pos ronda reot tepat di bawah lampu jalan desa paling ujung. Itulah yang pertama kali ditanyakan Ayah setelah sekian menit aku mencoba menenangkan diri. Jujur, aku tidak punya jawaban konkrit atas pertanyaan itu. Menyelamatkan Ayah dari apa? Aku kesini karena ingin Ayah tetap hidup, itu saja.

“Mau menyelamatkan Ayah dari maut?” desak Ayah lagi. Mulutku masih bungkam. “Tepatnya kapan Ayah meninggal? Tanggal berapa? Karena apa?” lanjut Ayah.

“Yah, Moli gak mau jawab pertanyaan itu. Ayah gak perlu tahu.” Aku menunduk. “Sebenernya lebih tepat kalo Moli kesini mungkin untuk menyelamatkan Moli sendiri, Yah.”

Ayah menghela napas. “Ayah gak pernah mengajarkan kamu untuk terlalu bergantung sama orang lain, Mol. Kenapa kamu sekarang harus ngambil resiko sebesar ini hanya untuk curhat sama Ayah?”

“Aku menemukan kertas itu dari buku tulis Ayah di lemari. Yah, Moli selalu menganggap itu sebagai wasiat terakhir dari Ayah. Apa benar itu yang Ayah mau? Itukah yang Ayah pengen dari Moli?”

“Harapan Ayah cuma untuk keluarga kita, Mol. Kamu jadi penerang jalan keluarga kita, jadi tumpuan keluarga. Bukan berarti kamu harus menjadi manusia tanpa pendirian.”

“Moli sudah menjadi semuanya yang Ayah mau kecuali satu. Menjadi manusia berpendirian. Buat Moli itu persoalan mendasar manusia ketika lahir di bumi, Yah. Tapi gimana kalo Moli memang ditakdirkan gak punya pendirian?”

“Bukan, Mol. Dari lahir kamu sudah punya pendirian, bahkan sudah ada di depan matamu. Masalahnya adalah kamu takut.”

Mendengar itu aku langsung merasa hatiku dipukul. Aku takut? Benarkah?

“Ayah tahu itu sejak kamu kecil. Setiap manusia itu punya kemudi atas hidupnya, Moli. Tinggal kita memilih, mau kita sendiri yang menjadi pengemudinya, atau mau kita dikemudikan oleh orang lain.”

Kepalaku masih terasa pening sejak kedatanganku ke sini, tapi kini rasanya semakin menusuk ketika aku harus menyeimbangkan semua informasi yang aku dapat dari sini.

“Laki-laki harus berdiri di atas kakinya sendiri, Mol. Laki-laki harus menjulang dengan badannya sendiri. Tapi kamu malah memilih sembunyi.” Ayah menatap ujung mercusuar yang menyala terang. “Mercusuar itu adalah lentera kita. Dia bisa menjadi apa saja, tergantung apa yang dibutuhkan oleh siapa yang merawatnya. Ketika kakekmu masih jadi mekanik mercusuar itu, lahan di sekitar mercusuar sangat subur buat bertani, maka kakekmu menanam banyak sayur di situ. Waktu Ayah yang menjadi mekaniknya, ia malah berubah jadi mesin waktu. Ayah bingung, Ayah tidak merasa harus kembali ke masa lalu. Tidak ada yang perlu dirubah dari kehidupan Ayah. Makanya sampai sekarang Ayah berusaha sebisa mungkin merubah instalasinya agar ia tidak berfungsi sebagai mesin waktu lagi. Tapi bahkan sampai turun ke tanganmu pun, mesin waktunya tetap berfungsi. Ternyata mesin waktu itu untuk mempertemukan kita di sini, ternyata mesin waktu itu untuk kamu.”

Aku ikut memandang ujung mercusuar itu. Tiba-tiba aku merasa mercusuar itu seperti hidup, hidup untuk menghidupi keluargaku.

“Kembalilah, Mol. Mercusuar itu tidak seperti barang mati yang bisa kamu utak-atik instalasi listriknya. Mercusuar itu hidup, satu nafas dengan siapa yang merawatnya. Ayah takut kalau-kalau saat ini ia merasa kamu sudah tidak membutuhkan mesin waktu lagi untuk kembali.”

“Tapi Yah…”

Ayah memegang kedua bahuku erat. “Kamu yang memimpin, kamu yang pegang kemudi. Ingat itu. Atok pasti menunggumu, Mol. Sudah waktunya merucusuar itu untuk dia. Kamu harus kembali.”

“Setidaknya ijinkan Moli mengantar Ayah sampai ke pesisir.”

Ayah menatapku sejenak dan mengangguk pelan. “Setelah mengantar Ayah ke pesisir, kamu harus kembali ke asalmu.” Ia meraih tasnya dan berjalan menuju pesisir pantai. Aku segera mengikuti langkahnya. Beberapa menit berjalan masih kami lalui dengan diam.

Ayah melirikku sesekali. “Ternyata kamu jadi segagah ini kalo sudah besar, Mol. Padahal tadi di rumah Ayah ngeliat kamu masih kurus kayak orang sakit.”

Aku tersenyum tipis. “Di waktu asalku aku lebih sibuk dari Ayah sekarang. Kerja mulai benerin listrik sampe bikin perahu buat nelayan.”

“Ayah tahu itu. Kamu pasti jadi orang berguna di desa ini. Kamu pasti jadi lebih baik dari Ayah.” Tiba-tiba Ayah menghentikan langkahnya. “Kamu masih rutin lari tiap minggu pagi?”

Aku mengangguk ragu-ragu.

“Bertahun-tahun Ayah melatih kalian balap lari tapi belum bisa mengalahkan kecepatan Ayah.”

Aku mengerutkan kening.

“Siapa tahu kecepatan lari seorang Moli dari masa depan udah lebih kenceng.”

Sedetik kemudian Ayah langsung melesat berlari. Aku tersentak. “Garis finishnya di pesisir!” teriak Ayah di sela-sela larinya.

Aku langsung ikut berlari menyusul kecepatan Ayah. Kami berdua pun berkejaran melewati jalan-jalan desa yang biasanya menjadi rute kami berlari dulu. Memori di kepalaku seolah diputar kembali. Di setiap minggu pagi yang aku habiskan dengan lari pagi bersama Ayah dan Atok. Hatiku rasanya sesak dengan kerinduan ini. Aku rindu menantang Ayah berlari sampai pesisir yang memang aku belum bisa mengalahkan kecepatannya. Aku melihat punggung Ayah yang masih berlari di depanku. Kuusap air mataku yang jatuh. Kupaksakan kakiku untuk menambah kecepatan dan perlahan mulai menyalip Ayah.

“Bagus, Moli! Bagus! Lebih kenceng!” teriak Ayah yang kini berlari di belakangku.

Aku merasakan air mataku makin deras mengalir. Senang karena akhirnya aku bisa mengalahkan Ayah, sesak karena sungguh aku masih ingin bersama Ayah. Beberapa langkah lebarku kemudian sampai di pesisir. Aku mengurangi kecepatanku sampai akhirnya berhenti. Sesaat kemudian Ayah menyusul. Kami berdua mengatur napas masing-masing. Belum sempat napas kembali normal, aku langsung memeluk Ayah. Kembali menangis di pundaknya.

“Kamu berhasil, Moli. Kamu lebih baik dari Ayah. Kamu pun bisa berpegang sama pendirianmu sendiri. Ingat itu.”

Aku memeluk Ayah seerat mungkin, untuk terakhir kalinya. Sedalam mungkin, untuk pertama kalinya.

***

Aku duduk di dekat pagar pembatas, Bang Moli duduk di samping lampu mercusuar. Kami terdiam cukup lama setelah banyak cerita dan penjelasan yang terlontar dari Bang Moli. Perjalanan melawan waktu ternyata menemukan banyak kendala dari yang ia perkirakan sebelumnya. Ia harus berkali-kali menjelajah waktu dalam usahanya untuk kembali. Mesin waktu yang ia buat hanya bisa berfungsi normal dalam sekali pergi, dan sekali pulang. Sisanya ia tidak bisa mengkalkulasi kerusakannya. Ternyata ‘tiket sekali pergi’nya sudah aku gunakan waktu aku tak sengaja menghidupkan mesinnya pertama kali. Tiket perjalanan satu lagi kemudian berhasil digunakan Bang Moli untuk pergi, meskipun dengan kemungkinan gagal lebih besar, tapi ia berhasil tiba di waktu yang ia rencanakan. Maka saat Bang Moli berusaha kembali, mesinnya sudah tidak bisa mengkalkulasi lagi waktu yang tepat untuk kembali.

“Aku kejebak, Tok. Muter-muter Bang Moli pindah waktu kesana-kemari.” Sahut Bang Moli lirih. Matanya nanar menatap lampu-lampu rumah yang menyala bagai kunang-kunang di bawah sana. “Sepertinya waktu itu mercusuar ini sudah memihak kamu. Kamu marah sama Bang Moli, kamu kesal sama Bang Moli, kamu pengen Bang Moli gak kembali, maka mercusuar ini akan patuh pada siapa yang merawatnya. Mercusuar ini sengaja bikin Bang Moli gak bisa balik kesini, karena ia tahu itu yang kamu mau. Tapi mercusuar ini juga membawa Bang Moli tiba di sini pasti untuk satu alasan.”

Aku tidak perlu menimpali setiap cerita Bang Moli lagi. Yang aku pikirkan adalah ternyata aku sama sekali tidak mengenal dia sebagai abangku. Satu alasan besar yang membuat Bang Moli bertekad melakukan perjalanan waktu adalah tentang mencari sebuah penjelasan. Penjelasan tentang pendiriannya yang ternyata harus ia cari jauh di luar sana, bukannya mencarinya di dalam pikiran atau hatinya sendiri. Lalu mercusuar ini, seolah keluargaku punya warisan pusaka berbentuk mercusuar tua ini. Perlahan aku merasakan mercusuar ini menjadi satu nafas denganku. Tidak lagi beraroma pengap seperti biasanya. Aku melihat lampunya yang berkedip senada dengan degup jantungku.

“Ayah gimana?” Itu pertanyaan pertama yang kulontarkan setelah Bang Moli menjelaskan semuanya.

Bang Moli menatapku. “Ayah berpesan, kita harus seimbang. Kita harus pegang kemudi buat hidup kita sendiri. Dan sudah waktunya mercusuar ini buat kamu.”

Aku mengerutkan kening. “Atok gak ngerti, Bang.”

“Gak semua hal harus dimengerti, Tok. Kadang kita harus menjalani sesuatu tanpa kita tahu apa-apa, hanya karena itu yang terbaik buat kita, buat keluarga.” Bang Moli mengeluarkan secarik kertas yang selalu ia simpan itu. Secarik kertas yang membuatnya pergi melintasi waktu. Ia menatapnya dengan tersenyum. “Ayah, Abang, kamu, kita sama-sama menjadi penerang buat semua orang di sini. Kamu gak akan percaya kalau kita bertiga sudah ditakdirkan jadi mercusuar untuk banyak orang. Itu anugerah, Tok. Dan kamu satu-satunya di antara kita bertiga yang mampu jadi penyeimbang kehidupan keluarga. Kamu juga harus menjadi pemimpin banyak orang. Kamu harus pegang kendali buat hidupmu sendiri.” Bang Moli menyerahkan secarik kertas itu padaku.

Satu mercusuar, tiga kemudi.

Aku, Moli, Atok.

Semua sama, semua berkuasa, semua bisa.

Kecuali satu, Moli.

Biar dia yang bekerja, biar dia yang memimpin.

Atok yang menyeimbangkan.

Aku, biar aku yang pergi.

Satu mercusuar, satu kehidupan, harus terjaga.

TAMAT

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

Leave a Reply