Canola (1)

Mangkok bakso di depanku adalah porsi ketiga yang telah kuhabiskan sendiri malam ini, di rumah yang luasnya bisa kugunakan untuk persewaan lokasi foto prewedding dengan konsep homey, bahkan taman belakang juga bisa disewa untuk wedding party. Mungkin saja nanti akan kurekomendasikan ke orang-orang yang membutuhkan kemeriahan di pesta pernikahan mereka. Setidaknya agar rumah ini kembali hidup. Selain Mbak Yuli dan Mas Bob, pasangan suami istri yang menjadi orang berjasa merawat kebersihan dan keindahan rumah, juga ada tante Nuri yang selalu rajin setiap bulan membeli  shaby chic decor untuk mempermanis segala sudut ruang rumah ini.

Meski desain dan properti rumah diselimuti warna-warna  terang dan terasa ceria, tapi saat ini suasana jelas kurasakan jauh lebih sunyi, di meja makan yang harusnya berisi enam sampai tujuh orang, sekarang hanya ada aku ditemani tiga mangkok kosong saja. Mbak Yuli dan Mas Bob sengaja ku minta untuk mengambil waktu istirahat dengan pulang ke kampung mereka, setelah empat minggu lalu turut sibuk mengurusi upacara kematian Tante Nuri. Sebenarnya bukan kepergian Tante Nuri yang menguras energi kami, karena dalam empat bulan terakhir pun kami selalu berada di dekatnya saat berjuang dari kanker serviks stadium akhir, bahkan kami bertiga sudah mempersiapkan diri dengan kondisi Tante Nuri. Hal yang membuat kami benar-benar kewalahan adalah kehadiran kerabat Tante Nuri, sedari hari pertama kabar kematian tersebar hingga pasca pemakaman, mereka masih meramaikan kesunyian rumah ini, mungkin lebih tepatnya mereka ingin memastikan keadaan psikologisku pasca kepergian Tante Nuri. Sebanyak itu pula empati kawan-kawan Tante Nuri membuat ku terkejut karena selama tiga tahun aku hidup seatap dengannya, tidak pernah sekalipun Tante Nuri membawa satu orang kawan ke rumah.

Ya, hanya kami berempat yang mengisi suasana bahagia di rumah ini. Sangat jarang, eh tidak, lebih tepatnya tidak pernah ada suasana kesedihan di rumah. Kami berempat makan bersama di satu meja, bertukar cerita tentang aktivitas harian, menonton film di mini home theatre bersama, hingga membuat barbeque setiap Sabtu sore di taman belakang. Benar memang, karakter  humble  dan ceria Tante Nuri yang membuat Mbak Yuli dan Mas Bob betah sepuluh tahun membantu merawat rumah sebesar ini, karakter yang ku yakin jelas merupakan gen dari kakek yang juga dimiliki oleh Papa.

Baiklah, sudah cukup aku membuang waktu dengan terus-terusan mengingat kebahagiaan kami berempat selama tiga tahun penuh ini. Saatnya kembali pada persoalan utama yang harus ku hadapi sendiri untuk pertama kali. Biasanya hal seperti ini selalu aku konsultasikan pada tante Nuri atau Lusy, tunggu, aku tidak benar-benar sendiri. Masih ada Lusy. Perempuan sebaya yang telah ku anggap saudari kandungku, dan satu-satunya perempuan sederhana yang berhasil lolos standart kualifikasi ku untuk menjadi seorang kawan, yang lain? Halah, pertemanan prestige aku menyebutnya.

  Empat panggilan video call dari Lusy tidak terjawab dari tadi akibat pikiran yang membuatku kali ini merasa tolol, ketololan mencari cara untuk menghindari masalah. Yes, it’s a bit childish, but c’mon my sexy brain find me the way.

“Canola Rouverdeeeen!!!” teriak Lusy dari lokasinya melalui panggilan video call yang baru kuterima.

Delapan bulan sebelum kepergian Tante Nuri, ada Lusy yang terpaksa harus mengikuti mutasi dinas orang tuanya ke Bali. Hanya terpisah pulau dan berbeda zona waktu satu jam dari ku tidak membuat kami menjadi merasa terpisahkan, saling jauh, ah kami bukan tipe seperti itu. Lusy tetap menjadi satu-satunya sahabat, mungkin tepatnya juga satu-satunya teman yang aku akui selama di Indonesia.

“Eh Minyak Kanada, ngapain makan bakso sih ?!” teriaknya lagi, membuat kamarku kembali sedikit bernyawa.

“Eh Campak Jerman, aku gak bisa mikir kalo lagi laper banget!” balasku juga dengan teriakan, seolah kami berbicara berseberangan di perempatan Shibuya dengan lautan manusia.

“Niat ngundang typus lagi?? Terus opname sebulan lagi? kayak berani aja di rumah sakit lama-lama, lagian juga siapa yang mau nemenin sekarang?” Ocehan Lusy terus kuperhatikan dengan reaksiku yang datar. “Maksudku gak harus bakso yang kasar juga, perutmu tuh masih manja, juga biasanya makan malam pake oatmel setengah pack.” Kali ini suaranya mulai merendah.

“Gak kenyang.” Jawabku singkat.

Lusy memperhatikan ku dalam diam “Stress lagi ya?”

Senyuman kuda cukup membalas pertanyaan retorik Lusy.

“Nola, aku gak bermaksud sok tahu tentang keadaanmu sekarang, tapi percaya deh, everything will be past, tante Nuri udah merasa lebih bahagia di…”

“Ini bukan tentang Tante Nuri, Lus!” aku memotong dengan cepat dugaan dari Lusy.

Sejenak Lusy terdiam, mencerna kembali ucapanku, tampak matanya hanya berkedip, pandangannya terlihat menerawang sesuatu. “Ah, I got it!” Serunya tiba-tiba.

“Iya kamu bener kok” balas ku singkat, tanpa saling menjelaskan secara detail. Kami sering seperti ini, mudah memahami pemikiran masing-masing tanpa perlu menjelaskan banyak hal.

“Bu Rully ya?”

Absolutely right.” tandas ku tegas menatapnya.

“Besok pesawatku landed jam tiga sore. Aku nggak mau tau, jangan sampe bikin aku nunggu sejam lagi! Telat semenit aja ngga bakal aku bantu kamu cari penyewaan wali!”

“Jadi dapat ijin?! Ik Hou Van Je, Lusy!! Hahaa.” Tawa ku lepas menutup panggilan video. Selepas satu beban ku akan kehadiran Lusy yang selalu hadir tepat waktu untuk ku.

***

Alarm di handphone berdering, menunjukkan tepat pukul 03:00 pm. Sengaja tak kumatikan deringnya karena aku yakin enam menit dari sekarang, nada dering alarm akan berganti dengan nada panggilan, tentu saja tak lain dan tak bukan dari Lupita Lusy Arabella. Dia satu-satunya yang menurutku berbeda dengan kawan-kawan ku lainnya. Dia memiliki segalanya. Orang tua yang penuh cinta dan perhatian, kedua kakak yang tampan dan selalu siap membopong ketika Lusy terjatuh, bahkan saat dia pertama jatuh cinta dengan junior kami dulu. Dia adalah perempuan kaya namun penuh dengan kesederhanaan, seolah dalam hidupnya tidak membutuhkan banyak hal lagi. Menurutnya semua yang ada untuk dirinya lebih dari cukup, dan itu yang tidak ku temukan pada kawan sekelas kami lainnya.

            Hampir kebanyakan kawan-kawan sekelas bahkan satu angkatan kami dulu memiliki ambisi untuk dikenal dan menjadi populer di tahun pertama. Bisa kubilang banyak yang cari muka dan perhatian kepada senior eksekutif, tidak terlewati padaku setelah beberapa anak mengetahui sekolah ku sebelumnya berada di Rotterdam dan keberadaan waliku yaitu tante Nuri sebagai donatur terbesar di yayasan sekolah ini. Rasanya hampir seisi kelas memperhatikan ku secara berlebih agar bisa menarik ku masuk ke dalam geng atau golongannya. Sungguh budaya yang cliche.

Menurutku, mereka salah menargetkan aku sebagai seseorang yang harus masuk dalam golongannya, mereka melewatkan satu siswi di kelas yang sangat berpotensi untuk menjadikan mereka lebih populer dan bisa masuk dalam bagian siswa eksekutif, satu siswi yang dengan diam merahasiakan identitas sebenarnya sebagai anak dari ketua pimpinan dan salah satu pendiri yayasan. Satu  siswi yang tidak mendekatiku bahkan tidak terlalu memberi perhatian kepadaku, dalam diam dia bisa nyaman menikmati dunianya sendiri, tidak masuk dalam golongan manapun, dan menurutnya semua adalah kawan tanpa memandang latar belakang atau siapa walimu. Tentu saja dia yang saat ini membuat nada dering alarm ku telah berubah menjadi nada dering panggilan telpon. Gothca! sesuai hitunganku, tepat enam menit nona muda Lusy sudah menunggu di jalur kedatangan. Rata-rata orang normal di sini akan menghabiskan waktu 15 menit dari apron menuju jalur kedatangan. Tapi untuk Lusy, entah aku sampai sekarang masih sering tertinggal dan berpencar saat berjalan dengannya.

“Asli ya, masih lelet aja.” Lusy membuka pintu tengah mobil, memasukkan satu ransel besar.

Aku memperhatikan tingkahnya yang kurindukan, seperti emak-emak pulang dari arisan menunggu jemputan anaknya. “Ngomel aja diduluin.”

“Terlambat delapan menit!” protesnya setelah melihat arloji lalu duduk di kursi depan, sampingku.

“Eh Campak Jerman! Aku tuh udah stay dari setengah tiga di parkiran.” Mobil mulai kujalankan setelah terdengar dua kali klakson dari belakang kami.

“Kamu udah berapa tahun sih di sini sih, kok udah ketularan budaya banyak alesan.”

Aku terkekeh mendengar celetukan jengkel dari Lusy. Masih sama penampilannya serba sederhana. Hoodie Adidas orange pemberianku masih menjadi favoritnya, ripped jeans dan sneaker converse merah, outfit yang sudah sering ku lihat dari dua tahun lalu, hanya rambut sebahu dengan warna kecoklatan yang menjadi penampilan terbarunya kali ini.

“Masih aja penasaran sama Tuhan?” Tanyanya saat melihat buku Karen Amstrong yang tergeletak di dashboard mobil.

“Enggak, cuma nanggung kalo gak dikelarin.”

“Jadi, udah gak penasaran lagi?”

Tangan ku meraih dan membalikkan buku yang menjadi penyebab obrolan kaku ini. Kunyalakan audio tape agar obrolan tidak berlanjut.

“Hahaha Minyak Kanada, jangan serius-serius kenapa ah!” Tawa Lusy seketika meledak.

“Kamu udah berapa lama sih di Bali, kok udah berasa jadi pemangku aja.”

Dia hanya membalas dengan tawa yang semakin lepas, aku hanya mendengar dan memperhatikan tingkahnya yang menularkan kebahagiaan lagi untuk ku. Sampai tawanya semakin rendah, berhenti dan suasana sunyi sejenak.

“Kamu nih gak kangen aku apa?” ujar kami berdua bersamaan, seperti inilah kami yang terlahir dalam satu rasi bintang yang sama.

Kami terdiam, sejenak saling memandang lalu kedipan satu mata Lusy membuat tawa kami pecah mengisi suasana mobil yang sejak empat minggu lalu tidak pernah menyala sama sekali. Aku tidak meragukan kemampuan ku untuk menangkap aura seseorang, dan aura Lupita Lusy benar-benar ada untuk menghidupkan kembali energiku.

***

Lusy meletakkan bunga lily kesukaan Tante Nuri tepat di depan nisan.  Ia menyentuh lembut nisan Tante Nuri dan tersenyum memandanginya untuk beberapa saat.

“Iya, iya. Tante Nuri udah maafin kamu, beliau memaklumi kok kalo gak bisa datang kemarin.” Celetuk ku saat Lusy tenggelam dalam lamunannya.

Lusy menghela napasnya. “Bisa nggak sih nggak usah sok baca pikiran.”

“Bukan sok baca pikiran, tapi udah jelas kelihatan.”

“Kelihatan apa?”

“Tuh kelihatan Tante Nuri berdiri di belakangmu.”

“Eh Minyak Kanada, nggak asik tau di depan makam pake becanda begitu!” seketika Lusy berdiri dan memperhatikan arah belakang.

“Yee emang bener, tante lagi perhatiin kita di sini.”

Lusy berlari pelan, sedikit memutari makam untuk berpindah mendekat dengan ku. Sambil mendengus kesal Lusy berbisik “Jadi kamu udah nggak penasaran soal Tuhan karena udah pernah ketemu Tuhan terus bisa ngeliat begituan?”

Kali ini aku yang menghela napas panjang “Lusy, semoga dua minggu lagi kamu tetep dapet surat pengumuman lulus meski pikiranmu cringe begitu.”

“Ih serius, kamu bisa liat begituan?”

“Ya nggak lah!” Jawabku sambil membenarkan posisi bunga lily yang terjatuh akibat hentakan kaki Lusy saat berlari tadi.

“Tapi kamu bener kok, aku minta maaf karena merasa bersalah ke tante Nuri.”

Aku menoleh cepat ke arah Lusy yang menunduk seakan menyesali dosanya “Lus, beliau nggak mungkin sempet mikirin kamu hadir atau nggak pas dijemput malaikat maut kemarin, ngga usah lebay gitu deh.”

“Bukan, Bukan soal upacara pemakaman, tapi soal walimu dua minggu lagi.”

Ucapan Lusy seolah menjadi alarm yang tengah menyala. Membangunkan dan mengingatkan ku akan sebuah jadwal. Ya, jadwal sialan yang ingin ku lewati saja.

“Kayaknya lebih etis dibahas di rumah aja ya, daripada nambah beban perasaan bersalah ku ke tante Nuri karena dibahas di sini, hehe.” Lusy mengakhiri pernyataan dengan senyum sarkasnya.

***

Seluruh lampu ruangan baru menyala. Sepulang dari makam, kami masih menghabiskan waktu dengan makan malam dan bermain arkade di salah satu mall, dengan kesepakatan tanpa pembicaraan serius apapun. Kami berdua benar-benar menghabiskan waktu untuk menyegarkan pikiran sebelum memulai merencanakan sebuah misi. Iya, persoalan ini sangat serius untukku. Bahkan menyangkut mental ku nantinya.

Aku turun ke ruang keluarga di bawah. Lusy sudah menunggu dan siap dengan smartphone dan juga buku kecilnya.

“Jadi gimana?” Tanyaku melihatnya yang tengah sibuk bermain scroll smartphonenya.

“Kalo ada sih jelas ada, La. Cuma aku ngerasa aneh deh kalo harus pakai cara ini.” Keluhnya menatapku serius. Keseriusan yang belum muncul selama hampir satu hari ini.

“Kenapa sih gak kamu bilang sejujurnya aja ke Papa kemarin pas di sini?” lanjutnya.

“Kalo Papa peka sama keadaan anaknya sih, dia bakal menanyakan soal acara kelulusan ini.”

“Canola, ngga usah kayak anak SMA deh yang minta dimengerti tanpa ngasih informasi.”

“Kenapa kita nggak bisa serius ya kalau membahas sesuatu?” Senyumku mengembang menahan tawa.

“Wait, What? Apa yang buat kamu senyum-senyum gitu? Ini serius, Nola.” raut wajah Lusy masih sama seriusnya seperti tadi

“Kamu ngomong jangan kayak anak SMA, nah kamu kira kita apa sekarang? Orang dewasa sebagai Vice President Asia Bank gitu?”

“Oh, emang ada aku bicara gitu? Kapan?” Lusy tertegun mengingat ucapannya, kembali aku dibuat tertawa.

“Ya kalo ini obrolan di chat pastilah aku screenshot omonganmu tadi.”

Lusy beralih kembali ke smartphonenya. “Yaudah deh sekarang gini, bukan hal utama buat kamu bakal ngasih tau atau nggak soal ini ke Papamu, saat ini kita harus fokus ke solusinya. Kamu yakin pakai jasa penyewaan wali ini? Ini bukan kayak sewa kamera atau villa lho, Nola.”

“Yakin. Cuma bilang Om dan Tante dari kota lain kan?” Pangkasku.

“Ngga segampang ituuu. Ingat ya, Canola sayang, Tante Nuri adalah donatur terbesar di sekolah kita, jadi pasti ada beberapa petinggi yang tau latar belakang dan keluarga tante Nuri.”

“Cuma satu, dua atau tiga orang aja dan itu termasuk ayahmu yang tau gimana dan siapa Tante Nuri di sini. Toh orang-orang itu nggak bakal datang di acara pagelaran lepas pisah besok kan?” Aku membalas kekhawatiran Lusy dengan tenang sambil memakan roti panggang buatannya.

“Nggak, bukan cuma mereka.” Ucapan Lusy membuat mulutku memelankan kunyahan

“Kepala kesiswaan juga tau kalau donatur sebenernya itu Papa kamu, dan Tante Nuri sebagai mediator aja.” Kali ini pernyataan Lusy benar-benar membuatku berhenti mengunyah. Roti di dalam mulutku langsung tertelan tanpa menjadi halus.

“Dan kamu udah tau dari lama tapi kamu diam-diam juga tanpa bilang ke aku?” Tanyaku ke Lusy yang masih terlihat santai dan mengambil roti yang baru aku letakkan.

“Menurutku dulu hal ini bukan persoalan yang penting buat aku ceritakan ke kamu” Jawabnya santai.

“Masalahnya Lus, bukan cuma papa aja yang Bu Rully minta datang.” Suara ku tiba-tiba merendah, dan kali ini giliran Lusy juga memelankan kunyahannya. Raut wajahnya kembali serius.

“Nggak usah dilanjut, aku udah paham.” sahutnya singkat.

“Rumit kan?” aku menghela napas panjang sambil menerawang lampu-lampu di taman.

Seketika Lusy beranjak menuju sebuah lemari kaca, di dalamnya terpampang beberapa foto tante Nuri, aku, Mbak Yuli dan Mas Bob, mendiang kakek. Namun satu foto yang menjadi fokus Lusy adalah foto dua orang pria dewasa dengan seorang gadis remaja. “Nola, anyway, Papa yang mana? Daddy yang mana sih?” Tanyanya.

***

ditulis oleh : Rizqi Erliani
ilustrator : @lintang_fairus

Leave a Reply