Canola (2)

Ternyata aku salah perhitungan. Aku kira dengan memilih hidup berjauhan dengan mereka bisa membuatku menemukan kepercayaan diri, lalu aku bisa kembali lagi. Tapi sudah selama ini, nyatanya tidak semudah itu. Yang ada malah membuatku semakin menghindar dengan realita. Mungkin aku yang salah memilih tempat untuk menemukan kepercayaan diri di sini, yak, sangat salah, Canola!

            “Tidur, Nola. Gak usah banyak dipikir. Cukup dilakuin. This, too, shall pass” Lusy tiba-tiba muncul di bibir pintu kamarku  yang sudah terbuka.

            Aku menutup layar macbook dan beranjak menuju kasur. “Siapa yang banyak mikir, cuma main game juga.”

            “Iya. Game bertahan natap layar selama sepuluh menit lebih tanpa ngapa-ngapain.” Lusy menatapku datar.

            Pandanganku beralih ke macbook yang berada di meja dengan botol minumanku yang masih penuh di sampingnya. Untuk beberapa saat aku benar-benar terdiam berusaha mengingat. Ah, iyakah dari tadi aku hanya terdiam di sana?

            “Kalo asik main game, tuh botol nggak mungkin masih penuh isinya.” Celetukan lusy mengalihkanku padanya lagi, pasti kali ini di hadapannya aku terlihat bodoh.

            “Udah, tidur gih, besok kita masih harus ketemu Bu Rully.” Ia menutup pintu pelan.

            “Lus, mau nemenin di sini gak?”

            Lusy membalikkan badannya dan kembali membuka pintu. Ia menatapku serius. Lebih serius daripada saat obrolan di ruang tengah tadi.

            “Kita udah lama gak ngobrolin idolamu sama gosipin kegilaan donald trump sebelum tidur.” Ujarku lirih.

            Dari wajah Lusy nampak senyum tipis. Hal seperti ini membuatku berpikir Lusy memiliki dua kepribadian yang bisa berubah seketika sesuai udara yang melewati dirinya. Namun, senyumnya yang makin mengembang kali ini seolah bisa meyakinkan bahwa aku sebenarnya baik-baik saja.

***

Aroma ayam panggang rosemary ini berhasil membangunkanku yang baru terlelap tiga jam lalu. Aku baru bisa benar-benar tertidur jam 3 dini hari tadi. Pintu kamar terbuka lebar, dan aku yakin itu ulah Lusy yang sengaja membangunkanku dengan cara estetisnya yaitu pamer kemampuan memasaknya dengan menu-menu yang selalu baru. Untuk seumuran kami, keahlian Lusy dalam memasak lebih dari sepuluh menu makanan utama adalah hal yang istimewa menurutku. Entah bagaimana orang tuanya mendidiknya hingga membuat Lusy menjadi orang yang memiliki nilai guna cukup tinggi, paling tidak sebagai anak di keluarga mereka.

            Aku beranjak dari kamar menuju dapur di lantai bawah tanpa cuci muka atau mengganti piyama. Perlahan suasana rumah terasa kembali bernyawa. Tiga minggu lalu hanya suara alarm yang membangunkan ku, lalu suara penyiar berita di siaran tv Bloomberg yang menjadi teman minum teh tiap pagi. Tontonanku memang tidak sesuai dengan umur seorang remaja yang tengah menunggu pengumuman kelulusan SMA dua minggu lagi. Kebiasaan ini pula yang membuatku sulit menemukan kawan di sini karena rata-rata mereka lebih menyukai acara musik dan serial televisi percintaan atau drama komedi. Seringkali aku tak tahu apa yang harus kulakukan saat berada dalam lingkaran obrolan mereka tentang idola, serial terbaru di channel atau aplikasi streaming tertentu dan juga film yang dimainkan oleh bias mereka.

            “Sebelum kita ngobrolin soal keringanan pajak buat menopang rupiah, aku tanya satu hal penting. Kapan mbak Yuli dan Mas Bob balik ke sini lagi?” Lusy mengeraskan suaranya dari pantry, ia nampak sibuk menata baby potato dan potongan wortel rebus di sebuah piring.

            Aku mencerna kembali pertanyaan Lusy. “Gimana, Lus?”

Lusy meletakkan sendok dan garpunya, ia menghela napas sambil memperhatikanku yang masih memegang remote tv. Kami saling memandang sebentar hingga suara penyiar program businessweek yang menyadarkanku akan maksud ucapan Lusy.

            “Oh, Mbak Yuli. Jadwalnya sih besok balik ke sini.” Aku menyahut sekenanya sambil mengganti saluran tv ke cartoon network.

            “Syukur deh.”

            “Kenapa?” Tanyaku sambil membantunya meletakkan dua piring berisikan potongan ayam dan kentang di meja makan.

            “Ya kali, di rumah segede ini cuma kita berdua aja.” Lusy melemparkan perhatiannya ke seluruh penjuru ruangan.

            Pagi ini Lusy menjadi lebih diam daripada kemarin dan biasanya yang ku kenal. Suasana di meja makan berubah menjadi sunyi. Padahal beberapa menit yang lalu aku baru merasakan kehidupan kembali di rumah ini, dari aroma ayam panggang dan suara alat masak Lusy. Syukurlah ada suara Finn dan Jake dari serial Adventure Time yang mengalihkan kecanggungan yang datang tiba-tiba ini.

“A-aku tuh gak paham sama kamu yang bisa bertahan hidup sendiri, bener-bener sendiri selama tiga minggu penuh di rumah ini.” Lusy mendongakkan kepalanya setelah melahap ayam panggangnya yang ke empat kali, iya aku sedari tadi memperhatikan dan menghitungnya. Tapi aku baru menyadari akan mata Lusy yang berkaca-kaca.

            Aku tipikal manusia yang selalu bingung atau lebih tepatnya tidak pernah tahu harus berbuat apa ketika orang di hadapanku bertingkah seperti Lusy saat ini, paling tidak seharusnya aku tahu bagaimana merespon pertama kali.

            “Aku baru semalam aja di sini dan itu pun berdua sama kamu, tapi rasanya sepiiii banget. Terus gimana kamu selama ini.” Lusy menundukkan kepala, dan akhirnya muncul juga suara tangisnya.

            Dahiku otomatis berkerut, semakin tidak memahami keadaan Lusy. “Lus, Really?”

            Setelah menyeka air mata dan ingusnya, ia kembali mengangkat kepala dan dengan spontan tangannya menarik tanganku lalu digenggamnya erat-erat. Entah serial drama apa yang ia tonton semalam sebelum ke kamarku, tapi tanganku masih belum melakukan penolakan dari suasana ini.

It’s okay not to be okay, kamu gak harus selalu kelihatan kuat kok, Nola.” Senyumnya mengembang, manis, dan kali ini aku mampu melihat aura kedewasaannya. Kalau pada akhirnya gen Papa itu menurun kepadaku, mungkin saja perempuan di depan ku ini yang aku pilih sebagai tempat ku jatuh. Tapi tunggu, senyum Lusy perlahan berganti menjadi tawa yang ia tahan, bibirnya mengatup, auranya seketika hilang, tangannya tetap mengelus lembut tanganku.

            Nggak, aku batalkan pikiranku tadi, pikiran untuk menjadikannya orang yang bisa membuatku jatuh cinta. “Sialan Campak Jerman, ingus lu ih! Jijik!”

            Tawa Lusy lepas mengisi ruangan ini, bertepatan dengan tawa Finn dan Jake dari televisi. Seolah ikut menertawakan kekonyolan realita hidup yang kini coba ku hindari. Benar kata Lusy, It’s okay not to be okay, termasuk bagaimana seharusnya aku mengatasi krisis kepercayaan diri ini. Aku tetap memperhatikan Lusy yang masih tertawa lepas, kadang aku berpikir perempuan satu ini mengidap bipolar, dengan cepatnya ia menghapus tangis lalu tertawa lepas sampai saat ini. Semudah itu ia menangisi kesepian dan menertawakan keadaan.

***

            Tujuh panggilan facetime dan semua tak terjawab. Aku orang yang tidak terlalu tergantung dengan smartphone. Sering lupa meletakkannya di mana. Bahkan pernah semasa tahun kedua sekolah, Tante Nuri, Mas Bob, Nury dan Kepala Kesiswaan menghubungi seluruh kawan sekelas untuk mencari aku yang tidak bisa dihubungi di akhir pekan. Padahal setengah hari aku menginap di hotel untuk hibernasi, tidak ingin ditemui manusia lain dan keburuntungan bagi ku smartphone tertinggal di kamar mandi rumah, murni karena lupa. Tapi mungkin sekarang aku harus perlahan menghilangkan kebiasaan itu. Panggilan facetime dari Papa sejak pukul enam tadi, dan aku baru menyadarinya pukul sebelas siang ini. Kalau saja aku tidak menunggu sendiri di ruang tamu kantor Kepala Sekolah, mana mungkin aku mengambil dan cek smartphone ini.

            “Masih ke mana Bu Rully?” Lusy mengejutkanku dengan tiba-tiba masuk ruangan dan duduk tepat di sampingku.

            “Ada tamu” Jawabku seadanya.

            Lengan Lusy sedikit mendorong pundakku “Ah elah, Masih ngambek aja nih, Minyak Kanada.”

            Aku tidak menggubris candaan Lusy, mataku masih tetap fokus pada layar smartphone, mengetik – menghapus – mengetik dan menghapus lagi chat yang akan ku kirim ke Papa.

            “Eh, tuh tamu Bu Rully udah keluar!” Serunya, aku mendongakkan kepala. “Tapi boong.” Ia kembali tertawa tapi tidak sekeras saat di ruang makan tadi. Aku hanya menatapnya dengan pandangan suram.

            “Ya ampun, udahan kenapa sih sewotnya, jatuh kualitasmu sebagai minyak kanada kalo wajah mlempem gitu, senyum dikit gitu lho.” Ocehan Lusy akhirnya berhasil memancing reaksiku.

            “Makanya gak usah pake upil juga kalo emang mau sengaja ngusapin ingus! Campak Jerman!”

            “Lah siapa yang tau juga kalau ada setitik upilku yang bakal nempel di tangan berminyakmu.” Kini tinggi suara tawa Lusy hampir mendekati saat di ruang makan.

 Ah, kecurigaanku semakin besar, mungkin Lusy sedang berada di fase manic-nya. Tapi meskipun diagnosa asal-asalanku benar akan dia mengidap Bipolar, tetap saja aku akan betah dan nyaman untuk berada di sekitarnya. Aku menjamin aura kebahagiaan yang dimiliki Lusy tidak mudah ditemukan di banyak orang. Untung saja kantor utama Bu Rully kedap suara. Jadi tawa kuda si Lusy tidak akan mengganggu beliau dan tamunya yang tak kunjung keluar.

            Suara Lusy kini memelan, sambil mengatur kembali sirkulasi nafasnya, “La, omong-omong apaan sih Campak Jerman tuh? Maksudku hubungannya dengan aku tuh apa?”

            “Lah kan ada di nama mu?”

            Dahi Lusy berkerut, “Nama ku?”

            “Campak Jerman nama ilmiahnya apa?”

            “Hah??” Lusy mengambil smartphone dan membuka Google.

            “Rubella?? Sialan, maksa banget Lusy Arabella jadi Rubella! Daddy Joke banget sih lu!” Lusy memukul pelan lenganku. Akhirnya mucul juga ekspresi kesalnya hari ini.

            “Terus ngapain juga kamu manggil aku Minyak Kanada, dari kelas satu lho.” tanyaku berganti penasaran.

            “Lah kan emang arti namamu Minyak Kanada.” Jelasnya singkat dan pasti.

            “Oh ya?”

            “Gak usah bilang kalo kamu udah 18 tahun hidup, tapi kamu gak tau arti namamu sendiri?” Lusy menatapku seolah sedang melakukan inspeksi.

            Aku menggeleng ragu. Seorang pria dengan beberapa berkas di tangannya keluar dari ruang utama Bu Rully. Selang beberapa detik, akhirnya muncul juga perempuan dewasa yang  menjadi pemicu kegelisahan ku beberapa minggu ini.

            “Halo Canola, gimana kabar kamu?” Bu Rully memelukku sekilas.

            “Baik, Bu Rully sehat?” tanyaku tentunya basa-basi. Sakitpun tak masalah asal kau melupakan niatmu memanggil kedua orang tuaku.

            “Always healthy and happy.” Senyumnya mengembang lebar, nampak kerut di pipinya. Mungkin efek terlalu sering tersenyum. “Hai Lusy, Papa, Mama sehat?” Kini pelukannya beralih ke Lusy.

            “Syukur sehat selalu, Bu. Lusy juga gak kalah sehat kok, Bu.” Celetuk Lusy yang ku yakini jengkel dengan pertanyaan Bu Rully.

            “Akhirnya kamu datang juga ke sekolah, setelah tiga minggu lamanya saya tidak melihat kamu, Nola.” Jelas beliau sambil mengelus lengan kiri ku. “Jadi gimana, ada apa kok mendadak menemui saya begini, kelihatannya kok penting?” Lanjutnya sambil mempersilahkan kami duduk kembali.

            “Sebenarnya gak ada hal penting sih, Bu. Nola hanya ingin konfirmasi kalau…”

            “Kalau kalian rindu saya, haha kalian ini mentang-mentang dua minggu lagi jadi alumni.” Beliau memotong ucapanku dengan kepercayaan dirinya yang cukup tinggi, iyak! Apakah aku baru saja mendengar suara jangkrik?

            “Hahaha, Bu Rully suka bercanda ih, ini mungkin ya yang nanti bikin kangen.” Lusy membalas dengan basa-basi yang tak kalah basi. Sungguh, inilah fungsi aku membawa Lusy sebenarnya. Aku hanya berusaha ikut tertawa di tengah candaan mereka yang apalah bagiku.

Aku mencoba melanjutkan tujuan ku kemari. “Nola hanya mau konfirmasi terkait wali siswa yang akan memberi sambutan di pesta perpisahan nanti yaitu tante dan om Nola, Bu Rully.”

“Tante? Tante Nuri itu kan?”

“Tante Canola yang lain, Bu Rully.” Kali ini aku yang memotongnya, mungkin beliau mengira diriku kehilangan akal sehat.

“Tante dan om dari?” Kali ini beliau yang nampak seolah akan menginterogasi penipu.

“Dari Tante Nuri dan Papa Canola, tante om sepupu gitu, Bu” Lusy mengambil alih setelah melihat gelagat ku yang mulai tak sabar.

“Oh gitu, oke.” beliau mengangguk-angguk pasti, “Eh, tapi kenapa harus jauh-jauh dengan bibi atau paman sepupu kalau orang tuamu saja bisa datang.” jelasnya sekali lagi tanpa ragu.

“Orang tua saya masih belum bisa hadir, Ibu Rully. Mereka berdua sedang sibuk dengan…”

“Ah kata siapa belum bisa hadir. Kemarin lusa saya telepon papa kamu dan beliau mengiyakan bahkan siap untuk hadir kok. Apa berubah lagi ya?”

“Iya, Bu. Tetap belum… hah? Ba-bagaimana, Bu?” Tunggu, aku benar-benar tercekat.

“Telepon siapa, Bu?” Lusy mengulang pertanyaan yang hampir sama.

Ini gila! Sudah cukup itu, aku dan Lusy jelas tidak bisa mengikuti jalan ninja Leonardo D’Caprio di Catch Me If You Can dalam kasus tipu-menipu. Kalah cepat kami dengan Ibu Rully! Satu – Kosong, Canola Lusy.

***

            Kami berdua memasuki ruang tamu rumah dengan energi yang berbanding terbalik saat pagi tadi. Kami bersandar lemas di masing-masing sofa, dengan tatapan yang sama-sama kosong memandangi langit-langit rumah.

            “Plan B.” Pintaku singkat pada Lusy.

            “Ngga bisa mikir, lapar.” Jawabnya singkat.

            “Sial! Pantes aja tadi pagi Papa facetime tujuh kali, tapi aku gak tau.”

            “Terus belum kamu hubungin balik sampai sekarang? Wah gila, cepet hubungin balik Canola!”Seru Lusi beranjak lalu berjalan ke arah dapur.

            Mataku mengikuti pergerakannya. “Kamu mau ngapain?”

            “Bikin buburlah, otak gak bakal bisa nemu plan B kalo gini mulu.” Jawabnya sewot sambil terus berjalan.

            Tanganku merogoh tas mengambil smartphone. Kulakukan panggilan ke nomor pribadi Papa. Panggilan pertama tidak terjawab. Jempol tanganku tiba-tiba seolah beradu dengan waktu, kembali menekan panggilan ke nomor papa yang masih saja nada sambung. Hingga beberapa detik, panggilan diterima.

            Seseorang menjawab, dengan suaranya yang tak asing “La…”.

            Sesaat, aku menjauhkan smartphone ini dari telinga dan memastikan lagi nomor yang aku panggil. Seseorang dari seberang telepon kembali berbicara, “Canola, ke dapur sekarang!”

            Aku sedikit berlari melewati ruang baca, ruang tengah dengan posisi smartphone yang masih sama. Lusy berdiri terpaku di depan meja makan, tampak beberapa macam menu makanan yang cukup kurindukan, Hutspot, Stamppot. Aku mendekat dan berdiri tepat di samping Lusy yang masih terpaku.

            “Halo…” Aku melanjutkan panggilan tadi.

            “Halo…” Lusy menjawab panggilan telepon dariku.

Panggilan telepon ke nomor Papa yang diterima oleh Lusy saat ini. Handphone Papa  berada di meja makan rumah ini. Saat ini, jantungku tidak bekerja dengan baik, memompa lebih keras, jauh lebih keras daripada saat aku berlari pagi. Ya, seperti ini rasanya lelah lari dari realita.

“Mbak Yuli sama Mas Bob apa pulang dari Rotterdam?” Tanya Lusy tanpa tenaga

Goedemiddag, Canola Rouverdeen!” Terdengar suara sapaan dari lantai dua. Suara yang kurindukan, sangat rindu, tapi jangan waktu ini pula.

            Kami berdua mendongak ke atas. Dari tepi pembatas tangga, seorang pria dewasa dengan cambang tipisnya tersenyum lebar padaku. Ya, aku yakin senyum itu untuk ku, bukan untuk Lusy.

            “Papa?” Lirih suara Lusy bertanya

            “Daddy.” Jawabku singkat dengan berbisik. Kepala dan pandangan kami tetap mengikuti langkah pelan Daddy yang berjalan turun.

            “Ganteng…” ucapan lembut Lusy membuatku teralihkan padanya yang tercengang melihat ketampanan Daddy. “Minyak Kanada, kamu cuma perlu jujur.” Lusy masih berbisik dan matanya tetap tertuju pada Daddy yang semakin dekat dengan kami.

            Andai hanya dengan jujur bisa membuat kepercayaan diriku kembali, pasti akan ku lakukan. Masalahnya dengan jujur, malah memperburuk keadaan. Siapa yang akan menerima kejujuran seorang gadis yang sebenarnya baik-baik saja memiliki orang tua gay. Namun, untuk detik ini, aku mengijinkan diriku sejenak melupakan semua kepanikanku. Aku merindukan pria berkemeja putih dengan pundak bidangnya yang saat ini tepat berada di depan ku. Aku melepaskan pelukan ku pada tubuh kuatnya. Aku merasa aman. Jika ada, bisakah aku meminjam remote penghenti waktu sebentar saja.

***

ditulis oleh : Rizqi Erliani

Leave a Reply