Canola (3)

Kata orang, setiap pagi kita masih bisa bangun dan masih sanggup bernapas adalah anugerah terbesar. Tapi buatku, pagi ini aku masih bisa berpikir waras adalah prestasi terbesarku. Aku yakin secangkir espresso yang masih utuh di meja sudah berubah jadi es. Sedingin hatiku yang rasanya seperti tertusuk. Nuri, adik perempuanku, memilih untuk menyerah dan pergi selamanya. Sementara kenanganku dengannya hanya dibentuk lewat suara-suara telepon, atau panggilan video dengan koneksi yang seringnya tidak stabil. Aku masih berdiri di dekat jendela, membelai leher kucingku, Max. Aku belum bersuara sedikit pun semenjak ku mendapat kabar tentang Nuri. Aku yakin Jeny juga merasakan hal yang sama, tidak tahu harus berkata apa. Tanpa aku melihat pun, aku tahu Jeny yang menyiapkan secangkir espresso buatku, kemudian duduk menunggu di kursi meja makan tepat di belakang punggungku ini. Menungguku untuk bersuara.

“Pulang yuk, Ren? I’m worried about Canola.” Ucap Jeny lirih.

Aku menarik kursi dan duduk di seberang Jeny. Tercium aroma aftershave favorit Jeny yang bercampur dengan wangi espresso favoritku di meja. Kulirik wajahnya sekilas. Cambang yang membingkai wajahnya terlihat menipis. Biasanya ia bercukur hanya ketika sedang merayakan sesuatu. “Bercukur dalam rangka apa?”

Jeny membuang muka. “Really, Renal? Nuri pergi tepat di hari anniversary kita.” Tangan Jeny memegang rahangnya yang kokoh. “Ini hasil cukurku paling bersih dan rapi selama aku pelihara cambang. Anggap saja merayakan kebahagiaan sekaligus kedukaan kita.”

Aku menenggak espresso yang rasanya lebih asam dari biasanya.

“Kau sudah hubungi Canola?” Tanya Jeny.

“Sudah kutelpon si Bob.”

Jeny menganga tidak percaya. “Oh jadi selama ini kita membesarkan anak bernama Bob? Bukan Canola?”

I don’t know what to say to her, Jen.”

She need us, Renal. Menurutmu bagaimana keadaan dia yang harus sendirian di rumah sebesar itu? Ikut mengurus pemakaman Nuri, belum lagi harus fokus dengan sekolahnya. Kita harus segera menemuinya.”

Omelan Jeny selama kami hidup bersama adalah omelan dari mulut lelaki yang paling merdu buatku, tapi tidak untuk saat ini. Jujur, kepalaku masih memilah-milah apa saja yang ingin kuutarakan dan tidak. Demi menghindari serial omelan Jeny berikutnya. Aku menunduk, menghindari tatapan Jeny yang rasanya dilengkapi dengan fitur lie detector.

“Ah, sepertinya aku tahu. Soal kita? Hmm?”

Sial.

“Renal, ayolah!” Jeny mendekatkan wajahnya sampai aku bisa merasakan hela napas di tiap ucapannya. “Sudah belasan tahun kita hidup bersama. Kadang aku masih heran kenapa kondisi kita selalu jadi beban buatmu setiap hendak pulang ke Indonesia. Aku sudah kenyang dengan cemooh murahan macam itu, aku sudah kenyang dengan semuanya sampai aku benar-benar tidak peduli. Yang aku pedulikan sekarang adalah Canola. Kalo kau tidak mau pulang, biar aku pulang sendiri.”

“Kali ini permintaan dari Canola sendiri, Jen.” Ucapku tegas.

Jeny langsung terdiam. “What?”

“Canola gak mau kita pulang ke Indonesia.”

“Omong kosong, Renal. She said nothing to me, her Daddy.” Nada Jeny semakin meninggi.

“Dia bilang ke aku. And she wanted me to tell you about that.”

Jeny terdiam lagi. Terlihat rahangnya yang mengatup keras menahan emosi.

“Jangan emosi, Jen. Kita yang harus memahami Canola. Mungkin kau sudah kenyang dengan semua omongan tentang keluarga kecil kita. Tapi Canola? Aku rasa dia perlu waktu.”

Jeny berdiri mengambil jaketnya dan pergi meninggalkan rumah. Aku menyandarkan punggungku yang letih. Max tiba-tiba melompat ke pangkuanku dan menggeliat tidur

“Kau juga sudah letih, Max?” aku membelai perutnya yang gemuk.

***

Antrian foodtruck Sonja mengular seperti biasa. Foodtruk dengan tulisan Klop itu memang tidak pernah sepi, apalagi saat udara di Rotterdam mulai dingin. Siang ini perutku benar-benar butuh potongan besar croissant tuna buatan Sonja yang menjadi alasan utama antrian di Klop selalu panjang setiap hari. Aku ikut berbaris di antrian. Terlihat Sonja yang sedang sibuk melayani puluhan atau bahkan ratusan pesanan yang masuk. Ia satu-satunya perempuan di antara keempat karyawan laki-lakinya. Uap masakan mengepul tidak berhenti, namun senyum Sonja selalu tercetak sempurna di wajah ovalnya. Mungkin aku salah, sepertinya daya tarik Klop yang pertama bukan croissant tunanya tapi sosok Sonja sendiri. Kemudian matanya menemukanku di tengah-tengah antrian. Aku melambaikan tangan. Tawanya langsung mengembang.

Sonja baru menghampiriku setelah kugigit potongan terakhir croissant tunaku. Ia meletakkan bungkusan warna coklat di pangkuanku, yang kuyakin isinya adalah croissant cheese dan burger tuna kesukaan Jeny.

“Sudah sekian tahun kau menjadi pelanggan prioritasku, Ren. Kau tak perlu susah-susah mengantri. Sudah sempat kusisakan satu croissant favoritmu untuk makan siang.” Sonja duduk di sebelahku sambil menyodorkan secangkir cappuccino.

“Tidak apa-apa. Aku suka melihatmu memasak, anggap saja tontonan gratis buatku.”

Sonja tertawa. “Kenapa sendiri? Jeny sibuk?”

Aku mengangkat kedua bahuku. Mata Sonja menangkap gelagatku yang aneh. Kenapa aku selalu dikelilingi dengan orang-orang yang memiliki sensitifitas tinggi untuk melacak kebohongan? Entah aku harus bersyukur atau merasa terkutuk. “Kalian bertengkar?” tanya Sonja lagi. Aku menarik napas panjang. “Karena Canola?” lanjutnya lagi.

Aku menghela napas sambil tertawa. “Bahkan hanya sekali tarikan napasku pun kau sudah bisa menebak isi kepalaku dengan tepat? Damn you, Sonja.”

“Kalo saja kau membayarku dengan uang setiap kali aku bisa menebak isi kepalamu dengan tepat, sepertinya aku tidak perlu bisnis foodtruck lagi, Ren.”

Nooo, croissant tunamu terlalu berharga untuk pensiun dini.”

“Sudahlah, ada apa, Renal? Tak usah mengalihkan pembicaraan.”

Aku menyesap cappuccinoku dulu. “Ehm, kau ingat Nuri? Adik perempuanku?”

Sonja mengangguk sekilas.

She passed away yesterday.”

“Oh, no, Renal.” Ia menggenggam tangan kiriku erat. “I’m sorry to hear that.”

It’s okay, Sonja. Mungkin memang itu yang terbaik untuk Nuri. Aku pun sebenarnya sudah tidak tega melihatnya terus kesakitan.”

Sonja mengangguk pelan. “Kita doakan saja untuk Nuri, Ren. Then what about Canola? Kalian gak pulang ke Indonesia?”

“Itu masalahnya. Jeny bersikeras untuk pulang, sementara Canola gak ingin kami berdua pulang. So… sepertinya Jeny tersinggung.”

“Ah… I see.”

“Aku juga bingung, Son. Masalah pemakaman Nuri aku yakin Bob dan Yuli sudah mengurus semuanya dengan baik, tidak perlu harus menungguku pulang. But Canola… she’s all by herself.”

Sonja tersenyum. “Canola sudah besar, Renal. Aku tahu sepertinya keluarga kecil kalian menghadapi sesuatu yang tidak mudah. Dan Canola sedang belajar untuk menghadapinya sendirian.”

“Tapi aku khawatir.”

“Dia gadis yang pintar, Ren. Dia meminta untuk sekolah di Indonesia atas kemauannya sendiri kan? Dia belajar untuk mengatur hidupnya sendiri, apa kau tidak bangga?”

“Yaaah, naluri seorang Papa kan, Sonja? Anak perempuannya sudah bisa mengambil keputusan sendiri bukannya mendukung penuh, malah semakin khawatir.”

Sonja tertawa. “Yeah, I know. Apalagi anak perempuan semanis dia. Aku masih ingat dulu Canola bersikeras ingin membantuku memasak burger tuna favoritnya di dalam truk.”

“Dan sekarang di Indonesia dia malah sudah bisa menyetir mobil sendiri tanpa sepengetahuanku. The stubborn Canola.”

She just as fierce as her Papa, don’t you think?”

Aku tertawa.

Oh God. Pasti dia cantik sekali sekarang. Aku jadi merindukannya, Renal.”

Me too, Sonja. Menurutmu apakah aku tetap harus pulang ke Indonesia?”

“Pulanglah, Renal. Kalo memang itu yang membuatmu tenang. Asal tetap atas persetujuan Canola sendiri… dan juga Jeny.”

Aku meminum cappuccinoku yang sudah dingin.

***

Jeny lebih dulu kembali ke rumah. Giliran ia yang menjadi sasaran Max untuk bermanja. Aku meletakkan bungkusan coklat isi croissant dan burger dari Sonja di hadapannya.

“Ini dari Sonja, atau kau sendiri yang berinisiatif membelikanku?”

“Dari Sonja, karena Sonja berhasil membaca keinginanku membelikanmu makan siang.”

Jeny tersenyum sekilas. “Berarti tetap dari Sonja.”

Handphoneku di dalam celana berdering. Kulihat ada nama Rully yang terpampang di layar. Ragu-ragu aku menjawabnya, kusetel ke mode handsfree.

“Selamat Malam, Bapak Renal.”

Jeny langsung ikut mendengarkan.

“Malam Bu Rully.”

“Bagaimana kabarnya, Pak? Oh maaf, sepertinya di Belanda belum malam ya? Hahaha.”

Terlihat Jeny memutar bola matanya, mungkin ia malas mendengarkan basa-basi Rully yang klasik, atau malah ia sebenarnya cemburu? “Ehm, iya Bu Rully, di Belanda masih sore. Ada apa Bu Rully menelepon saya?”

“Oh jadi begini, Pak Renal. Kami akan mengadakan acara perpisahan di sekolah, dan kami ingin Pak Renal beserta ibu bisa hadir, sebagai tamu kehormatan. Sekolah kami kan tidak akan bisa seperti ini tanpa Bapak Renal sebagai donator terbesar yayasan kami.”

Aku menatap Jeny. Tanpa suara, ia memberi isyarat dengan mulutnya, “Bilang iya!”

“Ehm, bagaimana kalo saya pertimbangkan dulu Bu Rully? Mengingat urusan saya di Belanda masih banyak. Tapi saya usahakan bisa hadir.”

“Wah, sebuah kehormatan kalo Pak Renal dan Ibu bisa datang. Kami akan mengabari pihak kesiswaan dan staff lainnya, Pak. Terima kasih banyak.”

“I-Iya Bu Rully, sama-sama.” Aku menutup telepon dan mengusap wajahku yang semakin lelah. Rasanya keriput di dahiku seketika bertambah banyak.

“Pak Renal beserta Ibu? Ibu Jeny maksudnya?” sahut Jeny sinis. “I told you, Renal. Kita harus pulang.”

“Jen, please think about it. Dia meminta aku datang dengan ‘Bu Renal’. Aku harus bagaimana? Mendandanimu jadi perempuan untuk sementara?”

“Mengapa pikiranmu masih sekolot itu, Ren? Aku akan datang sebagai diriku sendiri. Lagipula kau donator terbesar sekolah itu. Jika sampai ada yang menghinamu, kau cabut saja bantuan untuk mereka, selesai sudah.”

“Kau yakin Canola tidak masalah kalau kita hadir?”

Jeny menurunkan Max yang langsung protes ketika tidurnya harus terganggu. “Aku yang akan bicara dengannya. Kau sadar kan kalo sifat Canola itu mirip sekali denganmu? Dan kau masih ingat kan seberapa sering aku berhasil mengubah pikiranmu? Aku akan melakukan hal yang sama untuk merubah pikiran Canola. I’m her favorite Daddy.”

Kalau sudah begini, susah bagiku mengubah pendirian Jeny. “But, aku masih ada urusan di Denhaag sampai minggu depan. Kita tunggu…”

“Kalo memang begitu, biar aku berangkat lebih dulu ke Indonesia.”

“Dengan persetujuan Canola lebih dulu.” Aku menegaskan lagi.

Jeny terdiam. Ia meraih tanganku dan menciumnya sekilas. “Okay, aku akan cari tiket.” Jeny beranjak.

“Jeeen, harusnya kau hubungi Canola dulu baru mencari tiket pulang.”

Ia sudah tidak mendengarkanku. Max mengeong sambil melihatku. “Kau juga ingin bertemu Canola, Max?”

***

ditulis oleh : Rizqi Erliani

Leave a Reply