Canola (4)

Kali ini bukan aroma ayam panggang rosemary buatan Lusy yang membangunkanku, melainkan aroma citrus yang ku yakini dari sebotol terre d’hermes milik Daddy. Rasa segar dari aroma parfum yang sudah lama tidak aku hirup. Memang sebagian kecil dari diriku tidak berhasrat atas pertemuan ini, tapi sebagian lainnya masih bisa merasakan rindu, hanya dengan penciuman aroma ini saja sudah berhasil mengisi sedikit energi ku, iya, sedikit. Dan sungguh pagi ini jauh berbeda dengan pagi di tiga minggu lalu. Aku terbangun dengan kondisi seluruh barang di ruang kamar ini sudah tertata rapi, jendela kamar yang terbuka, cahaya matahari pagi benar-benar mengisi ruang kamar ku, tak ada lagi baju bergantungan di balik pintu, bahkan handuk kering dan baju bersih sudah siap di atas meja rias ku. Hal-hal kecil seperti ini  membuatku berpikir mungkin ini yang membuat Papa jatuh hati pada Daddy. Keuntungan besar bagi Papa yang sering sekali meletakkan handuk basah di kasur, bahkan di kasur anaknya setelah memandikanku sewaktu kecil dulu.

Goedemorgen, mijn Canola” Daddy menyapa ku dari balik penggorengan di pantry.

Aku hanya tersenyum membalas sapaan Daddy. Entah dia menyadari responku atau tidak. Rasanya cukup pelukan kemarin sore yang mewakilkan kerinduanku padanya, karena hari ini aku belum siap menatapnya terlalu lama, Daddy sangat andal dalam membaca isi hatiku hanya dengan menatapku beberapa menit. Lebih baik memalingkan wajah dan berpura-pura fokus di depan bloomberg pagi ini.

            “Pagi neng Nola..” Suara Mbak Yuli seketika membuatku menoleh ke arah pantry lagi.

            “Hey mbak Yuli! Kapan datang?” seruku beranjak dari kursi dan mendekat untuk memeluk mbak Yuli.

            Mbak Yuli melepas pelukannya padaku. “Semalam, pas banget neng Nola baru tidur, Pak Jeny jemput kami di stasiun”

            Sepintas terlihat Daddy tersenyum memperhatikanku dengan mbak Yuli.

            “Dady, seladanya segini cukup kan?” Lusy datang masuk ke pantry. Raut wajahnya ceria, sangat ceria.

            Aku pernah melihat pemandangan seperti ini, empat tahun lalu. Aku, Anne, dan Berg menghabiskan pekan pertama di liburan musim dingin dengan menyewa sebuah rumah di  kawasan Giethoorn, sebuah kota kecil yang menurutku tempat terbaik untuk melakukan hibernasi dari hiruk pikuk modernisasi, tak ada asap mobil atau pabrik sama sekali, tak perlu memasang earphone untuk menyumpal telinga dari hingar-bingar ibu kota. Kami mengisi agenda dengan belajar membuat  waterzooi atau sup yang sangat cocok dihidangkan di musim dingin, dibantu dengan Daddy dan Tante Sonja kala itu menjadi aktivitas memasakku terakhir, sebelum keengganan ke dapur datang seperti sekarang. Jelas aku masih mengingat momen bersama dua orang yang ku anggap sahabat, bahkan mungkin harusnya telah menjadi saudara saat itu. Kedekatan Anne dan Berg  dengan Daddy sama seperti Lusy yang saat ini sedang sibuk bercanda sambil terus memasak bersama Daddy. Berg merupakan keponakan ipar dari Tante Sonja dan orang tua Berg merupakan relasi bisnis Papa, kedekatanku dengan Berg sudah terjalin sejak kami berumur lima tahun. Berbeda dengan Anne yang baru dekat dengan kami berdua sejak tahun pertama di sekolah tingkat lanjutan. Di hari pertama sekolah, Anne hampir membuat kegaduhan di sekolah karena berusaha kabur saat jam pelajaran. Momen aku dan Berg memergoki aksi nekad Anne tanpa sengaja menjadi mula dari persahabatan kami selama tiga tahun. Semula Anne adalah anak yang arogan dan liar, dampak dari perceraian orang tuanya. Tapi, entah bagaimana watak kasar dari Anne perlahan larut dan berubah setelah mengenal pria bernama Jeny Amara. Ya, pertemanan dengan Daddy berhasil membuat Anne tumbuh menjadi gadis yang manis, sangat manis, mungkin bisa ku sandingkan dengan Lusy.  

 Semua hal menyenangkan bersama mereka masih terekam jelas di memori cerebrumku. Sejelas Ibu Anne menjemput Anne pagi itu. Membuat keributan di taman depan rumah, hingga membuat beberapa orang di rumah sebelah kami juga merasa terganggu. Ibu Anne menarik paksa Anne yang masih mengenakan piyama untuk keluar dari rumah. Aku yang saat itu baru selesai mandi hanya menyaksikan kegaduhan  dari jendela kamar di lantai dua. Berg mulai mendekap erat pundakku saat mengetahui tanganku bergetar kencang setelah mendengar kata-kata kasar dilempar pada Daddy. Pun kondisi yang sama dirasakan Anne, aku melihat wajah putihnya mulai memerah saat ia menangis dan mencoba melawan tarikan tangan ibunya. Liburan kami seketika hancur, bersamaan dengan kepercayaan diriku hilang ketika mendengar umpatan kasar yang terus menerus Ibu Anne ludahkan kepada Daddy.  

“Ibu Anne gila!” Bisik Berg padaku.

Ibu Anne mungkin gila dengan tantrumnya, tapi Ibu Anne tidak sepenuhnya salah. Seorang ibu yang tidak ingin anak gadisnya berdekatan dengan ketidaknormalan dalam hidup ini, atau mungkin menurutnya itu aib.

“Neng Nola, mau berangkat jam berapa?” Teguran mas Bob menyadarkanku dari lamunan masa lalu.

***

Hanya suara detik jarum jam dinding yang mengisi ruang kamarku. Aku dan Lusy sama-sama fokus menatap satu benda yang sama. Hanya memperhatikan gerak jarum jam panjang menuju angka dua belas.

“Kita kayak orang idiot, diem, ngabisin waktu dua puluh menit Cuma buat ngeliat jarum jam jalan!” Lusy memalingkan wajahnya padaku.

“Kita gak boleh kalah cepet lagi, Lus!”.

“Kalah cepet gimana?! Sama siapa?! Kita tuh tinggal keluar kamar, turun, jalan ke teras depan, masuk mobil, berangkat!” Protes Lusy yang beranjak mengambil jaket dan tasnya di gantungan.

“Heh Campak Jerman! di ruang tengah itu ada Daddy yang lagi baca koran” Aku sedikit menggertak pada Lusy.

“And then??” Lusy mengerutkan dahinya

“Aktivitas baca koran bakal selesai tepat jam delapan, setelah itu Daddy akan masuk kamar cuma buat ambil tab-nya lalu kembali lagi ke ruang tengah sambil nonton tv selama 30 menit. Sedangkan jarak antara ruang tengah dan kamar yang Daddy tempati itu deket, jadi kemungkinan ruang tengah kosong cuma sebatas dua menit aja. Kita gunakan dua menit itu buat keluar, turun ke teras depan dan berangkat. Aku udah minta mas Bob standby di mobil tepat jam delapan” Jelasku.

“WHAT???” Lusy setengah berteriak. “La..La..Canola..Minyak Kanada..” Lusy melanjutkan sambil mengatur nafasnya. “Ini bener-bener baru pertama aku ngeliat kamu kayak gini. Aku  salut dengan ketelitianmu memperhatikan sesuatu, cuma gak untuk kucing-kucingan seperti ini juga”.

“Hah? Kucing-kucingan??” Kali ini aku yang tidak memahami maksud Lusy.

Lusy tampak mencoba menyusun kata. “Kamu-kamu kenapa sih La sama Daddy?”

“Seharusnya aku yang tanya gitu Lus, kenapa kamu sama Daddy? Baru ketemu sehari rasanya udah ada di pihak Daddy. Kamu lupa tujuanku minta tolong kamu buat apa??” Aku beranjak dari kasur menuju ke meja rias untuk mengalihkan emosiku.

Beberapa detik suasana menjadi canggung hingga helaan nafas Lusy terdengar begitu jelas. Lusy berjalan mendekat ke arahku sambil memberikan jam tangan yang belum ku kenakan.

 “Aku gak ada di pihak siapa-siapa, La. Cuma menurutku gak perlu ada yang kamu tutupi dari Daddy. Kalo aku jadi kamu, pasti bangga dan seneng banget punya ayah seperti Daddy” Senyum hangat mengembang di wajah Lusy.

“Aku bangga  dari dulu, tapi lingkunganku sekarang yang gak bangga”.

            Lusy mengatupkan mulut dan memalingkan wajahnya. “Skakmat lagi” bisiknya membuatku tertawa kecil memperhatikan kecanggungan Lusy. Lagi-lagi hanya dengan Lusy aku tidak bisa terlalu lama emosi.

            “Jadi ini bener ya kita bakal ambil handphone Bu Rully buat beberapa menit??  serem ya cara main kita” keluh Lusy menunjukkan ekspresi kesalnya.

            “Kan udah ku bilang, ada dua rencana. Plan A aku alihkan perhatian Bu Rully untuk keluar ruang kantornya. Tugasmu ambil handphone beliau dan kirim pesan ke nomor lain Papa dan nomor pribadi Papa yang dibawa Daddy kemarin. Sedangkan Plan B, semisal handphone Bu Rully gak ada di mejanya, langsung aja kamu ambil alih telepon kantor di meja sekertaris bu Rully hubungi nomor Papa dan Daddy. Jadi, gimana caranya kita harus buat mereka berdua gak perlu ke sekolah, titik”.

            “Seberapa yakin kamu kalo handphone Bu Rully selalu di meja kerjanya?” Lusy menatapku dalam-dalam.

            “Sembilan puluh tujuh persen, handphone akan selalu berada di meja beliau. Dua bulan lalu, enam kali beliau lupa membawa pulang handphonenya ke rumah, bisa digolonggkan jadi hobi” Jelasku mantap.

            “Seberapa besar kemungkinan sekertaris Bu Rully gak ada di ruangan jam sepuluh nanti?”.

            “Sekarang hari Rabu, anak terkecil dari sekertaris Bu Rully pulang sekolah jam sepuluh. Dia bakal balik ke kantor sekitar jam sebelas lebih lima belas”.

            Lusy mengamatiku dari bawah hingga atas. “Bakat psikopat, hih!” ledeknya. Aku hanya bisa mengerlingkan mata sebelum Lusy melanjutkan bualannya dengan..dengan..tunggu. Jarum panjang di angka satu, jam delapan lebih lima menit!

Damn! Over five minutes, Lus!!” Aku meraih tasku di kasur. Kami berlari keluar menuju lantai bawah. Jelas, Lusy mengikuti dengan kebingungan. Ruang tengah tampak kosong, ku turunkan kecepatanku dengan melihat sekitar. Tak ada seorangpun di ruangan itu bahkan di pantry. Sebuah koran berada di atas meja dengan posisi halaman pertama yang terbuka.

            “Kok gak ada?” tanyaku lirih pada diri sendiri.

            “Ke kamar mandi kali, ayok cepet keluar deh!” seru Lusy mendorong bahuku untuk segera keluar.

            “Nggak mungkin, pasti ada yg berubah”

            “Duh kebanyakan mikir ah kamu, udah deh ayo cepetan! Juga tiga tahun gak pernah ketemu, gak mungkin kebiasaan masih sama!” Lusy berbisik sambil menarik tanganku cepat menuju teras depan. Mas Bob sudah berada di dalam mobil, kelegaan sekaligus rasa penasaran ku menjadi satu.

            Yang ku kenal, Daddy tidak akan mengubah sesuatu begitu saja. Bahkan untuk kebiasaan kecil yang membutuhkan waktu dua menitpun. Daddy adalah orang pertama yang ku tahu memiliki konsistensi tinggi. Susah untuk mengubah sesuatu yang sudah dipikirkan Daddy, itulah yang membuatku harus, baik aku mengakuinya, kucing-kucingan-seperti ini.

***

            Akhir-akhir ini aku sering berpikir, di kehidupan selanjutnya aku ingin hidup menjadi batu saja. Diterpa apapun tetap diam, mengikuti apa yang mendorong atau menariknya. Mengikis karena unsur-unsur alam lain, itupun tak ada penolakan dari batu. Menerima apapun yang ia dapat. Memang analogiku sangat bodoh untuk kali ini, lebih tepatnya tampak hampir putus asa. Ya, jujur saja, menjadi pengecut itu jauh lebih melelahkan. Harus berapa malam ku lewati dengan tidur yang tidak pernah nyenyak, bangun dengan gelisah. Aku hanya berjuang untuk lari, bukan berjuang untuk menghadapi.

            Kami terlalu pagi untuk melakukan misi bodoh ini, kantin yang masih sepi menjadi tempat persiapan kami. Hanya kami berdua dan beberapa siswa dari pelajaran olahraga yang menjadi pelanggan pertama pagi ini.

            “Minyak canada, sebenernya kita bisa lho gak pakai cara ini”. Lusy mulai membuka obrolan.

            “Terus gimana?” Sahutku sambil memakan siomay dari piring Lusy.

            “Sekarang gini..” Lusy mengecilkan volume suaranya dan mendekatkan kepalanya ke arahku. Aku mulai tertarik dengan usulan ide Lusy.

“Jadi, posisi Daddy kan udah ada di sini, sedangkan Papa masih di Rotterdam. Nah, orang-orang di sini kan belum pernah tau papa sebenarnya seperti apa. Jadi gak masalah kalo Daddy datang ke sekolah. Tinggal kamu beri pengertian dan minta tolong aja ke Daddy buat mengaku sebagai Papa atau Bapak Renal untuk sementara. Kita gak perlu pake hubungin Papa lagi dengan ngambil Handphone Bu Rully lah atau apalah itu yang plan B, ribet”

Usulan Lusy membuat tubuhku menjauh darinya, aku melempar pelan garpu siomay kembali ke piringnya. “Kamu gak perlu beli tiket pesawat, menyebrangi lautan buat ke sini kalo dari awal bisa ku gunakan cara halus seperti itu, Lus! Kalau pun bisa seperti itu, gak bakal kita saling kenal seperti sekarang, karena aku juga gak mungkin memilih hidup di sini” Ujar ku kesal.

Kedua kalinya Lusy mengatupkan mulutnya selama pagi ini. “Udah deh, gak usah awkward gitu” pintaku saat melihat kecanggungan yang muncul lagi dari dirinya.

“Tiga puluh menit menuju jam sepuluh, yok. Aku gak mau lari-larian kayak tadi. Keringetan, males!” Alarm dari Lusy tiba-tiba membuatku sedikit gugup.

Aku beranjak pergi. “Kamu tunggu di lobby ya, aku ke kamar mandi dulu. Siomaynya bikin mulas”

“La…” Lusy menahan dengan menarik pelan tanganku. Aku sedikit membalikkan badanku ke arahnya. “Kalo kamu gugup, aku bakal lebih parah. Bisa-bisa fail lho” Ungkapan Lusy yang tidak terduga seperti ini yang kadang membuatku merasa beruntung sekaligus kesal memiliki sahabat yang mampu memahami tanpa diberi informasi. Lusy ternyata sudah hapal dengan sistem kerja tubuhku, memang jika perasaan gugup atau panik datang, hasrat untuk melakukan pembuangan selalu tinggi. 

“Aku mulas bukan gugup!”

“Hadeh selalu boong, cepet sono!” Lusy melepaskan tangannya. Damn, tetap aja dia bisa mengerti.

***

Kecepatan berjalan aku tambah menjadi setengah berlari menuju depan ruang kantor kepala sekolah. Sedari tadi panggilan telepon dari Lusy sengaja tidak ku angkat, karena malasnya aku mendengar suara bawelnya dikejar-kejar waktu. Padahal masih sisa sepuluh menit lagi menuju jam sepuluh. Aku masih berada di koridor aula, untuk menuju kantor kepala sekolah lumayan membuat ngos-ngosan jika setengah berlari seperti ini.

“Canola!!” Sial, suara ini. Ruang kepala sekolah masih jauh tapi aku terpaksa membalikkan badanku mencari sumber panggilan itu.

“Nola, bentar!” Laden berlari ke arahku. Ah dia, laki-laki ini membuatku nampak seperti remaja normal lainnya.

“Ini novel Paulo dari waktu itu. Maaf ya baru bisa aku kembalikan hari ini. Beberapa kali aku ke sekolah tapi gak pernah ngeliat kamu. Mau ke rumahmu tapi aku gak tau. Hehe sory ya, Nola” Novel milikku akhirnya kembali ke tanganku setelah lama tinggal bersama Laden. Andai saja bisa berbicara, akan ku interogasi buku ini nanti, bagaimana aktivitas Laden selama di rumah, bagian apa yang Laden suka dari cerita di buku ini, bahkan jam berapa biasanya Laden bangun dan memulai aktivitas. See? Laki-laki berkulit kuning langsat di hadapanku ini bisa membuatku tampak seperti remaja pada umumnya. Merasakan sesuatu yang normal, syukurlah.

By the way, congrats ya La” Laden mengulurkan tangannya.

Otomatis aku membalas salamannya, meski tidak tahu untuk apa. “for what?”.

“Peringkat tertinggi ujian kelulusan. Kamu belum dapat pengumuman?” jelasnya dengan posisi tangan kami masih bersalaman.

“Serius? Kok aku belum tahu?”.

“Canolaaa!!” Teriakan ini, sial, Lusy beri aku sedikit waktu untuk..Daddy?!

What the hell happened here??!! Daddy, Lusy dan Bu Ruly berjalan ke arah kami berdua. Lusy yang berjalan paling belakang memberikan isyarat yang tak bisa ku baca. Tampaknya Lusy tidak ikut dalam agenda tidak terduga dari dua manusia di depannya. Raut wajahnya tampak kebingungan dan bibirnya tak lagi terlihat merah, malah jadi pucat pasi.

“Nola, dari tadi Ibu minta Lusy menelponmu. Dari mana kamu, nak?” Ibu Rully kembali membuka basa-basinya, kali ini di depan Daddy.

Aku tak bisa berpikir apapun untuk menjawab pertanyaan itu. Daddy tersenyum dan memelukku. Padahal baru tadi pagi kami bertemu di meja makan yang sama, meski obrolan lebih banyak terjadi antara Daddy dengan Lusy dan Mbak Yuli. Pandangan dan senyuman Daddy beralih pada laki-laki di belakangku. Oh Lord, ku mohon jangan sekarang!

Laden lagi-lagi mengulurkan tangannya“Selamat pagi, perkenalkan saya Laden. Pasti anda..”

 “Om! Ini om ku!! Paman, hehe” Tanpa pikir panjang aku harus memotong perkenalan mereka.

“Nola?!” Mulut Lusy setengah menganga.

Nafasku semakin tak beraturan, otakku memerintahkan mataku perlahan untuk menatap Daddy. Benar, tatapan Daddy dingin. Tapi bukan untuk mataku, melainkan tetap untuk mata Laden, senyum hangatnya tadi seketika menghilang. What are you fckn doin’, Canola!.

***

ditulis oleh : Rizqi Erliani

2 thoughts on “Canola (4)

Leave a Reply