Canola (5)

J e n y

Ketika kau menoleh ke belakang dan melihat semua memori, itulah permulaan perasaan bahagia dan pilu yang bisa kau rasakan di saat bersamaan. Aku masih bisa merasakannya. Kulit kami saling bersentuhan untuk pertama kalinya, ia menangis di dadaku. Tanganku mendekap tubuh kecilnya yang masih nampak sedikit merah. Tangan mungilnya menggenggam erat jari telunjukku. Tangisannya semakin nyaring hingga spontan membuatku berbisik di telinga kecilnya “You’re safe with me”, sambil mengelus punggungnya, ia perlahan terlelap. Kebahagiaan yang tak akan pernah tergantikan, aku mampu menenangkan Renal Junior yang saat itu baru dua jam hadir di bumi ini.

Tatapan mata Renal pada kami sehangat perasaanku kala itu. “Jadi, siapa nama yang akhirnya kau pilih?”

“Canola.”

The place where we first met.” Senyum Renal makin mengembang.

“…and the best quality of Canola oil, my favorite item for your favorite meal. aku melengkapi penjelasan pada Renal.

Renal meletakkan handycam-nya lalu duduk di sampingku, tangannya mendekap erat bahuku. “Welcome to the jungle, Canola.” Renal sedikit menundukkan kepalanya lalu mencium lembut kening Canola kecil.

Tepat di hadapanku, Renal menatapku dalam. “Terima kasih sudah menenangkannya.” Hembusan napasnya semakin bisa ku rasa, dengan lembut bibirnya menyentuh bibirku untuk beberapa detik.

Ucapan Renal dan ketenangan Canola hari itu berhasil memberi energi yang meyakinkanku untuk terus bisa melewati masa-masa sulit setelahnya. Hampir delapan belas tahun aku percaya dengan kesanggupan ku bersama Renal untuk tumbuh dan berkembang menjadi orang tua sekaligus sahabat bagi Canola. Mengingat kata pertama yang Canola sebut saat belajar berbicara adalah Daddy. Ia berteriak, mengulang satu kata itu selama tiga hari berturut-turut. Panggilan yang membuat ku semakin yakin tidak selalu harus ada ikatan darah untuk munculnya rasa cinta dalam sebuah keluarga. Mendiang Ayah Renal pernah berujar padaku, menjadi orang tua itu harus siap. Bahkan jika harus menggadaikan kepala demi keamanan dan kebahagaiaan anak. Bagaimana Canola terjatuh saat pertama kali belajar sepeda di Het Park membuatku berjanji apa saja akan ku beri untuk melindunginya, termasuk memarahi Renal seharian via telpon karena kekonyolannya tidak bisa membeli pembalut saat Canola menangis histeris ketika melihat darah menstruasi pertamanya. Semua yang ku ingat serba pertama kali bagi Canola. Aku merasa bahagia pernah melaluinya. Dan kini, sama pertama kalinya, aku menyaksikan gadis perempuanku yang mulai tumbuh dewasa mulai menutup diri dari orang tuanya. Perbedaan yang luar biasa meski sama-sama menjadi hal pertama yang ia lakukan. Dan ini mungkin menjadi pilu yang aku rasa setelah menoleh ke belakang. I thought I’m her favorite Daddy.

“Gimana kabar Max?”

***

C a n o l a

Tidak, aku tidak lagi mau menjadi batu di kehidupan selanjutnya! Aku sempat membaca batu adalah  representasi dari sifat keras, radikal bahkan buta hati. Sekeras itukah aku tadi di depan Laden? Damn, situasi seperti ini yang ku benci. Sudah lebih dari empat puluh menit dan aku… argh aku tidak separah itu tadi sampai harus menerima hukuman suasana canggung seperti ini!

“Gimana kabar Max?” Aku mencoba membuka obrolan dengan Daddy yang berada di sampingku, fokus dengan kemudinya.

Tujuh detik berlalu tidak mendapat respon. Baik, suaraku kurang lantang. “Max tetep gak mau makan sarden?” Iya, Max memang jelas alergi sarden kemasan, dan aku memang kehabisan bahan basa-basi. Dari spion, sangat jelas wajah Lusy yang duduk di kursi tengah sedang menatapku dengan tanda tanya.

Sudah tiga belas detik, ya, Daddy tidak meresponku! Iya aku salah. Tapi pun apakah pantas seorang ayah mengacuhkan anaknya di depan sahabatnya. Aku membenci Daddy yang seperti ini!

***

“Loh… kamu gak nyuruh mas Bob beli mobil lagi kan, La?” Pertanyaan dari Lusy menjadi suara ketiga setelah terakhir aku membuka obrolan di dalam mobil.

Mercedes benz glc class silver berada di teras depan rumah, berteduh di bawah deretan pohon palm. Lusy membuntutiku setelah keluar dari mobil. Daddy berjalan lebih awal di depan ku, jauh dari langkahku dan Lusy. Aku bersama Lusy masih terpaku menatap mercedez itu sambil saling melempar pertanyaan dalam diam. Ah aku tak siap untuk kedatangan ‘siapa-siapa’ lagi.

Perlahan aku mengatur napasku, paling tidak untuk menjaga kewarasanku siang ini. Kakiku mulai berani melangkah ke dalam rumah. Lusy masih berada di belakangku seolah menjadi bodyguard yang siap menangkap tubuhku jika sewaktu-waktu kakiku tak kuasa lagi untuk berdiri di tiap sudut ruangan ini.

Di ruang tengah, jelas aku melihat seseorang yang tengah berbisik dengan Daddy, namun tertutup bahu lebar tuan Jeny. Aku berjalan mendekat ke arah mereka. Ah jenis suara Bass ini, kenapa harus menumpuk sekarang. Sungguh aku merindukan suara ini pula, tapi tolonglah jangan untuk saat ini.

“Halo Canola!” Seru Papa saat melihatku di belakang Daddy.

Papa berjalan cepat lalu mendekapku erat. “Papa mis je, is alles goed, schat? [Papa merindukanmu, apakah kau baik-baik, sayang?] pertanyaan Papa saat ini adalah hal tersulit pertama yang harus hadapi. Nope, pa, aku tak baik-baik saja.

I’m good...” Jawabku sekenanya dengan memunculkan senyum di energi terakhirku.

Prangg. Suara kontak mobil yang Daddy lempar di meja kaca terdengar seperti dentuman peperangan di telingaku.  Aku melepas dekapan Papa, pandanganku mengikuti langkah Daddy yang berjalan menuju kamarnya.

No, actually i’m not okay!”

Papa yang berada di sampingku, sepintas tampak mengernyitkan dahi, namun mataku masih mengikuti Daddy yang tidak berhenti berjalan masuk ke kamar. “Beri tahu Nola berapa lama Daddy akan bertingkah seperti anak kecil seperti itu?!” Aku menggertak untuk pertama kali padanya.

Langkah Daddy memang terhenti, beberapa detik sosoknya mematung. Hingga ku lihat bahunya bergerak melepas helaaan napasnya. “Bertingkah seperti anak kecil masih jauh lebih baik daripada bersikap seperti orang dewasa tapi nyatanya hanya pengecut yang terus bersembunyi, Canola.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Meski Daddy akhirnya menjawab pertanyaanku dengan tenang tapi tetap rahangnya terlihat mengeras. Ucapannya menamparku, tamparan pertama untukku selama delapan belas tahun menjadi putrinya.

***

J e n y

Life is a joke, Jeny! Aku yang berjanji pada diri sendiri apapun akan ku berikan untuk melindunginya pada akhirnya aku juga yang menyakiti Canola. Air matanya mulai mengalir, aku perlahan berjalan mendekatinya. Renal yang ku tahu jelas kebingungan dengan keadaan ini masih berusaha memberiku syarat untuk jangan mendekat ke arahnya dan Canola.

“Dad…” Suara Canola bergetar. “Mungkin benar Canola pengecut dengan bersembunyi dan menutupi identitas Daddy sebagai orang tua Canola. Tapi… apa Daddy mau memahami alasan Nola memilih menjadi pengecut karena Nola gak mau ada Anne lainnya di kehidupan Canola? Akhirnya pasti Daddy bakal bilang Canola harus jadi diri sendiri, jangan terlalu dengerin penilaian orang lain. Iya kan?!”

“Nola…” Suara berat Renal ku dengar berusaha menenangkan Canola. Aku tak lagi bisa menenangkan dan memenangkan hatinya.

“..mana yang lebih baik untuk Daddy, bersikap seperti pengecut yang bersembunyi sementara untuk mempersiapkan diri atau memilih tetap seperti anak kecil yang kadang belum bisa membatasi dunia imajinasinya dan kenyataan? Nola pikir gak ada yang salah dengan keluarga kita, sama normalnya dengan yang lain, hanya butuh waktu untuk diterima lingkungan. Tapi… sekarang Nola sadar, buat Daddy memahami Nola aja gak bisa lalu gimana lingkungan memahami dan nerima kita?”

Penjelasan Canola membuat dadaku sesak, mataku semakin panas menahan air mata, gadisku berhasil membuat ayahnya terlihat bodoh kali ini.

“Papa… Ik haat het om hierte zijn [Aku benci ada di sini]” Pernyataan penutup Canola pada Renal membuat kepalaku seperti dipukul oleh balok panjang. I was wrong to think that I’m her favorite daddy. Never… bahkan saat ini dia membenci kami.

Aku hanya bisa melihat Canola yang berlari ke lantai dua menuju kamarnya, disusul Lusy yang ku pastikan tak akan bisa meredakan emosi gadis kecilku yang beranjak dewasa saat ini. Aku tahu pasti akan berjam-jam bahkan berhari-hari dia akan berada di kamarnya tanpa seorangpun diperbolehkan masuk kecuali aku, itu dulu saat dia bermasalah dengan kawannya. Tapi sekarang masalahnya ada denganku. Aku hanya ingin mendekapnya seerat mungkin saat ini.

***

R e n a l

Semuanya seperti kilat yang menyambarku. Serba tiba-tiba, bahkan tidak ada yang mengizinkanku untuk bernapas sejenak.  Jetlag seketika hilang berkat adegan yang pernah aku prediksi.  Aku memilih beristirahat di kamar Nury, sendiri setelah semua orang masuk ke dalam ruangannya masing-masing. Aku ingin menghirup suasana kesunyian kamar ini supaya kewarasanku tetap terjaga. Di situasi seperti ini, aku satu-satunya yang harus tetap netral meski sebenarnya semua kesalahan harus ditujukan padaku.

Setelah Fony melahirkan Canola dan perceraian kami diterima oleh Pengadilan Negeri, hak asuh Canola jatuh padaku. Aku memutuskan melanjutkan kehidupanku bersama Jeny dan Canola untuk menjadi sebuah keluarga kecil. Banyak yang bilang watak Canola hampir akurat menyerupaiku karena alasan dia adalah anak biologisku. Tapi andai saja orang-orang yang membuat pernyataan itu melihat adegan tadi, pasti semua akan berubah pikiran bahwa lingkungan juga mempengaruhi pola pikir dan watak seorang anak. Nyatanya, Canola saat seperti tadi, sembilan puluh sembilan persen serupa seperti Jeny Amara, pasangan hidupku. Sebenarnya aku ingin menertawakan semua ini, Canola bilang bahwa ia membenci berada di sini, padahal ia tak menyadari bahwa ia seperti itu juga karena rasa sayangnya terhadap keluarga ini. Sebuah pernyataan kontradiktif yang dilontarkan dari anak gadisku yang beranjak dewasa.

Canola memang tidak memilih ingin hidup dengan siapa, di keluarga yang seperti apa, tapi aku percaya sampai sekarang bahwa keberadaan Tuhanlah yang memilihkan Canola untuk menjadi anakku dan Jeny. Sampai pada Tuhan menitipkan dia pada kami bukan pada keluarga lain, aku yakin bahwa Tuhan tahu kami bisa membahagiakan titipannya, dan aku lah yang harus menghangatkan kembali hawa dingin di keluarga ini. Iya, sikap kontradiktif Canola mungkin saja memang menurun dari ku. Berbicara membawa Tuhan dengan keadaan keluarga seperti ini, tapi bukankah untuk berbicara kasih dan cinta tidak perlu menggunakan syarat?

Aku segera bangun dari empuknya kasur Nury dan mencoba menyeimbangkan tubuhku. Di sebuah rak televisi, aku melihat kotak DVD yang tidak asing di mataku. Aku meraih DVD itu dan memastikannya sebelum beranjak keluar menemui Jeny. 

***

J e n y

Kepala ku masih terasa berat, bahkan saat membuka mata ini. Samar-samar aku melihat punggung Renal yang duduk membelakangiku. Entah sudah berapa lama dia seperti itu, yang jelas aktivitasnya sama sekali tidak mengganggu tidurku selama beberapa jam lalu. Aku bangun pelan-pelan dan memperhatikannya yang ternyata sibuk di depan macbook nya.

Really, Renal?kau masih sibuk dengan pekerjaanmu?”

“Sok tau.” Jawaban singkat Renal menyebalkan, tapi dia langsung menutup macbooknya dan beranjak berjalan ke arahku di kasur. Dia duduk di sampingku, tangannya menyentuh lembut kepalaku sekaligus merapikan rambutku.

I’m sorry. ucapku lirih.

For what?” tangan Renal berpindah mengelus lembut pipiku.

Kelemahanku hampir sama seperti Max. Dengan diperlakukan selembut ini oleh tuan Renal sudah bisa membuat kami luluh. “Canola…” Jawabku singkat sambil menarik pelan tangannya untuk lepas dari pipiku.

“Hal seperti ini sudah biasa dalam keluarga.”

“Tapi ini yang paling parah, seperti bom waktu dari Canola.” Jelasku pada Renal yang masih terlihat tenang. Entah apalagi yang bisa membuatnya sedewasa ini depanku.

“Dan memang kesalahan kita tidak pernah menyadari itu.” tandasnya.

“Aku yang salah, terlalu egois untuk menyamakan standart keberanianku pada Canola untuk come out.” ujarku lirih menahan rasa sesak ini.

“Lalu kau melupakanku yang paling awal mengajakmu ke balai kota untuk menikah dan menetap di apartemen pertama kita di Leiden? Kau lupa ada aku yang awalnya hampir menghabiskan energi untuk meyakinkanmu menghadapi semuanya berdua bahkan bertiga saat Canola sudah bisa melepas roda empatnya dari sepeda?”  Renal menggebu-gebu untuk kembali menguatkanku.

Aku menahan napasku sejenak hingga Renal menarik tubuhku ke dekapannya, ia mengelus pelan punggungku. “Canola sudah dewasa, dia sudah lebih kritis dan berani mengeluarkan pendapatnya. Sama sepertimu jika mengkritik apa-apa saja yang salah kulakukan saat reparasi perkakas di rumah.” Penjelasan Renal membuatku terkekeh. Dulu aku memang lebih juara dalam hal menenangkan Canola, tapi ada beberapa saat Renal yang menjadi juara, tapi untuk menenangkanku.

Renal melepaskan pelukan dan memberikan tatapan hangatnya padaku. “Kau dan aku sebagai orang tua hanya bertugas mengarahkan. Pada akhirnya dia akan mengikuti pemahaman kita atau tidak itu kehendaknya. Dan itu juga berlaku dengan persoalan apakah dia akan terus menutupi atau terbuka dengan latar belakangnya. Dia sama sekaligus berbeda dengan kita. Sebagai orang tua, kita tidak berhak menitipkan harapan atau keinginan kita ke anak kita, dia punya cara dalam menjalani kehidupannya sendiri.” Ia menutup pendapatnya dengan mengecup pelan keningku, sangat jarang aku bisa menunduk di hadapannya seperti ini.

“Sebentar lagi akan ku buatkan makan malam. Tolong katakan ke mbak Yuli jangan mulai memasak sebelum aku selesai mandi.“ Aku berdiri melepas kemeja dan berjalan menuju kamar mandi. Dari cermin aku melihat Renal membuntutiku. “Aku mandi sendiri, Renal!” Dengan cepat tangannya menarik bahuku, ia mendekapku erat dari belakang. “Je weet dat ik van je hou en dat ik nooit tegen je zou liegen [Kau tahu aku mencintaimu, dan aku tak akan pernah berbohong padamu soal itu]” Bisiknya sambil mencium bahuku.

Ucapan Renal mengingatkanku tentang sesuatu. “Renal, kurasa anak kita sedang jatuh cinta, cari tahu ke Lusy tentang anak laki-laki  yang bernama Laden“.

***

C a n o l a

You will remember, when this is blown over.
And everything’s all by the way, when I grow older.
I will be there at your side to remind you how I still love you, I still love you.

Tidak bisakah aku bangun atas kehendakku sendiri? Suara petikan gitar dan denting piano yang khas dari lagu Queen membangunkan ku di pagi ini.

Back – hurry back.
Please, bring it back home to me because you don’t know what it means to me.
Love of my life.

Mata ku terbuka dan mendapati sebuah tape kuno dan dua tumpuk DVD berada di meja dekat jendela ku. Ah, aku tau, ini pasti cara…

Monin’ My Favorite Canola. Suara bass Papa membuatku berbalik badan ke arah belakangku.

“Sejak kapan Papa tidur di sini?” Kami saling berhadap-hadapan di atas kasurku.

 “Papa gak tidur di sini, Papa cuma nunggu kamu bangun.” Papa beranjak duduk.

Aku mengikuti Papa yang bangun dari kasur dan duduk di sampingnya, sambil membenarkan ikatan rambut. “Harus ya dibangunin pake lagu?”

“Bukannya kamu kalo dibangunin memang harus pake lagu dulu?” tampak kening Papa berkerut.

“Iya kan kebiasaan dulu, udah empat tahun lalu. Di sini tante Nuri bangunin pake tenaga mbak Yuli.” jawabku singkat.

“Bisa berubah juga ya kebiasaanmu?”.

“Memangnya Nola Dad…” Aku malas meneruskan ucapanku.

“Iya, kamu bukan Daddy.” Papa merapikan rambutku. “Sarapan yuk.” ajakan Papa tidak ingin ku tolak tapi tidak boleh aku terima.

“Jangan bilang belum lapar, sedari tadi Papa dengar perutmu bunyi. Yang bikin sarapan mbak Yuli, bukan Daddy.” Papa menandaskan perkataannya sebelum aku sempat menjawab.  Papa berjalan menuju jendela untuk mematikan audio tape yang memutar lagu I Want To Break Free.Ia menyandarkan tubuh bidangnya ke tembok sambil melihat pemandangan taman belakang dari luar jendela. Mungkin jika kawan-kawan sekelasku bertemu sosok Renal dan Jeny tanpa mengetahui latar belakang mereka, bisa ku pastikan pasti akan banyak yang jatuh hati pada kedua pria ini. Meski usia telah menginjak empat puluh lebih, tapi kecintaan dengan olahraga dan pola makan sehat membuat tubuh mereka tak terlihat seperti usianya.

“Kamu masih jengkel dengan Daddy?” Tatapan Papa masih memberikan kehangatan untuk terus ku perhatikan.

“Bisakah Papa sebentar saja berhenti bertanya?” .

 Papa berjalan mendekat ke arahku dan kembali duduk di sampingku. “Canola, kalau kamu mau marah, silahkan marah ke Papa bukan ke Daddy.”

“Papa bukan Jack yang harus berkorban untuk Rose. Jadi gak usah minta Canola marah ke Papa demi Daddy tanpa alasan yang logis.”

Papa tertawa. “Bagaimana kamu bisa menyimpulkan kalau Papa tidak memiliki alasan yang logis?”

            “Ya sekarang buat apa Papa minta Nola marah ke Papa kalau bukan untuk Daddy? Supaya Nola bisa seperti biasa dengan Daddy kan? Pengorbanan Papa Gak bisa diterima.”

            “Papa tidak mengorbankan apa-apa. Papa memang menyadari kesalahan awal Papa. Kalau dari awal Papa merawatmu sendiri tanpa kehadiran Daddy, mungkin kamu sekarang gak akan berada pada fase krisis kepercayaan diri ini, kamu gak akan terlalu memusingkan posisi keluarga kita kan?”

“Papa sok tahu! Nola gak ada masalah dengan keluarga kita, Nola cuma gak suka dengan cara Daddy…”

            “Cara Daddy yang tidak ingin kamu terus-terusan menutupi kenyataan bahwa orang tuamu adalah pasangan gay?” Damn, Papa menandas pertanyaan sekaligus pernyataannya bahkan sebelum aku menyelesaikan dalihku. Menyebalkannya, semua yang diucapkannya benar.

            “Canola, Papa di sini bukan untuk membela Daddy atau kamu supaya kalian kembali seperti biasanya. Papa berada di sampingmu untuk mengantar maaf.” Tangan besar Papa mengelus pelan dan merapikan rambutku. “Maaf karena Papa gak memberi kamu kesempatan untuk memilih ingin hidup yang seperti apa. Maaf karena kami selalu mengajarkanmu berpikir bahwa kita semua baik-baik saja tanpa mengijinkan kamu boleh merasa gak baik dalam satu keadaan.”

“Papa berlebihan kalau minta maaf seperti ini.” Aku menarik pelan tangan Papa dari kepalaku lalu menggenggamnya.

            “Batas antara berlebihan atau tidak itu samar jika berbicara perasaan, Canola. Sekarang begini…” Kedua tangan Papa kini memegang keras bahuku. “Usiamu sudah delapan belas tahun, kamu berhak memilih untuk berjalan sendiri tanpa kami. Berlaku juga untuk tidak membawa kami dalam urusan-urusan lainnya selama di sini atau di Belanda nanti. Tapi yang Papa dan Daddy titipkan padamu hanya satu, jangan lupakan cinta kami, itu saja.” Tatapan hangat Papa membuat pelupuk mataku tiba-tiba terasa berat, aku tidak tahu harus merespon seperti apa lagi.

Papa mencium lembut keningku sebagai penutup obrolan pagi ini. Tepat dengan suara ketukan pintu dari Lusy di luar yang menunggu. Papa bergerak membuka pintu dan tanpa kata mempersilahkan Lusy yang membawa nampan makanan untuk masuk. Senyuman manis Papa sebelum meninggalkan kami berdua membuat hatiku semakin kacau. Bagaimana tidak, ketegasan dari raut wajahnya yang selalu muncul saat aku beralasan tidak masuk kelas musik saat di Rotterdam dulu, kini tidak nampak sama sekali. Padahal persoalan ini jauh lebih rumit. Seharusnya Papa marah, bukan mengantar maaf.

            “Yang masak mbak Yuli, katanya kalo nggak dimakan sekarang juga, dia bakal pulang ke rumahnya.” Jelas Lusy meletakkan piring berisi nasi dan sup ayam makaroni yang uapnya terlihat masih mengepul.

            Tante Nuri meninggalkan mandat seperti apa ke Mbak Yuli sampai bisa cerdik sekali ancamannya. “Ah, ini jelas nasinya aja yang dimasak mbak Yuli, supnya tetap adukan Daddy!” Seruanku ke Lusy membuatnya terkejut.

            “Ya ampun ini anak! Asli , bener-bener, absolut bakat profesional jadi psikopat! begitu aja bisa ngerasa!” Protes Lusy kesal sambil mengambil sendok yang langsung kuletakkan tadi.

Lusy kembali menyendokkan nasi dan menyuapiku dengan paksa. “Gak usah gengsi, udah jelas kelaparan. Makanan yang terakhir masuk perutmu itu dua puluh dua jam lalu, itu juga cuma siomay, gak ada gizinya!”

            Aku memperhatikan ocehannya sambil terus menyuapiku. Suapan ketiga, suapan keempat, suapan ke lima. “LUS!” Hardikan suaraku yang aku sengaja membuat Lusy terkejut sekaligus berhenti mengoceh. “Kok masih mau sih jadi kawanku?” Tanyaku singkat. Lusy meletakkan sendok kembali ke piring lalu menghela napasnya panjang sambil mengelus dadanya.

            “Aku kira kira apa, huhhhh. Bisa gak sih biasa aja, gak perlu pake suara sopran begitu!”Lusy masih memukul pelan dadanya sambil mengatur napas. “Duitmu masih banyak, makanya aku masih mau temenan sama kamu!”.

            “Dengan memiliki kartu kredit di umur delapan belas tahun itu bukti kalo duitmu lebih banyak daripada aku! C’mon yang cerdas dong jawabannya, aku serius, Lus.” Jelasku membuat Lusy sejenak terdiam beberapa detik lalu kembali menyendokkan dua suapan terakhir ke mulutku.

            “Kemarin aku bertengkar dengan Daddy di depanmu, dan itu jelas membuatmu bingung semalaman. Kamu juga sudah melihat ke dua orangtuaku yang pasangan gay.”

            “Terus kenapa? Berkawan bukan seperti pembayaran cicilan mobil atau rumah yang menggunakan syarat-syarat tertentu.” Jawaban tegas Lusy tepat di suapan terakhirku. “Cukup aku, kamu bisa mengisi dan menghargai perbedaan serta kesamaan masing-masing, lalu apa lagi?”

“Tapi dengan keadaan keluargaku yang…”

“La, setiap keluarga punya cerita masing-masing, punya sistem yang berbeda. Bagaimana keadaan anggota keluargamu saat ini gak akan mempengaruhi pertemanan kita selagi kamu tetap jadi Canola yang ku kenal dari awal.” Lusy membereskan piring dan mangkuk ke nampan. “Seandainya di tahun pertama kita berteman lalu kamu tau kalau mamaku memiliki dua suami, apa kamu tiba-tiba gak mau berteman denganku terus gabung dengan geng temen-temen kita yang nyatanya sekarang udah berpencar?”

“Ya nggaklah, mana mungkin juga sama… eh wait, WHAT???” Kali ini aku yang tersontak ulah penjelasan Lusy. Iya! Kami bertiga sudah tiga tahun berteman dan aku tak tahu soal…

“Iya, mamaku punya dua suami. Terus kamu sekarang gak mau jadi temenku lagi?” Lusy masih bisa memberikan senyum simpul di akhir pertanyaannya. Iya, murni benar-benar tersenyum! Aku hanya bisa menggeleng pelan tidak percaya dengan cerita Lusy.

“La, setiap keluarga memiliki ruang rahasianya sendiri, akan selalu ada reaksi negatif dan positif. Selagi mereka gak membuat raga dan jiwa kita sakit, kasih mereka masih tetap utuh, berarti mereka masih menjadi tempat pulang terbaik.” Lusy berdiri membawa nampan, senyumnya masih terlihat mengembang tidak berkurang sama sekali, di dalam dadaku ada yang terasa seperti dipecut oleh kedewasaan Lusy. Ia berjalan ke arah pintu. “Oh ya La, selagi ingat, Renal itu Daddy atau Papa sih?”

“Papa.” Aku menjawab sekenanya, masih tidak bisa berkata banyak.

            “Oh, Renal itu Papa? Tapi kemarin Bu Rully kok beberapa kali panggil Daddy dengan nama Renal?”

“Hahh?!”

            “Iya, Daddy dipanggil Bapak Renal, tapi dia diem, senyum, gak nolak.”

            Seriously?! Ah, ini masih terlalu pagi untuk menambah beban di kepalaku. Absolutely, Canola salah! “Lus, biarin aku sendirian dulu.” Really, I’m so tired with myself.

***

R e n a l

Tepat saat aku menutup halaman terakhir dari buku Insomniac City milik Bill Hayes, Jeny masuk kamar dengan membawa dan memberikan segelas air putih untukku, seperti malam-malam sebelumnya. “Sudah boleh ku matikan?” Tanyanya di dekat saklar lampu kamar. Aku mengangguk mengiyakan.

            Kami berbaring di posisi masing-masing, terdengar samar-samar senandung lagu Torn milik Natalie Imbruglia yang dinyanyikan Jeny, kebiasannya menjelang tidur memang menyanyikan lagu apa saja yang muncul di kepalanya. Kebiasaan Canola yang dulunya selalu dibangunkan oleh lagu juga bawaan dari Jeny. Beruntungnya, Jeny adalah anggota choir semasa kami kuliah dulu, jadi nyanyian yang selalu dia dendangkan sebelum tidur adalah bonus lullaby buatku.

            Baru beberapa menit aku memejamkan mata dan hampir memasuki alam mimpi, seseorang membuka pintu kamar dengan keras, lampu kamar menyala. Canola berdiri sambil membawa satu kotak DVD, ekspresi wajahnya datar. Ia berjalan cepat menuju meja televisi di depan ranjang kami. Ia menyalakan DVD player yang kemudian mulai memutar sebuah video. Jeny yang sudah dalam posisi duduk terlihat kebingungan dengan aksi Canola malam ini. Tidak berlaku untukku, akhirnya dia menemukan DVD yang ku simpan di bawah bantalnya pagi tadi. Aku bergerak ke arah Canola yang masih berdiri diam terpaku di depan televisi, aku berdiri di sampingnya, menyaksikan bersama video yang ku rekam sejak delapan belas tahun lalu.

            Sebuah video perjalanan kami bertiga yang ku rekam dari Canola lahir hingga berumur delapan tahun.

Jadi, siapa nama yang akhirnya kau pilih?” – “Canola..” Senyum Jeny mengembang dalam video yang menunjukkan kebahagiannya memeluk Canola pertama kali saat baru lahir. Kala itu kami merasa semua berjalan begitu cepat. Video terus berjalan dengan gambar Canola berada di pelukan Jeny saat pertama kali berada di dalam pesawat. Jeny yang membetulkan roda sepeda Canola di taman Hert. Hingga perayaan Natal saat usia ke lima Canola bersama Papaku dan Nury. Semua telah berlalu.

***

J e n y

            Aku menyisir dan membuat kepangan rambut Canola yang bersiap di hari pertamanya sekolah. Tawa Canola yang ku rindu terus menghiasi video di depan ku. Suara canda kami, gambar Canola yang mempresentasikan gambar pertamanya tentang Papa dan Daddy-nya di sekolah. Sudah sejauh ini, marriage, a family and having kid, that’s enough for me.

            One of my favorite memories with this family is the day we have Canola, I really can’t wait until she gets older. Itu ucapku di closing video sepuluh tahun lalu.

***

C a n o l a

            Aku berbalik, melepas pelukan yang beberapa hari ini ku tahan untuk Daddy. “I-Im sorry…” Aku mengijinkan diriku menangis di pelukannya. Pundaknya yang kokoh mulai terasa bergerak, tangannya mendekap erat diriku. “You’re safe with me” Daddy kembali membuatku merasa seperti delapan belas tahun lalu. Aku benar-benar kembali merasa aman. Isakanku mulai mereda setelah ia kecup beberapa kali kepalaku.

***

R e n a l

            Biarkan mataku saja kali ini yang merekamnya. Pemandangan yang dulu telah ku lalui, kini bisa ku rasakan lagi. Canola berada di antara diriku dan Jeny di ranjang ini. Keras kepalanya mulai muncul kembali saat bersikukuh meminta tidur bersama kami malam ini, iya bertiga di sini.  

            “Pa, penawaran Papa tadi pagi aku terima.” Ujarnya lirih menuju alam mimpi. “Daddy dan Papa tidak perlu datang ke perpisahan sekolah.” Aku dan Jeny saling menatap, ia mengangguk pelan. “Sebagai gantinya, akan ku kenalkan Laden pada kalian di waktu makan malam besok lusa.” tambahan dari Canola yang satu itu membuat kami tidak bergerak sama sekali, tapi perlahan senyum simpul mengembang di wajah Jeny.

Nite, Love.” Bisik Jeny pada Canola yang sudah terlelap.

***

C a n o l a

            Night Dad, Pa.

            Family is family. Parents are parents. Love is love.

            Thank’s Lusy.

-TAMAT-

ditulis oleh : Rizqi Erliani

Leave a Reply