Oscar The Miong (1)

Aturan pertama berburu, menyatulah dengan alam sekitar dan tunggu hingga mangsamu lengah. Kedua, prediksi gerakan dan antisipasi intuisi mangsamu, dan terakhir serang mangsamu sebelum dia menyadarinyaaaaaaaaa. Kuterkam mangsa lemahku ini tapi dia berusaha melawan dengan antisipasi yang mengejutkanku. Bergulat dan menerapkan ajaran Ibu menjadi rutinitas kami setiap hari.  Aku dan 2 saudaraku bermain di lorong sempit dekat rumah. Saudaraku yang pertama berbulu putih dengan corak abu-abu di sepanjang punggungnya, bernama Milo. Satu lagi berbulu putih bersih dan sangat mirip dengan Ibu, namanya Mulan. Bergulat sampai sore membuat kami lelah dan memutuskan kembali ke rumah kecil kami di ujung lorong, tidak beratap dan hanya dialasi kain-kain yang dikumpulkan Ibu. Ibu belum juga kembali, biasanya ibu mencari tikus di atap rumah atau terkadang ada manusia yang sengaja mampir untuk memberinya makan.

Penciumanku merupakan yang paling tajam diantara saudara-saudaraku. Ingin rasanya mencari Ibu, namun niatku kuurungkan karena melihat saudara-saudaraku yang terus memanggil Ibu. Aku dipercaya Ibu untuk menjaga mereka. Hari makin gelap, lampu-lampu jalan mulai dinyalakan dan parahnya gerimis turun. Hawa dingin membuat kami makin meringkuk dan saling mendekat. Hangat, tapi pasti lebih hangat kalau ada Ibu. Aku meringkuk paling depan, menutupi Milo dan Mulan dari percikan air hujan.

Ibu dimana?

***

Aku terbangun dari tidurku, kurasakan ada yang mendekat ke arah kami, manusia yang biasa memberi ibu makan? Hmm bukan! Ini bukan bau manusia. Ini bau yang kukenal tapi bukan Ibu. Aku menghampiri bau itu sendiri karena saudara-saudaraku sudah tidur. Belum genap beberapa langkah aku keluar dari rumah, seekor kucing hitam besar tiba-tiba melompat ke belakangku dan mencengkram Mulan yang masih tertidur. Kutinggikan suara, kuperlihatkan cakar dan taringku untuk mengancamnya, tapi tidak menghentikan serangan kucing hitam ini.

Ia menatapku dengan tatapan yang lebih mengancam. Taringnya masih menggigit erat tubuh Mulan yang memberontak. Semakin tubuh Mulan bergerak-gerak, semakin jelas terlihat ada warna darah di lehernya. Aku jadi geram, kuancam kucing hitam itu dengan suaraku sekali lagi. Kali ini Milo sampai ikut terbangun dari tidurnya, dan ia langsung panik. Kucing itu melirik Milo, aku berusaha untuk mengalihkan perhatiannya. Tubuh Mulan yang terus menggeliat tanpa henti mengusiknya kesal. Ia membanting tubuh Mulan dan memainkannya seolah Mulan adalah seekor tikus.

Milo hanya bisa gemetar dan terus memanggil ibu. Aku terus mengancam kucing jahanam ini, tapi dia tidak menghiraukanku dan terus saja membanting Mulan dengan beringasnya, setelah dihempaskannya mulan ke dinding. Dengan mulut berlumur darah dan mata menyala kucing hitam ini perlahan mendekati Milo, aku terus memancingnya dengan suara tinggi dan menggertaknya agar perhatiannya jatuh padaku. Melihat Milo yang ketakutan, kumantapkan cakarku. Kugertakkan taring kemudian menerjang kucing sialan ini.

Kuterkam telinganya sambil kutancapkan cakar dilehernya, badannya oleng dan terus berusaha melepaskan terkaman. Terlalu kuat… hempasannya terlalu kuat membuatku terpelanting. Aku berusaha bangkit, namun dadaku sesak saat melihat  Mulan bersimbah darah tepat dihadapanku. Mulan kejang sambil terus mengeluarkan darah, teringat pesan Ibu untuk melindungi mereka. Melihat keadaan Mulan aku teringat Milo, kukumpulkan sisa kekuatan, menarik napas kemudian berteriak.

“LARI MILO !”

 Milo yang kaget mendengar suaraku sontak lari selagi si kucing hitam mengerang kesakitan. Dia berniat mengejar Milo namun sebelum beranjak kuhentakkan cakarku yang sudah terkena bercak darah Mulan.

“KEMARI KAU BEDEBAH !”

Sekali lagi aku menerkam lehernya. Ia mengerang kesakitan namun aku belum berhasil menjatuhkan tubuhnya. Kutancapkan cakarku lebih dalam, selagi cakar depannya berusaha meraih tubuhku yang kecil. Kulepas gigitanku dan kuterjang lagi tubuhnya. Tapi kali ini cakarnya berhasil menyayat kakiku. Aku terjatuh kesakitan. Kucing hitam itu menatapku marah, lalu ia berlari mencari-cari Milo.

Dengan kaki yang pincang aku mendekati tubuh Mulan yang sudah tidak bergerak lagi. Mulanku… aku panggil namanya berkali-kali tapi ia masih tidak bergerak. Aku mengendus tubuhnya yang sudah dingin. Mulan…

Aku memandangi tubuh putihnya yang bersimbah darah sekali lagi. Dengan luka sayatan yang berdarah, aku paksa kakiku berlari. Mencari jejak Milo yang semoga saja tidak berhasil dilacak kucing hitam itu. Aku tahu sebuah rumah yang selalu didatangi Milo ketika ia ingin makanan tambahan. Mungkin ia pergi kesana, semoga saja.

Aku telah gagal melindungi Mulan, tapi Milo harus hidup.

Ibu dimana?

***

ditulis oleh : Lintang Fairus
ilustrator : @lintang_fairus

Leave a Reply