Oscar The Miong (2)

Terhuyung, aku berusaha tetap berdiri melawan rasa sakit dan tekanan hawa membunuh kucing sialan ini. Kucing bodoh, dia terlalu fokus padaku dan membiarkan Milo lari. Sial, untuk berdiri saja rasanya sudah sangat sulit. Pandanganku kabur seperti melihat bayangan di air yang beriak. Buram… semakin buram, aku tidak mampu mempertahankan kesadaranku. Terakhir yang kuingat adalah taring dan kukunya yang merah oleh darah mulan semakin mendekat dan bersiap menerkamku. Kakak macam apa aku ini…

***

Langit

Sepulang mengaji dari mushola aku biasanya mampir membawakan kue atau sekedar air untuk anak-anak kucing di lorong belakang rumah. Tempatku mengaji hanya berjarak 3 petak dari rumah. Hari ini aku membawakan sisa tulang ayam untuk mereka. Di perjalanan aku mendengar suara anak-anak kucing di lorong hari ini sangat berisik, namun yang membuatku penasaran adalah ada suara kucing satu lagi. Masuk ke ujung lorong, aku geram. Tanpa pikir panjang kulempar kantung plastik yang berisi tulang ayam untuk anak-anak kucing tadi. Kucing hitam itu lari, kuhampiri anak kucing yang masih berdiri di samping saudaranya yang bersimbah darah. Bulunya tegak berdiri, sorot matanya tajam dan tidak bergeming saat aku mendekat. Kucing dengan bulu cokelat bercorak hitam ini terlihat lemah, namun tetap berdiri seperti ingin melindungi sesuatu. Aku melihat sekitar dan tidak menemukan yang bercorak abu-abu. Kubalut kucing malang ini dengan kain handuk merah di dekatnya, dan kumasukkan saudaranya yang sudah tidak bernafas dengan kantung plastik yang kulempar tadi. Ah, aku menyesal tidak membawa 3 kucing ini ke rumah, aku takut Ibu marah.

Kubawa mereka pulang sambil mengumpulkan keberanian di setiap langkahku untuk merawat “Macan Kecil” ini, karena hanya dia yang bertahan hidup.

“Assalamualaikum, Buuuk!”

“Waalaikumsa… eeeeeeeh kamu kok berdarah le?”

“Nganu, Buk… kucing, darahnya kucing, tapi yang ini udah mati.” Sambil kuangkat kantung plastik tadi.

“Yowes dikubur aja itu. Kamu tunggu di depan Ibuk ambil cangkul dulu.”

Aku dan Ibu mengubur kucing putih mungil ini di pekarangan depan rumah. setelah menguburnya, Ibuku menggali satu lubang lagi.

“Buk, yang ini masih hidup.”

“Loalah terus, mau kamu apain? Dilepas aja, takut ibuknya nyariin.”

“Aku rawat ya buk? Janji nilai MTK di atas 60.” Aku berusaha membujuk Ibu.

“Kamu gak pernah punya peliharaan, Langit.”

“Enggg… Aku janji nggak minta adek lagi deeeh. Ya, Buk? Yaaa?”

Ibuku hanya menghela napas sambil mengangguk. Senang rasanya, kubersihkan luka-luka macan kecil ini sambil memikirkan nama yang pas untuknya. Dia adalah One Cat Standing diantara saudara-saudaranya. Dia pemenang, ah! “OSCAR!” warna bulunya yang kuning emas mirip dengan penghargaan tertinggi untuk pelaku film-film di amerika itu.

Setelah kubersihkan lukanya dia tidak kunjung sadar, kuletakkan dia di kardus sepatu yang sudah kualasi handuk merah. Kupandangi kucing malang ini sambil terus membelai kepalanya tapi tidak sadar juga. Akhirnya kusiapkan air minum dan nasi yang kucampur dengan sisa tongkol di dapur. Berharap semoga ia bisa segera bangun.

***

Paginya kuterbangun dan kudengar meongan lirih dari samping kamarku.

“Heeei! Kamu udah bangun Oscar!”

Kujulurkan tanganku untuk membelai kucing kecil ini.

Oscar

Aku terbangun di rumah, mataku masih berat dan badanku masih sakit.

“Ibuuuu… Ibuuuu… Ibuuuu!“ Aku memanggil ibu, terus memanggil, aaah tapi… “HEAAAAAH”
Sesuatu yang besar menghampiri kepalaku. Huh! Dengan sigap kutangkap benda asing ini dan kuterkam sambil kugigit dengan beringas. Heh! jangan remehkan instingku kau benda aneh.

Langit

“AAH! Kamu lucu banget ya, pagi-pagi udah semangat banget ngajak main.” Kugendong Oscar ke pangkuanku. Matanya terlihat begitu terang dan jernih. Ia masih menggigit tanganku dengan cakar yang sedikit keluar. Oscar begitu semangat seperti lupa bahwa kemarin ia nyaris mati. Aku mengangkatnya dan kulihat wajahnya lebih dekat.

“Mulai sekarang, kamu kucingku. Kamu udah gak perlu lagi keluar-masuk tempat sampah buat cari makan. Aku punya banyak ikan kesukaanmu!”

Oscar menarik wajahnya seperti takut padaku. Kaki belakangnya memberontak ingin melepaskan diri. Lalu dengan sekali ayunan, kaki depannya berhasil mencakar pipi kiriku.

“Aaargh, Oscaaar!” aku memegangi pipiku sambil tertawa. Menggemaskan sekali tingkah Oscar.

Oscar hanya melihatku dan mengeong pelan. “Aah, kamu lapar?”

Oscar

Kenapa aku ada di tempat ini? Kenapa aku bisa ada di rumah orang ini?

“Hei kau! Jawab! Kenapa kau malah membawaku kesini? Aku harus mencari Ibu. Aku harus menyelamatkan Milo.” Ucapku sambil terus menggigit dan mencakarnya. Sayangnya cakarku masih lemah, kaki-kakiku masih terasa sakit. Tiba-tiba tubuhku terangkat, tangannya memegang perutku dan mengangkatku tinggi-tinggi. Dari sini bisa kulihat wajahnya yang besar, lubang hidungnya yang mungkin bisa menghabiskan udara di dunia dengan cepat. Aku berusaha melepaskan diri, aku tidak bisa terus ada di sini. Ketika wajahnya terlihat semakin dekat, kukeluarkan cakarku dan menyerangnya dengan sekali ayun. Tangannya melepas tubuhku yang langsung jatuh di atas kasur. Yak! Kukalahkan kau dengan cakar tajamku! Rasakan itu!

Aku harus mencari Ibu, mencari Milo. Menyelamatkan keluargaku!

Tapi… aku lapar.

Aku memandang orang itu yang kini memiliki bekas cakar di pipinya. “Aku lapar.”

***

ditulis oleh : Lintang Fairus

Leave a Reply