Oscar The Miong (3)

Oscar

Aku masih fokus menatap seekor cicak yang merayap di atas dinding. Ingin rasanya kuterkam tapi terlalu jauh. Ah, tidak ada salahnya untuk mencoba. Kuambil aba-aba dan menguatkan kaki belakangku… hap! Tubuhku berhasil melompat tinggi, tapi… ah sialan, masih kurang tinggi. Cicak itu pun merayap semakin tinggi dan hilang di sela-sela atap yang berlubang. Lalu perempuan itu datang dan menyuruhku turun dari meja makan. Perempuan yang lebih besar daripada tuanku, sepertinya tuanku selalu menurut pada perempuan itu.

Aku berjalan keluar rumah dan duduk di sela-sela pagar kayu. Sepertinya sudah terlalu lama aku tinggal di rumah ini, aku ingin pergi mencari keluargaku, mencari Ibu dan Milo. Aku khawatir kondisi mereka berdua. Sementara di sini, aku merasa perutku jadi lebih gemuk dan berat.

“Oscaaar! Ayo sini makaan!” Tuanku berteriak dari dalam rumah.

Aku turun dari pagar dan berlari ke dalam rumah. Mungkin setelah makan, aku harus pergi mencari Ibu dan Milo.

***

Perutku terlalu kenyang dan penuh saat aku berjalan menyusuri jalan. Aku jadi mengantuk dan lemas. Tidak, tidak boleh! Tidak boleh tidur dulu, aku harus cari petunjuk keberadaan Ibu dan Milo. Aku pergi ke tempat terakhir kami berkumpul sebelum kucing hitam itu menyerang kami, berharap mungkin Ibu masih berkeliaran di sekitar situ. Sesampainya di sana, gang itu jadi lebih bersih. Kardus-kardus tempatku bermain dengan Milo dan Mulan pun sudah tidak ada, mungkin sudah lama dibersihkan oleh orang-orang.

“Ibuuu! Ibuuu!” aku berteriak sekencang-kencangnya, siapa tahu Ibu bisa mendengarnya. Tapi tetap tidak ada jawaban. Aku mencoba berkeliling ke tempat-tempat yang biasa kami datangi untuk bermain. Lalu tiba-tiba aku mencium bau ini. Bau yang sangat kukenal. Bau yang membunuh adikku Mulan. Aku mencoba mengikutinya. Ternyata benar, kucing hitam itu lagi. Aku memutuskan untuk mengikutinya dari jauh. Mungkin saja dengan mengikutinya aku bisa menemukan sesuatu.

Ternyata kucing hitam itu berjalan menuju pasar yang sangat penuh. Tidak cuma manusia, tapi banyak kucing juga. Dulu aku pernah dikejar oleh kucing-kucing besar ketika aku bermain di sini. Aku masuk ke dalam pasar, masih mengikuti kemana kucing hitam itu pergi. Lalu di ujung gang, ia justru lompat ke atas dan berjalan di atap kios-kios yang berjualan. Aku hendak mengikutinya ketika aku mendengar suara kucing yang memanggilku. Muncul dari bawah meja tempat berjualan ikan, ia berjalan mendekat. Kucing itu mirip sekali dengan Milo, hanya saja tubuhnya kotor dan kurus. Ketika ia sudah ada di depanku, barulah aku tahu kalo itu Milo. Bahkan bau tubuhnya saja sudah berbeda dari yang terakhir aku ingat.

“Milooo?”

Milo mengusap wajahnya ke tubuhku. Ia begitu kurus seperti kesakitan. Aku harus melindunginya, tidak boleh sampai terlepas dari penjagaanku seperti waktu itu.

***

Langit

“Buuuk! Oscar mana ya? Kok daritadi gak pulang?”

“Ya mana Ibu tahu, Le. Kan tadi kamu yang terakhir kasih makan. Udah ditunggu aja, paling lagi main, nanti juga pulang.” jawab Ibu sambil menggoreng tempe.

Ah, aku jadi kepikiran kalo begini. Tidak biasanya Oscar keluar selama ini sampe sore. Aku keluar ke taman depan dan di jalan-jalan sekitar sambil membawa kotak plastik berisi makanan kering kesukaannya. “Oscaaar!” Aku berteriak memanggil kesana-kemari. Belum juga kutemukan tanda-tanda kedatangan si Oscar. “Kemana ya dia?”

Akhirnya aku memilih untuk pulang saja. Berharap semoga Oscar bisa segera pulang. sesampainya di depan gerbang, Oscar sudah berdiri di situ dengan seekor kucing liar yang kurus. Aku berlari menghampiri Oscar dan menghalau kucing liar itu. “Hush! Hush! Pergi sana!” Tapi ia tetap duduk di situ, tidak takut padaku. “Kok kamu gak takut?”

Aku mencoba membelai kepalanya. Ia juga tidak menggigit. Aku berlari masuk ke dalam rumah, mengambil mangkuk makan Oscar dan satu mangkuk lagi untuk kucing liar itu. Kuberi makan mereka berdua, tapi sepertinya kucing liar itu memang sangat kelaparan. Ia makan sangat lahap. Setelah habis, kutambah lagi dan ia memakannya lagi sampai habis. Tiba-tiba Ibu sudah berdiri di teras rumah. “Kamu kasih makan Oscar kok di luar, Le?”

Aku langsung menggeser posisiku, mencoba menutupi kucing liar itu dari pandangan Ibu. “Eh… iya, Bu. Anu, Oscarnya kecapekan mau masuk rumah. Udah lemes. Ini makanya aku kasih makan di sini.”

Ibu hanya geleng-geleng kepala. “Awas ya kalo ngasih makan kucing lain. Ibu gak mau nambah kucing lagi di rumah.” Ibu kembali masuk ke rumah.

Fiuh! Untung gak ketahuan. Aku mengelus kepala kucing liar itu. “Jangan kuatir, besok-besok aku kasih makan lagi di sini ya? Jangan masuk ke dalam rumah.”

***

Oscar

Malam ini aku tidur di teras saja bersama Milo. Sepertinya perempuan itu tidak suka kalo aku membawa Milo ke dalam rumah. Jadi aku menjaga Milo di sini saja, sambil membersihkan bulu-bulunya yang kotor. Biasanya waktu malam begini kami bertiga tidur meringkuk sambil menghangatkan tubuh satu sama lain. Tapi kali ini cuma ada aku dan Milo. Kali ini aku harus bisa menjaga Milo, harus lebih berhati-hati. Mungkin sudah tidak penting aku mencari Ibu kemana-mana jika harus membahayakan Milo lagi. Sekarang aku akan membuktikan kalau aku bisa menjadi kakak yang baik, karena Ibu sudah memerintahku untuk selalu menjaga Milo dan Mulan, meskipun aku gagal untuk menyelamatkan Mulan, adik kecilku.

Langit

Aku mengintip Oscar yang tidur bersama kucing liar itu dari jendela kamarku. kasihan rasanya melihat kucing liar itu dibiarkan tidak terawat. Tapi gimana ya caranya untuk bilang ke Ibu? Ibu sudah gak mau ada kucing lain lagi selain Oscar. Tiba-tiba aku mendengar suara Oscar yang mengiau keras, seolah berusaha untuk menghalau sesuatu. Setelah kuamati lagi, ternyata ada kucing besar yang menghampiri mereka berdua. Oh tidak, jangan sampai mereka berkelahi. Aku membuka jendela kamar dan memanggil-manggil Oscar dan kucing liar itu untuk masuk ke dalam kamarku. Setelah mereka berdua lompat masuk ke dalam kamar, aku menghalau kucing besar itu dengan melempar botol plastik bekas. Kucing itu pun langsung berlari meninggalkan halaman rumah.

Oscar dan kucing liar itu duduk bersembunyi di bawah meja belajarku. “Hei, tenang saja. Kucing jahat itu sudah pergi. Kalian tidur di sini saja ya malam ini. Biar gak digangguin lagi.” aku mengelus keduanya agar mereka tenang.

“Duh, kalo ketahuan Ibu gimana ya?”

***

Pagi-pagi aku terbangun karena teriakan Ibu. “Langiiit! Ini kenapa kok ada kucing lagi? Kamu diem-diem bawa kucing lagi ke dalem rumah?!”

Aku langsung menendang selimut dan buru-buru menghampiri Ibu. Di depan Ibu sudah ada Oscar dan kucing liar itu. Aku jadi bingung harus cerita dari mana. “Anu, Buk. Itu kucing yang kemaren, semalem dikejar-kejar sama kucing jahat akhirnya aku suruh masuk biar gak berantem, Buk.”

Ibu hanya bisa menghela napas. Mungkin Ibu tidak percaya dengan ceritaku. “Aduh, Leee, kan Ibu sudah bilang, Ibu gak mau ada kucing lagi selain Oscar. Ribet ngurusnya. Makannya juga abis banyak.”

Aku hanya menunduk lesu. “Terus gimana, Buk? Kasian itu kucingnya, Buk. Kurus, suka digangguin sama kucing-kucing jahat di luar itu.”

“Pokoknya Ibu gak mau nambah kucing. Kamu kasih aja ke temen-temenmu yang mau pelihara dia. Kalo gak ada yang mau, biar Ibu taruh di pasar.”

“Jangan dibuang ke pasar, Buk, kasian. Biar Langit cari dulu ya temen-temen Langit yang mau pelihara dia. Pokoknya biar dia di sini dulu sampe Langit nemu orang ya, Buk.”

Aku cepat-cepat mengganti baju dan mengambil sepedaku.

“Eh mau kemanaa? Mandi sama sarapan dulu, Leee!” Ibu berteriak dari dalam rumah, tapi aku sudah bersemangat mengayuh sepedaku. Mencari tuan untuk kucing liar itu.

***

“Ih, tapi kok kucingnya dekil gini, Langit?” kata Remon sambil mengelus kepala kucing liar itu.

“Iya, Ngit. Kurus juga tuh, kayaknya dia penyakitan.” Putri melihat kucing itu dengan seksama.

“Eh, tapi dia sehat kok. Cuma butuh makan yang banyak sama dirawat yang bener. Pasti dia jadi kucing lucu nanti. Percaya deh.”

“Kalo aku ambil si Oscar aja boleh gak?” sahut Putri.

“Gak boleeeh. Yang Oscar itu kucingku.”

“Yaaah, aku gak mau kalo pelihara yang ini. Gak bagus, gak lucu.”

“iih, kan tadi aku udah bilang. Harus dirawat dulu biar jadi lucu.”

Putri tetap menggeleng. “Gak mau, ah.”

Aku menghela napas kecewa. “Kalo kamu, Mon. mau gak pelihara dia?”

“Nggak jadi deh, Ngit. Kucingnya dekil, takut bawa banyak kuman.”

Kucing liar itu menatap mataku, rasanya dia pun juga kecewa karena tidak ada yang mau memeliharanya.

“Yaudah deh, aku pulang dulu ya, Ngit.” Remon berpamitan, ia mengambil sepedanya di halaman.

“Aku juga pulang, Ngit.” Putri ikut menyusul.

Tinggal aku, Oscar dan kucing liar itu duduk di teras rumah. “Oh iya, gimana kalo kamu kumandiin dan dibersihin dulu? Siapa tahu kalo kamu bersih jadi banyak yang mau pelihara.”

Akhirnya sore itu aku memandikan kucing liar itu. Meskipun aku tidak tahu bagaimana cara memandikan kucing yang benar, pokoknya dia harus bersih. Kedua lengan tanganku pun banyak bekas cakarannya yang protes karena kucelupkan ke dalam bak berisi air. Setelah selesai kuberi sabun, cepat-cepat aku mengeringkan badannya dengan handuk sampe kering. Lalu aku mengambil tas ransel besarku di atas lemari, memasukkan kucing liar itu ke dalamnya, dan langsung bergegas ke rumah Tante Ani. Siapa tahu Tante Ani mau memelihara kucing ini.

***

“Waduuh, kucing Tante udah banyak banget ini, Sayang. Sama Om udah gak boleh nambah lagi. Gimana dong?”

“Yaaah…” Aku duduk di sofa sambil menunduk lesu. Kemana lagi aku harus mencarikan tuan untuk kucing liar ini.

“Yaudah gini aja, Tante bantu cari orang buat ngerawat dia ya? Tante tanyain ke tetangga-tetangga Tante dulu. Mungkin aja ada yang mau. Kamu pulang aja dulu sekarang. Nanti kalo ada yang mau, Tante telepon ke rumah ya?”

Aku mengangguk. “Yaudah, Tante. Pokoknya sampe nemu ya, Tante. Soalnya kalo gak nemu, ntar kucingnya mau dibuang ke pasar sama Ibu.”

“Iyaa. Langit berdoa aja semoga ada yang mau ya?”

“Yaudah Tante Ani, Langit pulang dulu.” Aku mencium tangan Tante Ani dan mengayuh sepedaku lagi. Mencari-cari siapa lagi yang kira-kira bisa membantuku.

***

Sampai malam pun aku tidak menemukan siapa pun yang mau mengambil kucing liar ini. Aku hanya bisa duduk di teras sambil mengelus kucing liar itu dan Oscar yang duduk di sebelahku.

“Maaf ya, aku gak bisa nemuin orang yang mau pelihara kamu.” Aku pun menangis membayangkan ia harus dibuang ke pasar oleh Ibu. Kucing liar itu mengiau sambil menatapku.

Aku mengusap air mataku. “Oh iya, aku harus memberi nama dulu buat kamu. Aku pengen kamu punya nama yang bisa aku ingat, meskipun aku gak bisa pelihara kamu. Ehm… siapa ya kira-kira? Lulu? Nggak cocok.”

Kucing liar itu masih menatapku. “Kalo Boni? Nggak, nggak. Oh, gimana kalo Bon-Bon?”

Ia pun mengiau lagi, seolah setuju dengan nama yang kupilihkan. “Bon-Bon? Kamu suka?” ia mengiau lagi. “Oke kalo gitu, Bon-Bon. Resmi mulai malam ini, kamu kupanggil Bon-Bon.”

***

Lagi-lagi pagi ini aku terbangun buru-buru. Langsung kucari Ibu di dapur.

“Kucing liarnya udah Ibu bawa ke pasar tadi, sekalian pas Ibu belanja.” Ujar Ibu begitu melihatku.

“Yaah, Ibu kok buru-buru dibuang sih? Langit masih mau cari orang yang mau pelihara dia, Buk.” Aku merengek.

“Langit, kan Ibu udah bilang, kalo gak segera nemu ya Ibu buang.”

Aku menunduk dan terisak. Ibu mendekatiku. “Maaf ya, Le. Ibu seneng kamu peduli sama binatang. Tapi kalo sampe pelihara dua kucing, Ibu gak punya uang cukup buat ngasih makannya. Lha wong buat makan kita sehari-hari aja ya seadanya.”

Akhirnya aku cuma mengangguk. “Tapi kasian dia kalo dibuang, Buk.”

“Kucing itu hewan pinter, Le. Kalo ditaruh di pasar kan banyak yang jual ikan, pasti mereka dapet sisa-sisa ikan di sana. Ya toh? Tadi Ibu gak sembarang buang dia. Ibu taruh di pedagang ikan yang mau ngerawat dia kok, biar rutin dikasih makan.”

Aku mengusap air mataku. “Bener itu, Buk?”

“Iyaa. Masa Ibu bohong. Udah gak usah nangis, sana buruan mandi. Siap-siap berangkat sekolah.”

Ibu mengambil handuk dan mengalungkannya padaku. Aku berjalan menuju kamar mandi dan teringat sesuatu. “Oscar dimana Buk? Semalem dia gak ada di kamar. Biasanya tidur sama aku.”

“Loh gak tau, Le. Mungkin dia main. Nanti kalo lapar kan pulang sendiri.”

***

Oscar

Melihat Milo dibawa pergi oleh perempuan itu, aku memutuskan untuk pergi saja dari rumah ini. Aku akan mengikuti dan melindungi Milo kemanapun ia pergi. Tidak masalah kalau harus mencari makananku sendiri, yang penting Milo aman bersamaku. Tuanku, ah, betapa kau manusia yang sungguh baik hati. Tapi aku ingin menjadi pendekar untuk keluargaku, untuk adik-adikku. Terima kasih atas semua kebaikan yang kau berikan untukku dan Milo.

Dan kini, di bawah meja penjual ikan kami duduk meringkuk menghindari air hujan yang menciprati kami. Aku melindungi badan Milo dari angin dan air. sambil sesekali tangan si penjual ikan melempari kami sisa-sisa ikan jualannya.

“Pus…pus. Ni ada ikan lagi. Besok lagi ya aku kasih kalo ada sisa ikan lagi. Kalian tidur di sini aja jangan kemana-mana.”

Selagi kami berdua makan, tiba-tiba ada kucing besar menghampiri ingin merebut makanan kami. Aku segera berdiri dan mengeluarkan cakar dan taringku, melindungi Milo yang masih menghabiskan makanannya di belakangku. Mungkin memang ini jalan takdirku sebagai kucing pendekar. Tak gentar berhadapan dengan berbagai ancaman kucing jalanan.

-TAMAT-

ditulis oleh : Lintang Fairus

Leave a Reply