Sepasang Jangkar (1)

Suasana kantor hari itu memang sepi. Hanya ada Luna, Ayu, dan bos Reno di ruangannya. Meski dengan personel komplit pun kantor mungil itu juga tetap tidak begitu ramai oleh orang. Sampai sore menjelang rasanya masih sunyi. Ayu yang biasanya cerewet pun seharian ini justru seperti robot yang menghadap layar komputer tanpa istirahat. Sepertinya ia akan pulang lebih malam kali ini. Tepat jam 4 sore. Luna membereskan berkas terakhir dari meja, meraih tas dan segera beranjak dari kursinya.

“Cutimu mulai besok, Na?” tanya Ayu dari mejanya

“Iya, Yu. Empat hari mulai besok.”

“Berangkat sendirian lagi nih?”

“Iya lah. Tahun-tahun kemaren juga sendiri. Emangnya kali ini kamu mau nemenin?” jawab Luna sambil tersenyum. Sudah bisa menduga respon Ayu akan sama seperti tahun-tahun yang lalu.

“Yaelaaah, kalo ada yang sanggup gendong aku sampe tempat terakhir baru aku mau berangkat, Na.”

Luna tertawa sekilas. “Pokoknya ya, sebelum aku mati, aku harus bisa ngajak kamu jalan ke sana, Yu.”

In your dreaaams!” Keduanya pun terbahak.

“Yaudah, aku pulang dulu ya. Mau lanjut packing buat besok.” Luna berjalan meninggalkan kantornya.

“Luna…” panggil Ayu lagi. “Salam buat Dimas ya.”

Luna tersenyum dan mengangguk pelan. Ia melanjutkan langkahnya.

***

Tahun ini Luna berencana singgah lebih singkat dibanding sebelum-sebelumnya. Selain daftar tanggungan pekerjaan yang semakin menumpuk, ia tidak bisa bohong bahwa hatinya mulai lemah. Perjalanan yang selalu ia tempuh sendiri selama empat tahun terakhir ini benar-benar menguji kekuatan batinnya, yang semakin lama kadarnya semakin berkurang. Di tahun ke lima ini Luna ingin belajar untuk menerima segalanya dengan lebih terbuka dan apa adanya, sekuat yang ia bisa.

Luna memasukkan kotak perbekalan terakhir ke dalam ranselnya. Setelah semua barang bawaan untuk besok dirasa siap, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar. Beri aku kekuatan lagi, Tuhan. batinnya. Mungkin hanya kepada langit-langit di kamarnya lah Luna bisa jujur apa adanya. Bahwa rindunya sudah tidak bisa lagi ia bendung, sekaligus tidak mampu lagi ia pikul.

***

Matahari sudah mulai condong ke barat saat Luna tiba di Ranupani. Ia merapatkan jaketnya dan langsung menuju pos pemeriksaan. Mas Yayan, staff taman nasional sekaligus penjaga pos pemeriksaan yang sudah kenal dekat dengan Luna langsung menghampiri.

“Tamu agung kami datang lagi ternyata tahun ini. Sehat, Nduk?” sapa Mas Yayan sambil memeluk Luna sekilas.

“Ya begini ini, Mas. Untungnya masih sempet kesini lagi tahun ini. Lagi rame ya di atas, Mas?”

“Musim liburan, Na. Jelas makin banyak yang naik ke atas. Tapi kayaknya besok udah banyak yang turun. Gimana? Mau langsung naik sore ini atau besok pagi aja?”

Luna meletakkan ranselnya. “Langsung aja sore ini mas. Saya cuma dapet cuti empat hari. Jadi gak bisa nginep lama-lama.”

“Walaah, gak capek, Nduk?”

“Ya capek sih. Apalagi tadi di jalan sempet kena macet. Tapi saya udah gak sabar, Mas. Pengen cepet-cepet nyampe ke atas.”

Mas Yayan tersenyum dan menepuk pundak Luna lembut. “Besok pagi aku susul ke atas, ya? Aku juga pengen ikut.”

Luna mengangguk mantap. “Boleh.”

“Ya udah kita cek dulu barang bawaanmu. Kalo udah oke, kamu bisa langsung berangkat.”

***

Menyusuri jalur pendakian gunung Semeru buat Luna seperti sebuah ritual. Ia tidak merasa capek bahkan tidak berhenti sekalipun. Baginya perjalanan ini bukan lagi soal kekuatan fisik namun soal kekuatan hati yang membuatnya harus mengingat kembali masa lalu. Setiap jalan setapak yang ia lewati bagaikan putaran memori tanpa henti, yang jika semakin diresapi hatinya akan semakin teriris. Jadi begitulah caranya untuk bisa selamat dari tempaan hati yang ia rasakan di setiap jengkal perjalanan, melangkah terus tanpa henti, sampai-sampai perjalanan dari pos pertama hingga Ranu Kumbolo bisa ia tempuh kurang dari empat jam.

Tiba di Ranu Kumbolo, Luna menghentikan langkahnya sejenak. Bersandar di salah satu pohon yang besar. Jantungnya berdegup lebih kencang, napasnya memburu. Ia pun mulai merasakan kedua kakinya gemetar. Luna mengedarkan pandangannya mencari-cari lokasi untuk mendirikan tenda. Kemudian matanya menangkap sepetak tanah yang sepertinya pas untuk ditempati. Tepat di antara gundukan tanah dan sebuah tenda besar yang mungkin bisa berfungsi untuk menahan angin agar tak merusak tendanya yang kecil.

Luna menjatuhkan ransel dan tubuhnya di situ. Dengan tangan gemetar dan sisa tenaga yang ada, ia berusaha mengeluarkan tenda dan mencoba merakitnya sendirian. Senter kepala yang kurang terang serta pandangan yang mulai kabur membuat usahanya mendirikan tenda makin terasa berat. Ah sial!

Tiba-tiba ada seorang laki-laki keluar dari tenda besar di sebelahnya dan menghampiri Luna.

“Mbak, baru datang?” tanyanya hati-hati.

Luna hanya bisa mengangguk lemas.

“Sendirian?”

Luna mengangguk lagi.

“Saya bantu.” Tanpa menunggu jawaban Luna, laki-laki itu bergegas ikut membantu mendirikan tenda kecil milik Luna.

“Ng-Nggak, nggak usah. Saya bisa sendiri.”

Laki-laki itu menatap Luna tegas. “Mbak, ini sudah jam delapan malam dengan suhu -5 derajat celcius. Dan yang saya lihat kondisi mbak sudah drop. Sepuluh menit lagi mbak belum masuk tenda, bisa-bisa mbak pingsan.”

Luna hanya diam tertegun. Laki-laki di depannya langsung merakit tenda kecil itu dengan cekatan dan rapi, sedangkan Luna mendekap tangannya kedinginan sambil menyaksikan tendanya perlahan mulai berdiri. “Saya Tim.” Ujar laki-laki itu sambil memasang pasak.

“Ha? Ehm… so-sorry?” Luna tersadar dari lamunannya.

“Nama saya Tim.” Ulangnya sekali lagi, lebih pelan dan jelas.

Tim. Ulang Luna dalam hati untuk mengingat bahwa nama itu sudah menyelamatkan tubuhnya dari kedinginan malam ini. “Saya Luna.” Jawabnya dengan bibir yang bergetar.

Sesaat kemudian tenda kecil Luna berwarna merah marun sudah berdiri tegak. “Ehm, mbak bawa matras? Sleeping bag?”

Luna mengangguk kecil. “Ada di dalam tas.”

Tim langsung membongkar isi tas Luna mencari matras dan sleeping bag. Ia mengecek sleeping bag milik Luna dengan kening berkerut. “Ini terlalu tipis, Mbak. Biar saya pinjamkan punya saya yang tebal.”

“Eh, nggak…” belum sempat Luna menolak, Tim sudah kembali ke tendanya dan keluar dengan sleeping bagnya yang lebih besar.

“Kita tukeran sleeping bag. Biar saya pake punya Mbak. Kalo malam ini Mbak Luna tidur di sleeping bag tipis begini, suhu tubuhmu gak akan balik seperti semula.”

Luna pasrah saja ketika Tim masuk ke tendanya sambil menyiapkan sleeping bag untuk tidur. “Nah, udah siap. Ayo cepet masuk. Udaranya makin dingin. Mbak Luna diam di dalam dulu, saya siapkan air panas buat minum.”

Luna menurut. Ia masuk ke dalam tenda kecilnya. Tim menutup tenda itu dari luar. “Bawa peralatan masak kan?” sahut Tim dari luar.

“Bawa.”

“Maaf ya, semoga Mbak Luna gak keberatan saya bongkar-bongkar isi tasnya.” Sekilas terdengar tawa kecil Tim, sambil menyiapkan kompor dan panci.

Di dalam tenda Luna meringkuk dengan sleeping bag milik Tim yang memang terasa tebal dan nyaman. “Luna aja, gak usah manggil Mbak.”

Oh okay, sorry.” Terdengar Tim menuangkan air ke dalam panci. “Kenapa sendirian kesini? Gak sama rombongan? Atau terpisah dari rombongan?”

“Memang selalu sendirian kok.”

“Oh ya? Bukannya gak bakal dapat ijin dari pos pemeriksaan ya kalo naik sendirian?”

“Kalo saya sih dapet ijin khusus, cuma buat saya.”

“Wah enak banget! Saya juga mau dong dapet ijin khusus gitu.” seru Tim. Luna hanya tersenyum getir. Seandainya Tim tahu apa yang membuat Luna akhirnya punya ijin khusus untuk naik ke pendakian Semeru seorang diri. “Sebentar ya, saya ambilkan sesuatu.” Terdengar langkah Tim yang menjauh. Luna membuka pintu tendanya. Sudah ada kompor yang menyala dan peralatan masak miliknya tertata rapi di situ. Air yang dimasak Tim juga sepertinya sudah mendidih.

Luna keluar perlahan dari sleeping bagnya. Ia memasukkan ranselnya ke dalam tenda. Beberapa saat kemudian Tim kembali dengan cangkir kecil di tangan kanannya. Pantulan cahaya api dari kompor membuat pandangan Luna sedikit lebih jelas dan mulai bisa memperhatikan Tim dengan seksama. Sepertinya ini sudah kesekian kalinya Tim datang kemari atau memang mendaki gunung adalah pekerjaannya, melihat tampilannya yang hanya mengenakan kaos hitam dilapis kemeja flannel, beanie warna hitam, dan bawahan celana jeans abu-abu. Satu-satunya atribut di badannya yang cocok disebut perlengkapan naik gunung adalah sepatu bot cokelatnya. Ia seolah tidak peduli udara dingin yang menusuk jika dibandingkan dengan pakaian Luna yang berlapis jaket tebal.

“Udah mendingan?” tanya Tim sambil menuangkan air panas ke dalam cangkir.

Luna mengangguk. “Yaah, udah lumayan hangat, walaupun masih kerasa menusuk sih dinginnya.”

“Nih diminum dulu, wedang jahe. Biar badannya makin hangat.”

Ragu-ragu Luna meraih cangkir yang disodorkan Tim. Melihat gelagat itu Tim malah ketawa. “Tenang ajaa. Wedang jahe beneran ini. Gak bakal saya racuni.” Luna memaksakan senyum dan meminum wedang jahenya perlahan.

“Jadi, kenapa naik kesini sendirian?”

“Kan tadi saya sudah bilang, saya memang selalu sendirian kesini.” Sahut Luna mengaskan sekali lagi. Ia sudah tahu bahwa arah pembicaraan ini akan mengantarkannya menjelaskan sesuatu yang masih membuat hatinya sakit.

Tim tertegun. Tidak menyangka obrolan basa-basinya justru memancing kecanggungan. “Ehm, okay. Maksud saya kalau memang kamu sendirian dan butuh teman untuk naik ke puncak dan turun ke Ranupani, kamu bisa ikut rombongan saya.” Lanjut Tim lebih hati-hati.

“Saya berhenti di sini. Gak akan lanjut sampe ke puncak. Besok sore saya sudah turun lagi ke Ranupani.”

Tim bingung mendengar jawaban Luna. “Cepet banget? Gak capek?”

Luna menghela napas. “Tim, makasih banyak ya buat bantuannya tadi. Saya harus istirahat dulu. Aku pake sleeping bagku aja. Badanku udah gak sedingin tadi.” Luna menyeret sleeping bag milik Tim dan menyerahkannya kepada si empunya. “Makasih ya. Selamat malam.” Luna masuk ke dalam tenda dan menutup pintunya.

Tinggal Tim yang masih duduk tertegun di depan tenda Luna. Ia mengerutkan keningnya. Emang pertanyaanku ada yang salah ya? Pikirnya. “Ehm, kalo butuh apa-apa bilang saya aja, Luna. Tenda saya ada di…”

“Ada di sebelah, saya tahu.” Potong Luna dari dalam.

Tim mati kutu lagi. Kemudian ia mengendikkan bahunya cuek. “I’m just trying to be nice.” Gumamnya pelan. Ia mematikan kompor milik Luna dan bergegas kembali ke tendanya sambil menggotong sleeping bag besarnya.

***

Mengenang Saudara kami,

DIMAS SANJAYA

12 Maret 1985 – 4 Juli 2012

Yang beristirahat dengan tenang dalam dekapan Mahameru

Pagi yang sama cerahnya seperti tahun lalu saat Luna berdiri di tempat ini lagi. Luna menatap ukiran tulisan di keramik itu dalam diam. Plakat keramik itulah yang menjadi tujuannya kemari. Terpasang tepat di sisi kanan sebelum tanjakan cinta. Adalah Dimas Sanjaya, yang pertama kali mengenalkan Luna untuk mendaki gunung, yang selalu memberikan senyum terbaik untuk menyemangati hidup Luna yang rumit, yang mampu meyakinkan Luna bahwa cinta sejati itu nyata, yang dengan gugup menunggu kedatangan Luna di altar pernikahan dan bersumpah setia di hadapan Tuhan, yang memberikan dekapan hangatnya untuk menenangkan Luna setiap malam menjelang, dan yang pergi meninggalkan Luna tanpa jejak tubuhnya bisa ditemukan.

Kali ini Luna menatap ‘nisan’ itu tanpa menitikkan air mata sedikitpun. Ia meraba cincin kayu di jari manisnya. Dimas pergi hanya berselang dua tahun semenjak ia menyematkan cincin itu di jari Luna. Hanya dua tahun yang diberikan semesta untuk mereka menjadi suami-istri.

“Maaf, Dim. Kali ini aku hanya sebentar.” bisik Luna pelan.

Tiba-tiba ada yang meletakkan bunga mawar di atas keramik nisan Dimas. “Maaf juga aku baru sempet jenguk kamu, Bro.” Mas Yayan sudah berdiri di samping Luna. Mereka berdua pun terdiam merenung.

“Sebenernya yang kita lakuin ini sia-sia gak sih, Mas?” tanya Luna tiba-tiba.

“Maksudnya?”

“Ya ini, kita seolah-olah datang ke makamnya Dimas. Padahal gak ada jasadnya. Gak pernah ada yang tahu tubuhnya sekarang ada dimana.”

Mas Yayan tersenyum. “Kan di situ sudah tertulis, beristirahat dengan tenang dalam dekapan Mahameru. Ya gunung semeru ini makamnya Dimas, Na. Harusnya kita bersyukur Dimas bisa punya tempat istirahat seluuuas ini, bukan di lubang kuburan yang sempit. Aku yakin dia gak bakal kesepian, Na. Banyak orang yang datang kemari setiap hari. Siapapun yang lihat nisan Dimas di sini pasti ikut mendoakan ketenangan dia.”

Mas Yayan mengambil pisau lipat dari sakunya. Ia mengukir garis kelima tepat di bawah nama Dimas, menandakan tahun kelima Dimas pergi. “Kalo saja aku bisa ketemu Dimas sekarang, aku yakin dia bakal tetap milih Mahameru sebagai makamnya, Na.”

Pertemanan Mas Yayan dan Dimas memang sudah seperti saudara sendiri. Dimas yang aktif dalam komunitas pecinta alam membuatnya sering bertemu dengan Mas Yayan sebagai salah satu staff taman nasional di semeru. Hingga saat Dimas mengalami kecelakaan ketika turun dari puncak Mahameru dan dinyatakan hilang, Mas Yayan lah yang menginisiasi proses pencarian sebagai kepala operasi dibantu tim SAR.  Namun sayang operasi pencarian itu tidak membuahkan hasil sampai detik ini. Beberapa hari setelah operasi pencarian dihentikan, Mas Yayan pula yang berinisiatif memasang plakat keramik untuk mengenang Dimas. Luna baru mengenalnya ketika pertama kali datang ke Ranupani dengan Dimas. Sejak saat itu mereka saling mengenal dekat satu sama lain. Dan saat ini, Luna menganggap Mas Yayan sebagai tempat untuk mengenang Dimas semasa hidupnya.

Luna menatap ujung tanjakan cinta yang sedang ramai dilalui pendaki yang hendak ke puncak maupun yang baru turun. Mas Yayan mengikuti pandangan Luna.

“Kamu gak penasaran, Na?”

“Penasaran sama apa, Mas?”

“Naik ke puncak Mahameru.”

Luna terdiam sejenak. “Aku masih takut, Mas. Belum siap.”

Mas Yayan merapatkan jaketnya. “Kapanpun kamu udah siap, aku temani kamu sampe ke puncak, Na. Tenang aja.”

“Sebenernya aku udah capek, Mas. Lebih tepatnya hatiku yang capek. Tiap dateng kesini rasanya semu. Ini tempat favorit Dimas, tapi malah jadi tempat yang keramat buat aku. Tapi aku juga gak bisa bohong bahwa aku ngerasa dekat dengan Dimas ketika aku ada di sini, Mas.” Luna menatap plakat keramik Dimas sekali lagi. “Mau sampai kapan aku begini. Rasanya ada yang gak tuntas di hatiku.”

“Yang penting kamu jangan sampe dendam sama tempat ini, Na. Buatku itu udah cukup.”

Dari kejauhan tempat mereka berdiri, Tim kembali ke tenda dengan botol-botol minum yang sudah penuh terisi. Ia memasukkan semuanya ke dalam tenda dan menyisakan satu botol di tangannya. Tim menghampiri tenda Luna yang tertutup rapat.

“Luna…” Ia berseru memanggil di depan pintu tenda. “Luna, ini saya punya air minum satu botol. Saya taruh di depan sini ya.” Terdengar tidak ada jawaban, Tim meninggalkan botol itu di sebelah kompor. Ia kembali ke tendanya. Kemudian matanya menangkap sosok Luna yang sedang berdiri bersebelahan dengan Mas Yayan di sisi tanjakan cinta. Tim menyipitkan matanya berusaha mendapatkan penglihatan yang lebih jelas.

“Nah lho, ternyata dia temennya Mas Yayan.” gumam Tim.

“Mas Tiiim!” belum puas ia mengintai Luna dan Mas Yayan, tiba-tiba Cesa, cewek mungil yang ikut di rombongannya memanggilnya dari kejauhan. Berlari kecil sambil memegangi perutnya. Pekerjaan sampingan Tim memang sebagai pemandu untuk orang-orang yang ingin naik gunung tapi membutuhkan semacam tour guide untuk keamanan yang lebih terjamin. Kali ini rombongan yang dibawanya adalah rombongan mahasiswa dari Jakarta. Cesa salah satunya, yang pertama kali naik gunung dan ingin mencoba sampai puncak demi mendekati gebetannya yang suka naik gunung.

“Kenapa lo, Ces?” tanya Tim ketika Cesa sudah ada di hadapannya sambil meringis kesakitan.

“Mas…” Cesa berbisik di telinga Tim. “Gue kebelet boker.”

“Ya sana lah buruan boker.” Jawab Tim cuek.

“Ya tapi dimanaaa?” seru Cesa gemas.

“Ya dimana aja, Ces. Tinggal pilih, mau yang pemandangannya langsung ke Ranu Kumbolo. Mau yang agak di puncak bukit situ, atau yang lebih enak tuh di sebelah pohon yang gede situ tuh. Gue abis boker di situ semalem.”

“Ih! Bekas lo dong, Mas. Ogah!”

“Lah terus maunya gimana?”

“Yang bersih, Maaas.” Rengek Cesa. “Emang di sini gak ada yang bikin toilet ya?”

Tim mendengus kesal. “Repot emang bawa pendaki newbie kayak lo, Ces.” Tim mengedarkan pandangannya mencari-cari tempat buang air yang menurutnya masih bersih. “Nah, lo coba cek ke situ tuh, yang deket bukit.” Cesa mengikuti arah yang ditunjuk Tim. “Di situ kayaknya masih bersih dan sepi. Lo boker di situ aja.” Tim mengambil sekop kecil dari dalam tasnya dan menyerahkannya ke Cesa. “Nih, perlengkapan wajib.”

Cesa malah menatap Tim dengan tatapan memohon.

“Apaan lagiii?”

“Temenin dong, Mas.”

“Gak mau!” tolak Tim seketika. “Lo minta temenin yang lain aja gih, ini gue jaga tenda kalian.”

Cesa berlalu sambil merengek. Sedetik kemudian ia kembali. “Mas Tim, ceboknya gimana?”

Tim menepuk jidatnya. Ia mengambil sebungkus tisu basah dan sebotol air untuk Cesa. “Nih! Pake tisu basah, kalo kurang lega nih sebotol abisin deh buat lo cebok. Senantiasa hidup lo akan aman tentram sejahtera. Udah sana buruan berangkat!”

Cesa berlari-lari kecil menuju bukit di sebelah kanan. Tim kembali melanjutkan pengintaiannya yang sempat diganggu Cesa. Luna dan Mas Yayan masih berdiri di tempat yang sama. Menunduk seperti sedang memandangi sesuatu di kaki mereka. Tim mengerutkan kening. Tak lama kemudian terlihat Mas Yayan berbalik meninggalkan Luna yang masih berdiri termenung di situ. Saat Mas Yayan berjalan semakin dekat melintasi tenda Tim, bergegas Tim mencegatnya.

“Eh Mas, Mas Yayan!”

“Woi, Tim. Di sini toh kamu. Daritadi aku cariin tenda rombonganmu.”

Tim menarik tangan Mas Yayan lebih dekat. Mereka berdua mengobrol di dapan tenda Tim. “Itu tadi temen Mas Yayan?”

“Ha? Yang mana? Temenku banyak yang lagi di sini.”

Tim berdecak. “Ituuu, si Luna.”

“Oooh, Luna. Iya, kenapa emangnya? Lah tapi kok kamu kenal juga?”

“Lah ituuu, tendanya di sebelahku.” Tim menunjuk tenda Luna berwarna merah marun. “Semalem dia baru sampe sini kondisinya udah drop. Aku bantuin deh bikin tendanya. Lagian nekat amat naik kesini bener-bener sendirian gak sama siapa-siapa. Kok Mas Yayan kasih ijin dia kemari sendirian sih?”

Mas Yayan tersenyum. “Luna itu kesini bukan untuk liburan, Tim. Tapi untuk ziarah.”

“Ha? Ziarah gimana nih maksudnya?”

“Tuh, kamu liat kan di sana ada beberapa plakat keramik untuk orang-orang yang hilang di puncak. Nah, yang lagi diliatin si Luna itu punya suaminya. Suaminya hilang di Mahameru lima tahun yang lalu, Tim.”

Seketika bulu kuduk Tim berdiri. Dia hanya bisa termenung menatap Luna yang masih berdiri di tempat tadi.

“Suaminya itu salah satu sahabat dekatku. Dulu aku yang jadi kepala operasi pencariannya, tapi ya gak berhasil. Sejak saat itu tiap tahun tanggal 4 juli Luna pasti dateng kesini buat ziarah. Ya emang selalu sendirian, dan aku kasih ijin. Orang dia cuma naik maksimal sampe Kumbolo sini, gak bakal ke puncak.” Tim masih memandangi Luna sambil telinganya meresapi setiap cerita dari Mas Yayan.

“Woi, malah ngelamun.” Tim tersentak dari lamunannya. “Jam berapa rombonganmu berangkat lagi?”

“Ntar sore mas. Sekitar jam 3.”

“Yaudah hati-hati. Rombonganmu tuh banyak lho. Kudu bener-bener diawasi.”

“Siaaap!” sahut Tim semangat.

“Oh ya, titip Luna ya, kalo ada apa-apa. Ajak masak bareng atau isiin botol minumnya kek. Tapi kayaknya ntar sore dia udah turun kok.”

Tim mengangguk mantap. Mas Yayan berlalu mengecek kawasan perkemahan yang lain. Tim kembali memperhatikan Luna. Ia sudah menjauh dari plakat keramik suaminya dan ada beberapa orang yang kini mengobrol dengan Luna. Mungkin sesama pendaki yang kebetulan lewat.

“Aduh legaaa.” Tiba-tiba Cesa sudah masuk ke tenda dan merebahkan badannya.

Tim melongok ke dalam tenda. “Cepet amat, Ces? Gimana? Enak boker di sana?”

“Enak apaan. Sepi sih iya, tapi banyak nyamuk.”

“Halaah, kebanyakan protes lo. Mana sekopnya? Gantian gue yang kebelet nih.”

Cesa menyerahkan sekop kecilnya.

“Tisu basahnya mana?”

“Abis.” Jawab Cesa cuek.

“Buset, pantat lo selebar apa, Ces. Cebok aja sampe ngabisin tisu sebungkus. Pake selembar aja kan cukuuup.” seru Tim jengkel.

“Ih, kurang steril, Mas. Gak bersih lah.”

Tim menggeleng pasrah. “Gue doain gebetan lo ditikung cewek lain.”

“Kampret lo, Mas Tim. Jahat amat sih doanyaaa!” teriak Cesa dari dalam tenda.

***

Tim melirik jam tangannya, tepat jam dua siang. Sisa satu jam masih cukup untuk makan siang bersama. “Yuk, yang cowok-cowok lanjut bongkar tenda, yang cewek masak ya.” suruh Tim kepada rombongannya.

“Siap maaas!” sahut satu rombongan.

Di saat yang bersamaan, Luna juga sedang membongkar tendanya. Ia merapikan beberapa kerangka tenda yang masih berantakan dan memasukkannya ke dalam tas. Tim datang menghampiri.

“Saya yang pasang tenda, harusnya saya juga dong yang bongkarin.” Tim ikut membantu Luna melipat tenda kecilnya.

Luna tersenyum geli. “Aturan dari mana kayak begitu? Kalo saya nungguin kamu yang bongkarin tenda saya, bisa-bisa saya kesorean pulangnya.” Tenda sudah terlipat rapi menjadi gulungan kecil. Tim ikut membantu Luna menyiapkan ranselnya. “Itu rombonganmu?”

“Iya, pusing bawa mereka. Orangnya kebanyakan sebenernya. Kurang nyaman untuk naik gunung trek panjang kayak semeru. Pada heboh semua pula. Pusing.” Gerutu Tim.

“Tapi kok tetep mau nganterin? Tetep butuh bayarannya pasti kan?” ledek Luna.

“Iya sih.” Keduanya pun tertawa. Ransel Luna sudah siap. “Udah mau turun nih?”

Luna mengangguk sambil memasang scarfnya.

“Ikut makan siang dulu yuk bareng kita?”

“Ah nggak usah, ngerepotin. Lagian ntar saya jadi ngurangin jatah makan kalian.”

“Nggak apa-apa, tenang aja. Makan dulu deh, biar punya tenaga buat turun.” desak Tim.

Belum sempat menolak lagi, Tim sudah menarik lengan Luna untuk bergabung dengan rombongannya. “Guys, tambah satu personel lagi ya. Ini temen gue namanya Luna, kebetulan lagi naik kesini juga.”

“Hai, Mbak Luna, sini ikut makan siang.” sahut Cesa ramah sambil bergeser memberikan ruang untuk Luna duduk.

Luna tersenyum canggung dan akhirnya ikut bergabung dengan rombongan Tim juga. Mereka pun mengambil porsi makan dan langsung menyantap masing-masing.

Tim duduk berhadapan dengan Luna. Sedikit berjarak dari orang-orang rombongan Tim yang lain. Ia melirik Luna sekilas. “Saya turut berduka ya, Luna.”

Luna menghentikan makannya. Ia tertegun menatap Tim. Kemudian ia menghela napas, merasa bisa menebak dari siapa Tim tahu sepenggal kisah pilunya. “Tahu dari Mas Yayan ya?”

Tim mengangguk pelan. Merasa bersalah sudah mengungkit masa lalu Luna.

“Udah berlalu, Tim. Tapi saya juga gak pengen ngelupain. Yaah, gimana caranya harus tetep melanjutkan hidup.” Luna melahap makanannya. Mencoba untuk segera menghabiskan secepat mungkin. Ia tidak ingin terlalu lama terjebak dalam obrolan ini. Tim menyerahkan segelas air putih untuk Luna.

“Siapa nama suamimu?”

“Dimas. Dimas Sanjaya. Kalo nanti kamu ngelewatin tanjakan cinta, di sebelah kanan sebelum naik kamu bakal ketemu sama plakatnya Dimas.”

“Luna, Dimas, dan Mahameru.” gumam Tim seperti merapal doa.

“Maksudnya?” ujar Luna tak mengerti.

“Jangkar. Dari kecil saya selalu diajari Ibu untuk punya jangkar ketika merasa takut. Ambil tiga hal penting yang bisa membuatmu kuat, pegang itu erat-erat di dalem pikiran. Kalau buat kamu sekarang, jangkarmu ya kamu, suamimu, dan Mahameru. Itu yang bikin kamu selalu kuat sampe sini kan?”

Luna masih mencerna perkataan Tim. Ya, memang hanya tiga hal itu yang bisa menguatkannya sampai detik ini. Luna berdeham, “Ehm, ya bisa jadi.” Luna menenggak air minumnya sampai habis. “Sorry, saya gak bisa lama-lama ngobrol sama kalian. Takut kesorean sampe bawah. Mumpung lagi banyak pendaki yang turun.” Luna beranjak dan meraih ranselnya. Tim ikut berdiri. “Makasih buat semua bantuanmu, Tim. Maaf kalo saya merepotkan.”

Tim menggeleng mantap. “Sama sekali nggak, Luna. Hati-hati ya.” Tim menjulurkan tangannya. “Semoga bisa ketemu lagi.”

Luna menjabat tangan Tim sekilas. “Kamu juga hati-hati sampai puncak. Semoga semua rombonganmu bisa berhasil sampai Mahameru.” Luna berlalu meninggalkan Tim. “Semangat sampai puncak ya!” seru Luna kepada rombongan Tim.

“Siap Mbak Lunaaa! Hati-hati pulangnya yaa.” jawab mereka bersahutan.

“Lho? Mbak Luna gak ikut kita ke puncak?” todong Cesa.

Luna menggeleng pelan dan tersenyum. “Lain kali aja.” Ia melanjutkan langkahnya.

***

Matahari mulai menyinari Ranu Kumbolo dari arah barat. Sore sudah menjelang. Rombongan Tim berdiri melingkar dengan carrier di punggung masing-masing. Tim mulai memimpin doa. “Oke teman-teman semua, sebelum kita melanjutkan perjalanan, berdoa dulu menurut keyakinan masing-masing, semoga semuanya bisa kuat, bisa sama-sama sampe puncak tanpa ada yang tertinggal satu pun.”

“Aamiin.” Semuanya menyahut kompak.

“Oke, berdoa mulai.”

Semuanya menunduk dengan mulut berkomat-kamit dalam diam memanjatkan doanya masing-masing.

“Berdoa selesai. Yok berangkat!”

Mereka pun berseru semangat melanjutkan perjalanannya yang tinggal separuh jarak. Tim berjalan paling belakang dari rombongannya. Cesa menyenggol lengan Tim pelan. “Kok tadi Mbak Luna gak lo ajak ke puncak sekalian sih Mas Tim? Kan lumayan ada yang bisa nemenin lo. Daripada suntuk mulu ngurusin bocah-bocah rempong kayak kita ye kan. Kalo ada yang cakep-cakep kayak Mbak Luna di rombongan kita kan jadi lebih berwarna hidup lo, Mas.”

Tim melirik Cesa yang ujung kepalanya hanya bisa menyamai pundak Tim. “Ya emang dia gak ada rencana mau ke puncak, Ces.”

Cesa melengos. “Halah alesan, lo aja yang gak bisa ngerayu cewek, Mas.” Cesa mempercepat langkahnya meninggalkan Tim.

Tim tertawa kecil. Sesaat kemudian matanya menangkap sesuatu yang membuatnya menghentikan langkah. Beberapa plakat keramik terpasang di sisi kanan tanjakan cinta. Tim ingat salah satunya adalah milik suami Luna. Tim berbelok, berjalan mendekati nisan-nisan tanpa jasad itu. Ia mencari-cari nama Dimas.

“Dimas… Dimas siapa ya tadi?” Tim menelusurinya satu-persatu, hingga tiba di plakat keramik paling ujung. “Oh, ini dia.”

Tim terdiam menatap plakat keramik Dimas. Kemudian ia tersenyum. “Kamu beruntung, Dim. Semoga nanti aku bisa punya istri setulus Luna.”

“Mas Tiiim, ayoook!”seru Cesa dari ujung tanjakan cinta.

Tim bergegas menyusuri tanjakan cinta dengan langkah cepat.

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

Leave a Reply