Sepasang Jangkar (2)

“Katanya kamu pindah rumah minggu ini, Yu?” tanya Luna di sela kunyahan makan siangnya.

“Iya, Na. Ntar aku mau bikin acara tumpengan pas udah pindah. Dateng ya.”

“Acara tumpengannya pas kelar event dong. Biar kita sekalian tahun baruan.”

“Iya lah pastinya. Ya kali tumpengan pas masih banyak kerjaan. Bisa-bisa acara lemburan di kantor pindah ke rumahku.” ujar Ayu sambil membereskan kotak bekalnya yang sudah kosong.

Bos mereka, Reno, berjalan masuk ke pantry dan langsung mengambil duduk di samping Luna. “Na, ada perubahan MC nih. Yang kemaren ternyata gak bisa. Ini barusan aku dapet orang baru buat jadi MC di event akhir tahun kita. Ntar kamu yang briefing dia ya? Udah pusing banget aku banyak yang harus diubah.” rutuk Reno sambil memijat keningnya.

“Siap, Mas. Gak usah sepusing itu kali. Orang cuma ganti MC bukan ganti klien. Tinggal briefing dikit sih beres. Siapa MC yang baru?”

“Namanya Angin Timur. Dulu aku pernah pake EO-nya. Untung dianya mau kutodong jadi MC dadakan.”

“Bagus banget namanya, unik.” gumam Luna.

“Kamu kasih aja breakdown acaranya. Soalnya aku kudu dateng meeting lagi sama klien abis ini.”

“Emang tu klien minta apa lagi yang harus diganti? Perasaan dari kemaren kita udah sering revisi deh.” Luna menyantap suapan terakhirnya.

“Tau nih, Mas Reno. Klien minta perubahan macem-macem kok ya nurut-nurut aja. Kudu tetep sesuai konsep dari kita loh, Mas.”

Reno menghela napas. “Iyaa ibuk-ibuuuk. Aku sih maunya gitu. Tapi ya gimana dong, mereka berani bayar gede buat acara akhir taunnya. Isu terbaru nih, kayaknya mereka pengen venue dipindah.”

Punggung Luna langsung melorot lemas di sandaran kursi. Ayu malah menganga tidak percaya. “Yaaah, jangan dong, Mas. Kalo gitu ya sama aja kita kudu mulai kerja dari awal lagi. Tinggal dua minggu lagi lho, Mas.” Ayu langsung memasang tampang memelas. Seketika kedua tangannya menggenggam tangan Reno. “Jangan sampe dipindah ya, Mas? Kalo tu klien kampret rewel ganti venue, Mas Reno kudu ngotot bertahan di venue semula, ya? ya?”

Bukannya menjawab rengekan Ayu, Reno malah tertegun melihat tangan kirinya diremas erat-erat oleh Ayu. Reno berdeham sambil melepas tangannya. “Ehm, ya pasti lah. Aku juga gak mau kita ngulang kerjaan dari awal. Tenang aja, aku bakal pertahanin venue acara yang sekarang.” Reno beranjak dari kursi. Di sampingnya, Luna menunduk menahan tawa.

“Ehm, Ayu…” panggil Reno lagi sebelum menutup pintu pantry. “Meskipun mereka klien kampret, uang bonusmu tahun ini dari mereka. Lain kali hati-hati kalo ngomong.”

Giliran Ayu yang salah tingkah. “I-iya, Mas Reno. Maaf.”

“Ya udah aku lanjut meeting dulu ya. Luna, jangan lupa abis ini MC baru kita kesini, kamu yang nemuin.”

Luna mengangguk dan tersenyum. Reno menghilang di balik pintu. Kembali hanya ada mereka berdua di pantry. Luna melirik Ayu penuh arti.

“Apaan sih?” tanya Ayu jutek.

“Sengaja ya ngerayu Mas Reno sampe segitunya? Liat gak tadi dia gimana, sampe salting banget gitu.” Luna terkikik pelan.

“Ya gak bermaksud ngerayu yang gimana-gimana, Na. Lah daripada kerjaan kita nambah, ya Mas Reno lah senjata terakhir buat ngadepin klien.”

Luna menggeleng-geleng pelan. “Ayu… Ayu, kamu tu ya, cantik tapi gak peka.”

“Maksudnya?”

“Yu, udah jadi rahasia umum kali kalo Mas Reno itu naksir kamu. Kamunya yang bego.” ledek Luna.

“Aku gak percaya, Luna. Mana mungkin Mas Reno naksir aku. Palingan juga anak-anak yang pada bikin gosip.”

Luna mendengus kesal. “Udah ah terserah, aku balik ke meja.”

Tinggal Ayu yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

***

Tim tergesa-gesa turun dari ojeknya. Setengah berlari ia mencari-cari kantor dengan tulisan Langit Creative. Ia pun berlari lebih kencang setelah matanya menangkap tulisan itu di dinding kaca salah satu kantor di sudut jalan. Sesampainya di loby kantor Langit, ia mengatur napasnya lebih dulu.

“Permisi, Mbak. Saya Tim, saya ada janji meeting untuk jadi MC di acaranya Langit.” ujar Tim kepada staff front desk.

“Oh iya, tunggu sebentar ya, Mas.” Salah satu staff masuk ke dalam dan memanggil seseorang. “Mbak Luna, MC barunya udah dateng nih.”

Luna? batin Tim terusik. Sesaat kemudian staff front desk itu kembali diikuti Luna di belakangnya.

“Lho? Tim?” Luna menatap Tim tak percaya. “Jadi, Angin Timur itu, kamu?”

Tim tak sanggup menahan tawanya. “Dari sekian banyak orang, ternyata saya yang dipilih kantormu. Dari sekian banyak kantor, ternyata kantormu yang saya datangi sekarang. Semesta kadang suka iseng ya.”

Luna ikut tertawa. “Tapi kerjaan kita kali ini gak iseng-iseng loh. Yaudah yuk masuk.”

Luna masuk ke ruang meeting, dan Tim mengekor di belakangnya. “So, pemandu pendakian semeru, dan sekarang… jadi MC?” Luna dan Tim duduk berseberangan di ruang meeting.

“Yaaah, MC cuma sampingan kok. Dulu saya pernah kerja di EO beberapa tahun. Ya kalo gak punya duit buat bayar MC ya saya yang jadi MC-nya.”

“Oke, kalau begitu saya rasa kamu gak akan kesulitan untuk memandu acara kami, kan?” Luna menyerahkan selembar breakdown acara ke hadapan Tim. “Yang punya acara perusahaan otomotif. Mereka bikin acara anniversary sekalian kumpul komunitas motor. Untuk detail acaranya bisa kamu baca di situ, Tim.”

Tim membaca lembaran di tangannya dengan serius. “Asik nih sepertinya acaranya.”

Diam-diam Luna memperhatikan Tim. Terlihat berbeda dengan Tim yang ia temui di Ranu Kumbolo waktu itu.

“Oke deh, saya siap.” Seru Tim tiba-tiba.

Luna tersentak. “Gi-gimana? Mau kan jadi MC kita?”

Tim mengangguk mantap. “Yah, walaupun udah lama sih sejak terakhir kali saya jadi MC, tapi bisa kok.”

“Baguslah. Jujur sebenernya kami udah gak punya waktu kalo harus cari orang lain lagi. Makasih ya, Tim.”

“Sama-sama, Alunan Samudera.”

Luna mengerutkan kening. “Kok…?”

Tim menunjuk tanda pengenal yang dipakai Luna. “Oh iya ya…” Luna menepuk jidatnya.

“Nama lengkap kamu bagus banget.” ucap Tim tulus. “Orang tua kamu pasti suka laut.”

“Nama kamu juga bagus, Tim. Pasti orang tuamu pernah kebawa angin.”

Tawa Tim pecah seketika. “Mungkin. Atau waktu saya lahir pas lagi ada badai.”

Keduanya tertawa. Tim menatap Luna lekat. Ada yang berbeda dari Luna dibanding pertama kali ia melihatnya di Ranu Kumbolo. Kali ini Luna lebih hidup, lebih menyenangkan. Tidak seperti waktu itu seolah jiwa Luna terenggut dan hilang bersama mendiang suaminya, Dimas.

“Saya sudah punya kontakmu dari Mas Reno. Kalo ada apa-apa nanti saya langsung hubungi kamu ya?”

“Oke, handphone saya gak pernah mati kok.”

***

Rumah yang sejatinya menjadi tempat istirahat setelah seharian bekerja, justru tidak berlaku dalam benak Luna. Sudah lima tahun ia menempati rumah ini sendirian. Setiap sudutnya selalu membangkitkan kenangan yang begitu manis sekaligus mengiris. Masih melekat di kepalanya bagaimana dulu Luna dan Dimas sama-sama mengisi rumah baru mereka dengan pernak-pernik, perabotan dan segala cerita yang terselip di dalamnya.

“Kamu pengen rumah kita kayak gimana? Klasik, minimalis, mau vintage, atau yang gimana?” tanya Dimas saat pertama kali pindah waktu itu. Masih diisi dengan beberapa perabotan seperti TV, mesin cuci, kulkas, kompor, dan satu tempat tidur di kamar mereka. Bahkan lemari baju pun belum ada.

“Terserah, Sayang. Sesukanya kamu pengen kayak gimana. Asal jangan kebanyakan barang ya? perabotan yang penting-penting aja. Ada kamu di rumah ini udah lebih dari cukup buatku.”

Kini Luna hanya bisa memutar kenangan itu bagaikan potongan gambar yang bisa dilihat berulang-ulang di kepalanya. Terakhir kali Dimas tidur di sini, rumah ini masih belum sepenuhnya terisi dengan barang-barang yang mereka rencanakan. Bahkan dua tahun setelah Dimas meninggal, Luna masih tak berselera merapikan rumahnya karena terlalu banyak kenangan yang harus ikut dibereskan. Baru di tahun ketiga sepeninggal Dimas, perlahan Luna mulai membenahi dan mengisi rumah ini dengan barang-barang yang baru. Kamar tidur Luna dan Dimas pun kini terlihat manis dengan barang-barang serba kayu dengan ornamen warna senada kesukaan Dimas, sesuai dengan rancangan mereka. Sayangnya Dimas tidak pernah sempat menikmati suasana kamar tidur yang ia rancang sendiri.

Pukul 20.20 saat Luna merebahkan badannya di kasurnya yang empuk. Ia menatap langit-langit kamar. Belum selesai ia melepas ketegangan di lehernya, handphonenya tiba-tiba berdering. Dengan posisi masih tidur, Luna mencari-cari handphonenya di dalam tas. Ia melihat layarnya sekilas. Mama. Luna menghela napas sebelumnya menjawab telepon dari Mamanya.

“Halo, Ma.”

“Luna, Sayang, kamu dimana? Baru pulang kerja?”

“Iya nih, Ma. Ada apa, Ma?” jawab Luna sambil memaksakan punggungnya untuk kembali duduk.

“Ya gak ada apa-apa, Sayang. Masa Mama gak boleh nelpon kamu?”

“Ooh, ya bukan gitu, Ma. Luna cuma takut kalo ada masalah atau apaaa gitu.”

“Kalo masalah sih ada. Nih si Roxy gak mau makan dari tadi pagi.” seru Mama dengan nada khawatir.

“Loh kenapa? Roxy sakit?” Luna pun tak kalah cemas.

Roxy, anjing jantan jenis Golden Retriever milik keluarga Luna yang kini tinggal bersama Mama Papa. Dulu sebelum menikah, Luna lah anggota keluarga favorit Roxy. Sampai-sampai ketika Luna sudah pindah rumah, Roxy sakit berhari-hari karena patah hati ditinggal majikan tercintanya itu.

“Gak tahu, Sayang. Biar besok pagi Roxy dibawa ke dokter deh sama Papa. Takutnya kenapa-kenapa dia.”

“Yaudah, abis ini Luna transfer ke Mama ya buat bawa Roxy ke dokter besok.”

“Roxy doang nih yang dikasih transferan?” rengek Mama jahil.

Luna tertawa. “Iyaaa, iyaaa. Nanti Luna kasih uang belanja sekalian buat Mama. Tenang aja.”

Terdengar suara tawa puas Mama. “Bercanda, Sayaang. Uang yang kamu kasih minggu lalu masih ada kok. Tenang aja.”

Luna menggeleng-geleng pelan di sisa tawanya.

“Kamu sehat, Luna? Sudah tenang di rumah, Nak?”

Luna memejamkan matanya. Hatinya begitu ngilu ketika mendengar Mama memanggilnya dengan sebutan ‘Nak’. Panggilan tertulus dari Mama yang menandakan ia begitu khawatir akan keadaan Luna, anak tunggalnya.

“Sehat, Ma. Kalo tenang atau nggaknya, Luna masih berusaha. Mama doain Luna terus ya.” Luna mengatakannya sepelan dan setulus mungkin agar bisa menenangkan Mamanya.

“Selalu, Nak. Mama selalu doakan kamu kapanpun, dimanapun, di gereja, di rumah, di pasar, waktu Mama lagi yoga, waktu Mama lagi masak juga Mama doain kamu kok. Roxy juga selalu doain kamu nih.”

Seketika Luna tergelak. Mama kadang suka tiba-tiba mencairkan suasana yang sendu maupun  kaku. “Emang Mama tahu gimana caranya si Roxy doain Luna?” tanya Luna iseng.

“Tuuuh, dia lagi tiduran sambil ngeliatin fotomu di deket TV. Kangen kamu tuh kayaknya.” sahut Mama sambil lanjut tertawa. “Ya udah, Sayang. Kamu istirahat dulu gih. Jangan sampe sakit.”

“Iya, Ma. Luna mau mandi abis ini, terus tidur. Mama juga sehat-sehat terus ya, salam buat Papa.”

“Iyaa, Sayang. Dilanjut besok ya ngobrolnya. Bye.” Mama menutup teleponnya.

Luna kembali menghempaskan badannya. Ia hanya ingin tidur lebih awal malam ini.

***

Tim berkonsentrasi penuh menghabiskan semangkuk mie ayam di depan pintu tokonya. Ditemani abang penjual mie ayam beserta gerobaknya, ia sudah menandas porsi kedua. Temannya yang ia tunggu-tunggu, Junet, belum juga datang. Pekerjaan Tim memang tidak tetap. Ia mengerjakan apapun yang ia rasa bisa dikerjakan dan menghasilkan uang. Tapi semenjak ia memulai bisnis jualan perlengkapan outdoor bersama Junet dari dua tahun lalu, rasanya toko inilah yang akhirnya menjadi pekerjaannya yang paling jelas. Beberapa menit kemudian terdengar suara motor trail milik Junet dari ujung jalan, lalu mengambil parkir tepat di sisi samping toko.

“Nyeeet! Lama amat sih, ah! Udah jam makan siang ini!.”

Junet melepas helmnya. “Sorry, Bro, kesiangan. Semalem kudu ngelarin orderan kaos kampanye. Jadi berangkat?”

“Ya jadi lah. Pinjem si Pulgoso hari ini yak? Paling ntar jam 8 malem udah balik kesini.”

“Iyeee, si Marimar masih sakit? Gak kelar-kelar tuh kayaknya.”

“Gak tau tuh. Lagi rewel banget dia. Di bengkel udah hampir dua minggu.” Tim menyalakan motor trail milik Junet yang bernama Pulgoso, satu-satunya harapan dia saat Marimar, vespa kuning milik Tim, sedang diservis di bengkel. “Berangkat, Nyet!”

“Hati-hati, Sayangku.” Seru Junet mesra.

“JIJIK!” bentak Tim.

“Ge-er! Bukan ente! Si Pulgoso!” sahut Junet tak kalah sewot.

Tak sampai setengah jam perjalanan, Tim sudah sampai di lokasi acara yang diselenggarakan oleh Langit Creative. Terletak di area hutan pinus yang masih terjangkau dari pusat kota. Setelah melepas helmnya ia bergegas menuju tenda kru.

“Tiiim, where have you been? Bikin bingung aja ah, mepet banget datengnya.” Omelan Reno yang menjadi sambutan pertama untuk Tim.

“Aduh sorry banget, Ren. Masih kudu minjem motor temen.”

“Yaudah, yaudah! Luna… Luna, nih urus dulu si Tim ya? Buruan.” Reno memanggil Luna.

Luna tergesa mendatangi Tim dan menyeretnya ke ruang ganti. “Udah hafal kan dari rundown yang kita kasih kemaren? Nanti untuk kordinasi selengkapnya langsung dari saya ya.”

Tim mengacungkan jempolnya sambil memasang kemeja dan jaket jins yang diberi Luna. “Tadi saya liat di luar rame banget loh. Banyak yang dateng. Kirain cuma anggota komunitas mereka aja yang punya acara.”

“Itu dia Tim yang bikin kami makin pusing. Ternyata mereka ngundang banyak komunitas motor. Ya bagus sih, jadi keliatan seru banget acaranya. Tapi lumayan ribet jadinya. Mas Reno sampe pening kayaknya.”

Tim tertawa. “Setidaknya kalian masih bisa menanganinya. Itu aja udah bagus.”

“Ya semoga masih tetep lancar sampai selesai.” Luna merapikan kemeja Tim sekali lagi. “Oke, udah siap. Abis ini kamu langsung ke panggung utama ya.”

Tim mengangguk. Mereka berdua keluar meninggalkan tenda ruang ganti dan bergegas ke panggung. Tim mengambil tempat di atas panggung sementara Luna berjaga di samping dan belakang panggung. Memastikan semua acara berlangsung sesuai dengan jadwal di tangannya.

Acara berlangsung meriah dan teratur. Tim pun terlihat bisa menguasai perhatian penonton dan pengunjung lain, meskipun ia menjadi MC seorang diri. Bahkan di sela-sela acara ia sempat mengajak beberapa anggota komunitas untuk jam session dan mereka pun nge-band dadakan, Tim yang jadi drummernya.

Luna berdiri di samping panggung. Tersenyum lega melihat orang-orang terhibur dengan aksi band dadakan yang tiba-tiba dimulai oleh Tim tadi. Tim pun terlihat begitu menikmati permainan drumnya. Satu kejutan lagi dari Tim yang ternyata lihai bermain drum. Luna curiga jangan-jangan Tim juga punya bakat main debus.

Tiba-tiba Ayu berdiri di sebelah Luna. “Pandangan mata ke arah Tim, tuh bibir daritadi senyum-senyum gak berhenti. Wah, fix deh, mulai terpikat ni kayaknya.”

“Apaan sih, Yu.”

“Lah aku kan ngomong berdasar fakta yang aku lihat, Na. Tapi emang lho, dia asik banget ternyata kalo bawain acara ya. Boleh nih besok-besok kita pake dia lagi kalo ada event.”

Luna mengangguk setuju. “Iya, aku juga gak nyangka dia bisa sebagus itu.”

Ayu mengerling ke arah Luna sambil menggoda. “Cakep pula. Ya kaaan?”

“Ayu, ah! Udah sana balik ke tempatmu.”

“Yaelaaah, salting!” ledek Ayu sambil lalu.

“Luna…Luna posisi dimana?” terdengar suara Mas Reno dari HT yang dipegang Luna.

“Ya, Mas? Saya persis di samping panggung.” Jawab Luna cepat.

“Oke, abis ini tolong kode si Tim ya. Guest star udah dateng, abis ini perform. Si Tim langsung suruh closing.”

“Siap, Mas.” Luna mengantongi HTnya dan bergegas memberi kode ke Tim, yang langsung mengangguk-angguk mengerti maksud kode dari Luna.

Setelah lagu selesai, Tim menutup acara dan menyambut band tamu yang menjadi penutup acara. Semua orang pun bergerak mendekat ke panggung saat band tamu memulai penampilannya. Tim bergegas turun dan disambut Luna.

Very nice, Tim. Good Job.” Ujar Luna setengah berteriak, mencoba mengimbangi suara musik yang kencang.

“Sama-sama, Luna. Saya bener-bener menikmati acaranya kok.”

“Yaudah, kamu rehat dulu di tenda kru ya. Ganti baju atau makan atau ngapain deh terserah kamu.”

***

Matahari sudah hampir tenggelam, tapi suasana acara makin seru. Entah sudah lagu ke berapa yang dibawakan band penutup itu, yang berhasil mengajak orang-orang ikut bernyanyi bersama mereka dengan lagu-lagu hitsnya. Luna dan Tim sedang berada di area barbeque yang cukup berjarak dari panggung, sehingga suara musik tetap jelas terdengar, namun masih bisa saling mendengar obrolan satu sama lain dengan volume suara yang normal. Tim membakar dua jagung. Untuk dirinya dan Luna.

“Jangan-jangan kalo saya nyuruh kamu perform debus, kamu juga bisa ya?”

“Ha? Gimana maksudnya?”

“Rasanya kamu bisa apa aja deh, Tim. Tuh tadi tiba-tiba kamu ngedrum.” Luna mulai menggigit jagung bakarnya yang masih hangat.

“Oh, ituuu. Dulu aku drummer pas masih kuliah. Yah, masih bisa dikit-dikit lah sampe sekarang.” Tim mengangkat jagungnya yang sudah matang. Ia pun mengambil duduk di samping Luna. Tepat menghadap ke panggung utama yang masih heboh dengan penampilan band tamu. “Kalo disuruh debus sih, mending saya cari pengalaman dulu ya. Baru saya mau perform debus deh.” Mereka berdua pun tertawa.

“Tapi sebenernya pekerjaanmu apa?”

“Kalo yang kamu maksud adalah pekerjaan tetap, saya gak punya. Tapi kalo yang kamu maksud adalah pekerjaan yang bikin saya bahagia, saya punya banyak banget.”

Luna terusik dengan perkataan Tim. “Hmm, menarik, lalu apakah pekerjaan tetap itu gak bikin bahagia? Saya bahagia lho sama pekerjaan tetap saya.”

“Bukan begitu, Luna. Saya bilang gitu dari sudut pandang saya. Bukan berarti orang-orang yang punya kerjaan tetap jadi gak bahagia.”

“Lalu?”

Tim berdeham. “Pertama, saya itu bukan tipe orang yang tahan dengan macem-macem deadline yang literally bikin kepala nyaris mampus. Kedua, saya gak terlalu mementingkan jabatan atau dimana posisi saya bekerja. Banyak orang memilih mengorbankan sebagian besar waktu dan tenaganya demi dua hal, uang dan gengsi. Buat saya itu konyol. Ketiga, come on, naik gunung, jalan-jalan keliling Indonesia, ketemu banyak orang baru, jadi MC di tempat seperti ini, dibayar pula. Siapa yang gak pengen punya pekerjaan membahagiakan begini?”

Luna tersenyum. “I got your point, Tim. Tapi bukankah sekarang ukuran orang mapan itu dilihat dari seberapa kokoh posisi pekerjaannya ya? And too bad for you, yang sebagai laki-laki hidup di masyarakat kita dengan tuntutan bahwa pekerjaan cowok itu harus menjanjikan.”

Too bad for us, Luna. Hidup di masyarakat yang terlalu sering ngurusin hidup orang lain. Seperti yang saya bilang tadi, saya memilih pekerjaan yang membahagiakan saya. Bukan pekerjaan yang ideal menurut orang lain.”

Satu hal lagi dari Tim yang membuat Luna kagum. Mungkin memang Tim tidak bisa debus seperti perkiraannya. Namun seorang Angin Timur ternyata mempunyai arah anginnya sendiri dalam menentukan hidup, meski diterjang oleh badai yang besar.

“Kalau kamu? Apa cerita di balik karirmu yang sekarang?” tanya Tim balik.

Luna terkekeh geli. “Sebenernya belum pantes dibilang karir sih, Tim. Saya ikut Mas Reno juga baru beberapa tahun yang lalu, setelah saya udah bisa nerima kepergian Dimas. Lebih tepatnya pekerjaan untuk mengalihkan perhatian. Gak mungkin dong saya terus-terusan berduka tiap hari.”

Tim menghentikan kunyahannya. Menyadari pertanyaan pancingannya malah memancing cerita yang mungkin membuat Luna sedih. “Ehm, maaf Luna, saya gak ber…”

It’s okay, Tim. Udah lah, udah berlalu juga kok. Gak perlu minta maaf.” sela Luna santai.

“Tapi kamu bener bahagia kan sama pekerjaanmu?”

Luna menatap Tim. “Sebenernya masih mencoba bahagia. Tapi ya saya syukuri aja. Saya udah ketemu sama orang-orang yang baik banget di kantor. Harus saya nikmati pelan-pelan. Bisa dibilang Langit Creative adalah jangkar saya sekarang. Itu yang bikin saya kuat.”

Tim terbahak. “Ternyata kamu masih inget sama kata-kata ngaco saya ya?”

“Eh itu bener lho, nggak ngaco sama sekali. I totally agree with your mom, Tim.”

“Tapi, elemenmu masih kurang dua, Na. Kan kata ibuku jangkar yang kokoh elemennya harus tiga.”

Luna menghela napas. “Yeah, I’m still looking for that two. Tapi punya satu aja sudah cukup membantu kok.”

Tim mengangguk mengerti dan berdeham. “Gini deh, kamu sudah kasih saya pekerjaan di sini, gimana kalo giliran saya yang kasih kerjaan ke kamu?” tiba-tiba Tim jadi antusias dengan ide celetukannya.

“Kerjaan apa, Tim?”

“Pekerjaan yang bener-bener bikin bahagia.” Tim tersenyum.

Luna tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia bingung dan penasaran di saat yang sama. “Dan pekerjaannya adalah?” tanya Luna ragu-ragu.

“Ya rahasia dong. Gak seru lah kalo dibocorin sekarang. Gimana? Mau gak?”

Luna masih menimbang-nimbang tawaran misterius Tim.

“Kasih saya kesempatan buat buktiin ke kamu bahwa bahagia dalam bekerja itu penting. Melebihi uang, jabatan, kekayaan, apapun.” Tim mencoba meyakinkan Luna sekali lagi.

Luna menangkap kesungguhan Tim yang entah kenapa justru membuatnya percaya. Ia pun mengangguk pelan.

“Oke, anggap aja kamu punya satu tiket jalan-jalan gratis dari saya. Kapanpun kamu lagi suntuk, kapanpun kamu butuh pelarian, dan kapanpun kamu siap, tinggal hubungi saya. Kita langsung berangkat. Handphone saya gak pernah mati kok.”

“Tapi kamu gak punya niat culik saya kan?”

Tim terbahak. “Ya nggak lah, ngapain juga mau nyulik kamu. Percaya aja sama saya. Oke?”

Luna mengangguk mantap. Kesepakatan mereka sore itu ditutup dengan iringan lagu terakhir yang bergema dari panggung utama di depan mereka.

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

Leave a Reply