Sepasang Jangkar (3)

Acara tumpengan rumah baru Ayu yang sejatinya direncanakan tepat malam tahun baru, harus mundur sampai evaluasi akhir tahun mereka benar-benar selesai semuanya. Mungkin sebuah tumpeng nasi kuning di tengah-tengah lingkaran manusia itu sekadar bentuk simbolis dari acara syukuran pindahan si Ayu, karena di sekeliling tumpeng terdapat barisan makanan dan minuman yang sesungguhnya tidak sesuai jika harus disantap bersamaan dengan nasi kuning.

“Ini gimana ceritanya sih tumpeng nasi kuning kudu dimakan sama spaghetti?” Jaka, si tukang gambar digital kesayangan Reno mengunyah nasi kuning lauk spaghetti dengan kening berkerut. “Hasil jajahan kolonial tapi mau sok mengusung lokalitas ya begini nih jadinya, Yu.”

“Jaka ah! Bacot mulu deh! Udah makan aja. Aku bingung mau masak apalagi.” Ayu yang jadi tuan rumah masih sibuk mengisi piring-piring makanan yang sudah kosong sambil dibantu Luna.

“Dasar mahluk kahyangan. Mentang-mentang kebiasaan diajak meeting klien di café mahal ya, setting perut ama lidah udah beda.” sahut Luna. Mahluk kahyangan adalah sebutan untuk mereka yang bekerja di Langit Creative, karena hampir menghabiskan sebagian besar waktunya di “langit”, jadilah mereka menahbiskan diri sebagai mahluk kahyangan. Reno adalah dewanya.

“Abisin, Jak. Kasian si Ayu udah capek-capek masak.” Tambah Reno santai sambil melahap perpaduan makanannya yang lebih absurd, nasi kuning dengan salad sayur.

 “Waduh jangan, Mas Reno. Ini menyalahi aturan food combining. Ibarat kata kita mahluk kahyangan ama dewanya, ntar kita dihukum turun ke bumi lho.”

“Yaelaah, Jak. Orang situ kemaren jajan cireng pas event di stadion. Sok-sokan ngomong food combining.” celetuk Yudi –sang akuntan merangkap fotografer dan sopir andalan Langit Creative– yang langsung disambut tawa lainnya.

Mereka berlima duduk melingkar di teras belakang rumah Ayu yang cukup luas dengan piring-piring makanan sudah terisi kembali di tengah-tengah mereka. “Tapi kalo malem aman kan di sini, Yu? Ada orang ronda atau satpam yang keliling kan?” Tanya Reno sambil meletakkan piringnya yang sudah kosong.

“Aman kok, Mas. Kemaren udah kenalan sama satpam-satpam di sini. Katanya mereka selalu ada jaga malam. Lagian kan posnya gak jauh tuh di depan situ. Pasti aman kok.”

“Yaudah, takutnya kalo ada apa-apa sama kamu. Kalo ada masalah apapun di sini bilang aku ya.” lanjut Reno dengan suaranya yang lembut namun tegas. Luna, Jaka dan Yudi saling lirik sambil menahan tawa. Luna menyenggol lengan Ayu sambil tersenyum penuh arti.

***

“Kalian pulang duluan deh. Saya masih ada perlu sama Ayu.” Ujar Reno kepada Luna, Jaka dan Yudi yang sudah stand by di dalam mobil, bersiap pulang.

Yudi yang duduk di kursi pengemudi tiba-tiba protes. “Eh, gak boleh, Mas. Ini udah jam berapa coba. Lagian ini malam pertama Ayu pindah sini masa udah berduaan sama cowok. Ntar kalo di…” Tangan Luna dan Jaka langsung kompak membekap mulut Yudi.

“Oke, Mas Reno. Kami pulang duluan ya. Bye, Yuuu!” Luna menyudahi dan melambaikan tangan ke Ayu yang berdiri di teras rumah dengan tatapan serba bingung. Yudi langsung menginjak gas mobilnya. Perlahan mobil itu meninggalkan kompleks perumahan Ayu. Tinggal Reno dan Ayu yang berdiri berdua di teras.

“Yu, bisa bicara sebentar kan?” Tanya Reno tenang.

Ayu hanya bisa mengangguk kikuk. Ia menarik kursi dengan canggung. “Sambil duduk ya, Mas.”

Reno ikut duduk di samping Ayu. “Sebenernya gossip itu bener kok.”

“Ha? Gi-gimana, Mas Reno?” Ayu mencoba mencerna perkataan Reno.

Reno tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam. Sampai dadanya terlihat mengembang penuh dengan oksigen. “Jadi gossip yang beredar di kantor itu bener. Saya memang suka sama kamu. Udah lama. Mungkin sejak kita berdua ngerjain proyek webseries dua tahun lalu itu. Maaf kalo selama ini saya gak berani bilang sama kamu. Saya gak pengen mengganggu kinerja kamu di kantor. Saya juga pengen tetep professional sebagai atasan kamu. Dan ternyata saya udah gak kuat nyimpen lagi, harus secepetnya ngaku ke kamu. Jadi ya… baru bilang sekarang. Maaf.” Reno meluncurkan perasaannya dalam sekali napas. Dengan tatapan yang kesana-kemari. Ia takut kalo sampai menatap mata Ayu, kata-katanya langsung buyar.

Rentetan pengakuan Reno yang sampai ke telinga Ayu lebih terdengar seperti presentasi rapat kantor daripada pengakuan perasaan seorang laki-laki. Dan lagi-lagi Ayu membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna apa-apa saja yang baru saja keluar dari mulut Reno. “Jadi… selama ini, bukan saya yang suka ge-er ya, Mas?”

Reno menggeleng. “Kadang saya bingung kok selama ini kamu malah gak peka, Yu.”

Ayu menahan senyumnya yang perlahan mengembang.

“Tapi maaf, Yu. Sebenernya saya sendiri masih bingung perasaan ini harus dibawa sejauh mana. Kita rekan kerja sekantor. Sepertinya gak etis kalo saya buru-buru berkomitmen sama kamu. Tahu sendiri kan hubungan satu kan…”

“Mas…” Ayu menyela ucapan Reno hati-hati.

“Ya?” Reno menatap Ayu.

“Saya kan belum bilang apa-apa. Omongan Mas Reno barusan kesannya kayak saya juga suka sama Mas Reno.”

“Oh…” Reno langsung tercekat. Berdeham dan mengalihkan pandangannya dari Ayu. “Iya, bener juga kamu.” Reno tertawa salah tingkah. “Jadi ternyata saya yang suka ge-er ya?”

Ayu masih menahan tawa melihat sisi lain bosnya yang ternyata susah payah berusaha untuk romantis.

“Jadi gimana?” tanya Reno lagi.

“Apanya yang gimana, Mas?” jawab Ayu di sela tawanya. Sengaja ia membuat Reno makin bingung. “Mas Reno daritadi gak tanya apa-apa lho ke saya.”

“Yaaa… kamu punya perasaan yang sama gak buat saya?”

Ayu berdeham dan membenarkan posisi duduknya. Setelah sekian menit ia menikmati pemandangan seorang Reno yang jarang sekali bisa kikuk, kini Ayu harus mulai menjawabnya dengan serius. “Mas Reno, siapa sih yang gak suka sama Mas. Saya pribadi mengagumi Mas Reno sebagai atasan saya…”

“Jadi kamu juga suka sama saya kan?” sela Reno tak sabar.

Ayu mengangguk. “Tapi berhubung selama ini saya cuma denger dari gossip di kantor kalo Mas Reno suka sama saya, tanpa pembuktian apa-apa dari Mas Reno, sepertinya saya butuh diyakinkan dulu, Mas.”

“Ehm, semacam… harus kencan berdua dulu gitu?”

“Bisa jadi salah satunya.”

Reno tiba-tiba teringat sesuatu. “Ehm, kalo gitu, temani saya ke acara nikahan sahabat saya. Mau?”

Ayu tidak menyangka acara kencan pertama mereka akan diputuskan secepat itu oleh Reno. Tapi tak urung Ayu menyetujui juga. “Boleh.”

Reno tersenyum tipis. “Besok saya kabari lagi soal tanggal dan acaranya dimana ya.”

Ayu tersenyum geli. Sepertinya Reno sudah lama atau mungkin tidak pernah berkencan. Sampai-sampai tidak bisa membedakan mana komunikasi untuk rapat dan pdkt. “Iya, Mas.”

Reno beranjak dari kursi. “Saya pulang dulu. Makasih ya untuk semua makanannya tadi.” Ia berjalan menuju mobil sedannya. Baru beberapa langkah, Reno membalikkan badannya lagi. “Yu, mulai sekarang panggil saya Reno aja ya. Gak usah pake Mas.”

“Kecuali di kantor ya. Gak sopan dong kalo di kantor gak panggil Mas.”

Reno mengangguk mantap. “Setuju.”

***

Luna sudah memakai sepatu dan bergegas membuka pintu mobil. Tepat saat tangannya membuka pintu, handphonenya berdering. Telepon dari Dini, adik perempuan Dimas. Luna bergegas menjawabnya.

“Halo, Din.”

“Mbak Luna…” sahut Dini pelan.

“Ya?”

“Ehm, Mbak Luna bisa ke rumah sekarang gak? Ibu, Mbak.”

Luna selalu menjadi khawatir jika Dini menelponnya dan memberitakan kabar Ibu Dimas yang stroke. Tak lama setelah Dimas hilang, ibunya terkena stroke hingga saat ini.

“Ibu? Ibu kenapa, Din?”

“Mbak Luna jangan panik dulu, Ibu baik-baik aja kok. Cuma dari dua hari lalu jadi susah makan. Terus tadi tiba-tiba bilang pengen ketemu Mbak Luna, pengen dimasakin Mbak Luna katanya.” Dini mencoba menenangkan Luna. “Mbak Luna tolong mampir ke rumah ya.”

Hati Luna serasa teriris. Sudah hampir tiga bulan ia belum mengunjungi mertuanya yang sakit. Ia tidak menyangka kalo ketidakhadirannya mempunyai dampak kecil pada kesehatan mertuanya itu. Dari pertama kali Luna berkenalan dengan keluarga Dimas, Luna seolah menjadi idola baru di rumah mereka. Dini yang begitu bahagia dengan kehadiran sosok kakak perempuan, setelah semenjak lahir harus ditakdirkan menjadi adik dari Dimas yang usil, dan Ibu Dimas yang sangat menyayangi dan mengagumi kecantikan Luna, serta Ayah Dimas yang siap melindungi Luna kapanpun. Pernah suatu kali Ayah Dimas bersedia mengantar-jemput Luna bekerja karena Dimas harus ke luar kota. Dan saat ini, Luna bagaikan secuil memori yang bisa mereka jangkau untuk mengenang kehadiran Dimas di tengah-tengah keluarga yang hangat itu.

Luna melirik jam tangannya. Sudah terlambat sepuluh menit dari jam masuk kantornya. “Iya, Din. Kebetulan hari ini Mbak Luna gak ngantor. Abis ini Mbak Luna kesana ya. Pengen dibeliin apa?”

***

Pagi ini akhirnya Luna mengganti jadwal kerjanya dengan memasak di dapur rumah keluarga Dimas, ditemani Dini.

“Maaf ya, Mbak. Mbak Luna jadi bolos ngantor hari ini.” Kata Dini sambil memotong seledri.

“Gak apa-apa, Din. Aku malah seneng kok. Dari kemaren di kantor suntuk terus. Sekali-kali bolos dulu lah. Kamu gak ke kampus?”

“Nggak, Mbak. Dosen pembimbingku lagi ke luar kota. Jadi ya percuma mau ngampus.”

Luna mengecilkan api kompor. Ia memasukkan potongan seledri dan bawang daun hasil irisan Dini ke dalam panci. “Mbak Luna masak cream soup aja ya buat Ibu. Gimana menurutmu? Ibu mau gak ya?”

“Boleh, Mbak. Sekiranya makanan yang gak terlalu berlemak. Asal Mbak Luna yang masak Ibu pasti mau kok.”

Luna tertawa. “Padahal Mbak Luna ini gak begitu jago lho masaknya. Biasa aja sebenernya. Kok Ibu malah suka.”

“Bukan soal enak atau nggaknya, Mbak Luna. Tapi perhatiannya itu lho. Aku sama Mas Dimas kan gak bisa masak. Jadi ya Ibu seneng banget lah kalo ada yang masakin di rumah.”

“Yaah semoga kali ini beneran enak. Cobain deh…” Luna menyuapkan sesendok sup pada Dini. “Gimana? Udah pas belum?”

Dini mencicip sambil mengangguk mantap. “Enak, Mbak. Udah pas kok.”

“Yaudah, tolong kamu siapin mangkuknya dong.”

Dini mengambil mangkuk dari rak piring. Sesekali ia melirik Luna. Menimbang-nimbang apakah ini saat yang tepat untuk membicarakannya. “Mbak Luna…”

“Hmm?”

Dini berdiri di samping Luna.  “Mbak Luna boleh kok kalo pengen segera move on dari Mas Dimas.”

Luna menatap Dini. “Kenapa kamu tiba-tiba ngomong gitu?”

Dini menghela napas. “Udah lima tahun, Mbak. Aku gak tega ngeliat Mbak Luna terus-terusan dibayangi Mas Dimas. Apalagi cuma karena ngerasa gak enak sama keluargaku. Mbak Luna berhak mendapatkan yang lebih baik… bahkan yang lebih baik dari Mas Dimas.”

Luna melepas celemeknya. “Sampai kapanpun Mas Dimas tetep yang terbaik untuk Mbak Luna, Din.”

Dini memegang tangan Luna. “Iya, aku tahu, Mbak. Tapi selama lima tahun kenangan dari Mas Dimas cuma bisa nyakitin Mbak Luna.” Dini melirik cincin kayu di jari manis Luna. “Yang jelas, Mbak Luna harus tahu kalo aku akan dukung hidup Mbak Luna. Berusahalah buka hati lagi Mbak. Mas Dimas pasti juga setuju sama aku.”

“Gak gampang, Din. Selama ini Mbak Luna udah berusaha untuk buka hati tapi belum bisa.”

“Bukan belum bisa, Mbak. Tapi Mbak Luna butuh kebernanian untuk memulai dari awal lagi.”

Luna mengambil semangkuk sup di depannya. “Mbak Luna suapin Ibu dulu ya.” Ia berjalan menuju kamar Ibu Dimas. Meninggalkan Dini sendirian di dapur.

Namanya Harum. Ketika pertama kali Luna berkenalan dengan Ibu Dimas, kesan yang ia ingat adalah wangi bunga mawar yang begitu harum, seperti namanya.

“Nama Ibu kamu Harum?” tanya Luna pada Dimas waktu itu.

“Ya, literally Harum, pake H.” Dimas menegaskan sambil tertawa.

Dan sekarang sosok yang bernama Harum itu sedang duduk di atas kursi roda sambil menonton tv. Dengan wangi mawar yang sama seperti ketika pertama kali mereka berkenalan. Yang berbeda adalah kondisi tubuhnya yang kini lemah. Luna menarik kursi dan duduk tepat di sebelahnya.

“Bu, makan dulu ya? Luna suapin. Kemaren-kemaren kenapa kok susah makan?”

Harum tersenyum melihat Luna. “Gak selera, Nak. Karena lama gak ketemu kamu juga. Ibu jadi kangen.” Ucapnya terbata-bata.

Luna menyuapkan sesendok sup. “Maaf ya, Bu. Luna sibuk terus sampe gak sempet main kesini. Tapi Ibu jangan jadi males makan gitu dong. Besok-besok jangan gitu lagi ya, Bu? Yang nurut sama Dini.”

Harum mengangguk dan tersenyum. “Ibu bakal nurut, kalo kamu juga nurut sama omongan Dini.”

“Maksud Ibu?”

Tangan Harum yang kurus berusaha menggapai Luna. Ia membelai wajah Luna lembut. “Ibu yang titip pesen ke Dini buat bilangin kamu. Sekarang ibu kalo ngomong panjang-panjang gampang capek. Jadi… apapun yang Dini bilang ke kamu, kamu turutin ya?”

Luna tersenyum dan menyuapkan sesendok lagi. “Yang penting Ibu harus makan dulu yang banyak.”

***

Tim membongkar beberapa kotak mobil Hot Wheels yang baru saja ia beli. Ia memoles mobil mainan barunya itu satu-persatu sebelum dimasukkan ke rak koleksinya.

“Yak, ini dia! Akhirnya… mobil ke 500!” ucapnya dramatis sambil menata mobil terakhir berwarna silver ke dalam rak. Tim mundur beberapa langkah untuk memperhatikan koleksinya yang sudah berjajar rapi di rak-rak pajangan sekeliling tembok kamar. Ia meraih handphone dan memotret koleksinya. Tiba-tiba dari layar handphonenya muncul nama kontak Luna yang sedang memanggil. Tim menjawabnya dengan kening berkerut.

“Halo, Luna?”

“Hai, Tim. Gimana kabarnya? Lagi sibuk gak sekarang?”

“Oh baik kok. Gak nih, kebetulan lagi di kamar aja. Kamu… apa kabar? Ada perlu sama saya?”

“Ehm, kabar saya kurang baik sih sebenernya.” Ucap Luna dengan suara ragu-ragu.

“Oh…” Tim duduk di kursinya lagi. “Ada apa emangnya? Butuh bantuan saya?”

“Ehm… tiket jalan-jalan gratis yang pernah kamu tawarin buat saya… masih berlaku gak, Tim?”

Tim tersenyum lebar.

***

“Ini beneran kan kamu gak mau nyulik saya, Tim? Kita udah perjalanan tiga jam lebih loh.  Kamu mau bawa saya kemana?”

Tim tertawa sambil membelokkan setir mobil jeepnya. “Tenang aja, Luna. Kalopun saya nyulik kamu, kamu pasti bersyukur deh bisa saya culik hari ini. Serius.”

“Gak lucu ah, Tim.” Luna menatap pemandangan di luar kaca mobil dengan gelisah.

“Kamu udah bilang Papa-Mamamu kan kalo pergi jalan-jalan?” tanya Tim.

Luna mengangguk.

“Udah ijin kantor juga?”

Luna mengangguk lagi.

“Yaudah, berarti acara kita kali ini bakal lancar. Bentar lagi sampe kok. Tuh tempatnya udah keliatan.” Tim menunjuk lapangan yang dikelilingi oleh pagar kayu. Luna mencari-cari tempat yang dimaksud Tim. Dari tempatnya duduk ia bisa melihat kawanan anjing yang sedang bermain dan berlatih ditemani beberapa pelatihnya. Luna menurunkan kaca mobil dan melihatnya dengan lebih seksama.

“Tim, kita ada di…”

Animal shelter. Punya kakakku.” Jawab Tim sambil tersenyum.

Luna tidak bisa menahan kegembiraannya. “Oh my god!

Mobil jeep Tim berjalan memasuki kawasan animal shelter yang langsung disambut oleh gonggongan anjing di lapangan.

“Ya ampuun, saya gak sabar pengen turun.” Luna cepat-cepat melepas seatbelt dan mengambil ranselnya di kursi belakang.

Tim memakai topinya. “Gimana? Gak nyesel kan saya culik?”

Luna tersenyum dan menggeleng tegas. “Kalo dibawa kesini sih, takutnya saya jadi gak pengen balik.”

Tim tertawa dan keluar dari mobil, disusul Luna.

Dari kejauhan, sosok perempuan dengan rambut pendek berwarna cokelat melambaikan tangan ke arah Tim. “Tiiim, beneran kesini kamu rupanya!”

“Iya dong, Kak. Kan aku udah kasih kabar ke Mas Bintang.” Tim memeluk kakak iparnya, Tari.

“Ya kirain batal lagi. Kemaren-kemaren juga gitu, janjinya mau main kesini gak pernah jadi. Repot jadi panitia ini lah, sibuk acara itu lah.”

“Yaudah, ini kan sekarang aku ada di sini.” Tim mendekat untuk berbisik di telinga Tari. “Ngajakin temen juga. Tapi bukan pacar ya, Kak. Bu-kan pa-car.” Ulang Tim menegaskan Tari yang memang terkenal suka jahil. “Kak Tari gak usah jahil.”

Tari melirik Luna yang berdiri di belakang Tim. Ia balas berbisik. “Ih cakep gitu, Tim. Sayang lah kalo gak sekalian kamu gebet.”

“Kaaak.” Sergah Tim.

Luna melihat gelagat dua bersaudara itu sambil tersenyum dan pura-pura tidak mendengar.

“Luna, ini Kakak iparku, Kak Tari.” Tim akhirnya mengenalkan Luna pada Tari

“Haaai. Aku Tari. Ini animal shelter punya suamiku, Mas Bintang, kakaknya si Tim.”

“Hai, Kak Tari, saya Luna. Makasih banyak ya, Kak, udah ngebolehin main kesini.”

“Aduuh, dengan senang hati, Luna.”

“Kak Tari ini dokter hewan, Na. Setelah menikah sama Mas Bintang, akhirnya sekalian buka praktek di sini.” Tambah Tim.

Luna mengangguk-angguk terkagum.

“Kebetulan pagi ini sampai besok kita ada cek kesehatan rutin untuk semua hewan di shelter. Jadi, kita jelas butuh tambahan personel nih buat bantu-bantu.”

Luna jadi bersemangat. “Dengan senang hati juga, Kak Tari.”

“Suka hewan kan? Suka anjing?”

Luna mengangguk mantap. Tim tertawa melihat kelakuan Luna yang seperti anak kecil mendapat tiket gratis ke Disneyland.

“Yaudah, kalian langsung ganti baju aja kalo gitu.”

“Kalian berdua duluan deh, Kak. Aku mau ketemu Mas Bintang dulu, nanti aku nyusul.”

“Oh gitu, okedeh, tapi jangan lama-lama ya. Kewalahan nih kalo kamu gak bantuin.” Tari merangkul Luna dan mereka berjalan menuju kawasan kandang anjing. “Mas Bintang di ada ruang makan, Tim. Kasih tau dia buat ikut bantuin nanti!” teriak Tari.

“Okeee!” sahut Tim.

***

Tim memasuki rumah Bintang dan Tari yang sepi. Ia melihat kakaknya, Bintang, duduk di meja makan menikmati kopi paginya. Matanya masih terfokus pada layar handphone.

“Itu tadi pacarmu, Tim?” Mata Bintang masih tidak lepas dari handphone. Tapi sudut matanya sudah mendeteksi kehadiran tubuh Tim.

“Bukaaan.” Jawab Tim menggerutu.

Bintang berdiri dan mengambil cangkir baru dari lemari. “Kopi?”

Tim mengangguk sekilas. Ia duduk di seberang kursi Bintang. “Mas Bintang lagi sibuk apa? Udah enam bulan lebih gak ke rumah. Dicariin Ibu lho, Mas.”

“Sibuk cari bala bantuan.”

“Buat?”

Bintang kembali duduk dan menyodorkan secangkir kopi ke hadapan Tim. “Buat shelter, buat Tari, buat kliniknya Tari. Jumlah hewan di sini udah lebih banyak dari seharusnya. Jadi ya… butuh perluasan lahan, butuh banyak biaya lagi, lebih banyak karyawan, lebih banyak staff klinik.”

“Gitu kok gak pernah ngubungin aku? Aku bisa kok cariin orang-orang yang mau kerja di sini.”

“Gak segampang itu, Tim. Pelan-pelan. Aku belum punya cukup dana kalo tiba-tiba harus kasih gaji ke banyak staff.”

Tim meminum kopinya. “Pokoknya kalo butuh bantuan bilang aku, Mas.”

Bintang mengangguk. Ia memandang keluar jendela, terlihat Tari dan Luna yang sedang menggiring beberapa anjing masuk ke dalam klinik. “Baru kali ini kamu bawa cewek ke sini, Tim. Setelah sekian lama.”

Tim mengikuti pandangan Bintang.

She must be special, isn’t she?”

“Pelan-pelan, Mas. Aku gak mau gegabah lagi.”

Well, itu aja udah pertanda bagus, Tim. Pelan-pelan bisa buka hati lagi, feels good right?”

Tim hanya bisa tertawa. “Namanya Luna. Pertama ketemu pas lagi naik semeru. Tapi…” Tim memandang Luna lagi. “Kayaknya persamaan kita sama-sama berusaha untuk lepas dari masa lalu.”

Bintang menatap Tim. Ia menghabiskan kopinya yang tinggal sekali teguk. “You’re right, jangan gegabah. Tuntasin dulu apa yang ada di hati kalian masing-masing. Cari jangkar baru itu bukan persoalan ganti barang lama. Tapi…”

“Gimana caranya jangkar yang baru harus lebih berat dan kuat. Biar kapalnya gak pergi kebawa arus.” Tim melanjutkan.

Bintang mengangguk mantap dan beranjak dari kursi. “Yaudah yok kita susul mereka. Kelamaan ngobrol bisa-bisa kita yang divaksin sama Tari ntar. Kalian jadi nginep sini kan?”

“Jadi kok, tapi besok pagi langsung balik.” Tim mengekor di belakang Bintang.

Sisa hari itu mereka habiskan untuk mengecek satu-persatu kondisi kesehatan anjing, kucing, serta beberapa kambing dan sapi yang ada di kawasan rumah dan shelter. Dibantu oleh dua staff klinik Tari, semuanya bergerak cepat agar sore hari separuh penghuni shelter selesai mereka vaksin. Luna pun terlihat begitu menikmati pekerjaan baru dan dadakannya ini. Senyumnya tidak hilang sedikitpun sejak ia menginjakkan kaki di sini. Itulah yang menjadi bagian favorit Tim hari ini, pemandangan manis yang belum pernah ia lihat semenjak perkenalannya dengan Luna di ranu kumbolo waktu itu. Dan sore itu pun ditutup dengan memperbaiki beberapa kandang anjing yang rusak. Luna menggendong seekor anjing golden retriever berumur dua bulan yang sedari tadi mengikutinya kemana pun ia pergi.

I think he loves you already.” Ujar Tari sambil mengelus kepala anjing di pangkuan Luna. “Right, Lucas?”

“Aku jadi inget sama Roxy, Kak. Anjingku di rumah. Dia pasti seneng banget kalo kuajak kesini.”

Well, besok-besok kalo main kesini bawa aja si Roxy.”

Tepat ketika matahari sore menghasilkan gradasi warna paling indah di langit, perlengkapan barbeque sudah disiapkan oleh Bintang, sekaligus berbagai macam daging yang siap untuk dibakar.

This is my favorite part, Kak Tari. Sebenernya aku rela mau megangin pantat anjing dan kambing satu-satu ya demi ini. Makan dagiiing!” Tim membakar potongan iga yang aromanya langsung tercium sedap.

“Ah kampret. Emang kamu gak pernah tulus bantuin aku sih daridulu.”

Tim tertawa puas.

“Lain kali kalo Tim gak mau bantuin Kak Tari, hubungi aku aja, Kak. Aku rela kok meskipun gak dibayar.” Sahut Luna.

Oh so sweet of you.”

Bintang kembali dengan membawa beberapa botol bir. “Sorry, tadi belum sempet belanja lagi. Ini sisa yang ada di kulkas. Semoga cukup ya.”

“Itu sih cukup banget kali, Mas.” Tim mengambil satu botol. “Alright, let the party begiiins!”

Langit sore menjadi latar yang cantik untuk empat manusia yang sedang bersantai itu. Tim masih sibuk memanggang potongan daging dan jagung, sementara Bintang menyiapkan api unggun di tengah-tengah mereka. Tari dan Luna pun belum kehabisan bahan obrolan yang sepertinya seru hingga matahari nyaris tenggelam sepenuhnya. Lucas yang tidur di pangkuan Luna mulai menggeliat lelah, dan kemudian tertidur pulas.

Tari melirik jam tangannya. “Aku mau bersih-bersih dan tutup klinik dulu ya? Kalian santai aja di sini.”

“Butuh bantuan, Kak Tari? Biar aku ikut bersih-bersih.” Luna hendak beranjak dari kursinya sebelum dicegah oleh Bintang.

“Nggak usah, Luna. Biar aku aja yang bantu Tari. Ada SOP yang kudu dipatuhi kalo mau bersihin klinik. Dan yang tahu cuma para staff. Udah kalian santai aja.”

Luna mengangguk paham.

“Dan si kecil tengil ini juga kudu balik. Ya kan, Lucas?” Tari mengangkat Lucas dari pangkuan Luna, yang langsung disambut rengekan kecilnya. “Kami ke klinik dulu ya. Tim, ntar kalo selesai diberesin lho ya?” tambah Tari sebelum berjalan menuju kliniknya ditemani Bintang.

“Siap, Bos!” Tim mengangkat dua jagung bakar yang sudah matang. Ia menyerahkan satu untuk Luna. “Eh, serasa de javu deh. Ya gak sih?”

“De javu gimana?”

“Terakhir ketemu kan kita makan jagung bakar, saya juga yang bakarin buat kamu. Eh sekarang makan jagung bakar lagi.” Tim duduk di sebelah Luna.

“Oh iya ya? Saya baru nyadar.”

“Gimana? Gak nyesel kan saya culik hari ini?”

This is the best day ever, Tim.” jawab Luna di tengah-tengah kunyahannya. “Saya seneng banget. Belum pernah sebelumnya dateng ke animal shelter begini. Baru kali ini. Thanks ya, Tim.”

My pleasure, Luna.”

Luna masih asyik menggigit jagung bakarnya. “You have a wonderful family, Tim. Gak heran ya kenapa kamu bisa menikmati hidupmu. Sepertinya keluargamu bisa menerima kamu apa adanya.”

What? Excuse me? Barusan kamu bilang begitu seolah hidup saya gak bisa diterima oleh orang kebanyakan.” Tim langsung protes.

Luna hanya bisa tertawa. “Nooo! Bukan begitu maksudku, Tim. I mean…”

Okay fine. Kamu mengecewakanku, Luna. Kayaknya lain kali kamu gak usah minta jalan-jalan lagi sama saya.” Tim berpura-pura beranjak dari kursi yang langsung dihalang Luna.

“Tiiim, ayolaah, saya cuma bercanda.” Luna menarik lengan Tim sampai terduduk di kursinya kembali.

Tawa Tim pun akhirnya lepas. “I knooow. Saya tahu kok maksudmu. Ya begitulah, orangtuaku membebaskan anaknya mencari pilihannya sendiri. Yang penting bermanfaat untuk orang banyak. Mungkin pekerjaan saya memang gak jelas, serabutan. Tapi selama ini saya bisa bahagia dari itu semua. Saya bisa membantu banyak orang justru karena saya tidak terikat pada satu pekerjaan.”

“Aku jadi penasaran. Kalo namamu Angin Timur, terus nama lengkap Mas Bintang siapa?”

“Pendar Bintang. Kalo nama lengkap Kak Tari, Arungi Lestari.”

Luna hanya bisa melongo. “Sumpah, bahkan nama keluargamu pun bagus-bagus. Mungkin itu salah satu faktor yang bikin keluargamu begitu menikmati dan berdamai sama hidup ya?”

Tim mengerutkan kening sambil berpikir. “Yaaah… mungkin. Bisa jadi itu alasannya. Faktor nama yang katanya adalah doa kan? Who knows.”

“Kamu bakal susah ntar kalo nyari jodoh, Tim.” Luna menggigit jagungnya lagi.

“Kok bisa?”

“Ya kalo cari istri, kan namanya harus yang sealiran sama keluargamu. Biar satu genre, biar hokinya jalan terus.” Celetuk Luna lagi.

Tim hanya bisa tertawa terbahak. “Ya nggak lah, Luna. Kalo gitu caranya saya jadi jomblo tua dong. Soal Mas Bintang yang jodoh sama Kak Tari ya itu kebetulan aja kali. Atau ada campur tangan semesta juga mungkin.”

“Itu dia. Saya lebih percaya alasan yang terakhir. Mungkin memang ada campur tangan semesta dalam urusan jodoh di keluargamu, Tim.” Luna membuang jagungnya ke dalam api unggun.

“Kalo boleh tahu, kenapa kamu tiba-tiba nagih tiket jalan-jalan gratis dari saya?” tanya Tim tiba-tiba.

Luna hanya terdiam mendengar pertanyaan itu.

“Kan waktu itu saya bilang kalo tiket itu berlaku hanya dalam keadaan suntuk atau butuh pelarian.” Sambungnya lagi.

Luna berdeham sejenak. “Ehm… it’s complicated lil bit, actually. I don’t know how to tell you.”

Just tell me. No matter how hard it is, just tell me something. Setidaknya saya punya alasan kenapa harus menghibur seorang Luna hari ini.”

Luna membalas tatapan mata Tim yang teduh. Ia baru menyadari bahwa sepasang mata itu punya warna abu-abu yang unik, terlihat mencolok walau hanya dengan penerangan api unggun. “Panjang lho ceritanya.”

Tim melihat jam tangannya. “Malam pun masih panjang, Luna.” Ia merebahkan punggungnya di kursi dan menyilangkan kaki, bersiap mendengarkan apapun yang akan Luna ceritakan.

Akhirnya Luna ikut merebahkan punggungnya dan menatap langit yang cerah. “Kadang saya sendiri juga bingung kalo disuruh cerita, Tim. Tapi kalo bisa diambil kesimpulan dari semua keresahan yang saya alami sih… saya kangen banget sama Dimas.”

Tim menoleh. Mendapati Luna yang tenggelam dalam lamunannya tentang Dimas.

“Udah banyak yang saya lakukan untuk mengalihkan perhatian termasuk akhirnya memutuskan untuk kerja. Maybe I love him that much so i can’t just simply move on.” Luna meneguk birnya. “Sementara keluarga Dimas katanya rela kalau saya mau cari penggantinya. Rasanya gak segampang itu mengatasi trauma saya.”

“Dia jangkarmu, Luna. Mau mati atau hidup, dia tetap jangkarmu sampai kapanpun. Saya rasa selama ini kamu bertahan karena ada Dimas di hatimu. Bukan karena kamu bekerja atau mengalihkan perhatian, tapi cintamu buat Dimas itu yang menjadi alasan kamu tetap kuat seperti sekarang.”

You’re right. Tapi di satu sisi saya juga gak pengen terus-terusan kayak begini, Tim. Seandainya Dimas beneran bisa lihat saya sekarang, dia pasti kecewa berat sama saya.”

“Dimas pasti bangga sama kamu, Luna. Bertahan sampai sejauh ini gak gampang. I really know what you feel. Bertahan ketika ditinggalkan memang gak akan pernah jadi satu perkara yang mudah.”

“Oh ya? Kenapa tiba-tiba kamu jadi ikutan mellow gitu? Pernah ditinggal juga?” ledek Luna sambil terkekeh geli.

“Ehm… lebih tepatnya dicampakkan mungkin? Udah lama sih, tiga tahun yang lalu.”

Tawa Luna langsung menghilang. “Oh, No. I’m sorry, Tim. Ya ampun, harusnya saya gak ngeledek kamu barusan. Maaf ya.”

That’s fine, Luna. Saya sudah bisa menerimanya kok.”

What happened?”

Tim menghela napas sejenak. “Yaah, sebenernya waktu itu gak ada masalah apa-apa sih menurut saya. Cuma tiba-tiba dia menjauh waktu saya bilang soal rencana pernikahan. Ternyata gak lama kemudian, baru saya tahu kalo ada orang lain. The end.” Tim menyimpulkan kisah lamanya sesingkat mungkin agar tidak kembali merasakan sensasi menyakitkan itu.

Giliran Luna yang merasa iba.  “Saya rasa kita sama-sama jadi korban dari kehilangan yang tiba-tiba ya, Tim?”

“Dulu saya selalu berpikir bahwa saya ini korban, Na. Selalu nyalahin dia karena nyakitin saya, menyalahkan situasi karena terasa gak adil buat saya. Tapi mungkin justru itu yang bikin saya gak kemana-mana. Sekarang saya gak mau menyebut diri saya korban, karena kesannya selalu saya yang tersakiti.”

“Setidaknya dari yang saya lihat, kamu sudah berhasil melaluinya. Berhasil kembali jadi Tim yang sesungguhnya kan?”

Tim tersenyum. “Angin Timur selalu punya arahnya sendiri.”

Luna tertawa kecil. Ia kembali menatap langit yang kini sudah berhias bintang-bintang. Tim mengikuti pandangan Luna. “Selain dapet daging enak, ini keuntungan kedua kalo main kesini, Na. Pemandangan langit dan bintangnya yang cantik banget.”

Couldn’t agree more, Tim. Pasti udah banyak cewek yang kamu ajak kencan kesini ya?”

Nope, kamu adalah perempuan kedua yang saya bawa kesini.”

“Oh ya? Siapa yang pertama?”

“Ibu saya dong.”

Luna tertawa lagi. ia masih menatap bintang-bintang di atas. “Saya suka lihat langit begini. Dulu Dimas pernah janji untuk ngajak saya ngelihat langit paling cantik di hidupnya, langit pagi di puncak mahameru. Tapi gak pernah kesampaian.”

Tim terkejut dengan perkataan Luna. “Kamu belum pernah ke puncak mahameru?”

Luna menggeleng. “Waktu Dimas naik kesana terakhir kali, sebenernya saya berencana ikut. Tapi waktu itu saya tiba-tiba sakit, akhirnya gak jadi. Tapi Dimas tetep pergi karena bawa rombongan. Dia bilang setelah perjalanan itu, dia janji bakal bawa saya ke puncak, hanya kami berdua. Tapi ternyata itu malah jadi hari terakhir Dimas di sana.”

“Jadi itu yang bikin kamu gak berani naik puncak sampai sekarang?”

“Saya takut, Tim. Saya yakin langit pagi di atas sana pasti sangat cantik. Tapi langit itu yang menjadi saksi kecelakaan Dimas. Saya cuma ngeri aja membayangkan harus datang ke tempat Dimas hilang.” Luna kembali merenung dalam lamunannya. “Jangankan mau pergi ke puncak, tiap tahun saya pergi ke ranu kumbolo aja rasanya…” Luna mengambil napas dalam-dalam. Tidak sanggup meneruskan apa yang ia rasakan. “Bahkan saya berencana mulai tahun ini berhenti ziarah ke ranu kumbolo lagi, Tim.”

 “What? Kenapa?”

“Mungkin dengan begitu saya bisa belajar untuk merelakan Dimas, meskipun butuh waktu lama.”

“Yang namanya merelakan itu bukan lagi masalah waktu, Na. Tapi usaha. Jangan pernah kamu pasrahin perasaan dan hatimu pada waktu. Gak akan selesai.”

Angin yang mulai berhembus seolah mengiringi setiap perkataan Tim. Luna hanya bisa terdiam. Ia sendiri masih ragu apakah keputusannya untuk berhenti berziarah ke semeru adalah keputusan yang tepat.

“Gimana kalau tahun ini kamu tetap pergi ke semeru, tapi bukan hanya untuk Dimas, melainkan juga untuk kamu sendiri? Saya bersedia temani kamu sampai puncak.”

Luna langsung menggeleng. “Nggak, Tim. Nggak mau. Hati saya udah cukup remuk tiap dateng ke plakat Dimas di Ranu Kumbolo, saya gak mau kalo harus dateng ke tempat dia kecelakaan. Saya nggak mau.”

Perkataan Luna tidak bisa menyurutkan rencana Tim. “Gimana kalo ternyata yang kamu butuhkan selama ini ada di atas sana, Luna? Gimana kalo selama ini kematian Dimas gak seperti yang kamu kira?”

“Tim, cukup. Kamu gak tau apa-apa soal kematian Dimas. Kamu gak tahu gimana rasanya hati saya tiap kali saya harus berjalan naik kesana. Saya udah gak punya tenaga lagi, Tim. hati saya udah gak kuat.” Luna tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya. Sudah kesekian kali ia menolak ajakan untuk pergi ke puncak, tapi entah mengapa ajakan dari Tim kali ini lah yang membuatnya paling jengah. Luna beranjak dari kursinya hendak meninggalkan Tim.

“Saya memang gak tau apa-apa soal Dimas, tapi saya tau tentang kamu, Luna.”

Kata-kata Tim berhasil menahan langkah Luna. Ia pun berbalik.

“Saya suka melihat Luna yang sibuk di kantor, Luna yang sibuk jadi kordinator acara, dan Luna yang gak berhenti senyum hari ini. Tapi saya gak suka ketika melihat kamu di Ranu Kumbolo waktu itu, Luna.”

Luna mematung. Tidak pernah ia bayangkan kalimat itu akan keluar dari mulut Tim bersamaan dengan semilir angin yang lewat, seolah alam mengamini segala omongan Tim.

“Percaya sama saya, Luna. Kehilangan bukan berarti selamanya membuat kamu harus menghindar. Justru kamu harus mencari. Mencari dimana kamu bisa menemukan ketenangan lagi.”

Tim mendekat ke hadapan Luna. “Semeru, Ranu Kumbolo, adalah tempat favorit saya di dunia ini. Saya juga ingin sosok Luna ketika sedang di Semeru, adalah versi Luna favorit saya.”

Mata abu-abu itu kembali menyita tatapan Luna, sekaligus menyita kata-kata dari mulutnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

“Kita berangkat sampai puncak ya?” Tim menawarkannya sekali lagi.

Luna merasakan matanya yang mendadak kabur karena air matanya tak bisa ia bendung. “Kamu pun belum tahu saya sejauh itu, Tim. Percayalah, kamu gak tahu apa-apa.”

Sedetik kemudian Luna berpaling. Berjalan menuju rumah Tari dan Bintang. Ia meninggalkan Tim sendirian di tempatnya berdiri. Luna mengusap air matanya yang mulai berjatuhan. Malam ini ia menceritakan keresahannya, dan sebagai jawaban ia harus kembali berhadapan dengan ketakutannya lagi.

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

Leave a Reply