Sepasang Jangkar (5)

Taman belakang rumah Dimas sore itu jadi terlihat lebih menenangkan dengan sinar matahari yang berwarna jingga terang. Dini dan Luna duduk di tepi kolam ikan, menyelupkan kaki mereka ke dalam kolam sambil memberi makan ikan-ikan.

“Yakin mbak Luna udah siap?” tanya Dini.

“Mbak Luna gak berangkat sendirian kok, Din. Kali ini ada yang nemeni.”

“Bukan itu yang Dini tanyain, Mbak.”

Sampai detik ini pun sebenarnya Luna masih tidak tahu jawaban dari pertanyaan Dini. “Gak tau, Din. Yang Mbak tahu, Mbak gak boleh terus-terusan begini. Mbak Luna harus segera menyelesaikan kegundahan Mbak sendiri, seperti yang pernah kamu bilang waktu itu, kan?”

Dini mengangguk mengerti. “Asal itu yang bisa bikin Mbak Luna tenang, Dini dukung, Mbak.” Ia menatap bayangan wajahnya di kolam. Banyak sekali yang bilang kalau Dini dan Dimas itu seperti saudara kembar karena wajahnya yang begitu mirip satu sama lain. Dini justru baru menyadarinya ketika Dimas sudah pergi. “Seandainya Dini bisa ikut, Mbak. Dini pengen banget kesana. Masa selama ini Dini cuma ngeliat dari foto-foto yang dikirim Mbak Luna. Tapi yaah… ibu belum bisa ditinggal.”

Luna tidak menjawab apa-apa. Ia justru merasa sebaliknya, ingin rasanya ia bisa selalu menemani orang-orang terdekat Dimas termasuk ibunya. Tapi yang ia lakukan selama ini justru merawat memori dan segala kenangan yang ditinggalkan oleh Dimas, menjaganya agar tetap hidup untuk dirinya sendiri. “Kita berdua sama-sama mengenang Mas Dimas, Din. Di rumah ini, di Semeru, dua-duanya bisa menghidupkan kenangan kita bersama Mas Dimas. Mbak rasa kenangan dia sama kamu akan tetap hidup di rumah ini, gak perlu jauh-jauh harus ke Ranu Kumbolo.” Luna memalingkan wajahnya. “Dan kenangan dia bersama Mbak Luna masih melekat di tempat itu.”

“Emang Mbak Luna berangkat sama siapa?”

Luna menoleh. “Ehm… sama temen Mbak Luna.”

“Pasti temen spesial ya?” Dini tersenyum. “Kalo bukan temen spesial rasanya gak mungkin bisa bujuk Mbak Luna untuk berangkat kesana lagi, sampe puncak pula.”

“Yaah… setidaknya dia bisa bikin Mbak Luna yakin, Din.”

“Siapa namanya?”

“Tim. Angin Timur.”

Dini mengangguk. “Bahkan namanya pun seunik namamu, Mbak.”

“Jangan terlalu berharap, Din. Mbak Luna sendiri masih bimbang.”

“Dini tahu, Mbak. Setidaknya ada seseorang yang perhatian dan ikut menjaga Mbak Luna, Dini ikut seneng.”

Dini menaburkan makanan ikan yang langsung diserbu oleh kumpulan ikan koi di sela-sela kakinya dan Luna. “Asal Mbak Luna gak berhenti percaya bahwa cinta sejati itu masih ada.”

Luna melamun menatap ikan koi di kolam. Benarkah cinta sejati itu masih bisa ia rasakan sama seperti dulu, Luna sendiri masih meragukan itu.

***

Malam ini para mahluk kahyangan masih lengkap berkumpul di kantor Langit menyelesaikan revisi yang didapat setelah rapat dengan klien. Luna, Ayu, Jaka, dan Yudi masih berkutat menghadap layar komputer masing-masing. Reno pun ikut duduk di sebelah Jaka membantu menyelesaikan gambar-gambar digital yang masih banyak.

“Yud, masih ribet gak?” tanya Reno.

“Gak juga, Mas. Tinggal dikit lagi kok. Kenapa?”

“Kita keluar dulu deh. Beli makan. Sekalian nih nyetor desain ke percetakan sama Jaka. Mobil masih di luar kan?”

“Masih, Mas. Yaudah aku siapin mobilnya kalo gitu.” Yudi beranjak dari kursinya. “Aku tunggu di mobil ya, Mas.”

“Oke. Ibuk-ibuk mau dibungkusin apa? Kita mau ke foodcourt biasanya.” Tanya Reno sambil mengenakan jaketnya.

“Aku siomay aja deh, Mas. Sama jus jambu.” Sahut Luna.

“Siap. Ayu pengen dibeliin apa?”

“Ehm… kayak biasanya aja deh, Mas.”

“Tuh, Booos. Kayak biasanyaa. Ceileeh udah biasa keluar berdua aja ni ternyata.” Ledek Jaka sambil lalu.

Reno berdeham kikuk. “Oke deh, kalian gak apa-apa kan ditinggal bentar? Kalo ada apa-apa kabari ya.”

“Siap, Mas.” jawab Luna tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Ia melirik Ayu sekilas. “So, I guess everything went smooth, then.”

What is?”

“Kamu sama Mas Reno.”

Well…” Ayu melepas kacamatanya. “Paling nggak sampai detik ini dia tetep berkesan buatku, Na.”

I can see that. Dari cara kalian saling liat-liatan udah gak bisa bohong kali, Yu.” Keduanya tertawa. “Gak perlu ditutup-tutupin lah, Yu. Emang kamu gak inget siapa yang awalnya curiga kalo Mas Reno naksir kamu di saat kamunya justru baru ngeh berapa lama kemudian. Aku sama anak-anak santai aja kok kalo emang kalian berdua mau serius. Ikut seneng bahkan.”

“Iya. But, you know Reno lah, Na. Dia tetep ngerasa gak enak sama yang lain.”

Luna mengangguk paham. “Jadi… kamu kepikiran buat resign?”

Ayu tidak langsung menjawab. Ia menatap Luna seakan mencari-cari penjelasan yang tepat. “Sempat kepikiran begitu. Tapi aku belum memutuskan.”

“Tapi Mas Reno beneran mau serius sama kamu kan?”

Ayu tersenyum dan mengangguk.

“Kalo memang resign dari kantor adalah cara terbaik untuk masa depan kalian, just do it, Yu. Jangan sampe kamu berat mau resign cuma gara-gara gak enak sama aku dan anak-anak.”

I told you, Luna, aku belum memutuskan. Aku harus ngobrol lagi sama Reno soal itu.”

Luna mengangguk dan tertawa pelan. “Sekian tahun single, susah move on dari mantan, sampe sok blind date lewat online dating segala, eeh kecantolnya malah sama bos sendiri.”

Ayu terbahak. “Kali ini aku beneran percaya sama pepatah kalo jodoh itu biasanya justru orang-orang yang ada di sekitar kita, Na.” Keduanya tertawa. “Kamu sendiri gimana?”

Luna mengerutkan kening. “Aku kenapa?”

“Tim. Dia jadi nemeni kamu ke Semeru kan?”

Luna mengangguk. “Jadi kok.”

“Aku seneng kalo kali ini kamu gak perlu sendirian naik kesana, Na. Biar ada yang jagain.”

Luna berusaha tersenyum.

Anything you said to me before, can you do the same for me?” pinta Ayu.

And… what exactly did I say to you?”

Ayu menggeser kursinya lebih dekat ke Luna. “Jangan jadi bego. Kamu bener, Na. Mungkin karena aku udah saking begonya urusan hati, sampai-sampai cowok macam Mas Reno aja bisa luput dari radarku. Aku gak pengen kamu ngelakuin kebodohan yang sama, Luna.”

“Ehm… ini kamu masih ngomongin soal Tim?”

Of course, Alunan Samudera!” ujar Ayu gemas sendiri. “Can you just admit it, that you love him already? Bahwa seorang Angin Timur sudah berhasil menerbangkan hatimu sekali lagi… just admit it, please.”

Luna mengusap wajahnya. “Hatiku rasanya ketarik ke dua kutub, Yu.”

I know, kutub Dimas dan kutub Tim, kan? Dan berhubung Dimas sudah lama pergi, you really have to get over it and go to Tim instead.”

Luna terdiam. Ini pertama kali ia melihat Ayu segemas itu menasehatinya. Apakah memang perasaan Luna sudah serumit itu sampai-sampai Ayu ikut tak tahan melihatnya. “Itulah kenapa aku harus ke Semeru lagi, Yu. Aku ingin menuntaskan apa-apa yang bikin hatiku gak enak.”

Can you do that?” Ayu menatap Luna lekat-lekat. “Jangan jadi bego, can you do that?”

Luna mengangguk dan tersenyum. “Anyway, soal hati bukannya emang selalu bikin orang jadi bego ya, Yu?”

“Iya sih, tapi begonya dikit aja, gak usah kebangetan. Udah tahu ada laki cakep nan perhatian macam Tim sih ya jangan sampe lolos, Na.”

“Sialan.”

***

Tim :

Gak perlu bawa tenda, sleeping bag, peralatan masak sama bahan makanan. Biar aku yang siapin semuanya.

Luna membaca pesan Tim sekali lagi sambil melanjutkan packing. Dengan berangkat berdua Tim, barang bawaan Luna jauh lebih sedikit dan ringan dari biasanya. Sebagian besar barang-barang penting untuk keperluan makan dan tidur sudah disediakan oleh Tim. Luna mengecek carriernya sekali lagi, yang kini berat bawaannya hanya setengahnya dibanding tahun lalu ia ke Ranu Kumbolo sendirian.

Oke. Sudah selesai kok packingnya.

Luna membalas pesan Tim. Kemudian ia merebahkan badannya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Kali ini tak ada yang ingin ia sampaikan ke langit-langit kamarnya sebelum ia berangkat ke Semeru. Perasaan ini masih asing. Biasanya ia akan berdoa untuk mendapatkan ketenangan di Ranu Kumbolo nanti. Tapi kali ini ia tak sekadar berhenti di plakat Dimas. Kali ia Luna akan berjalan lebih jauh, lebih tinggi, dan membutuhkan keberanian serta kekuatan yang lebih besar pula. Luna belum bisa membayangkan apa yang akan ia temui dan ia rasakan nanti di sana.

Tim :

Besok saya jemput jam 5 pagi. Abis ini langsung tidur ya? Biar cukup istirahat.

Luna membaca balasan dari Tim. Rasanya kali ini Luna tidak perlu memaksa dirinya sendiri untuk merencanakan keberangkatannya ke Semeru. Jangan-jangan kalau besok pagi pun Luna terlambat bangun, Tim akan dengan senang hati menggotongnya masuk ke dalam mobil.

Mas Yayan :

Berangkat besok pagi kan, Na? Ketemu di pos ya. Hati-hati, cek lagi bawaannya.

Luna melirik handphonenya sekali lagi. Kali ini ia merasa beruntung perjalanannya dibantu oleh dua laki-laki yang begitu perhatian dengan segala kebutuhan Luna. Hanya satu hal yang perlu ia antisipasi. Setiap langkahnya menuju Ranu Kumbolo bagaikan ritual yang begitu sakral untuk hatinya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika kali ini ada satu orang yang ikut menemani langkahnya, seseorang yang justru berhasil meruntuhkan benteng pertahanannya secara perlahan. Luna meraba cincin kayu di jari manisnya, dan menciumnya sekilas. Ia hanya berharap bahwa semuanya akan segera tuntas begitu perjalanan ini selesai.

***

Setelah memarkir mobil jeepnya di kawasan Ranupani, Tim bergegas menurunkan barang-barang di jok belakang, dibantu Luna. Mereka pun langsung berjalan menuju pos pemeriksaan dengan carrier di punggung masing-masing. Luna melirik penampilan Tim sekilas, yang terlihat tidak jauh berbeda dari pertama kali ia bertemu dengan Tim tahun lalu. Yang sedikit membedakan hanyalah kacamata hitamnya yang sukses membuat penampilannya mencuat tanpa ia harus berusaha. Luna segera berpaling, mencoba menepis perasaan yang tiba-tiba menganggu hatinya. Sampai di pos, mereka berdua langsung disambut oleh Mas Yayan. Melihat Luna dan Tim datang bersama-sama, Mas Yayan mulai curiga.

“Wah, sepertinya ada sesuatu yang kulewatkan nih.”

Luna dan Tim berpandangan. “Kali ini saya bakal ditemani Tim, Mas.” ujar Luna.

Tim mengangguk mantap. “Sampai puncak.” tambahnya.

Mas Yayan mengangkat alisnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Oh ya? Beneran, Na?” ulangnya ke Luna, meminta klarifikasi.

Luna mengangguk pelan. Mas Yayan melirik Tim penuh selidik. “Abis dirayu apa sama Tim?”

Luna tertawa pelan. “Ini keputusanku sendiri, Mas. Kebetulan Tim bersedia nemenin.”

Mas Yayan ikut tertawa. “Yaudah lah, yang penting ada yang bisa jagain kamu kalo memang mau ke puncak. Yang jelas…” Mas Yayan menepuk pundak Luna. “Perjalananmu gak akan sama seperti sebelum-sebelumnya. Aku cuma mau memastikan kalo kamu bener-bener siap. Apapun yang terjadi, ikuti hatimu, Luna. Dan percaya sama Tim, Semeru itu udah jadi rumah kedua dia. Kamu ditemeni sama orang yang tepat.”

“Tuh kan, kamu pasti aman sama saya.” Sahut Tim.

Setidaknya siang itu menjadi permulaan bagus untuk Luna menemukan sedikit keberaniannya lagi. “Iya, Mas. Semuanya udah siap kok. Kita tinggal berangkat aja.”

“Oke kalo gitu. Tim, ikut aku ke pos bentar. Biar Luna tunggu sini aja dulu.” Mas Yayan berjalan menuju pos pemeriksaan diikuti Tim.

“Rencana nginep berapa hari, Tim?” tanya Mas Yayan sambil menyerahkan formulir ke hadapan Tim.

“Rencana sih malam ini bisa sampe Arcopodo. Besok pagi ke puncak, turun, sore nginep Kumbolo dulu, abis itu turun ke sini.” Ucap Tim sambil sibuk melengkapi formulir.

Mas Yayan menggeleng. “Terlalu cepet, Tim.”

“Terlalu cepet gimana? Itu sih speed normal.”

“Iya buat kamu, buat orang lain. Tapi nggak untuk Luna.”

Tim mengerutkan kening.

“Gini, Tim.” Mas Yayan memelankan suaranya. “Kamu udah tahu kan cerita masa lalunya Luna?”

Tim mengangguk.

“Selama ini dia cuma sampe Kumbolo, gak pernah lebih. Aku rasa untuk perjalanan setelah Kumbolo, apalagi sampe puncak, akan berat buat Luna. Kalo memang dia bisa ngikuti kecepatanmu, silahkan. Tapi kalo nggak, atau bahkan mungkin dia berubah pikiran gak pengen sampe puncak, jangan dipaksa. Oke?”

Tim menatap Luna yang duduk di depan pos. Ia mengangguk. “Iya, Mas. Nanti biar aku omongin sama Luna dulu.” Tim menyerahkan formulir yang sudah terisi lengkap kembali ke Mas Yayan.

“Yaudah, kalian bisa berangkat sekarang kalo emang mau langsung jalan. Hati-hati ya, Tim. Jagain Luna.”

Tim mengacungkan jempolnya. “Pasti, Mas. Tenang aja.”

***

Tim mengikuti langkah Luna yang begitu cepat dan lincah. Bahkan ketika hampir sampai di pos tiga pun, kecepatan kaki itu tidak berkurang. Tim tidak menyangka tubuh Luna akan setangguh itu. “Kamu gak mau istirahat dulu, Na?”

“Nggak, Tim. Sekalian aja istirahatnya di Ranu Kumbolo.” Luna menoleh. “Kenapa emangnya? Kamu capek?” tanyanya masih sambil terus berjalan.

“Oh, nggak kok. Lanjut aja gak apa-apa.” sahut Tim sekenanya. Sebenarnya kerja jantungnya sudah mulai protes sejak melewati pos dua lalu. Ia menyesal melewatkan persiapan tubuhnya sebelum melakukan perjalanan ini, karena sedikit menyepelekan kekuatan kaki Luna. Setelah sekian lama tidak menantang kakinya untuk berlari kencang, kini ia harus menahan nyeri di lutut, betis, dan gengsinya untuk Luna.

Dan ada alasan tertentu mengapa Luna ingin melaluinya secepat dan sehening mungkin. Ia tidak ingin Tim mengetahui sisi paling rapuhnya yang selalu muncul di tempat ini. Menjaga sedikit jarak dengan Tim mungkin akan membuatnya lebih bisa mengontrol emosi. Ia pun bersyukur Tim tidak terlalu banyak mengajaknya bicara, apalagi mengungkit kenangannya di tempat ini.

Keduanya pun masih melangkah di jalur yang sama, dengan berusaha untuk menutupi kelemahannya masing-masing. Perkara ini memang tidak mudah apalagi untuk Luna, berjalan menuju tempat mendiang suaminya, ditemani laki-laki yang justru membuat kebekuan hatinya perlahan kembali mencair.

Sisa perjalanan mereka habiskan tanpa berbincang lagi. Keduanya melangkah lincah bagai kaki monyet yang memanjat pohon. Ketika danau Ranu Kumbolo sudah terlihat dari pandangannya, Luna baru mengurangi kecepatan. Perlahan ia mengembalikan napasnya yang memburu.

“Jujur ya, saya menyesal sebelum kesini gak sempet olahraga dulu. Rasanya saya kayak ngikutin monyet lari.” Terdengar suara napas Tim yang berat dari belakang Luna.

Luna tertawa kecil. “Saya menangkap ada nada meremehkan sekaligus kagum dari perkataanmu barusan.”

“Kalo memang kamu suka saya ibaratkan seperti monyet, ya anggap saja saya sedang memuji kamu.”

“Saya lebih suka musang.” Jawabnya asal.

Mereka berdua berjalan menyusuri danau, mencari-cari tempat untuk sejenak beristirahat. Akhirnya Luna menurunkan carriernya di bawah pohon besar, tepat di sisi danau. Tim mengikutinya.

“Makan dulu ya? Kira-kira sejam lagi kita lanjut jalan.” Tim membongkar tasnya. Mengambil kotak berisi sandwich dan perlengkapan masak lainnya.

Luna hanya diam sambil memandang danau di depannya. “Menurutmu, apa yang bakal saya hadapi di atas sana, Tim?”

Tim menatap Luna. “Mungkin ini memang sudah kesekian kalinya saya ke Mahameru. Bahkan saya sudah hapal setiap jengkalnya. Tapi, saya merasa setiap kali kembali ke sini selalu menghadapi sesuatu yang berbeda, Na. Kalo kamu tanya begitu ke saya, jujur saya gak tahu harus jawab apa. Karena saya sendiri juga gak tahu apa yang akan saya hadapi kali ini.”

Luna menatap tanjakan cinta yang ramai dilalui pendaki. “Tanjakan cinta. Selama ini saya cuma sampai sejauh itu.”

“Saya tahu. Yang jelas, saya akan memastikan kita aman dan baik-baik saja sampai puncak. Asal kamu percaya sama saya.” Tim memberikan sepotong sandwich dan sebotol air minum untuk Luna.

Setelah mengisi perut dan cukup istirahat, Tim membereskan perlengkapannya kembali dibantu Luna. “Kita jalan sekarang?” tanya Tim.

Luna mengangguk dan memanggul carriernya. “Saya mampir tempat Dimas dulu, Tim.”

“Oke, saya temani.”

Sebenarnya Luna tidak mengharapkan penawaran itu dari Tim. Ia ingin kali ini berbicara berdua saja dengan Dimas. Tapi rasanya Tim tidak peduli, ia akan tetap berada di dekat Luna kemanapun Luna pergi.

Mendekati tanjakan cinta, keduanya membelokkan langkah ke plakat Dimas. Luna menunduk menatap ukiran nama itu. Terlihat lebih kusam dibanding tahun lalu. Luna masih memandanginya tanpa bersuara. Tim melirik Luna sekilas, kemudian ia meraih pisau lipat dari balik jaketnya dan mengukir garis keenam tepat di bawah nama Dimas.

Sudah enam tahun berlalu, Dim. Apakah selama ini kamu selalu melihatku di sini? Aku kangen banget sama kamu, Sayang. Kali ini aku akan pergi sampai puncak. Kamu yang selalu bilang bahwa kamu bisa menemukan makna namaku di atas sana. Aku ingin menemukan kedamaian itu, yang selalu kamu rasakan di puncak. Bantu aku ya, kuatkan aku sampai ke atas sana.

“Luna?” Tim membuyarkan lamunan Luna.“Kamu gak apa-apa?”

Luna mengangguk sekilas. “Kita berangkat sekarang.” Ia berjalan lebih dulu.

Tim masih berdiri di tempatnya dan melirik plakat Dimas. “Kalo saya jatuh cinta sama istrimu, jangan gentayangan ngejar-ngejar saya ya?” gumam Tim lirih. Ia pun bergegas menyusul Luna.

***

Langkah Luna kali ini tidak secepat sebelumnya. Seolah setiap langkahnya ia harus mengantisipasi apa yang akan ia temui nanti. Dengan langit yang semakin menggelap, Luna tidak bisa menutupi raut wajahnya yang terlihat ragu dan was-was. Ia menyalakan headlampnya.

“Arahin sentermu ke jalan setapak. Hati-hati kalo ada lubang atau kayu besar.” Ujar Dimas kala itu. Waktu pertama kali Dimas mengajak Luna menuju Ranu Kumbolo.

“Emang masih jauh ya, Dim?” tanya Luna sambil mengatur napasnya yang mulai naik turun.

“Dikit lagi. “

“Daritadi kamu bilang dikit lagi, dikit lagi, tapi gak nyampe-nyampe juga deh.”

“Nyatanya emang bener begitu kan? Tiap kamu melangkah kan jaraknya jadi terus berkurang, ya dikit lagi dong.”

“Sepertinya aku mulai menyesal mengiyakan ajakanmu kesini.”

Dimas tertawa. “Sekarang boleh menyesal. Tapi nanti kalo sudah sampe Kumbolo, pasti kamu berubah pikiran.”

“Begitu sampe di Ranu Kumbolo, aku cuma pengen tidur.” Sahut Luna kesal.

Luna kembali tersadar dari lamunannya. Seketika ia langsung berhenti dan duduk di bawah pohon dengan napas tersengal.

“Na? Luna, kamu kenapa?” Tim ikut panik melihat wajah Luna yang mulai pucat.

Luna masih berusaha untuk mengatur napasnya. “Mi-minum, Tim.”

Tim segera meraih botol minum dan memberikannya pada Luna. “Kita istirahat dulu ya?”

Luna menggeleng. “Nggak, lanjut aja pelan-pelan.”

Tim merengkuh wajah Luna. “Bener kamu gak apa-apa? Saya gak akan lanjut jalan kalo kamu merasa gak sanggup.”

Disinari cahaya lampu senter di kepalanya, Luna bisa melihat wajah Tim yang betulan khawatir melihat kondisinya. “I’m fine, Tim.”

“Oke. Tapi kali ini kita jalan pelan-pelan aja ya.” Tim membantu Luna berdiri.

Mereka melanjutkan langkahnya menembus malam yang semakin pekat. Luna masih berusaha untuk menjernihkan pikirannya. Sensasi itu datang lagi. Tiba-tiba pikirannya direnggut oleh kenangan yang memaksa hadir di benaknya, tanpa permisi, tanpa henti.

***

“Suka?” Dimas ikut duduk di samping Luna, menikmati matahari terbit di Ranu Kumbolo.

Luna mengangguk mantap. “Bikin jatuh cinta.”

“Nanti kalo ada kesempatan kesini lagi, kamu harus ngeliat matahari terbit dari tempat yang lebih tinggi.”

“Di puncak sana?”

“Iya. Bahkan kamu bisa menemukan arti namamu sesungguhnya di atas sana.”

Luna terkejut. “Oh ya? Masa sih? Kayaknya papa mamaku gak pernah bilang kalo arti namaku kudu dicari susah-susah ke Semeru.”

Dimas terbahak. “Ya kan itu menurut orang tuamu. Kalo menurutku sih pemandangan di atas sana tuh sebagus namamu.”

Luna mengerling ke arah Dimas. “Jadi itu yang ada di pikiranmu waktu berdiri di puncak Mahameru? Kamu langsung memikirkanku?”

Dimas menatap Luna lekat dan mengangguk. “Bikin jatuh cinta.”

Luna membuka matanya perlahan. Dingin yang menusuk serta mimpi yang tiba-tiba datang mengetuk membuatnya terjaga. Ia masih terbaring di dalam tenda berwarna kuning. Dari sudut matanya, terlihat Tim sedang duduk menghangatkan diri di depan tenda. Luna berusaha untuk duduk. Sekian jam perjalanan yang ia tempuh dengan paksa membuat kaki kirinya penuh luka lecet dan sedikit membengkak. Ia mengerang menahan sakit.

Mendengar suara Luna, Tim langsung masuk ke dalam tenda. “Kenapa, Na? Kakimu masih sakit?”

“Yaah… agak kaku, Tim.” Luna mencoba meluruskan kakinya.

Tim meletakkan kaki kiri Luna di pangkuannya. “Agak kaku gimana, orang udah memar begini. Coba digerakin.”

Luna menggerakkan kakinya perlahan. “Masih bisa kok, Tim.”

Tim menghela napas. “Luna, kalo memang kamu gak sanggup buat lanjut, kita gak usah naik sampai puncak ya?”

“Udah sejauh ini, Tim. Puncak tinggal sedikit lagi kan?”

“Iya, memang puncak tinggal dikit lagi. Tapi trek dari sini sampai ke puncak itu yang paling berat, Na. Yang kita lewatin tadi, jalanan nanjak yang nyaris bikin napas abis itu, itu belum ada apa-apanya dibanding yang bakal kita lewati nanti.” Tim meraba kaki kiri Luna yang memar. “Apalagi kondisi kakimu begini.”

Luna terdiam sejenak. “Kira-kira apa yang bisa bikin kaki saya kuat lagi? Setidaknya untuk menahan nyerinya.”

“Ehm… gimana kalo saya pijat dulu biar otot kakimu gak kaku lagi, abis itu sebelum berangkat kita perban atau pake spray untuk ngurangi nyeri, mungkin setelah itu kakimu bisa lebih nyaman buat jalan. Gimana?”

Luna mengangguk. “Then do it.

“Na…”

Do it, Tim. Kamu akan tetep temani saya dalam kondisi apapun kan?”

Tim tidak bisa membantah. Ia meraih sebotol minyak dari saku tas dan mulai memijat kaki Luna perlahan. Mungkin cerita orang-orang yang mengatakan bahwa perjalanan mendaki gunung akan menunjukkan sejujur-jujurnya karakter manusia, dan bisa membolak-balikkan keinginan hati itu benar adanya dan sungguh mereka rasakan sekarang. Tim yang sebelumnya bersikeras ingin membawa Luna sampai puncak, kini justru menunjukkan kekhawatirannya. Sedangkan Luna yang membutuhkan waktu lama untuk menepis ketakutannya, kini tiba-tiba menemukan kekuatannya yang entah datang dari mana. Semuanya terjadi begitu saja di sini.

“Sejam lagi kita mulai naik ke atas, Na. Semoga kakimu mulai membaik.” Tim membalut kaki Luna dengan perban.

Luna menatap kaki kirinya yang kini dibalut perban. “Bawa saya sampai puncak ya, Tim? Bagaimanapun caranya.”

“Saya usahakan, Na.” jawab Tim lembut.

Segala potongan kenangan tentang Dimas yang mendadak hadir di benaknya mungkin menjadi kekuatan tersendiri untuk Luna. Dimas seolah ikut menuntunnya untuk terus melanjutkan langkah sampai di puncak nanti. Setelah mengamankan barang-barang, mereka pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan dengan jarak yang tersisa sedikit lagi menuju puncak Mahameru. Luna mencoba untuk melemaskan pergelangan kakinya yang masih nyeri.

“Gimana, Na?”

“Gak apa-apa, Tim. Coba jalan aja dulu.” Luna mencoba menjejakkan kakinya untuk melangkah. “Nyerinya udah berkurang kok.”

Tim menunduk memperhatikan kaki Luna. “Pokoknya nanti kalo makin sakit atau udah gak kuat jalan lagi, bilang ya? Jangan ditahan.”

Luna mengangguk.

“Kamu hebat, Na.” Tim tersenyum memuji Luna. “Saya pikir akan butuh waktu yang lebih lama buat kamu sampe sini. Tapi ternyata kecepatan melangkahmu gak berkurang sedikit pun. Kalo kondisimu masih baik, mungkin nanti sore kita bisa sampai di Ranu Kumbolo, bermalam di sana. Sesuai yang kita jadwalkan.”

Luna tidak menjawab. Ia sendiri juga tidak menyangka bisa melaluinya dengan secepat ini, tanpa keraguan sedikit pun. Hanya senyum kecil yang bisa ia berikan untuk balasan pujian dari Tim itu.

Tim membantu Luna mengikat scarfnya yang dipakai untuk masker. “Usahakan jangan sampai lepas ya. Biar gak terlalu banyak kena debu sama pasir.”

Rombongan para pendaki yang hendak ke puncak kali ini tidak terlalu ramai. Semuanya sudah bersiap untuk menuju puncak Mahameru. Beberapa bahkan sudah berangkat lebih dulu. “Sudah siap?” tanya Tim sekali lagi.

Luna menarik napas dalam-dalam dan mengangguk. “Kita ke puncak sekarang.” Keduanya mulai melangkah lagi, mengikuti para pendaki lainnya yang juga berjalan menuju puncak Mahameru.

***

Dimas menatap Luna sekali lagi. “Gak marah, kan?”

“Nggak, Sayang. Beneran kok gak apa-apa. Lagipula kamu kan udah janji dari jauh-jauh hari, masa mau batalin dadakan. Gak enak juga lah sama mereka.”

Dimas mengacak rambut Luna gemas. “Kamu juga kenapa pake acara sakit segala sih. Gak jadi ikut kan akhirnya.”

Luna tertawa. “Aku tahu sebenernya kamu males berangkat kalo aku gak ikut.”

“Ya iya dong, ntar di sana kalo kedinginan aku mau meluk siapa coba? Isi rombongannya cowok semua.” Gerutu Dimas. “Lagian kan aku juga udah janji mau ngajak kamu sampe puncak kali ini, mumpung personelnya banyak nih.”

Luna membelai pipi Dimas. “Kalo aku ikut berangkat dengan kondisi sakit, nanti malah merepotkan kamu.”

“Iya sih, aku juga lebih tenang kalo kamu sembuh dulu.”

So, we’re good?”

Dimas menghela napas. “Alright, kamu beneran gak marah kan aku tinggal? Gak apa-apa di rumah sendirian?”

“Iyaaa, Sayang. I’ll be fine.” Luna mengecup pipi Dimas.

You’ll be fine, Luna. You’ll be fine. Luna terus mengulang kalimat itu di dalam kepalanya. Setengah mati ia berusaha menepis kenangan terakhirnya bersama Dimas, tapi sudah terlanjur terngiang dalam ingatannya. Jalanan yang semakin menanjak membuat nyeri kakinya semakin terasa. Pijakan kaki berikutnya yang tidak memiliki tumpuan yang kuat membuat tubuhnya merosot, yang langsung ditahan oleh Tim.

“Astaga… Luna, kenapa? Kakimu sakit lagi?” Susah payah Tim menjaga badan Luna agar tidak semakin merosot. Ia tidak menyadari bahwa air mata Luna mulai turun. Tangannya menurunkan masker yang menutupi wajah Luna. Melihatnya menangis, Tim semakin khawatir. “Kenapa, Luna?”

Luna terisak pelan. “Tim… saya gak sanggup. Rasanya saya gak bisa lepas dari bayangan Dimas di sini, Tim. Saya gak sanggup.”

Tim duduk di hadapan Luna. “Saya tahu, Luna. Tapi sebelum berangkat tadi, saya sudah berjanji bawa kamu ke atas, bagaimanapun caranya.”

Luna menggeleng di tengah-tengah isak tangisnya. “Kita turun saja, Tim. Saya mohon.”

“Luna…” Tim menggenggam tangan Luna. “Sekali lagi ya? Kita coba sekali lagi. Saya bantu.”

Luna mengepalkan tangan kirinya, mencium cincin kayu yang masih tersemat di jari manisnya. Sepasang mata berwarna abu-abu itu kembali meyakinkan Luna. Ia pun mengangguk. Tim berdiri, meraih tangan Luna dan membantunya kembali berjalan. “Pelan-pelan, Luna. Semampumu saja.” Luna merangkulkan tangannya di leher Tim. Pijakan kakinya semakin terasa tidak nyaman untuk berjalan. Ia terpaksa harus menumpukan badannya pada Tim untuk mengurangi sakit.

Luna mengusap jejak air mata di pipinya. “Ajak saya ngobrol, Tim.”

“A-apa?”

Just keep talking. Apapun, entah kamu mau nyanyi atau mau marah-marah atau bahkan curhat, terserah. Yang penting perhatian saya bisa teralihkan.”

“Oh… oke. Ehm… I had my first sex on 29.” Sahut Tim asal.

Luna melirik Tim. “Wow, saya tidak mengharapkan informasi yang satu itu sih.”

“Kamu bilang apapun kan? Itu yang pertama kali muncul di kepala saya.” Protes Tim sambil berusaha terus bicara di tengah napasnya yang mulai tersengal. “Saya lebih suka makan soto daripada rawon, yang kata orang-orang itu merupakan dosa terbesar saya pada dunia ke-rawon-an.”

“Saya lebih suka kare ayam daripada soto.” Tambah Luna.

“Ah, yaah… itu pilihan sulit buat saya.” Tim masih merangkul lengan Luna dan membantunya mendaki jalanan yang semakin menanjak. “Tahun ini harusnya saya pergi ke London, Na. Nyusul Bapak saya yang kerja di sana, sekalian lanjut kuliah. Tapi saya gak mau.”

“Kenapa?”

“Gak tertarik. Sudah sekian lama Bapak kerja di sana, ninggalin keluarganya. Saya cuma pengen temani ibu saja di sini.”

“Angin Timur lebih suka memilih arah anginnya sendiri kan?”

Exactly.”

Langit perlahan mulai menunjukkan warnanya. Luna masih berusaha untuk berjalan meskipun tertatih. “Kita sudah sejauh mana, Tim?”

Just keep going, Na. Gak usah lihat ke bawah, gak usah kebanyakan tanya. Abis ini saya akan jalan di belakangmu. Trek berikutnya akan susah kalo untuk jalan beriringan. Oke?”

Luna mengangguk. Keduanya terus melanjutkan langkah demi langkah menaklukkan Mahameru.

***

Beberapa puluh meter lagi sebelum puncak, Luna justru ingin duduk sejenak untuk menikmati pemandangan yang membuatnya terpaku. Ia melepas scarfnya. Akhirnya ia bisa melihat pemandangan yang selalu diceritakan Dimas itu.

Dimas… aku tidak bermaksud melupakanmu. Justru aku datang ke tempat ini untuk menemukan kehadiranmu sekali lagi. Aku ingin kenangan tentangmu adalah kenangan yang mendamaikan hatiku, bukan sebaliknya. Aku ingin setiap aku mengingatmu, aku menemukan kekuatan untuk melanjutkan hidup, bukan terkurung sendirian. Dengan begitu, aku akan kembali menjadi Luna yang selalu kau cintai.

Luna meraba cincin kayu di jari manisnya. Cincin nikah yang tak pernah sekalipun ia lepas. “Dimas pernah bilang, saya akan menemukan arti nama Alunan Samudera dari atas sini, Tim.” ujarnya sambil memandangi lautan awan yang begitu luas. “Samudera paling indah justru ada di atas sini. Yang mengalun pelan disinari matahari pagi.”

“Saya setuju dengan Dimas, Na. Kali ini saya beruntung bisa melihat samudera di atas awan bersama seorang Samudera.”

Luna tersenyum. Kemudian ia melihat barisan para pendaki di sekelilingnya, berusaha untuk menaklukan apapun yang ada di depan matanya dan di dalam hatinya. Saling membantu satu sama lain untuk sama-sama sampai puncak. Luna membayangkan apa yang ada di pikiran Dimas waktu berada di sini, ketika ajal hanya berjarak sekian langkah darinya. Bagaimana jika Mas Yayan benar? Kalau Dimas bisa memilih, ia tentu tidak akan keberatan mengakhiri hidupnya di sini. Mungkin saja ia menemui ajalnya ketika sedang membantu orang lain untuk terus melangkah ke puncak. Mungkin saja detik-detik terakhir hidupnya ia sedang menyemangati orang lain agar bisa menaklukkan ketakukannya. Mungkin saja tepat sebelum matanya tertutup, ia masih bisa melihat pemandangan ini, yang selalu mengingatkannya pada Luna.

Tim berdiri. “Na, puncak tinggal sedikit lagi. Ayo kita lanjut jalan.”

Luna kembali memandangi lautan awan di bawah sana. “Saya cukup sampai di sini saja, Tim.”

“Ha? Kenapa, Na? Beneran, Luna, saya gak bohong. Puncak tinggal ditempuh beberapa puluh meter lagi. Kenapa gak dilanjutin sekalian?” Tim serta merta protes.

“Saya sudah menemukan apa yang saya cari, Tim.” Luna menghela napas lega. “Alunan Samudera yang selalu membuat Dimas jatuh cinta.” Selain karena kakinya yang tak mampu melangkah lagi, Luna sudah menemukan kedamaian yang ia cari.

Tim menatap puncak Mahameru yang sudah terlihat di ujung matanya. Ia merasa sayang jarak sedekat itu tidak dituntaskan sekalian. Tapi ia teringat janji awalnya pada Luna bahwa ia ingin tetap menemani Luna dalam keadaan apapun. Ia kembali duduk di samping Luna. “Kalo memang itu maumu, saya gak akan memaksa.” Tim ikut menikmati pemandangan lautan awan yang kini terlihat semakin jelas dengan matahari yang semakin tinggi.

***

Persis seperti perkiraan Tim, sesuai dengan jadwal yang mereka rencanakan. Sore itu mereka sudah berada di Ranu Kumbolo. Bermalam di sana sebelum kembali turun keesokan harinya. Tim sedang menyalakan api unggun buatannya tepat di depan tenda, sementara Luna sedang memijat kakinya di dalam tenda. Setelah api menyala, Tim kembali masuk ke dalam tenda.

“Kakimu sudah baikan?”

Luna mengangguk. “Jauh lebih baik.”

Tim memandang langit Ranu Kumbolo yang terlihat begitu cerah. “Kayaknya terakhir kali saya ke sini suhunya gak sedingin ini deh.” Ia merapatkan jaketnya.

“Tumben kamu bisa ngerasain dingin. Saya pikir mau sedingin apapun kamu bakal tetep pake kaos lapis kemeja.”

Tim tertawa. “Kecuali saya pengen mati tolol sih, Na.” Berada di dalam satu tenda bersama Luna membuat hati Tim terusik sekali lagi. “Gimana rasanya, Na? Setelah nyaris sampai puncak?”

Luna tidak tahu harus menjelaskan dari mana. Yang jelas, ia merasa sudah menemukan jawaban atas keresahan hatinya. “Ehm…”

“Saya tahu mungkin kamu tidak bisa menjelaskan semuanya. Yang saya ingin tahu, apakah kamu sudah lega?”

Luna mengangguk. “Setidaknya hati saya sudah lebih lapang.”

Tim ikut tersenyum. “Baguslah kalo begitu.”

“Tim…”

“Ya?”

“Kenapa kamu ngotot pengen temeni saya ke sini kali ini?” Akhirnya pertanyaan itu berhasil keluar juga dari mulut Luna, setelah sekian lama ia menahannya. “Bahkan kamu berhasil membujuk saya untuk pergi sampai  ke atas. Kenapa, Tim?”

Tim tertegun dengan pertanyaan tiba-tiba dari Luna. Ia berdeham sejenak. “Karena saya rasa kamu berhak menemukan jawaban, Na. Apapun yang bisa membuat kamu lepas dari bayangan Dimas. Dan saya tahu kamu punya kesempatan itu.”

“Yaah… mungkin memang saya tipikal orang yang susah move on. Kamu adalah orang kesekian yang menyuruhku untuk lepas dari bayangan Dimas, Tim. Dan memang seharusnya begitu. Harusnya saya bisa melakukannya lebih awal dan lebih cepat.”

“Kamu gak salah, Na. Dimas adalah jangkarmu. Menurutmu apa semudah itu untuk berpindah haluan? Ya jelas nggak dong.”

“Sama sekali gak mudah. Kalo memang gampang, saya gak perlu capek-capek naik gunung sampe kaki cedera.” Keduanya tertawa.

Tim memperhatikan tawa Luna. “Memang keliatan bedanya sih, Na. Tawamu sekarang jauh lebih lepas dan tulus daripada sebelum-sebelumnya.”

“Oh ya?”

“Yang saya lihat sih begitu.”

Tawa itu muncul lagi di wajah Luna. “Yang saya heran, kenapa laki-laki semanis kamu justru gak punya pasangan sampe sekarang, Tim.”

“Saya menunggu semesta turut campur untuk menemukannya, Na.”

“Dan… apakah semesta sudah memberikan pertanda? Apakah Angin Timur sudah mulai berubah haluan?”

Tim menatap Luna lekat-lekat. Seiring semilir angin yang berhembus, Tim merengkuh wajah Luna dan mencium bibirnya lembut. Akhirnya rasa itu terasa semakin jelas, melebur dengan dinginnya udara malam yang menusuk. Detik itu pula, keduanya telah berlabuh, melepas jangkarnya masing-masing untuk waktu yang lama.

Tim melepaskan ciumannya. Napasnya memburu. “Kamu gak tahu sudah berapa lama saya ingin melakukannya, Luna. Kamu gak tahu bahwa sampai detik ini saya gak melewatkan satu malam pun tanpa memikirkan kamu. Saya…”

“Tim…” Luna membelai wajah Tim yang kini begitu dekat hingga ia bisa merasakan hangat napasnya. “Kamu berjanji kalo kita bakal baik-baik saja selama di sini.”

“Saya berjanji kita bakal baik-baik saja sampai puncak, Na. Setelah turun dari puncak, saya gak bisa jamin apa yang akan terjadi. Termasuk yang satu ini.”

I think I finally found my anchor, Tim.” Luna tersenyum. “I finally found it.”

“Badan saya rasanya sudah remuk habis menggotong setengah berat badanmu ke atas tadi. Don’t you think I deserve your kiss again?” keduanya tertawa. Kecupan panjang itu mengamini keputusan semesta untuk keduanya mengungkapkan kejujuran lagi.

***

Langit Creative malam ini sedang mengadakan pesta perayaan sewindu berkarya. Bertempat di kantornya yang kecil, para karyawan mengadakan acara tumpengan dan makan besar. Para pekerja kantor lain yang masih sekompleks dengan kawasan kantor Langit pun turut bergabung selepas jam kerja mereka selesai. Semakin malam kantor mungil itu semakin ramai. Luna dan Ayu menarik diri dari kerumunan dan berbincang di sudut ruangan.

“Baru tahu deh ternyata Mas Reno doyan party juga.” Luna memperhatikan isi kantor yang penuh orang.

“Hemm, ini sih gak ada apa-apanya waktu opening kantor Langit dulu. Kalo sekarang dia lebih low profile.”

“Dan lebih low budget juga sih kayaknya.”

Ayu tertawa. “Duitnya abis buat bayar gedung sama bayar gaunku, Na.”

“Antara bayar gedung sama bayar gaun lebih mahal mana tuh?”

“Ya lebih mahal gaunku lah, please.”

Luna terkikik. “Berarti akhir-akhir ini Mas Reno sering ngomel di kantor tuh ya gara-gara itu. Udah calon istri gak jadi resign, eeh minta gaun yang harganya gak masuk akal pula.” Ia meneguk winenya lagi. “Emang jadinya tanggal brp sih?”

“Setelah natal, Na. Biar sodara-sodara bisa sekalian liburan gitu.”

Luna melihat Tim yang berdiri di sebelah Reno sedang berbincang dengan orang-orang yang entah siapa saja.

“Kayaknya sih Tim dipilih buat jadi salah satu groomsmen juga. Sepaket lah, kamu bridesmaidku, si Tim jadi groomsmennya Reno.”

Luna terbahak. “Goodluck then. Semoga berhasil maksa dia pake jas. Aku sih udah angkat tangan.”

“Ya kamu maksanya kurang erotis kali, Na.” bisik Ayu.

“Ayu ah, apaan sih!”

Dari kejauhan, Reno melambaikan tangannya ke arah Ayu. “Eh, Na. Bentar ya, dipanggil Reno.”

Giliran Tim yang kali ini menemani Luna. “Lagi ngomongin apa sih sama Ayu? Seru amat kayaknya. Saya sampe gak enak mau nyulik kamu duluan.”

Girl’s talk, Tim. Kamu gak perlu tahu.”

“Oh ya? Kalo gitu kamu juga gak perlu tahu apa yang saya omongin sama Reno tadi.”

Luna melirik Tim penuh selidik. “Okay, fine. Tadi cuma ngomongin persiapan nikahannya Ayu. Dan katanya kamu juga jadi groomsmen. Saya cuma harus mikir gimana caranya biar kamu mau pake jas.”

“Hmm, kalo itu sih gampang.” Tim berbisik di telinga Luna. “Asal kamu yang pakein, di kamarku.”

Luna tidak habis pikir kenapa ia dikelilingi oleh orang-orang berpikiran cabul di sekitarnya. “Yee maunyaa!” Luna menenggak winenya sampai habis. “Emang tadi kamu ngomongin apa sama Mas Reno.”

Tips and trick.”

Luna mengerutkan kening. “Untuk?”

How to make you say ‘Yes’.”

Luna makin tak paham. “To what?”

Tim menatap Luna dan tersenyum penuh arti. Luna masih mencoba menebak maksud Tim. Sedetik kemudian ia baru menyadarinya. “Jangan di sini, Tim. Please, jangan di sini. Kalo kamu nekat melakukannya di sini I will say ‘No’.”

Tim terbahak. “That’s why I love so much. Iya iya, gak di sini. Nanti aja kalo udah di rumah ya?” Tim merangkul Luna dan mengecup keningnya sekilas.

-TAMAT-

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

2 thoughts on “Sepasang Jangkar (5)

Leave a Reply