I’ll Save The Dream (1)

Dearest,

Kali ini suara pecahan sesuatu membangunkanku dari tidur di penghujung bulan ini. Suasana mendung di luar menyambut dan mengingatkan bahwa bulanku akan segera berakhir.
Bukan, itu bukan pecahan dari benda di sekitarku, melainkan pecahan dari pikiranku sendiri. Pemikiran-pemikiran yang tak jarang membuatku tersudutkan sekaligus memecutku untuk terus bertahan, berdiri dan berjalan lagi.

             “Apa bisa kamu hidup tanpa mimpi-mimpi?”, kata-katamu terus mengulang di memoriku. Saat ini, hanya karenamu aku hidup untuk mencari mimpi itu lagi, hanya agar aku memiliki pilihan lain selain memilih pengasingan. Menyebalkan saat semua sedang berlari namun aku masih berdiam di sini. Berkutat pada pikiran sendiri, mencari solusi, berdialog dengan diri hingga menggertak untuk menikmati waktu kini tanpa banyak tapi.

            “Kalau saja aku masih punya mimpi, aku bakal memiliki mimpi yang lebih tinggi dari kamu, Hans.” – “Nggak ada standar dari mimpi tiap orang, kamu hanya kehilangan satu mimpi dari satu diri, kamu lupa kalau ada diri lain dalam diri kamu, Alya” – Hanya dialog sederhana kita di tengah bingar suara klakson sore itu yang membuatku terus berani terbangun pagi ini dan pagi-pagi selanjutnya, Hans. Aku harap aku tak kehilangan ingatan tentang obrolan itu juga.

Regards,
Leica Alya.

***

“Aku membuatmu takut ya?” Aku menatap mata cokelatnya lekat-lekat. Kami berdua duduk di sofa, dengan selembar surat di antara kami yang tiba-tiba mendarat dua hari lalu di meja kantorku. Selembar surat itu pula yang membuatku membatalkan jadwal rapat minggu ini dan kuputuskan untuk segera terbang menemui Alya. Kini aku sudah duduk di hadapannya dan belum satu kata pun keluar dari mulut kecilnya.

“Alya…”

“Kamu bilang kita akan bermimpi sama-sama, Hans. Nyatanya apa? Kamu kejar mimpimu sendiri, dan menyuruhku bermimpi sendirian… lagi.” ucap Alya sambil menahan air matanya.

Aku hanya bisa memegang kedua pipinya, mencoba mencari ketenangan yang biasanya bisa kutemukan di matanya. “Kita sudah pernah bahas ini kan, Sayang? Selangkah lagi sampai kita bisa bermimpi bersama, sebanyak yang kamu mau. Alya, aku tidak pergi kemana-mana. Aku hanya ingin kamu terus percaya padaku. Itu saja.”

Air mata Alya jatuh setitik. “Aku hanya ingin kamu di sini, Hans. Itu saja.” Alya beranjak menuju kamarnya. Di ambang pintu ia berhenti, “Beri aku waktu, Hans.”

“Untuk?”

“Memikirkan kembali rencana pernikahan kita.”

No!” Seketika aku beranjak dan menghampiri Alya. “Alya, kita sudah sempat memundurkan tanggal, dan sekarang kamu minta mundur lagi? No, Alya. Aku gak mau.”

“Hans…” Alya mendongak menatapku dengan tatapan yang aku tak mengerti. “Aku sayang padamu, kamu tahu itu. Tapi aku harus menemukan sesuatu dalam diriku.”

“Sesuatu apa?” Rasanya aku sudah putus asa. “Alya, tolong bantu aku mengerti. Kamu ingin aku berbuat apa?”

Alya hanya menatapku. Kemudian ia masuk ke kamar dan menutup pintu… tanpa jawaban. Aku hanya bisa menjambak rambutku dengan gemas. Kuraih kunci mobil dan jaketku dari sofa, melangkah keluar rumah dengan pintu ruang tamu yang kubanting keras. Rasanya fase hidupku kali ini benar-benar konyol. Tapi akan lebih konyol kalau aku tidak melaluinya bersama Alya.

***

5 tahun yang lalu.

“Man, map isi surat dari jurusan tadi ditaruh mana?” tanyaku pada Lukman, si sekretaris Pers Kampus.

“Lah? Emang di meja situ gak ada? Gue taruh atas tumpukan situ, Hans.”

“Gak ada, Lukmaaan! Cari lagi lah, sapa tau ketinggalan.” Aku jadi ikut memeriksa tumpukan map usang itu satu-persatu.

“Yaelaah, nambah kerjaan aja dah! Bentar yak.” Lukman berlalu meninggalkan ruang sekret.

Hari ini adalah hari terakhir kami ada di sini. Sekretariat Pers Kampus dan semua barang yang ada di dalamnya harus segera pindah tempat kalo tidak ingin jadi bulan-bulanan massa yang lebih besar. Dua bulan lalu kami berhasil membongkar kasus korupsi yang dilakukan beberapa pejabat kampus. Alhasil, kami menjadi sasaran empuk para petinggi itu. Mulai dari ancaman DO untuk anggota pers yang masih aktif kuliah, ancaman ijazah ditahan seperti aku yang akan segera wisuda, hingga ancaman pemecatan untuk pembina Pers kami. Tapi nyatanya kebenaran selalu menemukan jalannya untuk menang. Kami menang, tapi kami harus segera hengkang.

Terdengar suara pintu diketuk pelan. “Masuk.”

“Ehm, Mas Hans.”

Aku menoleh ke sumber suara. “Eh, Alya, sini masuk.” Tanganku masih sibuk memilah dan memilih berkas-berkas yang harus diselamatkan atau dibakar. Dari sudut mataku kulihat Alya masuk dengan malu-malu. “Sebelumnya aku minta maaf ya?”

“U-untuk?”

“Yaah, belum genap setahun kamu ikut Pers, eeh kena kasus, kudu pindah ke sekret sebelah biar selamat.”

Alya tertawa pelan. “Bukan itu, Mas Hans. Tapi…”

Just Hans, please.”

“Ehm, okay. Hans. Aku cuma pengen bilang makasih banyak.”

Aku menatap Alya bingung. “Untuk apa? Aku gak pernah menyelamatkan hidupmu lho sebelumnya.”

“Yaah, buat semuanya, selama aku gabung di Pers. Jujur dulu aku pengen masuk Pers Kampus ya karena kamu.” Tegas Alya.

Aku hanya bisa melongo. Kuletakkan map-map usang itu dan menatap Alya sungguh-sungguh. Setelah ribuan makian dan ancaman yang aku terima sejak membongkar kasus korupsi itu, baru kali ini aku menerima pujian, dari cewek pula. Dan aku harus mencernanya sebaik mungkin. “Karena aku?” ulangku.

Alya mengangguk mantap. “Waktu jadi Maba dan kamu presentasi tentang Pers Kampus, rasanya kamu yang paling meyakinkan. Dan, aku gak salah. Aku bisa belajar banyak dari kamu sebagai ketua umum, sebagai pemimpin, sebagai penulis yang baik tentunya.”

Aku masih melongo. Kali ini ditambah alisku yang terangkat, plus segala perbendaharaan kataku yang rasanya menguap begitu saja keluar dari mulutku yang menganga. “Oh… gituu…” Ah tolol, kenapa cuma kata-kata itu yang keluar.

“Jadi… aku harap kamu gak berhenti menulis, Hans. You’re the best journalist I’ve ever met. May the luck always be with you.” Alya menjulurkan tangannya ke hadapanku. Ragu-ragu aku menyalaminya dan menatapnya sekali lagi. Alya adalah salah satu anggota Pers yang kurasa tidak terlalu mencolok, jarang menulis di rubrik Pers, ikut rapat hanya seperlunya, dan tidak pernah ikut demo. Aku tidak pernah menyangka kalau dia bisa punya waktu yang menyenangkan di Pers Kampus.

“Ketemuuu! Ketinggalan di kantin tadi pas gue beli ko…” Lukman masuk sambil mengangkat map warna hijau, dan seketika mematung melihatku berjabat tangan dengan Alya. Refleks Alya langsung menarik tangannya.

“Ehm, kalo gitu aku balik ke kantin dulu.” Ia berjalan melewati Lukman. “Mari, Mas Lukman.”

“Eh, i-iya…”

Aku dan Lukman hanya terdiam mengamati punggung Alya yang menjauh.

“Ngapain dia, Hans?”

Tidak kuhiraukan pertanyaan Lukman. Yang tiba-tiba muncul di kepalaku adalah… “Alya! Alya! Tunggu bentar…” Aku menyusul langkah Alya. Semoga intuisiku tidak salah.

***

4 tahun yang lalu.

“Hans, beneran lho, kalo kamu masih banyak kerjaan gak apa-apa kita gak ngerayain ulang tahunku.”

Jam di dasbor menunjukkan jam 11 malam. “Satu jam sebelum bulanmu berakhir, Sayang. Aku harus merayakannya. Oke?”

Well, ulang tahunku udah sepuluh hari yang lalu, Hans.”

“Buatku bulan ini adalah bulan ulang tahunmu. Gak peduli tanggal berapapun.” Sahutku tegas, yang hanya disambut senyum manis Alya. Aku mengajaknya pergi ke rooftop gedung kantorku. Yang sudah kusiapkan berbagai persenjataan untuk kencan ala kadarnya. Semoga makanannya masih utuh ada di atas sana, tidak dibawa oleh orang-orang sekuriti.

Sesampainya di atap gedung, aku menghela napas lega melihat semua perlengkapan dan makanan yang masih utuh. Aku menyusun boks-boks kayu bekas menjadi kursi dan meja seadanya, dua botol bir dingin, dan makanan fastfood kesukaan Alya.

Alya melirikku sambil menahan tawa. “Wow, I think I have a date with the right person.”

Aku terbahak. “Of course, Alya. I’m the right guy for you.”

Kami berdua pun menghabiskan malam itu dengan kenyang dan Alya yang sedikit mabuk tentunya.

Lewat jam 12 malam, sudah berganti hari. Alya bersandar di pundakku. “Ini udah bukan bulanku lagi, Sayang. Pantes aku kok udah mual aja, padahal cuma minum beginian.” Ia mengangkat botol birnya. “I have no luck on this month.”

Rambut panjangnya yang tergerai sesekali diantar angin membelai wajahku. “Seneng gak malam ini?”

Alya mengangguk. “Apapun, kapanpun, dimanapun, asal sama kamu, aku seneng.”

Langit malam kali ini rasanya paling cerah di bulan ini. “Alya, apa bisa kamu hidup tanpa mimpi-mimpi?”

“Maksudmu?”

“Apa kamu gak punya mimpi?”

Alya duduk tegak dan menatapku lekat. “Aku tidak percaya pada mimpi, Hans, kamu tahu itu. Lagipula mimpiku sudah menjadi kenyataan.”

Kugenggam tangannya. “Belum, Sayang. Aku belum membuatnya jadi kenyataan. Selagi menunggu, kenapa kamu tak mencari mimpi-mimpimu yang lain?”

Di luar dugaanku. Wajah Alya berubah, kulihat senyumnya yang perlahan memudar. “Aku gak mau bermimpi tanpa kamu.”

No, bukan begitu, Alya… maksudku, kita bermimpi sama-sama. Aku akan selalu ada di sini. Aku cuma ingin kamu terus punya mimpi. Jangan takut.”

“Kamu mau pergi kemana, Hans?”

Sialan. Aku menggigit bibirku ragu-ragu. Takut kalau-kalau topik berikutnya akan merusak kebahagiaan Alya. “Aku dipercaya untuk berangkat liputan, Sayang.”

“Dimana?” tanyanya tegas.

Aku menarik napas. “Di… di daerah konflik di…”

“Nggak…” Alya langsung menggeleng dan melepas genggamanku. “Kamu gak berangkat.” Mata cokelat Alya tertutup air mata yang tinggal menunggu untuk jatuh. “Kamu nggak akan berangkat kan?”

“Sayang…”

Ia berpaling. Yang kulihat kali ini adalah Alya yang sama sekali tak ingin kubiarkan sendiri. Alya yang terlalu rapuh bahkan untuk direngkuh.

“Berapa lama?”

“Tiga bulan.”

Alya terdiam. Kini suara isak tangisnya yang terdengar, meskipun ia berusaha untuk tegar. Aku tahu kenapa Alya begini. Aku tahu kenapa ia tidak ingin berjauhan lagi denganku. Pekerjaanku sebagai jurnalis memang menuntut untuk punya mental berlapis meskipun ditugaskan di tempat yang terlampau sadis. Terakhir kali aku meninggalkan Alya saat bertugas, aku nyaris bercumbu dengan maut. Tapi aku percaya Alya adalah jimat keberuntunganku. Yang aku tidak mengerti justru isi kepala dan hati Alya. Aku ingin mempunyai mimpi bersamanya namun entah kenapa Alya justru membuatku kembali berpijak pada tanah, pada kenyataan, bahwa tidak semua harus dilakukan dengan mimpi, tidak semua harus berangan dalam mimpi. Ia pernah bilang bahwa mimpi bisa membuat terbuai hingga lupa pada kenyataan.

Aku memegang bahunya. “Alya…”

“Apa yang harus aku hadapi kali ini? Kamu akan mati tertembak? Kamu hilang? Diculik?”

“Aku bakal kembali, Sayang. Utuh.”

Alya menatapku lagi. Wajah sedih itu yang selalu membuat hatiku teriris. Aku merengkuh wajah Alya dan mencium bibirnya. Mungkin ini yang aku butuhkan sekarang. Satu memori yang bisa kukenang selamanya dan menjadi jimat keberuntunganku berikutnya.

***

3 tahun yang lalu.

Tiga minggu Hans hilang. Entah kemana, entah dengan siapa, entah bagaimana, aku sudah tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan Hans kali ini. Si manusia pemimpi itu, aku selalu percaya bahwa mimpi-mimpinya lah yang membuainya lebih mesra daripada rasa cintaku. Setiap sudut kampus bertebaran wajah Hans yang menempel di tembok-tembok dan papan mading, ditambah kata-kata menyentuh di setiap foto, berharap ia segera ditemukan dengan selamat. Hans yang kali ini ditugaskan dengan durasi jauh lebih singkat dibanding dulu yang pernah memakan waktu sampai tiga bulan, yang kali ini juga rasanya lebih mudah dibanding sebelumnya yang pernah bergumul di daerah konflik, yang kali ini aku percaya semuanya akan baik-baik saja, justru berhasil melenyapkan Hans tanpa jejak. Tiga minggu. Untuk apa dia masih percaya pada mimpinya jika nyawa selalu menjadi harga untuk semua itu?

Aku menyusuri koridor dekanat setelah menyelesaikan urusan administrasi transkripku. Kemudian Pak Yusuf keluar dari ruangannya, yang langsung mematung ketika berpapasan denganku. Pak Yusuf adalah pembina Pers Kampus terakhir sebelum kami terpaksa hengkang waktu itu.

“Alya? Kamu sedang apa di sini?” Pak Yusuf menghampiriku dengan tatapan khawatirnya.

“Pak, saya masih mahasiswa sini kan, ya wajar dong kalo saya berkeliaran di kampus.”

“Iya, Bapak tahu. Tapi kamu harus hati-hati, Al. Bapak cuma takut kamu kenapa-kenapa.” Lanjut Pak Yusuf.

Kekhawatiran Pak Yusuf bukan tanpa alasan. Hilangnya Hans dalam tugas membongkar kasus penyerangan salah satu orang kementerian membuat geger banyak pihak. Pemerintah tentunya, rekan-rekan sesama Pers, media massa, dan sebagai tempat di mana Hans dengan lihai mengasah kemampuan kritisnya, kampus ini pun ikut-ikutan resah. Dalam porsi yang lebih kecil, ada pula beberapa orang dekat Hans yang mengingatkanku untuk berhati-hati di manapun aku berada. Mereka takut kalau identitas seorang Alya, kekasih si pemberontak itu, akan membuatku menghadapi bahaya yang sama seperti Hans.

Pak Yusuf memegang bahuku. “Situasinya sekarang serba berbahaya. Hati-hati ya? Kalau butuh pertolongan apapun Bapak bersedia membantu.”

Aku hanya mengangguk pelan dan berusaha tersenyum sopan. “Saya permisi dulu, Pak.” Pamitku sambil lalu.

“Alya…” Pak Yusuf memanggilku lagi. “Hans itu orang yang cerdik. Bapak yakin dia bisa selamat dari semua ini.”

Entah aku harus menjawab apa. Aku melanjutkan langkahku.

***

Jam di dinding menunjukkan pukul 10 pagi saat aku berusaha membuka mataku karena suara dering handphone yang nyaring. Kulihat ada telepon masuk dari Mas Lukman. Cepat-cepat aku menjawabnya.

“Halo, Mas?”

“Alya… Hans ketemu. Kita ada di kantor polisi. Kamu kesini sekarang.”

Efek yang kurasakan ketika kalimat ‘Hans ketemu’ akhirnya kudengar adalah mulutku yang menganga namun terkunci tanpa kata, napasku seolah memburu karena dipompa oleh kerja jantung yang lebih kencang dari biasanya, dan air mata yang tahu-menahu sudah jatuh.

“Kamu… serius, Mas? Dimana dia? Hans baik-baik aja kan? Dia ketemu dalam keadaan hidup kan? Dia…”

“Alya, aku gak mungkin cerita semuanya di telepon. Kamu segera kesini. Hans masih diperiksa polisi. Iya… dia masih hidup.”

Mas Lukman menutup telepon. Aku langsung beranjak dari tempat tidur, cuci muka sekadarnya, ganti baju dan mengambil barangku seperlunya.

“Alya! Sayang, buka pintu, nak. Kamu harus lihat berita di tv sekarang.” Suara Mama diiringi gedoran pintu yang tidak berhenti. Ketika aku keluar kamar, Mama dan Ayah heboh menunjuk-nunjuk berita yang muncul di tv. “Alya, Hans akhirnya ketemu.” Sambung Ayah sambil menambah volume suara tv.

“Iya, Ma. Barusan Alya ditelepon temen. Alya berangkat kesana sekarang.” Aku menyambar kunci motor di meja.

“Biar Ayah yang antar kamu, Al.” sahut Ayah.

Mama mengangguk. “Mama juga ikut.”

Mereka berdua pun bergegas dan bersiap tanpa menunggu jawabanku. Di dalam mobil, kami bertiga pun hanya terdiam, was-was mencoba mengantisipasi apa yang akan kami temui dalam waktu dekat.

“Syukurlah, Hans selamat ya Alya. Kita doakan semoga semuanya lancar buat dia.” Mama berbalik menatapku yang duduk di kursi belakang. Hans memang begitu dekatnya dengan orangtuaku, hingga Ayah dan Mama juga merasakan kehilangan yang sama sepertiku. Sesampainya di halaman kantor polisi, sudah banyak orang-orang media yang menunggu klarifikasi serta rekan-rekan Pers Hans yang datang untuk bertemu Hans. Dari kejauhan kulihat Mas Lukman menghampiri mobil kami.

“Alya, kita masuk lewat belakang aja. Di depan penuh, gak akan bisa lewat. Mari Om, Tante, mobilnya diparkir di belakang aja, saya tunjukkan jalannya.” Seketika Ayah membelokkan mobilnya sesuai instruksi Mas Lukman. Setelah terparkir, kami langsung cepat-cepat memasuki kantor polisi, mencoba menghindari para wartawan yang haus berita.

Di dalam kantor polisi, kami masih duduk di ruang tunggu sekitar setengah jam berikutnya. Perasaanku masih campur aduk sekarang. Terpikir apakah kali ini aku benar-benar bisa memaafkan Hans. Suara pintu terbuka, keluar beberapa orang polisi dan sosok Hans yang berjalan perlahan di belakang mereka. Ayah dan Mama langsung berdiri dan menghampiri Hans, mereka berpelukan sekilas dan Mama seperti memperhatikan tubuh Hans dari atas sampai bawah, memastikan anggota tubuhnya masih lengkap. Mas Lukman kemudian menghambur ke pelukan sahabatnya itu. Keduanya berpelukan lebih lama dan lebih erat. Aku menyaksikan semua itu dengan masih duduk di tempatku. Aku memperhatikan Hans yang kini jauh lebih kurus dari terakhir kali kami bertemu. Wajahnya yang kini memiliki beberapa bekas luka, entah di mana ia mendapatkan semua luka-luka itu. Jalannya yang tak lagi tegas dan menantang seperti biasanya. Yang tidak berubah hanyalah sorot mata dan senyumnya. Selalu bernyawa dan menyejukkan bagi siapapun yang melihat. Aku merekam semua detail itu untuk mempertimbangkan bagian mana yang bisa kutoleransi untuk memberikan maaf yang entah sudah keberapa kali.

Hans menatapku yang masih duduk bergeming. Ia menghampiri dan berlutut di hadapanku. Kurasakan tangannya yang kering membelai pipiku yang basah. “Alya…”

“Aku gak tahu apakah kali ini aku bisa memaafkanmu, Hans.”

Hans menunduk, masih tetap menggenggam tanganku, kemudian kudengar isak tangisnya yang menjadi. Detik itu pula Hans mendekapku erat. Aku merasakan bahu kiriku basah oleh air matanya.

“Aku gak tahu apakah kali ini aku bisa memaafkanmu, Hans. Aku gak tahu.”

***

2 tahun yang lalu.

Alya membaca buku dengan rambut panjangnya yang dikuncir asal-asalan, kacamata bulat yang membingkai wajah, kedua alisnya yang terpaut menandakan keseriusannya yang tak boleh diganggu, serta celana pendek selutut dan kaos abu-abu tanpa lengan, adalah pemandangan favoritku sore ini. Mungkin kali ini aku sudah bisa percaya dengan omongan Alya  bahwa ia merasa paling cantik kalau sedang memakai baju tidurnya. Sudah hampir dua jam kami berdua bermalas-malasan di balkon kamar Alya, ah lebih tepatnya hanya aku yang bermalas-malasan, karena sedari tadi Alya tetap serius membolak-balik halaman buku. Selain Alya, hujan yang masih deras juga membuatku enggan pulang. Ingin hati memeluk Alya tapi apa daya hanya bantal berbentuk minions yang bisa kudekap sekarang.

“Seminarnya masih dua minggu lagi kan?”

Alya mengangguk.

“Santai aja kali, Sayang. Besok-besok kan masih ada waktu buat belajar lagi.”

Ia melirikku sekilas sambil tersenyum. “Daritadi aku pacaran sama si Stuart loh.” Kutunjuk bantal minions yang sedang kupeluk. “Kamu gak pengen dipeluk kayak Stuart gini?”

“Apaan sih?!” Alya memukulku dengan bukunya.

“Ya abis… is your boyfriend not handsome enough to stare at? Daritadi cuma ngeliatin buku.”

Alya melempar buku dan melepas kacatamanya. Damn, that eyes! I can fall in love everytime I look into that eyes. Ia menarik bantal minions yang kudekap dan kemudian tubuhnya bersandar di pelukanku. “Nah, gini dong. Daritadi kek, Sayang.”

I can stay like this forever, Hans.”

Aku mendekapnya erat, sampai bisa kucium wangi shampoo dari rambutnya. “Me too, Alya.”

Hampir genap setahun aku jadi pengangguran. Setelah kejadian aku hilang tahun lalu, pihak kantor memberikanku waktu jeda untuk pemulihan. Yaah, aku tahu itu bahasa profesional belaka. Mungkin buat orang-orang kantor aku terlalu berharga untuk dipecat, tapi terlalu riskan untuk kembali bekerja. Yang jelas aku diberhentikan sementara untuk memulihkan keadaan. Baik keadaanku atau kondisi redaksi kantor yang sudah sempat kuacak-acak.

“Kamu akan kembali kesana, Hans?”

“Kemana?”

“Ngantor.”

“Pastinya. Tapi belum tahu kapan.” Jawabku jujur sambil membelai rambut Alya.

“Aku gak pengen kehilangan kamu lagi, Hans.”

Everything is fine, Al. Don’t worry.”

Alya duduk dan menatapku tajam. “I’m serious, Hans. Menurutmu aku bakal tenang kalau kamu kembali kerja kayak dulu?”

Hey…” Aku merengkuh wajahnya. “I’m here. Aku gak kemana-mana, masih pengangguran, belum kerja lagi, kalaupun kerja lagi pasti aku gak akan dapet tugas kayak dulu, Sayang.”

Wajahnya yang tegang terlihat sedikit melunak. Ia mengecup tanganku. “Kamu ambil tawaran beasiswa itu aja ya? Aku akan jauh lebih tenang kalo kamu lanjut S2 dulu, Sayang.”

Aku mengangguk, mencoba menangkan suasana yang sayang kalau harus dilalui dengan perdebatan lagi. “I’ll think about it. I promise.

“Mimpimu sudah lama jadi kenyataan, Sayang. Jadi jurnalis profesional, membela apa yang menurutmu benar, melawan ketidakadilan pemerintah, menginspirasi banyak orang, semuanya sudah kamu lakukan.”

Belum semuanya. Kusimpan saja itu untuk nanti, ketika Alya sudah bisa menerima mimpi-mimpiku selanjutnya.

***

1 tahun yang lalu.

Masih mengenakan baju toga, Alya menghampiriku sambil memeluk beberapa buket bunga di tangannya. “I need to get out of here, Hans.”

Why?”

“Selebrasi berlebihan, aku gak suka.” Ujarnya sambil melepas toga dan memasukkan ke dalam tas ranselnya. “Kita makan yuk? Aku laper banget, Hans.” Alya langsung menggandengku.

Wait, the flowers?” tanyaku sambil menunjuk tumpukan buket bunga yang ditinggal Alya di deretan kursi tamu.

“Halah, biarin.” Jawabnya cuek. Kami berdua pun berjalan menuju mobilku yang terparkir tak jauh dari pintu keluar.

“Ayah sama Mama dimana? Gak ikutan dateng?”

“Sengaja aku suruh mereka gak dateng. Kasian ikut acara lama begitu, panas-panasan pula.”

Mobilku akhirnya berhasil keluar dari padatnya tempat parkir itu. Aku langsung tahu apa yang ingin Alya makan kalau cuaca sedang panas begini. Gado-gado dan es kelapa muda.

Dan menu itulah yang sudah ada di meja kami sekarang. Alya sudah berhasil menghabiskan setengah porsinya. Hanya butuh hitungan sekian menit lagi untuk Alya menandaskan semuanya.

“Kamu beneran gak apa-apa kalo hari ini gak masuk?”

“Aku udah ijin kok. Konten sampe bulan depan udah siap, gak ada liputan baru lagi. jadi ya aman-aman aja kalo aku tinggal dulu.”

Alya mengangguk sambil meminum esnya.

What next, Sayang?”

“Maksudnya?”

“Ya kamu kan udah wisuda hari ini. Then what? Kamu pengen ngapain?”

Kudengar Alya menghela napas. “Pertanyaan itu jadi terlampau klasik kalo keluar dari mulutmu, Hans.”

Aku tertawa. “Kenapa begitu? Bukannya itu ya yang selalu ditanyakan ke orang yang baru lulus kuliah?”

“Justru itu. Hans yang kukenal adalah Hans yang gak ikut-ikutan bikin pertanyaan yang sama seperti wartawan lain. Hans yang kukenal adalah Hans yang berhasil bikin narasumber mati kutu dengan pertanyaan-pertanyaan kritisnya. Dan sekarang kamu tanya aku mau ngapain setelah aku wisuda? Too classic, Honey.”

Aku semakin terbahak. “Kadang kalo lagi interview narasumber, pertanyaan klasik itu bisa jadi pemanasan, untuk menjebak ke pertanyaan berikutnya yang lebih tajam, Sayang.”

“Oh ya? Try me, then. What’s your next question, Mister Hans?”

Mata cokelat Alya memandangku tajam. Seolah menantangku dengan sungguh-sungguh. Aku meraih sesuatu di saku dalam blazerku. Kotak kecil berwarna hitam yang sudah seminggu ini ada di laci meja kamarku, menimbang-nimbang waktu yang tepat untuk mengeluarkannya.

Aku membalas tatapan itu dengan lebih serius. “Menikah denganku, Alya? What about that?”

Boom! Alya mati kutu. Ingin rasanya aku tertawa melihat ekspresinya, tapi kutahan dulu. Tidak mungkin aku merusak suasana ini. “Alya?”

Kemudian senyum Alya perlahan muncul. Ia menutup wajahnya sambil terkikik pelan. Tawaku akhirnya ikut lepas. “Kamu harus lihat ekspresimu barusan deh, Sayang. Harusnya tadi aku instastory aja kali ya.”

Alya memukul lenganku gemas. Ia mengedarkan pandangan, berharap tidak ada yang memperhatikan. “Really, Hans? Di warung gado-gado?”

Well, ngelamar di warung gado-gado gak seklasik ngelamar di restoran mewah kan?”

Alya memandangku dengan sisa tawanya. “You’re such a great man, Hans. Aku beneran mati kutu dengan pertanyaanmu yang ini.”

I told you.” Aku mengeluarkan cincin perak itu dari kotaknya. “So? What’s your answer? Aku harus segera menyebarkan jawabanmu, dijadiin press release ke semua orang.”

“Aku gak punya alasan bagus untuk menolak, Hans.”

Is that a ‘Yes’?”

Of course!”

Kupasangkan cincin itu di jari manisnya. Yang membuatnya jauh lebih cantik dari biasanya. “Ini mimpiku selanjutnya, Alya. Punya hidup sama kamu, bermimpi sama kamu. I’m so lucky to have you.”

Alya mengusap setitik air matanya yang jatuh. “Thank you, Hans.”

“Kayaknya aku harus nunggu kita masuk ke dalam mobil dulu ya baru aku bisa cium kamu sepuasnya.”

Alya tertawa lagi. Tak kusangka mimpi-mimpiku akan membawaku ke momen ini. Dimana aku bisa mengajak Alya untuk bersama, untuk bisa menjalani kenyataan dan membangun mimpi sama-sama.

***

Tiga bulan yang lalu.

“Kamu tahu aku gak bisa seenaknya gitu kan, Sayang?”

Dari suaranya aku tahu dia jengah padaku. Posisi baruku sebagai pemimpin redaksi memaksaku harus lebih lama berada di luar rumah. Dan lagi-lagi Alya merasa tersingkir dari kehidupanku. Bagian mana dari ‘ini mimpi yang aku inginkan sejak lama’ yang tak ia mengerti.

“Hans, aku percaya sama kamu. Tapi kali ini rasanya aku gak bisa cuma berpegang sama rasa percayaku tanpa ada tindakan dari kamu. Hans aku capek banget nyiapin acara pernikahan kita.”

“Aku tahu, Sayang. Makanya aku pengen segera kelarin kerjaanku di kantor biar aku bisa bantu kamu.” Aku memindah mode handsfree agar aku bisa leluasa melanjutkan pekerjaanku.

“Lagipula kenapa sih kamu buru-buru ambil posisi itu? Kenapa gak setelah kita nikah aja?”

Aku tidak menjawab. “Hans?”

Aku berusaha keras agar kalimat ini tidak meluncur dari mulutku.

“HANS?!”

“Berapa kali aku harus bilang, Alya? Ini yang inginkan daridulu. Kalau kamu saja gak bisa mendukungku sepenuhnya, terus apa yang harus aku lakukan biar kamu masih mau menikah denganku?” That’s it! Cukup kalimat itu yang membuat Alya membisu, dan sedetik kemudian membuatku menyesal bukan main.

“Alya? Alya, maaf aku gak bermaksud…”

“Aku pengen pernikahan kita diundur dulu.”

Alya menutup teleponnya. Rasanya ruanganku seketika jadi lebih pengap. Idiot Hans!

***

ditulis oleh : Rizqi Erliani
ilustrator : @msekarayu

Leave a Reply