I’ll Save The Dream (2)

5 Bulan sebelum pernikahan..

            Sudah hampir seminggu Alya tidak menemuiku. Biasanya tiap akhir pekan, dia selalu datang dengan membawa beberapa bahan masakan untuk kuolah sebagai menu sarapan dan makan malam kami berdua. Jangankan datang ke sini dengan membawa sayur atau daging untuk ku buat semur lidah, chatroom whatsapp darinya saja sama sekali tidak menunjukkan adanya kehidupan sang empunya nomor. Beberapa kali aku mematikan dan menghidupkan data jaringan untuk memastikan bahwa sinyal selulerku yang sedang gangguan, kenyataannya memang komunikasi kami terakhir terjadi seminggu lalu.

Lantas kenapa aku tidak menghubunginya terlebih dahulu? Nggak, Alya bukan perempuan yang menghilang hanya agar dicari. Dia melakukan ritual me time ini benar-benar untuk menetralkan pikirannya yang sedang jenuh, biasanya setelah semua lebih tenang, sesegera mungkin ia akan menemuiku, bukan lagi menghubungi tapi langsung menunggu di rumah ini.

            Beberapa jari  tanganku menari di atas layar handphone, mencari-cari nomor  handphone terbaru Ibu yang ku simpan. Muncul beberapa nomor dengan satu kata kunci yang sama, ‘Ibu–Ibu baru–Ibu baru lagi–Ibu paling baru–Astaga ibu baru lagi–Nomor Ibu Fix Baru’ dan sampai aku baru menyadari, kenapa kelakuan Ibu yang ini seperti buronan atau seorang remaja yang gemar berganti nomor karena mengincar kartu seluler yang murah.  Aku menyerah dengan hanya mengamati nomor dan riwayat panggilan terakhir  memastikan nomor yang masih aktif dalam beberapa menit. Hingga perjuanganku untuk menghubungi ibu berakhir dengan cara mencoba satu per satu nomor, pada nama kontak ‘ibu siapa?’ ku dengar nada sambung untuk beberapa detik, namun tidak ada perubahan hingga nada berakhir. Baik, mungkin ibu memajukan jadwal hiking bersama kawan-kawannya ke Gunung Batur. Setidaknya dengan menstimulasi otak seperti itu aku bisa mengurangi kekhawatiran dan rinduku padanya dan mengalihkanku untuk mengganggu me time Alya.

            Ah dua perempuan ini memang selalu menantangku dalam memendam rindu. Baru beberapa detik aku memejamkan mata, nyaringnya nada dering handphone membuat tanganku refleks mengambilnya dari samping bantal.

            “Ibuuuu! Alyaa! Kangennn!” Lantang suaraku mungkin terdengar sampai teras depan rumah.

            “Iya, gue juga kangen Alya sama nyokap lu.” Suara berat dari seberang telepon membuatku menarik jauh handphone dari telinga. Hadeh semut rangrang.

            “Ahelah Man. Pagi-pagi dah ngerusak harapan orang.”

            “Eh embrio kanguru, kalo ada telpon itu liat dulu dari siapa terus salam dulu kek. Nah lu kaga! Rinda-rindu mulu, makan deh itu rindu sampe telpon dari orang lain gak tau.” Protes Lukman dari tempatnya terdengar nyaring.

            “Man… keknya kau emang udah tertular istrimu. Ngomelnya bisa ngalahin durasi lagu dangdut. Panjaaaang. Ngapain cari aku weekend gini, tumben?”

            “Lu free gak nih? Kalo gak ada agenda bareng Alya, Bantuin gue dong?” Lukman menodong dengan lihainya, seolah dia paham bahwa saat ini aku memang tidak memiliki jadwal bertemu Alya.

            “Temenin gue cari orang dagang rujak buah, Hans”

            “Astaga, manjanya! Sekitar kantor kan ada yang dagang rujak buah, Man.”

            “Butuhnya dagang rujak buah yang gerobaknya warna merah. Harus warna merah, Hans.” Intonasi suara Lukman mulai menurun.

            Aku tertawa merasakan perubahan nada bicara Lukman, merasa puas dengan penderitaan seorang Lukman. “Buat istri lu ya?”

            “Iye! Puas-puasin dah lu ketawa ye, awas aja ntar waktu Alya ngidam mintanya tiket konser Beyonce atau Michael Bubble. Gue sumpahin dah lu!”

            Aku terbahak lagi. “Dih, dih, ngambek! Boro-boro ngobrolin ngidam. Nikah aja bakal diundur lagi.”

            “Hah, lagi?? Kalian beneran siap nikah gak sih?”

            Damn! benar Lukman. Apa kami benar-benar siap menikah kalau persoalan kecil seperti kemarin saja harus didiamkan selama sepekan ini?

***

            Satu-satunya yang menyegarkan kerongkonganku kali ini hanyalah sebatang es krim yang Lukman beli di minimarket, itu pula sebagai kedok Lukman saat menumpang kamar mandi tadi. Pencarian pedagang  rujak buah dengan gerobak merah adalah sekonyolnya tujuan perjalanan kami berdua selama berkawan 12 tahun.  

            “Beneran nih harus gerobak merah?” Keluhku pada Lukman yang baru masuk ke dalam mobil.

            “Harus Hans. Kalo gak gitu rasanya bakal beda.” Kuperhatikan Lukman sesaat yang sibuk mengamati google maps nya.

“Toh istrimu gak bakal tahu kan gerobaknya warna merah kek, kelabu kek.”

            “Nggak bisa Hans. Sekarang tuh udah ada teknologi bernama post a picture atau pap atau send image. Jamannya ngga bisa ngibul, Hans.”

            “Man, sekarang ada teknologi bernama google image, situ tinggal ketik kata kunci gerobak merah rujak buah, download beberapa kb jangan cari gambar yang hd, langsung send image. Jaman sekarang lebih gampang buat ngibulin orang, Man.”

            Lukman terdiam seolah berpikir. Ia mengalihkan pandangannya padaku sejenak. “Pantes aja lu sempet ditawan tiga minggu ya. Ngeri mereka sama sistem kerja lu.”

            Kali ini berganti aku yang dibuat diam dengan pernyataannya. “Yaudah lah sekarang kau tinggal cari dulu gambar gerobak merah, baru kita bisa cari rujak buah deket-deket sini.”

            “Tetep nggak bisa, Hans. Masa iya gue ngecewain keinginan istri gue.”  

Thanks Bro. Lagi-lagi Lukman membuatku terdiam plus tersudut. “Yaudah deh, ayo cari deh cari yok rujak buah gerobak merah, sampe Jeddah pun aku temani kau, Man!”

“Lagian nih Hans. Firasat pasangan kita apalagi kalau lagi hamil itu kebanyakan kuatnya, serba benerinstingnya. Itu yang jarang kita punya.”

            Mobil melaju bersamaan dengan tawa Lukman lepas menggantikan kekosongan beberapa detik lalu di dalam mobil ini.  Tapi, tawa puas yang muncul di wajah Lukman tidak benar-benar bisa aku rasakan seperti biasanya. Saat ini hanya sosok Alya yang ada di pikiranku.  Seperti kata Lukman dengan keinginan istrinya. Ia tidak mau membuat orang yang ia sayangi kecewa. Lalu, bagaimana dengan aku yang baru saja minggu lalu buat Alya memilih menyelesaikan sendiri persoalan kami.

            “Apa yang buat kalian mundurin tanggal pernikahan lagi?” Kurang dari setengah hariku bersama Lukman, sudah empat kali ini pernyataan atau pertanyaan mendadaknya membuat aku mati kutu.

            “Mmm… persiapan kita kurang.”

            “Persiapan?” Lukman memandangku sekilas saat lampu merah menyala.

            “Ya kita butuh waktu buat nyiapin ini-itu, you know siapa papa mama Alya kan? Seniman yang sampai sekarang masih diingat. Kudu detail apapun nanti di pernikahan kami.”

            “Termasuk ego kalian masing-masing?” Kalau bisa aku keluar dari mobil ini, sudah kulemparkan tubuhku saat mobil berjalan sedari tadi, daripada harus tersudutkan oleh tiap interogasi dari Lukman yang nyatanya memang benar sesuai fakta.

            “Bener kau, Man. Mungkin aku dulu ditawan tiga minggu kasus penyerangan, karena ulah dari pertanyaan-pertanyaanku ku senada sepertimu itu.”

            Lagi, Lukman tertawa puas melihatku semakin menciut di hadapannya, “Hans, posisi Lu saat ini sebagai pimred media online gak mempengaruhi daya kritis Lu. Jadi gak usah mati kutu gitulah sama pertanyaan umum begitu. Atau emang bener karena ego kalian aja yang masih belum kalian persiapkan?”

            “Aku jadi rindu di bagian investigasi lagi, Man.” Hanya itu yang bisa aku jawab dari semua spekulasi Lukman.

            “Gilaaa!” Lukman berteriak dan menepikan seketika mobilnya, “Rindu lu membawa kita ke rujak buah gerobak merah beneran, Cuy!” Kegemparan Lukman saat melihat tujuan perjalanan ini membuatku bersyukur, karena tak perlu lagi ku alihkan dirinya dari topik-topik yang terus mengerdilkanku.

***

            “Lima bulan itu bukan waktu yang lama lho, nak. Kamu dari sekarang harusnya bisa menyeimbangkan dengan keinginan Alya.”

            “Iya, Bu.” Sambil meniriskan tumis jagung dari penggorengan ke piring, aku merespon singkat panggilan telepon ibu yang kubiarkan mode handsfree.

            “Numisnya udah selesai?” Tanya ibu seolah ia bisa merasakan aroma tumis jagungku yang sudah siap santap di hadapanku.

            “Ini tinggal buka mulut aja. Ibu apa gak kangen masakanku?”

            “Kangen sih, cuma…”

            Aku segera memotong ucapan ibu “Apa maksud ibu dengan tambahan kata ‘sih’? baru kali ini Hans menemukan sosok ibu yang merindukan anaknya tapi rasanya pake nyicil gitu.”

            Tawa renyah ibu terdengar, saat ini pula hatiku menghangat. Berbeda jauh saat berada di dalam mobil Lukman siang tadi.

            “Ibu rindu anak semata wayang Ibu yang super manja ini, cuma ibu nunggu dua bulan lagi aja.”

            “Ah masih lama. Kenapa harus dua bulan lagi?”

            “Ibu mau ke Jawa sama temen-temen, ke Solo.”

            “Temen-temen yang mana lagi ini? Arisan?”

            “Apa kamu pernah lihat Ibu ikut arisan? Ibu bareng temen-temen mau ke Solo, rencananya ya ke Gunung Lawu. Jadi, mungkin sehari setelah turun, ibu langsung naik kereta ke kota mu aja.” Penjelasan ibu sebenarnya tidak membuatku sangat terkejut, hanya kali ini aku sedikit membuatku harus mengelus kepalaku sendiri.

            “Astaga, Ibu beneran mau mendaki Gunung Lawu? Nggak usahlah, Bu. Mending langsung ke rumahku aja kita jalan-jalan ke taman safari aja. Kan tetep ke alam tuh.” Aku berusaha merajuk mengingat umur ibu sudah lebih dari kepala lima tapi adrenalinnya tetap baik terjaga.

            “Kamu ini, Ibu nggak pernah sekali ngelarang-ngelarang kamu bermimpi. Kok kamu malah ngelarang mimpi Ibu buat mendaki lagi.”

            Antara Lukman yang mengirim energinya pada Ibu atau memang aku yang sekarang sedang sensitif hingga merasa tersudutkan lagi, “Iyadeh iya iya, ibu ke Gunung Lawu gak apa-apa. Tapi inget carrier-nya gak usah lebih dari 45liter, kalau ada porter minta tolong…”

            “Hans, kamu baru ke Mahameru aja empat tahun lalu, itupun sekali dengan ibu yang sudah empat kali. Jadi anakku, kamu gak perlu khawatir dengan apa yang harus ibu bawa atau lakukan. Toh kamu kenal semua dengan teman-teman mendaki Ibu.”

            Salah jika teman-teman kantor atau kenalanku menilai nyaliku tidak pernah ada matinya, aku masih anak kecil saat berhadapan dengan Ibu. Di atas nyali Hans ada Mariam yang punya nyali lebih banyak daripada anaknya.

            “Hans, maghribmu sudah?”

            Aku menengok jam dinding yang tergantung tepat di atas kulkas, “Tinggal tiga suap lagi, baru setelah ini sholat, Bu.”

            “Yaudah, ibu mau ke banjar dulu, liat pentas anak-anak sini. Oh iya Hans..”

            “Ya, Bu?”

            “Kalau bisa kamu temuilah Alya malam ini, jangan kamu diemin juga. Orang sakit aja kalau lebih dari tiga hari harus ke dokter, masak iya hubungan menuju pernikahan masih nyaman dengan diem-dieman seminggu.” Himbauan ibu berhasil memunculkan senyum di wajahku, iya aku menyadari dari pantulan cermin di atas wastafle di depan meja makanku.

            “Ingat, sekarang bukan lagi hanya tentang kamu aja, Hans. Ini persoalan kamu, persoalan Alya, dan persoalan mimpi kalian berdua yang harus kalian jawab bersama.”

            Bersamaan dengan salam, obrolan Ibu selalu berhasil menenangkan anaknya. Meski sering pula aku bertanya-tanya pada siapa Ibu harus melepaskan peluknya saat hatinya sedang gelisah. Sedari kematian Ayah saat aku kelas 2 SD, sampai sekarang tidak pernah sekalipun aku mendengar kata atau nada keluhan Ibu saat menghadapiku yang banyak mimpi ini.

***

            Aroma bakpao ayam kecap dan martabak spesial di tempat langgananku dan Alya selalu berhasil membatalkan agenda diet seseorang. Alya sedang dalam program diet, dan sama seperti beberapa minggu lalu saat dini hari aku membuatkan nasi goreng cumi-cumi untuknya. Sekarang bakpao dan martabak ini kubawa untuk menggagalkan program dietnya datang lagi, plus merusak agenda me time-nya.

            Rumah Alya dari luar nampak terang dengan lampu ruang tamu yang masih menyala. Bila diingat-ingat lagi, kurang lebih dua tahun yang lalu, terakhir kali aku datang ke rumah Alya dengan mendadak dan tanpa pemberitahuan seperti ini. Beberapa kali ku lakukan surprise dating seperti ini sampai pada satu waktu aku datang di saat yang kurang tepat, pada saat Alya membutuhkan waktu sendiri. Dan sejak saat itu aku tidak pernah berani mengganggu siklus yang ku sebut ‘agenda me time Alya’ itu.

            “Lho Hans, sama siapa?” Seperti biasa, orang pertama yang akan menyambut tamu di rumah ini adalah Ibu Elin alias Mama Alya alias calon mertuaku.

            Aku mencium tangan lentik mama yang masih sama seperti lima tahun lalu pertama kali ku berkunjung ke rumah ini, tanpa keriput dan masih lentik khas tangan penari, “Sama Pak RT, Ma.”

            “Ah yang bener? Ada apa kok sama Pak RT mu?” Raut wajah mama berubah drastis menjadi serius.

            “Bercanda, Mama. Ya jelas sendirian lah, Ma. Sama siapa lagi. Hari-hari Hans hanya diisi Alya.”

            “Hehh kamu ini ya masih aja. Kok ya mau gitu lho Alya sama kamu.” Mama memukul pelan bahuku dan seketika tawa kami bersua bersama dalam ruang tamu.

“Bentar lagi Mama telpon Alya dulu ya, semoga udah selesai urusan dia di luar biar cepet pulang, dari tadi siang dia tuh.” Mama berjalan ke arah ruang keluarga sambil membawa bungkusan bakpau dan martabak.

Sudah sedekat dan seakrab ini memang hubunganku dengan orang tua Alya, tapi masih ada saja bahkan akhir-akhir ini semakin sering bersinggungan dengan anak dari kedua orang tua di hadapanku saat ini.

            “Hans, gimana ini? Mourinho dipecat.” Pembukaan pertama dari Bapak Pandu yang beberapa bulan lagi akan menjadi Papaku secara legal.

            “Ya gak masalah sih, Pa. Membuka kesempatan?”

            “Kesempatan apa?” Papa mulai mengalihkan perhatiannya dari televisi kepadaku yang duduk di sampingnya.

            “Kesempatan Wenger siapa tau mau jadi manager lagi.”

            “Wah kamu mau MU naik peringkat ke nomor empat ya?”

            Kali ini tawa Papa yang berhasil kubuat, mengalahkan suara berita politik di  televisi. Sesederhana ini membuat calon mertuaku terlihat bahagia, tapi ada suara dan kebahagiaan lain yang ingin kudengar sedari tadi.

            “Kamu kok gak nelpon dulu kalo mau ke sini, Hans. Kalau tau kamu ke sini kan Mama sama Papa gak perlu repot pelan-pelan makan Ayam Lodeh berdua. Biar gak nyisain buat besok, keburu basi.”

            “Asin lagi kuahnya, tersiksa Hans.” Celetuk Papa.

            “Halah gitu ya mbok habisin, Mas. Mau minta nambah nasi juga.” Protes Mama sambil meletakkan tiga cangkir teh di meja hadapanku.

            “Yah, tahu gitu kan tumis jagung yang Hans buat tadi di rumah, Hans bawa ke sini aja ya, Ma. Makan bareng. Gak perlu repot-repot juga Hans habiskan sendiri.”

            “Lho kamu masih sempet masak?” Mama menatapku dengan raut wajah menunjukkan rasa penasarannya.

            “Ya masih lah, Ma. Masa iya Hans beli makan di luar terus.”

            “Gak salah Papa nerima kamu jadi menantu. Sesibuk ini, sampai tidur di kantor tapi masih nyempetin masak sendiri. Mandiri, hebat kamu, Hans.”

            Aku meringis mendengar ucapan Papa yang kurasa sebuah satir untukku, “Ya nggak sampai tidur di kantor juga lah, Pa.”

            “Nggak usah nutupi gitu, Hans. Kami tahu kesibukanmu dan kami memaklumi itu. Kami bisa banget nerima waktumu sekarang. Alya udah cerita semua kok, dan itu harus bisa Alya terima juga.”

            “Alya cerita gimana, Ma?” Aku mulai tertarik dengan obrolan yang tak lagi basa-basi ini.

            “Ya yang Papamu bilang tadi, gimana lagi. Tapi saran mama sih ya kalau bisa nggak perlulah sampai tidur seminggu di kantor, Hans. Jaga kesehatanmu.”

            “Kamu gak perlu ngoyoh mencari materi atau ngejar target-targetmu, Hans. Kerja keras boleh cuma jangan lupa sama diri kamu, ada porsi masing-masing ya, Le.”

            Senyumku cukup mewakilkan responku yang mengamini dah mengiyakan saran Papa dan Mama. Hanya, sebenernya untuk tidur di kantor seminggu? Tidur di rumah sebelum jam sepuluh malam, melimpahkan setengah deadline pada asisten redaksi. Di bagian mana aku ngoyoh dalam bekerja. Alya, kenapa dia harus membuat ku menjadi sosok yang begitu ambisius di depan orang tuanya.

***

            Setelah berhasil memenangkan dua leg pertandingan di PS yang aku dan Papa mainkan, Papa memilih untuk menyerah dengan dalih sticknya yang sedang eror. Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, dengan alasan seperti itu membuatku merasa bermain dengan anak pertama Lukman yang berumur enam tahun, ngambek saat kalah dan menyalahkan stick.

            Aku terus mendengarkan dongeng indah Papa tentang inspirasi dari lukisan-lukisannya dulu. Papa memang pelukis yang sampai sekarang sebenarnya masih banyak menerima undangan-undangan sebagai pemateri atau dosen tamu. Tapi di umur beliau yang lebih tua dari Ibuku sepuluh tahun, beliau lebih memilih untuk menghabiskan waktu di rumah dengan hobi barunya yaitu merawat beberapa jenis tanaman bonsai. Di tengah ceritanya, fokusku beralih pada beberapa piala kecil dan satu yang terbesar berada di tengah di dalam almari kaca. Baru kali ini ku melihat piala-piala itu selama lima tahun berkunjung ke rumah ini.

            “Pa, itu piala-piala siapa? Hans baru lihat.” Aku mengalihkan pandangan Papa pada lemari kaca di belakangnya berjarak empat meter darinya.

            “Oh ini. Punya Alya ini pas SMP dan awal SMA dulu. Beberapa hari lalu, Om Setyo mengantarnya ke sini. Pas beres-beres rumah di Malang ternyata ada piala ini di gudang. Papa juga gak tau kok bisa-bisanya piala ada di gudang.” Papa beranjak, berjalan menuju almari tersebut mengambil salah satu piala dan kembali duduk di sampingku.

            Kuperhatikan piala yang ukurannya sepanjang lengan tanganku. Tertulis juara pertama penyaji terbaik. Aku mengetahui cerita Alya dulu yang menyukai seni peran dan dunia pertunjukkan, tapi baru kali ini mengetahui bahwa ia pernah mendapatkan beberapa piala ini dari hal yang ia sukai. Aku mendekatkan diri ke lemari kaca dan memperhatikan satu persatu piala yang berjejer rapi. Tidak ada juara tiga, semua juara pertama atau penyaji terbaik. The other side of Alya that I didn’t know. Dan kali ini, perempuan yang kutunggu sejak tiga jam lalu di rumah ini masih belum juga membalas panggilan telpon Mamanya. Alya membangun pikiran tentang kesibukanku yang membuat Papa dan Mamanya memaklumi diriku, dan itu membuat Alya lebih mudah untuk mengurusi segala kebutuhan pernikahan sendiri. Dan aku tahu, saat Alya seperti inilah yang nyatanya membuatku semakin merasa bersalah.

            “Hans, chat mu belum dibales juga sama Alya?” Mama keluar dari kamar dengan posisi yang masih sama. Handphone yang ia tempelkan di telinga kanannya.

            “Belum ma, mungkin perjalanan pulang atau masih ada agenda ketemu temen-temennya.”

            Ku lihat jam tanganku yang menunjukkan pukul sepuluh lebih lima belas menit. “Ma, Pa, Hans pamit pulang dulu. Papa Mama istirahat aja.”

            Tampak kekecewaan dari raut wajah Mama. Sekilas bisa kurasakan seperti menatap Alya seminggu lalu. Papa memeluk erat pundakku setelah berpamitan pada mereka. Sebenarnya langkahku sedikit gontai untuk meinggalkan rumah ini, karena yang ku inginkan sedari awal menuju ke sini tak bisa aku penuhi malam ini. Harus ku tunda lagi penyelesaian persoalan kami, menunda kembali rindu ini untuk ku lepaskan.

            Pintu depan sudah tertutup, bisa kulihat lampu utama ruang tamu diganti dengan lampu kecil. Aku menyalakan mobil dan menginjak gas pelan hingga mobil melaju pelan dan berhenti beberapa meter menjauh dari pagar rumah Alya. Aku mengikuti instingku kali ini, dalam hitungan detik belasan berlalu menuju dua puluh dan tiga  puluh. Sebuah mobil sedan silver yang ku kenal dari jarak beberapa meter mulai melambatkan lajunya. Tepat di depan pagar abu-abu rumah, Alya turun dari mobil. Kumatikan mesin mobilku, keluar dan sedikit berlari menuju perempuan itu. Perempuan yang menyadari kehadiranku, ia yang semula sibuk dengan kunci pagarnya, kali ini beralih dengan memandangku yang semakin dekat jaraknya dengan dirinya.

            “Hans, kamu…”

            Ku kunci mulutnya dengan kecupan dari bibirku untuk sepersekian detik. Sebodo amat jika ada petugas pos kamling yang sedang mengelilingi komplek lalu menyaksikan ini, biar saja mereka tau bagaimana usahaku untuk mendapatkan maaf dari tunanganku ini. Ku lepas pelan bibiku dari bibirnya yang masih sama rasa Vanilla dari lipt tintnya. Tanganku merengkuh erat tubuhnya, aku bisa merasakan tangan Alya yang seolah berusaha meyakinkan dirinya dulu untuk benar-benar membalas pelukanku.

            “Alya, maaf aku rindu.”

            Bagaimana bisa aku memenuhi semua mimpiki tanpa dia saat balasan pelukannya saja sudah sangat cukup menenangkanku malam ini, membuat kegelisahanku seketika hilang, padahal belum tentu dia akan memaafkan dan membatalkan keinginannya untuk memundurkan pernikahan.

***

 4 Bulan Sebelum Pernikahan..

            “Hans, padahal dua minggu lalu kamu bilang kalau warna navy itu gak cocok buat baju resepsinya, terlalu gelap kan katamu.”

            Sebisa mungkin aku tidak lagi melakukan kesalahan merespon keluhan Alya akan persiapan pernikahan kami, yang sebenarnya juga aku sudah melakukan kesalahan dengan persoalan mengganti warna baju resepsi. Tiap kata Alya yang keluar dari speaker handphone ku resapi betul, bahkan bisa ku bayangkan ekspresi jengkelnya saat menghadapi aku yang sangat cepat berubah ini. Tapi, aku lebih memilih mendengar ocehan dan omelannya selama apapun itu daripada harus menerima Alya yang mendiamkan aku seminggu.

            “Ya semoga aja pegawai butik Mba Nara belum beli bahan kainnya, kemarin aku fitting baju kita berdua dan milih warna cream. Itu warna pilihanmu lho ya.”

            “Lho kamu fitting baju sama siapa?”

            Ada jeda yang Alya berikan saat pertanyaanku meluncur. “Caca sama suaminya.”

            “Rere? Jangan bilang…”

            “Iya, aku bawa Rere karena ukuran badannya sama seperti kamu. Ya gimana lagi sayang, empat bulan itu gak lama.” Alya menyambut pertanyaanku yang belum selesai.

            “Alya sayang, ini pernikahan aku dan kamu. Kalau semua kamu urus sendiri terus aku harus ngapain sebagai calon pemimpinmu.”

            “Kamu cukup transfer aja semua kebutuhan kita.” Alya mengakhiri pernyataannya dengan tawanya yang renyah.

            “Sayang, aku serius.” Tidak ada nada tinggi dalam ucapanku tapi entah apa yang salah hingga membuat tawa Alya perlahan berhenti.

            “Aku pun, Hans. Kamu sih masih aja asik ngejar…” Ucapan Alya menggantung. Aku tahu jika ini tetap dilanjutkan tidak akan beda dengan bulan lalu akhirnya. Aku memperhatikan layar komputerku, notifikasi angka yang berada di inbox emailku terus bertambah. “Sayang, weekend ini kita ke butik Mba Nara lagi ya. Kalau bisa kamu hubungi dulu dia, bilang aja kita pending busana yang udah kamu pesan kemarin  sampai kita ke sana Sabtu besok.”

            “Oke, segera aku hubungi setelah ini.”

            “Hari ini kamu off kan? Makan siang bareng yuk, aku jemput ke kosmu.”

            “Hans, nggak semudah itu aku memberi maaf atas kelabilanmu soal baju ini ya. Tapi kamu beruntung karena aku lagi malas ngelanjutin dietku, jadi aku terima tawaran makan siangmu.”

            Aku menahan tawa agar Alya tidak merubah keputusannya. “Oke, I’ll pick you up in an hour, Sweet.”

            Panggilan telepon Alya berakhir bersamaan dengan ketukan pintu ruanganku. Lukman muncul dari balik pintu dengan wajah lesunya dan beberapa tumpukan berkas di tangannya.

            “Cuy, gue butuh bantuan lu lagi.” Ia terjatuh pelan pada sofa yang tidak jauh dari mejaku kerjaku.

            “Apa lagi sekarang? Gerobak merah ganti gerobak ijo?” responku sekenanya. Pandanganku masih belum bisa lepas dari layar komputer untuk mengecek satu per satu email yang aku dapat dari para rekan jurnalis daerah.

            Lukman beranjak dari sofa menuju ke meja kerjaku. “Lebih pelik, cuy.”

            “Lu masih inget gak sama komplotan penyerangan orang kementerian waktu itu? Salah satu orang penting di dalamnya ternyata juga terkait di kasus yang gue teliti sekarang, Hans.” Lukman melempar pelan satu berkas ke mejaku, ia berhasil membuatku meninggalkan pandangan pada komputerku. Ku amati satu persatu data dari berkas yang Lukman berikan, terdapat satu foto narasumber yang menurutku menjadi saksi dalam rentetan kasus ini. Kunci yang saat itu juga membantuku terlepas dari tawanan saat itu.

            “Gue butuh bantuan lu buat interview bapak Diwan. Dia kan yang bantuin lu waktu itu?”

            “Kapan?”

            “Kalau memang lu mau dan sanggup, lusa berangkat, tiga hari sampai hari sabtu.”

            “Kenapa harus aku?”

            “Pak Diwan cuma mau lu yang interview dia. Gue udah bilang bagian pimpinan investigasi. Semua bisa dipastikan aman dan gak akan ada acara tawan-menawan lagi. Tapi semua tergantung kesanggupan lu dan…”

            “Aku bisa. Aku minta data-data penelitianmu setelah makan siang, Man.” Aku meletakkan kacamataku, beranjak mengambil kontak mobil dan jaket yang aku letakkan di gantungan di samping lemari.

            Lukman seketika memeluk dan menepuk bahuku. “Thanks bro. Thanks a lot.”

            Memang aku masih belum tahu bagaimana harus ku jelaskan pada Alya soal ini. Hanya pada titik ini aku bisa merasakan bangunnya mimpi-mimpiku lagi setelah hampir setengah tahun aku berada di depan layar dengan menyaring berita-berita yang harus ku jadikan headline. Kali ini aku memiliki kesempatan untuk kembali ke lapangan, bertemu mereka dengan persoalan yang menurutku selalu memiliki sisi konyol yang harus publik ketahui. Kurasa cukup selama perjalanan empat puluh lima menit untuk mencari metode meluluhkan dinding pertahanan Alya agar mau mengamini tahapku ini.

***

            Sudah setahun terlewati tapi masih dengan perempuan dan menu makan siang yang sama. Hari ini sengaja ku bawa ke warung gado-gado yang menjadi tempatku melamar perempuan ini. Mataku masih saja merasa hangat saat melihat emas putih yang melingkar di jari manis di tangan kirinya.  Hanya hitungan beberapa bulan lagi, mimpi besarku untuk hidup bersamanya akan menjadi nyata.

            “Udah lama banget ya kita gak ke sini, ada apa nih?” Di tengah kunyahannya, Alya melemparkan pertanyaan.

“Ada lontong, ada kentang, ada bumbu kacang.”

            “Ih, Hans!” Alya menepuk bahuku.

Ekspresi gemas yang selalu membuatku ingin memeluk perempuan ini. “Habis pertanyaanmu ambigu banget.”

“Iya iya, bapak jurnalis kesayangan. Maafkan pertanyaan hamba yang tidak spesifik tadi.” Gumaman Alya sambil mengunyah lontong yang baru ia lahap menambah standar imut dari wajahnya.

“Sayang, piala-piala di rumahmu masih ada?” Entah apa korelasi dari raut wajah imut Alya dengan pertanyaan yang tiba-tiba mencuat dari mulutku ini.

Dan benar, ekpresi Alya perlahan berubah menjadi dingin. “Ada kok, kenapa?”

“Selama aku hidup, nggak pernah aku dapat penghargaan individu sebanyak yang kamu pernah dapatin lho. Dari aku sekolah sampai kerja sekarang selalu dapat penghargaan dengan perwakilan tim. Rasanya sayang banget kalo…”

“Kalo aku nggak nerusin mimpi-mimpiku? Itu bukan mimpi di hidupku, Hans. Itu cuma hobi seorang Alya kecil, duluuu banget.” Alya meletakkan sendoknya pelan, aku tau akan kemana arah dan akhir dari obrolan ini.

“Kamu mau ke mana lagi?” Alya menembakkan pertanyaan saktinya yang membuatku harus secepat mungkin mengolah potensi acting semasa belajar di teater sekolah.

“Ke hatimu…” Damn, seandainya para komplotan yang menahanku saat itu tau sikapku selemah di hadapan perempuan ini, mungkin aku benar-benar tinggal nama.

“Garing banget, Hans.” Alya berdiri sambil membawa piringnya, ia berjalan menuju Abang penjual dan menambah porsi gado-gadonya. Aku hanya memperhatikan sosok perempuan skeptis di depanku ini. Ternyata empat puluh lima menitku di perjalanan tidak cukup untuk  mencari metode meluluhkan hati perempuan ini.

***

ditulis oleh : Rizqi Erliani

Leave a Reply