I’ll Save The Dream (3)

4 bulan sebelum pernikahan.

Dari ribuan momen atau ekspresi yang Hans buat selama ini, ada satu yang paling kusuka sekaligus sangat menghiburku. Saat Hans kehilangan rokok dan koreknya, meski hanya tersisa satu rokok, Hans tetap kekeh mencari seolah sedang kehilangan jimat keberuntungannya. Pandanganku gak lepas dari kesibukan Hans yang mengorek ransel kecilnya, kemudian beralih merogoh saku jaketnya sampai meraba-raba bagian bawah kursi mobil yang ia duduki saat ini.

Hans berpaling padaku dengan raut wajah yang kini terlihat kesal tapi tetap menggemaskan bagiku.  Kutebak, hanya aku dan ibunya saja yang bisa menikmati wajah lucu seperti ini dari sosok Hans. “Kamu sembunyikan ya?!” Hans mendengus dengan kedua alis tebalnya yang hampir menyatu.

“Ih, kok aku.” Aku berusaha menahan tawa.

“Ayo dong Alya sayang, isengnya diganti yang lain aja. Nggak bosen apa kamu pake trik lama gini.”

“Ketinggalan di warung gado-gado kali.” Aku tetap berusaha menjaga ekspresiku senormal mungkin.

Hans mendekatkan wajahnya pada wajahku sampai bisa kurasakan hembusan nafasnya. “Seorang Alya biasanya akan membela diri kalau memang tidak melakukan apa yang dituduhkan.”

Dulu pernah kutanyakan pada Hans, apa yang membuatnya mau dengan seorang sepertiku. Salah satu jawabannya adalah karena Alya termasuk orang yang gak pandai untuk berbohong. Ada benarnya pengamatan Hans, tapi gak berlaku untuk sekarang.

Tanganku meraih tas yang berada di jok belakang. “Cek deh ada rokok atau gak.” Aku tersenyum tenang, Hans dengan matanya yang pelan-pelan lepas dari tatapanku mulai memeriksa isi tas. Dompet, tisu basah, powerbank, notebook, makeup pouch hingga pembalut dikeluarkan satu per satu.

See, gak ada kan?” kataku sambil segera memasukkan kembali barang-barang ke dalam tas. Hans membuang wajahnya, tanpa banyak kata, ia beranjak keluar dari mobil menuju minimarket yang hanya beberapa langkah dari tempat kami memarkir mobil.

“Hans, nitip susu kotak ya, dua.” Teriakku pada Hans yang sudah berada di depan pintu minimarket.  Titipanku hanya kedok agar aku bisa tertawa puas di sini melihatnya yang jengah dengan urusan konyol siang ini. Mungkin bagian redaksi berhasil membuat ketelitian Hans berkurang drastis dan kecerdikanku bertambah. Hans melewatkan makeup pouch yang sudah ia pegang tadi, satu bungkus rokok yang masih tersisa lima batang ini kuletakkan di bagaian tengah antara powder,cushion, beberapa liptint, blush on dan face mist yang membuat kemasan rokok tidak tampak dari luar, dan yang beberapa waktu ini baru kuhapal betul adalah Hans gak pernah  ada minat untuk membuka makeup pouch ku.

Segera mungkin kuletakkan rokoknya di dashboard sekitar kemudi, kuposisikan sedalam mungkin sampai sekiranya gak akan terlihat sekilas. Dari kursi mobil yang ku duduki saat ini, bisa ku perhatikan Hans tengah dalam antrian kasir. Aku mengatur nafasku supaya terkontrol ketika ia datang dan melihat barang yang ia cari sedari tadi.  Dering nyaring dari handphone Hans yang menempel pada standholder di dashboard mengalihkan pandanganku sesaat dari Hans.  Sengaja kubiarkan panggilan dari Lukman hingga nada dering berhenti, bagiku masih belum jadi hakku untuk menerima panggilan di handphone Hans tanpa ijinnya meski status kami sebagai pasangan yang telah bertunangan. Apalagi untuk membuka semua aplikasi atau isi chat…wait, what the fuck did I just read.

Lukman:

Hans, seluruh berkas investigasi udah gue taruh di meja samping PC lu…

Investigasi apa?? Hanya sepenggal kalimat itu yang tertampil di display. Sebenarnya Ini hal yang gak normal aku lakukan kalau menyentuh dan membaca chat ini, tapi untuk sekarang saja, bodoamat.  Terima kasih untuk opsi show recent chat yang membuatku gak perlu membuka aplikasi.

Lukman:

Hans, seluruh berkas investigasi udah gue taruh di meja samping PC lu, coba lu cek dulu. Kalo emang udah sesuai kabarin gue. Oh iye, kirim nomor ktp lu, biar gue yang urus tiket pesawat buat besok. Thx bro.

Hold key to lock. Hans kembali dengan keadaan layar ponsel yang gelap, Hans gak akan tau kalau ada panggilan dan pengingat dari Lukman sampai aku yang memberi tahu.

“Lho, nah bener kan kamu yang ngumpetin rokoknya!” Seruan Hans saat matanya menemukan harta karunnya. Adegan yang ku kira tadi bisa membuatku terbahak malah berubah membuatku muak.  

Telapak tangan Hans yang lebar mengacak-acak rambutku dengan kesal. Oh hold on, gimme a second bitch!. Aku butuh mengontrol supaya gak ada lagi perdebatan hari ini, sungguhlah melelahkan untuk berdebat urusan yang sama, itu-itu aja dari setahun lalu.

are you okay, hon?” Hans mulai membuka obrolan setelah tiga puluh menit mobil melaju tapi hanya suara penyiar radio yang mengisi kekosongan di mobil ini.

“Yep.” Jawabku sekenanya. Ku amati arloji di tangan, masih sisa sepuluh menit lagi untuk sampai di kos, syukur kalau gak macet di lampu merah beberapa meter lagi.

Really, tell me, what’s wrong?

Aku hanya merespon pertanyaan Hans dengan helaan nafas panjang sambil membuang muka ke luar kaca. Sebisa mungkin aku mengatur nafasku, menahan emosiku untuk terus beradu argumen dengannya, sebisa mungkin gak ada air mata dari wajahku kali ini.

“Hey, Alya.” Tepat saat lampu merah menyala, tangan kiri Hans menarik pelan tanganku dan menggenggamnya beberapa saat.

“Tadi mas Lukman telpon, tapi sengaja gak aku angkat. Kamu baca aja chatnya.” Yang sudah kuduga raut wajah Hans berubah dan genggaman tangannya mulai merenggang. Aku menarik pelan tanganku, memberi jeda untuknya agar tetap bisa bernafas dan menggerakkan tangannya untuk meraih handphone.

Lampu merah di dekat kos ini memang benar-benar menyebalkan untuk orang-orang dalam keadaan terhiempit seperti aku saat ini. Perasaan memintaku untuk berusaha tidak menatapnya, tapi otakku memerintah agar mataku terus memandanginya, menatap kekhawatiran Hans yang saat ini benar-benar nyata di depanku. Aku tahu saat ini di pikirannya sedang merangkai kata yang pas supaya gak ada lagi perselisihan argumen. Tapi sayangnya sedari awal sudah ada penolakan dari otakku untuk menerima alasan apapun yang akan Hans lontarkan.

“Kamu gak perlu memberikan statement apapun Hans, karena percuma gak akan aku terima.” Ucapku sambil menatap Hans, iya aku mencoba untuk memberanikan diri menantangnya.

Kali ini Hans yang kembali menatapku tanpa ragu.”Oke nevermind…”

Aku bisa merasakan pernyataan Hans yang menggantung. Sampai mobil di belakang kami menyerukan klakson pengingat kami akan lampu yang telah berganti warna hijau. “Sampai kapan kamu bakal seperti ini?” here I am, yang akhirnya bisa mengeluarkan pertanyaan dari dulu. Pertanyaan yang ku lontarkan saat jarak kosku tidak jauh lagi.   

“Alya, ini bukan investigasi seperti yang kamu bayangkan. Ini cuma interview biasa dan itu berlangsung tiga hari aja. Jauh lebih lama saat aku diklat pemred bulan lalu.”

“Tiga hari mulai besok? Berarti berakhir hari Sabtu? Kamu lupa…”

“Nggak, aku nggak lupa kalau Sabtu ada agenda ke butik.”

Hans, if you really care with someone, you’ll give your time with them not only with your dreams!”

And if you have a real dreams, you’d feel what I felt.” Tegas Hans tepat saat mobil berhenti di depan gerbang kos ku.

“What?? Oh kamu berharap aku mau bermimpi banyak hal supaya aku bisa menerima mimpi-mimpimu? coba kamu hitung berapa banyak mimpi yang hampir mencelakai kamu dan merusak beberapa rencana kita.” Aku menatap mata Hans yang tetap tajam kepadaku. Aku paham dalam hatinya pun sekarang berdentum keras emosi yang masih ia tahan untuk tidak keluar. Aku paham dirimu, Hans. Aku mengambil nafasku dalam-dalam untuk menahan air mata yang dalam satu kedipan saja bisa jatuh. “Hans, aku gak minta memundurkan tanggal lagi. Tapi jujur, aku semakin gak yakin dengan pernikahan kita.”

Kini dia benar-benar terdiam, pandangannya tidak setajam saat di awal tadi. Semua pikiran yang aku pendam sejak mimpinya yang semakin menjadi akhirnya bisa ku ungkapkan siang ini, meski aku tidak berharap dengan cara seperti ini. AC di mobil ini ikut serta menyumbang rasa dingin yang lebih dari biasanya. Seperti menusuk tubuh kami berdua hingga mati rasa. Aku perhatikan gerakan tangannya yang akan mendekat pada bahuku. Ya, aku tau ia akan melemparkan pelukannya untuk menghangatkan kembali suasana. Tapi, lagi-lagi otakku menolak itu, sebelum pelukannya mengunci setengah tubuhku, lekas aku membuka pintu mobil, membalikkan tubuhku lalu beranjak keluar dari suasana brengsek ini. Aku gak peduli lagi entah aku menutup pintu mobil dengan pelan atau keras, yang jelas aku merasakan emosiku tersalurkan pada kekuatanku di akhir saat berhasil menolak pelukannya. Aku terus melangkah cepat tanpa mempedulikan hal apa yang terjadi di belakang punggungku, bahkan saat aku ingat satu harta karun milik Hans yang tertinggal di tasku, korek favoritnya masih ada padaku.

***

Kepalaku masih saja terasa berat, sudah empat hari terlewati tapi rasanya gak sepersen pun beban dari perdebatan dengan Hans siang itu berkurang. Semua masih terasa memuakkan, aku yang seperti ini, Hans yang ambisius. Semua sama-sama batu. Bersyukurnya di saat seperti ini, aku bisa mendapatkan ijin sakit dari Caca yang bukan hanya sebagai atasanku saja tapi juga sepupu yang sangat mampu memahami persoalan ku dan Hans meski selalu ku tutupi darinya. Yep, I’m lucky to be able to work at her company.  Kuraih handphone di meja samping kasurku yang sudah empat hari ini  sengaja non aktifkan. Cukup dengan sekali hembusan nafas, aku siap untuk menerima puluhan pesan atau bahkan panggilan yang tertunda.

Setidaknya dengan aroma teh rosella yang baru ku buat bisa sedikit menurunkan migrainku. Dari meja makan, kudengar beberapa kali getaran handphone yang sengaja ku letakkan di meja komputer. Ku biarkan telinga terbiasa dengan satu persatu suara getaran pendek dari chat dan getaran yang lebih panjang dari panggilan telpon tertunda.  You know, sometime I want to go to a place where nobody knows me, and live as if I have no history at all.

Ketukan pintu kamar kos membuyarkan lamunanku dari suara getaran handphone. Ku lihat kalender yang menempel di tembok dekat televisi. Hari minggu, berarti harusnya Hans sudah pulang dari agenda investigasinya, iya investigasi yang sangat aku yakini pasti tetap dilaksanakan. Aku membiarkan pintu itu diketuk beberapa kali. Lebih baik aku dikira mati oleh kawan sekitar kompleks kos daripada harus membuka pintu lalu ada wajah Hans menanti di depan.

“Aya… Ini Caca.” Seperti gelombang radio yang sampai di telinga pendengarnya. Dengan panggilan sayangnya padaku, Caca membuatku sontak beranjak dari kursi dan setengah berlari membukakan pintu untuknya. Sosok mungil Caca terlihat dengan hair style blunt bob, denim serta ripped jeansnya tanpa aba-aba langsung masuk ke dalam ruangan dengan membawa paper bag berisi dua Starbucks serta roti panggang oreo kesukaanku, meski kali ini sama sekali tidak menggugah seleraku.

“Hibernasi sih boleh, Cuma ya jangan sampe matiin hape dong.” Caca menggantungkan denimnya ke gantungan baju yang menempel di dinding, dan gak perlu dipersilahkan dirinya langsung berlari ke arah kasur dan merebahkan tubuhnya. “Udah baca chatku belom?”. Pertanyaaan Caca membuatku terpaksa harus meraih handphone yang getarannya sudah berhenti. 15 Panggilan tak terjawab Hans, 2 Panggilan tak terjawab mama, 2 Panggilan tak terjawab dari Caca dan 89 chat dari berbagai manusia yang masih saja aku malas untuk membukanya. Apalagi hampir setengahnya dari Hans.  Jemariku hanya memainkan layar ke atas dan ke bawah menyimak sekilas beberapa chat tanpa membukanya.

“Bentar lagi di Bali bakal ada cosplay event art yang ngundang beberapa tamu dari negara-negara di Asia tenggara. Klien kita termasuk promotor terbesar nomor tiga di program itu, mereka pengen kita bikin ad dan ulasan tentang acaranya. Sebenernya cuma lima hari sih, tapi pra-nya yang bikin lama.”

“Iya aku bisa kok berangkat, Ca.” Jawabku singkat karena tahu ke mana arah prolog dari Caca ini.

Caca meringis keasyikan mengetahui responku secepat itu. “Yaudah berarti kita bagi aja keberangkatannya yak. Antara Aya dan Lusy, lumayan nih fee nya buat biaya nikahmu.”

Anggukanku cukup menjawab tawaran Caca yang semangat menjelaskan, ia bangkit dari tidurnya dan memelukku erat, namun fokusku terbagi ke layar handphoneku.

“Astagaaa buyung. Malah main odyssey!” Caca menjitak pelan kepalaku sebagai protesnya.

“Jadi aku berangkat kapan dan berapa hari?” Aku meletakkan handphoneku, berusaha mengumpulkan semangatku untuk projeknya.

“Lima hari aja, pas hari H event. Emang kamu mau dua minggu full? Yakali sibuk pra wedding begini” Caca membukakan kemasan roti panggang dan cream matcha untukku. Tanpa alasan jelas, Caca menempelkan telapak tangannya tepat di jidatku. “Udah nggak panas sih. Semangat dikit napa sih sis!”

“Yeay aku semangat!” Ujarku sambil mengepalkan tangan ke udara.  Kedua kalinya Caca menjitak ubun-ubunku. Untung aja dia atasanku sekaligus sepupu yang lebih tua dua tahun dariku. “Kenapa lagi sama Hans? masih belum berkembang juga tuh masalah?” Pertanyaan retorik Caca berhasil menyita perhatianku. “Berkembang? Lah kamu mau masalahnya semakin besar?”

“Nope, Aya, I mean… okay, gini sedikit wejangan dari ku yang udah enam tahun di kehidupan pernikahan.” Umur Caca memang selisih hanya dua tahun dariku, tapi untuk mentalnya jauh dewasa daripada aku dengan keberaniannya menikah di umur dua puluh satu.

Caca memberikan Frappuccino green tea dan mengkode ku untuk segera meminum pemberiannya. “Persoalan apapun yang didebatkan dalam sebuah hubungan itu adalah hal yang wajar dan sangat normal.”

And then?” Aku menyeduh kembali Frappuccino yang ternyata bisa lebih menenangkan daripada teh rosella yang kubuat tadi.

“Yang jadi permasalahan adalah saat hal yang kalian debatkan dari waktu ke waktu itu sama. Itu-itu aja dari tahun ke tahun. Hubungan yang baik itu saat kalian bisa menyelesaikan satu persoalan dalam rentang waktu yang cukup. Dan ketika di depan ada persoalan lagi, harusnya itu jadi persoalan yang baru – yang beda – yang bisa ngasih perkembangan cara berpikir kalian – nurunin ego kalian masing-masing. See?”

Yep, hampir setahun hal yang selalu mengganjal prosesku dan Hans adalah tetap satu persoalan, hanya tentang mimpi, itu saja. Aku hanya bisa menatap sepupuku yang balik menatapku dengan asyik mengunyah roti panggangnya. “Saranku, kalo emang kamu masih belum bisa meredam banyaknya hasrat atau mimpi atau… apalah nyebutnya dari Hans itu. Coba kamu cari tau sesuatu yang bisa mengendalikan Hans dari orang yang paling dekat dengan dia. Saran ajasih, cuma aku kan gak tau ya siapa di sini sebenernya yang lebih batu.” Caca menutup pemikirannya dengan tawa ejekan khasnya. Aku masih berusaha mengurai tiap kalimat dari pernyataan Caca. “But, wait Ca, Could you repeat your last word?” Ku pinta Caca yang seketika seperti mengingat-ingat ucapannya.

“Ca, aku rasa gak perlu sharing schedule sama Lusy. Ijinin aku berangkat ke Bali dua minggu dan ngerjain ad plus ulasannya sendiri.”

“Oh my crazy Aya. Oke deal!” Caca menjabat tanganku penuh semangat.

***

Plecing kangkung, ayam betutu, lawar dan sate lilit menjadi menu komplit yang berada di hadapanku sekarang. Semua hasil olahan tangan Ibu. Tepat seminggu di Bali, tapi baru hari ini aku bisa punya waktu untuk berkunjung ke rumah Ibu Hans yang sebenarnya menjadi alasan kuatku untuk mengambil job dua minggu ini tanpa sharing schedule dengan partner kantor.

“Gak sekalian babi gulingnya nih, Bu?” Aku tertawa menggoda Ibu yang masih sibuk menata piring untuk makan siang kami berdua.  

“Lho kamu mau? Bilang dong, tau gitu kan bisa ibu belikan dulu tadi.”

“Alya gak mau kalo beli, maunya Ibu yang buat.”

 “Sekalian Ibu yang nyembelih babinya?” Ibu balik menggodaku dengan ekspresi yang lima puluh persen sama seperti Hans saat melontarkan pertanyaan menggelitik. Spontan membuatku terkekeh. Ku akui bakat memasak Hans jauh lebih baik daripada aku yang batas menu spesialnya adalah sup ayam krim keju. Tangan Hans lebih lihai untuk mengolah bahan masakan apapun jadi menu yang sehat dan berkualitas untuk konsumsi kami tiap hari nanti, dan aku yakin ini semua berkat tangan Ibu pula. Sudah lebih dari enam santapan nasi yang masuk ke mulutku, dan semua lauk rasanya pas.

“Kalo gini sih, Alya mending sarapan sampai makan malam di sini aja, daripada di hotel, western mulu menunya.”

“Kan Ibu udah nawarin dari awal mending tidur di sini.” Ibu merespon sambil menambahkan satu sendok nasi ke piringku. Tanpa penolakan apapun aku kembali melahapnya, kali ini mencoba lawar dengan bumbu betutu yang pedasnya luar bisa untuk menyegarkan kembali otakku setelah diperas berhari-hari demi sebuah advertisement concept.

“Ibu tuh seneng banget kalo ada yang nginep di sini, dulu temen-temen Hans pas SMP, SMA kalo ada tugas kelompok pasti nugas di sini, ijin tidur sini padahal tugasnya bisa selesai dalam itungan jam.” Senyum ibu terlihat jelas, sangat manis saat ia mengingat-ingat masa yang kali ini tampak beliau rindukan.

“Ibu masih tetep suka ke gunung?” Aku mengalihkan pertanyaan, aku gak mau suasana berubah menjadi canggung karena kenangan.

“Ya masih dong. Akhir bulan ini rencananya bareng temen-temen ibu ke Gunung Lawu.”

Mataku terbelalak mendengar informasi Ibu, hampir tersedak lebih tepatnya. Aku meraih air putih di sampingku, melancarkan kembali gaya peristaltik di kerongkonganku. “Ibu serius? Gunung Lawu? Ah ngapain sih Ibu.”

“Ngapain? Nanam jagung di puncaknya… Ya mendaki lah, menurutmu buat apa, nak.” Ibu masih terlihat santai dengan asik mengorek sambal plecing dari cobeknya.

“Tapi nanti Ibu…”

“Ibu sama rombongan. Kamu gak usah khawatir Ibu lebih terbiasa sama Gunung daripada Mall. Ibu lebih sering ke mendaki daripada kalian berdua.” Ibu memotong ucapanku yang benar bahwa aku khawatir dengan umur Ibu yang sudah memasuki angka lima puluh lebih ini.

“Kamu sama Hans ini sama. Kalau urusan begini pasti bawel.” Lanjut ibu dengan lirikan meledeknya.

“Ibu juga sama seperti Hans…”Aku tercekat, jangan, gak perlu diteruskan. Tapi, spontan tawa Ibu pecah, beliau meletakkan kembali suapan nasinya ke piring. “Kamu salah kalau urusan seperti ini menyamakan Ibu dengan Hans. Ibu masih bisa mengontrol, Ibu masih tau kemampuan Ibu kok.”

Aku paham apa yang ibu maksud, ku rasa tanpa aku menjelaskan lebih detail, Ibu juga sudah berhasil menangkap seluruh keluhku terhadap anak tunggalnya. Tapi aku tetap gak berani untuk melanjutkan ucapanku tadi, masih tetap menggantung, aku harap ucapanku terbawa angin yang berlari ke arah taman belakang rumah atau ke wastafle tempat mencuci piring-piring ini nanti.

“Hans itu lebih mirip almarhum ayahnya.” Ibu menyantap suapan terakhir, lalu meneguk air putih di samping tangan kanannya. Aku masih belum ingin merespon dengan perkataan apapun, dengan mendengar pembukaan yang Ibu ucapkan sudah cukup bagiku akan mengetahui harus seperti apa. Ibu menggenggam lembut tanganku, tatapan matanya hangat. Kali ini beda dengan tatapan hangat dari Hans, jauh lebih menenangkan tatapan Ibu saat ini.

“Ibu tau kamu capek, Ibu dulu juga gitu saat menghadapi Ayah Hans.” Senyuman Ibu Hans adalah senyuman perempuan Jawa yang ayu. Senyuman yang aku suka selain senyuman mamaku sendiri. “Kalau kamu berpikir Hans itu mirip dengan Ibu yang suka tantangan, keras dengan keinginan itu salah. Ibu seperti ini karena suami dan anak Ibu sendiri.”

“Ibu ngalah?” Hal yang aku pikirkan pertama saat mendengar penjelasan terakhir Ibu.

“Nggak, Ibu terbiasa… terbiasa dengan mimpi-mimpi Ayah Hans. Sebelum ada Hans, Ibu dan Ayah gak jarang bertengkar gara-gara banyaknya cita-cita Ayah yang buat Ibu ngelus dada bahkan sempat kepikiran untuk ninggalin Ayah. Ibu ini orang yang realistis, sama seperti kamu bahkan sampai sekarang.”

Dahiku berkerut mendengarnya. “Gimana ibu bisa terbiasa?”.

Don’t be trapped in someone else’s dream, Alya. Itu yang ibu tanamkan di sini.” Ibu mengetuk pelan di dahi dan dadanya.

“Jadi benar Alya harus kembali punya mimpi?”

“Bukan, kamu gak harus mencari mimpi-mimpimu kalau memang kamu gak nyaman, jangan paksakan sesuatu. Yang terpenting dari semuanya itu kamu bisa hidup seperti yang kamu inginkan tanpa terjebak dalam mimpi atau standart orang lain.”

Diam, hanya itu yang bisa aku reaksikan. Ibu beranjak menuju sebuah rak. Tangannya yang sedari tadi menghangatkan tanganku, kini beralih pada sebuah buku yang berada di antara deretan buku lainnya.  Ibu mengambil sebuah buku berwarna peach, ia membuka dan mencari sebuah halaman. Aku berdiri mendekat ke arah Ibu. Pada sebuah halaman, ibu menatapnya cukup lama lalu memberikannya padaku. “Itu ditulis sebelum kanker paru-paru menyerang tubuh Ayah. Tapi Hans salah menangkap pesan dalam catatan itu. Dia lupa kalau masih ada halaman terakhir catatan Ayah yang paling tepat tentang mimpinya sebagai seorang kepala keluarga.” Ibu mengelus bahuku, tangannya masih saja terasa hangat, dan kali ini benar-benar aku ingin memeluk perempuan tangguh ini.

“Ibu bukan melimpahkan tugas ini ke kamu. Tapi ibu yakin, kamu adalah orang yang paling tepat untuk meredam ambisi Hans. Kalian harus bisa menjadi rem dan alarm satu sama lain.” Ibu bisa membaca pikiranku, ia melepaskan pelukannya padaku. Tubuhku yang lebih tinggi darinya tidak mengurangi rasa hangat yang ia berikan dengan elusan di punggunku.  “Yakinlah dengan pernikahan kalian. Tetaplah simpan tanggal dan mimpi baik kalian berdua.” Senyuman Ibu menutup obrolan kami siang ini, Ibu beralih menuju meja makan, kembali membereskan piring-piring yang terlihat berkurang banyak isinya.  

Aku membuka kembali buku catatan ini, mengamati satu halaman yang Ibu batasi tadi.

-April 95. Even when I fall and hurt myself. I keep running toward my dreams-

Detik ini aku baru tahu prinsip seperti ini yang membentuk Hans sekarang. Aku membuka halaman paling akhir dari catatan milik Ayah Hans.

-Mei 97. I want to be your dream. I think that’s my role- 

Aku tahu apa yang membuat Ibu berhasil bertahan dan terbiasa dengan Ayah. 

Hans Giovanni, menyatulah dengan mimpiku. Lengkapi mimpiku.

***

ditulis oleh : Rizqi Erliani

Leave a Reply