I’ll Save The Dream (4)

10 Minggu sebelum pernikahan

            Tanah di luar masih basah, sisa hujan deras sejak semalam. Dari jendela kantor masih bisa kulihat beberapa buliran air kombinasi hujan dan embun. Subuh ini benar-benar dingin, khasnya hawa setelah hujan yang biasanya kusukai, untuk kali ini malah buat beberapa anggota tubuhku seperti mati rasa. Suara detak dari pergerakan jarum jam dinding sudah jadi kawanku selama lima hari tinggal di kantor, ini sudah lebih dari empat belas hari dan aku masih belum memiliki kuasa untuk menghubungi Alya. Empat kali aku coba menemuinya di kos dan sekali ke kantornya, hanya informasi bahwa Alya ke luar kota selama dua minggu dengan urusan pekerjaan saja yang kudapat. Sengaja tak ku cari tahu tepatnya di mana dia menghabiskan waktunya selama itu hanya untuk pekerjaan, setimpal buatku yang lalu tak memberi tahu rencana investigasiku padanya.

            Beberapa berkas masih terlihat menumpuk. Ini kali pertamaku tak semangat seperti biasanya untuk menyelesaikan urusan investigasi yang tinggal sepuluh persen lagi akan tuntas. Terutama akhir-akhir ini, rasanya mentalku kembali seperti remaja yang sedang puber. Setiap terdengar nada dering dari panggilan atau chat, antusiasku begitu tinggi untuk melihat panggilan itu, panggilan yang ku harapkan hanya dari satu orang. Dua minggu lebih kuhabiskan untuk berkontemplasi, apa yang aku cari sejauh ini. Hanya itu yang menjadi kesimpulanku.

            Pintu terbuka tepat saat ku bangun dan duduk termangu mengumpulkan kembali sukma. Seorang Lukman dengan penampilan yang sama lusuh ditambah mata pandanya memasuki ruangan lalu melemparkan tubuhnya ke sofa di hadapanku.

            “Gak tidur lagi?”

            “Lu mau sarapan pizza, steak, burger atau bubur ayam?” Tawar Lukman yang tidak merespon pertanyaanku sebelumnya.

            “Kau ulang tahun?”

            “Lebih dari itu, Hans!” seru Lukman yang langsung bangun dari posisi terlentangnya. “Kasus di investigasi gue bakal publish pagi ini! Gue yakin, waktu sarapan para pejabat yang namanya tercatut di media hari ini gak bakal senikmat biasanya. Waktu sarapan kita yang harus bisa lebih nikmat sekarang! Ayo lu mau apa?!” Sahut Lukman dengan euforianya yang malah menimbulkan tanda tanya buatku.

            “Udah selesai? Bukannya masih ada satu orang lagi yang harus kita cari tahu dari sumber proyek itu?” Aku beranjak, berjalan menuju mejaku untuk mengecek kembali berkas-berkas hasil penelitianku.

            “Lu banyakan tidur di kantor jadi ngigo, ngaco dah. Lu udah ngasih berkas hasil akhir dua hari lalu, Hans.” Lukman menatapku aneh. Aku tunggu beberapa saat untuk kembali mengingat kebenaran ucapan Lukman. “Baru ini gue liat lu banyak pikiran pake banget, Hans. Gak sewoles biasanya.” Lukman berjalan ke arahku yang mematung di depan berkas-berkas yang entah isinya apa. Ia membuka tali di sebuah amplop coklat berukuran besar yang semula ada di tanganku. Ku biarkan Lukman memeriksa apa yang ada di dalamnya. Aku menatap air muka Lukman, aku paham makna dari hembusan napasnya yang panjang, tapi aku tidak tahu harus berkata apa saat melihat beberapa contoh undangan pernikahan. Ia membuka dua berkas lainnya yang berisi floorplan dan dekorasi di taman yang rencananya menjadi tempat ku dan Alya akan melaksanakan pernikahan. Harusnya bulan ini kami sudah membereskan semua urusan ini. Semua tumpukan amplop yang ku kira berkas pekerjaan bukan tentang pernikahan. Lukman memasukkan kembali ke masing-masing amplop.

“Jadi apa pendapatmu, Man?”

            “Soal apa?” Lukman menumpuk rapi berkas pernikahanku dan Alya.

            “Yang udah kau lihat barusan.” Jawabku sekenanya. Kondisi ruangan ikut melengang, Lukman berbalik memperhatikanku. Matanya tak lagi sesayu tadi saat memasuki ruangan, tatapan seorang Lukman saat berada di titik tidak normal bagiku, saat-saat ia berada pada hal yang serius, memangnya apa yang tidak serius jika berbicara pernikahan. “Dengan kau berhasil menuntaskan kasus besar pejabat bobrok itu, berarti gak perlu kujelaskan secara rinci persoalan ini kan?” Pintaku pada Lukman yang tidak melepaskan pandangannya padaku.

            “Gak ada masalah yang gak ada titik tengahnya. Tergantung lu mau cari atau menghindar.” Lukman akhirnya bersuara dan seperti dugaanku tak perlu ku jelaskan secara rinci, karena kusadari memang diam-diam dia mengamati kegelisahanku akhir-akhir ini.

            “Dengan lu juga mendiamkan persoalan ini, sama dengan lu nyumbang jarak antara kalian berdua. “ Lukman melanjutkan dengan menunjuk tumpukan berkas yang ia buka tadi.

            “Aku terlalu ambisius. Terlalu banyak yang kukejar, Man.”

            “Jangan lu salahin karakter diri yang emang udah ada sejak lahir. Yang lu perlu punya adalah kendali. Gak semua cita-cita, harapan harus dicapai dengan keras.” Lukman menepuk pundakku pelan. “You’ve been trying so hard, Hans. It’s okay to take a break, as long as you have a lot moments to feel happiness.

            Kalau boleh jujur, kadang memang aku merasa lelah dengan mimpiku sendiri. Mimpi yang sebenarnya aku tak tau apa membuatku, orang-orang di sekitarku juga merasakan kebahagaiaan itu atau malah merasa tersingkirkan, seperti Alya saat ini.

            “Hubungi Alya lagi. Sebesar apapun pertengkaran, bisa runtuh kalau rasa saling membutuhkan dan mengisi masih ada di masing-masing hati kalian.” Kali ini pukulan tangan Lukman ke punggungku terasa jauh lebih keras. Ia mengakhiri pendapatnya dengan sebuah senyuman yang baru ini ku rasa sangat manis dari sosok Lukman. Ia berjalan menuju pintu. “Traktirannya gue ganti sarapan besok aja ya, kalo dah bener masuk jeruji tuh para tikus.” Teriak Lukman dengan lambaian tangan penuh semangat sebelum menutup pintu kantor.

            Aku meraih handphone ku di meja depan sofa. Tanganku mencari chat terakhir pada Alya yang berlangsung tiga minggu lalu, itupun pesan sepihak dariku yang tak terbalas satupun darinya. Aku tidak banyak berharap panggilanku kali ini akan diterima, bahkan jika bisa, kuajak ngobrol saja mesin penjawab yang biasanya di akhir memberi himbauan bahwa panggilan ku memang tidak dipedulikan oleh yang memiliki nomor.

            Aku sangat hapal, ada sembilan nada tunggu dalam tiap panggilan telpon yang biasanya masuk ke lubang telingaku sebelum suara mesin penjawab. “enam,tujuh,delapan… nomor yang anda…”

            “Halo.” Alya menjawab panggilanku. Aku tercekat, sekarang rasanya tenggorokan tertahan sesuatu untuk mengeluarkan suara. Di seberang sana, seorang perempuan hanya mengeluarkan satu kata, tidak ada pengulangan yang biasanya orang lain lakukan saat tidak terdengar apapun di telponnya.

            “Alya.” Aku memanggilnya lirih. Meski tetap tak ada respon darinya, aku masih bisa merasakan suara napasnya pelan. Dengan tidak langsung mematikan panggilan, itu sudah cukup buatku. Bagiku marahnya Alya memang berbahaya tapi bagaimanapun tetap terjaga kecantikannya. Meski secuil, tapi bisa ku rasakan rindunya untukku. “Alya, aku rindu kamu, jaga kesehatan.” Dalam hitungan ke empat akan kumatikan telpon ini jika memang tetap tidak ada kata dari Alya, setidaknya aku tak terlalu merusak awal harinya dengan banyak bicara. Satu, dua -̶-Ya…beneran gak mau ngomong satu kata aja gitu ̶  tiga -̶-satu huruf ajadeh ̶- empat. Okay, doesn’t matter, denger napasmu aja udah cukup bikin jantungku bekerja tak normal seperti biasanya, lebih cepat daripada saat lari pagi.

***

            You may hate me but I can’t hate you

            And I won’t replace you

            Tell me how to feel about you now

            Aku meminjam lirik lagu Paramore yang kali ini benar-benar ingin ku ungkapkan pada Alya. Sekarang, jika aku tetap memaksa keluar dari mobil ini dan masuk ke dalam kantor Alya, akan ada dua hal yang salah satunya pasti akan terjadi. Pertama aku akan tetap bisa menemui Alya dan mengajaknya makan siang dengan bekal yang ku bawa ini, atau kedua, aku hanya bisa meninggalkan kotak makan ini dengan menitipkannya di bagian resepsionis tanpa bisa melihat perempuanku. Kalau begini caranya, tak jauh berbeda aku dengan orang-orang yang memiliki waktu besuk atau kunjungan di sebuah lapas.  Ah, tak peduli opsi mana yang akan aku terima sebentar lagi, yang terpenting adalah bekal makan siang ini harus sampai ke tangan Alya. Hanya itu yang bisa kubuat ekspektasi demi meminimalisir rasa kecewaku semisal adegan kedualah yang nantinya aku terima.

Perusahan advertising tempat Alya bekerja ini besarnya tidak melebihi gedung kantorku, tapi dari luar bisa kurasakan nuansa dan suasana berbeda yang kulihat dari banyaknya karyawan di sini. Entah bagaimana, pancaran wajah-wajah karyawan yang sedari tadi berlalu melewatiku seolah mengejekku bahwa di sini bisa sesantai dan sebahagia itu. Bekerja di tempat ini rasanya bisa membuat awet muda, berlawanan dengan kantorku yang hari ke hari bisa memperbesar lingkar mata panda.

 Di kejauhan, sekitar lobby, aku melihat Alya dengan rambutnya yang terikat rapi, celana ripped jeans favoritnya dan converse merah pemberianku di ulang tahunnya dua tahun lalu. Aroma vanilla dari parfumnya bisa kucium dalam radius lebih dari lima meter ini, aroma yang saat ini membuatku terpaku memandangi tawanya dari kejauhan. Tebak, tawanya akan terhenti saat dia menyadari bahwa aku berdiri di sini. Tiga…empat…lima…enam…tujuh! Sometime, it’s good to not to be overconfident, aku memastikan betul tawa Alya yang berubah menjadi senyuman hangat itu bukan untukku. Aku menoleh ke arah belakangku, tak ada siapapun yang berdiri begitu pula samping kanan-kiri ku, hanya ada angin yang melewati tubuh kaku ini. Tiga kawan Alya yang berdiri di sampingnya pun ikut-ikutan tersenyum-̶ bukan-̶ lebih tepatnya cekikikan menatapku. Sampai pada cermin panjang di samping meja resepsionis memberikan pantulan yang menyadarkan keadaanku saat ini. Pria dengan tampang lusuh, sudu-sudut jenggot yang masih belum ku rapikan, tangan kiri membawa kotak nasi serta bucket bunga ukuran besar yang ku peluk erat dengan tangan kananku. Alya bukan tersenyum pada Hans, dia tersenyum pada kebodohan Hans siang ini. Iya Alya, aku semakin bodoh tanpa kamu.

***

Aku menyusuri sebuah koridor di salah satu sudut ruangan di gedung lantai empat. Langkahku terhenti di ujung ruang tanpa pintu berukuran 4×3 meter dengan jendela kaca yang cukup besar sebagai pembatas dalam dan luar ruangan berupa pemandangan kota siang ini. Ruangan baru bagi creative team yang masih dalam tahap finishing, lengang, bahkan selain aku nyaris tak ada manusia lain yang ke sini. Aku berjalan menuju sebuah meja dan dua kursi yang rasanya sengaja disiapkan untuk kami berdua, terutama posisi yang tepat menghadap pemandangan di luar, pas untuk menghiasi mata kami selagi makan siang. Ku letakkan kotak makan yang sedari tadi berada di genggaman tanganku, bahkan bunga yang tak lepas dari pelukanku nyaris aromanya berpindah ke kemejaku. Informasi saja, belum ku sentuh air di kamar mandi untuk mandi hari ini, pulang ke rumah hanya untuk keperluan masak makanan siang ini. Hanya untuk perempuanku, satu kotak sayap ayam pedas, brokoli goreng dan cah kangkung favoritnya. Tiga menu masakan yang menjadi sogokanku padanya agar segera menyudahi amarahnya.

Di tengah-tengah kesibukanku menyiapkan makanan ini, langkah kaki Alya mulai bisa kudengar, semakin dekat semakin membuat jantungku tiba-tiba berdegup lebih kencang. Aku membalikkan kepalaku, mengikuti arahnya yang sekarang sudah duduk di sampingku. Pipiku susah untuk mengembang memberikan senyuman, mataku menatap tangannya yang membawa sebuah paperbag.

“Kangkung dulu ya?” Aku mendekatkan kotak berisi sayur kangkung ke piringnya. Tak banyak respon darinya selain langsung mengambil untaian sayur ke kotak nasinya. Cukup buatku dengan menatap lahapnya ia menyantap masakan buatanku siang ini. “Kerjaan lancar?” Tiba-tiba hanya itu yang bisa ku utarakan, pertanyaan basi macam apa ini. Dan lagi, Alya tak banyak merespon selain hanya sebuah anggukan, sekali anggukan saja. Ah, rasanya ingin ku hentikan aktivitas makannya, kukunci tubuhnya dengan pelukanku agar ia berontak dan mau mengeluarkan kata-kata. Aku mulai menyantap masakan yang rasanya sekarang jadi biasa saja. Alya masih saja lahap tanpa mau berbicara apapun.

“Dengan kamu makan sayap ayam yang pedas, gak akan buat kamu tersedak kalau sambil ngobrol, Ya.” Keluhku saat ia asik mengunyah dan mengijinkanku untuk menatapnya dengan tatapan iba bercampur lelah ini. Sudah hampir tiga puluh menit, hanya suara kunyahan dari bibirnya saja yang ku dengar. Aku menghela napas panjang sambil sedikit menikmati pemandangan kota yang sibuk dari dalam sini.

“Sudah 17 mobil warna merah favoritmu yang melewati jalan itu, dan kamu masih belum mau berbicara satu huruf pun?”  Aku sudah menghitung banyaknya mobil warna merah mazda kesukaan Alya yang berlalu sejak ia mulai memakan brokoli goreng yang hampir habis itu. Sepintas ku perhatikan, mulutnya mulai memelankan kunyahan, sampai pada tangannya meletakkan sendok dan beralih pada paperback yang ia bawa. Sebuah termos kopi berukuran kecil yang ia keluarkan lalu disodorkan padaku. Ku buka penutupnya yang langsung disambut oleh aroma kopi kintamani yang khas. Tunggu, ini kopi…”Kamu dari Bali? Ini dari Ibu?” Kopi bubuk yang Ibu sangrai dan tumbuk sendiri punya aroma khas yang tidak bisa disamakan dengan kopi-kopi di kafe atau toko, dan aku hafal betul ini buatan Ibu. Alya hanya membalas dengan wajah yang sama datarnya seperti di awal, tidak ada perubahan sedikit pun. “Kamu ngapain ketemu Ibu? Kamu cerita apa aja? Gak cerita…”

“Soal mimpimu, soal pernikahan kita.” Satu kalimat Alya yang memotong banyak tanda tanyaku.  Aku meletakkan termos kecil itu, melepaskan lagi hembusan napasku yang kini terasa berat. Benar kata Lukman, sepertinya aku yang sering menghindari masalah ini ketika Alya mulai membicarakan tentang mimpiku.

Aku berusaha menyusun kata-kataku serapi mungkin sebelum kubuka obrolan ini lebih dalam. Tapi belum sempat aku memulai, tangan Alya menggenggam erat tanganku, tanpa aba-aba.

“Kalau sampai kata-kataku ini gak bisa menyadarkanmu, aku gak tahu lagi harus melakukan apa, Sayang.” Ucap Alya serta-merta, membuatku terpaku sekaligus mengantisipasi apa yang akan keluar dari mulutnya selanjutnya. Aku hanya bisa menggenggam balik tangannya setegas mungkin, berusaha memberikan sinyal bahwa sungguh aku merindukan kehadirannya. “Aku beruntung punya kamu, Hans. Orang paling keras kepala yang tidak pernah menyerah sedikit pun untuk mengejar mimpinya.” Aku masih tidak tahu harus bereaksi apa. Kemudian kulihat Alya tersenyum. Oh God, setelah sekian lama aku tidak melihat senyum itu. “Aku bisa membayangkan bagaimana kamu nanti menjadi seorang ayah panutan untuk anak-anak kita, tentang bagaimana seharusnya bermimpi, dan berani mewujudkan.”

“Alya, aku…”

Tangan Alya satu lagi membungkus genggaman kami. “Tapi bagaimana itu bisa terjadi kalau kita tidak berjuang untuk mewujudkan mimpi kita berdua lebih dulu?”

Mata Alya menatapku lekat-lekat. Terlalu menyayat hati ketika kulihat sepasang mata itu akhirnya mulai berkaca-kaca. “Alya, aku minta maaf. Maaf aku terlalu egois, aku terlalu memaksakan kehendakku di hubungan kita, atau mungkin aku terlalu menuntutmu untuk melakukan hal-hal yang kamu gak suka, aku…”

“Hans…” Alya membelai tanganku pelan. “Aku gak ingin kali ini di antara kita ada yang merasa bersalah dan harus meminta maaf. Kita sudah terlalu sering seperti itu.” Alya tertawa kecil di sela menahan air matanya. “Can you see that I love you that much, Hans?”

Begitu banyak pengakuan dan penyesalan yang keluar dari mulut Alya, yang mungkin sudah ia simpan sekian lama namun takut untuk diutarakan padaku. “Of course, Alya. No one can truly love me as much as you do. Tapi kenapa akhir-akhir ini kamu sering menghindar? Tanpa penjelasan dan kabar? Aku beneran bisa gila kalo kamu sampe begitu lagi, Alya.”

Ia menunduk, seperti berusaha menghindari tatapan mataku. “Sama sekali aku gak bermaksud menghindar darimu, Hans. Aku cuma… ingin memberi kita waktu.”

“Aku cuma ingin menghabiskan waktuku sama kamu, Alya. Isn’t that obvious?”

I know, Hans. Aku pun baru menyadarinya setelah bicara dengan Ibu.”

Aku tersenyum. “Harus sampai sejauh itu ya curhatnya? Harus ngadu sama Ibu dulu baru sadar?”

Senyumnya yang sangat kurindukan itu muncul lagi. “Gak percuma kok jauh-jauh kesana. Aku dapet bocoran dari Ibu gimana caranya ngadepin kamu, Hans.”

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, membayangkan dua wanita yang kusayangi itu saling bercerita tentangku. Kutarik tangan Alya dan menciumnya lama. “Now you tell me, bagaimana caranya biar kamu gak kabur lagi dari aku?”

Alya melepas pelan tangannya dari genggamanku, kembali ke paperbag yang lama-lama ku rasa menjadi kantong Doraemon milik Alya. Sebuah buku catatan yang tidak asing bagiku, tapi masih terlihat baru. Buku catatan berwarna peach yang pernah ku baca saat menemani Almarhum Ayah berbaring di rumah sakit.

“Aku tau apa yang kamu pikirkan.” Alya membuka tanganku dan meletakkan buku itu. Ku buka buku catatan yang masih kosong, tak ada satupun tulisan selain inisial nama lengkapku yang berada di pojok atas halaman pertama. “Ini bukan milik Ayah, ini milikmu. Tulis semua mimpimu di sini, dan ijinkan aku buat melengkapinya, Hans.” Tangan lembut Alya menyentuh pipiku. “If you are moving too fast. Open this notes, It will remind you to slow down, and enjoy life more.” Alya tidak melepas senyumnya sama sekali. Untuk kali pertama, aku menangis di hadapannya. Benar kata beberapa kawan yang telah melalui, di tahap inilah aku akan mengerti siapa dan seperti apa sebenarnya seseorang yang akan menjadi orang pertama saat ku terbangun dan terakhir ku lihat saat ku terlelap nanti.

***

Untuk perempuanku Alya Leica,

Sebagaimana kamu memahami aku yang lemah untuk menyatakan di depanmu. Beberapa baris kalimat ini aku tulis setelah berhasil bergumam sembari mendengar suara ombak dalam meditasiku. Terima kasih sudah menjadi permulaanku dan akhirku.

Aku selalu ingin menjadi yang terbaik, menjadi pria yang tak sabar dan sering gelisah, seluruh mimpiku dulunya adalah senjata yang hampir mematikan bagi kita. Tapi saat kulihat kembali ke belakang, sejujurnya aku berpikir tak ingin menjadi yang terbaik. Aku hanya ingin menjadi kenyamanan seseorang, aku ingin menyentuh hati seseorang, ingin menjadi tameng dari kesedihan dan luka seseorang. Itu kamu dan semua keajaibanku, jawabannya adalah dirimu.

Hans Giovanni.

“Udah sah.” Bisik Caca yang duduk menemaniku menunggu proses ijab kabul selesai. Aku membaca surat dari Hans tepat saat tangannya menggenggam tangan Papa, mengikrarkan janji kami. Dan sekarang, kami siap untuk berjalan lagi, lebih jauh dari ini.

-TAMAT-

ditulis oleh : Rizqi Erliani

One thought on “I’ll Save The Dream (4)

Leave a Reply