Kalua (1)

Aku duduk tepat di kursi sebelah sopir bus. Tempat duduk yang lain sudah penuh, akhirnya kursi kecil yang sejatinya untuk si kenek kutempati saja. Terlihat si kenek –yang  mungkin usianya separuh usiaku– melirikku  kesal karena kursinya kududuki. Kudekap tas ranselku yang penuh barang dan menatap ke jalanan yang terlihat jelas dari tempatku, berharap bus ini bisa segera sampai setelah kaosku basah karena keringat yang tak berhenti mengalir. Matahari begitu menyengat siang ini, terutama di kota ini.

Dari kejauhan sudah terlihat tempat tujuanku. Bekas halte kecil yang kini difungsikan sebagai pangkalan ojek. Setelah cukup dekat, kuberi kode ke sopir di sebelahku.

“Kiri, Pak.”

Terdengar decit suara rem sebelum akhirnya bus berhenti sempurna. Aku melompat turun, seketika langkahku langsung menerbangkan debu-debu di jalan gersang ini. Bus penuh itu langsung berjalan lagi.

“Kalua!”

Aku menoleh ke asal suara. Di antara jajaran motor tukang ojek terlihat Angken duduk di atas motornya menunggu kedatanganku. Angken sudah sepakat untuk menjemputku kali ini. Peristiwa yang jarang sekali terjadi mengingat pekerjaan Angken sebagai mandor tambang cukup menguras waktunya sehari-hari. Aku menghampirinya dan ia memelukku.

“Empat tahun sudah lewat, ternyata masih nurut juga kalo disuruh pulang sama Among dan Ambamu.” ledek Angken.

Aku hanya tersenyum sinis. “Lebih baik aku pulang, daripada dikutuk jadi gunung kapur yang kau hancurkan tiap hari. Ayo berangkat, aku sudah kepanasan.”

“Alah, Bapuh cuma empat tahun merantau saja sudah mengeluh sama udara kampungnya sendiri.” Angken menyalakan motor dan aku langsung duduk di belakangnya.

Among, Amba, Bapuh. Istilah itu sudah lama sekali tak kudengar. Among adalah sebutan untuk Ayah, Amba untuk Ibu, dan Bapuh yang artinya anak atau murid. Terakhir kali aku bertemu Among dan Ambaku adalah empat tahun lalu ketika aku berangkat untuk memulai kuliahku. Mungkin kampung adatku masih memegang teguh adat istiadatnya, namun itu tak membuat kampungku menjadi tertinggal dengan perubahan jaman. Pendidikan adalah urusan utama yang harus ditempuh oleh semua penduduk kampungku terutama para Bapuh. Jangan heran kalau orang-orang di kampungku hampir semua mengenyam pendidikan di bangku universitas. Setelah menyelesaikan kuliah, sudah tradisi bagi para Bapuh untuk kembali ke kampungnya, membenahi dan mengembangkan apa yang bisa dipersembahkan untuk orang-orang kampung.

Contohnya seperti Angken. Ia salah satu Bapuh yang dielu-elukan para Among Tetua Adat karena kesuksesannya. Setelah lulus kuliah pertambangan, kini ia mengelola tambang kapur di kampung yang sebelumnya tidak terurus dengan baik, karena digarap oleh orang luar kampung dengan ilegal. Lalu ada Puan, Bapuh yang ambil sekolah hukum dan kembali untuk membenahi perijinan pengolahan tambang kapur agar bisa dikelola sendiri oleh kampungku dan menghindari tipuan oleh perusahaan-perusahaan besar milik pemerintah yang hendak mengambil tanah kami. Dan Puan pun kini menjadi istri Angken, sejoli yang menjadi panutan para Bapuh di kampung. Masih banyak Bapuh lain yang sekolah kedokteran, keguruan, peternakan, atau ke-an dan per-an lainnya yang juga kembali demi kampung adat ini. Para Tetua Adat kami percaya bahwa perubahan jaman harus bisa diimbangi. Caranya adalah dengan pendidikan. Apabila banyak ilmu bisa disalurkan dengan sinergi yang baik di kampung, maka generasi dan ajaran leluhur adat kami akan tetap bertahan.

“Lua, berarti selama ini kau belum pernah ketemu dengan Jia?” Tanya Angken sambil tetap melajukan motornya.

Aku melengos. “Belum.”

“Sejak pernikahan kalian itu? Belum sama sekali?”

“Pernikahan sepihak, Ken.” Koreksiku tegas.

“Tapi kau menyetujui. Artinya sudah tidak sepihak lagi.”

Pernyataan Angken langsung membawa pikiranku ke sekitar 18 bulan yang lalu. Saat Among tiba-tiba menelponku untuk menanyakan kesediaanku menikah dengan Jia, kawan masa kecilku di kampung. Aku yang kala itu sedang mengikuti lomba debat dengan adik-adik angkatanku langsung kehilangan konsentrasi dan mengakibatkan kekalahan pada timku. Beberapa hari setelah telepon mengejutkan dari Among itu, Among dan Ambaku pun langsung menikahkan aku dengan Jia meski tanpa kehadiranku di upacara adat pernikahan. Proses perjodohan seperti itu sudah biasa terjadi di kampungku. Kadang yang dinikahkan justru tidak tahu apa-apa bahwa selama ini jodoh mereka sudah disiapkan para Among atau Tetua Adat sekalipun. Bahkan seringkali tanpa hadirnya dua mempelai, pernikahan tetap berjalan diwakili oleh keluarga masing-masing. Jadi begitulah, aku kembali ke kampung selain karena aku sudah selesai kuliah dan waktunya pulang, aku harus menemui istriku, Jia, yang terakhir kali aku melihatnya sekitar enam tahun yang lalu sebelum ia berangkat kuliah. Dia dua tahun lebih tua dariku.

Motor Angken sudah melewati gapura desa. “Kubawa kau ke Among Retu dulu, Lua.” Sahut Angken. Among Retu adalah Among Tetua Adat kami. Saat memasuki halaman rumahnya, Among Retu sudah berdiri di teras.

Aku segera turun dari motor dan mendekat untuk memberikan salam hormat padanya. “Salam hormat, Among Retu.”

Among Retu menepuk pundakku. “Among senang kau pulang, Kalua. Kampung ini, dan Jia, akan jadi tanggung jawabmu yang lebih nyata dari sekedar main-main di bangku kuliah.”

“Kalua mengeluh dengan panasnya udara di kampung kita, Among.” Sela Angken di belakangku.

Among Retu tertawa. “Akan lebih panas kalau kau tidak melakukan apa-apa untuk kampung ini, Lua. Semoga kau diberkahi di sini.”

Aku hanya menunduk penuh hormat selagi Among Retu menyelesaikan segala petuahnya. Setelah kurasa selesai, aku membungkuk lagi. “Salam pamit, Among Retu. Saya harus segera ke rumah.”

“Aah, iya iya. Sudah tidak sabar bertemu istrimu ya?” Ledek Among Retu. Aku mengangguk saja mengiyakan, sambil tersenyum kikuk. “Antar Kalua sampai rumahnya, Ken.” Angken memberi hormat pada Among Retu lalu kami berjalan beriringan kembali ke motor.

“Kuberi kau satu bocoran tentang Jia, Lua.” Bisik Angken.

“Apa?”

“Jia sedikit kesal waktu harus kembali kesini. Lebih-lebih ketika harus menikah denganmu. Jadi sesampainya kau di rumah, jangan harap Jia bakal suka hati menyambut kedatanganmu.”

Aku menghentikan langkahku. “Berarti sebenarnya pernikahanku dengan Jia ini kehendak siapa, Ken? Kalau memang kami berdua sama-sama tidak berkenan?”

Angken menatapku dengan iba dan penuh kesabaran. “Kau tau sendiri aturan pernikahan di sini, Lua. Bisa atas kehendak Amongmu, atau Among Tua. Yang jelas bukan berangkat dari kemauan kita sendiri.”

Kuambil kunci motor dari genggaman Angken. “Tapi rasanya nasib pernikahanmu beruntung, Ken. Dapet si Puan, pujaan hatimu sendiri.” Gerutuku sambil menyalakan motor. Angken naik di belakangku.

“Iya, aku memang beruntung bisa menikah dengan Puan. Tapi selebihnya, yang kau tahu kan cuma yang terlihat saja, Lua.”

Kujalankan motor perlahan, ke arah rumahku yang sudah empat tahun tak kukunjungi.

***

Amba langsung memelukku erat begitu aku menginjakkan kakiku di teras rumah. “Bapuhku pulang. Makin gagah kau, Kalua.” Ucap Amba seraya memandangi tubuhku dari atas ke bawah. “Amba bangga sama kamu.”

Di belakang Amba, Among hanya tersenyum menatapku. Dengan rambut ubannya yang kini terlihat lebih banyak dari yang terakhir aku ingat. Aku membungkuk memberikan salam hormat padanya. “Salam hormat, Among.”

“Kau sudah dewasa, Kalua. Sebentar lagi akan menjadi penerus Among. Tidak perlu memberi salam hormat seperti itu seolah aku ini dewamu.”

Kutegakkan badanku. “Sudah ajaran adat kita untuk selalu menghormati Among dan Amba.”

“Dan adat kita juga mengajarkan Among dan Amba untuk selalu berbakti pada setiap Bapuhnya sampai dewasa.” Tegas Among. Aku tersenyum dan langsung memeluknya erat. Among balas mendekapku.

“Kau tidak marah kan kami tidak datang ke wisudamu?”

“Tidak, Among. Justru lebih baik Among dan Amba tidak perlu datang.”

“Barang-barang di kamarmu sudah dipindah Jia ke rumah sebelah. Kalian tinggal di sana sekarang, Lua.” Sahut Amba.

Ah iya, Jia. Sepertinya aku harus membiasakan diri dengan status baruku ini. “Jia ada di sana?”

Among dan Amba mengangguk bersamaan. “Sana kau temui dia dulu.” Suruh Among.

Aku berjalan menuju rumah sebelah, yang dihubungkan dengan pintu kayu dan selasar kecil di dekat ruang tamu. Dulu rumah bagian ini difungsikan untuk tempat menerima tamu yang menginap di rumah. Kini jadi rumah singgahku dengan Jia untuk sementara. Aku mendorong pintu kayu yang tidak dikunci. Terlihat Jia yang sedang membereskan pakaian dan buku-bukuku ke dalam lemari. Suara pintu sepertinya tidak menganggu kesibukannya.

“Jia.” Panggilku pelan.

Jia pun menoleh. Itu dia. Wajah itu langsung melempar ingatanku ke masa kecil. Jia kecil yang begitu tangguh mengajariku memanjat pohon, Jia kecil dengan mata bulat yang suka membaca komik, Jia remaja penuh rasa ingin tahu yang pernah nyaris jatuh dari tebing karena suka menjelajah semak-semak dan gunung kapur, dan Jia dewasa yang terakhir kali kutahu berubah menjadi sosok yang tenang dan tegas. Tatapan itu pun masih sama seperti waktu aku terakhir melihatnya enam tahun yang lalu. Tegas namun membuat hatiku kebas, dibingkai dengan rambut ikalnya sebahu, dan kulitnya yang coklat matang. Ia tidak bereaksi apa-apa melihat kedatanganku, malah melanjutkan kesibukannya merapikan isi lemari.

“Kita harus segera punya anak, Kalua.” Ucapnya tiba-tiba. Lebih terdengar seperti sebuah titah yang harus segera dilaksanakan.

Aku yang dibuatnya mematung. “A-apa?”

Jia berdiri dan berjalan mendekat, dengan tatapannya yang seolah menantangku. “Kita harus segera punya anak.” Ulangnya dengan penekanan di setiap kata.

Mulut menganga. Belum semenit aku bertemu istriku, ia sudah berhasil membuatku mati kutu. “Kenapa begitu?”

Jia memutar bola matanya kesal. “Jangan kau kira aku bersedia jadi istrimu dengan senang hati, Lua. Aku sudah mengorbankan pekerjaanku di kota, menghormati keinginan Among, Amba dan Among Tua kita, aku sudah lelah dijerat dengan aturan adat di sini yang menurutku tidak adil. Kita harus segera punya anak agar aku bisa jadi Amba dan dibebaskan untuk mengambil keputusan hidupku sendiri.” Jia menutup pintu di belakangku. “Menjadi Bapuh di sini sama saja seperti menjadi kacung.”

Benar kata Angken. Tidak ada sambutan suka cita dari Jia untukku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Jia, aku…”

“Kenapa? Belum siap jadi Among? Belum punya pekerjaan tetap? Belum bisa membuktikan ke Among Retu kalau kau berguna untuk kampung kita? Belum bisa menafkahi keluargamu? Aku benar-benar masa bodoh dengan kemampuanmu bisa menafkahi atau tidak. Aku bisa bekerja untuk diriku sendiri.”

Pernyataan Jia akhirnya menyulut emosiku. “Cukup, Jia! Kita berdua harus bicara baik-baik. Jangan membuat permasalahan baru di hari pertama kita bertemu sebagai suami-istri.”

Jia tertawa sinis. “Suami-istri?” gumamnya pelan. “Kita juga harus membahas soal itu. sebelum aku memanggilmu ‘suami’.” Ia langsung masuk ke kamar mandi, meninggalkanku sendirian di kamar. Tak ada kecupan atau peluk sambutan yang biasanya kutahu saat sepasang suami-istri bertemu. Kulempar ranselku ke atas tempat tidur, badanku pun menyusul. Udara di kamar ini masih pengap. Sama seperti hubunganku dengan Jia.

***

 Sejauh mata memandang, aku tidak bisa membuka mataku dengan maksimal karena sengat cahaya matahari yang begitu kuat, dan debu jalan berterbangan. Mungkin suatu saat aku harus memulai menanam pohon di sekitar jalanan kampung untuk mengurangi itu semua. Aku melaju perlahan dengan motorku menuju tambang kapur. Dari kejauhan bisa kulihat truk yang lalu-lalang dari area pertambangan. Tidak tahu juga apa yang sedang aku cari, yang jelas aku ingin berkeliling kampung setelah sekian lama aku meninggalkan tempat ini, memanggil kenangan-kenangan yang masih tersimpan di setiap jengkalnya.

Aku menghentikan motorku di dekat pintu masuk tambang, mengamati sekeliling. Terakhir kali aku di sini, tempat ini masih sepi. Hanya ada beberapa truk yang memasuki area tambang, itupun truk milik orang-orang luar kampung yang sengaja mengeruk secara ilegal. Sekarang tempat ini berubah drastis. Banyak truk-truk dan pekerja tambang yang didominasi oleh penduduk kampungku. Sepertinya Angken sudah melakukan hal yang besar dan benar.

“Oi, Luwak!”

Aku menoleh ke asal suara. Ah, si Nubi, Bapuh sebangku di sekolah dulu, dan yang satu-satunya memanggilku Luwak. “Nubi?” tanyaku memastikan. Karena terakhir kali aku bertemu dengannya, ujung kepalanya tidak melebihi telingaku. Kini seolah ia habis menelan bilah bambu yang panjang melihat tubuhnya yang jadi menjulang. “Kau… jadi tinggi betul rasanya.”

Ia menarik tubuhku dan memelukku erat. “Sejak kapan kau pulang, Luwak? Ah kukira kau tak mau pulang ke kampung. Eh ternyata sudah di sini aja.”

Kucoba melepaskan pelukan Nubi yang berhasil menggencet tubuhku. “Ehm, baru kemarin.”

“Oh iya, ngomong-ngomong selamat untuk pernikahanmu dengan Jia. Besok aku pasti datang ke upacara adat kalian. Semoga pernikahan kalian diberkati para Among Tua dan leluhur.”

“Terima kasih, Nubi. Tapi kami masih belum mempersiapkan upacaranya.”

“Ah tidak apa-apa, maklum kalian berdua baru kembali. Masih banyak yang harus dipersiapkan kan? Hubungi aku saja kalau kau butuh bantuan.”

Aku mengangguk. “Pasti. Eh, kau kerja dimana sekarang?”

Nubi menunjuk area tambang. “Di sini, aku jadi anak buah si Angken. Semenjak Angken mengurus tambang ini, aku akhirnya memutuskan untuk bekerja di tambang ini. Membantu apapun yang bisa kukerjakan untuk kemajuan kampung kita. Itu yang diajarkan para Among untuk Bapuh-bapuh seperti kita kan, Luwak? Kau juga harus bermanfaat untuk kampung ini.”

Aku tersenyum kecil. Dalam hatiku membayangkan mungkin pekerjaan yang cocok untuk Nubi adalah jadi seorang motivator.

“Kau hendak kemana?”

“Ah… tidak kemana-mana. Aku cuma ingin berkeliling kampung saja.”

“Kalau begitu ikut aku saja ke dalam tambang. Siapa tahu kau pun tertarik bekerja di sini.”

“Eh tidak usah, Nubi…” Dan Nubi pun sudah menuntun motorku masuk ke dalam area tambang, memarkirnya di sebelah pos satpam pintu masuk.

“Motormu kau parkir saja di sini sementara. Pasti aman. Yuk masuk.” Ajak Nubi. “Tambang ini sudah jauh berbeda sekarang. Gara-gara tempat ini, warga di kampung kita jadi punya penghasilan tetap karena bekerja di sini. Pengelolanya juga dari orang-orang kita sendiri.” Tutur Nubi tanpa henti selagi kami melangkah memasuki area gunung kapur. Kuralat, sepertinya pekerjaan yang jauh lebih tepat untuk Nubi adalah pemandu wisata. Kami berdua melewati beberapa tebing-tebing gunung kapur yang sudah banyak terkikis dari yang terakhir kali kulihat. Alat berat serta truk berjejer di banyak sisi. Sungguh tempat yang betulan sibuk.

“Kira-kira tambang kapur ini akan bertahan berapa tahun lagi, Bi?” Tanyaku menerka-nerka bagaimana gunung kapur ini akan bertahan untuk anak-cucu kalo harus dikeruk sebanyak ini.

Nubi hanya tertawa. “Aku tahu apa yang kau pikirkan, Wak. Kau yang belajar geografi di bangku kuliah pasti khawatir melihat kondisi gunung kapur yang semakin habis ini kan?”

Aku tidak mengelak. “Yaah, aku cuma khawatir saja. Gunung-gunung kapur ini kan kadang bermanfaat juga untuk menahan angin puting beliung. Gimana kalo cepat habis, tidak ada lagi yang melindungi kampung kita dari angin kan? Lagipula…” Aku mengedarkan pandangan melihat para buruh yang sibuk. “Sepertinya kau harus bicara dengan Angken soal keselamatan kerja para buruh. Kau lihat saja, masih sedikit yang memakai baju dan perlengkapan yang memadai untuk bekerja di tambang.”

Nubi ikut memperhatikan para buruh yang berseliweran di sekitar mereka. “Sebenarnya sudah kami sosialisasikan, Wak. Tapi ya mereka menganggap sudah tahu medan, jadi merasa gak perlu.”

“Tidak ada yang tahu kapan alam akan memberontak, Nubi. Kalian semua harus bekerja dengan hati-hati.”

Nubi mengangguk. “Akan kupertimbangkan saranmu untuk jadi peraturan baru kami. Secepatnya.”

Dari kejauhan, kulihat Angken datang menghampiri kami berdua. “Nubi? Untuk apa kau bawa Kalua kemari?”

“Ah, tidak ada maksud apa-apa. Aku cuma ingin mengajaknya jalan-jalan di sekitar tambang. Siapa tahu dia tertarik untuk ikut bekerja di sini juga.”

Angken merangkulku. “Mana mungkin lah Kalua mau kerja sama kita, Nubi. Yang kita kerjakan ini justru menyalahi ilmu yang dia pelajari.” Katanya pada Nubi.

Aku hanya diam saja di tengah-tengah obrolan mereka.

Nubi tertawa. “Kau benar. Belum sepuluh menit aku mengajaknya keliling, dia sudah cemas melihat gunung kapur yang mulai menipis.”

“Lebih baik kau segera masuk, Nubi. Ada berkas-berkas asuransi para buruh yang harus segera diselesaikan. Biar aku yang temani Kalua.”

“Ah baiklah kalau begitu. Maaf Kalua, aku masuk dulu ya, kita harus ketemu lagi setelah ini.”

Aku hanya tersenyum dan melambai kikuk ke arah Nubi.

“Sampai ketemu nanti, Nubi.” Angken melambaikan tangannya dan menggiringku kembali ke motorku. “Kau tidak usah khawatir. Kalau memang kau tak suka kerja di sini, tidak apa-apa. Kau bisa mengerjakan sesuatu yang lain untuk kampung ini. Tidak semua orang harus bekerja di tambang.”

“Aku memang tidak pernah berencana untuk bekerja di tambang ini, Ken. Apalagi sampai jadi anak buahmu.”

Angken tertawa. “Aku tahu itu. Seorang Kalua Awali mana mungkin mau berada di bawah ketiak orang lain.”

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dibalik tebing kapur yang seketika mengalihkan perhatian semua orang.

“Suara apa itu, Ken?”

“Aku juga tak tahu.”

Suara gemuruh itu terdengar lagi lebih keras. Kini membuat para buruh menghentikan kegiatannya dan langsung berlari mejauhi sumber suara.

“Lua, kau segera keluar dulu dari sini.”

“Ken…” Aku hendak menahannya tapi Angken justru berlari mendekat untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Akhirnya kuputuskan untuk ikut membantu Angken saja. Aku menahan beberapa buruh yang berpapasan denganku.

“Ada apa, Pak? Itu tadi suara apa?”

“Saya juga kurang tahu, Mas. Sepertinya ada yang runtuh lagi di dalam sana.” Setelah menjawab sekilas, mereka lanjut berlari ke luar tambang.

Aku terus berlari mengikuti Angken. Di salah satu celah tebing, terlihat ada reruntuhan yang sepertinya menimpa salah satu alat berat dan seorang pekerja terjebak di dalamnya. Angken berusaha untuk mengeluarkannya sebelum tertimpa reruntuhan lagi. Aku hendak datang membantu ketika teriakan Angken menahanku.

“Jangan kemari, Kalua! Tetap di situ! Kau tidak mengenakan pengaman apapun. Bahaya!”

Angken masih berusaha untuk menggotong rekan kerjanya yang sepertinya terluka di bagian kaki. Susah payah mereka berjalan keluar dari celah tebing itu. Sesekali aku melihat ke atas, was-was dengan reruntuhan berikutnya yang bisa saja jatuh sewaktu-waktu.

“Cepat, Ken!” Teriakku.

Melihat keduanya masih belum keluar dari celah berbahaya itu, aku memutuskan untuk menghampiri mereka dan menyeret langkah mereka supaya lebih cepat.

“Kau ini benar-benar…”

Aku tidak menghiraukan omelan Angken. Reruntuhan batu berikutnya runtuh tepat setelah kami bertiga berhasil keluar dari sana.

“Kakimu tidak bisa digerakkan?” Aku melihat kaki kanan pekerja itu yang berlumur darah.

“Tadi tertimpa batu yang jatuh. Sepertinya ada bagian yang retak.” Ujarnya sambil meringis menahan sakit.

“Tolong bawa dia ke rumah sakit.” Angken menyuruh beberapa orang untuk membawa anak buahnya itu ke rumah sakit.

Aku melihat runtuhan batu yang menumpuk menutupi celah tebing. “Itu tadi kenapa, Ken? Memang sering begitu?”

Angken mengikuti pandanganku. “Sebelumnya tidak pernah separah itu, Lua. Harusnya tebing bagian ini pun tidak runtuh secepat ini.” Ia melirikku. “Sepertinya ini karena ada sesuatu yang lain.”

“Seperti apa?”

Angken melengos. “Yaah… lebih baik kau tak perlu mengerti soal itu.” Ia berlalu meninggalkanku. “Kau pulang saja, Kalua. Aku tidak mau berikutnya kau yang terkena runtuhan batu.”

“Kau sudah lupa caranya berterima kasih?” Teriakku pada Angken.

***

Upacara adat pernikahanku dengan Jia ingin kuadakan lebih cepat dari yang dijadwalkan Amongku. Selain uang sudah terkumpul cukup, aku ingin cepat-cepat menyelesaikan tanggunganku sebagai calon Among, agar aku bisa berpisah dari Among dan Amba untuk tinggal di rumahku sendiri. Segala keperluan kain untuk seragam adatku dengan Jia sudah siap, termasuk untuk para Among dan Amba. Hewan untuk disembelih pun sudah disiapkan oleh Jia. Tanpa perlu aku ikut campur, Jia sudah menyelesaikan semuanya. Sedangkan hubungan kami pun sampai saat ini masih dingin. Hanya bertegur sapa seperlunya. Bahkan aku tidak tahu apa-apa tentang kehidupannya sebelum kembali ke kampung ini.

Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, kami lalui berdua di dalam kamar. Aku berbaring di tempat tidur, Jia duduk menghadap layar laptopnya, di sebelah jendela kamar yang terbuka lebar. Entah apa yang ia kerjakan tapi yang jelas jari-jarinya tidak berhenti mengetik daritadi.

“Kau sedang apa, Jia?” Tanyaku hati-hati.

Jia hanya melirikku sekilas. Tanpa ekspresi wajah yang berarti. “Menyelesaikan pekerjaanku.”

Keningku berkerut. “Kau masih melanjutkan pekerjaanmu? Kupikir kau mengundurkan diri.”

“Ada banyak teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan meskipun aku tidak hadir di kantor sekalipun, Kalua.” Jawabnya tegas.

Aku diam saja. Takut-takut kalau menambahkan justru muncul perdebatan baru. Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke dapur. Kubuka kulkas dan mengambil dua butir telur ayam, wortel, kentang, bawang daun, cabe, kornet. Dengan cekatan, aku mulai memasak dua porsi omelet istimewa versiku yang menjadi menu andalan ketika aku tidak berselera makan saat masih merantau dulu. Tidak memakan waktu lama, dua omelet sudah tersaji di dua piring. Kubawa dua-duanya kembali ke kamar, satu piring kusodorkan pada Jia.

Ragu-ragu ia menerimanya. “Apa ini, Kalua? Kau yang memasaknya?”

Aku mengangguk dan tersenyum. “Omelet ala Kalua. Makan lah, aku belum melihatmu makan sejak tadi. Kalau bisa istirahat dulu sejenak. Kasihan matamu, Jia.”

Jia melepas kacamatanya dan memperhatikan omelet di piringnya. “Baunya sedap.”

“Rasanya bisa lebih sedap lagi.” sahutku menantang. Aku melahap potongan omeletku.

Jia meraih sendoknya dan ikut melahap potongan kecil omelet hasil karyaku. Kuperhatikan wajahnya saat ia perlahan mengunyah. Tiba-tiba terlihat senyumnya meskipun ia berusaha menahan.

“Setuju kan? Rasanya jauh lebih sedap?” Aku tertawa puas. Daridulu aku selalu percaya bahwa makanan akan menjadi senjata paling ampuh untuk meluluhkan ego yang begitu angkuh. Dan kali ini, omeletku berhasil meluluhkan wajah tegang Jia hingga muncul secetak senyum yang malu-malu.

Jia mengangguk. “Lumayan.”

“Oh ayolah, Jia. Omelet itu sudah kumasak dengan cermat tanpa melewatkan satu tahap pun. Harusnya rasanya sempurna, bukan hanya lumayan.”

“Coba kau taburi sedikit daun rosemary, baru rasanya akan sempurna.” Tambah Jia sambil melahap suapan berikutnya.

Bahuku langsung merosot lemas. “Hal apa yang tak kau ketahui, Jia? Bahkan resep rahasiaku berhasil kau bongkar celahnya hanya dalam sekali kunyahan.”

“Kesalahanmu adalah meragukan lidah seorang perempuan dalam hal mengecap makanan. Dan kesalahan terbesarmu adalah meragukan kemampuan lidahku, Kalua.”

Aku tersenyum. “Baiklah, aku kalah. Lain kali coba aku tambahi sedikit rosemary.”

“Bukan soal kalah atau menang, Kalua.”

“Lalu?”

“Menerima. Menerima kalau memang resepmu itu masih perlu disempurnakan, dan menerima bahwa kau perlu kritik orang lain untuk menjadi lebih sempurna.”

Aku hanya mengangguk-angguk saja. “Dan… menerima bahwa kita berdua bisa saling menyempurnakan satu sama lain?”

Jia tersedak. “Yaah… semacam itu lah.”

Kupotong omeletku yang semakin kecil dengan sendok dan melahapnya lagi. Aku melirik layar laptop Jia yang masih menyala dengan terang. “Apa yang sedang kau kerjakan, Jia? Siapa tahu aku bisa membantumu. Supaya kau tak perlu tidur larut setiap malam.”

“Menyunting naskah novel yang baru masuk.”

“Kau bekerja sebagai editor?”

Jia mengangguk sekilas, mengunyah potongan terakhir omeletnya. “Di penerbit baru milik teman kampusku. Kami sama-sama memulainya dari nol. Itulah kenapa aku tidak ingin mengundurkan diri. Aku tidak mungkin lepas tangan begitu saja.”

Tiba-tiba aku merasa bersalah pada Jia. Pada apapun yang sudah ia korbankan untuk kembali ke kampung ini, untuk memprioritaskan sebuah pernikahan yang bahkan bukan atas keinginan kami berdua. “Kau hebat, Jia.” Ucapku tulus. “Kalau saja tidak terpaksa dinikahkan denganku mungkin saja kau…”

“Sudahlah, Kalua.” Potong Jia. “Sudah terjadi. Tinggal kita jalani saja.”

“Kita menjalaninya sama-sama kan?”

Jia menatap mataku dalam-dalam. Ia tersenyum. “Tentu.”

Aku justru jadi kikuk. Kuraih piring di tangan Jia yang kini sudah kosong. “Istirahatlah, Jia. Apapun yang sedang kau kerjakan, bisa dilanjut besok kan? Lebih baik kau tidur cepat malam ini.” Kuletakkan piring-piring kosong di meja dan kusodorkan segelas air putih untuk Jia.

“Aku sudah lupa caranya tidur malam tepat waktu.” Ia meneguknya hingga habis.

Aku tersenyum. “Kau bisa mengingatnya mulai malam ini.” Badanku lebih dulu berbaring di tempat tidur. Kunyalakan lampu tidur di sebelahku. Jia menutup laptopnya dan menyusul berbaring di sebelahku. Kami pun berbaring menatap langit-langit kamar.

Jia melirikku sekilas. “Selamat malam, Kalua.” Ia pun memutar badannya, memunggungiku.

“Malam, Jia.” Kuberanikan menoleh ke wanita yang kini sudah jadi istriku itu. Rambut ikal sebahunya tersibak, menunjukkan lehernya yang begitu halus dan jenjang. Tiba-tiba tangan kiriku tergerak untuk membelai rambutnya. Tapi belum sempat menyentuhnya, kuurungkan niatku. Aku memutar tubuhku, memunggunginya. Mencoba menahan segala hasrat yang tahu-tahu hadir. Jangankan menyentuhnya, malam ini berhasil  kami lalui tanpa perdebatan pun sudah prestasi baru buatku.

***

Sarapan kali ini hanya aku sendirian yang duduk di meja makan. Among dan Amba pergi ke bukit belakang untuk merawat kebunnya. Jia sudah pergi mengitari kampung untuk rutinitas lari paginya. Akhirnya kutemukan jawaban dari lekuk tubuhnya yang begitu indah terjaga. Di antaranya mulai berlari jam setengah enam sampai jam tujuh pagi, mengganti sarapan dengan jus sayur dan buah-buahan, dan ditutup dengan secangkir teh hijau pekat. Sedangkan aku duduk di meja makan dengan sepiring nasi lauk ikan asin ditambah tumis daun pepaya pedas kesukaanku. Mungkin mulai besok aku harus belajar mengikuti rutinitas sehat ala Jia. Mulai besok. Setelah selesai mencuci piring, aku bergegas meraih jaket dan kunci motorku.

Kau dimana? Aku perlu bicara sesuatu. Kukirim pesan singkat untuk Angken. Pagi ini aku berniat menemuinya. Setelah kejadian reruntuhan batu kapur di tambang beberapa waktu lalu, sepertinya aku harus berbicara serius mengenai keselamatan pekerja dan dampak pengerukan gunung untuk lingkungan sekitar. Motor baru saja kuhidupkan ketika Jia memasuki halaman rumah di sisa larinya.

“Mau kemana?” Jia mendekat sambil mengatur napasnya yang masih naik turun.

“Emm… ke tambang.” Jawabku setelah napasku terhenti sepersekian detik melihat Jia.

Ia heran. “Untuk apa? Kupikir kau tak tertarik untuk bekerja di sana.”

“Memang tidak tertarik, aku cuma menemukan sesuatu yang sepertinya harus kubenahi.”

Jia hanya mengendikkan bahunya sekilas. “Ya sudah, terserah kau saja.” Ia masuk ke dalam rumah.

Aku memperhatikan Jia dari sudut mataku. Semakin kesini sialnya aku semakin terpesona dengan kecantikannya yang tahu-tahu mulai terlihat. Semoga saja Jia tidak merasa bagai kejatuhan monyet karena mendapatkan suami sepertiku.

Angken:

Aku sudah di tambang. Temui aku di warung kopi sebelah parkiran motor.

Kulajukan motorku perlahan meninggalkan halaman rumah. Melewati jalanan kampung di pagi hari seperti menyaksikan bagaimana kehidupan kampung ini bergerak. Para Bapuh yang berangkat menuju sekolahnya masing-masing, para Among Tetua Adat yang sedang berdoa di langkan batu dan memberi persembahan untuk arwah leluhur, di satu sisi ada para buruh dan mandor yang pergi ke tambang untuk mulai bekerja. Kampung ini masih mampu bertahan dengan menyeimbangkan antara spiritualitas asli adat dan modernitas yang memaksa untuk masuk. Seolah semuanya bisa melebur tanpa ada usaha untuk menggusur satu sama lain.

Motorku memasuki area tambang bersamaan dengan para pekerja lainnya. Setelah memarkir motor, aku langsung menghampiri Angken yang sedang menikmati kopi paginya.

“Ada apa, Kalua? Tidak biasanya kau sudah merindukanku pagi-pagi begini.”

Aku mengambil duduk di sebelahnya. “Ada sesuatu yang masih mengusik pikiranku sampai sekarang, Ken.”

“Apa itu?”

“Soal kejadian di tambang beberapa waktu lalu.”

Angken meletakkan cangkir kopinya. “Ah itu, tenang saja. Dia sudah sembuh, kakinya sudah lebih baik. Reruntuhannya juga sudah dibersihkan, sudah aman untuk dilewati lagi.”

“Bukan soal itu, Ken. Aku percaya kau bisa mengatasi masalah dengan baik.”

“Lantas?”

“Tapi kurasa kau masih kurang memperhatikan soal mencegah akar masalahnya.”

Angken melengos. Aku tahu dia selalu kesal kalau ada orang yang meragukan kinerjanya dan menganggapnya tidak becus. “Aku sudah menetapkan standar keselamatan kerja untuk semua pekerjaku, Lua. Kejadian kemarin itu murni bukan keteledoran kami.”

Kupelankan suaraku di dekat telinga Angken. “Tapi nyatanya masih banyak pekerjamu yang tidak menaati itu. Kejadian kemarin, bisa saja karena ada buruh yang tidak patuh.”

Angken memakai helm proyeknya dan beranjak meninggalkan warung. “Lalu maumu apa, Kalua? Kau mau menceramahi para pekerja satu-persatu soal pentingnya menggunakan helm proyek dan rompi kerja?”

Aku mengikutinya. “Tidak masalah, kalau memang kau ijinkan.” Angken langsung menghentikan langkahnya dan menatapku jengah. “Ken, itu persoalan serius. Kalau memang kau tidak ada waktu untuk mengurusnya, biar aku membantumu. Akan kubantu menyusun regulasi dan peraturan untuk keselamatan kerja para buruh di sini. Termasuk keselamatanmu juga.” Tambahku mencoba meyakinkannya.

Angken menghela napas pasrah. Ia melepas tanda pengenalnya dari saku dan menyerahkannya padaku. “Terserah kau saja lah, kau bekerja mulai hari ini. Bilang saja kau utusanku.” Ia melanjutkan langkahnya. “Buktikan kau tahu apa yang harus kau lakukan, Kalua.”

***

Mungkin benar kata orang untuk membenci sesuatu atau seseorang seperlunya saja, jangan terlalu berlebihan kalau tidak ingin berbalik menyukainya. Pertama, kuhabiskan sebulan terakhirku di tempat perantauan dengan merutuki pernikahan sepihakku dengan Jia, yang kini justru dengan malu-malu aku mengakui bahwa hatiku mulai lapang mengagumi Jia. Kedua, tekad bulatku untuk tidak ikut bekerja di tambang justru runtuh begitu saja melihat celah yang menurutku perlu segera dibenahi agar tidak lagi membahayakan.

Hari-hari pertamaku di tambang kapur didampingi oleh Nubi, bahkan ia menyiapkan satu meja baru di sebelah meja kerjanya untukku. Ruangan kerja Nubi tidak terlalu luas. Sebetulnya dengan aku menumpang di sini pun makin menyita banyak ruang gerak Nubi. Tapi ia bersikeras agar kami bisa seruangan. Ia yang paling antusias setelah tahu aku mengajukan diri untuk membantu Angken membenahi regulasi keselamatan kerja.

“Apa kubilang, kau pasti tertarik untuk bekerja di sini, Luwak.” Dan ia pun masih setia memanggilku Luwak.

“Tidak selamanya, Nubi. Aku hanya membantu Angken untuk mengurus peraturan supaya pekerjaan kalian lebih aman. Setelah semuanya selesai, ya aku pergi.”

“Ah sayang sekali. Padahal aku senang kau di sini, aku jadi tidak terlalu tertekan menghadapi si Angken sendirian.”

Aku tertawa sekilas. Angken memang terkenal sebagai seseorang yang sangat perfeksionis bahkan sejak masih satu sekolah denganku dulu. Ia tidak segan-segan untuk “menegur” siapa saja yang menurutnya tidak becus bekerja, meski harus menghadapi orang-orang yang jauh lebih tua sekalipun. “Menegur” dengan caranya sendiri tentunya. Sudah bisa kubayangkan segalak apa Angken selama bekerja di sini. Tapi aku tidak habis pikir mengapa ia justru luput satu hal ini sampai aku harus menawarkan diri untuk ikut membantu.

“Tapi kau sendiri mengakui kan kalau Angken itu orang yang hebat, Nubi? Kalau dia tidak seperti itu mungkin kau tidak akan bekerja di sini sekarang.”

Nubi tertawa. “Memang benar, ya anggap saja sikap temperamennya menjadi kekurangan dia.”

Aku hanya geleng-geleng kepala saja mendengar curhatan terselubung Nubi soal bos galaknya itu. Notifikasi email balasan dari rekan kuliahku, Regina, muncul di layar laptop. Kubaca isi email itu dengan kening berkerut.

Yth. Kalua Awali,

Seluruh data dari tambang kapur yang dikirim sudah saya analisa dengan cermat. Terlampir hasil analisa dan file pendukung untuk selanjutnya digunakan sebagai landasan penyusunan regulasi keselamatan kerja. Untuk kelanjutan kordinasi, bisa dijadwalkan kembali untuk pengamatan lapangan. Terima kasih.

NOTE: Kalua, ada beberapa catatan yang harus segera kau kroscek dengan atasanmu di sana. Perihal jumlah pengerukan kapur yang di luar batas, serta beberapa lokasi yang bisa membahayakan untuk pekerja dan dampak ke depan untuk kampungmu. Coba kau baca dan perhatikan file pendukung serta catatan tambahan dariku. Terutama lokasi yang kutandai, harusnya di tempat itu tidak boleh dikeruk sebanyak itu, kalau tidak ingin kampungmu jadi sasaran empuk angin puting beliung tiap tahunnya. Semoga informasi ini bermanfaat.

Salam hormat,

Regina Putri.

Regina adalah kawan satu kelasku di kampus yang kini bekerja di bidang mitigasi bencana. Beberapa hari lalu, sengaja kuhubungi untuk meminta pendapatnya soal kondisi tambang kapur di kampung ini. Segera kubuka beberapa file yang dikirimkan oleh Regina. Salah satu lokasi yang ia tandai adalah tempat dimana aku dan Angken nyaris kena runtuhan batu waktu itu, serta gunung kapur paling barat yang baru saja dikeruk minggu lalu. Hasil analisa dari Regina membuatku semakin resah. Aku harus secepatnya bicara dengan Angken soal ini. Mengapa ia justru membiarkan tambang ini berjalan kebablasan?

***

Bisa kulihat dengan jelas wajah jengah dan kesal Angken ketika kujelaskan soal analisa yang kukerjakan sebelumnya. Kini setelah selesai kujabarkan semua keresahanku soal tambang kapur ini, Angken hanya menatapku dengan malas.

“Kalua, aku sudah memberimu wewenang untuk membantuku membentuk iklim bekerja yang menurutmu lebih aman di sini. Aku sudah membukakan kau jalan untuk bisa memperbaiki apa-apa yang membuatmu resah sejak kemarin. Dan sekarang kau menceramahiku soal batas pengerukan kapur di gunung barat sana? Mana soal peraturan baru tentang keselamatan kerja yang kau janjikan?”

“Aku sedang mengerjakannya, Ken. Tentu ini salah satu hal yang menjadi pertimbangan agar para buruh bisa bekerja di lokasi yang aman. Lagipula apa kau tidak memikirkan resikonya jika semua gunung kau habiskan tuntas tahun ini?”

“Sudah sekian tahun aku mengurus tambang ini, Lua. Di tahun pertama aku justru mengelolanya sendirian. Sendirian. Tentu aku sudah mempertimbangkan semuanya dengan cermat termasuk batas pengerukan yang masih aman untuk para pekerja ataupun untuk kampung ini. Dan sekarang belum genap 48 jam kau di sini, kau berani meragukan segala perhitungan yang sudah dilakukan timku lebih dulu?”

Aku mencoba menenangkan diri. Beginilah jadinya Angken kalau ada yang berani meragukan soal pekerjaannya, egonya langsung memuncak. Kuletakkan map berisi hasil analisa tambang yang sudah kukoreksi ke atas meja Angken. “Baiklah, Ken. Ini hasil analisa yang sudah kukerjakan. Lebih baik kau sempatkan untuk membacanya dulu. Aku hanya melakukan apa yang menjadi keresahanku saja. Lebih baik kita harus mencegahnya daripada sampai ada korban lainnya lagi.”

Angken melirik map itu sekilas. “Nanti akan kubaca.” Jawabnya cuek, lebih tepatnya malas untuk melanjutkan perdebatannya denganku.

Aku beranjak keluar dari ruangan Angken. Sebelum kututup pintu, ia memanggilku lagi.

“Aku hanya butuh regulasi keselamatan kerja darimu, Kalua. Selain itu, urusan tambang percayakan saja padaku.”

Aku mengangguk dan mencoba tersenyum. Ucapannya itu setegas ia menunjukkan bahwa tambang kapur ini adalah tempatnya berkuasa lebih dulu. Aku hanya anak kemarin sore yang berusaha menjadi pahlawan. Benar-benar seorang anak yang baru masuk kerja dari kemarin sore.

***

“Kau sama saja memulai pertengkaran dengannya.” Ledek Jia ketika aku menceritakan yang terjadi di kantor tambang hari ini.

“Aku hanya bermaksud membantu dan mengingatkan. Apa itu salah?” tanyaku sambil bercermin, mencoba baju adat yang akan kukenakan untuk upacara adat pernikahan besok malam.

Jia membantuku mengencangkan sabuk yang kukenakan. “Caramu yang sedikit tidak tahu diri. Baru masuk kantor sudah paling sok mengerti soal keamanan tambang. Angken kan pasti sudah memahaminya bertahun-tahun, Kalua.”

Kuperhatikan bayanganku di cermin sekali lagi, kini semua atribut baju adat sudah melekat di tubuhku. Membuat badanku jadi terlihat lebih gemuk dari biasanya. “Aku tahu sesuatu yang tidak Angken ketahui, Jia. Ia cuma tidak mau mengakui kalau ada yang luput dari perhatiannya.”

Jia menghela napas. “Semaumu saja lah.” Ia ikut memperhatikan bayanganku di cermin.

“Bagaimana? Bagus tidak?”

“Lebih cocok pakai kemeja dan celana jeans.” Jawab Jia asal.

Aku tertawa sambil melepas baju adat yang bertumpuk itu satu-persatu. “Seandainya aku bisa pakai celana jeans untuk upacara besok.”

Jia tersenyum sekilas sambil melipat baju-bajuku. Aku duduk di sebelahnya ikut membantu. “Apa yang kau pikirkan saat pertama kali tahu soal pernikahan ini, Jia?”

Ia melirikku tajam. “Maksudmu?”

“Yaah… aku hanya penasaran saja. Besok kan upacara adat kita, dimana pernikahan kita akan diberkati para leluhur. Aku rasa setelah ini kita harus serius menjalaninya.”

Kulihat matanya berusaha menghindari tatapanku. “Yang pertama kali aku pikirkan ketika Among mengabariku soal pernikahan ini adalah, Kalua? Yang mana itu? Aku benar-benar berusaha keras mengingat sosokmu.”

“Kau lupa denganku? Jia, dulu waktu kecil kita sering main sama-sama kan, bahkan sampai besar pun masih sering bertemu.” Sahutku protes.

“Dulu kau tidak terlalu mencolok dibanding teman-teman kita yang lainnya, Lua.”

“Ah, sial.”

Jia tertawa. Menunjukkan giginya yang berderet rapi dan lesung pipi yang baru kusadari selalu ada di kedua pipinya. “Tapi akhirnya aku mengingatmu, sosok laki-laki yang dulu membantuku ketika nyaris jatuh dari tebing kapur.”

Aku tidak bisa menahan senyumku. Ternyata Jia ingat saat dulu aku pernah menyelamatkan hidupnya. “Sekarang bagaimana?”

“Apanya yang bagaimana?”

“Kau masih kesal karena terpaksa menikah denganku?”

Jia tidak langsung menjawab. Ia memindahkan tumpukan bajuku ke dalam lemari. “Rasanya dengan siapapun aku menikah, aku akan tetap kesal, Kalua. Karena sebenarnya aku tidak berencana untuk menikah secepat ini.”

“Dulu Among memberitahuku saat aku sedang lomba debat. Praktis, kabar pernikahan kita langsung membawa kekalahan untuk timku, karena aku shock dan akhirnya tidak bisa fokus lagi.”

Jia tertawa kecil. “Terlebih setelah tahu ternyata aku yang menjadi istrimu?”

Aku hanya tertawa saja. Jia kembali duduk di sampingku. Kami berdua memang tidak lagi sering berdebat seperti awal-awal tinggal serumah waktu itu, tapi rasanya sampai detik ini pun aku masih berusaha keras mencari celah untuk bisa memasuki hati dan pikirannya. “Jia…” panggilku pelan.

“Hmm?”

“Aku akan berusaha semampuku. Setidaknya sampai kau mau menerimaku dengan lapang sebagai suamimu.”

Jia tertegun.

“Atau… setidaknya sampai kau tidak lagi kesal punya suami sepertiku.”

Ia tersenyum sekilas. “Keadaan ini sangatlah baru untuk kita berdua, Kalua. Kau tidak perlu menjanjikanku apa-apa. Aku baik-baik saja.” Ia merebahkan tubuhnya, bersiap untuk tidur. “Kita akan baik-baik saja.” Jia menarik selimut sampai menutupi setengah wajahnya. “Selamat malam, Kalua.”

Aku memperhatikan punggungnya yang kini tertutupi selimut. Sepertinya aku yang terlalu berpikir berlebihan tentang pernikahan ini. Nyatanya Jia hanya menganggapnya sebagai tantangan hidup yang hanya perlu dilalui saja, semudah pekerjaannya yang hanya membutuhkan jari-jarinya untuk selesai. Kutarik selimutku dan kunyalakan lampu tidur. Menerka-nerka apa yang akan terjadi saat upacara pernikahan kami besok malam.

***

Upacara adat pernikahan di kampungku sebenarnya tidak jauh berbeda dari resepsi pernikahan orang-orang pada umumnya. Yang membedakan hanya keterlibatan para Tetua Adat yang membuat upacara berjalan lebih sakral dan khidmat. Ditambah lagi ketika sesi pemberkatan dari leluhur. Secara singkat, sesi itu adalah waktu dimana kami memanggil arwah para leluhur untuk ikut memberkati kedua mempelai. Biasanya arwah leluhur ada yang merasuki tubuh para Among Tua untuk menandakan bahwa mereka turut hadir sebagai saksi dalam acara pemberkatan itu. Setelah dewasa, aku baru menyadari kalau sesi itu sungguh futuristik. Siapa tahu kelak akan ditemukan teknologi untuk memanggil arwah keluarga kita sewaktu-waktu dibutuhkan. Jadi tidak ada lagi istilah meninggal untuk selama-lamanya, karena kita bisa memanggil mereka kembali kapanpun kita butuh.

Aku sudah siap dengan segala atribut baju adat yang melekat di tubuhku sejak dua jam yang lalu. Tinggal menunggu Jia yang masih belum selesai. Entah apa yang sedang ditempelkan di tubuh dan wajahnya hingga membutuhkan waktu berjam-jam. Among dan Amba duduk mengapitku sambil menghabiskan makanannya masing-masing.

“Kau gugup, Kalua?” Tanya Amba sambil mengunyah potongan daging kambing.

Aku menggeleng pelan.

“Mana mungkin Kalua gugup. Dia kan sudah berhari-hari tidur bersama Jia.” Sahut Among.

“Tidak akan sama. Percayalah, Kalua. Upacara adat itu membuat kecantikan perempuan jadi berkali-kali lipat. Dulu Among sampai terkesima betulan melihat pesona Ambamu ini. Pasti Jia juga jauh lebih cantik dari biasanya.”

Aku tidak menanggapi obrolan Among dan Amba di sampingku. Kurasakan keringatku mulai mengalir menandakan betapa gugupnya aku sejak tadi. Beberapa menit kemudian, Jia muncul didampingi Among dan Ambanya. Sontak aku langsung berdiri dan memperhatikan istriku yang terlihat berbeda dari biasanya. Ia menggunakan beberapa lapis kain tenun khas yang sama seperti sarungku. Sudah beberapa kali ini Jia berhasil menghentikan napasku sepersekian detik, tapi kali ini, ia berhasil membuat jantungku bekerja tidak normal. Ia berjalan mendekatiku.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya setelah berada tepat di depanku.

“Ehm…” Aku menggeleng kikuk.

Jia meraih tanganku dan menggenggamnya erat, menuntunku untuk berjalan beriringan menuju langkan batu, tempat para Tetua Adat.

Amba berbisik di belakangku. “Kau tidak ingin berterima kasih pada Amba karena sudah memilihkan istri yang cantik buatmu?” kudengar Amba tertawa menggodaku.

Kami semua pun berjalan berbaris, dengan seluruh anggota keluarga di belakangku dan Jia. Para warga yang turut datang langsung berdiri menyambut kedatangan kami.

Kubisikkan sesuatu di dekat telinga Jia. “Memang wajahku terlihat setegang apa kali ini?”

“Seperti setiap kali kau melihatku pulang dari lari pagi, tapi sepuluh kali lebih tegang.” Ledek Jia. Kami berdua menaiki beberapa anak tangga yang tebuat dari batu. Sesampainya di langkan batu, kami langsung duduk bersimpuh di hadapan para Tetua Adat. Dari sudut mataku, kulihat Nubi ikut hadir dan mengacungkan jempolnya ke arahku, tapi tidak kulihat kehadiran Angken di manapun. Entahlah, mungkin ia masih merasa kesal padaku.

Among Retu memimpin doa untuk memulai acara adat. Kurasakan keringatku mengucur semakin deras dan degup jantungku yang belum juga kembali bekerja normal. Kenapa gugupku tidak berkesudahan begini? Napasku mulai sesak ketika Among Retu membacakan doa-doa yang tidak bisa kudengar dengan jelas. Jia melirikku dengan cemas.

“Kalua, kau kenapa?” bisiknya padaku.

Aku memegang dadaku yang kini terasa lebih sesak dengan jantung yang berdegup semakin kencang.

“Kalua!”

Kurasakan Jia memegangi lenganku sebelum akhirnya aku tersungkur dan semuanya menjadi gelap.

***

Rasanya nyawaku belum seluruhnya genap terkumpul. Mataku masih melekat, berat untuk dibuka, tapi bisa kudengar sayup-sayup suara orang berbicara di sekelilingku. Kurasakan tubuhku direbahkan di atas kayu yang dingin.

“Dengan segala hormat, Among Retu. Leluhur tidak menghendaki pernikahan mereka. Among lihat sendiri tadi.”

“Tolong, Among. Setidaknya beri waktu untuk mendengar penjelasan dari Kalua.”

“Lagipula kenapa arwah leluhur justru masuk ke tubuh Kalua? Bukannya ke tubuh Among Retu?”

“Karena mereka telah milih Kalua untuk menjadi perantara.”

Kupaksakan untuk membuka mataku. Cahaya lampu yang masuk ke mata seketika menambah nyeri kepalaku hingga aku mengerang kesakitan. Jia yang pertama menghampiriku.

“Kalua? Kalua, kau sudah kembali?” Ia memegang wajahku dengan cemas.

Kembali? Memangnya aku pergi kemana? Jia membantuku untuk duduk dan kuperhatikan sekitarku. Ada Jia, Among dan Ambaku, serta para Tetua Adat termasuk Among Retu juga ada di ruangan ini.

Aku mengerutkan kening. “A-ada apa ini?”

Among Retu menghampiriku. “Kau tidak ingat apa yang terjadi di langkan batu tadi?”

Ingatanku seolah direnggut oleh sesuatu. Sama sekali aku tidak bisa mengingat apa-apa selain tubuhku yang tiba-tiba ambruk. Aku menggeleng pelan. Jia yang merangkulku pun ikut berbisik memastikan. “Sungguh kau tidak ingat apapun, Kalua?”

“Tidak, sama sekali tidak. Memangnya apa yang terjadi?”

Jia menatap Among Retu dengan resah, seperti meminta pertolongan untuk menjelaskan kejadian tadi. Among Retu mencoba menjelaskannya perlahan padaku. “Kalua, tadi arwah leluhur hadir. Dia masuk ke dalam tubuhmu. Dia bilang kalau pernikahan kalian tidak seharusnya terjadi.”

Aku menggeleng lagi tidak percaya. “Tidak mungkin mereka masuk ke dalam tubuhku, Among. Aku bukan siapa-siapa di sini.”

“Among juga tidak tahu mengapa, Kalua. Tapi yang jelas…”

“Maaf, Among.” Among Sani menimpali. “Kalau saja Among masih ingat tentang ramalan itu, apakah mungkin…”

“Tentu aku masih ingat ramalan itu. Lebih dari siapapun.” Tegas Among Retu.

“A-ada apa, Among?” tanyaku bingung.

Among Retu menatapku lagi. Ia duduk di hadapanku dan Jia. “Kalua, arwah para leluhur tidak akan sembarangan memasuki tubuh seseorang saat kita memanggilnya hadir di upacara adat. Ada orang yang mereka pilih untuk menjadi perantara. Tapi… yang terjadi tadi bukanlah sesuatu yang bisa kita abaikan begitu saja.” Among Retu menghela napas. Ia melirik para Tetua Adat yang lain. Among Sani mengangguk sekilas, seolah mengijinkan Among Retu untuk memberitahuku sesuatu. “Dulu, ada sebuah ramalan yang mengatakan bahwa akan hadir sosok yang mampu menjadi perantara dua dunia. Yang mampu membuka gerbang tempat para leluhur, yang ditakdirkan untuk menjadi Among penjaga, yang akan menjadi kunci atas peradaban kampung ini kelak.”

Aku semakin tidak mengerti. Kutatap Jia di sebelahku yang ikut gelisah mendengar penjelasan Among Retu.

“Mungkin saja kau orang itu, Kalua.” Tambah Among Retu.

Mulutku menganga mendengar itu semua. Yang kurasakan berikutnya adalah nyeri kepalaku yang semakin menjadi dan napasku mulai memburu. Detik berikutnya, aku tersungkur lagi untuk yang kedua kalinya.

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi
ilustrator : @msekarayu

Leave a Reply