Kalua (2)

Pagi ini aku duduk serius di ruang tamu memandang handphone diapit Jia dan Nubi, Among dan Ambaku juga ikut menyaksikan dari balik bahuku. Aku harus berterima kasih pada Nubi atas inisiatifnya untuk merekam apa saja yang terjadi padaku saat malam upacara adat lalu. Kulihat diriku dalam sebuah video di handphone Nubi. Setelah aku meringkuk pingsan, tiba-tiba aku berdiri tegak dengan tatapan seperti menahan amarah. Lalu aku berjalan menghadap Among Retu dan memberi salam hormat padanya. Di video yang kurang jelas karena minimnya penerangan pada malam itu, kulihat Among Retu membalas salamku. Sepertinya Among sudah tahu kalo saat itu bukanlah aku yang ada di dalam tubuhku. Lalu berikutnya aku berbicara lantang dengan bahasa yang aku sendiri tidak mengerti.

“Itu bahasa asli leluhur, Luwak. Kau ingat kan, yang pernah kita pelajari dulu?”

Aku mengangguk ragu. “Iya, tapi aku tidak terlalu menguasainya, Nubi. Kau paham apa yang aku bicarakan?” Aku menatap lekat-lekat diriku di dalam video itu.

“Artinya, pernikahanmu dengan Jia tidak boleh berlanjut. Karena kau punya takdir yang lebih besar menantimu di depan. Kampung ini akan bergantung padamu nantinya. Kurang lebih seperti itu yang kau bicarakan waktu itu.”

Semakin dijelaskan, rasanya aku semakin tidak mengerti. Berikutnya kulihat diriku mendekat ke Among Retu dan berbicara padanya dengan volume suara yang lebih pelan.

“Nubi, kau tahu apa yang sedang kubicarakan dengan Among Retu?”

“Tidak, aku tidak bisa mendengarnya. Kau tidak lagi berbicara lantang seperti sebelumnya.”

“Aku mendengarnya samar-samar waktu itu. “ Sahut Jia. “Sepertinya kau menyinggung soal gerbang yang sudah terbuka. Apa maksudnya, Kalua?”

Kukembalikan handphone itu pada Nubi. “Aku pun tidak mengerti, Jia. Tidak ada satu petunjuk pun dari kejadian itu yang bisa aku pahami.”

“Setelah kau sadar, Among Retu sempat menyinggung soal gerbang para leluhur kan, Kalua? Lebih baik kau tanyakan saja padanya. Sudah jelas Among Retu tahu semuanya.” Bisik Amba.

Aku menghela napas pasrah. “Sejak kemarin Among Retu masih belum mau membicarakannya denganku, Amba. Sepertinya ini masih menjadi perdebatan di antara para Tetua Adat.”

Among menepuk bahuku. “Sepertinya mulai saat ini kau harus berhati-hati, Kalua. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Bahkan dirimu sendiri tidak punya petunjuk apapun, kan?”

Aku beranjak dari kursi dan berjalan ke teras rumah. Mencoba untuk menjernihkan kepalaku yang tiba-tiba menjadi semakin penuh. Arwah leluhur hanya akan memasuki tubuh Tetua Adat saat dipanggil, tapi malam itu mengapa mereka justru memasuki tubuhku? Mereka memilihku untuk alasan yang aku tidak tahu, dan setelah itu tubuhku serasa habis dikeroyok orang-orang satu desa. Sialan.

Jia datang menyodorkan sekotak rokok dan korek api untukku yang langsung kusambut bagai menemukan oase baru. Kuhisap dalam-dalam rokok khas kampungku ini.

“Kita tunggu saja penjelasan dari Among Retu, Kalua. Tidak perlu kau ambil pusing dengan masalah yang belum jelas.”

Aku menatap mata Jia dalam-dalam. Ternyata aku pun merasa tak rela kalau pernikahan kami harus disudahi begitu saja hanya karena arwah sialan itu menyuruh demikian. “Aku hanya tidak bisa berpikir jernih, Jia. Harusnya setelah upacara adat itu aku bisa melanjutkan pekerjaanku, bisa melanjutkan hidup kita dengan tenang. Bukan dihadapkan pada ramalan usang atau gerbang kramat sialan itu yang entah sungguh ada atau tidak.”

Jia mendekat dan membelai lenganku perlahan, mencoba menenangkan.

“Aku benci seperti ini, Jia. Menjadi tidak tahu apa-apa, padahal ada sesuatu yang sedang terjadi. Bagaimana kalau ternyata sesuatu itu bisa membahayakan banyak orang?”

“Hei…” Kurasakan tangan Jia membelai pipiku. “Kalua, kau tidak perlu memikirkannya sejauh itu. Badanmu masih hangat, kau harus kembali istirahat.”

“Aku baik-baik saja, Jia.” Kulirik rokok di tangan kananku yang kini tinggal setengah batang. Seingatku aku belum pernah merokok satu pun sejak pulang kesini. Dan aku juga tidak pernah merokok di depan Jia. “Darimana kau tahu kalau aku merokok?”

Jia tersenyum. “Aku pernah menemukan kotak rokok yang sudah kosong waktu aku membereskan isi tasmu.”

Kuhisap lagi rokokku yang semakin memendek. “Sebenarnya aku sudah berniat untuk berhenti ketika pulang ke sini. Apalagi dengan gaya hidup sehatmu, mana mungkin aku merusaknya dengan asap rokokku.”

Kudengar tawa Jia yang jarang sekali terjadi. “Tidak apa-apa, Kalua. Asal kau merokok hanya saat kau suntuk seperti ini.”

Nubi tiba-tiba datang dengan tergopoh. “Luwak, Among Retu mencarimu.”

Aku menghela napas lega dan kubuang putung rokokku. “Akhirnya.”

***

Aku duduk di hadapan Among Retu dan para Tetua Adat lainnya. Dari yang kulihat, sepertinya ada beberapa Among yang tidak setuju untuk memberitahuku tentang kejadian malam itu.

“Kalua…” Among Sani mulai berbicara. “Kami harap kau sadar kalau kejadian malam itu di luar dugaan kami”

Aku melengos. “Aku sepenuhnya sadar, Among Sani. Dan aku pun sadar kalau ternyata menjadi perantara para arwah leluhur membuat tubuhku serasa remuk seperti ditabrak truk tambang. Dan karena mereka sudah berhasil membuatku nyaris mati beberapa hari ini, setidaknya aku pantas mendapatkan penjelasan sejelas-jelasnya tentang peristiwa itu sekarang.”

“Setelah kami rundingkan, kejadian itu…”

“Kau yang dipilih menjadi penjaga mereka, Kalua. Sekaligus penggantiku untuk menjadi Among Tetua Adat.” Sahut Among Retu tiba-tiba.

“Among Retu!” Among Sani menghardik Among Retu, mencoba untuk mencegahnya menceritakan semuanya padaku.

“Sudah kubilang, percuma kita berusaha untuk menyembunyikannya. Suatu saat para leluhur akan mencari cara sendiri untuk memberitahu Kalua.” Tegas Among Retu pada Among yang lainnya.

Aku hanya melongo melihat perdebatan kecil di depanku ini. Dari gelagat para Tetua Adat ini, bisa kusimpulkan apa-apa yang akan kudengar berikutnya adalah sesuatu yang begitu besar, atau sesuatu yang tak masuk akal untukku.

“Ramalan itu sungguh ada, Kalua, kalau memang itu yang menjadi pertanyaan di kepalamu sekarang.” Ujar Among Retu. “Akan datang yang mampu membuka gerbang para leluhur dan menjadi penjaganya untuk peradaban kampung ini.”

Aku memijat pelipisku. Pusingku rasanya semakin menjadi-jadi dengan informasi yang menurutku memang tak masuk akal ini. “Kenapa… kenapa mereka memilihku, Among? Aku bukan siapa-siapa. Lagipula apakah gerbang itu memang sungguh ada? Among pernah melihatnya sendiri?”

Among Retu hanya menghela napas. “Belum ada satupun yang pernah melihatnya, Kalua.”

Sungguh, bukan salahku kalau memang aku menganggap semua ini semakin terasa konyol. “Lalu bagaimana… bagaimana caranya aku menemukan gerbang itu, Among? Dan peradaban seperti apa yang bergantung pada gerbang misterius itu, bukankah kampung ini sudah aman dan berjalan seperti seharusnya?”

“Kalua, menjadi penjaga gerbang itu bukan takdir yang main-main atau sekadar isapan jempol belaka.” Sambung Among Sani.

“Baiklah, lalu adakah yang bisa menjelaskan padaku apa yang sebenarnya tersembunyi di balik gerbang itu dan mengapa harus ada orang yang menjadi penjaganya?” Tantangku pada mereka.

Among Retu menatapku lekat-lekat. “Gerbang itu adalah pintu penghubung. Penghubung ke tempat lain, penghubung ke dunia lain, penghubung ke setiap pikiran manusia, penghubung ke masa lalu dan masa depan, penghubung segala jaman. Tempat itu adalah tempat kesunyian sekaligus kegaduhan, kematian dan kehidupan, kedamaian dan penderitaan, keyakinan dan keraguan, keutuhan dan kehancuran. Segala jawaban yang dibutuhkan mahluk hidup di dunia ini ada di balik gerbang itu, Kalua. Dia bisa menjadi apa saja sesuai kehendak penjaganya. Dan apabila gerbang itu dibuka oleh orang yang salah, segalanya yang ada di sini menjadi tidak seimbang lagi.”

“Tidak seimbang? Kiamat akan datang lebih cepat salah satunya?” sahutku.

Salah satu Among yang tak kukenal namanya berseru. “Ini tidak main-main, Kalua! Kau lebih dipercaya leluhur daripada kami para Tetua!”

“Aku tidak pernah mengharapkan itu terjadi, Among. Aku lebih senang kalau di antara Among Tetua saja yang dipilih!” Jawabku putus asa.

“Cukup!” Sentak Among Retu menghentikan perdebatan kami. “Kalua, kami sudah menjelaskan dan menceritakan semuanya padamu. Kini terserah bagaimana kau menerimanya. Yang jelas, takdir ini sudah di tanganmu, kau tidak bisa lari begitu saja dari kehendak leluhur kita.”

Aku mengusap wajahku yang kusut dan berdiri. “Dengan segala hormat, Among. Aku masih belum bisa menerimanya. Buatku ini semua di luar kendaliku.” Aku membungkuk memberikan salam hormat, dan keluar dari ruangan pengap itu.

***

“Itu saja?” Tanya Nubi ketika aku selesai menceritakan semua obrolanku dengan para Tetua Adat di ruangan kerja kami yang rasanya siang ini semakin menyempit.

Aku hanya mengangkat bahuku sekilas. “Benar-benar tidak membantu kan? Tidak ada titik terang satu pun.”

Nubi memegang dagunya sambil berpikir. “Apa menurutmu masih ada sesuatu yang mereka sembunyikan darimu?”

“Entahlah, Nubi. Soal ramalan itu saja aku tidak pernah mendengarnya. Apalagi harus mempercayai cerita tentang gerbang itu. Kau sendiri pernah dengar tentang ramalan itu?”

Nubi menggeleng. “Tidak, sepertinya memang para Among menjaganya untuk mereka sendiri sampai ramalan itu terbukti.”

“Selama tidak ada kejadian yang menunjukkan keberadaan gerbang itu atau terbuktinya ramalan sialan itu, aku tidak ingin ambil pusing. Biar aku melanjutkan kehidupanku dengan Jia saja.”

Nubi menatapku, ragu-ragu ia mencoba mengatakan sesuatu. “Ehm… soal kau dan Jia, Luwak. Malam itu leluhur tidak memberkati pernikahan kalian kan.”

Aku memang sudah mengantisipasi pertanyaan semacam ini, tapi nyatanya aku juga sedikit terusik dengan kejadian malam itu. “Kami sudah dinikahkan oleh Among dan Amba secara adat, Nubi. Dia masih istriku sampai saat ini. Terserah apa kata leluhur.”

Nubi hanya mengangguk mengerti dan menepuk bahuku pelan. “Tidak apa-apa, Luwak. Kalian berdua berhak menjalani kehidupan kalian sama-sama. Toh sebelum kalian juga ada yang pernikahannya tidak direstui leluhur, tapi sampai sekarang masih baik-baik saja.”

“Oh ya? Siapa?”

“Si Angken dan Puan, siapa lagi memangnya.”

Aku sontak menatap Nubi tidak percaya. “Angken?”

“Iya, Angken dan Puan. Pernikahan mereka waktu itu juga tidak direstui leluhur. Kau tidak tahu? Memangnya Angken tidak cerita padamu?”

“Tidak.”

“Kejadiannya hampir sama sepertimu. Bedanya, arwah leluhur masuk ke tubuh Among Retu dan mengatakan kalau pernikahan mereka tidak dikehendaki. Tapi keduanya bersikeras untuk bertahan. Dan sepertinya pernikahan mereka masih baik-baik saja sampai sekarang kan. Siapa tahu kau dan Jia juga bisa seperti mereka.”

Aku masih melongo mencoba mencerna cerita dari Nubi. Angken tidak pernah cerita padaku kalau pernikahannya awalnya tidak direstui juga oleh leluhur. “Malam itu dia tidak hadir di upacara adatku, Nubi. Bahkan sampai sekarang pun aku belum bertemu lagi dengannya.”

“Entahlah, sepertinya Angken ada perlu ke luar kota. Biarkan saja.” Ujar Nubi sambil menatap layar laptopnya. Kemudian ia melirikku. “Atau jangan-jangan kalian masih berselisih gara-gara hasil analisamu waktu itu?”

Aku mengangkat bahuku. “Sebenarnya aku sudah tidak ingin ambil pusing soal itu. Tapi kau tahu sendiri bagaimana Angken.”

Nubi tertawa sekilas. “Aku ikut bekerja dengannya lebih dulu darimu, Wak. Jelas aku sudah tahu bagaimana perangainya luar dalam. Tak perlu kau jelaskan lebih rinci. Lagipula kupikir kau tidak salah, hanya si Angken saja yang merasa tersaingi olehmu.”

“Aku tidak bermaksud menyaingi si Angken, Nubi. Aku hanya mengerjakan yang kubisa sebaik mungkin.” Aku menutup laptopku dan membereskan beberapa barangku dari meja.

“Kau mau pulang?”

“Iya, sepertinya aku belum sehat betul. Sejak pagi tadi kepalaku masih pusing dan sekarang rasanya makin parah.” Aku memijat dahiku.

“Yakin kau bisa pulang sendiri? Perlu kuantar saja?”

“Tidak usah. Kurasa masih kuat sampai ke rumah. Sampai ketemu lagi, Nubi.”

“Hati-hati, Kalua.”

Aku meninggalkan ruangan sempit itu dan bergegas menuju tempat parkir motor. Sinar matahari yang menyengat siang ini membuat mataku tidak bisa terbuka sepenuhnya. Selain karena menahan pening yang menusuk kepala, debu tambang pun seolah berusaha untuk mengotori mata. Kurogoh saku jaketku mencari kunci motor, dan detik itu pula badanku terhuyung sampai aku harus berpegangan pada motorku agar badanku tidak ambruk. Aku memejamkan mata sambil mengerang kesakitan saat kepalaku terasa pusing seperti ditusuk berkali-kali. Lalu kurasakan ada tangan yang membantuku untuk berdiri.

“Kalua? Kau kenapa?”

Aku membuka mataku sedikit. Ternyata si Angken yang entah mengapa tiba-tiba muncul di sini. Ia mencoba untuk menopang tubuhku.

“Kau sakit?”

Aku mengangguk pelan. “Kepalaku pusing sekali rasanya.”

“Lebih baik kau duduk dulu.” Angken menuntunku menuju warung kopi dekat tempat parkir. Ia menyodorkan segelas air putih yang langsung kuteguk sampai habis.

“Terima kasih, Ken.”

Angken duduk di sebelahku. “Kenapa kau kesini kalau memang masih sakit?”

“Tadinya tidak separah ini.” Jawabku sekilas.

“Lebih baik kuantar kau pulang saja setelah ini.”

“Tidak usah, Ken.” Sergahku. “Aku masih bisa menyetir motorku. Hanya butuh istirahat sebentar.”

Angken mengangguk. Kami pun terdiam, terasa canggung akibat perselisihan kami yang terakhir kali soal pekerjaan masing-masing.

“Ehm… Maaf, Kalua. Aku tidak hadir di upacara adatmu dengan Jia.” Ucap Angken salah tingkah.

“Tidak apa. Lagipula apa yang menarik dari acara seperti itu?”

Angken tertawa. “Hanya buang-buang waktu saja.”

“Memangnya kau dari mana saja?”

“Aku baru saja datang dari luar kota. Ada urusan.”

Aku mengangguk. “Urusan soal tambang?”

“Salah satunya. Mencari peralatan baru yang harus segera dibeli, belum lagi soal menghalau elit-elit pemerintah yang ingin merebut tambang kita.”

“Wah, kupikir mereka sudah menyerah.”

Angken menggeleng. “Jangan harap, Kalua. Mereka justru semakin gencar.”

“Mengapa kau sendiri yang mengurusnya? Bukankah ada orang lain yang seharusnya bertanggung jawab soal itu?”

Ia melirikku sekilas. “Tidak ada yang becus. Kena iming-iming uang sedikit saja sudah keok.”

Aku tersenyum. “Tidak diragukan lagi. Tapi kurasa kau jangan terlalu sering meninggalkan tambang. Kau lebih banyak dibutuhkan di sini.”

“Tenang saja. Ada Nubi. Semuanya akan berjalan teratur selama ada dia di sini.”

Aku mengangguk setuju. Keduanya bagaikan duet yang serasi untuk tambang ini. Setelah pusingku yang mendadak tadi sedikit mereda, aku beranjak menuju motorku lagi. “Baiklah, aku pulang dulu, Ken. Lebih baik aku segera istirahat di rumah saja.”

“Kau yakin tidak perlu diantar?” tanyanya memastikan.

“Yakin. Lebih baik kau segera masuk ke dalam saja.” Aku menaiki motorku.

“Kalua?”

“Ya?”

Ragu-ragu Angken berusaha untuk meneruskan apapun yang ingin ia katakan. “Ehm, soal regulasi yang sedang kau kerjakan. Maaf kalau waktu itu sedikit meremehkanmu. Kau benar, memang seharusnya tambang ini menjadi tempat bekerja yang lebih aman untuk semua buruh, termasuk kita berdua. Kemarin aku sudah menyempatkan memesan perlengkapan baru untuk keamanan kita semua di sini. Apapun yang sedang kau kerjakan, lanjutkan saja. Aku mendukungmu.” Ia mengenakan helm proyeknya.

Aku tersenyum. “Terima kasih, Ken. Tapi yang jelas kali ini aku harus segera pulang agar aku sendiri bisa selamat.”

Angken tertawa. Ia menepuk bahuku. “Baiklah, kau cepat pulang. Daripada nyaris pingsan seperti tadi. Sampai ketemu besok.” Angken berlalu menuju area tambang.

Kulajukan motorku perlahan menuju rumah. Tiba-tiba sakit menusuk yang kurasakan tadi menghilang begitu saja. Entah apa yang salah dengan tubuhku.

***

Kali ini aku merasakan tubuhku sangat ringan hingga kurasa aku bisa terbang dengan sekali hentakan kaki. Tapi yang kulihat di sekitarku justru tempat yang belum pernah aku temui sebelumnya. Hamparan tanah luas yang gelap tanpa sekat. Udaranya terasa makin menipis seiring aku menghirupnya. Aku pun semakin susah untuk bernapas. Mulut kubuka selebarnya untuk menangkap oksigen sebanyak yang kubisa.

“Jangan melawannya.” Tiba-tiba aku mendengar suara yang entah datang dari mana.

“A-apa?”

“Jangan melawannya.”

Detik itu pula aku merasa tenggorokanku tercekik. Tiba-tiba aku tersentak bangun di kursi ruang tamu. Detik berikutnya Amba datang menghampiriku.

“Kalua?”

Refleks kupegang leherku seraya dadaku naik turun menghirup udara sebanyak mungkin. “Aku dimana?” tanyaku di sela-sela napasku yang tersengal.

Amba menjawab dengan kebingungan. “Kau… kau di rumah, Kalua. Tadi kau baru datang dari tambang mengeluh sakit kepala. Kupikir itu yang membuatmu tertidur di kursi jadi aku tak tega membangunkanmu.”

Aku menyandarkan punggungku lagi. Kuraba dadaku yang kini tak lagi terasa sesak karena kehabisan udara.

“Kau kenapa?” Amba duduk di sebelahku.

Aku hanya bisa menggeleng lemas. “Tidak apa-apa, Amba. sepertinya hanya mimpi buruk saja.”

“Kau yakin?”

“Tidak juga. Mimpiku tadi rasanya begitu nyata. Sampai dadaku dibuat sesak.”

“Mungkin karena badanmu belum sehat betul. Tadi kau bekerja terlalu lelah di tambang?”

Aku menggeleng lagi semakin lemas. “Tidak, Amba. Tadi aku ijin pulang lebih cepat.”

“Lebih baik kau segera tidur di kamar, Kalua. Malam ini kau jangan keluar kemana-mana.”

“Baiklah.” Kuraih jaket dan tasku yang masih tergeletak di kursi. “Jia dimana, Amba?”

“Sepertinya tadi keluar.”

“Dia tidak bilang hendak kemana?”

“Tidak. Belum sempat Amba menanyakan dia sudah buru-buru pergi.”

Aku mencoba mengingat apakah tadi Jia sempat berpamitan padaku. Kubuka layar handphone, tidak ada pesan apapun dari Jia. Mungkin ada urusan darurat dengan pekerjaannya. Aku menyeret langkahku yang berat menuju kamar dan langsung kuhempaskan tubuhku ke atas kasur. Lalu suara dering handphone Jia mengusik usaha tidurku. Aku melirik ke meja, terlihat handphone Jia yang tertinggal di situ. Beberapa detik kemudian suara dering itu berhenti. Aku beranjak dan meraih handphone Jia. Di layarnya tertera panggilan tak terjawab dengan nama kontak Angken.

“Angken?” Aku mengerutkan kening. Setahuku Angken tidak punya urusan dengan Jia. Atau aku saja yang tidak tahu? Kuletakkan kembali handphone Jia di tempat semula. Kepalaku sudah cukup pusing kali ini, aku tidak mau menambah beban pikiranku sendiri. Lebih baik aku kembali ke pelukan kasurku saja.

***

Ternyata aku tidur cukup lama hingga langit sudah terlihat menghitam dari sela jendela kamar. Entah sudah berapa lama aku tertidur tengkurap dengan baju tadi siang yang belum sempat kuganti, yang jelas kini kepalaku sedikit lebih ringan, dan tentu saja Jia sudah duduk di mejanya menghadap layar laptop. Entah sudah berapa lama pula ia duduk di situ. Kulirik jam tanganku. Tepat jam 7 malam.

“Jia? Kau tadi dari mana?” Aku berusaha duduk sambil melepas kemejaku yang kusut.

“Ada urusan sebentar dengan temanku.”

Aku melihat wajah Jia yang terlihat pucat dan lelah. “Kau tidak apa-apa, Jia? Kau sedang sakit?”

Jia menggeleng pelan. Aku menghampirinya. “Lalu kenapa wajahmu pucat?”

“Tidak apa-apa, Kalua. Mungkin aku hanya kelelahan.” Ucap Jia sembari beranjak dari duduknya. Ia membereskan tumpukan buku yang berserakan di meja. “Kau sendiri bagaimana? Tadi Amba bilang kau mengeluh pusing dan sesak.”

“Sepertinya sudah lebih baik. Mungkin memang aku harus tidur lebih banyak.” Aku membuka lemari pakaianku, mencari-cari baju ganti. “Tadi kenapa handphone tertinggal? Terburu-buru?”

Jia tertawa sekilas. “Iya, aku yang ceroboh.”

“Tadi ada telepon dari Angken.”

“Ah… iya, tadi sudah kutelepon balik.” Jawab Jia sambil tetap memunggungiku.

“Memangnya kau ada urusan apa dengan Angken? Setahuku kalian tidak terlalu dekat.”

“Bukan hal penting, Kalua. Beberapa hari lalu aku sempat minta bantuan Angken mencarikan jaringan internet untuk rumah ini supaya pekerjaanku lebih mudah.” Ia melirikku sekilas. “Kenapa? Kau cemburu?”

“Bu-bukan begitu…” Jawabku gugup sambil mengenakan kaosku.

“Ternyata kau sudah sejatuh itu padaku ya?” Goda Jia.

Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. “Wajar kalau suamimu menanyakan urusanmu dengan laki-laki lain, kan?”

Jia tertawa. “Laki-laki lain yang adalah sahabat dekatmu sendiri. Akan konyol rasanya kalau kau harus cemburu.”

“Aku tidak cemburu, Jia.” Tegasku sekali lagi yang justru membuat Jia semakin geli.

“Tidak apa, Kalua.” Jia menatapku. “Setidaknya aku jadi tahu kalau kau mulai menyukaiku.”

“Lelaki mana yang tidak suka padamu.” Gumamku pelan sambil menutup lemari.

“Apa kau bilang?”

“Ah… tidak.” Sial, aku curiga telinga Jia mampu mendengar di luar batas seharusnya. “Among dan Amba ada dimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.

“Keluar sejak sore tadi. Entah kemana.”

“Baiklah kalau begitu, aku ingin masak sesuatu untuk makan malam. Kau sudah lapar?”

Jia mengangguk. “Tapi… bagaimana kalau malam ini biar aku yang memasak?”

“Yakin? Tadi kau bilang sedang kelelahan.”

“Hanya memasak, Kalua. Bukan menambang kapur.”

Aku tertawa. “Baiklah. Kau punya menu yang bisa menyaingi omelet spesialku?” Tantangku.

“Ada beberapa…” Ia mendekat ke hadapanku seolah sedang menjawab tantanganku tanpa ragu. “Yang pasti bisa mengalahkan omeletmu dengan telak.”

Aku tersenyum. “Kalau begitu… coba kejutkan suamimu yang lapar ini dengan masakan hebatmu.”

Jia berlalu menuju dapur, aku hanya bisa menahan senyum. Sepertinya hubungan kami akan baik-baik saja, terlepas kejadian saat upacara adat itu. Baru saja kakiku melangkah hendak menyusul Jia, tiba-tiba hembusan angin menghempas daun jendela kamar dengan kencang. Segera kukunci rapat jendela itu sebelum angin menerbangkan tumpukan berkas pekerjaan Jia di mejanya. Masih bisa kurasakan hembusan angin berusaha menembus celah-celah jendela. Sepertinya akhir-akhir ini angin kencang semakin mengancam kampung. Semoga tidak ada puting beliung dalam waktu dekat.

Satu jam berlalu dan kini aku sudah duduk di meja makan. Beberapa masakan mulai disajikan Jia satu-persatu dari dapur hingga meja makan penuh dengan piring-piring. Aku mengamati semua masakan itu dengan tertegun. Semua yang dimasak Jia hanyalah olahan sayur, sama sekali tidak kulihat daging sapi atau ayam. Padahal Amba punya persediaan daging yang hampir memenuhi kulkas.

“Jia…”

“Ya?” Jia menarik kursi dan duduk di hadapanku. “Kenapa?”

“Ehm… kau lupa betapa nikmatnya daging sapi yang dibakar atau daging ayam yang dimasak dengan kuah kare, kah?”

Jia justru tertawa kecil mendengar pertanyaanku. “Kalua, kau lupa kalau aku ini vegetarian?”

Mataku terbelalak seketika. “Su-sungguh?” Fakta baru tentang Jia yang kini betulan membuatku terkejut.

Ia mengangguk sungguh-sungguh. “Suami macam apa kau ini? Sudah berhari-hari tinggal dan tidur bersama tapi baru menyadari kalau aku ini vegetarian?” Ledek Jia di sisa tawanya.

“Tapi waktu itu kau masih mau makan omelet buatanku, kan?”

“Yaah, untung saja aku masih bisa makan telur dan olahan daging asal tidak terlalu berlebihan. Kalau tidak, percuma kau membanggakan omelet spesialmu itu, kan?”

“Aah… tentu saja.” Aku menyendok sayur kangkung dengan kikuk. “Maaf, aku baru menyadarinya.”

“Tidak perlu meminta maaf. Yang penting kau sudah tahu sekarang.”

Kami berdua pun langsung fokus pada piring masing-masing. Jujur, fakta baru lagi tentang Jia yang baru kuketahui adalah dia betulan pandai memasak. Awalnya aku memang sedikit meremehkan berbagai olahan sayur ini. Tapi setelah dirasakan, rasanya sungguh-sungguh enak, walaupun aku tetap membayangkan semua ini akan jauh lebih nikmat dimakan dengan daging sapi atau ayam.

“Bagaimana? Enak kan?” Tanya Jia.

Aku mengangguk mantap dengan mulut masih sibuk mengunyah. “Ini enak sekali, Jia. Sungguh.”

Jia hanya tersenyum. Malam ini perutku terasa penuh karena menghabiskan hampir semua masakannya. Piring-piring di meja sudah kosong dan kini Jia menyodorkan segelas teh… atau kopi, aku sendiri tidak yakin saat melihat isinya.

“Ini apa, Jia?”

“Teh hitam.” Jia menyodorkan secangkir untukku dan ia mulai meminum miliknya. “Baik untuk kesehatanmu. Coba langsung habiskan.”

Ragu-ragu aku mencium aromanya. “Agak pahit ya?”

“Coba rasakan saja.” Ia tersenyum. Melihat Jia yang begitu tenang meminum tehnya, kupikir rasanya tidak jauh berbeda seperti teh melati biasanya.

Perlahan kuminum teh hitam itu yang  langsung membuatku menekuk wajah. “Aahh…” aku menjulurkan lidahku berusaha mengusir rasa pahit yang baru saja masuk melewati tenggorokanku. “Memang sepahit ini kah?”

Jia mengangguk dengan tawa jahilnya. “Setelah makan enak, kau harus minum itu supaya gula darahmu tetap stabil.”

Kulirik isi cangkirku yang tinggal setengah. Sambil menahan napas dan memejamkan mata, kuhabiskan teh laknat itu dengan dua kali teguk. Setelah sukses melewati tenggorokanku, kembali aku menjulurkan lidahku yang makin terasa pahit. Jia tertawa lagi melihat kelakuanku. Terlepas dari betapa pahitnya teh buatan Jia itu, aku suka malam ini. Akhirnya aku bisa melihat tawa Jia lebih sering dari biasanya, lebih cantik dari seharusnya.

“Semakin sering kau meminumnya, khasiatnya akan semakin terasa.”

“Ehm…” kuletakkan cangkir kosong itu. “Aku harus berpikir berulang kali kalau mau rutin meminumnya, Jia.”

Jia terkikik pelan. Sesaat kemudian wajahnya berubah serius, seolah teringat sesuatu yang penting. “Oh iya, Among Retu sudah bicara padamu? Kau sudah dapat penjelasan darinya?”

Mengingat perbincanganku dengan para Among Tua hanya bisa membuatku mendesah pasrah. “Sudah, tapi aku belum mendapatkan jawaban seperti yang kuharapkan.”

“Memangnya apa yang mereka katakan?”

Aku membetulkan posisi dudukku dulu sebelum menjelaskannya pada Jia. “Singkatnya, ramalan itu benar, gerbang itu ada tapi tidak ada yang tahu wujudnya seperti apa dan lokasinya dimana bahkan para Among Tua sekalipun, dan satu lagi yang membuatku tidak habis pikir.”

“Apa itu?” Tanya Jia penasaran mendengar kelanjutan ceritaku.

“Katanya akulah yang ditakdirkan sebagai Among Penjaga, Jia. Untuk menjaga gerbang leluhur itu. Dan ketika Among Penjaga sudah hadir, dia yang akan menjadi Among Tua untuk peradaban kampung ini kelak.”

“Jadi… kau akan menggantikan Among Retu?”

“Aku masih tidak ingin mempercayainya begitu saja.” Kuusap wajahku yang mulai mengantuk. “Kalaupun ramalan itu sungguh benar dan memang aku yang menjadi Among Penjaga, aku belum mendapatkan petunjuk apapun sampai sekarang.”

“Mungkin saja kau tidak butuh petunjuk, Kalua. Bagaimana kalau ternyata kau harus mencari dan membuktikannya sendiri?”

“Aku harus membuktikannya dari mana, Jia? Semua ini masih menjadi omong kosong buatku.” Kutatap mata Jia yang selalu terlihat teduh. “Kecuali kau.”

Senyum itu muncul lagi, terlihat lebih tulus. Kemudian ia menggenggam tanganku. “Kalua… soal kita berdua…”

“Aku tahu apa yang akan kau bicarakan. Soal kejadian di upacara itu lagi? Soal leluhur yang tidak memberkati pernikahan kita?”

“Kalua, aku…”

Aku menggenggam tangan Jia lebih erat. “Kita sudah menikah, Jia. Among dan Amba yang menikahkan kita. Tak perlu kita menuruti titah leluhur yang sama sekali tidak ikut campur dalam hidup kita. Aku akan tetap bertahan denganmu.”

“Kau dengarkan aku dulu…” pinta Jia. “Mungkin kau bisa bicara seperti itu karena malam itu kau tidak melihatnya secara langsung. Aku melihat semuanya, Kalua. Para leluhur murka pada kita, terlebih kepadaku.”

“Aku tidak peduli, Jia. Selama aku di sini, selama kita berdua baik-baik saja, aku tetap suamimu.”

“Tapi para Among Tua juga…”

“Biarkan mereka berdebat sesuka mereka, Jia. Aku tetap tidak peduli, aku mencintaimu.” Ucapku tak bisa dibendung lagi. Ini pertama kalinya aku mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya pada Jia. Aku pun sedikit terkejut dengan perkataanku sendiri yang entah mengapa meluncur begitu saja.

Mata teduh Jia menatapku lagi dengan berkaca-kaca. “Ternyata kau memang sudah sejatuh itu padaku.”

“Bertahanlah denganku, apapun yang terjadi. Aku mohon, Jia.” Aku bergumam seperti sedang merapal doa. Jia menatapku tanpa berkata apa-apa. Kukecup tangannya sambil berharap semoga itu cukup untuk menunjukkan kesungguhanku.

***

Kuputuskan untuk kembali ke tambang setelah beberapa hari aku berusaha memulihkan diri lebih dulu. Ada sesuatu yang berbeda di area tambang ketika aku datang pagi ini. Beberapa papan peringatan baru mulai terpasang di gerbang masuk. Papan-papan yang bertuliskan anjuran untuk memakai atribut pengaman lengkap sebelum memasuki tambang. Dan para buruh pun sudah terlihat lebih tertib dari sebelumnya. Pemandangan itu pun berhasil membuatku tersenyum lega.

“Kau sudah puas kan?” tanya Angken ketika aku menghampirinya di warung kopi dekat parkiran.

“Terima kasih, Ken. Aku hanya mengusulkan yang terbaik, kalau tanpa ijinmu tidak akan bisa terwujud seperti ini.”

Angken tertawa. “Alah, gara-gara sifat keras kepalamu aku jadi tidak punya pilihan lain selain menerapkan aturan-aturan rumitmu itu. Lagipula aku sudah bosan melihatmu berkeliaran di tambang.”

“Kau sendiri yang bilang aku ada benarnya, kan?”

Angken mengangkat bahunya. “Yaaah… sedikit.”

Gantian aku yang terbahak. “Masih seperti Angken yang selalu aku kenal. Susah sekali mengakui kehebatan orang lain.”

“Hei! Bukannya aku tidak mengakui kalau kau benar. Aku cuma tidak tahu cara mengatakannya.”

Aku hanya geleng-geleng kepala. “Terserah kau saja lah, Ken. Yang jelas aku berterima kasih padamu. Dengan begini aku pun tidak perlu jadi anak buahmu lagi.” Angken tertawa lagi.

Baru sekali tegukan aku meminum kopi, Angken menepuk pundakku. Ia menunjuk ke arah gerbang tambang dengan dagunya.  “Ada perlu apa Among Retu kemari?”

Aku mengikuti pandangannya. Terlihat Among Retu berdiri di depan gerbang, dikelilingi para buruh yang memberi salam hormat padanya. Angken langsung berdiri dan menghampirinya. Kuteguk sekali lagi kopiku dan ikut mengekor di belakang Angken.

“Salam hormat, Among Retu.” Angken lebih dulu memberikan salam. “Ada perlu apa Among kemari? Ada yang bisa kubantu?”

Among Retu tersenyum. “Ah Angken, aku sedang mencari Kalua.”

Angken langsung bergeser, menguak keberadaanku yang tersembunyi di balik tubuh jangkungnya. “Sa-salam hormat, Among.” Aku menunduk canggung.

“Aku perlu bicara denganmu, Kalua. Berdua saja.”

***

Bicara berdua yang dimaksud Among Retu adalah benar-benar berdua dan jauh dari jangkauan telinga orang-orang yang kemungkinan akan mencuri dengar. Jadi Among Retu memilih untuk berbicara denganku di atas puncak bukit kapur bagian barat. Untuk mencapai tempat ini saja napasku sudah dibuat naik-turun kewalahan, aku tidak yakin setelah ini bisa berbicara dengan Among Retu tanpa napas tersengal-sengal. Among Retu menyusuri sisi tebing ini tanpa ragu seolah sudah melewatinya berkali-kali. Di usianya yang sudah melewati tujuh puluh tahun, tubuh tegap Among Retu dan kekuatan kakinya berhasil membuat harga diriku anjlok.

Sesampainya kami di puncak bukit, tidak ada tanda-tanda ia kehabisan napas atau kelelahan. Seperti habis menaiki eskalator saja. ”Kau masih marah padaku, Kalua?” tanyanya dengan tenang berdiri di tepi tebing sambil menatap kampung kami di bawah sana.

“Aku… tidak, Among. Aku sama sekali tidak marah pada Among Retu.” Susah payah aku mengendalikan napasku agar kembali stabil.

“Jangan melawannya, Kalua. Akan semakin sulit buatmu memahaminya, apabila kau melawan.”

Aku tertegun. Ucapan itu persis seperti apa yang sempat aku dengar di mimpiku.

“Situasinya menjadi serba membingungkan untukmu, aku mengerti. Tidak ada yang bisa membayangkan kemungkinan seperti apa yang terjadi berikutnya. Apakah kau takut?”

“Bahkan aku tidak tahu apa yang perlu aku takutkan, Among. Aku hanya ingin menjalani kehidupan sederhanaku di sini, itu saja.”

Among Retu melirikku. “Nyatanya dengan kau kembali kesini, kau sudah rela dihadapkan pada takdirmu yang lebih besar.”

Aku balik menatapnya. “Among, sudah jelas Among tahu semua apa yang terjadi. Mengapa Among tidak mengatakannya saja padaku? Siapa aku sebenarnya, Among? Mengapa aku ditakdirkan menjadi Among Penjaga? Mengapa aku harus menggantikan Among Retu menjadi tetua adat?”

“Jawaban dari semua pertanyaanmu itu sudah ada padamu, Kalua. Yang harus kau lakukan hanyalah jangan melawannya. Untuk mendapatkan jawabannya kau tidak perlu menanyakan apapun.”

Ingin rasanya aku terjun saja dari tebing ini dan semuanya akan selesai untukku. “Aku jadi penasaran apakah dulu Among Retu harus melewati hal yang sama denganku sebelum menjadi tetua adat.” Tanyaku sinis mencoba memancing informasi apapun yang kubutuhkan. Siapa tahu cerita Among Retu lebih seru untuk didengar daripada mengutuk situasiku yang tidak jelas ini.

Among Retu justru tertawa. “Waktu itu penduduk kampung menunjukku menjadi tetua adat untuk menggantikan Amongku yang meninggal, Kalua. Itu saja.”

Dan aku pun dihadapkan pada jalan buntu lainnya. “Aku masih terlalu muda untuk menjadi tetua adat, Among.”

“Siapa bilang menjadi tetua adat harus tua?”

“Di antara para Among Tua sekarang, yang termuda adalah Among Sani yang berumur 60 tahun. Artinya aku masih punya waktu 37 tahun lagi untuk menjadi tetua adat, Among. Mungkin ramalan itu salah perhitungan, harusnya ia tidak datang secepat ini.”

Among Retu menatapku serius. “Lebih cepat terbukti lebih baik, Kalua.”

“Mengapa begitu?” dari air muka Among aku bisa menangkap ada yang tidak beres. “Among, apakah ada hal buruk yang akan terjadi?”

Among Retu mengangguk pelan. “Hanya petunjuk itu yang bisa kuberikan padamu, Kalua. Para Among Tua lainnya mungkin tidak setuju kalau aku berbicara padamu seperti ini. Tapi setidaknya kau harus tahu…” tangannya menepuk bahu kananku. “Aku tidak melebih-lebihkan saat kubilang peradaban kampung ini ada di tanganmu, Kalua. Terimalah, jangan melawannya. Jangan mengelak dari takdirmu sendiri.”

Mungkin detik ini pertama kalinya aku mulai sedikit percaya bahwa ramalan itu benar. Melihat Among Retu yang begitu berharap padaku membuatku berpikir segala kemungkinan buruk yang akan terjadi. Entah padaku, pada kampung ini, atau pada siapapun yang aku kenal. “Dengan begitu aku akan segera mendapatkan jawaban yang aku inginkan?”

“Tentu, Kalua. Hanya jika kau sudah bisa menerimanya, tanpa perlu bertanya. Dan apapun yang kita bicarakan di sini, tidak boleh ada orang lain yang tahu.”

“Bahkan Jia sekalipun?”

“Bahkan Jia sekalipun.” Tegas Among. Ia berlalu beberapa langkah sebelum akhirnya kupanggil lagi.

“Among…” Among Retu berbalik menatapku. “Soal pernikahanku dengan Jia… aku ingin mempertahankannya.”

Among Retu terdiam sesaat. “Kalau memang itu yang kau butuhkan… silahkan.” Kemudian ia melanjutkan langkahnya, meninggalkanku sendirian di tebing kapur ini. Aku menatap kampungku yang terlihat baik-baik saja dari atas sini. Sebenarnya gerbang leluhur itu ada di mana?

***

Aku pun kembali ke tempat ini. Suatu tempat yang terakhir kali nyaris membuatku mati tercekik karena aku mencoba untuk memberontak. Sulit untukku membedakan apakah ini mimpi, isi kepalaku, atau justru tempat ini sungguh nyata. Tempat ini masih terasa gelap, hampa, dingin dan kosong. Aku hanya berdiri melihat sekeliling. Sesuai dengan pesan Among Retu, aku berusaha untuk menenangkan diri dan mencoba untuk tidak melawannya. Sesungguhnya aku pun tak tahu apa yang bisa kuharapkan dan kudapatkan dari tempat ini. Tiba-tiba sesuatu seolah menghempas tubuhku hingga aku jatuh terlentang. Lagi-lagi aku kehabisan napas dan mati-matian dadaku menghirup udara sebanyak-banyaknya namun tetap tidak berhasil.

“Jangan melawannya, Kalua.” Sahut suara itu lagi, yang kini sepertinya ia sudah mengenaliku.

Detik berikutnya tubuhku menyerah. Oksigen yang tak segera kuhirup membuat penglihatanku perlahan mulai meredup. Dan detik itu pula semuanya justru terlihat jelas buatku. Aku melihat wajah Among dan Ambaku, Jia, Nubi, dan orang-orang kampung ini berkelebat di dalam kepalaku. Lalu melihat kampungku yang begitu asri dari atas bukit, dan terakhir aku berdiri di tengah-tengah tebing kapur yang curam. Tebing kapur itu seolah berbicara padaku, aku bisa merasakan energi yang begitu nyata. Satu kekuatan yang hendak menuntunku mencari jawaban. Kuangkat tangan kananku berusaha untuk menyentuh dinding tebing berwarna putih kapur itu. Namun berikutnya aku justru tersentak bangun dari tempat tidurku bersamaan dengan suara hujan yang turun begitu derasnya. Aku terduduk di tempat tidur dengan napas yang memburu. Jia yang tertidur di sebelahku sampai ikut terbangun.

“Kalua? Kalua kau baik-baik saja?” tanya Jia sambil membelai lenganku.

Aku menggeleng kuat. “Aku harus pergi sekarang, Jia.” Kutendang selimut dan bergegas kukenakan jaketku.

“Kau mau kemana, Kalua?”

“Aku tahu dimana gerbang leluhur itu.” Jawabku setengah berteriak.

Buru-buru aku berlari ke luar rumah menuju area tambang, menembus hujan yang malam ini turun begitu derasnya membuat bajuku basah kuyub. Aku terus berlari hingga sesampainya di gerbang tambang, kubuka paksa kunci gerbang sampai terbuka. Kakiku terus melangkah menuju bukit kapur yang sempat aku lihat di dalam mimpiku tadi. Dengan penglihatan yang terhalang air hujan, susah payah aku mencoba mengingat jalan menuju sisi bukit itu sambil tetap menjaga agar kakiku tidak terpeleset.

Dan aku pun sampai di sini, di celah antara dua tebing kapur yang begitu tinggi. Aku masih ingat tempat ini menyambutku dengan gemuruh reruntuhan ketika pertama kali aku menginjakkan kaki di sini. Kali ini aku justru disambut air hujan yang terus turun membasahi tanpa ampun. Ragu-ragu aku berjalan mendekat. Suara asing di kepalaku ini terasa semakin akrab. Suara yang begitu bising sekaligus menenangkan, namun juga menghasut dan membuat larut.

Telah datang seorang penjaga di antara para pendusta, telah terbuka jawaban untuknya di antara jutaan keraguan.

Aku yang awalnya tidak menguasai bahasa leluhur tiba-tiba memahami setiap kata yang terdengar oleh telingaku. Dengan tangan yang basah dan gemetar karena kedinginan, kuraba tebing itu perlahan.

Telah datang hati yang lapang, akan menerima takdir yang menjelang. Gumamku dalam hati dengan bahasa leluhur yang terbata-bata. Sejenak tubuh dan pikiranku serasa direnggut seluruhnya oleh gravitasi yang terasa berat. Tepat ketika aku melihat sosok Jia yang berlari menyusulku, tubuhku terjerembab  dan semuanya gelap.

***

“Mengapa tiap kali para leluhur membuat kontak denganmu kau selalu berakhir pingsan?” tanya Among Retu ketika aku membuka mata. “Harusnya Among Penjaga tidak selemah itu.”

Aku mengerang kesakitan merasakan kepalaku yang pening luar biasa. “Lebih baik Among tanyakan itu pada leluhur yang memilihku.”

Badanku berusaha untuk duduk namun ditahan oleh Jia. “Lebih baik kau tetap berbaring, Kalua.”

Kulirik badanku yang hanya ditutupi oleh beberapa lembar kain. Dibalik kain-kain ini kurasakan tubuhku benar-benar telanjang. “Ehm… dimana baju-bajuku?”

“Kusuruh Jia untuk membuangnya. Kau pingsan di tengah-tengah tanah berlumpur dan air hujan, Kalua. Mana mungkin kau tetap memakai bajumu yang tadi.” Ujar Among Retu sambil menyodorkan segelas minuman untukku. “Habiskan. Supaya sakit kepalamu segera hilang.”

Kuhabiskan minuman yang rasanya seperti air beras itu. Among Retu duduk di hadapanku, sekilas ia melirik Jia. “Jia, aku ingin berbicara berdua dengan Kalua sebentar, kalau kau tidak keberatan.”

Jia menatapku, memastikan bahwa aku sudah sadar betul untuk diajak bicara. Aku hanya mengangguk pelan.

“Baik, Among.”

Jia keluar dari ruangan dan menutup pintu kayu itu pelan. Among Retu langsung menatapku lagi. “Jadi kau sudah menemukannya?”

Aku mengangguk.

“Kau berhasil masuk?”

“Aku tidak yakin, Among. Sepertinya gerbang itu masih belum terbuka sepenuhnya.”

“Karena Jia.”

“Maksud Among?”

“Saat tadi kau hendak membukanya, Jia datang. Sudah pasti gerbang itu tidak akan membiarkan orang lain masuk selain kau.”

Aku merapatkan kain yang menutupi tubuhku. “Kalau aku harus kesana lagi, aku tidak yakin apakah tubuhku cukup kuat, Among. Energi yang kurasakan begitu besar dan kuat. Rasanya pikiranku seperti terenggut sesuatu yang tidak bisa kukendalikan.”

“Aku tidak heran, Kalua. Justru akan mengherankan kalau kau bisa mengendalikannya dengan sekali coba. Among Penjaga adalah tetua adat yang dituntut untuk menyeimbangkan dua dunia. Mungkin di dunia kita kau sudah cukup kuat, tapi belum tentu di dunia para leluhur. Kau harus menjernihkan pikiranmu untuk bisa masuk kesana.” Among Retu menunjuk dahi dan dadaku. “Pikiran dan hatimu inilah kunci untuk masuk ke dalam gerbang leluhur.”

“Siapa Among Penjaga sebelumku, Among?”

Among Retu menghela napas dan tersenyum. “Hanya ada satu Among Penjaga, Kalua. Hanya kau. Menurut ramalan itu, ia akan hadir saat benar-benar dibutuhkan.”

“Dan… situasi apa yang membutuhkan kehadiranku? Aku tidak melihat sesuatu yang membahayakan di sini.”

“Mungkin tidak di sini, tapi jelas para leluhur membutuhkanmu, Kalua.”

“Apakah aku harus segera kembali kesana secepatnya?”

“Tidak sekarang, Kalua. Kembalilah ke gerbang itu saat kau sudah pulih. Kalau kau kembali masuk ke sana sekarang juga, aku takut kau akan pingsan lebih lama. Atau bisa saja takkan bangun lagi.”

“Kalau memang hanya ada satu Among Penjaga, mengapa Among tahu banyak tentangnya? Seolah Among Retu sudah pernah menjadi salah satunya.”

Ia hanya tertawa kecil. “Ketika kau sudah berhasil masuk ke dalam gerbang itu, kau akan tahu sendiri.”

Kupijat keningku yang kini sudah terasa lebih baik. “Entahlah, Among. Status baruku ini semakin membingungkan buatku.” Aku mengikat sarung rapat-rapat. “Lebih baik aku segera kembali ke rumah, Among. Biar aku istirahat di rumah saja.”

Among Retu membantuku berdiri. “Setelah ini, setiap kau kembali ke gerbang itu usahakan jangan berakhir pingsan di tempatku.”

“Ehm… aku tidak bisa menjaminnya, Among.”

“Satu lagi, Kalua.” Among Retu berbisik padaku. “Soal lokasi gerbang itu, dan apapun yang kau alami, akan lebih baik kau merahasiakannya dari siapapun, termasuk keluargamu dan Jia.”

Aku tertegun. Sebelumnya aku sempat memberitahunya bahwa aku sudah menemukan lokasi gerbang itu. “Baik, Among.” Jawabku singkat. Sisanya akan kupikirkan besok saja.

Kubuka pintu dan terlihat Jia masih berdiri menungguku selesai berbicara dengan Among.

“Jia, lebih baik Kalua istirahat di rumah saja. Kau tetap temani dia.” Kata Among Retu pada Jia.

“Baik, Among.” Jia menggandeng lenganku. “Kau yakin sudah bisa berjalan?”

Aku mengangguk pelan. “Terima kasih untuk semuanya, Among Retu.” Ucapku sambil menunduk hormat padanya.

“Seharusnya aku yang memberikan salam hormat padamu, Kalua.”

Entah aku harus menanggapi apa. “Yang jelas Among Retu masih Tetua Adatku sampai detik ini. Kami berdua pulang dulu, Among.”

Kami berdua berjalan menyusuri jalanan yang basah setelah hujan. Jia mendekapku berusaha untuk menghangatkan tubuhku yang hanya dilapisi sarung dan kain milik Among Retu. “Kau tidak apa-apa, Kalua? Apa yang kau pikirkan?”

“Kalau memang aku ditakdirkan untuk menggantikan Among Retu, aku tidak ingin berpakaian seperti ini.” Kulirik penampilanku yang sudah merupai tampilan Among Retu.

Jia tertawa. “Kalau memang kau jadi Tetua Adat, kau bebas menentukan pakaianmu sendiri, Kalua. Mungkin kau juga bisa merombak penampilan para Among Tua lainnya.”

“Apa kau percaya itu? Kalau aku memang menjadi pengganti Among Retu, kalau aku adalah Among Penjaga yang ditunggu-tunggu itu?”

“Nyatanya kita tidak punya pilihan lain selain berusaha untuk percaya, kan?”

“Aku tidak tahu, Jia.”

“Among Retu percaya padamu, Kalua. Aku pun begitu.”

Aku hanya tersenyum dan menatap matanya. Sesampainya di rumah, Jia menuntunku masuk ke dalam kamar. “Kau duduk dulu di tempat tidur, biar kuambilkan baju untukmu.”

Aku duduk di tepi tempat tidur dan memperhatikan Jia yang mengambil beberapa helai baju dari lemari. Ia kembali berdiri di hadapanku. “Ini, kau ganti baju dulu supaya…”

Tanganku merengkuh pinggang Jia dan menariknya ke dalam pelukanku. Aku mendekapnya seerat dan selama yang aku bisa. Bisa kurasakan tubuh Jia yang mematung seperti papan, mungkin ia terkejut dengan pelukanku yang tanpa aba-aba ini. Hingga kemudian tangannya perlahan membelai kepalaku dan menyusuri helai rambutku yang masih basah.

“Tubuhmu dingin, Kalua.”

Aku mendongak menatap sepasang mata favoritku yang kini bisa kutatap lebih dekat. Entah keberanian dari mana yang berhasil menyeruak, kucium bibir Jia yang seketika menghalau rasa dingin yang kurasakan. Jia membalas pelukanku lebih erat, menciumku lebih hangat. Seiring detak jantungku yang berdegup kencang, kujatuhkan tubuh kami di atas tempat tidur. Melepas segala keraguan yang menjadi penghalang kami sekian lama, meruntuhkan segala ego yang kini justru melebur menjadi sebuah rasa yang tak terukur, menyatukan setiap sentuhan yang mengantarkan penjelasan tentang perasaan yang tertahan.

“Aku mencintaimu, Jia.” Bisikku pelan di telinganya.

“Aku tahu.” Jawab Jia lirih.

***

 “Luwak… Luwak… hei, ah kenapa kau susah sekali dibangunkan? Ini sudah hampir siang.”

Pagi ini aku terbangun karena tubuhku diguncang oleh si Nubi. Melihat Nubi yang sudah berada di dalam kamarku, sontak aku terbangun dan merapatkan selimut. Dan Jia pun sudah tidak ada di sebelahku.

“Kau… kenapa ada di sini?”

“Nah kau sendiri kenapa belum bangun? Daritadi aku coba meneleponmu, Luwak.”

Kuraih handphoneku di atas meja. “Ah… aku lupa belum menyalakan deringnya.” Terlihat ada sepuluh panggilan dari Nubi yang tidak kujawab.

“Kau ini… ya sudah, ayo segera bangun, kita harus ke tambang sekarang.” Nubi berusaha menarik selimutku yang langsung kucegah.

“Jangan Nubi! Aku… belum pakai baju. Kau… tunggu saja di luar.” Kataku salah tingkah.

Mulut Nubi langsung membentuk huruf O besar sambil menahan tawa. “Jadi itu yang membuatmu tidur pulas. Jia pasti membuatmu kewalahan ya?” gurau Nubi seraya meninggalkan kamar. “Baiklaah, aku tunggu di luar. Cepat kau ganti baju.”

“Lagipula ini hari libur, Nubi. Memangnya ada masalah apa di tambang?”

“Entahlah, Angken yang menyuruh kita datang.” Ujar Nubi sebelum menutup pintu.

Kulirik bantal Jia yang sudah tertumpuk rapi. Mungkin ia sudah pergi lari pagi atau mengurus pekerjaannya sejak tadi. Aku meraih handphoneku dan mengetik pesan untuk Jia.

Kau dimana, Jia? Maaf aku baru bangun. Terima kasih untuk semalam. Bibirku tak kuasa menahan senyum. Aku bergegas mengenakan baju yang sudah disiapkan Jia di atas meja, cuci muka sekilas dan langsung kususul Nubi. Entah ada masalah apa kali ini di tambang.

***

Ternyata ada tebing yang runtuh semalam. Lebih tepatnya di lokasi gerbang leluhur yang aku datangi malam tadi. Aku dan Nubi menghampiri Angken yang sudah berada di reruntuhan itu.

“Sepertinya bagian tebing ini harus segera ditutup, Nubi. Entah mengapa tempat ini sering sekali runtuh, padahal kualitas kapurnya bagus.” Ucap Angken ketika kami baru sampai.

“Kemarin tidak ada tanda-tanda akan runtuh kan?” tanya Nubi.

Angken menggeleng. “Lagipula penambangan di tempat ini sudah lama tidak dilanjutkan, karena aturan baru dari Kalua.” Angken melirikku. “Untung saja kita sudah menerapkan regulasi baru darimu, kalau tidak, bisa saja ada korban lagi di sini.”

“Kalau begitu lebih cepat kau tutup lebih baik, Ken.” Sahutku. Dalam hati sebenarnya aku tidak tahu harus bagaimana. Tempat ini adalah lokasi gerbang leluhur. Memang lebih baik ditutup saja agar tidak ada yang mengetahui tentang gerbang itu selain aku. Tapi apakah artinya semua akan baik-baik saja untukku?

Angken menggaruk-garuk kepalanya. “Baiklah kalau begitu. Nubi, tolong kau ambilkan perlengkapan yang ada di kantor. Sekaligus ambilkan helm untuk kita bertiga. Kita tandai saja dulu tempat ini supaya besok tidak ada orang yang masuk ke area ini.”

Nubi langsung berlalu setengah berlari menuju ruangan kantornya.

“Kau baik-baik saja, Kalua? Wajahmu terlihat pucat.”

“Ah… tidak apa-apa, aku baru saja bangun tidur, Ken. Mungkin wajahku masih terlihat kusut.”

Angken mendongak ke atas, menatap ujung tebing kapur yang menjulang. “Aku jadi berpikir, apakah aku akan menemukan apa yang kucari dibalik tebing ini?”

“Memangnya apa yang sedang kau cari?”

Angken berbalik menghadapku. “Sama seperti yang kau cari, Kalua.”

Aku menggeleng pelan. “Ehm… aku tidak paham apa yang kau bicarakan, Ken.”

“Ah, biar kumulai dengan pertanyaan yang mudah. Wajah pucatmu itu… begitu melelahkan kah menjadi Among Penjaga?” tanya Angken ketus.

“Maksudmu?” Radarku mendeteksi ada sesuatu yang aneh di sini. Angken tidak tahu-menahu soal aku yang akan menjadi Among Penjaga.

“Yaah… apapun urusanmu dengan Among Retu itu, Kalua.”

Aku mengerutkan kening. “Ken, tidak ada orang lain yang tahu soal Among Penjaga.”

Angken terdiam, ia menatapku lekat-lekat dan tersenyum. “Jia menceritakan semuanya kepadaku, semua yang aku butuhkan.”

“Ken, sungguh… aku tidak tahu kemana arah pembicaraanmu.” Aku berjalan menghampiri Angken. “Apa urusanmu dengan Jia?”

Detik berikutnya terjadi tanpa sempat kuantisipasi. Angken mengeluarkan pisau yang entah ia simpan dimana dan langsung menusuk perutku. Aku berteriak sekencangnya.

“Ke-Ken? Apa yang… k-kau lakukan?” kurasakan darah yang mengucur deras dari perutku.

“Tidak hanya kau yang mencari-cari letak gerbang leluhur itu, Kalua.” Bisik Angken di telingaku. Angken menarik pisaunya yang seketika membuat badanku ambruk. “Oh iya, terima kasih, berkat kau, gerbang itu sudah ditemukan.” Angken menepuk tebing kapur yang menjadi pintu masuk menuju gerbang leluhur itu. “Kau memudahkan pekerjaanku tanpa harus kusuruh, Kalua.”

“Kalua?!” Nubi berteriak melihatku tergeletak tak berdaya.

“Nubi lari, lari!” aku balas berteriak semampuku.

“Apa-apaan kau, Angken?” Nubi mencoba menyerang Angken.

“Nubi, jangan!” teriakku putus asa.

Lewat penglihatanku yang kian meredup, kulihat Angken berhasil melumpuhkan Nubi dan memukul kepalanya berkali-kali dengan bongkahan batu. “Nu-Nubi… lari.” Ucapku lirih, sebelum semuanya terlihat gelap lagi untukku.

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

Leave a Reply