Kalua (3)

Jia remaja duduk di tepi tebing kapur dengan buku komik kesayangannya yang bercerita tentang alien. Sore itu selesai sekolah ia justru langsung mendaki tebing tanpa pulang dulu untuk ganti baju. Pemandangan matahari terbenam hari ini sayang untuk ia lewatkan.

“Jia, kau dicari Amongmu. Cepatlah turun.” Terdengar suara Kalua dari balik punggungnya.

Jia menoleh sekilas. “Iya, sebentar lagi.”

Kalua berbalik hendak pergi ketika Jia memanggilnya lagi. “Kau… Kalua kan?”

“Iya.” Ucap Kalua singkat kemudian ia melanjutkan langkahnya.

Jia menatap punggung Kalua dengan kening berkerut. Sama sekali ia belum pernah berbincang dengannya, mungkin barusan adalah yang pertama kali. Ia hanya ingat Kalua sebagai sesama Bapuh di sekolah. Jia memasukkan komiknya ke dalam ransel dan menatap langit jingga itu sekali lagi. Ketika ia hendak berbalik, kakinya terpeleset, pijakannya tergelincir hingga badannya nyaris meluncur ke bawah tebing. Tangannya berusaha meraih batu untuk menahan badannya yang makin merosot.

“To…Tolong…” teriak Jia panik. Dengan ketinggian seperti ini, teriakannya justru tidak akan terdengar oleh siapapun.

“Kaluaaa… Kaluaaa! Tolong akuuu!” Teriak Jia lebih kencang. Berharap semoga Kalua belum terlalu jauh menuruni tebing.

Tangan Jia perlahan melemah, genggamannya sudah tidak kuat lagi. “Tolooong…” teriaknya lagi dengan putus asa. Tepat sebelum tubuhnya tergelincir lebih jauh, ada tangan yang tiba-tiba menjulur meraih pergelangan Jia.

“Bertahanlah, Jia.” Seru Kalua sambil berusaha menarik tubuh Jia ke atas.

Tapi Jia merasakan sensasi lain. Kakinya seolah berpijak pada sesuatu. Ia melirik ke bawah, mendapati kakinya tak lagi menggantung namun berpijak kukuh di udara seolah ada yang menahan beban tubuhnya. Detik berikutnya tangan Kalua berhasil menarik Jia yang sebetulnya jauh lebih berat dari tubuh Kalua yang kurus. Setelah selamat dari tebing itu, Jia menatap Kalua dengan heran.

“Kau… apa yang kau lakukan tadi?”

Giliran Kalua yang bingung. “Tentu saja menyelamatkanmu.”

“Iya tapi tadi…” Jia melirik ke bawah, memastikannya sekali lagi. “Sepertinya tadi ada yang menahanku dari bawah.”

Kalua ikut melongok ke tepi tebing. “Ya baguslah kalau begitu, kau tidak tergelincir jatuh. Kau baik-baik saja, kan?”

Jia hanya mengangguk pelan.

“Sudah ayo cepat turun. Kalau sampai ada apa-apa denganmu, aku yang akan dimarahi Amongmu.” Gerutu Kalua sambil membantu Jia berdiri. Ia berlalu lebih dulu, meninggalkan Jia yang masih melongo karena kejadian tadi.

***

Dari meja kelasnya, Jia melihat Angken yang berbincang akrab di lapangan dengan Kalua. Jia baru mengetahui bahwa yang menyelamatkannya dari tebing waktu itu adalah kawan dekat Angken.

“Jia, sore nanti kau bisa membantuku?” tanya Puan yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.

“Kau butuh bantuan apa?”

“Mengerjakan tugas fisika. Kau kan yang paling pintar di kelas ini kalau sudah menyangkut fisika. Bagaimana? Kau bisa, kan?” rengek Puan.

Jia tersenyum. “Sepulang sekolah, kau langsung ke rumahku. Kita kerjakan sama-sama di rumah.”

Puan langsung memeluk Jia sekilas. “Terima kasih, Jia. Kau memang temanku yang paling baik.”

“Lagipula, bukankah kau sore nanti harus ikut Ambamu ke tempat para Among Tua? Kalau tidak salah ada upacara pemberkatan panen untuk sawah keluargamu, kan?”

Puan melepas pelukannya dan berdecak kesal. “Ah biarlah Among dan Amba yang punya sawah yang ikut upacara itu. Pasti akan membosankan seperti biasanya. Yang diberkati hanya jagung, jagung, dan jagung. Aku sudah bosan seumur hidup makan jagung.”

“Hei, kau bisa jadi Bapuh dan sekolah di sini karena jagung-jagung itu, Puan. Bersyukurlah sedikit.”

Puan melirik Jia kesal. “Mengapa kau sudah terdengar seperti Ambaku?”

Jia tertawa. Sesaat kemudian bel masuk berbunyi. Tepat ketika menginjakkan kaki di kelas, Angken langsung berseru menghampiri Jia.

“Jia, aku sudah mendapatkan edisi yang terbaru. Kau harus baca ini.” Seru Angken sambil mengeluarkan sebuah komik dari dalam tasnya.

Jia serta-merta langsung merebut komik itu. “Edisi ke 67? Kau sudah membacanya?”

“Pastinya. Ceritanya jadi lebih seru, ketika pesawat si Lunar sudah mendarat di…”

“Sssttt!” cegah Jia seketika. “Aku tidak mau mendengar ceritanya darimu. Aku ingin membacanya sendiri.”

Angken tertawa. “Baiklaah.”

Jia menatap sampul komik itu dengan mata berbinar. “Mungkinkah aku bisa jadi ilmuwan sekaligus astronaut seperti Lunar? Berpetualang mengarungi dimensi lain, pasti seru.”

“Bisa saja, dengan catatan kau harus berani membangkang titah Among dan Ambamu. Memangnya berani kau setelah selesai merantau nanti tidak kembali kesini?”

Jia melengos. Lalu tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Angken, kau kenal dekat dengan Kalua?”

Angken mengangguk. “Rumahnya dekat dengan rumahku, dari kecil kita selalu bermain sama-sama. Memangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa.” Jia menggeleng dan kembali menatap komik di tangannya. “Aku pinjam dulu ya?”

Angken tersenyum dan mengangguk. “Bawa saja. Berimajinasilah dengan kisah Lunar.”

“Hei… hei… ada aku di sini. Kalian berdua kalau sudah bicara soal komik tidak masuk akal itu memang sudah seperti ada di luar angkasa, tidak menghiraukan yang lain. Aku tidak mendapatkan sesuatu juga darimu, Ken?” gerutu Puan.

“Ada.” Sahut Angken sambil merogoh isi tasnya, mengeluarkan kotak makan siangnya. “Kau mau nasi jagung?”

Jia dan Angken sontak tertawa terbahak. Giliran Puan yang dibuat kesal. “Mengapa tingkahmu makin lama makin menyebalkan, Ken?”

“Harusnya kau berterimakasih padaku, Puan. Aku sering beli jagung di Ambamu. Mungkin selama ini kau selalu menikmati uang dariku, kan?”

Puan hanya membuang muka kesal.

“Baiklah kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu.”

Angken berlalu menuju kelasnya yang terletak tepat di sebelah. Jia menatap punggung Angken yang menjauh dengan senyumnya yang tertahan. Hanya Angken lah yang selama ini mengetahui obsesi Jia dengan dunia luar angkasa dan alien. Sampai ketika ia meminjaminya komik yang menceritakan kisah astronaut kecil bernama Lunar dan kawan-kawan aliennya, yang langsung menjadi komik favorit Jia sepanjang masa. Pemilik komik itu pun lambat laun juga menjadi orang favoritnya.

***

Dua laki-laki itu berdiri menatap satu tebing yang selama ini menarik perhatian Angken. Di sebelah Angken, Alex hanya menatap ujung tebing itu dengan raut wajah yang ragu-ragu. Matanya mencureng menghalau terik matahari.

I don’t know, Ken. Sepertinya kau harus meyakinkanku soal ini. Kau tahu sendiri ijin penambangan dan biaya yang dibutuhkan juga sangat besar.” Ucapnya dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.

You already have my convincing research, Lex. Kalau kau mau mengujinya sendiri, silahkan. At least I still have my 3 years until I graduate. Itu cukup untuk kita mempersiapkannya. Begitu aku kembali ke kampung ini, kita harus segera memulainya.”

I seriously hope that you understand the consequences, Ken. Your government will fucking mad that you attack them like this.”

Oh yeah, they will. Dengan dalih mengelolanya untuk kesejahteraan kampung sendiri, nyatanya aku menjual tempat ini pada kalian, it will cost many years in prison.”

Alex tertawa dan geleng-geleng kepala. “You’re crazy, you know?”

“Apa yang akan kita dapatkan akan setimpal, Lex. You and your NASA gangs will very happy about this, trust me.”

“Hey, we’re not NASA!” protes Alex.

Yeah, whatever.”

I can’t believe I trust a 21 years old guy for something this big.”

It’s just numbers, Lex. Jangan meremehkan apa yang bisa kulakukan untuk kalian.”

Alex melirik sosok yang berdiri di ambang gerbang tambang, Angken mengikuti pandangannya, yang ternyata orang itu adalah Among Retu. “What about him?” tanya Alex.

Don’t worry, that old man is my pawn. I can use him.”

Play it smooth, Ken. Aku harus kembali ke hotel sekarang.”

“Kau tunggu di mobil. Aku mau berbicara dengan orang tua itu sebentar.”

Okay.” Alex lebih dulu berjalan menuju mobil. Angken menghampiri Among Retu yang sepertinya membutuhkan penjelasan darinya. “Salam hormat, Among Retu.” Ucapnya ketika berdiri di depan Among Retu.

Among Retu tersenyum. “Angken, kupikir kau masih di kota.”

“Aku harus kemari sebentar, Among. Ada urusan dengan temanku.”

”Itu tadi temanmu? Orang asing? Ada urusan apa kemari?”

“Ya, dia orang Amerika. Rekanku di sekolah tambang. Dia yang akan membantuku untuk mengelola tambang ini nantinya ketika aku kembali ke sini, Among.”

“Ah iya, Among masih ingat. Semoga semua urusanmu berjalan lancar, Ken. Dan semoga tambang ini bisa segera beroperasi untuk kesejahteraan kampung kita.” Among Retu menepuk pundak Angken. “Kami semua akan bergantung padamu.”

Angken tersenyum. “Tentu saja, Among. Semuanya akan berjalan lancar, aku berusaha agar tambang ini bisa dikelola oleh orang-orang kita sendiri, untuk kemakmuran kita sendiri. Among Retu hanya perlu percaya padaku.”

“Tentu, Angken.”

“Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu, Among. Aku harus segera kembali ke kota.” Angken membungkuk memberikan salam hormat.

“Hati-hati, Ken.” Ucap Among Retu.

Angken berjalan menuju mobil. Sepertinya rencananya akan berjalan dengan mulus.

***

Yang dibutuhkan Angken tinggal satu pemanis lagi untuk mempercantik semua rencananya. Satu orang lagi yang ia percaya menjadi kunci keberhasilan setiap permainan yang sudah ia susun sedemikian rupa. Ia turun dari taksi dan memeriksa kembali deretan alamat yang tertera di layar handphonenya. Kakinya berjalan mendekati salah satu rumah kecil berwarna putih kecokelatan dengan nomor 17 yang terpahat di pintunya. Setelah beberapa kali mengetuk pintu, keluarlah si empunya rumah yang malam itu sudah berbalut baju tidur.

“Jia…” sapa Angken.

Jia hanya melirik Angken sinis, ia berbalik masuk meninggalkan tamunya di ambang pintu. “Cepat masuk dan tutup pintu. Aku sudah muak jika harus meladeni gunjingan teman kontrakan yang lain dan induk semang karena berkali-kali melihatku menerima tamu laki-laki.”

Angken menutup pintu dari dalam. “Ah, sepertinya memang bukan hal yang mengejutkan lagi.”

“Apa maumu, Ken? Mengapa kau ingin sekali bertemu denganku?” tanya Jia sambil melipat tangannya.

“Tanpa perlu menawariku duduk atau minum? Baiklah…” ia melempar tasnya ke meja. “Aku membutuhkan bantuanmu, ah… lebih tepatnya keahlianmu.”

“Yang adalah?”

“Merayu seorang laki-laki.”

“Dan dia adalah?”

“Kalua. Lelaki polos itu. Akan jadi pekerjaan yang terlampau mudah buatmu kan?”

“Kalua?” kedua alis Jia bertaut.

Angken mengangguk mantap sambil menyulut rokoknya.

“Untuk apa aku harus merayunya?”

“Untuk sesuatu yang aku butuhkan, Jia.” Angken menghembuskan asap rokoknya perlahan. “Kau akan jadi kunci untuk rencanaku kali ini.”

Jia hanya melengos dan berlalu menuju dapur kecilnya. “Aku tidak tertarik, Ken.”

“Oh ya? Bagaimana soal anomali gravitasi yang kau temukan di dekat tebing kapur di kampung kita itu?” ucap Angken seraya mengekor Jia berjalan ke dapurnya.

Langkah Jia terhenti sejenak, ia melirik Angken ragu-ragu. “Mengapa kau membahasnya lagi?”

“Karena aku menemukan kunci untuk membongkarnya. Tidakkah kau tertarik?”

Jia menggeleng dan terus berjalan ke dapur. “Lupakan, Ken. Aku sudah tidak terobsesi dengan semua itu.” ia menuangkan segelas air putih dan meminumnya buru-buru.

“Sudahlah, Jia. Kita punya obsesi yang sama. Aku tahu kau ambil kuliah bahasa hanya pengalihan untuk menutupi impian lamamu.”

“Bagaimana kalau aku menolaknya?”

“Sama saja kau mengubur impian kita.”

“Oh, sepertinya tadi aku mendengarnya dengan sangat jelas bahwa kau membutuhkanku untuk rencanamu dan segala yang KAU butuhkan, Angken.” Jia menekankan. “Aku tidak termasuk di dalamnya.”

Angken menatap Jia lekat-lekat. “Baiklah, aku tidak menyalahkanmu kalau memang kau sudah tidak tertarik. Tapi kuberitahu kau satu hal, Jia.” Angken berjalan mendekati Jia. “Sains adalah hidupku, aku tidak pernah menyerah seperti kau ketika berhadapan dengan jalan buntu. Bukit kapur yang mengelilingi kampung kita itu, adalah sebuah gerbang spiritual, Jia. Tempat pintu masuk menuju dunia para leluhur. Itulah mengapa gravitasi di tempat itu serasa berbeda, tidakkah kau menyadari?”

Jia hanya bisa mengerutkan kening. “Lalu apa hubungannya dengan sahabatmu itu, Ken?”

“Hanya dia yang bisa membuka gerbang itu, Jia. Kalua… atau Bapuhnya.”

Jia tertegun. Akhirnya sekarang ia mempunyai jawaban atas misteri kecilnya ketika nyaris tergelincir dari jurang dulu. Ia ditolong oleh Kalua, sekaligus gerbangnya. Seolah tempat itu tunduk pada setiap kehendak Kalua.

Jia tertawa sinis. “Lalu apa yang kau harapkan dariku, Ken?”

“Kau… akan menikah dengannya. Dengan Kalua. Buat dia takluk padamu. Kalau memang kau tidak bisa membuatnya membuka gerbang itu, setidaknya kau bisa mengandung Bapuh kandungnya.”

Jia menganga tidak percaya. “Kau gila!” ia menenggak air putihnya sekali lagi dan berlalu kembali ke ruang tamu. “Aku tidak mau melakukan semua omong kosongmu itu, Ken. Kalau kau sudah selesai berkhayal, lebih baik kau segera pergi.” Tegas Jia sambil membuka pintu ruang tamu.

Angken tetap tenang. Ia tahu bahwa Jia terlalu penting untuk rencananya. Ia harus berusaha membuat Jia percaya padanya, perlahan-lahan. Setidaknya ia masih punya satu kartu lagi yang tidak mungkin bisa ditolak oleh Jia. Ia mengambil tasnya dari sofa, mengeluarkan satu map warna biru. “Kalau memang kau tak mau mendengarkan penjelasanku berikutnya, setidaknya kau harus baca isi map ini.” Angken meletakkan map itu di atas meja.

Jia hanya meliriknya sekilas.

“Kalau kau tidak mau melakukan semua omong kosongku, tidak apa. Aku tahu kau tidak akan bisa menolak Among dan Ambamu.” Bisik Angken ketika berada di ambang pintu.

“Apa yang kau lakukan, Ken? Jangan libatkan Among dan Ambaku!”

“Oh, jangan berburuk sangka dulu. Aku tidak melukai Among dan Ambamu sedikitpun. Lagipula kau akan tahu, sesegera mungkin.” Angken berlalu meninggalkan Jia yang masih terbengong di depan pintu rumahnya.

Jia menutup pintu rumah dan langsung mencari-cari handphone, mencoba menelepon Ambanya. Terdengar beberapa kali nada sambung sebelum akhirnya Ambanya menjawab dari seberang telepon. “Halo, Jia?”

Jia menghela napas lega. “Halo, Amba. Amba ada di rumah?”

“Iya. Amba lagi di rumah sama Amongmu. Amongmu baru saja pulang dari tempat Among Retu. Ada apa kau telepon malam-malam begini Jia? Kau sehat?”

“Amba dan Among baik-baik saja, kan?”

“Kami berdua baik-baik saja, Jia. Ada apa memangnya?”

Jia mengurut pelipisnya. “Tidak apa-apa, Amba. Aku habis mimpi buruk saja.” Jawab Jia berbohong, sekaligus berharap apa yang ia bicarakan dengan Angken hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak akan menjadi kenyataan.

“Ah, kau istirahatlah dulu, Jia. Jangan tidur terlalu larut. Mungkin itu juga karena kau rindu rumah, kan? Sempatkanlah pulang kemari.”

Jia duduk di tempat tidurnya. “Iya, Amba. Setelah selesai sidang aku akan segera pulang.”

“Pulanglah untuk keluarga dan kampungmu, Jia. Ingat itu.” kata Amba hati-hati seolah sedang merapal doa untuk Bapuhnya sendiri.

“Aku pasti pulang, Amba. Kalau di rumah ada apa-apa, Amba harus menceritakan semua padaku, janji?”

“Harus berapa kali kubilang, kami baik-baik saja, Jia. Jangan khawatir.”

“Tapi Amba harus berjanji padaku, segera kabari aku kalau ada masalah.”

“Iya, Amba janji.” Tegas Amba mencoba menenangkan Bapuhnya.

Jia menghela napas. “Baiklah kalau begitu, Amba. Aku istirahat dulu.” Pungkas Jia menutup panggilannya. Tiba-tiba kepalanya terasa penuh dan pusing. Kedatangan Angken malam ini berhasil membuatnya gelisah. Matanya menangkap satu map biru yang ditinggalkan Angken sebelum pergi. Jia beranjak dan meraih map itu.

Map itu berisi beberapa lembar catatan tulis tangan Angken dan berlembar-lembar data hasil penelitiannya dengan salah satu lembaga yang sepertinya bukan dari Indonesia. Keseluruhan data itu terpusat pada data proyek penambangan batu kapur di kampung yang akan segera dilaksanakan oleh Angken dan rekan-rekannya. Kini Jia mengerti mengapa obsesi Angken semakin membuncah. Data sedekat dan sedetail ini tidak mungkin ia lewatkan untuk segera dieksekusi.

“Aku akan masuk ke sekolah pertambangan, Jia. Supaya aku bisa membongkar misteri apa saja yang ada di balik gunung kapur ini.” Ucap Angken waktu itu, ketika mereka baru saja selesai sekolah dan memutuskan untuk pergi mendaki bukit kapur menikmati sore.

“Aku ingin belajar fisika lebih jauh, Ken. Supaya aku pun bisa ikut andil untuk mengungkap anomali gravitasi di tempat ini. Siapa tahu aku bisa berkomunikasi dengan alien.” Ucap Jia yang waktu itu masih polos dan terobsesi dengan alien.

Keduanya mengucap mimpi dan angan masing-masing, menjadikan ilmu pengetahuan sebagai janji yang paling konkrit dan realistis untuk masa depan mereka berdua.

Angken menggenggam tangan Jia. “Kita akan menjadi seperti Lunar, Jia. Kita, sama-sama.”

Jia terpikat dengan tatapan mata itu. Sinar mata yang menunjukkan keyakinan dan meyakinkan Jia untuk tenggelam di dalamnya. Dan beberapa menit lalu, ia masih mellihat sinar mata yang sama memikatnya, hingga ia harus berusaha untuk berpaling agar tidak tenggelam dalam sakit hati yang sama pula.

Di antara tumpukan kertas-kertas dalam map itu, Jia menemukan satu kertas halaman komik favoritnya itu. Mungkin Angken sengaja menyelipkannya. Tepat di halaman itu terlihat gambar tokoh Lunar yang bersiap untuk menerbangkan roketnya menembus angkasa. Ini bukan halangan untukku, aku sudah siap untuk menembus ruang dan waktu, bagaimanapun caranya. Begitulah dialog yang diucapkan tokoh Lunar dalam halaman komik itu.

Cita-cita lamanya, komik kesukaannya, dan Angken. Semua itu selalu menjadi kombinasi yang menyakitkan untuk Jia. Cita-cita lamanya kerap membuatnya tersadar betapa ia dihadapkan pada dunia yang terlampau pragmatis, yang tidak memberinya waktu sekadar untuk berangan-angan. Komik kesukaannya justru melemparnya pada dunia yang ingin sekali ia tempati namun terhalang oleh tabir yang susah ditembus. Dan Angken, lelaki yang selalu membuatnya jatuh cinta. Sedetik kemudian air matanya jatuh setitik, cukup untuk mengendurkan sakit hatinya yang membelenggu sekian lama.

***

Di malam lainnya, Jia sedang berada di dalam kamar ketika tiba-tiba ada panggilan masuk dari Amba. Ia bergegas menjawabnya.

“Halo, Amba.”

“Jia, kau sedang sibuk? Boleh Amba dan Amongmu bicara sebentar?”

Jia menghentikan kegiatan mengetiknya. Perasaannya mulai dirambati sesuatu yang mengganjal. Ia tahu hari ini akan tiba. Sebuah tradisi lama kampungnya untuk menjodohkan para Bapuh beradasarkan pilihan para Among dan Amba, hingga para Tetua Adat sekalipun.

“Bisa, Amba. Kebetulan Jia sedang tidak sibuk.”

Terdengar suara Among dan Amba bersahutan, mungkin mereka menyetelnya dalam mode speaker agar lebih mudah untuk berbicara berdua.

“Kami sudah menemukan calon suami untukmu, Jia.” Kata Among singkat.

“Para Among Tua pun setuju dengan pilihan kami, Jia. Dia orang baik, memang sedikit lebih muda darimu, tapi kami rasa itu tidak jadi masalah, kan?” lanjut Amba menggenapi penjelasan dari Among.

Susah payah Jia menahan air matanya agar tidak jatuh. Sekian lama ia berharap dan berdoa agar Among dan Ambanya memilih calon suami yang sungguh-sungguh ia cintai, nyatanya harus runtuh dalam sekali panggilan telepon.

“Siapa dia, Among?” tanya Jia. Walaupun ia sudah tahu siapa lelaki yang mereka maksud.

“Kalua. Kalua Awali. Teman Bapuhmu di sekolah dulu, mungkin kau ingat.”

Jia menahan perasaan sesak yang tahu-tahu menghimpit dadanya. “Aku ingat, Among.”

“Baguslah kalau begitu. Mungkin minggu depan akan kami nikahkan kalian dengan perwakilan keluarga masing-masing. Bagaimana menurutmu?”

“Lebih cepat lebih baik, Among.” Ucap Jia singkat dengan suara yang berat.

“Jia… kau baik-baik saja, kan?” tanya Amba memastikan. Naluri seorang ibu memang selalu paling tepat untuk menebak hati anak-anaknya.

Jia menghapus air matanya yang mulai jatuh. “Tidak apa-apa, Amba. Tidak apa-apa. Amba dan Among segera siapkan saja segala yang diperlukan untuk pernikahan itu.”

Terdengar jeda sejenak sebelum Amba melanjutkan. “Baiklah kalau begitu, Jia. Kami akan telepon lagi ketika persiapannya sudah selesai, ya? Amba dan Among rindu padamu, Jia.”

“Aku juga rindu Amba dan Among.”

Panggilan telepon itu pun usai. Tapi tidak tangisan Jia. Air matanya mulai menemukan waktu yang tepat untuk turun dan mengosongkan segala kesedihan yang sudah lama terbendung. Entah apa yang dilakukan Angken hingga segala rencananya seolah berjalan sesuai kehendaknya. Entah apa yang ada di pikiran Angken hingga ia dengan tega memanfaatkan Jia, sahabatnya dari kecil. Entah sebodoh apa Angken hingga ia tidak tahu tentang perasaan Jia selama ini, atau memang ia tidak mau tahu.

***

Hari minggu. Hari ini sesuai yang dijadwalkan oleh Among dan Amba. Mereka akan menggelar upacara pernikahan Jia dan Kalua di kampung, lewat perwakilan masing-masing keluarga. Dan sementara keluarga di kampung berbahagia dalam upacara tersebut, Jia ingin melewatinya dengan sebotol bir yang sengaja ia beli untuk dinikmati malam ini. Jia pun sudah berhasil menghabiskan setengah dari isi botol itu. Kurang tidur berhari-hari karena mengejar sidang skripsinya, ditambah dengan tujuan hidupnya yang seolah berubah haluan, hilang kesadaran sejenak karena minuman beralkohol sepertinya bukan hal yang buruk.

Terdengar suara ketukan pintu dari ruang tamunya. Jia menatap pintu itu beberapa saat, memastikan bahwa yang ia dengar bukanlah halusinasinya. Pintu itu diketuk lagi. Jia baru beranjak dengan langkah gontai. Berat hati ia menarik pintu, ketika melihat siapa yang datang, ingin rasanya ia membanting pintu itu sampai terlepas dari engselnya. Angken berdiri di ambang pintu, dengan rambut sedikit basah karena terkena gerimis yang turun sejak tadi. Dari sudut matanya, ia bisa melihat beberapa teman satu kompleks kontrakannya diam-diam memperhatikan gelagatnya dan Angken dari jauh. Mungkin kisah keseharian Jia memang sebegitu menariknya untuk mereka. Jia melebarkan pintu dan memberi jalan untuk Angken masuk ke dalam.

Setelah Jia menutup pintu, keduanya masih berdiri tanpa suara. Memandangi satu sama lain seolah diam adalah cara terbaik untuk menyampaikan segala sesuatu yang tidak bisa diucapkan lewat mulut. Jia tidak tahu apa arti wajah Angken yang terdiam dengan rahangnya yang mengatup tegas itu. Ia menangkap ada rasa menyesal, bingung, atau bahkan keraguan di garis-garis wajah Angken. Dengan kadar alkohol yang mulai mempengaruhi kesadarannya, Jia mendekat ke hadapan Angken dan menampar pipinya kencang.

Angken memegangi pipinya yang terlihat memerah. “Aku pantas mendapatkannya.”

“Kau memanfaatkanku, Angken.”

“Aku tahu, Jia.”

“TEGANYA KAU MELAKUKAN ITU!” teriak Jia. Ia sudah tidak peduli dengan orang-orang di sekitar rumah kontrakan yang kemungkinan akan mendengar teriakannya.

“Aku tidak punya pilihan lain, Jia.” Jawab Angken pelan. “Aku hanya bisa mempercayakan mimpiku padamu.”

“Dengan menyerahkanku sebagai umpan? Dengan memanfaatkan satu-satunya teman baikmu?” Ada rasa ngilu di hati Jia ketika ia menekankan bahwa dirinya hanya sekadar teman baik untuk Angken.

Angken langsung memeluk Jia erat. Tubuh Jia memberontak mencoba melepaskan diri. Lengan Angken yang terlalu kuat membuatnya menyerah dan perlahan mulai meresapi sensasi dekapan itu. Suara degup jantung dan hembusan napas yang begitu dekat perlahan mampu menenangkan Jia. Satu-persatu ia mengijinkan perasaan itu kembali merekatkan hatinya yang hancur.

“Kenapa kau setega itu padaku, Ken?” isak Jia mulai terdengar.

“Maafkan aku, Jia.” Angken membelai rambut Jia. “Aku sudah mengorbankan segala yang aku punya. Termasuk kau, yang paling berharga buatku.”

“Kau bohong!”

“Sekarang aku hanya bisa berharap semuanya akan setimpal.” Angken mengangkat dagu Jia hingga kedua mata mereka bertemu. “Percayalah padaku, Jia.”

Angken mengecup bibir Jia sekilas, yang berujung pada ciuman panjang untuk menggenapi segala perasaan bersalah Angken dan kekecewaan Jia. Malam itu, Jia berusaha untuk sebisa mungkin merasakan secuil kebahagiaan walaupun kesadarannya hanya setengah. Sebagaimana hatinya yang juga terbagi setengah, satu di kampung yang sedang dinikahkan oleh Among dan Ambanya, dan satu lagi nyata bersamanya di sini, sedang dicumbu oleh segala perasaan cintanya yang tersisa.

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

Leave a Reply