Kalua (4)

Segala pertanyaan yang selama ini ada di kepalaku mendadak tergenapi sudah. Hubunganku dengan gerbang leluhur ini, Angken, Jia, tambang kapur, realitas hidupku seolah dilipat, digulung, dan dirobek sekaligus. Semua jawaban yang aku butuhkan mendadak hadir memenuhi benakku sampai aku dibuat sesak. Tidak ada lagi yang perlu  kutanyakan, yang ada hanyalah kenyataan tanpa keraguan. Dengan tubuh yang terasa melayang, perlahan tanganku meraba perut, bekas luka tusuk itu sudah tidak ada, darah yang sebelumnya mengucur deras pun juga tidak ada lagi.

“Angken…” aku berusaha berbisik. “Dia… yang merencanakan semuanya.” Potongan informasi berkelebat cepat di kepalaku. Aku hadir seperti menyaksikan dan menyerapi rekaman peristiwa yang sudah terjadi. Angken dan segala muslihatnya yang ia susun rapi dibalik kedok tambang kapur. Seseorang sedang mencoba menghancurkan tempat ini. Batinku menangkap suara parau itu, suara putus ada yang mengharapkan segala pertolongan yang ada.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa kali aku memasuki gerbang ini, aku bisa merasakan sekelilingku berusaha berkomunikasi denganku. Dengan cara yang tidak bisa kujelaskan, tidak bisa kugambarkan, tiba-tiba saja kami saling memahami, saling menggenapi. Aku merasakan nyamannya sebuah rumah yang selama ini tak pernah kutinggali. Perasaan hangat itu menyelimuti hingga membuatku menitikkan air mata.

“Aku ingin pulang…” bisikku tiba-tiba.

Seketika tubuhku terasa ditarik oleh sesuatu, mencoba mengeluarkanku dari tempat itu. Kesadaranku kembali dengan cepat dan membuatku linglung. Aku terduduk dengan panik dan yang pertama kulihat adalah Among Retu yang sudah berdiri di depanku dengan gelisah. Lagi-lagi aku terbangun di tempat Among Retu.

“Harusnya segala yang kau tahu dari gerbang itu sudah menggenapi pikiran dan hatimu sekarang. Maaf aku harus memutusmu dari gerbang, tapi aku membutuhkanmu sadar secepat mungkin, Kalua.”

Dengan rangkaian informasi yang begitu penuh sesak di kepalaku, rasanya aku membutuhkan waktu sejenak untuk mencerna perkataan Among Retu. “Among… Angken…” ucapku terbata. Lalu aku mengingat Nubi. “Nubi…”

“Kalua, tenangkan dirimu dulu.”

“Nubi… Angken membunuh Nubi, Among.”

“Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk Nubi, Kalua. Angken mungkin mencoba membunuhmu, tapi ia pasti tahu bahwa kau tidak bisa dibunuh semudah itu.”

Ucapan Among Retu menyadarkanku akan satu hal. “Among… selama ini sudah tahu soal Angken?”

Kulihat Among Retu hanya terdiam dengan rahang yang terkatup keras.

“Among sudah tahu rencana Angken?”

Among Retu kembali memalingkan wajahnya. Meskipun tersamarkan oleh garis-garis umur, aku tetap bisa melihat raut penyesalan itu.

“Among sudah tahu kalau selama ini akulah yang diincar?”

“Aku salah perhitungan, Kalua. Kupikir Angken adalah orangnya. Ternyata selama ini semua itu hanyalah kedok untuk melancarkan rencananya merebut gerbangmu.”

“Dan Among tidak berbuat sesuatu untuk mencegahnya? Aku nyaris mati hari ini, Among. Benar-benar nyaris. Dan Nubi yang harus menanggungnya!” teriakku putus asa.

“Harus berapa kali kukatakan, kau tidak bisa mati semudah itu.”

“Oh, jadi itulah yang membuat Among tenang saja selama ini? Karena aku tidak bisa mati semudah itu, Among tidak khawatir kalau aku ditusuk berkali-kali? Bagaimana kalau…” Tiba-tiba sesuatu seperti menusuk kepalaku hingga terasa pening. Aku harus memejamkan mataku sejenak untuk menahan nyeri yang tahu-tahu hadir.

“Koneksi. Tadi adalah koneksi pertamamu dengan gerbang leluhur. Pikiran dan hatimu sekarang menjadi kombinasi untuk memasuki gerbang secara sadar, Kalua. Tanpa kau tanya pun harusnya kau sudah tahu segala kesalahpahaman yang aku lakukan, dan segala rencana yang mungkin akan Angken lakukan sebentar lagi. Lagipula… ” Among Retu menunjuk perutku. “Menurutmu siapa yang bisa menyembuhkan luka tusukmu sebersih itu kalau bukan para leluhur?”

Aku meraba perutku yang mulus tanpa gores sedikitpun, walaupun bajuku masih berlumuran darah yang mengering. “Jadi… aku bisa memasuki gerbang itu… hanya dengan pikiranku saja, tanpa tubuhku harus masuk ke dalamnya?”

Among Retu menatapku lekat-lekat. “Ketika koneksi itu sudah terhubung, seorang Among Penjaga hanya membutuhkan kekuatan pikirannya saja untuk bisa membuka gerbang, tanpa tubuh fisik. Itu yang tidak diketahui Angken. Mulai sekarang, dari belahan dunia manapun, kau bisa mengakses gerbang itu.”

Aku baru menyadarinya sekarang. Rasa tertekan yang kurasakan dari kepala hingga tengkuk leherku, ternyata koneksi itu menghadirkan sensasi pening bukan main. Aku kembali duduk dengan napas memburu. “Mayat Nubi ada dimana, Among? Among menyelamatkannya juga, kan?”

“Aku harus membawamu lebih dulu sebelum ditemukan oleh orang lain, Kalua. Kau yang terpenting. Nubi… ketika aku datang, ia sudah tidak selamat. Tubuhnya sekarang pasti sudah berada di rumah keluarganya. Para Among Tua lainnya yang kutitahkan untuk mengurus Nubi.” Among Retu menghela napas. “Untuk sementara biarkan orang-orang mengira Nubi meninggal karena reruntuhan batu kapur.”

Aku menggeleng sambil berusaha menahan air mataku. “Tidak adil, Among. Nubi mati karena mencoba menyelamatkanku.” Kuusap mataku yang semakin berair. “Angken keparat!”

“Lebih baik kau simpan itu untuk membalaskan dendammu, Kalua.”

“Dari para leluhur aku mengetahui motif Angken selama ini. Tapi untuk apa, Among? Untuk apa Angken melakukan itu semua?”

“Kutukan untuk orang-orang yang memuja ilmu pengetahuan. Orang-orang seperti Angken mungkin ancaman yang dimaksud para leluhur, Kalua. Gerbang itu sudah menarik perhatian Angken sejak lama. Tambang kapur hanyalah tamengnya selama ini.”

“Dan selama ini Among diam saja? Mengapa Among tidak berbuat sesuatu?”

“Berbuat sesuatu adalah takdirmu, Kalua. Takdirku hanyalah membantu koneksi Among Penjaga dengan gerbang leluhur. Namun setidaknya aku sudah mengamati gelagat Angken sejak lama, kalau memang itu bisa sedikit menghiburmu.”

“Sama sekali tidak!” jawabku ketus. Kuraba saku celanaku yang kini terasa kosong.

“Ada di atas meja.” Ucap Among Retu seolah tahu aku sedang mencari-cari handphoneku.

Aku beranjak meraih handphoneku yang ternyata mati. “Ah… sialan.”

“Kau mau menghubungi Jia? Saranku lebih baik jangan dulu, Kalua.”

“Sebelum aku pingsan, Angken sempat mengatakan kalau ia mendapatkan semua informasi yang ia butuhkan dari Jia. Setidaknya aku butuh penjelasan darinya, Among.”

“Sebodoh itukah kau, Kalua? Tidakkah kau bisa menyimpulkan bahwa Angken bisa saja bersekongkol dengan Jia?”

Aku mengerutkan kening. “Kalaupun memang mereka bersekongkol, para leluhur tidak mengatakan apa-apa soal Jia. Aku melihat dan mendengarnya sendiri ketika berada di gerbang, Among.”

“Rencana dalam rencana, Kalua. Bisa saja Jia adalah rencana cadangan… yang berubah menjadi alat utama untuk memanfaatkanmu.”

Benarkah seperti itu, Jia? Pernikahan kita tak lebih hanya sekadar rencana di dalam rencana? “Satu sahabatku mati dibunuh sahabatku yang lain, dan kini istriku ikut bersekongkol dengannya?” Aku menggeleng tidak percaya. “Aku harus segera mencari Jia, Among.”

“Tidak sekarang, Kalua. Aku butuh kau untuk memasuki gerbang dengan sadar.”

“Se-sekarang juga? Among, aku harus bertemu dengan keluargaku dulu, dengan Jia, dan… melihat mayat Nubi.”

Among Retu meremas kedua bahuku. “Tidak ada waktu lagi, Kalua. Lebih cepat kau menguasainya lebih baik. Kau perlu melihat segala kemungkinan ke depan, lebih jauh dari Angken. Atau kita akan dipermainkannya lagi. Urusan keluargamu dan Nubi biar para Among Tua mengurusnya sementara. Mulai detik ini bersikaplah seperti Among Penjaga.”

“Aku tidak yakin tubuhku mampu menahannya, Among. Mengakses gerbang itu dua kali dalam sehari? Pasti aku pingsan lagi, bahkan lebih lama.”

“Kalaupun pingsan, setidaknya kau jatuh di tempat yang nyaman kali ini. Cepat, Kalua. Waktu kita semakin sempit.” Tegas Among Retu.

Dengan pikiran yang masih limbung, terpaksa aku duduk bersila di lantai kayu yang dingin itu. Sesungguhnya aku belum tahu bagaimana cara memasuki gerbang itu dengan sadar. Aku hanya menerka bahwa bersila adalah cara yang umum digunakan untuk menjangkau dimensi lain.

“Sesungguhnya pikiranmu bisa memasuki gerbang bahkan ketika kau sedang mengendarai motor sekalipun. Tidak perlu harus duduk bersila.”

“Aku tidak pernah tahu cara yang tepat untuk membuat koneksi itu, Among. Sekarang Among menyuruhku untuk kembali masuk ke tempat itu secepatnya, haruskah kita berdebat soal sikap sempurna untuk mengakses gerbang itu? Akulah Among Penjaganya, Among!” tegasku tiba-tiba di luar kendali.

Among Retu hanya terdiam dan menunduk pelan. “Baik, Among Kalua.” Among Retu ikut bersila di depanku.

Aku memalingkan wajahku, teringat kembali kemungkinan bahwa memang aku ditakdirkan untuk menjadi Among Tua di umurku yang belum terlalu tua.

“Sekarang. Aku akan tetap di sini sampai kau kembali.” Ujar Among Retu.

Kumulai memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Aku tidak pernah ingat bagaimana mulanya aku bisa memasuki gerbang karena aku selalu dalam kondisi tidak sadar. Ini pertama kalinya aku mencoba untuk membukanya dalam keadaan sadar. Sedikit banyak aku harus mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi. Beberapa detik berlalu tanpa terjadi apa-apa. Kucoba mengatur napasku lebih tenang.

“Sepertinya aku tidak bisa menjangkaunya, Among.” Kataku dengan mata masih tertutup. “Among?…” mendengar tidak ada jawaban, aku membuka mataku.

Dan ternyata aku sudah kembali ke tempat ini, sebuah tempat di balik gerbang leluhur yang nyaris membuatku mati berkali-kali. Aku tidak menyangka aku bisa kembali kesini dengan proses yang lebih tenang dan cepat. Sigap aku langsung berdiri dan memperhatikan sekeliling. Tempat ini masih gelap seperti biasa, namun perlahan mataku mulai bisa menyesuaikannya. Aku seperti berdiri di sebuah jalan setapak yang tidak terlalu lebar, memanjang lurus ke depanku hingga aku tidak bisa melihat ujungnya. Kakiku melangkah perlahan, menyusuri jalan setapak itu. Baru kusadari ternyata di kanan-kiriku ada aliran air seperti sungai yang memanjang sejajar jalan setapak yang kulewati. Perlahan suara percikan air juga mulai terdengar di telingaku. Memasuki gerbang dengan sadar menghadirkan pengalaman yang jauh berbeda dari sebelumnya, karena selama ini aku selalu menganggap bahwa gerbang itu bisa saja merenggut nyawaku kalau saja ia mau. Di ujung jalan, aku melihat sosok laki-laki yang berdiri membelakangiku. Sepertinya ia tidak terusik dengan suara langkahku yang semakin mendekat.

Ketika aku sudah berjarak sekitar lima langkah darinya, aku berhenti. Entah apa yang harus kulakukan, aku tidak tahu siapa namanya atau bahkan apa wujudnya. Tapi dari tampak belakang ia mirip sekali denganku. Yang membedakan hanyalah bajunya yang berwarna abu-abu seperti jubah panjang. Seumur hidup aku tak pernah sekalipun memakai baju seperti itu. Dan detik ketika ia berbalik menatapku, sungguh aku terkejut hingga mundur beberapa langkah. Aku seperti berdiri di depan cermin, menghadap bayanganku sendiri. Orang itu persis sekali denganku… atau dia adalah aku?

“Kalau kau berpikir seperti sedang menatap bayanganmu di cermin, itu benar. Di tempat ini, aku memang hanya refleksimu saja.” Sapanya pelan.

Aku masih menganga tak percaya. Jangan-jangan ini cuma halusinasiku saja.

“Ini bukan halusinasi, Kalua. Aku nyata. Lagipula percuma kau menyembunyikannya, apa yang ada di pikiranmu juga ada di pikiranku. Katakan saja apa yang ingin kau katakan sekarang.” Ucapnya tenang sambil tersenyum.

“Kau… adalah aku? Atau… bagaimana? Aku tidak mengerti.”

“Aku adalah Among Penjaga itu, aku adalah kau. Koneksi yang terjadi tadi adalah pertama kalinya kita terhubung secara sadar. Terhubung antara tempat leluhur dan gerbangnya.”

Aku menggeleng pelan. “Aku masih tidak mengerti.”

“Di tempat ini tidak ada kata tidak mengerti, kau hanya belum menyadari sepenuhnya.”

“Jadi… kau adalah nyawaku? Atau… jiwaku?” tanyaku sambil menunjuk dadaku.

“Anggap saja begitu, kalau itu bisa memudahkanmu untuk memahami.”

“Kau selama ini ada di dalam tubuhku?”

Telunjuknya menunjuk kepalaku. “Aku ada di kepalamu, Kalua. Leluhur telah memilihmu, memilihku, jauh sebelum kau lahir di dunia. Dengan tubuhmu yang kini telah hadir di sini, dengan kita berdua yang telah terhubung, tugas kita sekarang adalah menjaga dua dunia di kampung kita agar tetap seimbang.”

Kuperhatikan sekelilingku yang masih terasa hampa dan gelap. “Tempat apa ini?”

Bharma. Jalan satu-satunya menuju tempat leluhur. Tempat yang harus kita jaga.”

“Ehm… kau tahu kan aku sudah beberapa kali masuk ke tempat ini? Mengapa sebelumnya aku tidak bisa melihat sejelas ini?”

“Memasuki gerbang leluhur harus dengan pikiran yang tenang, Kalua. Sebelum-sebelumnya kau berusaha masuk dengan emosi yang membuncah. Jangan salahkan aku kalau kau nyaris mati.”

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. “Lalu soal tebing kapur itu? Benarkah itu jalan masuk menuju kemari?”

“Memang benar. Kita berdiri di dalamnya sekarang. Kalau memang itu yang kau inginkan.”

“Kau membuatnya jadi makin membingungkan untukku. Bagaimana aku bisa mempercayai semua ini?” Gerutuku kesal.

“Setidaknya yang satu ini bisa membuatmu percaya denganku.” Ia menyibak jubahnya dan menunjukkan bekas luka tusuk di perut sebelah kanannya. “Aku sudah pernah berkorban untukmu.”

“Ka-kau… mengapa luka itu ada di perutmu?”

Ia mengikat jubahnya kembali. “Saat kau nyaris mati, aku menarikmu masuk ke dalam Bharma. Aku meminta leluhur untuk memberimu kesempatan sekali lagi. Dan aku memberi pesan kepada Among Retu untuk segera datang menyelamatkanmu.”

“Kau bisa berkomunikasi dengan Among Retu?”

“Tentu. Dia masih Tetua Adat kita, selama kita belum terkoneksi dengan sadar.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa. “Among Retu pernah berkata kalau aku tidak bisa mati dengan mudah. Apakah itu karena ada kau?”

Ia mengangguk pelan. “Among Penjaga hidup di dua dunia, Kalua. Dengan dua jiwa yang sama nyata. Untuk membunuhmu sampai benar-benar mati, mereka harus membunuhku juga. Yang itu pasti akan mustahil dilakukan.”

“Artinya aku tidak bisa mati?”

“Tubuh fisikmu, bisa. Tapi aku tidak bisa. Kalau tubuh fisikmu mati, maka aku akan hidup dengan tubuh fisik yang lain.”

“Keparat!” gumamku. “Itu sama saja. Mengapa kau tidak membiarkanku mati tertusuk saja? Toh kau akan tetap hidup dengan tubuh yang baru.”

Ia tersenyum. “Aku lebih suka dengan wujud yang seperti ini.”

“Terserah kau.” Aku melengos. “Among Retu mengatakan kalau kita harus membaca segala kemungkinan ke depan. Lebih jauh dari Angken, atau orang-orang lain yang hendak memanfaatkan gerbang ini.”

“Daya tarik bumi memang selalu menarik perhatian ya?” Ia tertawa sinis. “Kaulah yang menjadi kunci untuk menghalau mereka.”

“Maksudnya?”

Ia menyodorkan kedua tangannya ke hadapanku. “Semua jawabannya ada di sini. Tapi, akan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk kau memahami dan mengurai semua informasi yang akan kau terima kali ini.”

Ragu-ragu tanganku menyambutnya, ketika kedua telapak kami bertemu, ada sepercik cahaya yang keluar dari sela-sela jari yang terpaut. Sensasi itu hadir lagi, potongan ingatanku yang bermunculan serta bayangan orang-orang dan tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Aku melihat sebuah desa di lereng bukit. Desa yang begitu tenang dan sejuk dengan angin yang berhembus. Wajah sosok laki-laki yang tidak kukenal hadir, bergantian dengan wajah Jia. Lalu kesadaranku direnggut dengan cepat dan aku kembali berdiri di tempat ini. Baru ku tersadar kini akulah Kalua dengan jubah abu-abu itu.

Koneksi. Gumamku pelan. Tubuhku pun terhempas, ditarik oleh sesuatu yang begitu kuat. Dan sedetik kemudian aku sudah kembali ke tempat Among Retu, kembali ke tubuhku yang terhuyung sejenak karena kesadaran yang mendadak kembali.

Kurasakan tangan Among Retu yang menahan bahuku agar aku tidak terjatuh. “Kau kembali.” Ucapnya.

“Berapa lama aku pergi?” tanyaku sambil menahan pening yang menusuk kepala.

“Sekitar lima menit.”

“Lima menit? Kurasa aku sudah pergi selama satu jam.”

“Itu tidak penting. Angken… Angken dimana?”

“Dia…” aku berusaha mengingat segala informasi yang kudapat dari gerbang. “Dia tidak ada di sini, Among.”

“Apa maksudmu?”

“Dia tidak ada di kampung ini.”

“Kau tidak tahu dia kemana?”

Aku menggeleng pelan. Butuh waktu lama untuk bisa mencerna segala aliran informasi yang tahu-tahu datang memenuhi kepalaku.

Among Retu terduduk lemas. “Artinya kita tidak punya petunjuk apapun?”

“Lagipula petunjuk apa yang Among harapkan?”

“Apapun yang bisa menyelamatkan kampung kita.”

“Bagaimana kalau ternyata kali ini kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk kampung ini, Among?”

“Bukan tidak bisa, tapi belum.” Ia menatapku. “Aku percaya segala petunjuk yang kita butuhkan akan datang tepat waktu.”

“Bharma. Aku melihat diriku sendiri di dalam Bharma, Among. Sosok yang sama persis denganku. Lalu aku berubah menjadi sosok itu. Itukah yang membuat Among percaya bahwa akulah Among Penjaga itu? Karena leluhur memberi petunjuk soal keberadaanku di dalam Bharma?”

Among Retu mengusap wajahnya yang lelah. “Sosok itu adalah proyeksi jiwa dan pikiranmu, Kalua. Sosok itu pula yang menyadarkanku bahwa aku melakukan langkah yang salah. Aku pikir Angken adalah Among Penjaga yang ditunggu-tunggu itu. Nyatanya para leluhur memberi petunjuk tentang sosok di balik gerbang yang telah menunggu tubuh fisiknya untuk terkoneksi, yang adalah kau.”

“Jadi itu yang membuat Angken banyak tahu soal gerbang leluhur? Karena dulu Among sempat menceritakan banyak hal tentang Among Penjaga padanya?”

Among Retu mengangguk lemas. “Setelah sekian lama mempercayainya, peristiwa di malam upacara adat pernikahanmu seolah menamparku dengan keras. Maafkan aku.”

“Tidak perlu, Among. Siapapun tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.” Kulirik bajuku yang penuh bekas darah dimana-mana. Aku menghela napas. Kuraih handphone serta dompetku. “Aku harus kembali ke rumah, Among.”

“Jangan, Kalua. Kau harus tetap di sini.” Ujar Among Retu sambil berusaha menghalangi jalanku.

“Aku harus diam di sini sampai kapan, Among? Sementara tidak ada satu petunjuk pun soal apa yang harus kita lakukan.”

“Terlalu berbahaya untukmu berkeliaran, Kalua.”

“Aku hanya kembali ke rumahku, Among. Aku tidak meninggalkan kampung.”

“Tetap saja.”

“Sudahlah, Among. Among Retu tidak perlu khawatir berlebihan, kalau ada sesuatu yang aneh aku akan langsung mencari Among Retu. Lagipula… Among Retu harus memimpin upacara pemakaman Nubi.” Dadaku terasa sesak mengucapkannya.

Among Retu hanya menatapku diam. Dengan berat hati ia membukakan pintu rumahnya. “Aku telah memerintahkan para Among Tua untuk membuat upacara besok pagi untuk pemakaman Nubi. Hati-hati. Situasinya kali ini lebih membahayakan buatmu.”

Aku hanya mengangguk sekilas. “Lebih tepatnya membahayakan untuk kita semua, Among.”

Aku berjalan menyusuri jalan kampung yang kini sudah gelap. Entah ini sudah pukul berapa namun yang jelas suasana kampung tidak seramai biasanya. Alih-alih pulang, kakiku berjalan menuju rumah Nubi. Aku masih ingat betul bagaimana Nubi mencoba untuk menyelamatkanku, aku ingat betul bagaimana tubuhnya yang lemah dihabisi oleh si keparat Angken, aku ingat betul bagaimana teririsnya hatiku melihat kejadian itu langsung di depan mataku. Dari kejauhan, terlihat rumah Nubi penuh oleh warga yang berdatangan. Langkahku semakin gontai ketika nekat memasuki halaman rumah Nubi. Sesampainya di teras rumahnya, lututku lemas melihat tubuh Nubi yang terbujur kaku ditutupi oleh kain-kain khas kampung. Nubi terlentang tak bergerak di atas papan kayu, di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang melirikku keheranan karena bajuku yang berlumuran darah.

“Kalua?!” aku mendengar suara Ambaku yang tiba-tiba menyeruak di antara padatnya kumpulan orang malam itu. Ia langsung meremas kedua bahuku.

“Kau… kau dari mana saja, Kalua? Ini…ini kenapa? Kau baik-baik saja?” tanya Amba panik melihat bajuku yang bersimbah darah. Melihat mataku yang mulai berair, Amba membelai kedua pipiku. “Kalua?…”

“Nubi…” aku mulai terisak. “Aku tidak bisa menyelamatkannya, Amba.” Amba memelukku. “Aku tidak sempat menyelamatkannya.”

Amba hanya membelai kepalaku, mencoba untuk menenangkan. “Bukan salahmu, Kalua. Nubi mengalami kecelakaan di tambang.”

Aku menggeleng pelan. Dalam hati aku tahu betul itu bukan kecelakaan. Aku melepas pelukan Amba dan duduk di samping tubuh Nubi. Wajahnya ditutupi kain tenun berwarna biru tua. Tanganku meraba jemari Nubi yang kini sudah kaku.

Aku akan membalasnya, Nubi. Aku akan membalasnya untukmu. Tekadku dalam hati. Aku menunduk dan menangis sejadi-jadinya. Segala emosi dan air mata yang jatuh rasanya tidak akan bisa membayar penyesalanku atas kematian Nubi.

***

Sepulang dari rumah Nubi, Amba langsung menyiapkan air hangat dengan campuran sebotol antiseptik untuk membersihkan darah kering di tubuhku. Tak lama setelah aku selesai mandi, Among yang baru pulang dari mengamankan area tambang bersama para Among lain langsung melancarkan pijat totok di punggungku. Untuk sementara, aku harus menggunakan alasan ‘aku yang pertama menemukan tubuh Nubi berlumuran darah, ketika kemudian para Among Tua ikut membantu memulangkan mayat Nubi, sementara Among Retu mencoba menenangkanku yang panik melihat Nubi meninggal’, untuk menjelaskan baju dan tubuhku yang berlumuran darah. Setidaknya alasan itu tidak sepenuhnya berbohong. Aku memang panik dan Among Retu mencoba menenangkanku. Dan Jia… semenjak aku bangun pagi ini, sekalipun aku tidak melihatnya atau mendapat kabar darinya.

Aku memasuki kamar dengan lunglai. Kusambungkan handphoneku dengan kabel penambah daya. Setelah hampir sehari penuh handphoneku mati, akhirnya aku bisa mencoba menghubungi Jia. Aku duduk di tepi kasur sambil meneleponnya.

Nomor yang anda tuju tidak terdaftar…” aku mengerutkan kening. Tidak mungkin. Kucoba meneleponnya lagi beberapa kali. Namun yang kudengar tetap sama. Aku merebahkan tubuhku dengan rasa putus asa, dan melihat langit-langit kamar. Ingin rasanya aku berharap bahwa Jia tidak terlibat dengan semua ini. Ingin rasanya aku menyanggah rasa kecewa yang perlahan mulai merambati hatiku yang telah remuk karena kematian Nubi.

Aku sempat melihat bayangan wajah Jia beberapa kali ketika aku terkoneksi dengan gerbang. Apakah Jia memang terlibat sejauh itu hingga para leluhur pun seolah terancam dengan kehadirannya?

Apa yang sebenarnya kau inginkan, Jia?

***

Taman pemakaman di kampungku tidak seperti lainnya yang cenderung suram dan hening. Pemakaman di sini justru seperti hutan rimbun, karena kami menggunakan pohon sebagai pengganti batu nisan. Para leluhur percaya bahwa energi dari tubuh yang telah hancur di dalam tanah akan berpindah ke dalam pohon, untuk tetap bisa mendatangkan manfaat bagi mahluk lainnya. Biasanya setiap orang memiliki keinginan atau wasiat tentang pohon apa yang ingin ditanam di atas makam mereka nantinya. Sementara keluarga yang ditinggalkan, harus merawat pohon itu sampai besar hingga bisa memetik buahnya, atau memanfaatkan kayunya untuk kebutuhan hidup. Dan sepertinya tempat pemakaman di kampung kami memang memiliki energi magis yang mampu menyuburkan segala pohon yang ditanam, meski pohon itu seharusnya tidak cocok dengan iklim atau kondisi tanah di sini.

Aku berdiri paling depan di barisan para Among dan Bapuh laki-laki. Kami menggunakan pakaian serba hitam dengan sehelai kain tenun khas kampung yang dikalungkan di leher kami masing-masing. Warna hitam sekujur tubuh yang melambangkan bahwa manusia hadir sebagai sumber bencana untuk kehidupan, dan kain tenun yang menggantung dari leher ke dada adalah simbol sepercik jiwa yang layaknya digunakan untuk kebaikan alam. Kira-kira seperti itu makna dari baju upacara pemakaman yang diajarkan leluhur.

Upacara pemakaman Nubi pagi itu diselimuti awan mendung yang enggan pergi sejak tadi. Mayat Nubi sudah diturunkan ke dalam liang kubur, dibalut dengan beberapa lembar kain tenun berwarna cokelat keemasan, dan taburan bunga yang hampir menutupi setengah badannya. Ambanya masih menangis terisak sambil memeluk bibit pohon mangga yang akan ditanam di atas makam Nubi, ditemani Ambaku yang berusaha menenangkannya.

Setelah Among Retu menyelesaikan doanya, perlahan liang kubur Nubi kembali ditutup dengan tanah. Aku berbalik dan mencoba keluar dari kerumunan. Di barisan para Amba paling belakang, kulihat Puan ikut menghadiri upacara pemakaman. Tatapan mata kami pun bertemu, mengisyaratkan gelagatnya yang ingin menghindari pertemuan denganku. Aku berjalan menghampirinya yang semakin menunduk.

“Kita perlu bicara, Puan. Setelah upacara selesai, temui aku di belakang.” Bisikku di sebelahnya. Tanpa perlu menunggu jawabannya, aku terus berjalan menuju pohon asam dan duduk di bawah bayangannya yang teduh.

Setelah upacara pemakaman selesai, satu-persatu warga kampung mulai pergi meninggalkan makam Nubi. Bibit pohon mangga yang baru saja ditanam itu mulai terlihat dari tempatku, bergoyang-goyang mengikuti angin yang berhembus pelan. Mengingatkanku pada sosok Nubi yang ceria, satu-satunya orang di dunia ini yang memanggilku Luwak.

Dengan langkah ragu, Puan berjalan menghampiriku. “Kau… ingin kita bicara di sini?”

Aku mengangguk. Ia mengambil duduk di sebelahku dan terdiam.

“Dari Nubi aku tahu kalau ternyata pernikahanmu dengan Angken tidak direstui oleh leluhur.” Pancingku setelah beberapa menit berlalu kami terdiam.

“Aku tahu kau akan membahas itu, Kalua. Setelah pernikahanmu dengan Jia juga mengalami hal yang sama.” Ia meremas jari-jarinya sendiri dengan gelisah. “Kalua, aku…”

“Angken mempermainkan kita, Puan. Ia menjebakku, dan mungkin saja ia juga sudah lama memanfaatkanmu. Dan sekarang Nubi yang menjadi korbannya. Mengapa kau diam saja?” tanyaku geram.

“Tak terhitung berapa kali aku ingin memberitahumu, Kalua. Sungguh.” Puan memalingkan wajahnya. “Tapi ia mengancam akan menyakiti keluargaku. Dan Nubi…” ia mulai terisak. “Aku tidak tahu kalau berujung seperti ini, Kalua. Maafkan aku.”

“Jadi kau sudah tahu rencananya sejak awal? Rencananya dengan Jia? Rencananya terhadapku?”

Puan menatapku lekat-lekat. Kulihat jejak air matanya yang baru saja dihapus. “Aku terpaksa melakukannya untuk Jia, Kalua. Jia membutuhkan bantuanku untuk lepas dari jeratan Angken.”

“Maksudmu?”

Puan tersenyum getir. “Sepertinya setelah menjadi Among Penjaga kau tetap tidak bisa mengetahui perasaan Jia yang paling dalam.”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kalua… Cinta Jia hanya untuk Angken. Tidakkah kau menyadarinya?”

Terakhir kali aku merasakan pening mendadak seperti ditusuk adalah setiap aku memasuki gerbang. Namun kali ini aku sadar rasa menusuk ini jelas bukan dari gerbang leluhur, tapi dari perkataan Puan tentang Jia yang sama sekali luput dari radarku.

“Bukankah itu masuk akal untuk menjadi alasan dari semua yang Jia lakukan?” tambah Puan. “Demi leluhur, aku sungguh menolak waktu Angken memaksaku menikah dengannya karena aku memikirkan perasaan Jia. Namun perlahan Jia melihat itu sebagai kesempatan untuk dapat melepaskan diri dari semua rencana gila Angken. Maka aku rela untuk membantunya.”

Kata-kata seolah terenggut dari mulutku. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa saat mendengar semua cerita Puan.

“Kalau memang aku tidak bisa mengungkapkan yang sebenarnya padamu, pada para Among Tua, setidaknya aku ingin membantu rencana kecil Jia untuk bisa menghentikan semuanya.”

“Apa rencana Jia?” tanyaku dengan suara tercekat.

Puan justru menatapku dengan tatapan iba.

“Puan, apa rencana Jia?” Perasaanku mulai tidak nyaman.

“Jia… ia ingin pergi sejauh mungkin. Melarikan diri dari Angken, darimu, dari kampung ini.” Puan menghela napas. “Cintanya untuk Angken membuat hatinya remuk, Kalua. Jia sempat bilang padaku kalau ia ingin lari dengan segala rasa kecewanya.”

“Angken… sengaja memanfaatkan perasaan Jia?”

“Aku tidak tahu apakah Angken memang sebodoh itu, atau justru ia memang terlalu jahat untuk memanfaatkan hati perempuan.”

Aku mengusap rambutku, mencoba menutupi segala sensasi perih yang tahu-tahu hadir. Aku tidak tahu lagi sejauh mana Angken melancarkan segala perhitungannya dengan begitu cermat. Akhirnya satu-persatu aku menyadarinya. Tatapan mata Jia, ekspresinya setiap kali aku menyatakan cintaku, dan malam terakhir itu, malam terdekat yang pernah kurasakan bersama Jia. Dan semalam, dimana nomornya tak bisa lagi kuhubungi. “Jia tidak bilang akan pergi kemana?”

Puan menggeleng.

“Lalu sekarang Angken ada dimana?”

“Aku pun tidak tahu, Kalua. Terakhir kali aku melihatnya dua malam yang lalu.” Ia melirikku. “Kau… kapan terakhir kali melihat Jia?”

Aku tertegun. “Dua malam yang lalu juga.” Instingku mulai mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi. “Itu bukan suatu kebetulan kan?”

Puan menggeleng. “Tidak mungkin, Kalua. Aku tahu Jia sudah muak dengan segala rencana Angken. Ia tidak mungkin bersedia membantunya lagi.”

Tapi pikiranku sudah terlanjur mendeteksi kemungkinan yang lain. Aku segera berdiri dan meninggalkan Puan. “Maaf, aku harus segera pulang, Puan.”

“Kalua…” panggil Puan lagi. Aku berhenti dan berbalik menatapnya.

“Berhati-hatilah, Kalua. Aku tidak ingin kau yang menjadi korban berikutnya. Kampung ini bergantung padamu sekarang.” Ucapnya sungguh-sungguh.

Kepalaku cuma mengangguk sekilas. “Lagipula aku tidak akan mati semudah itu, Puan.”  Aku melanjutkan langkahku.

***

Sesampainya di dalam kamar, aku mencoba mencari sesuatu di meja kerja Jia. Di atas meja, rak buku, lemari baju. Aku mencari apapun, entah buku, jurnal, tulisan, tiket bus, foto, apapun yang bisa menunjukkan jalan terang untukku. Barang-barang Jia yang tidak terlalu banyak dan sepertinya tidak ada yang penting membuatku putus asa. Setelah membolak-balik semua barang Jia yang ada, aku duduk di kursi dengan perasaan lelah. Semuanya terasa hadir dan terungkap bersamaan terlalu cepat sampai-sampai aku kesusahan untuk mengurai benang kusut itu satu-persatu.

Kutegakkan posisi dudukku dan mencoba memejamkan mata. Setelah sekian lama aku mencoba menghindar dari gerbang itu, nyatanya kali ini aku memang merasakan kedekatan yang susah dijelaskan dengan gerbang dan segala yang ada di baliknya. Among Retu pernah berkata bahwa ketika tubuh fisikku telah terkoneksi dengan gerbang, aku bisa mengakses bahkan ketika aku sedang mengendarai motorku sekalipun. Artinya aku bisa masuk ke dalam Bharma kapanpun aku mau kan?

Belum sempat aku terkonsentrasi penuh, tiba-tiba tubuhku merosot seperti jatuh dari langit, dan akupun jatuh tengkurap dengan keras.

“Aarrgghh!” teriakku kencang yang langsung menggema ke seluruh ruangan. Aku melihat sekitar. Bharma. Cara mengakses gerbang memang selalu penuh kejutan. Aku sendiri sampai detik ini tidak pernah tahu cara yang tepat untuk mendarat dengan selamat memasuki Bharma. Dan aku juga baru menyadari bahwa di dalam Bharma aku masih bisa merasakan sakit.

Aku berdiri perlahan sambil menyeringai menahan nyeri. Seandainya saja aku bisa mengganti bajuku dengan warna yang lebih cerah selain jubah abu-abu ini. Kaki telanjangku melangkah menyusuri jalan setapak menuju tempat dimana terakhir kali aku berbincang dengan diriku sendiri. Pikiranku terus tertuju pada Jia. Berharap di dalam Bharma, para leluhur akan memberikanku petunjuk tentangnya.

Jia. Batinku dalam hati sambil memejamkan mata. Namun tidak satupun aku mendapatkan sesuatu seperti yang selama ini aku terima ketika berada di dalam Bharma.

“Sungguh? Tidakkah kali ini aku pantas mendapatkan barang satu petunjuk saja soal keberadaan Jia?” gumamku pada langit-langit dan dinding yang terasa dingin dan gelap.

Aku mencoba untuk memejamkan mata kembali dan mengosongkan pikiranku. Namun yang terjadi justru aku kembali ke tubuh fisikku di dalam kamar. Badanku terhempas begitu keras hingga aku terjatuh dari kursi.

“Aku tidak bermaksud kembali ke sini!” teriakku kesal. Dengan badan yang masih tersungkur di lantai kamar, aku hanya menerka-nerka apakah para leluhur kadangkala juga bersikap menyebalkan seperti ini pada Among Penjaganya.

***

Di saat Angken pergi entah kemana dan Nubi pergi untuk selamanya, aku tidak tahu bagaimana kondisi tambang kapur yang kini kehilangan dua kaptennya. Maka hari ini kuputuskan untuk menengok lokasi tambang untuk memastikan bahwa semuanya masih berjalan dengan lancar. Aku tahu pada akhirnya tambang ini hanyalah kedok untuk menutupi rencana Angken, namun terlalu banyak orang yang menggantungkan kelangsungan hidupnya pada tambang kapur ini. Dan seperti yang kuduga, kondisi tambang pagi ini terlihat lebih sepi dan lebih tenang dari biasanya. Tidak ada lagi truk yang keluar-masuk area tambang dengan sibuk. Para pekerja lebih banyak duduk di warung-warung dekat pagar kawat.

Aku menghampiri warung kopi yang biasa menjadi tempat istirahatku bersama Angken. “Kenapa tambang sepi sekali hari ini, Pak?” tanyaku pada salah satu pekerja yang sedang menikmati kopinya.

“Among Retu menyuruh kami untuk tidak beroperasi dulu. Setelah kecelakaan yang menimpa Nubi beberapa hari lalu.”

Aku mengangguk paham. Paham bahwa apa yang dilakukan Among Retu hanyalah untuk memberi kesan meyakinkan tentang kecelakaan Nubi. Kutinggalkan warung kopi yang penuh sesak itu. Benar kata Among Retu, sepertinya untuk sementara lebih baik kematian Nubi tersiar sebagai peristiwa kecelakaan. Biarkan situasi di kampung terjaga kondusif sampai batas waktu yang bisa kami berikan. Dari kejauhan terlihat bekas kantorku dengan Nubi yang masih tertutup rapat. Untung saja aku masih menyimpan kunci pintu kantor yang sempat terbawa di dalam tasku waktu itu. Kuputar kunci itu tiga kali dan kudorong pintu kantor yang selalu mengeluarkan suara decit yang khas.

Suasana di dalam kantor yang berisi dua meja, dua kursi dan dua lemari itu terlihat lebih berantakan dari terakhir kali aku masuk kemari. Meja Nubi tetap penuh dengan bermacam buku dan berkas-berkas dari para pekerja. Sementara aku yang bukan pekerja tetap cenderung memiliki meja dengan barang-barang yang tidak terlalu banyak, dan aku kesini hendak membereskan semuanya. Satu-satunya hal yang membuatku betah di ruangan ini adalah Nubi. Kulirik mejanya yang kini sudah tidak berpenghuni. Entah kapan aku ada waktu untuk mengamankan segala berkas-berkas tambang yang menumpuk di mejanya. Melihat kursi kosong itu saja rasanya aku tidak sanggup. Setelah semua barangku masuk ke dalam satu kardus kecil, aku bergegas meninggalkan ruangan itu dan menguncinya rapat-rapat.

***

Among Retu mendatangi rumahku malam ini. Kami berdua pun duduk di teras dengan rokok kretek di tangan masing-masing.

 “Tambang harus terus beroperasi, Among. Jangan sampai dengan absennya Angken dan Nubi banyak pekerjaan para buruh tambang yang terbengkalai.”

“Aku tahu, Kalua. Tapi segala kemungkinan untuk menjaga rahasia gerbang itu harus tetap dilakukan.”

“Untuk apa? Lagipula aku sudah bisa mengendalikan gerbang itu.”

Among Retu melirikku dengan tajam. “Hati-hati. Kesombonganmu akan membawa petaka. Kau baru bisa masuk Bharma, kau belum sepenuhnya bisa berkomunikasi dengan para leluhur. Ingat itu.”

Aku langsung terdiam.

“Kau sudah dapat petunjuk dimana Jia dan Angken?” tanya Among Retu.

Aku menggeleng. “Saat aku di Bharma pun para leluhur seolah enggan memberikan petunjuk tentang Jia, Among. Apa itu artinya?”

“Harusnya kau bisa memahaminya sendiri, Kalua. Aku tidak tahu kalo ternyata proses mengurai informasi dari Bharma membutuhkan waktu yang lama.”

“Aku bahkan masih tidak tahu apa tujuan Angken, Among. Dia ingin merebut gerbang dariku? Dia ingin menghancurkannya? Atau apa?” aku menghela napas. “Kalau saja status menjadi Among Penjaga bisa dipindahtangankan aku akan senang hati menyerahkannya pada Angken.”

“Memangnya kau pikir leluhur tidak tahu kalau Angken hendak berbuat jahat pada kita? Justru itu ia memilih kau sebagai Among Penjaga, untuk mencegah Angken.” Tegas Among Retu.

Kuhisap rokokku pelan-pelan dan menghembuskannya. Berharap rasa kecewaku ikut keluar dengan asap rokokku. “Angken sahabatku sejak kecil, Among. Bagaimana mungkin aku melawan bahkan menyerang sahabatku sendiri? Apalagi sampai menyakitinya?” aku menunduk lemas. “Bagaimanapun juga, Angken satu-satunya teman yang tumbuh bersama denganku. Dan satu-satunya alasan Jia ikut hadir di hidupku.”

Among Retu menatapku dengan iba. “Justru orang terdekatmu lah yang paling bisa menyakitimu, Kalua.”

Aku berpaling menatap langit yang terlihat cerah. “Jadi, kalau Angken muncul, atau kalau aku berhasil menemukannya, aku harus berbuat apa?”

“Yang jelas Angken tidak ingin membunuhmu, sebelum ia mendapat yang diinginkan.” Among Retu membuang putung rokoknya. “Tahan dia, dan tahan dirimu sendiri. Jangan sampai kau membuka gerbang itu.”

“Bukankah Among Retu pernah bilang kalau gerbang itu tidak akan terbuka ketika ada orang lain bersamaku?”

“Saat kau belum terkoneksi. Setelah kau terkoneksi dengan Bharma, sepenuhnya gerbang itu ada dalam kendalimu, Kalua. Kapan kau akan membuka dan menutupnya, siapa yang akan kau ajak atau kau larang masuk ke Bharma. Itu adalah otoritas penuhmu sebagai Among Penjaga. Aku menduga selama ini Angken mengincarmu untuk mendapatkan akses itu.”

“Sejauh apa yang Angken tahu soal gerbang itu, Among? Sebanyak apa Among menceritakan soal Among Penjaga pada Angken? Dia mantan murid Among, kan?”

Among Retu terlihat terusik dengan pertanyaanku yang mengungkit kesalahannya. “Aku… aku cukup menceritakan banyak hal padanya. Sampai ia tahu bahwa gerbang itu bisa saja menjadi sumber pengetahuan dunia ini. Kau tahu sendiri bagaimana Angken. Ia begitu mengagungkan ilmu pengetahuan.” Among Retu menerawang jauh mengingat kenangannya bersama Angken. “Hingga suatu malam akhirnya leluhur memberiku petunjuk bahwa bukan Angken yang menjadi Among Penjaga. Angken yang masih haus informasi soal gerbang itu terus memaksaku untuk bercerita lebih banyak. Tapi aku menghindar. Karena aku tahu segala informasi itu harusnya untukmu. Mungkin itulah yang membuat Angken terobsesi untuk mencarinya sendiri.”

“Tapi mengapa Among mengijinkannya mengelola tambang? Sudah jelas itu hanya kedok saja untuk membongkar gerbang.”

Among Retu menatapku. “Karena aku percaya kau akan segera datang ke kampung ini. Aku tidak perlu takut. Sejak itulah aku hanya mengamati Angken dari jauh, dan mengamatimu dari dekat. Kau lah satu-satunya harapanku, harapan kampung ini.”

“Tetap saja, Among. Aku masih tidak siap untuk menggantikan Among Retu menjadi Tetua Adat.”

Among Retu tersenyum. “Itu tinggal persoalan waktu, kau tahu itu.” Ia berdiri dan merapatkan jubahnya. “Aku pulang dulu, Kalua. Sampaikan salamku untuk Among dan Ambamu.”

Aku ikut berdiri dan menunduk hormat. “Salam hormat, Among.”

Among Retu mengangguk sekilas dan berlalu pergi. Tinggal aku sendirian dengan suara serangga malam dari balik pohon-pohon.

***

Aku berbaring sendirian di sisi kanan kasur. Di sisi yang sama setiap malam aku tidur bersama Jia. Kini aku memandang bantal Jia dengan hati yang berkecamuk. Perasaanku yang perlahan tumbuh sepertinya akan mengantarkanku pada sakit hati yang lainnya. Ternyata memang serumit ini berurusan dengan hati. Kalau diijinkan, aku ingin masuk ke dalam Bharma saja dan tak kembali.  Aku menyalakan handphoneku dan membuka galeri foto. Hanya ada satu foto Jia yang sempat kuabadikan diam-diam dan kusimpan di sini. Foto ketika ia sedang duduk di meja kerjanya dan menatap laptop dengan serius. Selain itu, kami tidak pernah punya foto berdua. Aku memandangi foto itu lama. Bahkan dalam tatapan seriusnya, aku tidak pernah melihat mata seteduh itu. Percuma, selama apapun aku menatapnya ia tidak akan kembali. Benarkah Jia tidak akan kembali?

Kuletakkan handphone kembali ke atas meja dan aku menenggelamkan separuh wajahku dalam bantal. Dari jendela yang sedikit terbuka, langit malam makin terlihat cerah dengan pendar bintang yang juga semakin banyak. Dingin mulai datang menyambut dan mataku pun perlahan menutup.

***

Aku terbangun karena kurasakan ada sesuatu yang mengganjal di leherku. Setelah nyawaku kembali penuh, baru kusadari sesuatu yang mengganjal itu adalah sebilah pisau. Jantungku langsung berdegup kencang membuatku harus mengatur napas. Aku menoleh dan mendapati Angken yang memegang pisau itu dengan tenang. Pisau yang sempat merobek perutku.

“Angken?”

Ia tidak menjawab. Masih memegang pisau yang menempel di leherku.

“Keparat kau, Ken!”

Aku mengatakannya sungguh-sungguh. Manusia satu ini memang keparat. Setelah sekian lama memanfaatkanku dan Jia, membunuh Nubi, menghilang entah kemana sampai aku keluar-masuk Bharma untuk mencari keberadaannya, dan kini dengan tenangnya ia sudah berdiri di dalam kamarku. Aku melirik jendela kamar yang kini sudah terbuka lebar. Baru kali ini aku menyesal karena tidak mengunci jendela sebelum tidur.

“Apa maumu?” tanyaku sambil berusaha duduk.

“Aku butuh kau mengakses gerbang itu. Sekarang juga.”

“Angken, untuk masuk ke dalam gerbang itu aku membutuhkan kondisi yang prima. Aku baru saja bangun, dan kau menodong leherku dengan pisaumu ini… Konsentrasiku masih pecah.”

Angken menarik kerah bajuku dan memaksaku berdiri. “Baiklah, setidaknya jalan kaki menuju tambang bisa membuat peredaran darahmu kembali lancar, dan konsentrasimu bisa cepat kembali, kan?” ia mendorong tubuhku lompat keluar jendela. Kami berdua lompat turun dan berjalan menuju area tambang. Angken berjalan di belakangku, masih memegang pisau yang kali ini kurasakan menempel di pinggangku.

Among Retu benar. Angken tidak tahu bahwa Among Penjaga bisa mengakses Bharma dimana pun ia berada tanpa membutuhkan kehadiran fisiknya di gerbang. Dalam perjalanan menuju tambang, otakku mengkalkulasi dengan cepat apa yang harus kulakukan nanti, dan bagaimana caranya mengalahkan Angken yang tubuhnya lebih besar dan jangkung dariku.

“Maaf, Kalua.” ucapnya tiba-tiba.

Aku tertawa sinis. “Aku ragu soal itu, Angken. Kata ‘Maaf’ bisa saja hanya senjatamu untuk membuatku bertekuk lutut. Sampaikan saja maafmu untuk Nubi. Dimana Jia? Apa yang kau lakukan padanya?”

“Harusnya aku yang bertanya padamu, dimana kau menyembunyikannya?” Angken menekan pisau itu hingga aku merasakan kaosku robek.

“Apa maksudmu?!”

“Kemana kau menyuruhnya pergi, Kalua?” bisik Angken dengan kesal.

Dari pertanyaan itu, setidaknya aku mengetahui satu hal. Jia benar-benar berhasil melarikan diri sejauh mungkin dari jeratan Angken.

“Setidaknya ia pergi cukup jauh dari jangkauanmu.” Aku berharap Jia selamat di suatu tempat.

Sesampainya di gerbang masuk tambang, Angken terus mendorongku supaya berjalan lebih cepat. Lagi-lagi sensasi pening itu datang lagi ketika mendekati gerbang Bharma. Jangan sampai pingsan, jangan sampai pingsan. Ulangku dalam hati. Kalau aku pingsan di sini, tentu aku akan jadi sasaran empuk Angken.

Kami berdua pun sampai di sini. Di tebing ketika Angken nyaris berhasil merenggut nyawaku, dengan pisau yang sama seperti ia pegang kali ini. Angken mendorongku hingga menabrak dinding kapur itu. “Cepat kau buka!”

Aku berbalik menatap Angken dengan bingung. “Angken, gerbang ini tidak seperti yang kau bayangkan. Tubuh fisik tidak bisa masuk ke dalamnya. Ia hanya membutuhkan kesadaran kita.”

Angken hanya mengerutkan keningnya. Ia masih mengacungkan pisaunya.

“Lagipula apa yang sebenarnya kau cari dari gerbang ini?”

“Intelegensi tanpa batas. Gravitasinya membuatku tertarik untuk menelitinya lebih lanjut.”

Aku menganga tidak percaya. “Kau pikir dengan masuk ke dalamnya lantas kau akan menjadi manusia maha tahu dan paling jenius di dunia ini? Lalu dengan kau meneliti anomali gravitasinya membuatmu bisa berkomunikasi dengan mahluk lain di dunia lain?”  teriakku gemas. “Angken, gerbang ini adalah leluhur kita. Semua orang di kampung ini bergantung pada setiap titah leluhur. Gerbang ini terlalu suci dan sakral hanya untuk menjadi bahan penelitianmu.”

“Aku tidak peduli. Terlalu banyak yang kukorbankan untuk semua ini, Kalua.”

“Itu masalahmu! Kau egois, Angken. Kau adalah temanku yang paling cerdas tapi obsesimu sungguh di luar batas.”

Kulihat Angken mulai resah. Matanya menunjukkan keraguan dan putus asa. Menjadi Among Penjaga membuatku peka terhadap pikiran seseorang hanya dengan sekali tatapan mata. Dan yang kini kulihat adalah Angken yang rapuh.

“Itukah yang terjadi? Segala perhitunganmu tidak sesuai yang kau bayangkan? Atau kini kau dihadapkan pada jalan buntu lainnya?”

“CEPAT KAU BUKA GERBANG SIALAN ITU!” teriaknya lantang.

Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Kujulurkan tangan kananku ke hadapan Angken.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kau ingin masuk ke dalam gerbang ini? Aku yang akan menjadi pengemudimu.”

Ragu-ragu Angken menyambut tanganku dan menggenggamnya erat. “Jangan coba-coba kau mempermainkanku.” Ancamnya.

“Dan jangan sekalipun kau melepas genggamanmu. Kita harus sama-sama memejamkan mata.”

Angken memejamkan matanya lebih dulu. Kemudian dengan sekali tarikan napas, kupejamkan mata beberapa saat dan kami pun terjatuh ke dalam Bharma. Sepertinya aku makin menguasai jalan masuk menuju Bharma.

Aku segera berdiri dan melihat sekeliling. Angken yang menjadi penumpang dan tamu di Bharma membutuhkan waktu lebih lama untuk membuat tubuhnya kembali stabil. Ia meringkuk kesakitan sebelum akhirnya sanggup berdiri dengan sadar.

Ijinkan aku melancarkan rencanaku sejenak, Leluhur. Bharma akan menjadi saksi dari pertanggung jawaban seorang Among Penjaga. Ucapku dalam hati.

“Kita dimana?” tanya Angken.

“Sesuai permintaanmu. Kita telah melewati gerbang.”

Angken melihat sekeliling dengan raut wajah yang sepertinya kurang puas. Ia melihat kakinya sendiri. “Benar seperti yang kuduga. Gravitasi itu berasal dari sini.” Ia memejamkan mata dan menghirup napas dalam-dalam. “Dan sensasi ini… segala rasa ingin tahuku yang tiba-tiba terpenuhi tanpa ada lagi pertanyaan di kepalaku.”

Sedikit lagi, Leluhur. Percayalah padaku. Ucapku seraya mengijinkan Angken untuk mengakses secuil informasi yang ia dapatkan dari sini. Tepat saat ia membuka matanya, ia lompat menerjang tubuhku yang langsung membuat kami melayang sejenak di udara. Angken mencekik leherku dengan keras, hingga membuatku kehabisan napas.

“Ken…” ucapku terbata. Apabila aku mati di sini, maka selesai sudah. Tidak akan ada lagi Among Penjaga. Dengan sisa tenaga yang kupunya, kuraih lengan Angken sambil memejamkan mata. Sisa napasku berikutnya kugunakan sebaik mungkin untuk berkonsentrasi mengeluarkan kami berdua dari Bharma.

Detik berikutnya, tubuh fisik kami terhempas oleh energi yang tiba-tiba keluar dari genggaman tangan kami. Angken tersungkur jauh menabrak dinding kapur. Aku pun terjengkang dan mendarat di tumpukan bongkahan batu. Dari sudut mataku, kulihat Angken berusaha berdiri dan meraih pistol dari balik bajunya.

“Ken… apa yang kau…”

Angken mengarahkan pistol itu padaku. “Terima kasih atas bantuanmu.”

Dan saat ini pun tiba. Satu momen yang sekalipun aku tak pernah berharap hadir dalam hidupku. Satu momen dimana aku tidak punya pilihan lain selain membunuh sahabatku dari kecil. Satu momen dimana aku harus kehilangan salah satu sosok yang begitu berharga dalam hidupku. Air mataku jatuh selagi aku menatap mata Angken yang begitu angkuh. Kupejamkan mataku, tepat ketika suara tembakan Angken terdengar, aku kembali masuk ke dalam Bharma.

Aku segera bangkit berdiri sambil mengatur napasku yang belum stabil.

Among Penjagamu hadir dengan segala yang telah ia berikan untuk mejaga Bharma. Leluhur, beri aku kekuatan untuk melawannya. Beri aku napas yang tersisa untuk bisa menghalangi segala niat buruknya. Gumamku pelan.

Kau mengundang musuh masuk kemari.

Aku tahu. Kali ini ijinkan aku menyudahinya untuk selama-lamanya, Leluhur. Tinggal sepersekian detik lagi sebelum pelurunya medarat di tubuhku. Jika kau tidak mengembalikanku ke dalam tubuh fisikku, aku akan mencari tubuh fisik lain untuk dihuni. Jika kau ingin aku mengalahkannya, kembalikan aku sekarang dan bantu aku.

Kupejamkan mataku lagi dengan penuh harap. Lalu aku merasakan tubuhku kembali ditarik keluar dari Bharma. Tepat saat aku memasuki tubuh fisikku lagi, ada sinar terang berwarna biru yang keluar dari sekujur tubuhku. Menghempaskan puing-puing batu yang ada disekitarku dengan cepat. Tubuh Angken pun ikut terhempas jauh.

“Aargghh!” aku mengerang kesakitan. Energi itu seolah mengurai persendianku hingga nyeri. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku berdiri dan berjalan mendekati tubuh Angken yang sudah tidak bergerak. Kulihat kepala Angken berlumuran darah karena luka tembakan. Sepertinya energi yang keluar dari tubuhku ikut membalikkan peluru Angken hingga mengenai kepalanya sendiri.

Aku berlutut di samping tubuhnya. Selain aku tidak punya kekuatan lagi untuk menopang tubuhku. Aku juga tidak punya kekuatan lagi untuk menahan segala emosi yang memenuhi dadaku. Mataku terasa panas dengan air mata yang jatuh. Memoriku bersama Angken berputar cepat di kepalaku.

“Angken…” bisikku di tengah isak tangisku. Aku membunuh satu-satunya sahabat yang kupunya. “ANGKEEEN…” teriakku putus asa. Dari sudut mataku, kulihat kaki Among Retu berjalan mendekat sebelum aku kehilangan kesadaran.

***

Potongan gambar yang aku tahu persis bukan bagian dari masa laluku berputar cepat di kepalaku. Aku melihat Jia menatapku dengan tersenyum, menggendong sosok bayi laki-laki yang mirip sekali denganku.

“Ini Bapuh kita, Kalua.” ucapnya pelan.

Aku membelai tangan mungil itu. Seolah mengenali sosokku, ia pun tersenyum dalam tidurnya.

Potongan gambar itu pun menghilang. Berganti dengan sebuah desa yang beberapa kali kulihat di dalam Bharma. Desa itu terletak di bukit dekat pesisir. Terlihat tenang dan hembusan angin yang perlahan membelai tubuhku. Lalu sosok laki-laki yang terlihat lebih tua dariku berjalan mendekat dan berdiri di sampingku.

“Kau siapa? Mengapa aku melihatmu berkali-kali di dalam Bharma?”

Ia hanya tersenyum tipis. “Aku adalah kuncimu berikutnya, Kalua. Anakmu, ia sama sepertimu, bisa membuka gerbang dan memasuki Bharma. Kau membutuhkanku untuk rencanamu berikutnya.”

Aku hanya mengerutkan kening. “Aku dan Jia punya anak?”

Ia mengangguk pelan.

“Semua ini konyol.”

“Kau harus cepat, Angken bukanlah yang terakhir. Dan Jia, ia tidak sepolos yang kau kira.” Katanya sambil berjalan meninggalkanku.

“Tunggu dulu…” aku berusaha menahannya. “Kau siapa…”

Ia menoleh dan tersenyum tipis. “Aku penjaga mercusuar. Cari aku di desa seberang. Namaku Atok.”

***

Aku membuka mataku perlahan. Menatap langit-langit yang kini terasa akrab untukku. Langit-langit yang selalu kutatap setiap kali aku mendapatkan kesadaranku kembali. Punggungku pun terasa akrab dengan serat kayu yang selalu menopang tubuhku setiap kali aku pingsan.

“Aku benar-benar tidak bisa meninggalkanmu sendirian, Kalua. Kalau kau pingsan lagi dan aku tidak ada di dekatmu, mungkin kau terbangun di antara reruntuhan batu.” Ucap Among Retu yang duduk di sebelahku.

Aku mencoba bangkit dibantu Among Retu. “Angken…”

“Sudah dimakamkan.”

Aku mengerutkan kening. “Berapa lama aku…”

“Dua hari.”

“Dua hari?!” aku membelalakkan mata. “Tapi rasanya… “

“Energimu sungguh terkuras habis, Kalua. Aku harus berkali-kali meditasi untuk bisa mengirimkan energi dalam tubuhmu.”

Aku memijat pelipisku pelan. “Among, aku rasa…”

“Kau mendapat sesuatu dari leluhur?”

“Among tahu?” aku meliriknya.

“Aku hanya menebak.” Ia tersenyum.

Kuhela napas berat. “Jia hamil, Among. Ia mengandung Bapuhku. Dan… bapuhku juga bisa membuka gerbang menuju Bharma.”

Among Retu terdiam. Mukanya menunjukkan kecemasan.

“Aku rasa Angken sebenarnya mengincar Bapuhku, lewat Jia. Tapi Jia terlanjur melarikan diri dari Angken. Bukankah begitu?”

“Hanya kau yang mengetahuinya, Kalua. Tapi sepertinya semua itu terdengar masuk akal.”

“Dan… Among Retu salah besar tentang satu hal.”

“Apa itu?” tanya Among Retu penasaran.

“Aku bukan satu-satunya Among Penjaga. Ada satu lagi Among Penjaga di dunia ini, Among. Bharma punya saudara kembar.”

Among Retu terkejut. “Itu tidak mungkin…”

“Aku melihatnya sendiri. Aku tahu lokasinya, aku tahu siapa orangnya. Aku harus segera menemuinya secepat mungkin. Dan… aku harus mencari Jia dan Bapuhku.”

Among Retu menerawang jauh. “Aku percaya Among Penjaga selalu punya caranya sendiri yang kadang mengejutkan, Kalua.” Among mengerling ke arahku. “Bapuhmu, mungkin ia adalah mahluk yang paling dicari saat ini. Kau harus segera menemukannya.”

“Jadi… aku sungguh menjadi Among sekarang?”

Among Retu tersenyum. “Among yang sejati.” Ia berdiri dan membuka pintu rumahnya. Terlihat Among dan Ambaku yang masuk terburu-buru dan memelukku erat.

“Kau sadar, Kalua. Bapuhku kembali. Kupikir aku akan kehilanganmu.” Amba mendekapku sambil menangis. “Kau… baik-baik saja?”

Aku hanya mengangguk pelan.

“Kau menyelamatkan kampung ini, Kalua. Among Retu sudah menceritakan semuanya pada kami. Terima kasih.” Ucap Amongku sungguh-sungguh.

Aku tidak bereaksi apa-apa. Aku hanya ingin menikmati momen ini untuk kurekam sebaik-baiknya dalam ingatanku. Karena setelah ini, perjalananku akan semakin jauh, dan mungkin saja tidak akan bertemu dengan mereka lagi.

-TAMAT-

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

Leave a Reply