Anagata (1)

Indonesia 2140.

Indonesia mengalami kekalahan telak setelah terlibat dalam perang dunia ke 4 yang terjadi 15 tahun lalu. Indonesia mengalami banyak kerugian. Banyak infrastruktur yang hancur, banyak korban jiwa baik dari tentara maupun sipil. Indonesia menjadi negara mati. Banyak penduduk yang tersisa memilih untuk mengungsi ke negara lain yang dirasa aman. Pemerintah yang tersisa membentuk sebuah pemerintahan darurat untuk menjaga kedaulatan Indonesia. Negara ini akhirnya menutup diri dari negara lain.

Kehidupan di Indonesia menjadi sangat kacau. Banyak kota mati yang ditinggalkan penduduknya hanya menyisakan puing-puing bangunan yang runtuh sisa perang. Hanya segelintir orang yang memilih untuk bertahan. Mereka berusaha bertahan hidup dalam kesulitan mendapatkan sandang, pangan, papan, banyak yang memilih untuk menjadi kriminal. Kriminal-kriminal ini akhirnya bersatu menjadi sebuah organisasi pemberontak yang bernama GPI (Gerakan Pemulihan Indonesia). Organisasi ini merasa pemerintah darurat yang sedang berkuasa tidak mampu untuk memulihkan kembali Indonesia paska perang. GPI berusaha merekrut sebanyak mungkin anggota baik dari kriminal maupun warga sipil. Tujuan GPI adalah untuk mengkudeta pemerintah yang ada.

Pemerintah Indonesia tak tinggal diam menghadapi pemberontakan GPI. Pemerintah secara berkala melakukan pembersihan terhadap GPI, dengan bermodalkan senjata-senjata sisa perang pemerintah supaya mampu terus menekan GPI. Pemerintah membentuk sebuah pasukan khusus bernama BAHUTAI. Pasukan ini lebih mirip sebagai agen rahasia yang di khususkan untuk menumpas GPI. Berisikan orang-orang terlatih dalam berbagai hal, mulai dari pertarungan jarak dekat, penggunaan senjata tajam dan senjata api, pengobatan, hingga peretasan komputer. Perseteruan antara kedua pihak ini terus terjadi di Indonesia. Keduanya terus mengklaim bahwa masing-masing pihak lah yang benar. Tak ada yang tau sampai kapan perseteruan ini akan berlangsung, dan tak ada yang tau sampai kapan kondisi Indonesia akan seperti ini.

***

PENCARIAN

Di sebuah padang gurun yang di penuhi puing-puing sisa perang, dua orang pemuda nampak berjalan perlahan. Keduanya memakai setelan panjang menutupi seluruh badannya dan memakai sebuah tudung kepala yang menutupi wajahnya. Mereka hanya berjalan berdua di tengah terik matahari menuju timur.

“Apa masih lama?” ucap pemuda yang di belakang sembari membuka tudung kepalanya. Nampaklah bahwa ternyata seorang gadis dengan raut wajah cantik, dengan mata indah bulat dan rambut hitam panjang yang terurai di puggungnya, serta kulitnya yang putih kemerahan terkena suhu panas.

“Tidak, Kak. Setelah bukit pasir di depan itu kotanya berada.” Jawab pemuda yang ada di depan menghentikan jalannya dengan menunjuk ke arah sebuah bukit pasir sembari menoleh ke arah gadis di belakangnya.

 Tampak raut wajah pemuda itu tampan dan mirip dengan gadis yang di belakangnya. “Kau yakin kita tidak tersesat kan, Ari?” tanya gadis itu dengan wajah gusar.

“Tenanglah, Tita. Aku sudah sering kesini. Ayo kita lanjutkan, agar kita bisa segera beristirahat.” Jawab Ari dengan tersenyum. Keduanya kembali meneruskan perjalanan.

***

Sebuah kedai berdekorasi steampunk dipenuhi oleh banyak orang dengan penampilan mengerikan. Ada beberapa orang tua yang cacat duduk bersama di sebuah meja bundar di pojokan kedai. Di sudut yang lain tampak seorang yang tidak jelas, wanita atau pria sedang termenung sendirian menyesap rokok di meja dekat jendela, dan beberapa orang lain dengan penampilan yang tak kalah aneh sedang berkumpul bermain bilyard. Si penjaga kedai dengan kepala botaknya yang bertelanjang dada sedang mengelap gelas dengan duduk santai di meja kasir.

***

Suara derit pintu kedai terbuka, Ari dan Tita masuk ke dalam kedai dengan tenang, orang-orang di dalam kedai tak menghiraukan kemunculan mereka berdua. Ari dan Tita langsung menuju meja penaja kedai, duduk bersebelahan.

 “Bisa kami memesan air dingin?” tanya Ari. Penjaga kedai itu hanya mengangguk kemudian mengambil dua buah gelas besar yang berisi air dingin. Ari dan Tita segera meminum air dingin itu, sedangkan si penjaga kedai kembali melanjutkan kesibukannya.

 “Sudah lama aku tidak berpanas-panasan seperti ini. Bekerja di tempat sedingin  kapan hari membuat tubuhku kaget dengan suhu disini.” Keluh Tita sembari memandang gelasnya yang sudah kosong.

“Lebih baik kau pelankan suaramu. Kau tidak mau membuat orang-orang disini curiga kan?” ucap Ari pelan sambil mencondongkan tubuhnya ke Tita.

 Tita hanya memasang wajah tak bersalah sambil mengangkat bahu. Ari kembali meneguk air dinginnya yang tinggal separuh gelas, kali ini dia menegukknya sampai habis.

 “CJ!” panggil Ari sembari mendongakkan kepala kearah penjaga kedai yang sedang asik menata gelas di rak yang tak jauh dari tempatnya duduk. CJ mendatangi Ari dan memasang wajah penuh tanya.

“Ayolah CJ, jangan pura-pura tidak tau maksud kehadiran kami kesini.” Ucap Ari agak berbisik. CJ hanya tersenyum kecil lalu menengadahkan tangan kepada Ari. Tanpa basa-basi Ari mengerti apa maksut CJ. Ari menoleh kepada Tita, seperti sebuah kode berantai. Tita pun langsung mengerti dan merogoh tasnya kemudian memberikan sebuah kotak kecil. CJ membuka kotak tersebut lalu tersenyum lebar lalu tangannya menekan sebuah tombol kecil di bawah meja, tak ada yang terjadi setelah CJ menekan tombol itu. Ari dan Tita hanya saling bertatap muka menanti apa yang akan terjadi. CJ kemudian menunjuk ke arah meja yang berada di samping sebuah jendela. Meja tempat seorang aneh yang tak jelas pria atau wanita sedang duduk bersantai. Orang itu kemudian beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kedai itu. Raut wajah Ari dan Tita menandakan sebuah pertanyaan saat melihat penampilan orang itu. Keduanya saling bertatap lalu beranjak pergi meninggalkan CJ yang kembali asik menata gelas.

Ari dan Tita berjalan menuju sebuah gubuk di belakang kedai, mengikuti orang aneh tadi. Sesekali Tita melihat sekitar untuk memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Di dalam gubuk itu tidak ada apa-apa, hanya bau apak dan bau karat logam yang mengisi kekosongannya.

Orang aneh tersebut berdiri di pojokan seakan menyambut Ari dan Tita yang baru saja memasuki gubuk. “Kalian dari divisi mana?” tanya sosok itu dengan curiga.

“Bukan dari divisi manapun, kami brotherhood.” jawab Ari dengan tenang.

“Oke. Karena CJ yang membawa kalian padaku, kali ini aku percaya. Tapi aku tidak tau kalau besok.” Ucap sosok itu dengan senyuman menyeringai yang mengerikan sembari menatap Tita.

Sosok itu kemudian mencengkeram kulit lehernya sendiri. Dia menarik keatas kulit lehernya. Kulit itu mengelupas sampai ke wajahnya, beberapa detik kemudian seluruh kulit leher, wajah, sampai rambutnya yang acak-acakan terkelupas, menampakkan sesosok yang asing. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan rambut potongan shaggy menyeruak dari balik topengnya. “Kalian bisa memanggilku Rini.” Ucap wanita itu.

Ari dan Tita kembali saling bertukar pandang keheranan.

 “Aku masih tidak habis pikir, mengapa kalian para brotherhood sangat ingin pergi dari negara ini. Tak bisakah kalian tetap tinggal di sini dan memilih salah satu pihak demi negara ini?” Rini menggerutu sembari mencari-cari kotak rokoknya.

“Tidak memilih juga merupakan pilihan bukan?” celetuk Tita. Ari menatap Tita dengan resah.

“Wah masuk akal juga ucapanmu itu, Tita.” Timpal Rini dengan sedikit bergumam karena mulutnya sedang menghisap sebatang rokok yang belum di nyalakan.

Tita terhenyak mendengar ucapan Rini. Tita heran darimana Rini mengetahui namanya. Ari membuka mulut mencoba bertanya pada Rini, tapi seketika Rini menyambar “Kalian pikir aku sebodoh itu? Tentu aku juga menanyakan kepada CJ siapa kalian, identitas kalian.”

Ari mengangguk-angguk mendengar penjelasan Rini. Suasana menjadi hening, Rini yang telah menyalakan rokoknya kemudian beranjak dari pojokan gubuk menuju Ari dan Tita. Ketika mereka berhadapan Rini berkata pelan pelan kepada Ari dan Tita, “Untung kalian tidak berbohong. Karena CJ memang memberikan informasi bahwa kalian adalah brotherhood. Tidak ada orang se-jujur CJ di provinsi ini.”

 “Terimakasih kau sudah percaya pada kami. Lalu kapan kami bisa mendapatkan benda itu?” tanya Ari.

“Tepatnya bukan kapan, tapi dimana?” Rini justru berbalik bertanya kepada Ari. “Maksudmu?” tanya Tita keheranan.

“Malam ini, pergilah ke pelabuhan besar di barat. Naiklah kapal bernama Jayabaya. Setelah sampai di pulau Jawa, tunjukkan ini pada nelayan di sana. Mereka yang akan menuntun kalian.” Jelas Rini sembari memberikan kotak rokoknya kepada Tita.

Rini kemudian beranjak pergi meninggalkan Ari dan Tita. Rini membuka tirai yang menutupi gubuk tersebut. Rini berhenti sejenak dan menoleh ke arah Ari dan Tita.

“Kau cukup pintar, Tita. Kalau boleh tau, apa hubungan kalian? Suami istri?” tanya Rini dengan senyum sinis.

 “Ooh bukan, kami kakak beradik, dia adikku.” Jawab Tita sambil menoleh ke arah Ari.

“Manis sekali. Kalian cukup mirip untuk menjadi kakak beradik. Baguslah kalian masih jujur padaku.” Ucap Rini yang masih memasang tatapan sinis kemudian benar-benar pergi meninggalkan gubuk itu.

Ari dan Tita duduk di sebuah kursi panjang di depan gubuk. Terik matahari sudah mulai memudar dan menurunkan suhu di tempat itu.

“Ari…” ucap Tita pelan. Ari yang tengah sibuk mengecek isi tasnya menoleh kepada Tita. “Lihat ini.” Tita menyodorkan kotak rokok pemberian Rini kepada Ari.

Ari mengerti ada sebuah kejanggalan yang ingin Tita tunjukkan padanya. Ari melihat dengan seksama bungkus kotak itu. Tak ada yang aneh, hanya sebuah kotak rokok dari logam berkarat yang tak berisi. Namun ada sebuah simbol siluet di sisi bawah kotak itu. Simbol siluet yang berbentuk seperti seekor orangutan.

***

Ari dan Tita duduk di geladak sebuah kapal berukuran sedang yang tengah mengarungi laut. Kapal itu berisikan banyak orang dengan kondisi yang menyedihkan. Beberapa dari mereka tampak kurus dan lusuh. Orang-orang itu tampak saling berbincang, sayup-sayup terdengar orang-orang itu membicarakan perselisihan antara Pemerintah dengan GPI. Terdengar mereka sangat membenci perselisihan tersebut.

Malam itu tidak begitu dingin. Semenjak perang dunia entah mengapa suhu di Indonesia menjadi sangat panas, pun juga air laut yang warnanya keruh, tak lagi biru seperti dahulu. Namun masih nampak beberapa ekor ikan berenang di air laut yang keruh itu.

“Akhir-akhir ini langit tampak cerah, tidak seperti biasanya. Aku jadi teringat waktu kita kecil dulu.” Ucap Tita sambil menatap langit.

“Waktu kecil ya. Hmm waktu perang masih berkecamuk, kita justru asik melihat bintang di atap rumah tante.” Jawab Ari.

“Semoga ini sebuah pertanda baik untuk negeri ini.” Harap Tita.

Ari hanya terdiam mendengar harapan Tita.

“Ari, aku merasakan ada sesuatu yang buruk di balik diri Rini.” Ucap Tita cemas.

“Aku tau apa yang kau rasakan, Kak. Apa kau lupa kalau kita ini saling terhubung? Tapi aku percaya pada CJ. Benar adanya dia adalah orang yang paling jujur di Bali.” Ucap Ari sambil tersenyum menguatkan Tita.

“Ah CJ ya. Aku masih ingat beberapa tahun lalu ketika lidahnya masih belum terpotong. Dia seorang yang lucu.” ucap Tita sambil tersenyum miris.

“Mau bagaimana lagi. Masih untung dia tidak dibunuh karena ketahuan menjadi agen ganda.” Jelas Ari.

 “Kadang aku berpikir, kenapa pemerintah bisa sekejam itu? Justru menurutku membunuh tawanan lebih baik daripada menyiksa mereka.” Raut wajah Tita berubah menjadi murung.

“Kali ini aku tidak sependapat denganmu, kak. Dengan membiarkan tawanan hidup berarti pemerintah masih memberikan pengampunan kepada tawanan itu.” Ucap Ari tak setuju.

“Yaa, itu kan pendapat. Benar salah adalah subjektif masing-masing.” Jelas Tita. Keduanya  saling bertukar pandang dan saling berbalas senyuman.

Suara lonceng kapal berbunyi. Tampak dari kapal ujung daratan pulau Jawa, banyak kapal-kapal nelayan kecil bersandar di pinggir daratan pantai yang tampak gelap, hanya beberapa lampu kecil yang menyala di gubuk-gubuk sederhana yang memenuhi daratan pantai. Kapal telah berlabuh di sebuah dermaga kecil yang berada cukup jauh dari pemukiman nelayan. Orang-orang turun dari kapal dengan tertib. Mereka berpencar ke berbagai arah tujuan. Ari dan Tita turun dan langsung menuju pemukiman nelayan di utara dermaga. Mereka berjalan bersamaan dengan 6-8 orang yang juga menuju pemukiman nelayan.

Ari dan Tita memasuki pemukiman nelayan. Para nelayan tampak acuh melihat kedatangan mereka berdua. Nampaknya para nelayan ini telah terbiasa kedatangan orang asing. Nelayan-nelayan ini itu tampak sedang sibuk saling berbincang di depan beberapa rumah. Nampak jelas dari wajah mereka berusaha menutupi kesusahan yang mereka alami. Mereka terlihat sangat kurus, lebih kurus dari kebanyakan brotherhood dan wajah mereka tampak lusuh.

Lingkungan nelayan tak berbau amis, justru bau anyir dari logam berkarat yang memenuhi lingkungan itu. Banyak puing-puing sisa perang yang digunakan sebagai konstruksi rumah, tapi nampak juga beberapa ekor ikan tergantung di beberapa rumah, meskipun ada yang sudah mengering dan ada yang masih membusuk.

“Yang mana?” tanya Tita mencolek Ari dari belakang.

“Entahlah aku juga bingung. Rini bilang nelayan secara umum bukan?” jawab Ari dengan meringis sembari melihat sekitar.

“Kau ini terlalu banyak pertimbangan!” celetuk Tita yang langsung bergegas meninggalkan Ari berjalan menuju sebuah gubung di ujung jalan.

Dari kejauhan terlihat seorang perempuan tua tengah duduk bersantai di depan gubuknya di ujung jalan, Tita mendatangi perempuan tua itu. “Permisi, ada yang ingin aku tanyakan.” Ucap Tita sopan.

“Iya, Nona. Ada apa?” tanya perempuan tua itu lirih.

Tita menoleh ke Ari yang berdiri di belakangnya. Ari langsung memberikan kepada Tita kotak pemberian dari Rini. Tita kemudian menunjukkan kotak itu kepada perempuan tua itu.

 “Ini. Seorang teman meminta kami untuk menunjukkan kotak ini kepada penduduk nelayan disini.” Ucap Tita dengan pelan. Perempuan  tua itu melihat kotak  dengan seksama, ia menyadari simbol orangutan yang terdapat pada kotak itu lalu seketika dari wajahnya terpasang raut ketakutan. Perempuan itu secepat kilat melompat dari duduknya dan berlari menuju pusat pemukiman. Tita dan Ari terkejut, kebingungan melihat apa yang terjadi.

“Ada apa ini?” tanya Ari yang juga terlihat terkejut. Tita hanya mengangkat bahu.

Beberapa saat kemudian, sekumpulan warga nelayan berbondong-bondong datang kepada Ari dan Tita, mengikuti petunjuk dari perempuan tua tadi. Ari dan Tita nampak kebingungan.

“Kak, bersiaplah.” Bisik Ari pelan.

Tita hanya terdiam, lalu berjalan perlahan berdiri di depan Ari dengan tenang. Orang-orang itu berhenti beberapa meter di depan Tita. Perempuan tua itu berjalan perlahan sambil menuntun seorang pria muda. Seorang pria yang tampak berbeda dengan nelayan lain, tubuhnya tak sekurus para nelayan lainnya. Perempuan itu berhenti tepat di depan Tita.

 “Ini orang yang kau cari, Nak.” Bisik perempuan tua.

Tita membalas dengan sebuah senyuman hangat. Perempuan tua itu hanya memasang wajah datar lalu beranjak pergi. Namun fokus mata Tita tak lagi padanya melainkan pada pria muda yang juga membalas senyum hangat Tita.

***

Sebuah mobil taft berjalan menderu di sebuah gurun. Cahaya bintang-bintang bersinar terang di langit gurun itu.

“Jadi apa hubunganmu dengan Rini, Roy?” tanya Ari yang duduk bangku depan mobil.

“Dia semacam ketua divisi, aku anak buahnya. Oh ya tolong maafkan perilaku para nelayan tadi ya. Berbeda dengan kebanyakan brotherhood yang lebih condong kepada GPI untuk meminta bantuan kelaur dari negeri ini, mereka sudah lama tidak suka ikut campur dengan perselisihan antara pemerintah dengan kami.” Jelas Roy dengan ramah.

“Hm, kau tampaknya cukup ramah. Tidak seperti kebanyakan GPI lainnya.” Ari mengamati Roy sepintas lalu kembali menatap jalan yang sekarang hampir tertutup debu.

“Oh begitu ya, mungkin karena aku sudah beberapa tahun ini tinggal bersama para nelayan itu. Lingkungan mereka mempengaruhi keramahanku. Apalagi kalian dikirim oleh Rini.” Jelas Roy.

Ari hanya terdiam mendengar penjelasan Roy. Suasana menjadi hening. Hanya deru suara mobil dan roda yang bergesekan dengan pasir yang terdengar di malam itu. Roy fokus mengemudi dengan bersiul, Ari melamun melihat sekitar, sedangkan Tita sejak awal sudah tertidur di bangku belakang mobil.

 “Hey, mau mendengarkan lagu?” tanya Roy kepada Ari untuk memecah keheningan.

“Boleh.” Jawab Ari singkat.

Roy menekan sebuah tombol dari player yang sudah nampak usang di sebelah kiri setir mobil. “Mungkin kau asing dengan lagu ini, tapi ini lagu yang sangat populer seabad lalu.” Ucap Roy dengan senyum lebar.

Ari hanya mengangkat bahu. Terdengar suara bising dari player itu. Beberapa saat kemudian terdengar suara lagu dangdut rancak dan enak di dengar. Roy bersiul mengikuti irama lagu dengan sangat senang. Ari terlihat cukup menikmati lagu itu.

***

Cahaya matahari bersinar terang dari timur, membentuk siluet dari tiga sosok yang sedang berdiri di luar mobil taft. Sebuah reruntuhan kota yang sangat luas di tengah padang gurun menyambut tiga orang itu. Tampak banyak gedung yang hancur, tank yang terkubur di dalam pasir dan puing-puing pesawat berserakan.

“Dari sini kita lanjutkan dengan jalan kaki, tidak jauh kok.” Ucap Roy dengan senyum lebar khasnya. Ari dan Tita kemudian mengikuti Roy berjalan memasuki reruntuhan kota itu.

Roy berjalan cepat di reruntuhan kota yang tak berpenduduk itu. Ari dan Tita mengikuti cukup jauh di belakang.

 “Ari, aku semalam bermimpi aneh.” Ucap Tita pelan.

“Mimpi apa, kak?” tanya Ari keheranan.

 “Hmm kau pasti tidak tidur semalam.” Gerutu Tita.

 “Demi keselamatan kita juga kan?” jawab Ari sambil mengangkat bahu.

“Cartens, 3 bulan lalu.” Ucap Tita.

“Maksudmu?” Ari keheranan, ia menghentikan jalannya, begitu juga dengan Tita.

“Aku memimpikan kejadian 3 bulan lalu di Cartens.” Jelas Tita dengan air muka yang mulai gelisah.

“Aku juga merasakan ketakutan yang sama denganmu. Tapi berpikir positif saja, kak.” Ucap Ari sambil tersenyum kecil berusaha menenangkan Tita.

“Entahlah, Ari. Mimpi itu sangat nyata, semua yang terjadi di mimpiku sama persis dengan yang aku alami, ini seperti de javu.” Tita menutup penjelasannya dengan helaan napas panjang. Ari menepuk pelan pundak kakaknya dan saat mulutnya terbuka untuk mengatakan sesuatu, angin kencang membawa pasir-pasir gurun lebih tebal yang mengitari mereka sesaat.

“Hey, Ayo lebih cepat!” Teriak Roy yang samar terhalang oleh desiran debu. Tita dan Ari melanjutkan berjalan menyusul Roy yang semakin jauh meninggalkan mereka.

***

Dua sosok manusia sedang duduk berhadapan di dalam sebuah ruang yang gelap. Hanya siluet dari kedua sosok itu yang nampak. Hanya seberkas cahaya lembut dari kaca ventilasi yang menyinari ruang itu. Hanya sebatas ujung meja bundar yang berada di antara kedua sosok itu. Sosok yang berbadan lebih tinggi tampak sedang mendengarkan sebuah alat komunikasi di telinganya, sosok satunya yang lebih pendek hanya terdiam sembari menikmati secangkir teh. Sosok pertama mengangguk perlahan kemudian menutup alat komunikasinya.

“Jadi?” tanya sosok kedua.

“Paketnya sudah sampai. Mari kita lanjutkan.” Jawab sosok pertama dengan suara berat.

***

Roy, Ari, Tita berdiri di depan sebuah tank yang terkubur separuh di dalam pasir. Roy menekan sebuah tombol yang berada di sebuah kotak kecil di sakunya. Beberapa menit kemudian hanya suara angin menderu pelan yang terdengar. Tiba-tiba terdengar suara bising mesin menderu dari bawah tanah. Tank tersebut bergerak mundur, sebuah pintu terbuka dari bawah tank itu. Pasir-pasir gurun berjatuhan kedalam lubang terbukanya pintu tersebut. Tampak tangga turun kedalam lubang itu. Ari berjalan selangkah menuju pintu bawah tanah yang terbuka itu.

“Tunggu sebentar.” Roy menahan langkah Ari dengan tangannya. Tiba-tiba dari atas reruntuhan gedung muncul banyak orang-orang dengan membawa berbagai senjata mengelilingi tiga orang itu.

“Ada apa ini?” tanya Tita keheranan.

“Tenanglah, ini hanya pengecekan keamanan biasa.” Ucap Roy dengan senyum khasnya.

Ari dan Tita saling bertukar pandang dengan resah. Dari dalam pintu bawah muncul beberapa orang, dua orang muncul pertama, dikawal oleh beberapa orang dengan membawa senjata api. Seorang pria berkulit hitam berbadan kurus berdampingan dengan seorang perempuan yang tak asing, wanita itu adalah Rini.

“Dia orangnya.” tunjuk pria berkulit hitam ke arah Tita.

Tita terperanjat. Ia tampak kebingungan dan ketakutan. Tita mundur perlahan. Ari juga merasakan hal yang sama dengan Tita, tapi dia memilih untuk bersiaga daripada mundur.

“Wah-wah ada apa?” tanya Roy dengan tenang dan tetap tersenyum.

“Tangkap mereka!” perintah Rini dengan seringainya. Tubuh Ari berbalik, tangannya menarik cepat tangan Tita yang juga spontan merespon langkah kaki Ari berlari cepat. Tanpa waktu lama, suara hentak kaki mereka berdua berubah menjadi dengingan panjang.

***

ditulis oleh : Antareja
ilustrator : @msekarayu

Leave a Reply