Anagata (2)

Ari terbangun. Ia kebingungan melihat tangan dan kakinya terikat rantai di dalam sebuah sel kecil gelap dengan sebuah lampu kuning redup berpendar di dalam sel itu.

“Apa yang terjadi?” Tanya Ari keheranan.

“Kita tertangkap, Ari.” Tita berucap pelan, ia juga terikat rantai tepat di sebelah Ari.

“Kak? Bagaimana bisa?” Ari masih kebingungan.

“Setelah Rini memerintahkan untuk menangkap kita, tengkukmu langsung dipukul sehingga kau tak sadarkan diri, aku juga.” Jelas Tita.

“Mungkinkah mimpimu?” Tanya Ari yang mulai sedikit tenang.

“Ya. Pria itu sudah jelas salah satu yang berhasil kabur dari kejadian di Cartens saat itu.” Tita menghela napas. “Ini salahku, seharusnya kami bisa menangkap semua anggota GPI waktu itu.” Tita melanjutkan keluhannya.

 “Tenang lah, Kak. Setidaknya kita masih hidup atau tak ada satupun bagian tubuh kita yang hilang.” Jawab Ari sedikit meringis.

“Belum, lebih tepatnya.” Tita menjawab pelan.

Suara langkah kaki terdengar peralahan mendekati sel tempat Ari dan Tita ditawan. Sebuah kepulan asap tampak muncul dari luar tralis sel yang membungkus cahaya kekuningan terpancar dari luar sel. Seseorang muncul di sisi lain sel dengan sebatang rokoknya. Wajahnya tak nampak jelas karena ruang itu remang-remang, tapi bisa dipastikan bahwa orang itu adalah Rini.

“Jadi kalian sudah sadar. Cukup lama kalian tak sadarkan diri, tapi setidaknya tak sampai satu hari, hanya 20 jam.” Celoteh Rini.

“Kupikir penyamaran kami sudah sempurna, tapi ternyata tidak.” Ucap Ari dengan sinis.

“Kau bilang kau percaya pada kami?” timpal Tita.

“Ternyata kau tak sepintar yang kukira, gadis manis. Kubilang aku percaya pada CJ, bukan kalian.” Rini tertawa terbahak kemudian menyesap rokoknya kembali. “Mungkin kalian sudah cukup lihai dan berpengalaman sehingga bisa menipu CJ. Tapi kalian tak akan bisa menipuku.” Sambung Rini sambil mengebulkan asap rokok dari mulutnya. Rini kemudian meninggalkan sel itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Seharusnya aku tidak menerima misi ini.” Gumam Ari.

“Sudahlah, tidak ada gunanya menyesali yang sudah terjadi, seperti katamu tadi kepadaku, kau lupa?” ucap Tita. Ari hanya terdiam dan melempar sebuah senyum kecil kepada Tita. “Lagi pula, aku sudah bebas.” ucap Tita dengan tiba-tiba melompat dari rantai yang mengikatnya.

“Aku sangat bersyukur kau dilatih untuk membebaskan diri.” Ucap Ari. Tanpa diperintah Tita segera berusaha melepaskan rantai yang mengikat Ari.

 “Tak ada penjara yang mampu menahanku, Ari. Begitu juga dengan kau, tak ada rahasia yang bisa sembunyi darimu.” Gumam Tita pelan sembari berusaha melepaskan rantai yang mengikat Ari.

Kedua saudara itu akhirnya mampu membebaskan diri dari rantai yang mengikat mereka, namun mereka masih terkurung di dalam sel. Ari melongok di antara teralis sel untuk melihat kondisi di luar sel. “Aku lagi-lagi bersyukur kita hidup di masa dimana teknologi kamera pengawas sudah tak lagi digunakan, juga bersyukur karena GPI selalu menerapkan sel tanpa pengawasan ketat.” Ucap Ari sambil kembali memasukkan kepalanya kedalam sel.

“Kau terlalu banyak bersyukur, adik kecil.” Sindir Tita yang sedari tadi melihat-lihat dinding-dinding sel.

“Justru kita harus banyak bersyukur. Dan tolong jangan panggil aku seperti itu hanya karena kau terlahir 6 menit lebih dulu dariku.” Gerutu Ari.

“Bingo!” ucap Tita dengan tiba-tiba. “Ari, bisa kau membantuku?” tanya Tita tanpa menoleh ke Ari. Dengan sigap Ari segera mendekati Tita lalu berjongkok, menenyatukan kedua tangannya dan menengadah di depan Tita. Tita segera berpijak pada kedua tangan Ari, perlahan Ari mengangkat tubuh Tita dengan mudah. Tita mengeruk-ngeruk pojokan sel itu, dengan satu tarikan Tita menarik sebuah batang besi kecil dari sudut dinding itu, Tita terjerembat kebelakang, Ari berusaha menangkap tubuh Tita tapi gagal.

“Hei kau tidak apa-apa? Maaf.” Ucap Ari ketika berusaha membantu Tita untuk berdiri. Tita tak menggubris Ari, ia langsung menuju tralis sel itu dan mencoba mencongkel lubang kunci sel itu dengan sebatang besi yang ia cabut dari dinding.

“Semua sel yang digunakan oleh GPI adalah sisa sel tahanan yang dipakai Indonesia untuk menahan para tahanan di masa perang, besi-besi sekat yang ada dipojokan pastilah sudah rapuh.” Jelas Tita tanpa mengalihkan pandangannya dari lubang kunci.

“Aku tau… Aku tau, Kak.” Gerutu Ari membela diri.

Ari dan Tita berlari menyusuri lorong-lorong yang dipenuhi oleh sel-sel tahanan yang kosong, cahaya lampu kuning redup menyinari tiap jarak 5 meter.

“Itu dia pintu keluarnya.” Ucap Tita sambil menunjuk ke sebuah pintu besar di ujung lorong. Mereka berdua bergegas menuju pintu itu. Ari mencoba membuka tuas pintu itu.

“Terkunci.” Ucap Ari.

 “Tidak akan lama lagi.” Jawab Tita yang tanpa disadari Ari tengah sibuk mengutak-atik engsel pintu itu. ‘Klang’ kunci pintu itu terbuka dengan sendirinya.

“Mekanismenya hampir selalu sama.” Jelas Tita. Ari membuka pintu itu dengan perlahan. Sebuah sorotan cahaya lampu yang sangat terang seketika menyorot Ari dan Tita dari sisi luar pintu. Tak diduga pasukan GPI yang di lengkapi senjata telah menghadang mereka.

“Sial.” Gumam Ari.

“Sudah kuduga, ada yang aneh. Tidak biasanya tak ada satupun penjaga di dalam sel, meskipun mereka memang tidak pernah menerapkan penjagaan ketat terhadap tahanan.” Gerutu Tita.

Ari dan Tita bersiaga memasang kuda-kuda, pasukan GPI itu menodong Ari dan Tita dengan senjata api.  Dari balik cahaya menyilaukan itu muncul 3 sosok yang berjalan perlahan mendekati Ari dan Tita, tampak jelas yang muncul pertama adalah Rini, diikuti oleh dua sosok lain yang lebih tua, seorang pria berbadan tinggi besar dan rambut cepak dan seorang wanita kurus yang tak lebih tinggi dari Rini dengan kaca mata tebal di matanya, kedua sosok itu memakai setelan jas yang rapi namun sudah lusuh. 

“Kalian pikir aku tidak belajar dari penyerangan-penyerangan oleh Bahutai selama ini? Infiltrasi kecil dengan hanya menggunakan 2-3 agen untuk menghancurkan markas kami dari dalam. Toba, Cartens, Ujung Kulon, mungkin 4 tahun ini kalian berhasil menerapkan itu. Dan tak kusangka kalian berhasil menemukan salah satu markas besar kami, tapi kalian masih terlalu muda 1000 tahun untuk bisa membodohiku.” Rini kembali berceloteh seperti biasanya.

“Sudah Rini, cukup.”  Ucap pria di belakang Rini sambil berjalan pelan mendekati Ari dan Tita, wanita satunya juga ikut berjalan mendekati mereka. Kini jarak mereka hanya sekitar 2 meter.

***

Suara dentuman meriam saling bersahutan pagi itu, diikuti rentetan suara tembakan senapan, banyak teriakan dari orang-orang, ada yang kesakitan, ketakutan, atau teriakan umpatan. Di dalam sebuah rumah, seorang perempuan muda sedang mengemas baju dan beberapa makanan kaleng kedalam sebuah tas besar. Seorang pria dengan seragam tentara mengintip dari jendela dengan risau. Seorang perempuan lainnya yang sedikit lebih tua dari perempuan pertama dengan rambut panjang terikat sedang menggandeng dua anak kecil yang ketakutan. Suasana sangat mencekam di dalam rumah itu, pertempuran terjadi tak jauh dari rumah itu. “Cepatlah Elena!” teriak pria yang memakai seragam tentara kepada perempuan yang sedang mengemas baju. Elena tak menjawab, ia fokus untuk mengemas lebih cepat.

“Ibu, aku takut.” Kata si anak perempuan.

“Huss, tenang lah nak, tidak akan terjadi apa-apa. Ayah akan melindungi kita.” Ucap perempuan itu mencoba menenangkan anaknya. Tiba-tiba si anak laki-laki menangis kencang ketakutan menambah buruk situasi di dalam rumah itu. Si ibu berusaha menenangkan kedua anaknya dengan memeluk erat keduanya.

“Sudah selesai!” teriak Elena, tiba-tiba ia membuka sebuah pintu yang terletak di lantai rumah itu, pintu yang tampak menuju sebuah ruang bawah tanah. “Cup, cup, ayo berhenti menangis, kau ini anak laki-laki, kau harus kuat, lihatlah kakak perempuanmu, dia tak menangis, apa kau tidak malu?” ucap ibu berusaha menenangkan anak laki-lakinya. Si anak laki-laki pun mulai terisak mencoba menghentikan tangisnya, sedangkan si anak perempuan tetap memeluk erat si ibu. “Ayo, kalian ikut tante Elena. Ada yang harus ibu lakukan disini, begitu juga dengan ayah.” kata ibu itu sembari membimbing kedua anaknya menuju Elena.

“Tidak Ibu, aku mau bersama Ibu! Ayah! Ibu! Jangan pergi!” teriak si anak perempuan sembari mencakar-cakar lengan ibunya, sedangkan si anak laki-laki berdiri terdiam menahan tangis, ia bimbang harus menahan ibunya atau mengikuti tantenya. Sebuah ledakan besar menghantam di dekat rumah itu, membuat seisi rumah terhuyung jatuh, genggaman si anak perempuan pun terlepas dari ibunya, si anak laki-laki terjatuh namun berhasil ditangkap oleh Elena.

“Ayo cepat, mereka membutuhkan kita!” teriak si ayah yang sudah berdiri di ambang pintu rumah yang terbuka, kepulan asap memasuki pintu rumah itu. Si ibu segera menggendong si anak perempuan yang terjatuh dan memberikannya pada Elena.

 Elena segera memeluk si anak perempuan dengan tangan kanannya dan tangan kirinya masih menggandeng si anak laki-laki. “Ibu dan ayah harus segera pergi.” ucap si ibu dengan berlinang air mata. Si ibu segera berlari menuju pintu di mana si Ayah tengah menunggu. “Kalianlah harapan kami, harapan negeri ini, kalian harus bertahan hidup. Maafkan kami harus pergi, kami menyayangi kalian.” ucap si Ayah berat.

“Jaga diri kalian, baik-baiklah dengan tante Elena. Maafkan ibu.” timpal si ibu. Seketika kedua orang tua itu berlari keluar meninggalkan rumah itu, mereka lenyap dibalik kepulan asap pekat. Kedua anak itu menangis sejadi-jadinya melihat mereka ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, keduanya berontak dari pelukan Elena berusaha mengejar orang tuanya. Elena menahan kedua anak kecil itu dengan terisak tangis juga namun Elena harus segera menggendong kedua anak itu, dengan bersusah payah memasuki pintu bawah tanah yang telah terbuka. Tepat saat Elena menutup pintu bawah tanah, saat itu pula terdengar sebuah ledakan yang sangat kencang, suara itu berasal dari depan rumah.

***

“Ini tidak mungkin.” Ucap Ari lirih.

“Mereka…” Tita menimpali, keduanya kemudian saling melepar pandangan. Mereka setuju mereka merasakan sensasi yang sama, sebuah sensasi yang selama ini telah mereka lupakan tapi masih tersimpan jauh di lubuk hati mereka, sensasi yang selama ini mereka cari untuk mengisi sebuah kekosongan yang terlupakan. Suasana seketika menjadi hening.

“Benar sekali Tita, aku Widya dan dia Arman. Kami orang tua kalian.” si perempuan mengucapkan itu dengan tenang dan dingin, si Pria hanya mengangguk pelan.

Tita tiba-tiba ambruk, ia berlutut dengan tatapan kosong, tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. “Kak! Cukup! Jangan percaya mereka. Ini hanya omong kosong untuk memanipulasi kita! Ingat mereka ini GPI!” teriak Ari mencoba menguatkan Tita, namun tak bisa dipungkiri Ari juga merasakan perasaan yang sama dengan Tita, tubuhnya bergetar kencang, tapi dia berusaha tegar.

“Aku mengerti apa yang kalian rasakan sekarang, itu wajar.” ucap Arman pelan.

“Tidak! Kalian bukanlah orang tua kami, mereka sudah meninggal ketika masa perang.” ucap Ari membela diri.

“Kami tidak memaksa kalian untuk percaya, kalian sudah dewasa dan berhak untuk menentukan sendiri apa yang akan kalian percayai, tapi memang kenyataannya seperti itu.” Ucap Widya dengan lembut. “Bukan begitu, Titania Tunggadewi, dan Aridharma Pendragon?” Widya meneruskan ucapannya lembut.

“Apa…” Ari terkejut, mulutnya menganga tak kuat untuk mengucpakan sepatah katapun, ia kemudian ikut ambruk berlutut tepat di sebelah Tita yang sedari tadi hanya menatap kosong ke arah Arman dan Widya. Mereka tidak percaya akan apa yang tengah mereka dengar, mata mereka berdua berkaca-kaca dengan tatapan campur aduk antara sedih, bingung, tak percaya, dan bahagia. Seorang Bahutai tidak diperkenankan untuk memakai nama asli mereka, cukup nama pendek atau nama samaran. Mendengar Widya mengetahui nama lengkap mereka sungguh sangat mengejutkan bagi Ari dan Tita.

Arman dan Widya kemudian berjalan perlahan mendekati Ari dan Tita. Arman dan Widya tampak sangat bahagia, mereka memeluk erat Ari dan Tita, namun Ari dan Tita tetap tidak bergeming tak membalas pelukan dari Arman dan Widya. Nampak jelas dari raut wajah Arman dan Widya bahwa keduanya sangat bahagia dan terharu telah dipertemukan dengan Ari dan Tita. Sebuah tangisan terdengar dari Widya, ia terisak di dalam pelukan itu.

“I.. Ibu..” suara Tita terdengar lirih ia segera membalas pelukan orang tuanya, hal yang sama juga terjadi pada Ari. Sebuah reuni keluarga terjadi di sebuah momen yang tak terduga. Air mata yang tak bisa lagi terbentuk muncul dari mata Ari dan Tita, begitu juga dengan Arman dan Widya.

Cahaya matahari pagi muncul perlahan dari ufuk timur menyinari momen mengharukan ini. Cahaya dari lampu sorot pun telah dimatikan. Keempat orang itu berpelukan dengan hangat bermandikan cahaya fajar. Suasana menjadi hening, tak ada satupun orang yang angkat bicara. Senapan-senapan yang sedari tadi bersiaga kini telah diturunkan. Hanya terdengar isakan tangis dari mereka berempat. Rini tetap bergeming melihat momen mengharukan itu.

Tapi tak berapa lama, sebuah suara mesin helikopter yang tiba-tiba muncul dari arah timur memecah keheningan, merusak momen mengharukan itu. Tampak siluet sebuah helikopter besar muncul bersamaan dengan terbitnya matahari.

“Ada apa ini?” teriak Rini keheranan.

“Semuanya bersiap!” teriak salah seorang pasukan GPI. Semua pasukan GPI pun bersiaga dan menodongkan senjatanya ke arah kedatangan helikopter itu. Entah darimana datangnya, tiba-tiba sekumpulan orang muncul menyergap pasukan GPI.

“Bahutai!” teriak Rini.

Secepat itu kekacauan pun terjadi. Baku hantam dan baku tembak tak terelakkan. Arman dan Widya segera melepaskan pelukan mereka terhadap Ari dan Tita.

“Apa yang terjadi, Mas?” Tanya Widya.

“Pemerintah. Pasti mereka telah melacak keberadaan Ari dan Tita.” Ucap Arman dengan siaga. Ari dan Tita menjadi semakin bingung melihat apa yang terjadi. Terlalu banyak hal tak terduga yang terjadi pada mereka pagi ini. Ari dan Tita yang masih terisak tangis pun berdiri dan berusaha memeluk kembali kedua orang tuanya, tapi berondongan peluru dari helikopter menghalangi langkah mereka. Peluru-peluru itu menarget Arman dan Widya, keduanya seketika berlari menjauh mencari perlindungan.

“Anjing-anjing sialan! Bagaimana mereka bisa tau tempat ini? Bukankah Roy sudah melucuti semua pelacak yang mereka bawa!” Celoteh Rini menghardik.

“Tuan, Nyonya, ke arah sini!” teriak Rini membimbing Arman dan Widya menuju sebuah pintu kecil yang dipenuhi pengawalan dari pasukan GPI. Arman dan Widya segera berlari mengikuti Rini. Tampak Widya masih terisak tangis harus meninggalkan kedua ankanya lagi. Dalam kekacauan yang terjadi, Ari dan Tita kehilangan kedua orang tuanya lagi. Sebuah de javu, sebuah perpisahan yang terlalu cepat.

 “Ari…” ucap Tita lirih.

“Aku tidak tau harus bagaimana.” sahut Ari sambil menahan tangisnya. Keduanya saling bertukar pandang. Seperti sebuah telepati mereka berdua mengangguk pelan kemudian berlari. Mereka berlari menjauhi pertempuran yang terjadi. Helikopter semakin membabi-buta memberondong pasukan GPI dari langit ketika Ari dan Tita sudah berlari cukup jauh dari medan pertempuran. Mereka menemukan mobil milik Roy, tanpa berkata apapun keduanya langsung menaiki mobil itu. Dengan cepat mobil itu langsung melenggang menjauhi kota mati itu.

Tita menoleh kebelakang mencoba mencari keberadaan orang tuanya mungkin untuk terakhir kalinya. “Jangan menoleh ke belakang, Kak.” ucap Ari yang matanya masih berkaca sembari menyetir mobil itu.

“Ari aku tidak percaya apa yang terjadi, tak ada satu firasatpun. Kita harus kembali.” protes Tita yang masih menangis.

“Tidak kak, keadaan sedang kacau, sementara kita harus pergi!” ucap Ari dengan sedikit membentak. Tita hanya terdiam mendengar ucapan Ari, dia masih menangis. Mobil melaju semakin kencang dengan pasir-pasir gurun yang ikut terangkat menutupi kepergian mereka berdua.

***

ditulis oleh : Antareja

Leave a Reply