Anagata (3)

TITIK BALIK

Cahaya matahari bersinar terik di sebuah gurun. Tampak sebuah bukit dengan ceruk di gurun tersebut dan sebuah mobil butut terparkir tak jauh dari sana. “Persetan dengan pelacak ini!” teriak Ari membuang sebuah chip kecil yang berlumuran darah, begitu juga dengan lengan kirinya yang penuh darah.

“Ari, semua ini mimpi kan?” tanya Tita yang duduk bersandar di dinding ceruk. “Tidak, Kak. Semua yang terjadi pagi tadi kenyataan.” Jawab Ari yang ikut bersandar di samping Tita.  “Kak, lebih baik kau tidur saja sekarang. Kau belum tidur kan sejak dari penjara.”

“Bagaimana semua ini bisa terjadi?” tanya Tita sambil menatap langit-langit ceruk tersebut.

“Ini tidak masuk akal memang. Mereka tentara pemerintah di masa perang, lalu mereka meninggal di saat terjadi perang di dekat rumah kita dulu. Kalaupun mereka masih hidup, mereka tidak mungkin menjadi pemberontak, dan mereka pasti akan mencari kita.” jelas Ari.

“Tapi Ari, aku tau mereka benar orang tua kita. Aku tak pernah lupa wajah mereka. Apalagi mereka bisa tahu nama lengkap kita. Ingat, bahkan pemerintah tidak tahu nama lengkap kita.” elak Tita.

“Aku tahu, Kak. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi ini tetap tidak masuk akal. Kita harus mencari kebenarannya!” jawab Ari dengan tegas. 

Tita beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan memutari ceruk tersebut. Ari hanya terdiam memandangi Tita. Ia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Ari. “Lalu, bagaimana cara kita mencari kebenarannya?” tanyanya sambil mengusap air mata yang perlahan mengalir.

Ari terdiam, lalu tiba-tiba dia menatap Tita dengan keraguan “Kita kembali dan menanyakan pada mereka?”

Tita memiringkan kepalanya dan duduk berjongkok di depan Ari “Memang benar aku masih merasa rindu dengan mereka. Tapi apa tidak terlalu berbahaya untuk kembali kesana? Kau tidak biasanya begini. Kau pasti juga rindu dengan mereka ya, Adik kecil?” ucap Tita perlahan sembari mengusap kepala Ari yang langsung memalingkan wajahnya.

***

Terik siang di gurun itu sangat menyengat. Ari sedang mengelap darah di lengannnya, sedangkan Tita melamun melihat fatamorgana yang terjadi di luar ceruk. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari atas bukit.

“Sudah kuduga. Mereka pasti mengikuti kita.” Ari beranjak dari duduknya.

“Pihak mana?” tanya Tita yang tersadar dari lamunannya.

Ari bergegas keluar dari ceruk, kemudian menoleh kepada Tita “Kita lihat saja, kak.”

Seorang pria yang memakai topeng tergantung terbalik di sebuah jerat di ujung bukit. Tampak Tita dan Ari berjalan perlahan menuju jebakan tersebut.

“Hei tolong aku, kumohon!” teriak pria tersebut kepada Tita dan Ari yang langsung bertukar pandang. Sosok pria bertopeng tersebut dilemparkan ke dinding ceruk dengan kondisi terikat, suara benturannya cukup keras. “Pakaian itu, kau pasti orang GPI.” ucap Ari yang kemudian menendang perut pria itu.

“Argh!” erang pria itu perlahan menerima tendangan Ari.

Ari akan menendang lagi, kemudian Tita menghentikan Ari dengan merenggangkan tangannya di depan Ari. “Tunggu, aku seperti kenal suara orang ini.” ucap Tita sambil berjongkok bertumpu dengan lututnya di depan pria bertopeng tersebut. Dengan perlahan Tita membuka topeng pria itu. Tita dan Ari terkejut melihat sosok di balik topeng tersebut. Sosok pria muda yang tidak asing bagi keduanya, sosok itu adalah Roy.

“Hai kalian, lama tak jumpa.” Roy menjawab dengan senyum lebar. Tita dan Ari terkejut melihat Roy. Bukan karena Roy sampai mengejar mereka, tapi karena ada yang berbeda pada diri Roy, lebih tepatnya pada wajah Roy. Tampak mata kiri Roy dipasang sebuah perban lusuh dengan noda darah yang samar.

“Apa yang terjadi padamu, Roy?” tanya Tita perlahan.

“Maksudmu?” Roy balik bertanya.

Tiba-tiba Ari menerjang dan memegangi leher Roy. “Cukup, jangan bercanda.” ucap Ari dengan tegas.

Roy meringis ketakutan tapi tetap tersenyum. “Oh ini, hanya goresan kecil.” ucap Roy sambil mata kanannya melirik mata kirinya yang terluka.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Tita sekali lagi kepada Roy.

“Rini. Ini ulah Rini.” jawab Roy dengan datar. Tita dan Ari saling menatap, belum sempat mereka berkomentar, Roy menyela kembali. “Tapi secara tidak langsung juga karena kalian juga. Haha” sela Roy dengan selengekan.

“Katakan yang sebenarnya atau akan kubuat kau buta!” ancam Ari.

Roy menunjuk lengan Ari yang diperban “Pelacak yang tertanam di lenganmu, aku melewatkannya. Seharusnya semua pelacak kalian sudah kulepas secara diam-diam ketika di pelabuhan. Ya, karena itu Rini menghukumku. Dia mencongkel mata kiriku dan menugaskanku untuk mengejar kalian dan menangkap kalian lagi.” jelas Roy.

“Tapi kini justru kau yang tertangkap kan?” ejek Tita. Roy hanya mengangkat bahu dengan tersenyum sinis.

“Kak?” Ari menyela. Tita hanya menoleh kepada Ari, dia mengerti apa yang dipikirkan Ari.

Tita mengambil sebatang besi berujung tajam yang tergeletak di tanah. “Jadi Roy, karena kau kesini berniat untuk menangkap kami kembali, dan justru sekarang kau yang kami tangkap, nyawamu ada di kami sekarang.” ucap Tita sambil memukul-mukulkan besi dengan perlahan ke perut Roy.

“Hey, jangan berjanda…” ucap Roy beringsut, ia tampak ketakutan.

“Kami tidak bercanda kok.” ucap Tita dengan tenang. Tita kemudian berdiri dan menyerahkan besi tersebut kepada Ari. Ari menerimanya dan kini menyentuhkan ujung besi yang tajam itu ke perut Roy.

“Tenang kawan, sakitnya hanya sebentar. Setelah itu kau akan terbebas dari semua penderitaanmu. Selamat tinggal.” ucap Ari dengan tersenyum lebar sembari bersiap akan menusukkan besi tersebut ke perut Roy.

“Tidaaak! Hentikan! Tolong! Kumohon! Aku masih mau hidup! Kumohoooon…..” Roy berteriak sangat kencang sembari menangis memohon belas kasihan kepada Tita dan Ari.

***

Sebuah mobil butut melaju di bekas hutan yang telah mengering dan gersang menuju arah matahari terbenam. “Ingat Roy, nyawamu ada di tangan kami.” ucap Tita yang duduk santai di jok belakang mobil sambil memegang sebuah kotak dengan sebuah tombol. Roy yang tengah menyetir hanya terdiam dan menelan ludah perlahan, tampak sebuah kalung penuh kabel melingkari lehernya.

“Jadi lebih tepatnya ada di daerah mana markas pusat kalian?” tanya Ari kepada Roy.

“Pelabuhan utara, dulunya kota Semarang.” jawab Roy dingin.

“Kau pasti bercanda.” ucap Ari terkejut. “Cukup dekat bukan dengan pusat pemerintahan?” Ari mulai lebih tenang menjawab.

“Sekitar 150 km dari pusat pemerintahan. Jadi markas yang selama ini kami cari ternyata sedekat itu?” Tita menimpali dengan heran.

“Ya, tentu. Tempat yang dirasa paling berbahaya justru adalah tempat yang paling aman.” jawab Roy dengan menoleh sedikit kebelakang.

“Matilah aku. Setalah ini kalian pasti akan mengirim pasukan pemerintah untuk menyerang markas pusat kami. Semoga kalian menepati janji kalian untuk melepaskanku setelah misi kalian berhasil.” ucap Roy sedih.

“Bukan, bukan itu tujuan kami.” jawab Ari dengan tenang.

“Hey, kalian tidak sedang bercanda lagi kan? Ini aneh menurutku. Lalu apa yang kalian inginkan?” ucap Roy.

“Tunggu, kau tidak tau apa yang terjadi di markas kalian kemarin?” Tita menyondongkan tubuh kedepan bertanya keheranan kepada Roy.

Roy mengangkat bahu “Setelah menyerahkan kalian kepada Rini, aku pergi ke ruangku untuk tidur. Dan setelah terbangun, aku sudah berada di ruang penyiksaan karena ulah kalian.” jawab Roy dengan miris.

Ari menoleh kebelakang kepada Tita, Tita hanya mengangguk, Ari pun mengerti. “Kami menemukan bahwa, kedua pimpinan kalian itu adalah orang tua kami yang selama ini kami kira telah meninggal.” ucap Ari dengan datar.

“Apa?!” Roy terkejut dan seketika mengerem mobilnya mendadak membuat Ari dan Tita hampir terlempar dari tempat duduknya.

Ari tampak marah dan segera memiting menjambak rambut Roy “Hey! Kau mau membunuh kami? Kurang ajar! Berani-beraninya kau!” Roy menoleh perlahan ke arah Ari. Tita segera menyentuh pelan tangan Ari, mengisyaratkan untuk tidak melukai Roy, Ari kemudian melepas cengkramannya.

“Jadi kau, dia, kalian, pak Arman, bu Widya? Hey ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Oh tuhan otakku tak mampu mencerna semua ini!” ucap Roy kebingunan menoleh kesana kemari. “Sudahlah Roy. Itu bukan hal yang penting sekarang. Kau tidak perlu memikirkannya, itu urusan kami. Sekarang lakukan tugasmu dengan baik.” ucap Tita sambil menjulurkan tangannya yang memegang sebuah kotak dengan tombol itu ke arah wajah Roy. Roy hanya terdiam tak menghiraukan apa yang terjadi.

Tiba-tiba Roy menghela napas panjang “Aku turut senang mendengar hal itu. Entahlah meskipun aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang kalian alami. Tapi aku senang.”

“Apa maksudmu bilang seperti itu?” tanya Ari berusaha menahan amarah.

“Sampai sekarang aku tidak tau berapa umurku, darimana asalku, siapa nama asliku. Sejak aku bayi aku sudah hidup di panti asuhan. Orang tuaku meninggalkanku disana. Hingga saat perang meletus, kami mengungsikan diri. Di perjalanan kendaraan kami terserang oleh misil salah sasaran. Semua orang meninggal, hanya aku yang selamat. Setelah perang berakhir, aku bertahan hidup dengan menjadi pengemis. Hingga suatu ketika pak Arman menemukanku dan mengajakku untuk bergabung dengan GPI. Tentu saja aku mau. Aku sangat berterimakasih kepada beliau. Aku berharap aku bisa menemukan siapa orang tuaku. Aku yakin mereka sudah tidak ada lagi, tapi setidaknya aku bisa tau siapa mereka.” langit senja itu berangsur menjadi gelap. Tita dan Ari hanya terdiam dan mendengar cerita Roy. Tita tanpa disadari meneteskan air mata. “Dan sejujurnya aku sudah muak hidup di dalam GPI. Kalau tidak karena pak Arman dan bu Widya yang sudah kuanggap orang tuaku sendiri, aku sudah kabur beberapa tahun lalu. Aku lebih suka hidup bersama para nelayan brotherhood di pelabuhan Jayabaya.” lanjut Roy bercerita.

Tita sedikit terkejut dan kali ini dia menyadari air matanya menetas, lalu mengusapnya. “Maksudmu, kau?” tanya Ari yang juga terkejut.

“Hei, ini sudah malam ya? Lebih baik kita lanjutkan perjalanan kita. Dan nanti ketika aku bersiul, kalian segeralah mengikatkan rantai yang tergeletak di bawah itu ke badan kalian. Kita tidak mau membuat orang-orang GPI curiga kan?” ucap Roy dengan tersenyum lebar, tak menghiraukan pertanyaan Ari. Ari dan Tita saling bertukar pandang, keduanya mengangguk pelan. Mobil itu pun kembali berjalan meneruskan perjalanan di malam hari.

***

JAWABAN DARI SEGALA JAWABAN

Dua hari telah berlalu. Perjalanan Tita, Ari, dan Roy telah berakhir. Mereka kini telah sampai di markas pusat GPI di pelabuhan utara. Dari tempat mereka berjalan, tampak sebuah reruntuhan gedung yang dikelilingi banyak batu karang tinggi. Gedung itu tampak tak ubahnya seperit batu karang. Di tengah malam itu mereka tampak sedang berjalan dengan waspada menuju markas pusat GPI.

“Kau masih ingat petanya kan?” tanya Ari kepada Tita.

“Tentu, misi Cartens masih sangat segar bagiku.” jawab Tita.

“Jadi bagaimana rencananya?” tanya Roy. Tidak ada jawaban dari Tita dan Ari. Mereka lalu berhenti di balik sebuah batu karang besar, dari tempat itu mereka bisa melihat dengan jelas markas pusat GPI.

“Roy, kau bisa meretas data bukan?” tanya Ari kepada Roy tanpa memalingkan pandangannya dari markas GPI.

“Hey, mungkin aku bodoh. Tapi jangan meremehkanku, tentu aku bisa.” jelas Roy.

“Bagus.” timpal Tita dengan tersenyum dan menatap Roy.

“Roy, kau masuklah terlebih dahulu, retaslah kamera CCTV dan semua sistem keamanan mereka. Lalu berilah tanda kalau sudah berhasil kau kuasai. Kemudian kami akan menyusup masuk.” jelas Tita.

“Ide bagus, tentu aku bisa. Tapi… bagaimana caranya aku memberikan tanda pada kalian? Dengan berteriak?” tanya Roy kebingungan.

“Kau ini memang bodoh atau berusaha melawak, Roy?” tanya Ari sebal. Roy menatap Ari dengan tatapan tak bersalah.

“Pasca perang, teknologi yang dipakai di Indonesia tidak pernah berkembang, Mereka pasti menggunakan CCTV tipe 26-e, atau sejenisnya. Ada sistem laser kedip di dalamnya. Kau bisa menyalakannya sebagai pertanda.” jelas Tita kepada Roy. Roy hanya mengangguk pelan.

“Lebih baik kau berangkat mulai sekarang.” perintah Ari pada Roy. Roy mengangguk dan beranjak menuju markas GPI.

“Ingat Roy nyawamu ada di kami. Aku sudah hapal setiap bagian dari gedung itu. Awas saja kalau kau menjebak kami.” Tita sedikit berteriak dengan melambaikan kotak remot kalung Roy. Roy menoleh dan hanya tersenyum sambil mengangguk, ia segera melanjutkan jalannya.

Beberapa menit setelah Roy masuk ke dalam markas GPI, sebuah laser berwarna merah berkedip dari puncak gedung itu. Tita dan Ari saling bertukar pandang, kemudian keduanya berjalan dengan waspada menuju gedung itu.

“Ari..” panggil Tita memecah keheningan.

“Ada apa?” jawab Ari tanpa mengalihkan pandangannya dari depan.

“Apa tidak masalah membuat kita terpisah darinya? Maksudku untuk keamanan kita dan mungkin juga untuk keselamatannya.” Tita bertanya dengan khawatir.

“Justru akan lebih berbahaya kalau dia bersama kita. Ketika dia berusaha macam-macam, kita justru tidak bisa kabur dengan mudah. Akan lebih baik kalau seperti ini, kalau dia macam-macam kau tinggal menekan tombol itu dan kita bisa langsung lari.” Jawab Ari sambil menghentikan langkahnya.

“Hmm benar juga.” ucap Tita sambil mengangkat bahunya.

Tita dan Ari kemudian memasuki markas GPI dengan penuh kewaspadaan. Mereka menyusup melalui gorong-gorong saluran pembuanan di bawah tanah. Setiap menemukan persimpangan, mereka menunggu penanda dari Roy mematikan sistem keamanan di tempat yang mereka tuju. Tita dan Ari akhirnya sampai di sebuah tangga menuju atas yang mereka perkirakan adalah tangga menuju ruang pusat, dimana kemungkinan orang tua mereka berada.

***

Di dalam ruang database, tampak Roy sedang mengutak-atik komputer pusat tersebut. Ia tersenyum sendiri sambil meretas data. Tiba-tiba Rini muncul di belakang Roy. Roy sudah menyadari keberadaan Rini. Kemudian ia memutar kursinya menghadap Rini dan tersenyum lebar sambil melambaikan tangan.

“Jadi akhirnya kau datang juga.” ucap Rini sambil tersenyum kepada Roy.

***

Tita dan Ari berjalan menuju tangga tersebut. Tapi tiba-tiba pintu di ujung tangga tersebut terbuka dan tampak sesosok siluet yang dengan perlahan berjalan turun menuju Tita dan Ari.

“Ini… tidak mungkin…” ucap Ari dengan terbata. Tita yang berada di belakang Ari hanya mematung melihat sosok yang muncul. Tampak wajahnya penuh kekecewaan dan kebencian. Tangannya menekan-nekan tombol yang ia pegang. Sosok itu akhirnya menampakkan wajahnya dengan jelas. Ia adalah Rini dengan senyumannya yang mengerikan menyambut kedatangan Tita dan Ari. Tanpa banyak bicara, Ari bergegas beranjak dari tempat itu. Dia menggandeng tangan Tita. Tita yang masih shock akhirnya tersadar dan segera mengikuti Ari berlari.

“Kalian tidak perlu lari! Aku tidak akan menangkap kalian, pak Arman dan bu Widya sudah menunggu kalian. Kemarilah.” teriak Rini kepada Ari dan Tita yang telah berlari cukup jauh dari tangga tersebut. Tita seketika menghentikan larinya, begitu juga dengan Ari.

Dia menoleh kepada Tita. “Tita, ayo kita lari! Ini pasti jebakan.” ucap Ari bergegas kembali untuk mengajak Tita pergi.

“Tidak, Ari. Aku tau kau pasti punya firasat yang sama denganku. Kita harus kembali.” jawab Tita dengan bergeming. Ari melepaskan tangan Tita, dan keduanya saling menatap. Ari tampak malu bercampur bingung karena batinnya merasa inilah jawaban yang ia cari tapi logikanya berkata lain.

Suasana menjadi hening, tanpa disadari Rini sudah berada di belakang mereka. “Jadi, apa pilihan kalian?” tanya Rini.

Tita membalik badannya menghadap Rini “Kami ikut.” jawab Tita dengan tegas.

“Bagus, memang seharusnya kalian ikut.” ucap Rini dengan tersenyum lebar. Rini kemudian membuka tangannya “Silahkan.” Rini mempersilahkan keduanya untuk menemui kedua orang tuanya. Rini kemudian berbalik, beranjak menuju tangga. Tita dan Ari masih mematung di tempat mereka berdiri.

“Dimana Roy?” tiba-tiba Ari bertanya.

“Oh anak itu, dia sedang dirawat untuk matanya. Sedikit hukuman memang perlu kan?” jawab Rini sambil menghentikan langkahnya, membelakangi Tita dan Ari.

“Si brengsek itu!” ucap Ari sambil meninju dinding dengan kesal.

“Sudahlah, jangan menyalahkan dia, dia menjalankan tugasnya dengan baik, justru seharusnya kalian berterimakasih pada Roy karena telah membawa kalian bertemu lagi dengan orang tua kalian. Mari!” ucap Rini sambil menoleh kebelakang. Rini melanjutkan langkahnya, Tita dan Ari saling bertukar pandang dan kemudian keduanya berjalan mengikuti Rini.

***

Sekitar setengah jam di ruang tertutup itu terisi keheningan. Di sebuah meja bundar tampak empat orang sedang duduk saling menatap, suasana tampak canggung. “Ohana, itu berarti tak ada satu orangpun yang ditinggalkan. Itulah arti dari keluarga.” ucap Arman memecah keheningan.

“Lalu kenapa kalian meninggalkan kami?” protes Ari sambil memukul meja.

Tita memegangi pundak Ari berusaha menenangkannya. “Kami butuh jawaban.” ucap Tita dengan tenang.

“Maafkan kami, itu semua demi kebaikan kalian. Ada hal-hal tertentu yang harus kami lakukan waktu itu sehingga kami harus meninggalkan kalian.” jawab Widya dengan murung.

“Terbaik apanya? Kalian meninggalkan kami. kalian tidak tau betapa sedihnya kami waktu itu harus berpisah dengan kalian.” ucap Ari dengan tatapan kosong dan matanya berkaca-kaca.

“Itu bukanlah sebuah jawaban, itu adalah sebuah alibi klasik. Kami butuh jawaban, jawaban yang sebenarnya.” protes Tita, air matanya menetes tanpa disadarinya.

“Itu adalah sebuah pengorbanan. Pengorbanan yang sangat besar. Demi kalian, demi keluarga kita.” jawab Widya dengan matanya yang berkaca-kaca menatap Tita dan Ari.

“Semua bermula ketika perang belum dimulai.” ucap Arman yang mulai bercerita.

***

Widya sedang berada di depan komputer di sebuah kantor pemerintahan. Ia membuka-buka berkas intelegensi negara. Tiba-tiba ia menemukan sebuah folder janggal yang tersembunyi. Folder apa ini? Aku tidak pernah melihatnya. Widya segera memperhatikan sekitar, sudah tidak ada orang di ruang itu. Widya membuka folder tersebut yang ternyata dilindungi oleh sistem keamanan yang sangat kuat. Widya berusaha meretas sistem tersebut. Setelah berhasil membukanya, ia tampak terkejut melihat isinya. Folder itu langsung terhubung dengan pusat database milik negara. Widya memeriksanya satu persatu isi. Ia pun terhenyak setelah membaca salah satu file pdf yang ada di dalamnya. Ia segera menyalin seluruh data di folder sembari melihat-lihat sekitar dengan waspada. Setelah seluruh data itu tersalin, Widya segera pergi meninggalkan ruangan itu.

Malam itu di sebuah rumah Widya sedang bermain boneka dengan kedua anaknya, Tita dan Ari. Tampak Elena sedang asik bermain handphone tak jauh dari Widya.

“Ibu, kapan Ayah pulang?” tanya Ari sambil menatap pintu rumah.

“Sebentar lagi, Sayang. Ayah kan sudah janji kalau pulang hari ini.” jawab Widya.

“Aku juga kangen Ayah.” ucap Tita pelan sambil memainkan sebuah boneka kelinci.

“Ibu, aku nanti ingin jadi tentara seperti ayah!” ucap Ari dengan membawa sebuah pistol mainan dan menodongkan pistol itu ke arah Tita.

“Kau sudah sering bilang itu, lebih baik jadi penjaga kebun binatang, macan ini akan menggigitmu. Rawwr!” Tita menggoda Ari dan mengejar Ari dengan boneka harimau. Keduanya lalu saling mengejar. Widya pun ikut kejar-kejaran dengan anaknya. Tanpa disadari Elena sudah merekam mereka yang sedang kejar-kejaran. Suasana terlihat begitu hangat.

Widya tengah duduk menatap laptopnya di ruang tamu rumah. Jam menunjukkan pukul 01.24. Pintu rumah tiba-tiba terbuka, dan muncul sosok Arman yang masih lengkap memakai pakaian tentara.

“Ah selamat datang, Ayah.” Ucap Widya menyambut kedatangan Arman tanpa beranjak dari laptopnya.

“Ada apa? Kau terlihat sibuk?” tanya Arman yang masih berdiri di tengah pintu. Widya tampak sedih, ia menghela napas panjang.

“Kemarilah, kau harus melihat ini.” ucap Widya sambil bergeser dari tempat duduknya. Arman mengerti ada sesuatu yang darurat. Ia segera melapaskan tas besarnya kemudian duduk di samping Widya untuk melihat data yang ada di laptop. Beberapa menit Arman membaca data tersebut. Tiba-tiba Arman terkejut. Widya tampak menutupi mulutnya dengan tatapan penuh kesedihan.

“Darimana kau dapat ini? Ini kan…” tanya Arman tanpa memalilngkan pandangannya dari laptop.

“Ya benar, itu adalah salinan dari perjanjian pemerintah Indonesia dengan beberapa negara besar. Perjanjian kerjasama multilateral untuk memulai perang dengan Amerika Serikat.” jelas Widya sambil tertunduk memegangi kepalanya. Arman hanya terdiam, ia terhenyak. Suasana menjadi hening, dinginnya angin malam mulai menusuk dari pintu rumah yang tidak ditutup.

Arman menyandarkan tubuhnya di sofa “Selama beberapa tahun terakhir kita berjuang untuk mempertahankan perdamaian antar negara yang saat ini sedang memanas. Tapi apa, ini semua yang direncanakan para pemimpin itu. Jadi begini rasanya menjadi bawahan yang tidak tau apa-apa dan hanya menurut ketika diperintah. Sial aku merasa telah di khianati oleh negaraku sendiri.” ucap Arman dengan tatapan kosong menatap langit-langit rumah, suaranya terdengar bergetar penuh kesedihan. Widya tak mampu berucap apapun, ia kemudian memeluk Arman berusaha saling menguatkan.

Kedua pasangan suami istri itu duduk termenung di ruang tamu. “Kudengar kemarin pemerintah sedang melakukan proses diplomasi dengan Amerika.” ucap Widya.

“Percuma, dengan keberadaan perjanjian tersebut artinya apapun yang dibicarakan di pertemuan tersebut pada akhirnya akan berakhir dengan terjadinya perang. Perang dunia ke-4 tak terelakkan lagi.” jelas Arman dengan tatapan kosong.

Widya hanya mengangguk pelan. “Apa yang harus kita lakukan?” tiba-tiba Widya bertanya.

“Kita harus pergi. Aku sudah tidak mau diperalat lagi. Perang akan sangat berbahaya bagi keluarga kita.” jawab Arman dengan pelan. Keduanya hanya saling menatap dengan pilu.

***

ditulis oleh : Antareja

Leave a Reply