Anagata (4)

“Pada akhirnya kami memutuskan untuk berkhianat pada Indonesia, kami melarikan diri di masa perang, lalu mendirkan GPI setelah mengetahui bahwa pemerintahan yang baru tak ada bedanya dengan pemerintah yang dulu. Aku meminta Elena untuk membawa kabur kalian ke tempat pengungsian yang tak ada satu orangpun akan mengenali kalian.” Jelas Arman sembari berdiri menatap luar gedung dari jendela.

“Kami harus melakukan itu semua demi kalian, demi keluarga kita. Kalau kami tidak melakukan semua pengorbanan itu, mungkin kita semua sudah tidak ada lagi. Kami terpaksa meninggalkan kalian karena setelah perang kami harus selalu bersembunyi dari pemerintah, kami tidak mau membahayakan kalian.” tandas Widya dengan linangan air mata di pipinya. Ari tertunduk lesu mendengarkan semua penjelasan dari orang tuanya.

Tita tak kuasa menahan tangis, ia segera beranjak dari duduknya dan memeluk Widya. Keduanya hanyut dalam suasana haru. Ari pun ikut beranjak dari duduknya dan memeluk ibu serta kakaknya. Arman yang masih berdiri mematung tiba-tiba berucap, “Aku mengerti ini momen yang mengharukan, tapi ada yang ingin kami bicarakan pada kalian.” Ucapan Arman memecah suasana haru tersebut.

Tita dan Ari kemudian melepas pelukannya dan mengusap air matanya, memperhatikan Arman. “Tak bisakah kau menunggu sebentar? Apa kau tidak rindu dengan mereka?” gerutu Widya. Arman hanya menatap Widya dengan tenang.

Widya mengangkat satu alisnya lalu menatap kedua anaknya. Tita dan Ari paham apa yang dimaksud kedua orang tuanya. Mereka kemudian kembali duduk.

 “Maksud dari perkataanku di awal tadi adalah, kami tidak akan meninggalkan kalian lagi. Kami ingin kalian ikut bersama kami.” jelas Arman.

“Sebagai keluarga, kita tak akan terkalahkan.” imbuh Widya.

Tita dan Ari kebingungan, keduanya saling menatap dengan curiga.

 “Biar kuperjelas, dalam beberapa hari ini kami berencana melakukan serangan besar-besaran terhadap pemerintah.” ucap Arman dengan mantap. Tita dan Ari seketika terkejut, keduanya saling bertukar pandang tak percaya apa yang barusan mereka dengar.

“Karena itu lah, kami membutuhkan kalian. Kalian akan menjadi serangan kejutan kami di dalam pemerintahan.” timpal Widya.

“Jadi kalian meminta kami untuk membelot? Tidak. Tidak!” tegas Ari. Tita hanya mengangguk pelan tanda setuju dengan Ari.

“Mau bagaimana lagi? Sekarang coba pakai logika kalian, apa yang kalian lakukan disini? Apakah tidak termasuk membelot?” tanya Arman yang kini sudah duduk di tempat duduknya. Tita dan Ari terhenyak, badan mereka bergetar, tak ada yang mampu mereka ucapkan.

“Bukankah kami adalah target kalian, para Bahutai?” tanya Widya menimpali. “Dengar, kalian pasti bingung memilih antara keluarga atau negara. Akan kuberi pertimbangan, kalau kalian memang mencintai negara ini, apakah kalian mau negara ini dipimpin oleh orang-orang yang bisa dibilang jahat?” Tubuh Arman sedikit mendekat kepada dua anaknya.

“Justru dengan kalian bergabung dengan kami, kalian tidak perlu repot memilih. Kita akan bersama lagi sebagai keluarga, kalian juga berperan dalam merubah negara yang kalian cintai ini menjadi lebih baik.” tambah Widya.

 “Kami… kami terlatih untuk menaati perintah, kami tidak bisa melakukan ini.” jawab Tita terbata.

“Menaati perintah? Lalu kenapa Ari melepas pelacak yang ditanam di lengannya? Kenapa kalian mau berbicara di sini bersama kami, bukannya menangkap kami, atau bahkan menghancurkan markas ini? Sesuai perintah dari pemerintah.” jelas Widya dengan sebuah senyuman kecil.

“Ini memang ironis sekali, anak-anak.” ucap Arman.

Semua orang di ruang itu pun terdiam. Tiba-tiba Arman berdiri dari duduknya “Baiklah, mungkin kalian butuh waktu untuk berfikir dengan jernih, lebih baik kalian beristirahat dulu sekarang.” ucapan Arman memecah keheningan yang terjadi sejenak.

“Benar anak-anak. Ini sudah pagi, aku akan meminta Rini mengantar kalian ke ruangan kalian, beristirahatlah.” ucap Widya sembari beranjak membuka pintu ruang itu. Tita dan Ari hanya terdiam, jelas di wajah mereka tampak kebingungan.

***

            Tita dan Ari sedang berada di atap gedung markas GPI. Keduanya duduk bersandar saling berbagi punggung. “Langit malam di pesisir selalu seindah ini.” ucap Tita.

“Hey kak, kau lihat kumpulan cahaya di arah selatan sana?” tanya Ari sembari menunjuk pada kumpulan lampu kecil yang berada jauh di depannya.

“Hmm?” Tita beranjak dari duduknya dan kini berdiri di samping Ari. Tita tampak sedikit memicingkan mata melihat arah yang di tunjuk oleh Ari. “Ya aku melihatnya, itu gedung pusat pemerintahan kan? Tak kusangka bisa sejelas ini melihatnya.” jawab Tita.

“Tentu saja, gedung mereka berada di pegunungan. Jadi bisa terlihat jelas dari kejauhan. Tapi maksudku, kita berada sedekat ini dengan markas pusat. Kita bisa saja kabur kesana dan melaporkan semua ini, mungkin besok sore kita sudah sampai.” jelas Ari.

“Maksudmu melaporkan tentang orang tua kita dan tentang rencana penyerangan? Itu sungguh kejam, Ari.” Tita tampak terpancing oleh ide Ari.

“Hey, aku tidak biasanya mendengarkanmu bicara tentang belas kasihan? Meskipun itu terkait dengan orang tua kita.” ucap Ari menggerutu.

“Haha aku hanya bercanda, Ari. Kau tau kan aku juga saat ini juga merasa bimbang sepertimu.” ucap Tita dengan tersenyum dan kemudian duduk disamping Ari. “Ini memang sebuah pilihan yang sulit. Kita tidak bisa membohongi hati kita bahwa kita ingin berkumpul kembali dengan keluarga kita. Tapi di sisi lain, kita telah dilatih untuk setia dengan pemerintah. Kita tidak bisa semudah itu membelot dari negara yang sudah membesarkan kita.”

Ari hanya terdiam, tiba-tiba air mata menetes dari matanya tanpa dia sadari. “Hey, kau menangis ya.” ucap Tita yang segera mengelap air mata Ari.

“Tentu tidak! Ini karena udara pantai yang mengandung garam.” elak Ari yang kemudian menjauhkan tangan Tita.

“Haha sudahlah jangan mengelak, tidak apa-apa untuk menangis, itu manusiawi.”

“Aku tidak mau memikirkan tentang hal itu. Aku masih ingin bertemu mereka.” ucap Ari datar.

“Bingo, aku menunggumu untuk berkata seperti itu. Lalu bagaimana sekarang?” tanya Tita.

 “Maksudmu?” tanya Ari keheranan.

“Apa kita akan diam disini saja atau kita masuk kedalam dan menemui mereka?” Tita berbalik bertanya.

“Ide bagus, aku setuju denganmu.” jawab Ari dengan senyum lebarnya.

***

            Tita dan Ari sedang berdiri di depan ruangan pemimpin GPI. Suasana di dalam gedung itu cukup sepi. Sesekali beberapa staff GPI berjalan melewati Tita dan Ari. Mereka merasa tidak nyaman dengan suasana ini.

“Kau saja yang melakukannya.” perintah Ari kepada Tita.

“Okey.” jawab Tita dengan ringan dan mengangkat bahunya.

Tita kemudian memencet sebuah tombol di samping pintu itu. Sebuah bunyi berdengung muncul dari speaker yang berada di bawah tombol tersebut. Tak lama terdengar sebuah rekaman suara dari speaker tersebut.

“Oh hai anak-anak, aku sudah mengira kalian akan datang kemari. Tapi mohon maaf kami sedang tidak bisa diganggu saat ini, kami sedang mempersiapkan rencana penyerangan. Kami berharap bisa bertemu dengan kalian secepatnya, mungkin besok pagi. Maaf yaa.” terdengar jelas suara Widya di rekaman tersebut. Tak lama kemudian, bunyi dengunan kembali terdengar dan menghilang. Mendengar pesan suara tersebut, Tita dan Ari hanya saling bertukar pandangan dengan tatapan sedih.

 “Seperti dugaanku.” ucap Tita pelan sambil menundukkan kepala.

“Aku masih ingat betul dengan sikap mereka dulu, mereka telah berubah.” keluh Ari.

“Mungkin pengalaman-pengalaman buruk mereka yang membuat mereka seperti sekarang ini?” ucap Tita sambil tersenyum kecil dan menoleh kepada Ari. Ari hanya mengangkat pundaknya.

            Tita masih berdiri mematung di depan pintu tersebut, hingga Ari memecah lamunannya saat mendapatkan sesuatu. “Hei kak, lihat itu!” Ari menunjuk ke arah ujung lorong, Tita segera menoleh mengikuti arah Ari menunjuk.

Tampak beberapa orang staff GPI keluar dari sebuah ruangan yang bertuliskan PUSAT DATABASE. Tita segera berbalik menoleh kepada Ari. Mereka berdua saling bertatapan cukup lama. Lalu Ari mengangguk pelan menjawab pemikiran mereka yang sama, dan Tita membalasnya dengan senyuman.

            Di dalam ruang yang dipenuhi komputer itu Ari sibuk memainkan jarinya diatas keyboard salah satu komputer, sedangkan Tita mengawasi sekitar.

“Selesai.” ucap Ari sembari mengangkat kedua tangannya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.

 “Wow, cepat sekali. Sepertinya bakat meretas milik ibu memang terwariskan padamu.” ucap Tita dengan tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak Ari.

 Ari melirik Tita. “Kita bahkan tidak akan bisa masuk ruang ini kalau kau tidak membobol pintu ruang ini dan mengalihkan CCTV untuk sementara.” ucap Ari sambil tersenyum kecil. Tita hanya mengangguk-angguk pelan dan memanyunkan mulutnya.

“Okey, sekarang apa yang harus kita cari?” tanya Ari kepada Tita.

“Ayolah jangan bercanda. Justru aku yang seharusnya bertanya padamu.” ucap Tita sembari tangannya menggerak-gerakkan mouse untuk membuka data-data di komputer itu secara acak. Ari memicingkan matanya lalu menyingkirkan tangan Tita dari mouse. Kali ini Ari dengan serius membuka-buka dan meretas data-data yang ada di komputer tersebut.

            Beberapa saat berlalu, Ari masih sibuk mencari-cari data di komputer. Begitu juga dengan Tita yang sesekali memperhatikan sekitar dengan waspada. “Ah sepertinya percuma.” ucap Ari dengan tidak memalingkan pandangannya dari layar komputer.

Mendengar ucapan Ari, Tita segera duduk di samping Ari dan ikut memperhatikan komputer dengan seksama. “Maksudmu?” tanya Tita kepada Ari.

“Semua data ini tidak berguna, kita sudah tau semuanya, lihat ini!” tunjuk Ari pada sebuah kumpulan data. Tita memperhatikan data-data tersebut dengan seksama. “Semua ini adalah data rencana penyerangan GPI ke pemerintah. Selain ini hanya data-data masa lalu. Salinan berkas perjanjian pemerintah sebelum perang, dan bukti-bukti bahwa pemerintah saat ini tidak ada bedanya dengan pemerintah dulu. Semua ini kita sudah mengetahuinya bukan?” keluh Ari merasa kecewa.

“Mungkin kau perlu lebih teliti, Ari.” ucap Tita yang kini mengambil alih mouse dan membuka satu persatu data yang sudah diretas oleh Ari. “Hei tak kusangka orang-orang di sini suka dengan musik dangdut, sekarang aku tau kenapa Roy suka dengan musik dangdut.” ucap Tita dengan tersenyum kecil.

Ari hanya melirik Tita dengan sinis, tampak Tita sedang membuka sebuah folder bertuliskan dangdut, di folder tersebut berisi lagu-lagu dangdut yang begitu banyak.

 “Fokus Tita. Kau bilang padaku untuk lebih teliti, tapi sekarang kau malah membuka folder tidak penting macam itu. Dan lagi jangan ingatkan aku dengan si brengsek itu!” ucap Ari menggerutu.

“Hey ngomong-ngomong aku tidak melihatnya sejak kita pertama datang kemari. Apa separah itu lukanya?” ucap Tita sambil menoleh kepada Ari.

“Aku tidak peduli. Kalau bertemu dengannya akan kubuat dia kembali ke ruang perawatan!” ucap Ari dengan ketus. “Ayolah kak, fokus pada apa yang ingin kita cari. Sebuah data penting, atau data baru. Jangan membuka data yang semakin menjuruskan kita untuk membelot dengan pemerintah, atau bahkan data yang tidak pen…” ucapan Ari tiba-tiba terhenti.

“Hey apa yang..” belum selesai Tita berbicara, tiba-tiba Ari menyela.

“Yang kita tahu, sebelum si brengsek itu dirawat, dia ada di ruangan ini kan?” ucap Ari penuh semangat dan kini mengambil alih keyboard dan mouse. Tita langsung mengangkat kedua tangannya dan wajahnya tampak sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Ari.

“Seperti yang kau bilang tadi. Roy itu sangat suka musik dangdut, dan akan sangat janggal di komputer pusat seperti ini ada yang menyimpan lagu-lagu dangdut bukan?” ucap Ari tanpa berpaling dari komputer, tampak jari-jarinya meretas data lebih cepat dari biasanya. Tita tampak terkejut, ia akhirnya mengerti dengan apa yang diucapkan Ari, dia seketika ikut memperhatikan tiap data yang Ari retas.

“Bingo!” ucap Ari puas. “Wow, aku tidak mengira ada data seperti ini di dalam folder lagu-lagu dangdut ini. Ini pasti ulah…” Ari kembali menyela ucapan Tita “Roy.”

“Aku tidak percaya dengan semua ini…” ucap Tita terbata, dia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Ari hanya terdiam membisu, tubuhnya bergetar. Tampak di layar komputer sebuah video terhenti yang menampakkan wajah Roy. “Aaarrh!!” Ari menjerit dengan melempar keyboard di depannya.

 “Ari, tenanglah!” perintah Tita kepada Ari.

Ari berusaha menenagkan diri, napasnya terengah-engah. “Tita, kita sudah dibohongi! Semua ini palsu, kenapa semua ini harus terjadi? Aku sudah muak, kak! Aku sudah muak!” ucap Ari penuh amarah.

Tita kemudian bangkit dari duduknya dan menepuk-nepuk pundak Ari dengan lembut. “Tenanglah Ari, tidak ada gunanya kau mengamuk disini. Kita harus menemui mereka, tidak ada cara lain. Kita akan masuk secara paksa.” ucap Tita berusaha menenangkan Ari.

Tak disangka sebuah suara tepukan tangan terdengar dari belakang mereka. Tita dan Ari dengan bersamaan menoleh kebelakang, tak disangka pintu ruang database itu telah terbuka, dan di luar pintu tampak Rini berdiri dengan tenang mentap mereka.

“Kau!” teriak Ari yang bersiap akan menerjang Rini tapi tertahan oleh Tita.

“Sudah berapa lama kau berdiri disana?” tanya Tita kepada Rini.

“Cukup lama, cukup lama untuk mengetahui apa saja yang kalian lakukan di ruangan ini.” ucap Rini dengan tenang dan menampakkan senyumannya yang mengerikan.

“Apa semua ini benar? Semua yang kami dengar dan kami baca?” Tita kembali bertanya.

“Aku tidak tau, yang jelas aku hanya menaati perintah dari pak Arman dan bu Widya.” jawab Rini sembari menyulut rokoknya.

Tita hanya terdiam mendengarnya. “Apa yang terjadi pada Roy?” bentak Ari.

“Oh kukira kau benci dengan bocah itu dan sudah tidak peduli dengannya.” ucap Rini dengan rokok yang masih terjepit di mulutnya. “Biar kukatakan yang sebenarnya, bocah itu sudah merasakan akibatnya karena membelot. Dan aku telah mengarang semuanya supaya kalian mau bertahan disini, tentu dengan instruksi dari ketua kami.” ucap Rini dengan nada mengejek.

***

            Roy sedang asik meretas data di ruang database GPI. Roy tersenyum, ia tampak senang meretas data-data yang ada di komputer tersebut, sesekali dia melihat ke tampilan kamera CCTV, dia memperhatikan Tita dan Ari yang sedang berusaha menyusup ke markas pusat GPI. Tiba-tiba wajah senang Roy berubah menjadi serius, ia menemukan sebuah data tersembunyi di komputer tersebut. Roy pun segera meretas sistem keamanan data tersebut. Sistem keamanan akhirnya berhasil tertembus, Roy segera membuka satu persatu data yang ada. Setelah selesai membaca semua data yang telah ia retas, Roy seketika terkejut, ia mematung, pandangannya kosong menatap layar komputer tersebut.

            “Ini tidak bisa dibiarkan. Mereka harus tau!” ucap Roy yang tiba-tiba tersadar. Roy segera menyalin semua data, tiba-tiba pandangan Roy teralihkan dengan sebuah gambar di tampilan kamera CCTV. Tampak Rini sedang berjalan di sebuah lorong. Wajah Roy segera berubah penuh ketakutan, ia meraba-raba bajunya mencoba mencari sesuatu tapi tidak ditemukan. “Sial!” umpat Roy yang segera kembali mengutak-atik komputer, tak berapa lama muncul tampilan webcam dari komputer. Roy merekam dirinya sendiri.

 “Hai Ari, Tita. Kalau kalian melihat video ini artinya misi kita gagal. Maafkan aku, aku gagal menjalankan apa yang kalian perintahkan. Tapi kumohon jangan pencet tombol itu, aku masih ingin hidup. Okey langsung saja, aku akan menyimpan video ini bersama beberapa data penting yang tidak sengaja aku temukan. Kalian harus membaca sendiri data itu, karena kalian pasti tidak akan percaya kalau mengetahuinya dari orang lain, apalagi dariku. Sepertinya cukup sampai disini, waktuku tidak banyak lagi, sampai jumpa!” Roy menyelesaikan rekaman videonya, tampak wajahnya penuh kesedihan. Roy segera menyimpan video tersebut bersama data-data penting yang ia temukan, tampak Roy menyembunyikan pesannya di dalam sebuah folder berisi lagu-lagu dangdut yang ia sukai. Roy yang sedang mengutak-atik komputer tiba-tiba dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka. Wajahnya yang selalu penuh kebahagiaan seketika berubah pucat. Ia berusaha tersenyum dan tampak tenang, ia kemudian memutar kursinya ke belakang untuk menatap orang yang membuka pintu tersebut, orang itu adalah Rini.

            “Apa yang kau lakukan?” tanya Rini pada Roy.

“Tidak ada, aku hanya sedang berusaha menyalin lagu.” jawab Roy yang berusaha tampak tenang.

Rini beranjak menuju komputer di belakang Roy. Ketika Rini tepat berada di sampingnya, Roy terlihat begitu ketakutan, keringat dingin bercucuran di wajahnya. Tampak Rini sedang mengutak-atik komputer tersebut.

“Bagaimana misinya? Apakah berhasil?” tanya Rini yang masih memperhatikan layar komputer.

“Ah misi ya, aku sedang kembali sebentar ke markas, sudah kubilang kan aku berusaha mendengarkan lagu, akan tidak terbiasa melakukan perjalanan tanpa lagu hehe.” jawab Roy dengan ketakutan.

“Oh bagus.” ucap Rini perlahan sembari beranjak dari komputer tersebut dan kini tepat berada di depan Roy. Roy semakin ketakutan, ia hanya meringis menatap Rini. “Hey, apa itu yang terpasang di lehermu?” tanya Rini sambil menatap kalung penuh kabel yang ada di leher Roy.

“Oh ini.. i.. ini..” jawab Roy terbata. Rini tak menghiraukan Roy dan tiba-tiba  menempelkan sebuah alat ke kalung di leher Roy. Seketika sebuah bunyi desisan terdengar dan kalung itu terlepas dengan sendirinya. Roy yang sebelumnya tampak ketakutan kini tampak lebih lega. Setelah melepaskan kalung Roy, Rini kemudian memasukkan alat yang ditangannya ke dalam saku. Tiba-tiba Rini menyergap Roy. Rini mencekik leher Roy dengan kencang dan mendorongya sampai kursi yang diduduki Roy condong kebelakang bersama tubuhnya. Roy yang sudah merasa lega tiba-tiba terhenyak, wajahnya sangat tersiksa dan ketakutan karena dicekik oleh Rini, dia tak mampu berbicara satu katapun.

“Kau pikir aku sebodoh itu? Kau pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan, kau membelot dan membiarkan mereka masuk, betapa bodohnya kau mau menjadi anjing peliharaan mereka!” hujat Rini pada Roy sambil semakin kencang mencekiknya. Roy tidak berkutik dia tidak bisa melawan, tangannya berusah melepaskan cekikan Rini. Roy semakin lemas, ia semakin tidak bisa melawan, wajahnya memucat dan tubuhnya lemas, seketika ia tak sadarkan diri di tangan Rini. Melihat apa yang terjadi pada Roy, Rini pun melepaskan cekikannya dan hanya menatap Roy dengan senyumannya yang mengerikan.

***

            “Kau…kau membunuhnya.” ucap Tita dengan meneteskan air mata, dia tampak terpukul, ia memeluk erat Ari. Rini hanya tersenyum mendengar ucapan Tita, dia menghembuskan asap dari mulutnya.

“Aaaah jangan menggap kami sejahat itu. Tentu saja dia masih hidup. Kami berterima kasih padanya karena telah membawa kalian kemari, maka kami membiarkan dia hidup, tapi kami terpaksa memenjarakan dan menyiksanya sebagai hukuman.” ucap Rini dengan tenang. Rini kemudian berjalan perlahan menuju pintu, mendekati Tita dan Ari.

 “Tapi karena ternyata dia tidak sebodoh yang kupikirkan, dan dia telah membocorkan sebuah data penting pada kalian, lebih baik aku habisi saja dia nanti haha!” kelakar Rini yang menghentikan langkahnya tepat di depan pintu.

“Bangsat kau!” teriak Ari. Ari berhasil melepaskan diri dari pelukan Tita yang melemah, Ari seketika berlari hendak menerjang Rini, tapi tiba-tiba dari sisi kanan dan kiri Rini muncul beberapa pasukan GPI yang langsung menghentikan laju Ari dan menghajarnya. Ari tak tinggal diam, dia seketika membalas serangan dari para pasukan GPI tersebut, baku hantam tak terelakkan. Rini hanya memperhatikan dengan tenang lalu beranjak pergi. Ari tak memperhatikan bahwa Rini telah pergi dari tempat itu, ia dengan membabi buta bertarung melawan sekitar sepuluh orang pasukan GPI. Tita menyadari kepergian Rini, dia segera menghapus air matanya dan ikut membantu Ari bertarung melawan pasukan GPI.

***

            Seorang pria sedang tak sadarkan diri, tubuhnya terikat oleh rantai, tempak di tubuhnya dipenuhi banyak luka yang masih basah dan berlumuran darah. Pria itu terikat oleh rantai pada sebuah dinding di sebuah ruangan sempit yang gelap, hanya sebuah lampu kecil berkedip tidak stabil yang menerangi ruang itu. Pria itu adalah Roy yang menerima hukuman siksaan dari Rini. Roy perlahan siuman, ia meringis menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya, ia terasa sangat kesakitan.

“Tolooong! Toloong! Lepaskan aku! Aaaaarrrgh” teriak Roy dengan suaranya yang parau karena menahan sakit. Roy tampak menangis karena ia menyadari bahwa tak akan ada yang menolongnya. Roy tampak menyerah dan pasrah dengan semua yang telah dan akan terjadi. Roy terdiam hanya menangis dan menahan rasa sakit. Tiba-tiba raut wajahnya berubah, dia berusaha menghentikan tangisnya, dia berusaha menggerakkan tubuhnya, berusaha melepaskan diri dari ikatan rantai, dia tak menghiraukan rasa sakit yang ia rasakan. “Aku harus bebas, aku harus keluar! Ah ah ah!” ucap Roy dengan meringis menahan rasa sakit.

***

            Tampak Tita dan Ari terengah-engah kelelahan, mereka berdua berdiri saling membelakangi dikelilingi oleh pasukan GPI yang tergeletak di lantai. “Nenek sihir itu, kita harus mencarinya!” ucap Ari dengan marah.

“Tidak Ari, tidak. Yang harus kita cari adalah ayah dan ibu.” ucap Tita dengan tenang dan menoleh kepada Ari. Ari menatap Tita dengan tajam, Tita hanya membalasnya dengan tatapan yang tak kalah tajam. Tatapan tajam Ari seketika melunak, dan kini ia hanya mengangguk pelan. Tita dan Ari segera keluar dari ruang itu dan menuju ruang orang tua mereka.

            Mereka sampai di depan ruang orang tua mereka, tapi pintu di ruang itu terbuka, Tita dan Ari langsung masuk kedalam ruang itu. Di dalam raung itu tak ada satupun orang di dalamnya, Tita dan Ari kebingungan, mereka saling menatap dan melihat sekitar dengan waspada. Tiba-tiba dari luar ruangan kembali beberapa pasukan GPI masuk kedalam dan menyerang Tita dan Ari. Kali ini Tita dan Ari lebih siap dari sebelumnya, Tita seketika melompat sambil berputar menghadap pasukan GPI yang berada di belakangnya, Tita memegang dua buah senapan yang ia ambil dari pasukan GPI yang  menyerangnya sebelumnya. Sembari melompat Tita menembak kaki para pasukan GPI tersebut, seketika mereka semua berteriak kesakitan.

Ari langsung menerjang satu persatu pasukan tersebut sehingga tak mampu menyerang balik. Pertarungan terjadi lebih cepat dari sebelumnya. Setelah berhasil melumpuhkan para pasukan, tanpa banyak berbicara Tita dan Ari segera pergi meninggalkan ruangan. Tita dan Ari berlari tanpa arah menyusuri lorong, mencari keberadaan kedua orang tua mereka. Ketika sampai di sebuah lorong, Tita dan Ari melihat Rini sedang memasuki sebuah lift. Rini hanya menatap mereka dengan tatapan sinis. Tita dan Ari segera berlari menuju lift, namun mereka kurang cepat sepersekian detik, lift itu pun menutup. Ari melihat lift itu menunjukkan arah naik, Ari segera berlari menuju tangga, Tita pun mengikuti Ari tanpa banyak bertanya.

            Ari dan Tita naik menyusuri anak tangga yang cukup banyak, hingga mereka melihat ujung anak tangga, dimana ujungnya adalah sebuah pintu terbuka, tampak cahaya matahari sudah terbit dan bersinar dari luar  pintu. Samar-samar Tita melihat sesorang dalam kegelapan, tepat di samping pintu. Orang itu lalu keluar melalui pintu tersebut, orang itu jelas adalah Rini, meskipun hanya tampak siluetnya, Tita dan Ari tetap mampu mengenalinya.

Tita dan Ari bergegas mempercepat lari mereka menuju pintu tersebut. Mereka berlari di dalam kegelapan menuju bagian luar pintu itu yang sudah terang. Tita dan Ari akhirnya keluar dari pintu, mereka menuju atap gedung markas GPI itu, di atap itu mereka dikejutkan oleh sengatan cahaya matahAri pagi yang terbit tepat di hadapan mereka. Tita dan Ari perlu beberapa saat untuk menyesuaikan mata mereka, mereka memcingkan mata, samar-samar mereka melihat ada dua sosok di ujung atap tersebut, jaraknya cukup jauh dari Tita dan Ari. Sedikit demi sedikit akhirnya Tita dan Ari mampu melihat dengan jelas, dua sosok yang ada di hadapan mereka ternyata adalah orang tua mereka, Widya dan Ari. Seketika Tita dan Ari terkejut, mereka hanya mematung menatap kedua orang tua mereka.

            “Katakan! Katakan yang sebenarnya!” teriak Tita kepada Arman dan Widya.

“Kalian pasti sudah menemukan data sangat rahasia tersebut. Wah memang anak didikmu itu luar biasa.” ucap Widya sembari tersenyum kepada Arman.

“Sepertinya memang tak ada yang bisa kami sembunyikan lagi. Kalian sudah tau semuanya, mengapa kalian masih saja mempertanyakan itu?” ucap Arman berbalik bertanya kepada Tita dan Ari. Tita menutup mulutnya dengan kedua tangan, tampak matanya berkaca-kaca.

“Katakan! Kami ingin mengetahui kebenarannya dari kalian.” ucap Ari dengan tegas. Arman dan Widya saling bertukar pandang

“Seperti yang telah kami jelaskan pada kalian, anak-anak. Perang yang dulu berkecampuk tak ubahnya adalah ulah pemerintah kita sendiri, dan bahkan pemerintah darurat yang sekarang berkuasa juga menginginkan terjadi perang lagi, sebuah serangan balasan ke Amerika dalam beberapa tahun kedepan. Kami jelas tidak mau perang berkecamuk lagi, perang hanya akan menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan rakyat Indonesia. Dulu kita telah kalah dan mengorbankan banyak hal dari negara ini, apa yang membuat mereka berpikir bahwa kali ini mereka akan menang? Lihatlah kondisi Indonesia sekarang, tak ada sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang layak dipertahankan.” jelas Widya.

 “Tidak ada lagi yang layak kita pertahankan dari negara ini. Hanya ada satu jalan, mengambil alih pemerintahan, menghabisi semua petinggi-petinggi brengsek itu, lalu mengungsikan semua rakyat Indonesia ke negara-negara tetangga yang mau menampung kita.” jelas Arman.

“Te.. ternyata semua ini benar. Untuk apa kalian melakukan semua ini? Untuk apa? Apa artinya Indonesia kalau kalian melakukan semua ini?” Ari bertanya dengan berteriak dan badannya bergetar kencang.

“Demi kebaikan. Demi kebaikan Indonesia. Sebuah negara ada bukan karena keberadaan wilayahnya, tapi karena  negara itu masih diingat dan penduduknya masih mau mengakuinya, dimanapun keberadaannya asalkan kita semua rakyat Indonesia berkumpul, kita masihlah Indonesia.” jelas Widya.

“Untuk apa bertahan di wilayah yang sudah hancur seperti ini? Pengungsian adalah satu-satunya pilihan.” timpal Arman.

“Tidak ini berbeda, kalau seperti ini sama saja kalian menjual negara ini! Aku sudah melihat surat perjanjiannya, bahwa kalian akan mendapatkan bayaran yang cukup tinggi di negara tetangga kalau berhasil melakukan ini semua!” ucap Ari dengan lantang.

 Arman dan Widya hanya tersenyum kecil. “Kalian telah berubah! Kenapa kalian menjadi setamak ini?” kali ini Tita yang berbicara dengan lantang.

“Waktu bisa mengubah semua orang bukan? Sepertinya kalian terlalu lama menjadi anjing pemerintah, sehingga pola pikir kalian menjadi begini. Ayolah anak-anak jadilah lebih realistis.” ucap Widya. Terjadi keheningan yang cukup lama di atap tersebut.

            “Ohana, tidak ada keluarga yang ditinggalkan.” ucap Widya memecah keheningan.

“Baiklah, kesempatan terakhir bagi kalian. Apakah kalian akan mengikuti kami? Jika ini semua sudah selesai, kita bisa berkumpul kembali sebagai keluarga, kita akan hidup bahagia ditengah kemakmuran.” tanya Arman.

“Tidak, kalian bukanlah orang tua kami yang kami kenal dulu.” ucap Tita sembari menahan tangisnya. Ari hanya terdiam dan menatap kedua orang tuanya dengan tajam.

“Oke kalau itu memang pilihan kalian. Maafkan kami karena semua yang menghalangi jalan kami harus kami singkirkan, meskipun itu adalah anak-anak kami sendiri.” ucap Arman. Seperti sebuah tombak yang menusuk tepat di jantung, kata-kata Arman membuat Tita dan Ari sangat terkejut, mereka berdua terdiam mematung di tempatnya berdiri, tak mampu berucap apapun, wajah mereka pcucat, tubuh mereka berdua bergetar kencang, mata Ari tampak berkaca-kaca, sedangkan Tita sudah tak kuasa menahan tangisnya.

“Baiklah, anak-anak kami harus pergi dulu ke baris depan penyerangan.” ucap Widya. Samar-samar dari kejauhan terdengar kehadiran sebuah helikopter. Tita dan Ari tak menyadari kedatangan helikopter tersebut, mereka sangat terpukul sampai tak mampu mendengar apapun. Hingga terpaan angin dari helikopter yang melayang beberapa meter di belakang Arman dan Widya menyadarkan Tita dan Ari dari kondisi mereka.

“Sampai jumpa anak-anak, maaf  kita harus berpisah lagi.” ucap Widya dengan melabaikan tangan kanannya. Arman dan Widya pun berbalik berjalan menuju tangga yang telah diturunkan dari helikopter.

“Ayaaaah…! Ibu….!” teriak Tita dan Ari secara bersamaan. Tita dan Ari akan mengejar orang tuanya ketika tiba-tiba kepala mereka berdua ditodong pistol dari belakang. Menyadari kepala mereka sedang ditodong, seketika gerakan mereka terhenti.

“Maju satu langkah saja, kepala kalian akan meledak.” ucap Rini yang mendong mereka berdua dari belakang. Tita dan Ari sangat terkejut mengetahui keberadaan Rini di belakang mereka, mereka berdua tak berkutik. Arman yang sedari tadi masih belum beranjak dari tempatnya berdiri hanya menatap Tita dan Ari dengan tajam, Arman kemudian berbalik dan mengikuti Widya menuju helikopter.

 “Kenapa ini harus terjadi?” ucap Tita perlahan dengan berlinang air mata.

“Ayah, ibu. Kenapaaa?” Ari berteriak sekencang-kencangnya, matanya juga berlinang air mata. Tita dan Ari hanya bisa terdiam, berteriak sekencangnya memanggil kedua orang tuanya dengan menangis. Arman dan Widya tak menghiraukan panggilan dari kedua anaknya dan tetap berjalan menuju helikopter.

            “Aaaaaarrgghhh!” tiba-tiba terdengar sebuah teriakan yang tak asing bagi Tita dan Ari, mereka kemudian mendengar suara kedua pistol yang ditodongkan kepada mereka terjatuh ke lantai. Seketika Tita dan Ari menoleh, mereka terkejut ternyata Roy dengan badan penuh luka segar dan bersimbah darah sedang mencekik Rini dari belakang menggunakan rantai yang masih terikat di tangannya. Rini tak berkutik, ia terkejut akan kehadiran Roy yang tiba-tiba mencekiknya dari belakang, tangan Rini memukul-mukul kepala Roy berusaha melepaskan cekikannya, tapi Roy tak bergeming, hanya terdengar erangan mengerikan dari mulut Rini, cekikan Roy sangat kuat.

“Roy…!” ucap Tita tak menyangka kemunculan Roy dengan kondisi seburuk ini.

“Nanti saja reuninya, ada yang harus kalian lakukan! Cepat! Biar aku yang mengurus nenek sihir ini!” perintah Roy dengan nafas terengah-engah. Tita dan Ari mengerti apa yang dimaksud Roy, mereka berdua saling bertukar pandang dan kemudian berlari mengejar orang tua mereka, meninggalkan Roy yang sedang bergulat dengan Rini.

“Ayah! Ibu! Hentikan!” ucap Ari sembari berlari. Baru beberapa langkah Tita dan Ari berlari, tiba-tiba mereka terhenti. Tita dan Ari menghentikan langkahnya setelah melihat Widya tiba-tiba berbalik dan menodongkan pistol ke arah mereka berdua. Tita dan Ari tak mampu mengucapkan satu katapun. Lalu tiba-tiba terdengar dua suara tembakan yang meluncur dari pistol yang dipegang Widya. Seketika dunia seperti berhenti berputar bagi Tita dan Ari, keduanya mematung tak bisa mendengar apapun.

Beberapa detik kemudian, ikatan batin sepasang kembar pun mulai menyadarkan mereka, secara naluriah mereka berdua saling memandang dan memperhatikan satu sama lain. Tak ada yang terjadi pada Tita dan Ari, sayup-sayup terdengar sebuah jeritan seorang pria dari belakang mereka. Seketika Tita dan Ari tersadar, dengan bersamaan mereka berdua menoleh kebelakang. Tampak Roy dan Rini tersungkur bersimbah darah, rupanya Widya bukanlah menembak Tita dan Ari, namun menembak Roy dan Rini yang sedang bergulat di belakang. Seketika Tita dan Ari ambruk, mereka menangis sejadi-jadinya, mereka menjerit sekencang-kencangnya.

“Tidaaak!! Ayaaah!! Ibuuu!! Kenapaaaa?” jerit Tita dan Ari bersamaan. Widya hanya terdiam menatap mereka dengan tajam dan kemudian berbalik dan melanjutkan berjalan, Arman hanya menoleh sebentar kemudian melanjutkan jalannya.

            Tidak ada suara apapun yang terdengar di atap itu selain suara baling-baling helikopter yang terbang rendah. Tita dan Ari terdiam mematung, mereka telah kehabisan air mata mereka, Arman dan Widya kini telah mencapai tangga gantung helikopter, tubuh Roy dan Rini tergeletak di tanah dengan dipenuhi darah yang mengalir di lantai.

“Sudah cukup. Sudah cukup penderitaan yang selama ini kami alami. Sudah cukup hidup kami selalu diatur. Mulai sekarang, kami akan berdiri di atas kaki kami sendiri.” ucap Tita dan Ari secara bersamaan dengan pelan dan penuh amarah. Tita dan Ari kemudian bangkit dan berdiri, mereka menatap Arman dan Widya yang tengah menaiki tangga helikopter, Tita dan Ari saling bertukar pandang, mereka kemudian berbalik berjalan menuju jasad Roy dan Rini.

 Tita dan Ari duduk bertumpu pada lutut mereka menatap jasad Roy. “Maafkan  kami tidak bisa membantumu mewujudkan mimpimu.” ucap Tita penuh kasih sayang sembari menutup mata Roy yang masih melotot. Tampak Ari telah kembali berdiri di samping Tita. Tita kemudian juga menutup mata Rini “Kami juga meminta maaf padamu.” ucap Tita berbisik. Tiba-tiba terdengar suara berondongan senjata api, Tita hanya terdiam melihat kedua jasad itu seakan tidak mendengar suara itu.

***

EPILOG

            Tita sedang duduk di atas batu besar di sebuah pantai yang indah. Cahaya senja menyinari Tita yang sedang membaca buku bertuliskan “SEJARAH INDONESIA MASA KEMERDEKAAN”.  Tampak Sesosok pria berjalan mendekati Tita dari belakang.

“Bagaimana? Apakah sudah terkumpul semua?” tanya Tita tanpa memalingkan pandangannya dari buku yang ia baca.

“Baru saja pihak Sulawesi dan Bali sudah setuju. Sudah lengkap.” jawab pria itu. Tita menutup bukunya dan menoleh ke arah pria di belakangnya.

 “Baiklah, berarti sudah siap. Kita bisa berangkat esok hari, Ari.” jawab Tita dengan tersenyum lebar kepada pria itu yang adalah Ari.

 “Kuharap mereka semua terkejut dengan keikutsertaan poros ketiga.” ucap Ari dengan senyum lebarnya sembari menatap cakrawala.

-TAMAT-

ditulis oleh : Antareja

Leave a Reply