Titik Temu (1)

Kalau benar perasaan manusia bisa dibahasakan oleh kata-kata, mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hati Fabian hari ini adalah hambar dan datar. Sudah empat jam lebih Fabian duduk di dalam hall kampus ini, berjajar dengan ratusan wisudawan lainnya. Tepat di belakangnya ada si Nanda, sahabatnya satu-surga-satu-neraka yang ajaibnya bisa menyelesaikan kuliah Masternya bebarengan dengan Fabian.

“Yan, Yayan!” Nanda berbisik ke telinga Fabian.

“Hmm?”

“Nanti ikut bantuin aku ya?”

Fabian memutar tubuhnya menatap Nanda dengan bingung. “Bantuin apaan?”

Nanda nyengir bahagia sebelum menjawab. Lalu tangan kanannya merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah kotak hitam mungil. Ia membukanya perlahan, dan terlihat cincin berwarna perak dengan hiasan permata kecil yang manis. Nanda memperlihatkan cincin itu dengan bangga di hadapan Fabian.

“Ha? I-ini buat…” Fabian masih melongo dengan apa yang ada di depan matanya.

Nanda mengangguk-angguk mantap. “Abis ini, aku mau langsung ngelamar Dian.”

“Anjing!” seru Fabian lantang, yang langsung mengundang tatapan orang-orang di sekitarnya.

“Sssst! Biasa aja kali!” Nanda sigap membekap mulut Fabian, sebelum satu kebun binatang keluar dari mulut sahabatnya itu.

“Abis ini banget ni? Kelar acara wisuda ini?” Fabian kembali berbisik. Nanda hanya mengangguk kegirangan seperti anak anjing mendapat mainan baru. “Mau ngelamar dimana, Naaan? Di parkiran?”

Sedetik kemudian senyum Nanda menghilang, digantikan wajah kebingungan. “Iya ya. Dimana ya enaknya, Yan?”

“Yaelah, makanya disiapin dulu. Mau minta anak orang jangan asal nekat!”

“Justru itu, Yan. Ituu! Cewek paling suka sama yang nekat-nekat. Begitu siap, langsung hap hap desss! Pokok hajaaar. Nah makanya, bantuin ya cari ide kira-kira abis ini enaknya ngelamar Dian dimana. Oke, Bro?” Nanda menepuk pundak Fabian mantap.

Fabian hanya bisa tertawa sambil geleng-geleng kepala. Ide gila Nanda barusan cukup membuat acara wisuda ini sedikit lebih berwarna, setidaknya untuk dia sendiri. Salah satu petugas acara memberi aba-aba kepada Fabian dan Nanda untuk segera berdiri, bersiap menghadap rektor.

“Wisudawan nomor tujuh, Fabian Pratama, M.E.”

Fabian melangkah tegap ke hadapan rektor dan menyalaminya dengan tersenyum. Adegan itu sudah terekam seiring dengan kilauan lampu kamera yang langsung menyambar.

***

Tempat terbaik yang bisa disiapkan Fabian untuk rencana lamarannya si Nanda adalah kios foto salah satu teman fotografernya, Koh Liem, yang kebetulan sedang buka lapak di antara ratusan lapak foto wisuda di parkiran hall kampus. Sekarang tinggal menunggu kedatangan Dian. Fabian sudah melepas baju toganya, topi toga pun ia jadikan kipas untuk mengurangi panas yang membuat keringatnya mengucur deras. Nanda duduk di sebelahnya dengan gelisah. Di saat begini, tanpa cuaca yang terik pun sepertinya sudah berhasil membuat Nanda banjir keringat. Fabian merasa makin gerah melihat penampilan Nanda yang masih mengenakan baju toganya.

“Ini baju toganya dicopot dulu, kek. Panas banget gini, Nan.” Fabian mengulurkan tangannya, yang langsung ditepis oleh Nanda.

“Jangaaan! Pokoknya ntar pas ngelamar Dian aku tetep mau pake baju toga gini.”

“Alah terserah.” Fabian melengos lemas. “Koh Liem, tunggu bentar lagi gapapa ya?”

“Siaaap, aku sih santai, temen lu itu yang kudu ditenangin. Mana ada laki mau ngelamar malah kayak orang kebelet boker begitu.” Koh Liem terkekeh geli melihat Nanda yang semakin gelisah.

Beberapa menit kemudian terlihat sosok Dian dari kejauhan yang berjalan sambil membawa buket bunga di tangan kirinya. Meski dengan jarak yang masih sekian puluh meter dengan kerumunan orang yang menghalangi, tapi Fabian dan Nanda bisa melihat raut muka Dian yang kesal.

“Tuh tuh, mampus deh. Tu mukanya Dian kenapa jadi sewot gitu coba.”

“Mati aku, Yan. Makin grogi aku.”

Nanda langsung tegap berdiri, antara mau menyambut Dian, tapi juga ngeri duluan melihat ekspresi Dian yang sepertinya sudah siap ngomel panjang lebar.

“Ni bocah kemana aja sih daritadi, hah?” Buket mawar di tangan kiri Dian ternyata digunakan untuk memukul Nanda, bukan sebagai hadiah manis perayaan wisudanya. “Aku WA, telpon berkali-kali, gak jelas ada dimana. Sengaja mau ngilang dari aku, iya? Mau ketemu selingkuhan, iya?” Pukulan kedua Dian berhasil merontokkan beberapa kelopak mawar. Fabian melipir. Ini adalah pertengkaran mereka paling dramatis yang pernah disaksikan Fabian.

“Diaan, kamu jangan marah-marah dulu dong, ini sayang banget bunganya jadi rusak begini, Sayang.”

“Bodo! Lagian ini juga bukan buat kamu, buat Fabian. Nih!” Dian menyodorkan buket mawarnya ke Fabian dengan paksa. Fabian hanya bisa pasrah menerima mawar yang sudah rontok itu.

“Kenapa daritadi gak bisa dihubungi? Gak mungkin deh kalo kamu gak cek handphone. Aku tuh muter-muter satu gedung ni, nyariin kamu!” Dian melanjutkan omelannya. “Mama sama Papa mana?”

“Barusan udah pulang, Sayang.” Jawab Nanda pendek.

“Tuh kan. Sampe aku gak sempet ketemu Mama Papa, ntar dikira aku gak dateng ke wisudamu lagi. Kamu ini maunya gimana sih, Nandaaa!”

“Nanda mau ngelamar kamu.” Sambung Fabian tiba-tiba.

Refleks Nanda membekap mulut Fabian. “Suka bocor emang mulutmu ni.” Nanda berbisik di telinga Fabian sambil tangan kirinya masih menutup mulutnya.

Fabian berusaha melepas tangan Nanda. “Ya abis ribut aja. Kalo gak cepet-cepet ngomong ntar Dian makin gak kelar-kelar ngomelnya!”

Dian berkacak pinggang menatap kedua laki-laki di depannya itu. “Ini kalian ngapain, sih?”

“Ya inii, si Nanda mau ngelamar kamu. Dari tadi tu dia sengaja kabur gak pengen ketemu kamu dulu, Grogi dia.” Sahut Fabian lagi tanpa merasa bersalah.

Nanda melotot kesal karena tingkah Fabian. “Haash, emang kampret bener ni orang.” Kemudian Nanda mencoba menatap Dian sungguh-sungguh dan menarik napas panjang.

“Nan?” Dian masih belum menangkap apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia bergantian menatap Nanda dan Fabian, masih tidak mengerti. “Bi, ada apa sih seb…” Kata-kata Dian seketika terhenti saat melihat Nanda mengeluarkan sebuah kotak hitam mungil dari saku celananya. Fabian segera memberi kode ke Koh Liem untuk merekam semua adegan yang semoga berjalan romantis ini.

“Dian Nurdiana, maaf aku gak siapin apa-apa yang mewah buat ini, tapi…” Nanda membuka kotak cincin di tangannya, membuat Dian langsung menganga tidak percaya. “Aku pengen siapin rumah tanggaku sama kamu.”

Orang-orang di sekitar langsung riuh dengan adanya tontonan lamaran ini. Semua langsung mengeluarkan handphone untuk merekam adegan Nanda dan Dian. Teman-teman yang mengenal Nanda dan Dian pun ikut menyoraki,

“Terimaa… terimaa.”

Say yes! Please say yes!”

“Dian, kalo udah bosen sama Nanda sama aku aja, Diaan.”

Kemudian Nanda berlutut di hadapan Dian. “Say yes dong, please. Malu nih lama-lama diliatin begini. Biar cepet kelar ni.”

“Mana ada ngelamar cewek pake maksa gini?”

“Ada kok. Nih aku buktinya. Kamu harus mau, harus nerima.”

Dian tersenyum geli. Setelah menghela napas panjang, ia menganggukan kepala, yang langsung disambut riuh oleh orang-orang yang menjadi saksi lamaran dadakan si Nanda. Fabian tidak merekam momen penting kedua sahabatnya itu, dan tidak ikut menyoraki seheboh teman-teman lainnya. Nanda, sahabatnya yang paling serampangan dengan berani dan gila mau menikahi Dian, itu sudah cukup menjadi momen paling ajaib untuk Fabian. Dalam hatinya tergelitik satu pertanyaan, apakah suatu saat ia bisa segila Nanda?

***

Sehari sebelum Fabian masuk kerja, ia memutuskan untuk menghabiskan sorenya bersama Nanda dan Deki di salah satu café perkebunan ayahnya, Hermawan, salah satu pebisnis sukses di bidang perkebunan kopi dan teh. Hanya ada satu panggilan tak terjawab saat Fabian mengecek handphonenya sore itu, terlihat nama kontak ‘Papa’. Sebenarnya panggilan yang sangat penting, tapi Fabian masih belum berselera untuk memulai obrolan dengan ayahnya. Ia menatap senja di hadapannya sekali lagi. Masih cantik seperti biasa. Botol bir di tangan kanannya masih berisi setengah. Nanda dan Deki di sampingnya pun masih seru ngobrol soal rencana bisnis sepatu kulit mereka.

“Kayaknya nama brandnya emang kudu diganti deh. Yang kemaren gak oke, kurang catchy.” Kata Deki.

“Apa yaa…” Nanda memutar otaknya lagi. “ Nandek!”

“Anjing, ntar malah jadi guyonan lho, diplesetin jadi ngondek, mampus kita.” Sahut Deki protes.

“Daki!” Seru Nanda lagi.

“Buset dah emang ni bocah! Kasih nama yang serius laaah. Nama itu harapan, doa buat dagangan kita supaya laku keras. Malah dinamain Daki.” Nanda dan Fabian hanya bisa tertawa melihat Deki yang mulai putus asa. “Yan, bantuin mikir nama brandnya kek. Kan udah biasa dagangan, udah biasa ngurusin branding. Bantulah kita-kita yang mau mulai bisnis nih.”

Akhirnya mereka butuh masukan dari Fabian, atau yang biasa dipanggil Yayan. Di dunia ini hanya Nanda dan Deki-lah yang memanggilnya dengan panggilan sayang Yayan.

“Hemmm, nama brand gak harus dipaksain dari singkatan nama pemiliknya sih. Nama-nama baru kan juga boleh. Asal sesuai aja sama visi-misi kalian.”

“Ya itu dia yang susah, Yan.”

Fabian berpikir sejenak. “ Kalo HOB aja gimana?”

Nanda dan Deki bertatapan bingung. “Apaan artinya, Yan?”

“H-O-B. HOB. Harapan Orang Banyak.” Fabian menjawab sambil menahan tawa. Ini adalah kata pertama yang melintas di kepalanya tadi. Otaknya masih susah untuk diajak berpikir yang terlalu filosofis seperti mencari nama brand produk sahabat-sahabatnya ini.

Satu detik… dua detik…

“Boleh tu, Dek.”

“Cakep juga ya? The HOB. Harapan Orang Banyak… Oke tuh, Yan.” Sorak Deki.

Giliran Fabian yang melongo. Tak disangka ide asalnya malahnya disetujui begitu saja. “Setuju nih? Gitu aja?”

Nanda mengacungkan jempolnya. “Fix! The HOB. Semoga bener-bener jadi harapan orang banyak ya, Dek?”

“Iyaa, udah itu aja namanya. Males juga mau mikir lama-lama.”

“Yaelaah, usul iseng aja diiyain.”

“Bodo, yang penting usahanya biar cepet jalan. Eh Yan, jadi besok toh mulai ngantornya?” sambung Deki sambil menyulut rokok di mulutnya.

“Iya.” Fabian menanggapinya dengan cuek

Nanda menepuk pundak Fabian. “Semangat dooong. Kan udah enak lulus langsung kerja. Gak ribet-ribet nyari lowongan kerja kesana-kemari.”

Fabian hanya tersenyum tipis. Memang, entah itu seperti keberuntungan buat Fabian atau malah kutukan tiada henti. Di satu sisi, kehidupannya jauh ke depan sudah mapan, karena ditopang oleh bisnis keluarganya. Ia tidak perlu repot memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah lulus kuliah kedua kalinya ini. Tapi di satu sisi, ia jenuh bukan main. Bisnis keluarga adalah terikat. Dengan ikatan yang jauh lebih kuat dibanding perusahaan mana pun, yaitu ikatan darah dan nama baik keluarga. Harus ada yang terus menjalankan. Dan kedua orang tua Fabian tidak punya pilihan lain selain menobatkan anak tunggalnya menjadi penerus dan pewaris tunggal.

“Berat, Nan. Gak segampang itu kalo nerusin bisnis keluarga. Kelihatannya aja mapan, udah enak, gak perlu mulai dari nol lagi. Tapi ya justru itu yang susah. Terikatnya sampe mati.”

“Ya paling nggak dicoba dulu lah. Siapa tau justru lama-lama jadi asik ngurusin bisnis kopi sama teh, kan?” sambung Deki.

Fabian mengangguk-angguk pelan sambil menenggak sisa birnya. Handphonenya berdering lagi, telepon kedua dari ayahnya. Mau tak mau Fabian harus mengangkatnya. Ia sedikit menjauh dari Nanda dan Deki.

“Iya, Pa?”

“Kamu dimana, Bi? Kenapa telepon Papa tadi gak diangkat?”

“Ehm.. Fabian lagi keluar sama Nanda dan Deki, Pa.”

“Inget kan besok kamu udah harus ngantor?”

Fabian menghela napas sejenak. “Iya, Pa. Fabian inget. Besok pagi aku susul Papa di kebun ya.”

“Nggak usah, Bi. Besok pagi kamu langsung ke kantor aja. Papa masih harus standby di kebun sampe besok lusa. Nah, besok itu ada tim dari pihak kontraktor mau meeting lanjutan untuk pembangunan resort di kebun teh kita. Jadi, besok kamu gantiin Papa buat meeting sama mereka, ya?”

“Hah? Yakin nih Fabian yang gantiin, Pa? Kan besok Fabian baru masuk kantor, Pa. Fabian belum sempet belajar apa-apa.”

“Udaaah. Itu cuma rapat evaluasi aja kok, Bi. Buat persiapan pembangunan. Masa gitu aja gak bisa? Besok biar kamu didampingi sama Pak Untung. Papa udah hubungi Pak Untung barusan. Oke?”

Fabian mengusap wajahnya yang makin kusut. “Yaudah, Pa. Besok pagi Fabian ke kantor.”

“Oke. Sampai ketemu di kantor.”

Fabian hendak menutup teleponnya sebelum disela lagi. “Ehm Fabian…”

“Ya, Pa?”

Ada jeda beberapa detik sebelum suara ayahnya melanjutkan. “Makasih ya. Papa seneng kamu mau bantu Papa.” Fabian hanya terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. “Yaudah, Papa lanjut kerja dulu.”

Ayahnya mengakhiri teleponnya lebih dulu. Senja sudah berwarna merah dan sebentar lagi malam. Tapi sepertinya rencana Fabian untuk hari pertamanya besok di kantor masih terasa suram.

***

Fabian melangkah menyusuri lobby kantor yang langsung disambut tatapan mata orang-orang. Penampilannya hari itu lebih pantas dibilang mau berangkat nongkrong daripada berangkat ngantor. Celana jeans biru dongker, kaos putih polos dilapis blazer hitam, dengan sepatu kulit berwarna coklat muda. Fabian mempercepat langkahnya karena mulai jengah dengan banyak tatapan mata menuju kepadanya. Lalu ia melihat sosok pria seumuran ayahnya berdiri di depan ruang meeting.

“Selamat pagi, Pak Fabian. dan selamat datang. Saya Pak Untung.”

Pak Untung menjabat tangan Fabian dengan tegas, seperti menyalami tangan pejabat. “Panggil saya Fabian aja, Pak Untung. Atau panggil Mas juga boleh.”

“Baik. Mas Fabian. Saya asistennya Pak Hermawan, Papanya mas Fabian. Mungkin beliau sudah cerita kemarin kalau selama Mas Fabian di sini, saya yang akan mendampingi selagi Bapak masih monitoring di kebun.”

“Iya, Pak. Papa juga bilang kalau hari ini mau ada meeting sama orang-orang kontraktor. Meetingnya jam berapa ya, Pak?”

Pak Untung melirik jam tangannya. “Yaah, setengah jam lagi lah, Mas. Tapi mungkin lima belas menit lagi mereka udah sampe sini.” Mereka berdua berjalan memasuki ruang meeting. Pak Untung menyodorkan berkas-berkas untuk bahan meeting pagi itu. “Ini yang akan dibahas di rapat nanti, Mas. Cuma ngomongin rancangan terbaru dari mereka, sama perkiraan anggaran terbaru yang akan digunakan untuk pembangunan resort bulan depan.”

Fabian membolak-balik berkas di tangannya dan mengangguk pelan. Pak Untung melihat gelagatnya dan tersenyum. “Gugup, Mas?”

“Ha? Ng-Nggak kok, Pak.” Jawab Fabian kikuk.

“Santai aja, Mas. Pelan-pelan. Saya dan Bapak bakal ajari semuanya, jangan kuatir. Mungkin beberapa minggu di awal jadwal Mas Fabian bakal padat sama beberapa rapat, dan monitoring di lapangan. Itu masih kerjaan gampang kok, Mas.” Pak Untung menepuk pundak Fabian.

Terdengar suara pintu dibuka oleh Anggi, salah satu sekretaris kantor, di belakangnya ada seorang pria sebaya Pak Untung dan seorang perempuan. “Pak Untung, tamunya sudah datang.” Anggi mempersilahkan mereka masuk dan langsung menutup pintu dari luar.

“Oh iya, terima kasih, Anggi. Selamat pagi Pak Lukman. Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk rapat pagi ini.”

“Sama-sama, Pak Untung. Kami justru seneng bisa main-main ke sini lagi. Oh iya, hari ini saya sama Ajeng. Berhubung Pak Andre masih ke luar negeri, Ajeng yang akan menggantikan beliau untuk menangani proyek kita di sini.”

“Oh tentu tidak masalah. Sudah lama semenjak terakhir kali Bu Ajeng ke sini kan? Senang bisa bekerja dengan Bu Ajeng lagi.” Pak Untung bergegas menyalami Ajeng.

“Pak Untung kebiasaan nih, panggil Ajeng saja. Gak usah pakai Bu.” Ajeng tersenyum akrab.

Pak Untung balas tergelak. “Oh iya, maaf saya sering lupa. Dan ini…” Pak Untung menyeret lengan Fabian untuk mendekat. “Perkenalkan tamu spesial hari ini, Pak Fabian. Resmi bekerja di sini mulai hari ini. Anaknya Pak Hermawan, yang akan menggantikan beliau di rapat hari ini, dan mungkin di rapat-rapat berikutnya juga kan, Pak?”

Fabian hanya bisa nyengir. “Yaah, sepertinya begitu.” Ia segera menyalami Pak Lukman dan Ajeng. “Fabian.”

“Ajeng, Pak.” Keduanya saling tersenyum.

“Mungkin bisa kita mulai saja rapatnya?” sahut Pak Lukman.

“Oh, baik. Tentu saja.” Pak Untung segera mengambil tempat duduk diikuti oleh yang lain.

***

Salah satu manfaat bekerja di kantor ini adalah supply kopi dan teh berbagai jenis yang tidak terbatas dan tidak pernah habis. Setiap karyawan bisa ngopi dan ngeteh sepuasnya. Di lantai dua ini juga tersedia satu spot istirahat staff yang didesain mirip coffeshop lengkap dengan mesin espresso dan seorang barista handal bernama Eko yang direkrut khusus sebagai peracik kopi dan teh produk perkebunan untuk menguji kualitas dan cita rasanya. Seluruh staff kantor akhirnya menyebut tempat ini dengan istilah Ekopi, tempat ngopi-ngopi sama Eko. Nyaman sekali untuk sekedar menghabiskan secangkir kopi sambil mengembalikan tenaga dan pikiran yang fresh. Itu yang dilakukan Fabian sekarang. Meeting pertamanya di kantor yang berlangsung dua jam cukup membuatnya jenuh.

“Nambah lagi Latte-nya, Mas?” sahut Eko dari balik bar kecilnya.

Fabian melirik cangkirnya yang kosong. “Kopi tubruk aja deh, Ko.”

“Siaap!”

“Waah, lucu juga ya tempatnya.” Fabian menoleh ke asal suara. Tiba-tiba Ajeng sudah berdiri di ambang pintu sambil mengagumi interior Ekopi. “Ini tempat apa? Café pribadi?”

“Ini namanya Ekopi, Bu. Tempat ngopi-ngopi sama saya, Eko.”

Ajeng mengerutkan kening dan berbisik ragu. “Ehm, namanya sedikit gak nyambung yaa…”

Sontak Eko tergelak. “Saya juga bingung siapa yang pertama kali ngasih nama begitu, Bu. Tapi gak apa-apa lah. Yang penting banyak yang suka. Nah, Ibu mau saya buatkan kopi apa?”

“Kalo teh ada gak? Saya lebih suka minum teh.”

“Oh ada dong, Bu. Sebentar saya buatkan teh spesial buat Ibu.” Ujar Eko sambil tetap sibuk dengan cangkir-cangkirnya. “Silahkan duduk dulu, Bu.”

Ajeng kemudian menyadari sosok Fabian duduk di salah satu sofa. “Eh, Pak Fabian juga di sini.”

“Silahkan, Bu Ajeng.” Fabian mempersilahkan Ajeng duduk bersamanya.

“Gak apa-apa nih, Pak? Saya gak ganggu?”

“Nggak kok. Orang saya juga lagi santai. Kirain Bu Ajeng udah pulang bareng Pak Lukman tadi.”

Ajeng duduk di seberang Fabian. “Oh nggak. Tadi kami gak berangkat bareng. Pak Lukman harus segera kembali ke kantor, dan saya masih ada waktu sejam nih sebelum kembali ke proyek. Waah, kalo kantor saya punya tempat begini, saya pasti betah lama-lama di kantor, Pak.”

Fabian tertawa pelan. “Pertama, panggil saya Fabian. Jangan Pak. Kedua, berhubung kantor saya yang punya tempat begini, berarti Bu Ajeng bakal sering-sering dateng kesini dong?”

“Pertama, saya gak akan panggil Pak kalo Bapak juga berhenti panggil saya Bu. Kedua, tentu saya bakal sering dateng kesini, tanggungan untuk proyek kita masih banyak, lho.” Keduanya tertawa. “Saya sudah cukup kenal Pak Hermawan tapi saya belum pernah lihat kamu di kantor. Memang jarang kesini?” tanya Ajeng penasaran.

“Saya baru selesai S2. Ya mungkin waktu kamu beberapa kali kesini, saya masih sibuk di kampus. Lagipula ini hari pertama saya kerja di sini.”

So?

So… what?

So, gimana hari pertama kerja?” lanjut Ajeng

Fabian terkekeh geli. “Bukannya saya ya yang harusnya tanya begitu ke kamu?”

“Loh, gimana bisa?”

“Ya karena ini hari pertama saya kerja, and that was my first meeting. Jadi, menurut kamu kemampuan bekerja saya di hari pertama gimana?”

Ajeng jadi salah tingkah ketika ditanya balik oleh Fabian. “Oh, okay, kalau menurut sayaa…” Ajeng melirik Fabian yang menatapnya penasaran menunggu jawaban. “Sedikit kaku.”

“Oh ya?”

“Sedikiiit. Sedikit aja kok.” Ajeng tersenyum.

Eko datang dengan dua cangkir minuman. “Kopi tubruk buat Mas Fabian. Dan buat Bu…”

“Ajeng”

“Buat Bu Ajeng, ini teh spesial hasil terbaik dari perkebunan kami dan racikan termantap dari saya.” Eko menyodorkan cangkir kedua ke hadapan Ajeng.

“Waah, wangi banget tehnya. Makasih ya Mas Eko.”

“Sama-sama, Bu. Monggo dilanjut ngobrolnya.” sambung Eko sambil lalu.

Ajeng dan Fabian menyesap minumannya masing-masing. “Gak suka kopi?” sela Fabian.

“Bukan gak suka sih. Ya kalo sekali-kali disuruh minum kopi tetep doyan kok. Tapi memang jauh lebih suka teh. Saya punya kenangan tersendiri dengan teh.”

Keduanya masih menikmati minumannya masing-masing. Fabian melirik Ajeng sekilas dan tatapan mereka bertemu sekian detik. Salah tingkah, Fabian langsung meletakkan cangkir kopinya. “Ehm, kalo kerja sama Pak Lukman? Udah lama?”

“Lumayan, udah jalan dua tahun ini.” Ajeng menyesap tehnya. Ia memperhatikan Fabian sekali lagi. Hatinya terusik dengan pertemuan tiba-tibanya dengan Fabian di kantor ini. “Berat, ya?”

Sorry?” Fabian bingung.

“Berat ya? Tiba-tiba harus melanjutkan bisnis keluarga?” Ajeng memelankan suaranya. Sadar bahwa ini adalah pertanyaan sensitif dan sebenarnya ia tak sopan menanyakannya. Tapi hatinya terlanjur penasaran. Dari pertama kali bertemu pagi ini, Ajeng bisa melihat bahwa tubuh Fabian hanya melakukan apa yang harus ia lakukan, tidak dengan hati.

Giliran Fabian yang hanya bisa termenung. Ajeng menanyakan sesuatu tepat sesuai apa yang ia resahkan hari ini. Ia tertawa pelan. “Keliatan banget ya?”

Ajeng tersenyum. “Cukup terlihat. Keliatan kalo kamu bingung harus ngapain.”

Fabian tidak bisa menyembunyikan kekagumannya pada pengamatan Ajeng. “Padahal saya udah sebisa mungkin keliatan santai lho.”

Yes, I knew that, but still, you can’t hide those feelings from me.

Fabian menghela napas. “Saya gak pernah terlibat bisnis Papa. Saya juga sebenernya gak terlalu tertarik untuk mempelajari perkebunan kopi dan teh. And yet here I am. Gak ada orang lain lagi yang bisa nerusin selain saya, anak satu-satunya Pak Hermawan. Berat? Pasti. Karena kalo udah begini aku gak…”

“Gak bisa berhenti seenaknya?” Ajeng menyela.

Fabian tertegun kemudian mengangguk pelan. Ia tersenyum. “Cukup dari saya. Karena sepertinya kamu udah tau sebagian diri saya.”

What?…No.

“Karena daritadi kamu bisa membaca gelagat saya dari pertama ketemu. Atau jangan-jangan Papa pernah cerita soal saya ya ke kamu?”

Ajeng terbahak. “Nggak kok, cuma nebak-nebak aja sih.”

Well, gantian dong. Tell me about you.”

Which part of me you want to know?” Ajeng tanya balik.

Fabian memutar bola matanya pura-pura berpikir. “Hmm, udah punya pacar?”

Really? Harusnya itu jadi pertanyaan pamungkas lho. Main tembak aja nih Pak Fabian.” protes Ajeng.

“Saya males kalo harus basa-basi. Apalagi kita kan bakal sering ketemu karena satu proyek, saya gak mau pacarmu cemburu sama saya karena kita jadi deket di urusan kerjaan. Males banget.”

Ajeng tidak menyangka bos baru yang terlihat kaku pagi ini ternyata berubah menjadi sosok yang manis dan bisa ngobrol dengan asik juga. “Belum punya. Atau lebih tepatnya males punya mungkin ya, karena saya masih pengen fokus di kerjaan dulu. Gak ada waktu buat kencan.”

“Hmm, iya sih, masuk akal.”

Ajeng menatap Fabian, menunggu-nunggu pertanyaan berikutnya. “Udah? Cuma tanya itu aja?”

Fabian mengangguk mantap.

“Gak asik ah.” Gerutu Ajeng.

Fabian tertawa. “Itu pertanyaan kunci. Your answer describes you a lot already, at least for me.

Ajeng tersipu malu. Ia melirik jam tangannya. “Ya ampun udah jam segini. Saya harus balik.” Ia menenggak sisa tehnya sampai habis.

“Perlu saya antar?” Fabian menawarkan.

“Oh gak usah. Saya bawa mobil sendiri.” Ajeng mengambil tasnya dan segera beranjak. Fabian ikut berdiri. Ia teringat sesuatu dan langsung merogoh dompet di sakunya, mengeluarkan selembar kartu nama baru berwarna cokelat muda dan diserahkannya ke Ajeng. Ajeng menerima kartu nama itu ragu-ragu kemudian tertawa. “Fabian, kalo kamu mau minta nomer Whatsapp-ku pasti aku kasih kok. Gak perlu kasih kartu namamu.” Ia geli sendiri dengan gelagat Fabian.

“Meeting pertama saya sama kamu, ngopi pertama saya hari ini sama kamu, dan itu kartu nama pertama saya, saya pengen kamu juga yang pertama dapet.” Ujar Fabian tegas.

Ajeng tertegun dengan kata-kata Fabian. Entah harus menanggapi bagaimana. “Oh… okay, I’ll keep it.” Ia memasukkan kartu nama Fabian ke dalam tas. “Next meeting, penampilanmu jangan kayak mau berangkat dugem ya?” goda Ajeng sambil melangkah pergi.

“Ajeng…”

“Ya?” Ajeng berhenti dan menoleh.

Nice to meet you.

Ajeng tersenyum. “It’s an honor to meet you too, Pak Fabian.” kemudian ia melanjutkan langkahnya pergi.

Fabian masih berdiri. Masih memperhatikan Ajeng hingga sosoknya menghilang dari pandangan.

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi
foto : Febriyanti Pratiwi

One thought on “Titik Temu (1)

  1. Membayangkan adegan ini dalam imajinasi saya, diri ini berasa memainkan tokoh Ajeng :’) Pak Bos dalam pertemuan pertama bikin dag dig dug seeerrr~

Leave a Reply