Titik Temu (3)

Di toko kecil yang akan resmi dibuka minggu depan, Fabian memasang rak-rak kayu untuk display sepatu, dibantu Deki dan Nanda, si empunya toko. Sejak beberapa hari lalu, ketiganya kerja bakti membersihkan interior toko supaya sesuai konsep yang diinginkan Deki.

“Untuk stok sepatu pas opening udah ready kan, Ki?” tanya Fabian yang masih bertengger di atas tangga, memasang kayu terakhir.

“Aman lah, Yan. Menurutmu jumlahnya udah cukup belom ya?”

“Kalo untuk display sama stok toko sih aman, yang kudu jaga-jaga stok untuk pembelian online, Ki. Pasti langsung banyak tuh yang order.” Perlahan Fabian turun dari tangga. “Mulai besok lusa, semua portal pembelian online kudu udah aktif. Adminnya jadi Dian kan, Nan?”

Nanda mengangguk. “Sekalian besok lusa udah promote lewat instagram kali ya? Buat cek ombak juga.” Tambahnya.

“Kalian beneran yakin nih mau opening minggu depan?”

“Yakin.” Sahut Nanda dan Deki bersamaan.

“Masalahnya si Nanda kan lagi ribet ngurusin nikahan, takutnya kalo ditambah urusan toko malah makin stress. Terutama si Dian. Saranku sih mending Dian jadiin supervisor, soal rekap order, stok, sama finance cari orang lain aja. Jadi Dian tinggal terima laporan rutin.”

Kedua sahabatnya itu hanya termenung mendengar saran Fabian. Kemudian Nanda tersenyum penuh arti, tetap memandang Fabian. Deki pun ikut tertawa sambil mengangguk-angguk, bisa menangkap maksud Nanda.

“Apaan?” Fabian bergantian menatap keduanya tak mengerti.

“Bahkan gak perlu ngomong apa-apa, aku sama Deki udah sepakat nih.”

“Yoi!” sahut Deki mantap.

Fabian masih mengerutkan kening. Sesaat kemudian ia tersadar. “Kampret! Gak mau! Kerjaanku di kantor udah mulai numpuk!”

“Ayolah, Yan. Paling nggak bantu dua atau tiga bulan awal doang. Sekalian ajarin kita nyusun SOP toko.” Rayu Deki.

“Lah kalian yang punya toko, ya kalian sendiri lah yang bikin SOP. Biar langsung belajar sendiri.”

“Gak asik ah. Kita tuh lebih hoki kalo ngapa-ngapain bertiga, Yan.” Gumam Nanda.

“Yaelah, kayak yang aku kerja di kota lain aja sih. Kan kapanpun kalian butuh bantuan, aku siap. Tapi ya jangan semua-semua aku dong, kalian kudu berani ambil keputusan sendiri mulai sekarang.”

Deki menunjuk wajah Fabian. “Tapi pas opening kudu dateng ya? Awas lho kalo gak dateng.”

”Yoi, Yan. Wajib. Biar ada daya tarik lainnya.”

“Maksudnya?”

“Maksud Nanda biar ada tampang yang lebih menjual. Jadi ntar kamu yang jaga kasir pas opening.”

“Nah!”

Fabian melengos, mengusung tangga ke luar toko. “Emang keterlaluan dah kalian. Sukanya jual temen.”

Sepeninggal Fabian, Nanda dan Deki hanya saling pandang. “Baru kali ini sih, ada orang ganteng tapi gak nyadar kalo dia ganteng.” Ucap Deki.

“Giliran kita berdua yang nyadar, malah doyan manfaatin tampangnya dia. Kasian ye tu anak?”

Keduanya terbahak.

***

Sejak pukul enam pagi tadi, Fabian sudah mengelilingi kebun kopi. Dimulai dengan jogging, sampai mengawasi persiapan panen para petani. Mungkin inilah satu-satunya alasan yang membuatnya senang bekerja di perkebunan Papanya. Setiap sudut kebun selalu berhasil membuat Fabian betah berlama-lama. Kembali ke pos utama, Fabian melihat Papanya sedang mengamati proses sortir biji kopi. Ia melepas earphonenya. “Pa, pagar-pagar pengaman di perbatasan kebun banyak yang rusak. Kira-kira masih ada oknum pencuri lagi gak ya?”

Papa hanya menghela napas pasrah. “Gak heran, Bi. Menghalau mereka itu susah. Gak bakal bisa hilang tuntas. Adaaa aja akalnya untuk tetep bisa nyuri kopi di kebun kita.”

“Terus? Masa kita diem aja, Pa?”

“Ya udah lah, biarin. Toh yang mereka curi biji yang belum mateng. Gak bakal mempengaruhi kualitas kopi kita.” Sahut Papa santai.

“Ya gak bisa gitu dong, Pa. Ujung-ujungnya malah kita yang rugi.”

Papa hanya tersenyum. “Bi, mungkin secara tertulis memang kita yang memiliki kebun seluas ini. Tapi yang paling utama, Papa pengen perkebunan dan pabrik kita bisa bermanfaat untuk orang banyak, terutama masyarakat sekitar perkebunan.”

Fabian mengedarkan pandangan. Hiruk-pikuk pekerja yang berlalu-lalang semuanya adalah warga sekitar kebun yang menggantungkan hidup mereka pada pekerjaan di kebun atau pabrik.

“Termasuk kalau memang ada yang mencuri, asalkan tidak merusak, tidak mengambil berlebihan apalagi sampai merugikan kita, ya sudah biarkan aja. Kamu pikir hasil kebun kita baru-baru ini sering dicuri? Mulai jaman kamu masih kecil ya udah sering banget banyak yang ngambil, Bi.”

Fabian berdecak. “Kalo sampai mereka merugikan kita, Fabian yang bakal menindak tegas, Pa.” Ia melanjutkan joggingnya kembali menuju rumah.

“Katanya nanti ada Bu Ajeng mau kesini, jadi?”

“Jadi, Pa.” teriak Fabian di tengah larinya.

“Ajak dia ke pabrik dulu, ketemu Papa di sana.” Papa balas berteriak.

Fabian hanya mengacungkan jempolnya.

***

Ajeng baru saja datang dan langsung menghampiri meja Maya. “Pagi, May.”

“Pagi, Mbak Ajeng.” Maya menyerahkan beberapa berkas laporan sambil mengamati penampilan Ajeng. “Cantik banget hari ini, Mbak. Ada acara apa emangnya?”

Ajeng membolak-balik lembaran di tangannya. “Ya ngantor lah.”

“Kok beda banget rasanya hari ini. Lebih bersinar gitu.”

“Biasa aja ah.” Ajeng tersipu. “Oh iya, titipan dari Pak Andre mana?”

“Bentar lagi aku email ya, Mbak? Pesen dari Pak Andre sih suruh kroscek budget dengan draft terbaru.”

“Oke, segera ya, May. Biar langsung aku kerjain pagi ini. Soalnya nanti jam 10 aku ada janji sama Pak Fabian.”

Mulut Maya membentuk huruf O besar dan tersenyum lebar.

Ajeng menangkap ekspresi itu. “Kenapa, May?”

“Pantesan hari ini keliatan cantik banget. Ternyata ada janji sama Pak Fabian toh.” Goda Maya. “Hati-hati, Mbak Ajeng. Jangan sampe ketiduran lagi ntar di mobil Pak Fabian.”

“Apaan sih. Udah ah, aku ke mejaku dulu.” Ujar Ajeng menutupi salah tingkahnya.

Hingga hampir dua jam berikutnya, Ajeng tidak beranjak dari kursi dan layar laptop. Sesekali ia dibantu Maya mencetak berlembar-lembar laporan terbaru untuk ditandatangani. Jari-jarinya masih sibuk mengetik ketika Maya menghampirinya lagi.

“Mbak, Pak Fabian udah dateng tuh.”

Ajeng langsung melihat jam tangannya. Menyadari Fabian datang setengah jam lebih awal. “Kok udah dateng sih, May? Kan masih setengah jam lagi.” Ajeng buru-buru mengecek kerjaannya sekali lagi. “Kurang dikit lagi nih.”

“Udah tinggal aja gak apa-apa, Mbak. Biar aku yang rapiin nanti sebelum dikirim ke Pak Andre.”

“Oke tunggu, ini lagi aku kirim ke emailmu.” Buru-buru ia mengirim email dan segera menutup laptop. Ia beranjak dari kursi tak lupa membawa tasnya, berjalan menuju lobi ditemani Maya.

“Makasih banyak ya, May. Ntar jangan lupa kalo udah selesai…”

“Nyiapin back up data?” tebak May.

Ajeng tersenyum puas. “Gak tau lagi deh kalo partner kerjaku bukan kamu, May. Kamu jangan sampe resign ya? Aku males kerja kalo gak ada kamu.”

“Alaah, kalo kliennya model begitu sih pasti bakal tetep semangat kerja kan, Mbak?” Maya mengerling ke arah Fabian yang duduk di sofa lobi. Ia lebih dulu menyapa Fabian. “Maaf menunggu lama ya, Pak Fabian.” Ia tersenyum ramah.

“Oh iya… “ Fabian beranjak dari duduknya dan terkesima melihat Ajeng yang muncul di balik punggung Maya dan kini berdiri tepat di hadapannya. “Anu… i-iya gapapa, makasih ya, Bu Maya. Dan… tolong panggil saya Mas saja.”

Ajeng dan Maya saling pandang sejenak sebelum Maya pamit pergi. “Kalau begitu silahkan dilanjut urusannya dengan Bu Ajeng, Mas Fabian. Saya harus kembali ke dalam.” Ia mengangguk sopan dan meninggalkan mereka berdua.

Ajeng tak bisa menahan keinginannya untuk melihat penampilan Fabian. “Kali ini… kontras dibanding terakhir kali kita ketemu ya?”

Fabian ikut menunduk memperhatikan penampilannya yang memakai celana hitam selutut, polo shirt warna biru dongker, dan sepatu hiking warna cokelat. “Yaah begitulah…” ia memandang Ajeng. “Kontras juga dibanding penampilanmu.” Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ehm, yaudah kita berangkat sekarang yuk? Kebetulan Papa udah nunggu di pabrik.”

Keduanya berjalan menuju mobil Fabian. “Oh ada Pak Hermawan juga?”

“Iya, kalo lagi panen gini pasti Papa standby.”

“Beliau apa kabar? Sehat kan?”

Fabian tersenyum. “Kamu liat sendiri aja nanti.” Ia masuk ke dalam mobil, disusul Ajeng.

***

Mobil Fabian sudah memasuki area pabrik yang siang itu terlihat sibuk.

“Kalo saya jadi kamu, kayaknya saya bisa memahami kenapa berat banget rasanya mau meneruskan posisi Pak Hermawan. Punya pekerja sebanyak ini memang tanggung jawab yang besar sih.” Ucap Ajeng tiba-tiba.

Fabian meliriknya sekilas dan tersenyum. “Setidaknya ada yang bisa memahami perasaan saya sekarang.” Ia memarkir mobilnya di dekat gerbang masuk. Setelah mobilnya berhenti sempurna, tangan Fabian meraih sesuatu di jok belakang. “Sebentar, saya punya sesuatu buat kamu.” Ia menyerahkan sepasang sandal jepit berwarna kuning cerah, masih terbungkus rapi di dalam plastik.

Ajeng menerimanya dengan wajah bingung. “Ini…?”

“Jalanan di pabrik dan kebun tidak didesain untuk sepatu high heels.” Fabian perlahan menjelaskan. “Sedangkan hari ini kita berencana mau keliling ke banyak tempat, saya rasa lebih baik kamu pake sandal jepit aja. Daripada sepatumu rusak, atau kakimu keseleo.”

“Ah…” Ajeng tersenyum lebar, ia mengangguk setuju. “I see.” Ia melepas sepatunya dan berganti memasang sandal jepit. “Pantesan kamu pakai sepatu hiking. Kirain karena salah kostum lagi. Harus banget warna kuning nih?”

Fabian tertawa. “Kuning kan warna bahagia.”

Sandal kuning itu melekat pas di kaki Ajeng. Ia memainkan jari kakinya yang kini bisa bergerak bebas. “Sepertinya kamu memang punya mata yang cermat.”

Fabian hanya tersenyum. “Sepatumu ditaruh sini aja, aman kok. Yuk?” ia membuka pintu mobilnya.

Lagi-lagi Ajeng menarik napas dalam-dalam untuk mengatur emosinya. Entah harus berapa kali lagi ia akan menghadapi senyuman mematikan itu. Ia turun dari mobil mengekor di belakang Fabian. Dari kejauhan terlihat Pak Hermawan yang sudah berdiri menyambut.

“Selamat datang, Bu Ajeng. Akhirnya main kesini lagi ya.” Pak Hermawan menjabat tangan Ajeng erat.

Ajeng melihat-lihat kondisi pabrik yang kini terlihat lebih rapi. “Iya, Pak Hermawan. Banyak perubahan ya dari yang terakhir saya lihat.”

“Yaa beginilah, Bu. Coba diperbaiki dan diperbarui pelan-pelan. Tapi ya PR renovasinya memang masih banyak yang belum selesai.”

“Bapak sendiri gimana kabarnya? Sehat, kan?” Ajeng kembali memperhatikan lawan bicaranya.

“Alhamdulillah sehat-sehat saja. Semenjak Fabian banyak membantu di kantor, saya jadi punya banyak waktu untuk istirahat.”

“Punya banyak waktu buat main sih lebih tepatnya.” Sahut Fabian menyindir.

“Ya boleh-boleh aja kan, Bi. Papa udah bertahun-tahun ngurusin pabrik, udah capek, sekarang waktunya Papa mulai nyantai. Papa udah gak semuda kamu. Ya kan, Bu Ajeng?” Pak Hermawan menoleh ke Ajeng meminta persetujuan.

Ajeng hanya bisa menahan tawa. “Ada benarnya juga kok, Pak.”

Fabian melirik Ajeng sambil mengernyitkan dahi.

“Kalo begitu mari, kita masuk ke sini dulu.” Pak Hermawan berjalan lebih dulu. Ajeng dan Fabian mengikuti tepat di belakang.

“Jadi kamu lebih membela Papa ya?” bisik Fabian.

“Jelas dong. Saya kan lebih dulu kerja sama Papa kamu.” jawab Ajeng sambil terus mengikuti Pak Hermawan.

Siang itu mereka bertiga menghabiskan waktu melihat keadaan pabrik yang kini sedang beroperasi masa panen. Namun karena renovasi sebagian area yang belum selesai, beberapa tempat masih terlihat berantakan dan penuh sesak dengan mesin-mesin. Hampir dua jam lamanya mereka mengitari pabrik, sesekali Ajeng mengambil foto dan mencatat beberapa hal yang ia perlukan.

Tepat jam satu siang, Fabian dan Ajeng makan siang berdua di gubuk samping pabrik. Sebuah gubuk kayu besar menghadap ke hamparan kebun dan bukit-bukit yang terlihat begitu cantik. Bersama beberapa buruh yang sedang istirahat, keduanya berbincang sambil menikmati masakan dalam rantang yang dibawakan Mama Fabian.

“Hmm, beneran deh. Masakan mamamu enak banget.” Komentar Ajeng di tengah kunyahannya.

Fabian tertawa. “Kamu pasti gak bisa masak ya?”

“Enak aja. Bisa kok. Tapi kalo levelnya seenak ini sih, ya belum bisa.”

“Emangnya kamu masih sempet masak? Jam kerjamu kan lumayan padet.”

“Harus sempet. Soalnya Ibuku udah mulai sakit-sakitan. Gak bakal kuat lama-lama repot di dapur. Kalo saya gak nyempetin masak, ntar Bapak-Ibu makan apa dong?”

Fabian mengangguk-angguk mengerti. Ia mengambil sesendok sambel ke piringnya, tak lupa mencomot tahu tempe. “Tapi kamu hebat lho.”

Ajeng melirik Fabian, dengan pipi membulat yang penuh makanan. “Maksudnya?”

“Baru umur 24 tahun, jalan karirnya udah kelihatan cemerlang. No offense, saya tahu kamu mengejarnya dengan susah payah atau bahkan berdarah-darah. Justru karena itu… saya salut kamu bisa bertahan sekeras itu.”

Ajeng menunduk malu. “Gak sehebat itu kok. Aku dapet posisi strategis di kerjaan yang sekarang ya karena jaringan selama kuliah. Terus semester enam aku mulai magang beberapa bulan. Akhirnya setelah lulus, eh dicalling Pak Lukman suruh balik ke kantor lagi. Ya udah deh.” Ia melirik Fabian. “Menurut saya kamu juga gak kalah hebat kok.”

Fabian tertawa sinis. “Hebat dari mananya? Yang kamu lihat ini, semuanya hasil kerja keras Papa sama Mama. Aku gak ikut-ikutan.” Ia meletakkan piringnya yang sudah kosong. “Dulu Papa mati-matian mengejar ambisinya ini. Sampe-sampe rencana untuk punya anak mundur terus. Kalo denger dari cerita Mama sih, dulu mereka sempet nyaris cerai. Karena Mama pengen segera punya anak, sementara Papa masih gila kerja.”

Ajeng mendengarkan cerita Fabian dengan cermat.

“Akhirnya saya lahir di usia Mama yang udah gak muda lagi. Itulah kenapa saya jadi anak tunggal. Usia mama udah cukup beresiko kalo harus hamil lagi. Saya baru masuk kuliah, Papa udah masuk usia pensiun.” Mata Fabian menerawang seolah sedang mengingat kisah hidupnya. “Yaah… mungkin ini satu-satunya cara saya bisa membalas kerja keras Papa selama ini. Saya pengen Papa bisa menikmati masa tuanya.”

Ajeng ikut terenyuh mendengar cerita yang entah bagaimana terlontar begitu dalam dari mulut Fabian. Ia tersenyum. “Jadi… sebenarnya selama ini kamu sudah memutuskan untuk meneruskan posisi Papamu?”

Fabian melirik Ajeng. Senyuman khasnya mengembang lagi. “Saya hanya menunggu sesuatu untuk meyakinkan hati saya.”

“Dan… sesuatu itu adalah?” pancing Ajeng.

Fabian menatap Ajeng lekat-lekat. Sedetik kemudian ia salah tingkah. “Rahasia.”

Ajeng mendengus kecewa. “Gak asik, ah.” Ia mengelap tangannya sambil membereskan rantang yang sudah kosong. “Abis ini kita kemana lagi, Pak Fabian?”

“Pemandangan kebun dari situ bagus banget, lho. Mau coba kesana?” Fabian menunjuk satu gubuk yang terlihat berada di ujung bukit bagian timur.

Ajeng mengikuti arah yang ditunjuk Fabian dan langsung nyengir. “Kayaknya jauh banget ya? tinggi pula tempatnya.”

“Tapi pemandangannya bagus banget.”

“Tapi saya gak suka hiking.” Ajeng tertawa canggung.

“Ooh…” Fabian menahan senyum. “Yaudah, kalo gak suka naik-naik, kita turun ke desa bawah situ aja ya?” Fabian kembali menunjuk beberapa area kebunnya bagaikan tour guide. Kali ini ia menunjuk pemukiman warga setempat yang menjadi buruh pabrik dan kebun, terletak lebih rendah dari tempat mereka, yang harus melewati jalan setapak menurun ke bawah.

Ajeng mulai tertarik dengan penawaran Fabian yang satu ini. “Itu pemukiman yang bakal kena dampak pembangunan resort ya?”

Fabian mengangguk pelan.

“Oke deh, kita kesana aja kalo gitu.”

Kedua bergegas mengenakan alas kakinya masing-masing dan mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang melandai. Tiba-tiba Ajeng teringat sesuatu. “Eh bentar, ini jalannya turun lumayan curam begini, nanti kita baliknya lewat sini lagi?”

“Iya dong.” Sahut Fabian.

“Yah, sama aja dong baliknya kudu naik-naik.” Protes Ajeng.

Fabian tertawa puas.

***

Matahari mulai condong ke barat ketika Fabian dan Ajeng masih mengitari kampung warga dan berbincang sebentar dengan warga setempat. Melihat interaksi Fabian yang begitu ramah dan luwes dengan warga sekitar membuat Ajeng melihat sisi Fabian yang lain. Sepertinya anggapan bahwa anak bos perusahaan besar yang arogan dan semena-mena tidak patut dilekatkan pada kepribadian Fabian. Sepanjang perjalanan mereka keliling pemukiman warga, Ajeng tidak terlalu banyak bicara. Ia hanya menikmati pemandangan di sekitarnya yang terlihat indah, termasuk satu orang yang sedari tadi masih setia mengawalinya.

“Sudah dibuktikan bahwa omongan saya waktu itu tidak mengada-ada, kan?” tanya Fabian.

Ajeng tersenyum meliriknya. “Memang gak mengada-ada sih. Tapi sepertinya kamu menyederhanakan permasalahannya. Yang saya lihat jauh lebih kompleks dari omonganmu.” Matanya kembali memandang hamparan kebun di depannya. “Saya akan diskusikan dengan Pak Lukman secepatnya. Asalkan kamu juga bantu saya.”

Anything.”

“Saya gak mau Pak Luman punya kesan saya berusaha menghentikan proyek resort. Kamu harus yakinkan Papa kamu juga. Dan tentunya kamu sebagai pengganti Papamu harus segera memutuskan apa yang akan pabrikmu lakukan untuk kesejahteraan warga sini.” Ajeng menambahkan.

Fabian mengangguk pelan. “Secepatnya. Saya akan segera ngomong sama Papa.”

Angin mulai berhembus menggoyangkan rambut Ajeng yang tergerai. Ia merapatkan jaketnya. “Enak ya. Kalo tiap hari punya pemandangan sebagus ini dari rumah.”

“Kamu boleh ke sini setiap hari kok kalo mau.”

Ajeng tertawa. “Dari rumahku ke sini butuh sekitar sejam, Fabian.”

“Yaah, seminggu sekali deh.”

“Sebulan sekali aja deh. Kalo lagi suntuk di kantor.”

“Ya itu gak ada bedanya dong sama jadwal meeting kita.” Protes Fabian.

Lagi-lagi Ajeng dibuat tertawa. “Emangnya Pak Fabian gak bosen ketemu saya terus?”

“Sama sekali nggak.” Jawab Fabian dengan mantap.

Ajeng terdiam mendengar jawaban Fabian. Ia hanya bisa berdeham canggung.

“Aku seneng kok kalo lebih sering ketemu kamu, Jeng.” Lanjut Fabian dengan suara yang lebih pelan.

Mendengar perubahan sebutan ‘saya’ menjadi ‘aku’ sukses membuat perasaan Ajeng makin tak karuan. Ia tak berani menangkap tatapan Fabian langsung. Akhirnya Ajeng hanya menunduk menatap sandal kuningnya yang terang.

“Boleh ya?” ucap Fabian.

Ajeng menoleh bingung. “Ha? Bo-boleh apanya?”

“Lebih sering ketemu kamu.”

Ada jeda hening beberapa detik sebelum akhirnya Ajeng mengangguk dan tersenyum kikuk.

“Kalo gitu besok lusa mau temenin aku gak?”

Belum sempat Ajeng mencerna pernyataan Fabian sebelumnya, kini ia harus menerima ajakan Fabian yang lainnya lagi. “Ke… mana?”

“Acara opening toko sepatu sahabatku. Dari awal aku ikut bantu mereka untuk membentuk manajemen toko. Dan besok lusa grand openingnya. Gak mungkin dong aku gak dateng.”

Hati Ajeng terusik ingin bertanya. “Memangnya harus ngajak aku ya? Atau jangan-jangan kamu ditantangin sama mereka buat bawa cewek?”

Nooo! Bu-bukan gitu. Cuman…” Fabian langsung panik berusaha menjelaskan.

Ajeng menahan tawa melihat pemandangan itu.

“Sebenernya bisa sih aku dateng sendirian. Cuman yaa… biar ada alasan bisa pulang lebih cepet. Dan… biar gak bosen.” Fabian tersenyum menatap Ajeng.

Mungkin ini adalah senyuman Fabian paling lama dan paling dekat yang bisa dilihat Ajeng, dan tentunya yang paling manis buatnya. “Ehm, oke deh. Besok lusa kan? Noted.”

***

Ratih, kakak kedua Ajeng, tiba-tiba melongok ke dalam kamar Ajeng dengan tatapan curiga. Sembari bersiap di depan cermin, Ajeng bisa melihat bayangan kakaknya yang berdiri di ambang pintu kamar. “Kenapa, Mbak?”

Ratih memicingkan kedua matanya. “Rapi amat? Mau kemana nih malem jumat gini?”

“Ya mau keluar lah.”

“Iya tauuu, Jeng Maesaroooh!” Ratih melenggang masuk dan duduk di kasur. “Keluar ke-ma-na? Ke tem-pat a-pa? Dan yang paling penting nih, sama siapa?” lanjut Ratih berusaha mengorek informasi.

“Mau diajak keluar ke acara launching toko.” Jawab Ajeng sambil merapikan rambutnya. Ia berbalik mengambil tas ketika menangkap tatapan Ratih yang terlihat masih belum puas. “Sama klien.” Tambahnya.

Ratih langsung melongo dan berteriak kencang. “Ibuuuk, Ajeng mau keluar sama om-om, Buuuk!”

“Tuh kan! Apaan sih, Mbak?! Sok tau!” protes Ajeng. ia berjalan keluar menuju ruang tamu. Ratih masih mengekor.

“Lah, klienmu kan biasanya bos-bos, Jeng. Ya pasti umurnya udah om-om lah.”

“Ini yang ngajak keluar anaknya bos, Mbak Ratih.” Tutur Ajeng pelan berusaha meladeni Ratih yang menyebalkan. “Bapaknya yang punya perusahaan, terus beliau pensiun, jadilah anaknya yang sekarang gantiin.”

Ratih mengangguk-angguk paham dan tertawa penuh selidik. “Pinter ih cari cowok. Langsung anaknya bos. Jago juga kamu, Jeng.”

Ajeng hanya geleng-geleng kepala sambil mengenakan jaketnya.

“Ada apa siih?” tanya Ibu yang sedang menonton TV.

“Ajeng, Buk. Mau punya pacar.” Sahut Ratih jahil. “Abis ini dia pasti nyusul Ratih nikah deh, Buk.” Tak lupa ia berseru pada Bapak yang sibuk membaca buku di meja kerjanya. “Pak, abis ini Bapak mantu lagi lho. Siap-siap ya, Pak.” Ia tertawa puas.

Ajeng memutar bola matanya kesal dan menghampiri Ibu. “Ajeng diajak keluar sama klien, Bu. Gak enak kalo nolak. Cuma ke acara launching toko sepatu, boleh ya?” ia duduk di samping Ibunya.

“Boleh kok. Siapa namanya?”

“Pak Fabian, Bu. Udah lumayan sering kerja bareng kok. Udah akrab. Jadi Ibu gak perlu kuatir.”

“Tuh, Buk. Udah akrab katanya.” Tambah Ratih lagi.

“Ssst, Ratih ah!” tegur Ibu. “Yaudah hati-hati ya, Jeng. Salam buat dia.”

Ajeng mencium tangan Ibu. “Abis ini makan ya, Bu. Obatnya jangan lupa diminum.”

Tiba-tiba Bapak sudah berdiri di sebelahnya. “Beneran dia mau jadi mantu Bapak? Mana orangnya? Dia suka MU gak?”

Ratih tergelak puas melihat Bapak memihaknya.

“Apa sih, Pak? Kok percaya aja sih sama Mbak Ratih.” Gerutu Ajeng.

Sedetik kemudian bel rumah berbunyi. Mereka berempat kompak melihat arah pintu depan. Ajeng buru-buru melangkah membukakan pintu. Bapak dan Ratih saling tatap dan memberi kode. Mereka berdua ikut menyambut kedatangan seseorang yang katanya klien Ajeng itu.

Ajeng membuka pintu dan terlihat Fabian tiba-tiba gugup melihat Bapak dan Ratih turut menyambutnya. Ajeng yang risih langsung mengenalkan mereka. “Ehm Fabian, ini Bapakku sama Mbak Ratih, kakakku.”

Fabian langsung mencium tangan Bapak dan menyalami Ratih dengan sopan. “Selamat malam, Pak, Mbak Ratih.”

“Pak, Mbak, ini Fabian, klienku di kantor.” Ujarnya gantian mengenalkan.

“Jarang-jarang lho Ajeng bawa cowok ke rumah. Ati-ati ya, titip Ajeng.” Bapak memasang wajah sok tegas.

Di sampingnya Ratih berusaha menahan tawa. “Iya, ati-ati ya, Mas Fabian. Jangan sampe Ajeng kelaperan. Bahaya, bisa ngamuk-ngamuk gak jelas nanti.”

Ajeng menutup wajahnya menahan malu.

Fabian menanggapinya dengan tawa santai. “Saya juga jarang-jarang ngajak keluar cewek kok, Pak. Sekalinya ngajak keluar pasti aman kalo sama saya. Dan yang jelas gak bakal kelaperan.”

Ratih mengangkat alis takjub. Ia melirik Ajeng sambil mengangkat jempolnya dengan tatapan ‘boleh juga ni orang’.

Sebelum keadaan makin absurd, Ajeng buru-buru menyudahinya. “Ya udah deh, berangkat dulu ya, Pak, Mbak Ratih. Assalamualaikum.” Ia menarik lengan Fabian.

“Assalamualaikum.” Sahut Fabian seraya melenggang pergi.

“Waalaikumsalam.” Jawab Bapak dan Ratih dari teras rumah.

Setelah Ajeng dan Fabian menjauh, Ratih berbisik. “ACC gak, Pak?”

Bapak mengangguk mantap. “Boleh juga.”

“Cepet amat? Dulu Bapak lama ACC Mas Teddy.” Ratih tak terima.

“Ya kan si Fabian itu udah bos, aman laaah.” Goda Bapak.

Ratih masuk ke rumah dengan berdecak kesal. “Ah, Bapak gituu. Liat aja ya, Pak, abis ini Mas Teddy bakal jadi bos perusahaan juga.”

“Perusahaan apa?”

“Perusahaan batu kali!”

***

“Maafin Bapak sama Mbak Ratih ya? Mereka berdua emang gitu, jahilnya ampun-ampunan.” Ajeng memasang sabuk pengamannya. Aroma mobil Fabian malam itu masih sama, terasa lembut apalagi bercampur dengan parfum Fabian yang cukup kuat namun menenangkan. Ia bisa membayangkan berapa harga satu botol parfum yang dipakai Fabian malam ini.

Fabian mulai menyalakan mobilnya. “Gak apa-apa. They look nice actually.”

Nice-nya kategori suka bully orang baru.” Keduanya tertawa. Perlahan mobil Fabian mulai melaju meninggalkan kompleks perumahan. “So, any stories behind Deki and Nanda?”

“Waah, banyaaak! Mereka berdua sahabatku dari SMA. Satu kelas di IPS, satu tim futsal, satu tongkrongan juga, dan… pernah naksir satu cewek yang sama juga.” Fabian tertawa sendiri setelah mengucapkan kalimat terakhir.

“Seriuus?!” Ajeng ikut terkejut.

Fabian masih tertawa sambil mengangguk-angguk. “Serius! Wah asli itu emang masa kami bertiga lagi edan-edannya kebanyakan energi lah pokoknya. Terus setelah lulus SMA, kita kuliah di beda jurusan semua, tapi di kampus yang sama. Lalu aku lanjut S2 bareng Nanda, Deki kerja jadi produser TV sampai sekarang. Terus ya ini salah satu cita-cita mereka berdua buat bikin bisnis bareng. Sebenernya mereka agak kesel sih karena aku gak ikutan, tapi ya gimana… tanggunan dari Papa udah gede. Akhirnya aku ikut bantu-bantu sedikit aja.”

Ajeng tersenyum. “Wow, sepertinya mereka berdua teman yang menyenangkan.”

“Lebih cenderung jadi temen paling annoying sih. Saking sebegitu lama deketnya.”

Ajeng melirik Fabian. “Hemmm, mungkin aku bisa mengorek masa lalu seorang Fabian dari mereka ya? Penasaran juga Fabian dulu kayak gimana.”

Nooo! Just no! Please tolong Deki sama Nanda jangan dipancing dengan topik yang bikin mereka semangat begitu. Bisa-bisa aibku dari jaman sekolah kebuka semuanya.”

Ajeng terbahak. “Kenapa sih? Banyak kenangan yang memalukan ya?”

“Yaaah… gitu deh.” Fabian menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia melirik Ajeng. “Kayaknya kamu emang gak jauh beda sama Bapak dan Mbak Ratih deh. Suka jahil.”

Ajeng tertawa lagi.

Setelah hampir setengah jam menyusuri jalanan malam yang cukup padat, mobil Fabian memasuki pelataran ruko tempat toko sepatu Deki dan Nanda. Toko kecil yang bertempat paling ujung itu kini terlihat terang dan penuh sesak dengan pengunjung dan teman-teman yang ikut merayakan malam pembukaan. Tak lupa karangan bunga yang berjejer di sepanjang area ruko sebagai ucapan selamat.

Wow, I think they already did a great work.” Gumam Ajeng begitu keluar dari mobil.

“Yuk.” Fabian berjalan di sisi Ajeng.

Dari kejauhan terlihat Nanda melambai ke arah Fabian yang masih berdiri di luar toko. Nanda dan Deki berusaha melewati kerumunan orang untuk menghampiri Fabian.

“Brooo!” Nanda langsung loncat memeluk Fabian lebih dulu. “Akhirnyaaa, jadi jugaaa!”

Deki tak kalah heboh ikut memeluk kedua sahabatnya. Ajeng tersenyum dan bergeser beberapa langkah demi menyelamatkan diri dari euforia mereka yang tidak terkontrol.

“Gak nyangka bakal seheboh ini jadinya, Yan.” Deki menyahut.

Fabian nyaris terjatuh gara-gara serbuan Deki dan Nanda. “Iya iyaa, selamaat, aduh serius kalian berat banget woy!”

“Lagian telat amat sih datengnya? Kita tuh udah standby dari jam tiga sore tadi tau.” Nanda melepas pelukannya.

“Ya gimana dong, sore tadi masih ribet di kantor. Oh iya, kenalin…” Fabian menarik lengan Ajeng lembut. “Ini Ajeng.”

Deki dan Nanda baru menyadari kehadiran Ajeng yang sedari tadi berdiri di dekat mereka. Butuh waktu sekian detik bagi otak mereka untuk mencerna kombinasi antara Fabian mengajak perempuan cantik, yang seingat mereka tidak pernah terjadi selama bertahun-tahun terakhir. Setelah sesaat bengong, keduanya langsung kompak berseru “Oooh, Ajeeng.”

Wow…”

“Ini lebih surprise kayaknya, Yan.”

“Langka!”

“Monumental!”

Sahut Deki dan Nanda bergantian dengan tatapan takjub.

Anyway, Mbak Ajeng. Kejadian ini akhirnya muncul setelah bertahun-tahun tidak pernah ada tanda-tanda.” Ujar Deki pada Ajeng.

Ajeng hanya mengerutkan kening. “Kejadian apa… lebih tepatnya?”

“Fabian ngajak cewek! Selamat, Mbak Ajeng. Kalo Fabian udah ngajak kamu keluar, delapan puluh lima persen kemungkinan dia naksir beneran sama kamu.” Nanda menyalami Ajeng dengan antusias.

Fabian geleng-geleng kepala. “Ya ampuuun, ni kalo begini caranya abis ini Ajeng gak bakalan mau lagi kuajak keluar gara-gara takut sama kalian woy!”

Ajeng terkekeh geli melihat kelakuan tiga sahabat yang tidak perlu diragukan lagi kedekatannya itu.

“Yaudah masuk deh yuk. Di dalem ada calon istriku, nanti kukenalin.” Nanda mempersilahkan Ajeng memasuki toko. Keempatnya pun berjalan menuju pintu masuk.

Di belakang punggung Ajeng, Deki berbisik ke telinga Fabian. “Kenapa gak pernah cerita-cerita sih? Tiba-tiba udah nongol bawa cewek aja.”

“Tau nih.” Nanda ikut berbisik.

“Oke, yang pertama, karena kalian rese, ntar belum apa-apa malah gak kejadian. Yang kedua, kita berdua belum pacaran kok.”

Deki menepuk jidat. “Bener-bener deh, tampang ganteng gak menjamin pinter deketin cewek ye, Nan.”

“Bilangin juga apa. Temen kita yang satu ini emang mengenaskan kalo udah urusan hati.”

***

“Fabian ih, diem-diem ternyata selama ini punya gebetan.” Seru Dian.

Fabian melirik Ajeng yang duduk di sebelahnya. Dengan perasaan bersalah ia berbisik. “Maaf ya, temen-temenku pada rese.”

Ajeng hanya membalas tersenyum. “It’s okay. I’m fine.”

“Nanti aku jelasin di perjalanan pulang.” tambah Fabian lagi.

Mereka kini berkumpul di teras lantai tiga. Dian dan Nanda sedang sibuk membakar jagung sementara Deki masih sibuk dengan handphonenya membalas satu-persatu ucapan selamat yang masuk.

“Aku temani Deki bentar ya.” Fabian beranjak mengambil sebotol bir dan menghampiri Deki.

“Cerita dong dimana kenal Fabian?” Dian duduk di sebelah Ajeng membawa dua jagung bakar, satu ia sodorkan untuk Ajeng.

“Oh, thank you. Ehm, dia salah satu klien kantorku. Kebetulan aku yang ngurus proyek pabriknya Fabian. Jadi ya… sering ketemu karena kerjaan sih sebenernya.”

Sambil menggigit jagung bakarnya, Dian mendengarkan cerita Ajeng dengan seksama. “I think he likes you already, Jeng.”

Ajeng tertawa. “Don’t…”

Why?”

Just don’t.

Dian tersenyum. “I know, memang gak enak sih kalo harus berharap banyak di awal. Asalkan hubungan kalian baik, gak ada salahnya lho, Jeng.”

“Hubungan kami kan berawal dari kerjaan, Dian. Jadi aku gak pengen mempengaruhi kinerjaku di kantor.”

“Kalo misalnya bisa mempengaruhi jadi lebih baik kan makin seru.”

Ajeng tertawa lagi. “Gak tau deh, Dian. Terlalu banyak kemungkinan yang aku gak tahu.”

But seriously, misal nih, sepulang dari sini Fabian nembak kamu gimana?”

I… don’t have an answer yet.” Jawab Ajeng ragu-ragu.

Dian tersenyum. “I bet you have. And I bet he’ll do it right away.

Ajeng menggigit jagung bakarnya, berusaha menutupi kegelisahannya yang datang tiba-tiba.

***

Fabian menyetir dengan tenang dan sedikit mengantuk. “Lapar lagi gak, Jeng?”

“Nggak kok. Udah kenyang.”

“Bener? Ntar kalo kamu nyampe rumah masih laper aku dimarahin Mbak Ratih lho.”

Why is that really important to you? Mbak Ratih cuma bercanda kali, Bi.” Sahut Ajeng yang langsung terdiam canggung mendengar panggilan yang keluar dari mulutnya barusan. “Maksudku… Fabian.”

Yang punya nama justru tersenyum malu. “Well, that’s cute actually.”

“Apanya?”

The way you call my name. Banyak sih yang manggil aku Bi, kecuali Deki dan Nanda. But… yours sounds different.”

“Lebih cempreng?” tanya Ajeng iseng.

Fabian hanya balas dengan tertawa. Tangan kirinya meraih botol minum dan meneguknya pelan.

“Kenapa sih tadi temen-temenmu pada heboh liat kamu bawa aku? Emang bener ya kamu udah selama itu gak deket sama cewek?” Pertanyaan Ajeng menyerang Fabian telak hingga ia tersedak air. “Eh, sorry sorry, aku gak bermaksud…” Ajeng merasa tak enak melihat Fabian yang terbatuk-batuk. Ia menarik selembar tisu dan mengelap dagu Fabian yang basah.

Fabian meraih tisu di genggaman Ajeng. “I’m fine, thanks.” Ia tertawa kecil. “Seriously, aku gak tau gimana harus jawab pertanyaanmu. Tapi ya… begitulah. Aku rasa teman-temanku lebih mengenal situasiku daripada aku sendiri.”

Ajeng mendekap mulutnya sendiri, menahan tawa sekaligus gemas dengan kecanggungan yang banyak terjadi di dalam mobil ini. “Aku diem aja deh. Daripada kamu keselek lagi.”

Beberapa menit kemudian mobil memasuki area perumahan dan berdiri tepat di depan pagar rumah Ajeng. “Sudah sampai.” Kata Fabian pendek.

Ajeng melepas sabuk pengamannya dan tersenyum tipis. “Makasih ya, Fabian.” Ia membuka pintu mobil. “Ehm, sampai ketemu di… kantor?” tanyanya sebelum keluar.

“Ya…” Fabian mengangguk canggung. “Di… kantor.”

“Oke.” Ajeng menutup pintu dan berjalan menuju pagar. Ia melambai sekilas ke arah Fabian sebelum mobilnya melaju lagi.

Setelah memastikan mobilnya menghilang di ujung jalan, Ajeng masuk ke dalam rumah. Ia menggeleng kesal. “Gak jelas banget sih obrolannya dari tadi.” Gumamnya.

Belum sempat keluar dari area perumahan, mobil Fabian menepi. Buru-buru Fabian mengambil handphone dan mengetik sesuatu. “Kelupaan, ah tolol!” rutuknya.

Di rumahnya, Ajeng baru saja masuk kamar dan langsung merebahkan badannya di kasur. Tak lama kemudian ada pesan masuk, ia meraih handphonenya. Pesan dari Fabian.

Fabian:

Harusnya aku bilang ini sebelum kamu masuk rumah. Udah aku rencanain, tapi aku lupa. I like you.

“Mampus deh!” seru Ajeng. Ia menutup mukanya dengan bantal. “I like you too, Pak Fabian. Tapi kamu klienku, kamu bosku, kamu… aduuuhhh.” Teriak Ajeng di balik bantal.

***

ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

2 thoughts on “Titik Temu (3)

Leave a Reply