Oh, Nicholas Saputra!

Dian memasuki lobi bioskop dan mencari sosok Gina yang sebelumnya memberi kabar bahwa ia sudah tiba lebih dulu dengan dua tiket di tangannya untuk jam tayang paling malam. Dian segera menghampiri sosok Gina yang terlihat berdiri di depan pintu studio.

“Yakin nih lo mau nonton film ini lagi? Gak bosen?”

“Ya kan gue udah janji mau nemenin lo.”

“Tapi ini kan udah ketiga kalinya buat lo. Kalo lo pengen nonton film yang lain juga gapapa kok.”

Gina melengos. “Lo kayak yang baru seminggu temenan ama gue deh, Di. Pokoknya film apapun yang ada Nicsapnya, mau gue nonton berapa kali juga gak masalah. Tuh AADC 2 menurut lo bisa tembus tiga juta penonton karena apa? Sejutanya itu gue doang yang nonton!”

Dian menggeleng kepala. “Pantesan si Nicholas Saputra bisa travelling mulu, ya gara-gara kelakuan kayak lo ini, Gin. Lo makin bangkrut, dianya malah makin kaya.”

Lalu terdengar suara yang menggema di lobi. Pintu teater 2 telah dibuka…

“Yuk ah, masuk.” Gina menggandeng tangan Dian dan bergegas memasuki studio.

Gina memang segitu cintanya dengan sosok Nicholas Saputra. Bukan berarti Dian tidak mengakui pesona seorang Nicsap, sebenarnya Dian sudah menyadari kegantengannya sejak film AADC pertama tahun 2002 lalu. Walaupun saat itu ia masih berumur sepuluh tahun, tapi matanya sudah jeli menangkap potensi kharismatik Nicsap yang akan berkembang jadi aktor idola para wanita. Namun entah mengapa Gina justru baru-baru ini menggandrungi Nicsap apalagi setelah aksinya di film Pendekar Tongkat Emas.

“Diii, ternyata si Nico cakep amat yak kalo gondrong gituuu.” Ucap Gina lewat telepon dadakannya setelah ia keluar dari bioskop beberapa tahun lalu.

Dian yang saat itu sedang di tengah-tengah kesibukan menyunting video membutuhkan waktu beberapa detik sebelum menangkap maksud pembicaraan Gina. “Ini… lo ngomongin Nico siapa sih?”

“Nicholas Saputra, Diaaan. Siape lagiii?” teriaknya histeris.

Dian hanya bisa mendengus kesal. “Lo emang udah kena pelet deh, Gin, asli!”

“Bodo, yang penting gue seneng banget abis nonton ayang gue.”

Dian sungguh mengerti bagaimana rasanya punya idola yang bisa dielu-elukan dan dikagumi. Nicholas Saputra bagi Gina mungkin sama seperti Tulus bagi Dian. Entah sudah berapa konser Tulus yang ditonton Dian, meskipun harus merelakan sebagian tabungannya. Ia sangat mengagumi lagu-lagu Tulus yang menurutnya punya diksi yang cerdas dan lugas. Pernah suatu ketika Tulus datang ke kantor Dian untuk interview dan promo lagu barunya, Dian hanya bisa tertegun dengan tangan gemetar ketika bersalaman dengan idolanya itu. Dan detik berikutnya ia justru menangis tanpa sebab, yang berakhir bahunya dirangkul gemas oleh Tulus. Lalu ia menjadikan tanggal hari itu sebagai angka bersejarah yang ia gunakan untuk semua password akun sosmed, atm, e-mail, hingga password komputer kantor dan ponselnya.

Dian tidak pernah mempermasalahkan kecanduan Gina pada seorang Nicholas Saputra. Ia selalu menganggap bahwa setiap orang akan selalu punya idola yang membuat mereka bersemangat terhadap sesuatu, dan itu sangat wajar. Terlebih saat Gina tiba-tiba memutuskan bercerai dengan suaminya beberapa tahun lalu, mungkin hanya Nicholas Saputra satu-satunya lelaki yang bisa membuat Gina kembali merasa jatuh cinta lagi.

“Gin…” Dian berusaha membuka obrolan sambil menyetir mobilnya. Keduanya melaju menuju pengadilan agama, untuk menghadiri sidang cerai Gina.

“Hmm?” Gina menyahut seadanya.

“Gue tahu mungkin lo masih enggan cerita lebih detailnya. Tapi lo… cerai bukan karena suami lo cemburu ama si Nicsap kan?”

Gina menoleh dengan tatapan kesal. “Sakit jiwa lo! Ya nggak lah.”

Hening sekian detik, kemudian tawa mereka berdua pecah bersamaan.

“Asli, gue daritadi udah mikir bakal bereaksi kayak gimana kalo seandainya tebakan asal gue itu bener.” Lanjut Dian di sisa tawanya. “Mau ngatain tapi gue gak tega, mau gak ngatain tapi tolol amat.”

“Lagian lo pikir gue beneran ada affair sama Nicsap? Yaelah, kalo beneran sih ya gue udah minta cerai lebih cepet kali.”

Dian tersenyum, ia melirik Gina. “But seriously Gina… are you okay tho?”

I’m fine, Dian. I’m fine.” Jawabnya sungguh-sungguh seperti berusaha merapal mantra untuk dirinya sendiri.

Semenjak itu, Dian berusaha bersabar setiap kali Gina kegirangan dengan tingkah idolanya yang ia temui di Instagram, youtube, artikel berita atau gosip, iklan, film, di manapun itu, agar sahabatnya itu bisa kembali bahagia dan merasakan jatuh cinta lagi. Apalagi sesaat setelah ia resmi bercerai, yang langsung disambut dengan rilisnya film AADC 2, Gina langsung traktir Dian tiket premiere tepat di hari rilisnya. Entah sudah berapa kali Gina menonton ulang film itu di bioskop bersama teman-temannya yang lain. Kadangkala Dian percaya bahwa sumbangsih jumlah penonton paling besar dari film AADC 2 adalah dari Gina seorang.

Dan malam ini, Gina rela menemani Dian untuk menonton lagi film Aruna dan Lidahnya meskipun ia sudah hapal betul jalan ceritanya hingga akhir, hanya demi menyaksikan akting memasak dari Nicholas Saputra. Sementara Dian ingin menonton untuk memuaskan rasa penasarannya saja.

“Gue iri deh ama lo, Di.” Bisik Gina tiba-tiba.

“Lah? Kenapa emangnya?” Dian serta-merta terheran dengan pernyatan ajaib Gina itu.

“Gue iri ama nama lo. Soalnya si Nicholas Saputra kan daridulu terkenalnya selalu identik dipasangin sama Dian, Dian Sastro. Coba gue punya nama Dian, kan gue bisa sok-sokan plesetin nama jadi Dian Sastro.”

Dian hanya bisa terbengong. “Ah… terserah lo deh, Gin.”

Hampir dua jam berikutnya, Dian berhasil dibuat lapar oleh film Aruna dan Lidahnya karena adegan masak-memasak serta makanannya yang terlihat begitu menggiurkan. Dan tangan kirinya pun sukses dibuat nyeri karena berkali-kali diremas dan dipukul gemas oleh Gina setiap kali Chef Bono, yang diperankan Nicholas Saputra, muncul di layar.

***

Pekerjaannya sebagai video editor membuat Dian hampir menghabiskan seluruh jam kantornya di dalam studio editing. Siang itu ia sudah duduk di depan layar monitor dan dibawah AC lebih dari lima jam sejak pagi karena deadline yang tiba-tiba dimajukan. Terdengar suara pintu yang terbuka.

“Di, gue panik!” seru produsernya, Gugun.

“Lah, panik kenapa emangnya, Mas Gun?” tanya Dian heran sambil melepas headphonenya.

“Siang ini bakal ada interview, dadakan. Anak-anak udah banyak yang gue tugasin liputan sama bikin konten di Bogor. Lo yang handle untuk interview kali ini ya? please, Di.”

“Yaudah, biar gue yang pegang, Mas. Santai aja kali. Interview buat konten Youtube kan?”

“Iya, lo bisa kan? On the spot deh, lo mau bikin pertanyaan apa aja terserah, pokoknya kayak biasanya kita interview promo film yak. Gue percaya aja ama lo. Standby sepuluh menit lagi ya, Di. Gue siapin studio ama alatnya.”

“Okee… eh by the way interview film apaan sih, Mas?” pertanyaan Dian menggantung tanpa jawaban karena Gugun sudah pergi terburu-buru. Dian mengendikkan bahu dan langsung beranjak dari ruangannya.

Sampai di studio, terlihat Gugun yang masih sibuk menyiapkan kamera dan lampu-lampu sembari menjawab telepon dengan nada kesal. “Lagian gue kan udah bilang kalo hari ini banyak anak-anak pada ke Bogor. Lo malah bukain pintu buat mereka, bangke emang. Nih gue cuma bertiga nih di studio bareng Dian sama Odi.” Terdengar jeda sejenak sebelum ia melanjutkan marahnya. “Yaudah deh yaudah! Udah terlanjur juga, gue lanjutin prepare dulu lah. Lo bilang anak-anak lantai bawah suruh naik ke atas deh buat bantuin gue.”

Dian dan Odi, satu-satunya cameraman yang masih standby di studio saling tatap. “Udah Bang Gun, sabaaar. Kita bertiga juga udah cukup kan.” Kata Odi berusaha menenangkan suasana.

“Gue bakal tenang kalo yang mau dateng tuh artis-artis baru yang belom terkenal. Nah ini beda cerita.” Lanjut Gugun.

“Emang siapa aja sih yang mau datang, Mas?” tanya Dian masih penasaran.

“Dian Sastro sama Nicholas Saputra, buat promo film Aruna. Menurut lo? Ikut panik kan lo sekarang?”

Dian melongo. “Serius, Mas?”

Gugun melirik Dian sinis sekaligus kesal.

“I-iya, Mas. Beneran serius kayaknya ya, yaudah gue handle anak-anak lantai bawah biar ikut prepare.”

“Cepetan, Di!” Teriak Gugun.

Satu jam berikutnya, Dian langsung sibuk mengumpulkan tim kreatif di dalam ruang meeting untuk menyusun konsep interview yang akan dilakukan. Riset, mengumpulkan daftar pertanyaan, membuat games dan props yang dibutuhkan. Semua itu mereka lakukan dengan cepat hingga Dian melewatkan satu hal penting yang bisa mengancam hidupnya jika ia sampai lupa. Oh iya, si Gina! Batinnya. Jarinya mulai bergerak cepat mengetik pesan ke Gina. Namun sebelum tombol kirim ditekan, ia ragu-ragu. Kalau sudah kekurangan tim begini, Gugun akan membutuhkan Dian untuk handle penuh tanpa jeda. Ia tidak yakin bisa mengajak dan menemani Gina jika sahabatnya itu datang kesini. Akhirnya Dian mengurungkan niatnya. Nanti aja deh, batinnya lagi.

“Di, udah jadi kan? Briefing sekarang deh yuk.” Sahut Gugun di ambang pintu.

“Oke, Mas.” Dian beranjak dan diikuti oleh semua orang yang ada di ruangan. Ia mendengar kasak-kusuk pembicaraan orang-orang yang mengekor di belakangnya.

“Untung gue gak jadi ijin hari ini, rejeki amat ya bisa interview Nicholas Saputra.”

“Iya, tadi gue maunya abis makan siang langsung kabur aja. Tapi gue balik gegara charger ketinggalan. Eh bersyukur deh ternyata gue balik kantor.”

“Makanyaaa, kalo kerja yang rajin biar rejekinya makin banyak.” Sahut Dian gemas dan langsung disambut tawa yang lainnya.

Setengah jam kemudian, studio dan kru sudah siap. Mereka tinggal menunggu kehadiran tamu agung yang sukses bikin satu lantai heboh karena kekurangan pasukan. Dian hendak menghubungi Gina ketika Gugun tiba-tiba menepuk pundaknya.

“Udah dateng tuh, yuk siap-siap, Di.”

Dian langsung beranjak dan semua kru berada di tempat masing-masing. Yang pertama kali memasuki ruang studio adalah beberapa orang yang sepertinya manager dan kru promo film mereka. Sesaat kemudian sosok yang bikin gempar itu muncul. Menggunakan kaos berwarna hitam dengan judul film Aruna, ia masuk dengan pandangan yang langsung menyapu seisi studio. Dian langsung terpaku seketika. Mata Nicholas Saputra bertumbuk dengan matanya sekian detik. Hati Dian semakin tak karuan ketika tiba-tiba Nico menghampirinya.

“Mbak, sorry, toilet di sebelah mana ya?”

Dian masih mematung melihat langsung wajah Nicsap yang berjarak tak sampai semeter di depannya. Eh buset, mukanya kok glowing amat, kok gue jadi deg-degan?

“Mbak?” tanya Nico lagi.

“Oh… ehm, i-itu, di ujung sebelah kanan, Kak, eh… Mas.” jawab Dian gugup setengah mati.

“Terima kasih.” Sahutnya pendek sambil berlalu.

Setelah Nico berlalu, Dian baru bisa menghela napas yang ia tahan sekian detik tadi. Bangke, orang cakep beneran bisa bikin sesak napas ternyata. Ujarnya dalam hati.

Sekembalinya Nico dari toilet, Dian sudah standby di balik kameranya bersama Odi. Yang bertugas sebagai host kali ini adalah si Niar, anak magang yang sejak diumumkan bahwa Nicsap dan Dian Sastro bakal mampir interview di kantor, langsung gercep merayu Dian agar bisa mewawancarai mereka berdua.

“Enak banget ntar lo ngedit video mereka ini, Di.” Bisik Odi di sebelahnya.

“Kok bisa?”

“Tampangnya udah cakep-cakep gini, gak perlu diapa-apain lagi gambarnya udah cakep.”

“Berarti gue tinggal crop si Niar aja ya?”

Odi tidak bisa menahan tawanya. “Kampret emang lo.”

Proses interview pun berjalan begitu cair dan menyenangkan. Setelah sekian lama Dian memendam pertanyaan mengapa Gina sebegitu jatuh cintanya dengan sosok Nicholas Saputra, akhirnya pada momen ini semuanya terjawab. Dian bisa melihat hanya dari bahasa tubuh dan gesture dari si Nico, bahwa ia adalah seseorang dengan attitude sangat baik. Matanya menunjukkan rasa keingintahuan tinggi, terpancar dari setiap perkataannya yang begitu lugas dan tegas. Niar sedang memberikan pertanyaan tentang buku favorit Nico dan Dian Sastro, yang langsung dijawab antusias oleh keduanya. Kebetulan buku favorit Nico juga menjadi favorit Niar, sehingga percakapan yang berlangsung terlihat begitu seru dan hidup. Sementara Dian yang duduk di balik kamera sama sekali tidak paham apa keseruan yang terjadi di antara obrolan itu. Akhirnya detik Dian berjanji dalam hati, Oke, mulai besok gue bakal lebih rajin baca buku!

Sesi interview sudah berakhir, Dian Sastro pun pergi lebih cepat karena harus menghadiri agenda lainnya. Sementara Nico dan beberapa temannya memilih lebih dulu diam di rest spot kantor untuk menunggu jadwal readingnya yang masih sekitar dua jam lagi. Oh yes, just stay as long as you want Mas Nico. Batin Dian.

Dengan batas sekat kaca dari meja kerjanya, Dian bisa melihat Nico yang duduk di beanbag sambil membaca buku. Oh wow, bahkan di kala senggangnya pun ia manfaatkan dengan baca buku, sungguh berfaedah sekali hidupmu, Mas. ujar asal Dian di dalam hati.

“Dian, sini yok ikutan gabung.” Teriak Gugun yang berjalan menuju rest spot.

Ragu-ragu Dian ikut mengekor Gugun.

“Nah, mumpung Dian Sastronya udah cabut duluan, diganti ama Dian yang ini aja deh.” celetuk Gugun. “Dian ini video editor di sini, tapi sering juga jadi creative director, tadi juga dia yang bikin konsep interviewnya.”

“Oh iya, makasih banyak ya, interviewnya cukup menyenangkan.” kata Nico.

Dian hanya tertawa kikuk, tak tahu harus bereaksi apa lagi.

Hingga ke menit-menit berikutnya Dian hanya duduk menyaksikan keasyikan Nico, Gugun, dan beberapa orang di situ yang asyik ngobrol banyak topik. Tapi sebagian besar obrolan mereka adalah tentang project-project Nico selanjutnya.

Dian dibuat terpesona dengan antusiasme Nico setiap membicarakan mimpi-mimpinya yang akan maupun sedang ia kerjakan dalam waktu dekat. Kalau Gina jatuh cinta dengan penampilan Nico yang biasa terlihat di layar lebar, kini Dian dibuat jatuh cinta oleh ambisi dan kepribadian Nico yang mungkin terlihat cuek dan tegas, namun dibalik tatapan mautnya itu tersimpan berbagai buah pemikiran yang cerdas.

Dari obrolan sore itu, Dian bisa menyimpulkan bahwa Nico berhasil membuatnya ingin mengubah tujuan hidup. Dian bertekad akan lebih sering minum air putih supaya kulitnya bisa semulus dan seputih wajah Nico, ia juga berusaha untuk mengurangi penggunaan plastik agar eksistensinya di bumi ini lebih berharga sebagaimana Nico yang begitu concern dengan kelestarian alam, Dian juga bertekad untuk lebih sering membaca buku agar punya wawasan yang lebih luas, setidaknya untuk mengimbangi obrolan Nico yang sejak tadi hanya ia ikuti dengan terseok-seok.

Nico sudah beranjak dan berpamitan ke beberapa orang ketika akhirnya Dian memberanikan diri. “Boleh foto bareng dulu gak? Sekali aja.”

Nico menatap Dian sekilas. “Boleh.” Ucapnya datar.

“Yaelaah, jadi daritadi lo ngempet pengen foto? Ngomong kek daritadi, Di.” Ledek Gugun.

Dian menyerahkan handphonenya pada Gugun. Malu-malu, ia berdiri di samping Nico dan berusaha tersenyum semanis mungkin.

Setelah seluruh rombongan Nico pergi meninggalkan kantor, Dian mulai mengetik pesan untuk Gina. Gin, sorry banget ya. Gue harap lo gak bakal marah sama gue deh.

Tak selang lama, balasan dari Gina masuk.

Gina : Ih, kenapa lo emangnya, Di? Lo abis ngapain?

Dian mengirimkan fotonya bersama Nicholas Saputra. Dengan jeda yang cukup lama, balasan Gina kembali masuk.

APA-APAAN INI, DIAN?! APA-APAAN?!!!

-TAMAT-

Ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi
Ilustrasi oleh : @msekarayu

One thought on “Oh, Nicholas Saputra!

Leave a Reply