Turning Point of The White Era (1)

“Ah! Taksi sialan!” umpat Amanda saat sebuah taksi berwarna oranye itu nyaris menyambar pinggangnya saat menyeberang. Ia melirik jam tangannya sekali lagi. Sudah lebih sepuluh menit. Sungguh karirku akan hancur kalo sampai aku terlambat lima menit lagi. Rutuknya dalam hati. Ia berjalan lebih cepat bahkan setengah berlari. Pagi ini terpaksa ia harus membatalkan tiket pesawatnya ke Bangkok karena kantor redaksi digegerkan dengan sebuah berita yang entah muncul darimana, berhasil terpampang di semua segmen breaking news di berbagai portal berita, termasuk kantor beritanya.

Ia nyaris melompat ke dalam lift ketika pintu itu hendak menutup.

“Amanda? Bukankah pagi ini harusnya kau menuju Bangkok?” tanya seorang reporter jangkung bernama David yang sudah berdiri lebih dulu di dalam lift.

Amanda masih terengah-engah kehabisan napas. “Yeah, guess what?”

David mengangguk paham. “Aah, those breaking news, huh?”

Amanda hanya mengangkat kedua alis sambil menenggak air putih dari tumblrnya. “Kupikir hidupku bisa lebih tenang untuk seminggu ke depan. “

David tertawa. “We’re all screwed. Lagipula prinsip hidup tenang memangnya bisa berlaku untuk pekerjaan kita?”

Amanda melirik David. “That’s a good point.” Pintu lift terbuka tepat di lantai tujuh. Amanda keluar lebih dulu. “Brace yourself, David.

You too, Amanda.” David kembali menutup pintu lift.

Amanda kembali berlari menyusuri kubikel-kubikel menuju ruang meeting. Ia membuka pintu kaca itu dan seketika matanya bertemu dengan tatapan Fanny yang duduk di ujung meja. Damn. Umpat Amanda dalam hati. Ia hanya tersenyum sebisanya dan mengambil duduk di kursi yang masih kosong.

Let’s hear it from Amanda.” Kata Fanny tiba-tiba. Amanda yang baru saja duduk dan belum sempat melepas tas dan jaketnya seketika dibuat mematung dengan tatapan seisi ruangan tertuju padanya. “Aku yakin kamu sudah tahu apa yang kita bicarakan pagi ini. Perjalananmu kemari biasanya memakan waktu dua puluh menit, yang kini…” Fanny melihat jam tangannya. “…sepertinya lima belas menit lebih lama. Apa yang kamu temukan selama perjalananmu kemari pagi ini?”

Amanda masih terdiam, namun ia berusaha untuk segera mengambil alih situasi. Ia meletakkan tas dan membuka jaketnya perlahan. “Pagi ini, pemilihan gubernur tidak lagi menjadi sesuatu yang membosankan. Aku melihat setiap portal berita hanya membeberkan tentang website whiteflag.com yang tiba-tiba muncul dan membongkar sisi gelap para calon gubernur. I think they missed the most important part of it, apa yang sebenarnya mereka sasar lewat serangan mendadak itu. Untuk menjatuhkan kandidat-kandidat gubernur yang busuk? Tentu saja. Tapi aku yakin itu bukan sasaran utama mereka.”

“Apa yang membuatmu begitu yakin?” tanya Tom di sebelahnya.

“Karena semuanya terlihat seperti main-main, Tom. Apapun yang diunggah dalam website itu tidak kredibel. Seolah hanya gosip-gosip belaka yang tidak punya sumber kuat. Aku yakin mereka melakukan itu hanya untuk permulaan, untuk lebih dulu mengacaukan kepercayaan pendukung masing-masing kandidat.”

Fanny mengangguk pelan. “Just like what I said earlier, kita perlu lebih sabar menggalinya. Tidak perlu buru-buru memakan umpan murahan mereka.”

“Fanny, we have to give something to our audience. Bukankah ini materi yang sangat mudah untuk menaikkan rating?” bujuk Marcel yang terlihat tidak ingin melewatkan kesempatan setiap berita yang berpotensi menjadi viral.

If you only care about the rating then do those cheesy pranks.” Jawab Fanny singkat. “Empat jam. Kita cari sumber dan data yang meyakinkan tentang whiteflag.com selama empat jam ke depan. Sore ini kita live. Tom, get me Robby and Ian Tudick.” Fanny berdiri dan meninggalkan ruang meeting, diikuti yang lainnya.

Amanda menghela napas lega di kursinya. “Well, that’s really quick.” Ia mengikat rambut panjangnya yang terlihat kusut.

“Ah, kau melewatkan bagian terbaiknya. Sepertinya pagi ini moodnya kacau. Tidak biasanya dia selamban itu mengejar berita, kan?” bisik Tom sambil mengerling ke arah Fanny. Amanda mengikuti pandangan Tom, melihat Fanny yang kini dicegat oleh beberapa orang yang membutuhkan tanda tangannya.

Amanda mengendikkan bahu. “She’s just being Fanny as usual.” Ia meraih tas dan blazer, beranjak menuju meja kerjanya.

Fanny Aquini, pimpinan redaksi kantor berita Koma, yang sama sekali tidak suka dipanggil Bu, atau Miss. Satu kantor dari segala umur dan jabatan kompak hanya memanggilnya Fanny saja. Amanda pertama kali bertemu dengan Fanny saat wawancara kerjanya tahun lalu, tapi ia sudah mendengar kredibilitas seorang Fanny Aquini jauh lebih lama sebelum ia memutuskan untuk mencoba melamar pekerjaan di Koma. Ia selalu menganggap Fanny sebagai perempuan paling ideal yang memang pantas menduduki posisi tertinggi di Koma. Ideal dalam arti sesungguhnya dan seluruhnya.

Dari segi fisik yang berhasil membuat perempuan satu gedung iri karena perawakan Fanny yang menjulang dengan lekuk tubuh tegas, lebih pantas memiliki karir modelling dan acting dibanding berkutat di meja kantor dan liputan lapangan. Penampilannya selalu terlihat mencuat, rapi, mahal dan berkelas. Meskipun semua yang melekat di tubuhnya tidak pernah terlalu mewah, tapi selalu terlihat pas. Pendidikan yang ia tempuh pun terlihat gemilang dan menjanjikan. Pernah sekali waktu Amanda mencuri lihat lembar CV Fanny yang tergeletak di atas meja. Yang berhasil membuat Amanda merasa ciut seketika dan ingin rasanya mengambil setengah saja dari deretan pengalaman dan prestasi Fanny yang seolah tak cukup dituliskan di tiga halaman CV.

“Alasanmu ingin bekerja di Koma?” tanya Fanny saat proses wawancara dengan Amanda setahun lalu.

“Aku tidak ingin karirku berhenti di titik. Kurasa Koma menjadi tempat yang tepat supaya aku terus berusaha mencari jawaban, mencari jati diri. Selalu ada kelanjutan cerita setelah koma.”

Jawaban Amanda berhasil mengundang senyum tipis di wajah Fanny. “Nice answer.”

What about you?” tanya Amanda balik.

What do you want to know about me?” Fanny mengerutkan kening.

“Alasan seorang Fanny Aquini menetap di Koma?”

Fanny terdiam sejenak. “Pertama, capek berurusan dengan orang tolol. Kedua, bosan bekerja dengan orang bodoh.”

Mau tak mau Amanda tertawa. “It’s an honor to meet you today. I’m so happy to see you.

Fanny hanya mengulurkan tangannya. “And it’s an honor to have you. I can’t wait to see what we can do together as a team.

Wait… what?” ragu-ragu ia menyalami tangan Fanny.

Fanny menjabat tangan Amanda erat dan berkata dengan lebih pelan. “You start working next Monday.

Amanda menutup mulutnya tak percaya. “That’s it? Aku pikir prosesnya masih panjang atau…”

“Aku sudah berpengalaman menilai kualitas orang hanya dengan sekali tatap muka. And that’s enough. You are enough.

Amanda menghela napas lega. “Thank you so much. I’ll do my best.”

“Hal yang harus diingat ketika bekerja dalam timku adalah read as much as you can, ask as much as you want, and listen as much as you need. And the most important thing, don’t be stupid. Remember that.” Tegas Fanny.

Amanda mengangguk-angguk berusaha menyerap segala petuah yang keluar dari Fanny.

Dan kini, setahun berlalu, Amanda menemukan banyak hal yang semakin membuatnya betah bekerja di Koma. Ia tahu semua itu berkat integritas Fanny sebagai pimpinan yang berhasil merangkul semua orang di Koma menjadi tim yang solid. Baru saja ia menyalakan komputer di meja kerjanya, ada e-mail masuk dari Lunar post yang menanyakan konfirmasi kehadiran Fanny pada malam penghargaan jurnalistik yang akan digelar tiga hari lagi. Tertera nama Fanny Aquini akan menerima penghargaan The Most Influential Journalist Under 35. Amanda tertawa sinis membaca isi email itu. Ia paham betul Fanny tidak akan sudi menghadiri acara seperti itu. Terlebih Glen, pemimpin redaksi Lunar Post yang sudah lama mengagumi Fanny, masih berusaha mendekatinya sampai sekarang. Tapi tak urung ia berjalan menuju ruangan Fanny, hanya memastikan bahwa perkirannya tidak salah.

Amanda mengetuk pintu kaca itu pelan. Setelah dipersilahkan masuk, ia mendorong pintu. Terlihat Fanny menyaksikan berita di TV yang menempel di tembok dengan serius. “Kenapa kau telat pagi ini?” ucapnya tiba-tiba tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun.

I’m… sorry about that. Karena seharusnya pagi ini aku terbang ke Bangkok. So, I had to cancel my flight first.”

Jawaban Amanda seperti mengingatkan Fanny pada satu hal. Ia menoleh, “Oh… I’m sorry about that too, Amanda.”

It’s okay.

“Henry bisa memahaminya?”

Amanda hanya meringis. “Not really… but I can handle it.” Seketika ia teringat adegan berdebat di teleponnya dengan Henry, yang membuatnya nyaris tertabrak taksi pagi ini. “Anyway, kau dapat penghargaan lagi.”

Fanny mengecilkan volume TV dan kembali duduk di balik mejanya. “Really? Dari mana lagi sekarang?”

“Lunar Post, again.”

They’re admiring me that much, don’t you think?”

He’s admiring you that much, for sure.” Amanda mengoreksi. “Ini tahun ketiga dia memberimu penghargaan.” Ia menarik kursi dan duduk di hadapan Fanny.

“Dan penghargaan yang kudapat tahun ini adalah?”

“The Most Influential Journalist Under 35.”

Ow, how cute.” Fanny tak bisa menyembunyikan ekspresi jengahnya.

I know, but… gak ada salahnya kali ini mencoba datang kan?”

Ia menatap Amanda dan bertanya serius. “Tell me, what’s so special about being succeed under 35?”

It’s a milestone?” Jawab Amanda ragu-ragu.

Actually, it’s boring. Mungkin aku akan pensiun saja di ulang tahun ke-35 ku nanti.”

Amanda menggeleng. “Don’t, please don’t. You’re irreplaceable.”

Fanny tersenyum. “Anyway, you should ask Marcel, mungkin dia mau datang mewakiliku. I won’t come. Oh and… sore ini kau yang jadi program director.”

Alright then.” Amanda meninggalkan ruang kerja Fanny.

***

Henry tidak percaya bahwa rencana berliburnya dengan Amanda akan dibatalkan dua jam sebelum pesawat Amanda lepas landas. Sudah berjam-jam ia sengaja tidak menghubungi ataupun menghiraukan panggilan dan pesan dari Amanda. Ia sudah kesal setengah mati. Hari terakhir liputannya di Thailand kali ini seharusnya ia lanjutkan dengan menjemput Amanda di bandara, menyewa hotel, dan memeluk tunangan kesayangannya itu sampai puas. Dan kini justru ia harus terjebak dengan reporternya si Laura, dan asistennya, Edy.

“Untunglah Amanda tidak jadi kesini, Henry. Mau apa aku kalau harus berduaan dengan si tambun Edy.” Ujar Laura dari kursi tengah.

Edy hanya melirik Laura sinis dari spion sambil tetap menyetir. Sementara di sampingnya, Henry terlihat tidak selera menanggapi apapun.

“Hey, sudahlah. Kau tahu Amanda sungguh-sungguh tidak akan kesini, dan kita masih punya dua hari ke depan tanpa jadwal liputan apapun. Let’s do something fun.”

Yes, let’s find a party.” Sahut Laura antusias.

What kind of party?” tanya Henry lemas.

I don’t know, kita bisa cari bar terdekat. Laura, go find nearest bar around here.”

I’m on it.” Cekatan Laura meraih ponselnya dan mulai mencari daftar bar terdekat dengan lokasi mereka.

No, no, you guys go party. I want to go back to my room. Drop me at the hotel, Edy.

Seketika Laura merengek. “Oh come on, Henry.”

I’m really tired, Laura. Okay? Seharian ini aku menggotong kamera besar dan tripod. Aku butuh istirahat.”

Edy menepikan mobilnya tepat di depan gedung hotel. Henry segera turun sambil memanggul tripod dan tas kameranya. “Edy, don’t drink too much. Drive safely.”

Bye, Henry.” Teriak Laura dan Edy bersamaan.

Edy melambaikan tangan sekilas. Sesampainya di kamar, ia meletakkan barang-barang dan langsung merebahkan punggungnya di atas kasur. Ia mengaktifkan layar ponselnya, langsung terpampang foto Amanda sedang memamerkan cincin yang ia pakai. Salah satu foto yang menangkap momen bahagia Amanda sesaat setelah Henry melamarnya, yang sengaja ia pasang sebagai wallpaper. Muncul notifikasi pesan dari Amanda.

Amanda : Honey, I’m sorry.

Henry mendesah kesal. Ia meletakkan ponselnya di meja dan beranjak menuju kamar mandi.

***

Glen : Dinner tonight? I’ll pick you up after work.

Fanny hanya membaca sekilas pesan Glen yang baru saja masuk tanpa membalasnya. Sore ini ia mendampingi krunya di studio, memimpin program berita yang sudah berlangsung live on air sejak satu jam yang lalu. Sebenarnya Fanny tidak terlalu khawatir tentang program beritanya yang terlambat merespon berita soal whiteflag.com dibanding kantor berita lainnya, yang ia khawatirkan adalah seberapa ampuh umpan yang diberikan melalui program berita ini mampu menjadi pemicu supaya whiteflag.com merespon tudingan yang ia buat bersama tim redaksinya.

“Jadi, menurut anda whiteflag.com tak lebih dari sekadar distraksi?” tanya Robby, pembawa berita yang dipilih Fanny untuk mewawancarai narasumber dari partai oposisi pemerintah, Ian Tudick.

“Ini semua hanya pemanasan. Apa keuntungannya mengobrak-abrik kasus lama dari kandidat gubernur. Selama ini kita sudah tahu mereka semua busuk. Kita terpaksa memilih kandidat terburuk, worst of the worst.” Ucap Tudick. “Ada perkara lebih besar yang sedang terjadi di pusat pemerintahan, dan kita sengaja hanya difokuskan pada masalah sepele ini.” Tudick menatap kamera. “Dan aku menantang siapapun di balik whiteflag.com, aku tahu apa yang kau sasar. Aku yakin permainan ini akan berlanjut dan lebih menarik lagi.”

Fanny mengangguk puas. Semuanya berjalan sesuai rencana yang mereka susun seharian ini. “Amanda, get ready for the closing.” Ia berbicara lewat mic headphonenya yang tersambung ke Amanda di control room. Berita sore itu pun selesai beberapa menit kemudian. Fanny langsung menghampiri Ian Tudick dan memeluknya sekilas. “I knew we have the same thoughts.” Bisik Tudick.

“Pernyataanmu tadi mungkin akan jadi bumerang buatmu, kau yakin akan baik-baik saja?” tanya Fanny sembari melepas pelukannya.

“Itu sudah biasa, Fanny. Kau juga perlu hati-hati. Semua orang tahu siapa yang paling berpengaruh di balik Koma.”

I will. Thank you so much for coming, Tudick.”

My pleasure.” Tudick berjalan meninggalkan studio.

Tepat saat Tudick membuka pintu, terlihat sosok Glen yang berjalan memasuki studio.

Oh shit!” umpat Fanny nyaris berbisik. Ia lupa membalas pesan Glen untuk menolak tawaran makan malam. Kini Glen sudah berjarak sekian meter darinya dan semakin mendekat. Ia melepas headphonenya dan berusaha memasang wajah setenang mungkin. “Hi, Glen. I’m sorry, aku lupa balas pesanmu. Aku baru selesai on air.”

It’s okay, everything’s good?”

Fanny mengangguk. “Sesuai perkiraan.”

Well, wawancara Robby dan Tudick barusan cukup mencengangkan. It’s number one worldwide trending topics on Twitter already.

Yeah, memang sudah sesuai perkiraan.”

So? Kita berangkat sekarang?”

Fanny memperhatikan penampilannya. “I need to go back to my office and get ready first, grab my bag and suit.

Sure, perlu diantar?”

Nope, you just wait here.”

Glen mengangguk. “Okay.

Fanny segera pergi menuju ruangannya.

“Wow, sepertinya Glen mulai berani terang-terangan kali ini.” Dari balik sekat kaca, Marcel mendapati sosok Glen di dalam studio.

“Glen? From Lunar? Where?”

Marcel menunjuk sosok laki-laki dengan jas abu-abu berdiri di lantai studio. Amanda mencuri lihat dari balik bahu Marcel. “Anyway, mungkin saja Fanny akan berubah pikiran untuk bersedia datang ke malam penghargaan itu, kalo si Glen yang merayu langsung. Artinya aku tidak lagi dibutuhkan.” Lanjutnya sedih.

Glen ibarat Fanny versi laki-laki. Banyak orang kantor yang berharap keduanya akan berkencan, dan menjadi sejoli paling serasi di kalangan jurnalis dan kantor berita. Tapi sepertinya Fanny memang perempuan yang tidak bisa didapatkan dengan mudah. Sudah banyak laki-laki berusaha mendapatkan hatinya namun tidak pernah Fanny menanggapi mereka sedikit pun. Kalau saja Fanny sampai menolak Glen, entah tipe lelaki seperti apa yang ideal menurut Fanny.

Fanny kembali ke studio dengan penampilan yang lebih rapi dan tentu saja lebih cantik. Rambut ikal sebahunya ia biarkan menggantung, menegaskan lehernya yang jenjang. Glen sampai dibuat gugup melihatnya. “You… look gorgeous.

Yang dipuji hanya tersenyum tipis. “Actually, malam ini kami berencana ke Dean’s, I promise them freeflow beer. So what if you join us tonight? Is that okay?”

Oh, that’s… yeah that’s fine.” Sesungguhnya Glen sudah memesan meja di salah satu restoran favoritnya. Namun ia lebih memilih kehilangan uang reservasi daripada kehilangan kesempatan bersama Fanny.

Great.” Fanny berjalan lebih dulu. Glen mengikutinya.

Ponsel Marcel dan Amanda berdering bersamaan, terdengar ponsel kru lain juga berdering. Pesan broadcast masuk dari Fanny. Dean’s tonight, freeflow beer for all crew. I’ll wait you guys there.

Amanda tercengang kemudian tertawa. Marcel justru terbahak lebih keras. “Oh my god! It’s a big no, Glen. It’s a big fucking no. You better back off right now Glen. That’s my boss!” Teriaknya puas.

***

Malam itu akhirnya Henry memutuskan untuk tidak tidur dan melanjutkan pekerjaannya menyunting gambar-gambar liputan, dengan sebotol anggur yang sejak sejam yang lalu sudah berhasil membuatnya pusing. Dari jendela kamarnya, ia melihat langit yang perlahan mulai terang menuju pagi. Sampai sekarang pun Edy dan Laura tidak kunjung kembali ke hotel. Ia meraih ponsel dan menelepon Edy, yang langsung menuju voicemail. Teleponnya ke Laura pun tidak terjawab. “Where are they?” gumamnya.

Sesaat kemudian terdengar suara pintu kamar diketuk. Henry bergegas membukanya yang langsung disambut dengan tubuh Laura yang limbung ke pelukannya karena mabuk berat. “What the fuck?”

Edy sudah tidak sanggup menopang tubuh Laura. “She’s drunk.”

Yeah, I know, thank you.” Jawab Henry kesal. Ia menopang tubuh Laura dan meletakkannya di atas kasur. “Kenapa kau tak membawa Laura ke kamarnya sendiri?”

I can’t find the key. Kucari kunci kamarnya di tas, jaket, dan sakunya tidak ada. Nanti akan aku urus di front desk. Now let me just sleep for an hour okay?” Edy pergi dan menutup pintu kamar Henry dari luar.

Oh, great.” Gerutu Henry. Ia kembali duduk di hadapan laptopnya dengan wajah lesu, mencoba mengatur napas dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Laura terbangun beberapa jam kemudian menjelang siang, dari sudut matanya ia melihat Henry menunduk lesu di mejanya.

Wait, what are you doing in my room?”

Wake up, Laura. Harusnya aku yang bertanya seperti itu.”

Laura langsung terduduk dan memperhatikan seisi ruangan. “Oh, shit. Kenapa aku tidur di kamarmu?”

You lost your key.”

Laura menepuk jidatnya. Ia menendang selimut dan mencoba turun dari kasur, namun badannya masih limbung dan ia pun terjatuh. “Aww.

Henry menoleh dan seketika menghampiri Laura. “Laura, berapa botol minuman yang kau habiskan semalam?” Ia membantu Laura untuk kembali duduk di kasur.

I don’t know.” Laura tertawa. “Oh my god, kepalaku sungguh sakit.” Ia menyandarkan kepalanya di dada Henry.

“Laura… Laura, please.” Henry berusaha menjauh dari Laura.

You know what, Henry? I think he’s right all the time. About our separation. Tapi aku masih tidak bisa menerimanya. I don’t know what to do, Henry.” Laura mulai terisak, masih bersandar di dada Henry yang kini ia peluk lebih erat. Henry tidak berkutik.

It’s okay, Laura. You need to rest.

Laura mendongak dan mendapati wajah Henry yang begitu dekat. Ia tersenyum dan membelai wajahnya. “Sometimes you remind me of him.” Tanpa aba-aba Laura mencium bibirnya, dan Henry pun membalasnya.

***

Dean’s penuh dengan orang-orang dari Koma, dan tentunya Glen. Fanny sengaja memilih meja untuknya dan Glen di sudut, terpisah dari staff Koma lainnya yang berkumpul di bar utama.

“Aku sungguh berharap kau bisa datang di acara penghargaan Lunar, Fanny.” Kata Glen. “Kau mendapatkan satu penghargaan lagi, you know that?”

The Most Influential Journalist Under 35? I can’t believe you make that such category. I mean, sama saja kau membuat standart tentang kesuksesan. Semua orang bisa sukses di umur berapapun and that’s fine. Not everyone has to be a billionaire or owning a company at their 30s.”

Well, I’m sorry, I’m just owning the company, aku tidak terlibat sebagai panel juri di sana.”

Fanny menyandarkan punggung dan menyilangkan kakinya. “Kudengar kabar tentang dewan komisaris Lunar beberapa waktu lalu. Seems like you’ve got a lot of pressures, no?”

Too much, I think.” Glen mengusap wajahnya. “Same old crap. Mungkin mereka benar-benar ingin menyingkirkanku kali ini.”

No wonder. You’re too dangerous for them.” Fanny meneguk sisa winenya.

We should do this again next time, Fanny. Di luar jam kantor, di luar liputan, di luar studio.” Glen mencoba peruntungannya kembali untuk memikat Fanny.

Where? Your apartment?”

Glen mendadak gugup. “Sure… i-if you like.”

Yeah, you wish. Batin Fanny.

Stupid Glen.” Ucap Tom sambil memperhatikan gelagat dua bos besar di meja paling sudut dekat pintu masuk itu. “Sepertinya Fanny sudah terlihat muak.”

Do we have to do something?” bisik Marcel.

Oh come on, she’ll be fine.” Amanda menimpali dengan gemas sambil memperhatikan halaman chatnya dengan Henry, masih belum ada pesan baru yang masuk. Ia menghela napas. Akhirnya ia mengalah dan menelepon Henry lebih dulu. Mulai terdengar nada sambung.

Di kamar hotelnya di Thailand, tangan Henry berusaha meraih ponselnya yang berdering sambil tetap mencumbu Laura. Ia berhasil menggapai ponsel dan menjawab teleponnya. Setelah ia menatap layar dengan lebih seksama dan jelas, ia mengumpat sejadinya.

Oh shit!” Henry berusaha bangkit namun Laura masih menahannya.

Henry, don’t go. Come here.” Protes Laura manja.

Ssh.. sshh, Laura, shut up.” Henry mulai panik sambil berusaha menjauhkan ponselnya.

Di bar utama Dean’s, Amanda terlanjur menangkap dengan jelas apa yang terjadi dengan tunangannya. Ia menganga tak percaya. “WHAT THE FUCK, HENRY?!” teriak Amanda kencang, hingga semua orang di Dean’s serentak menatapnya, tak terkecuali Fanny dan Glen.

Amanda? What happen?” Marcel berusaha menenangkan.

Kedua mata Amanda mulai ia basah. Cepat-cepat ia keluar dan memaki Henry sepuasnya di tepi jalan.

Honey, please, jangan salah paham dulu.” Henry mencoba menjelaskan.

“Laura? THAT BITCH? Henry… I can’t believe it, seharian ini aku merasa bersalah padamu karena harus membatalkan janji kita. And now you with Laura in your room?!” suara Amanda mulai bergetar, seiring air mata yang menetes satu-persatu. “Oh, sepertinya kau bahagia kalau aku membatalkan tiket pesawatku kesana, kan? Supaya kau bisa bersama Laura?”

Henry masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya. “Honey, she’s drunk. And i…”

Amanda benar-benar menangis kali ini. “That’s it, Henry. I don’t believe you anymore.” Ia mengakhiri teleponnya.

Honey, please, Amanda?… Fuck!” Henry berteriak sejadinya.

“Henry, I’m sorry…” Laura mengetuk pintu kamar mandi.

Get out of here, Laura.”

“Henry…”

GET OUT OF MY ROOM!” tegas Henry. Kemudian terdengar suara pintu kamar di tutup.

Amanda masih menuntaskan tangisnya di trotoar depan Dean’s. Ia melepas cincin dan membantingnya di jalan. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya ia bisa mengatur napasnya. Setelah memastikan tak ada lagi air mata yang menetes, ia kembali masuk menuju bar. Tangannya meraih segelas bir yang masih penuh dan meneguknya habis. “Let’s get drunk.” Ia mengusap bibirnya.

Yesss!” sorak Tom, Marcel, dan yang lainnya.

***

Amanda menggeliat dan mengerang kesakitan. Kepalanya sakit bukan main. Dua hal yang ia sadari sebelum membuka matanya adalah aroma kasur yang berbeda, dan bedcover yang terasa lebih hangat dan lembut. Perlahan ia membuka matanya dan menatap langit-langit kamar yang sungguh berbeda dengan yang biasa ia lihat. Amanda memaksakan tubuhnya untuk duduk. Dia menyadari sedang berada di kamar yang sama sekali asing. Dari pintu kamar yang sedikit terbuka, terdengar sayup-sayup suara Fanny yang sepertinya sedang berbincang dengan seseorang lewat telepon.

Amanda mengerutkan kening. “What?...” Ia turun dari kasur dan berjalan keluar kamar. Benar saja, terlihat Fanny berdiri di dekat jendela dengan pakaian yang masih sama seperti di kantor dan Dean’s, kecuali blazer hitamnya yang ia lepas. Melihat Amanda berdiri di ambang pintu kamar, Fanny meraih segelas air mineral dan menyodorkannya ke Amanda. “I owe you my life, Mark. Let me know when you’re in town, okay? Bye.” Ia menyudahi panggilannya.

H-how…”

“Kau mabuk sampai tak sadarkan diri, dan tinggal aku yang belum pulang. Berhubung aku tak tahu persis apartemenmu dimana, so… I took you here.” Ujar Fanny dengan tangan yang sibuk memasak sesuatu dibalik barnya.

Shit, I’m sorry, Fanny. Maybe I should go home right now.

It’s late, Amanda. You can stay here for a while.

“Aku hanya tidak ingin menganggu istirahatmu.”

“Sama sekali tidak.”

Are you sure?”

Yeah.”

Amanda melihat sekeliling. Tak pernah ia tahu dimana dan bagaimana bentuk apartemen Fanny, dan sekarang ketika ia berada di dalamnya langsung, ia sangat terkesan. “You really that rich, don’t you?” gumamnya.

I’m just doing my best.

Amanda duduk di kursi bar dan meminum air mineralnya sampai habis. “Bahkan kau punya bar sendiri. What are you cooking?”

Fanny meletakkan sepiring creamy pasta di hadapan Amanda. “I hope you like pasta.”

Wow, I’m impressed.

Eat.” Sementara Fanny sudah lebih dulu melahap seporsi miliknya.

Diam-diam Amanda melirik Fanny. Di balik sikapnya yang dingin dan seringkali tak acuh, ternyata ia menyimpan banyak hal yang mengejutkan. Amanda pun tak menyangka Fanny akan sepeduli itu dengan kelakuan bodohnya mencoba mabuk hingga tak sadarkan diri. “Thank you so much, anyway. For tonight.”

Fanny hanya berdeham sekilas. “What happened to you back then? Henry?”

Sort of.” Ia menggumam di tengah kunyahannya. “Wait, you were with Glen, right?”

Yes, you kinda save my life tonight. Kalau saja aku tidak memaksa membawamu kesini, maybe I ended up in his bed right now.

Amanda melongo. “I feel sorry for him. Jadi, tadi kau membawaku kemari, satu mobil dengan Glen juga?”

Fanny mengangguk pelan.

Oh, damn.” Amanda menunduk lesu. “It’s embarrassing.

That’s fine.” Fanny lebih dulu menyelesaikan makannya. Ia meletakkan piring di bak cucian dan mengambil sekotak pil dari lemari. “Aku akan istirahat lebih dulu, Amanda. Just make yourself comfortable.”

Thank you, Fanny.”

Good night.” Fanny masuk ke kamarnya.

Amanda duduk sendiri di bar sambil menghabiskan makanannya. Ia melihat jari manisnya yang kini kosong tanpa hiasan cincin berlian seperti biasanya. Ada sedikit rasa sesal setelah ia membuang cincin itu dengan dramatis. Kini ia masih berpikir apa yang perlu dilakukan pada Henry saat tunangannya itu kembali dari Bangkok dua hari lagi.

***

Ada belasan panggilan tak terjawab dari Henry sejak pagi tadi. Sengaja Amanda mengabaikannya. Hatinya masih begitu sakit untuk membahas permasalahan itu. Kini ia duduk bersebelahan dengan Fanny di kursi tengah mobil taksi di perjalanan menuju kantornya. Amanda merasa penampilannya begitu kontras dibanding Fanny. Baju yang ia kenakan masih sama seperti kemarin. Sebelumnya Fanny sempat menawarkan untuk meminjamkan baju-bajunya, namun mengingat tinggi badan Amanda yang hampir 20 cm lebih kecil dibanding Fanny, ia merasa baju-baju Fanny akan terlihat konyol di badannya.

Oh, I almost forgot.” Tangan Fanny merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan cicin berlian dan menyerahkannya pada Amanda.

Amanda terkejut. “Where did you find it?” ia lega melihat cincin itu bisa kembali ke tangannya.

“Di depan Dean’s. Di sana kau membuangnya semalam kan?”

Amanda mengangguk dan menatap cincin itu sekali lagi. “Entahlah, aku merasa muak, namun sedikit menyesal setelah sempat membuang cincin ini.”

I don’t know whether you still want it or not. Tapi kurasa kau harus memberinya kesempatan.”

I’ll think about it.” Ia memasukkan cincin berlian itu ke dalam saku blazernya.

Taksi itu sudah menepi di depan gedung kantor. Fanny dan Amanda buru-buru melangkah menuju lift. Sampai di meja kerjanya, Amanda membuka laci dan mengeluarkan satu stel baju yang selalu ia simpan di sana untuk keperluan darurat. Dan ia bersyukur masih memegang kebiasaan itu hingga hari ini. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya yang kusut.

Belum sampai tiga menit ia berada di ruangannya, Fanny dikejutkan dengan telepon masuk dari nomor yang tidak diketahui. Pada situasi sebelum-sebelumnya, jelas ia akan mengabaikan panggilan semacam itu. Tapi kali ini intuisinya berkata lain. Ia menjawabnya ragu-ragu.

I like you.” Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang sepertinya sudah menyasar nomor telepon Fanny untuk membicarakan sesuatu.

Refleks, Fanny menjadi waspada. Matanya bergerak cepat mencari-cari satu hal yang terlihat mencurigakan di luar jendela dan di antara kumpulan orang di luar ruangan. “Who is this?”

“Aku suka bagaimana kau menyimpulkan segala gerak-gerikku. Berita yang lain tidak membuatku tertarik. Kupikir memang hanya kau yang bisa membaca pikiranku, Fanny Aquini.”

Whiteflag?”

Of course. Let me get this clear, benar, ini hanya permulaan. Jangan pernah berpikir bahwa tatanan yang ada sekarang membuatku susah bergerak. Aku datang sebagai tonggak, Fanny.”

“Apa maksudnya?” tangan kanan Fanny menuliskan sesuatu di kertas memo.

“Aku datang untuk sebuah Era Putih.”

Fanny kembali mengerutkan kening. Semua yang ia dengar terasa membingungkan dan belum bisa disimpulkan. “Can I meet you? Aku akan mencarikan tempat yang aman untuk kita berbicara.”

“Not now, one day.” Panggilan itu pun terputus.

Dammit.

Tiba-tiba Lucy mengetuk pintu dengan tergesa, kepalanya muncul di sela pintu. “Fanny, you need to see this.

Fanny bergegas keluar ruangan dan menatap layar-layar TV besar yang berjajar di salah satu tembok. Semua orang di lantai 7 ikut mendekat menyaksikan apa yang terjadi.Semua layar TV yang menampilkan channel berbeda sama-sama menayangkan tentang berita demonstrasi di pusat kota. Demostrasi itu memiliki massa yang cukup besar dengan banyak atribut bendera polos berwarna putih.

“Reporter kita sudah ada yang tiba di sana?”

Yes, David dan Mark.” Jawab Lucy.

Seketika Fanny menatap Lucy tak percaya. “Mark? He’s in town already?”

“Baru saja mendarat satu jam yang lalu. You want me to get him here?”

Of course, I need him immediately.”

You got it.” Lucy kembali ke mejanya.

And someone please give me your best explanation why we missed this one. Berkumpul di ruang meeting sepuluh menit lagi.” suara lantang Fanny berhasil membuat orang satu lantai terlihat gelisah.

***

Mark turun dari taksi dan langsung berlari memasuki lobi gedung. Kealpaannya memberi kabar pada Fanny bahwa ia akan kembali pagi ini mungkin sedikit menjadi pemicu pertengkaran mereka dalam beberapa menit ke depan. Mark tahu persis perempuan satu itu paling benci sesuatu yang mendadak dan mengejutkan. Setibanya di lantai 7 dengan menaiki tangga, Mark mulai mengurangi kecepatan melangkahnya. Ia melihat setiap orang yang terlihat begitu sibuk menelepon, lalu-lalang dari satu ruangan ke ruangan lain, hingga masing-masing seolah tidak memiliki kontak mata dengan lawan bicaranya. Mark hendak melenggang masuk ke ruang kerja Fanny ketika tiba-tiba Amanda menghadangnya.

“Mark?” Amanda berdiri di depan Mark. “Where have you been?”

Mark langsung memeluk Amanda erat. “I miss you too, Amanda.”

Amanda merasa risih dan berusaha lepas dari tangan Mark yang begitu kuat merengkuhnya. “Mark, seriously, kemunculanmu tiba-tiba di kantor selalu beriringan dengan berita buruk. Apa yang kau temukan kali ini?” tanyanya masih penasaran.

Mark hanya mengerling sekilas ke pintu bertuliskan nama lengkap dan jabatan Fanny. “Dia harus jadi orang pertama yang tahu.”

“Lalu setelah itu aku?”

Not really.” Mark meringis dan bergegas membuka pintu di belakang Amanda, lalu menutupnya dengan cepat sebelum Amanda berusaha mencuri dengar.

Come on, Mark.” Amanda berdecak kesal.

Di dalam ruangan Fanny, Mark disambut dengan omelan. “Kurasa kau mulai menyembunyikan sesuatu dariku. Mendarat pagi ini dan bahkan kau tidak memberi kabar satu pun?”

Mark hanya tersenyum jahil.

Fanny mulai gemas. Ia berjalan mendekat. “Jangan kau pikir ini lucu, Mark. I’ve been so…”

Omelan Fanny dihentikan oleh ciuman dari Mark yang tiba-tiba mendarat di bibirnya. Selang beberapa detik, Fanny langsung menepisnya. “I don’t need that right now.”

But, I do.” Senyumnya tanpa rasa bersalah.

Bagi siapapun yang baru saja mengenal Mark dan Fanny, hubungan mereka selalu terlihat aneh. Keduanya merupakan sahabat dekat sejak jaman sekolah, hingga sekarang sama-sama menekuni bidang yang sama. Bedanya, Fanny bernaung di gedung dan kantornya, sementara Mark berlindung di balik kamera, tulisan, dan belasan nama samarannya di media. Bagi Mark, Fanny adalah idolanya nomor satu yang selalu ia cintai dan lindungi, namun ia sepenuhnya menyadari bahwa mempunyai hubungan serius dengan Fanny sama saja membawa malapetaka besar bagi keduanya. Dan Fanny selalu menyayangi Mark, ia mengandalkannya untuk segala bentuk investigasi yang membutuhkan ketelitian tinggi dan jaminan kerahasiaan. Fanny percaya bahwa Mark adalah satu-satunya lelaki yang tidak pernah mengecewakannya sedikit pun.

Setiap kali Mark muncul di kantor Koma, itu sama saja menjadi alarm bagi semua orang. Bahwa seorang Mark sedang membawa pulang sebuah kartu As tentang isu apapun yang menyorot perhatian banyak orang. Dan kini, Fanny tahu pasti Mark tidak akan menghampirinya dengan tangan kosong.

“Aku tidak menyangka kau bisa setumpul itu soal whiteflag.com, Babe.”

Fanny mengangkat kedua alis dan menyilangkan tangannya. “Oh wow, then surprise me with everything you have.” Tantangnya.

“Kau memancingnya dengan Ian Tudick? Really?” Mark tertawa. “Whiteflag.com hanyalah satu hal sepele, Fanny. Demo hari ini di pusat kota bukanlah hal yang harus kau khawatirkan. Aku tahu mereka tidak mengincar pemerintah kita secara terang-terangan di satu sisi. Ian Tudick hanya akan menjadi bahan tertawaan mereka.”

Go on.” Fanny semakin serius mendengarkan.

Mark menurunkan ransel dari punggungnya dan mengeluarkan laptop. “Whiteflag.com memiliki banyak server. Tidak hanya di sini, tapi juga beberapa negara besar lainnya. Sebelumnya mereka tidak pernah menggunakan nama Whiteflag. Dan kali ini pergerakan mereka sepertinya mulai berani dan masif.”

“Pergerakan? What do you mean?”

“Abaikan soal website, kau harus lihat ini.” Mark menyodorkan layar laptop ke hadapan Fanny. “I don’t think Whiteflag is a person, Fanny. It’s definitely a worldwide organization.”

Fanny menatap layar laptop dengan resah. “Organisasi besar dengan skala dunia tidak mungkin membiarkan kau meretas ke dalam sistemnya, Mark.”

“Bagaimana kalau mereka sengaja membiarkanku? What if they want to show us something?”

Fanny teringat sedikit isi pembicaraan dengan sosok Whiteflag yang ia catat di secarik kertas memo. Ia meraih kertas tersebut dan menyerahkannya pada Mark. “Salah satu dari mereka menghubungiku pagi ini. What do you think about this one?”

Mark membaca tulisan tangan Fanny dengan mengangguk pelan. “And now… it’s all make sense.

***

Henry memutuskan untuk kembali sehari lebih awal, dan berencana segera menemui Amanda setibanya ia di bandara. Kini ia berusaha keras menembus kemacetan pusat kota yang dipenuhi massa demonstrasi. Namun beberapa menit kemudian sepertinya ia menyerah. Ia menyodorkan beberapa lembar uang ke sopir taksi dan melanjutkan dengan jalan kaki ke gedung Koma. Sesampainya di Koma, kakinya langsung menuju ke lantai tujuh. Henry sama sekali tidak berharap Amanda akan langsung memaafkannya, ia hanya membutuhkan Amanda untuk mendengar penjelasannya lebih dulu. Dari sudut matanya yang kurang tidur, kini Henry bisa melihat sebagian kepala Amanda yang sedang duduk di kubikelnya. Ia berjalan mendekat perlahan.

Honey?” sapa Henry pelan.

Amanda mengenal suara khas berat itu lebih dari siapapun. Ia seketika menoleh. Wajahnya terlihat terkejut, muak, dan kesal menjadi satu. “Kenapa kau sudah tiba di sini?”

“Aku… pulang lebih dulu.”

Amanda kembali menghadap layar komputernya, memunggungi Henry.

Henry dapat merasakan banyak pasang mata yang kini tertuju padanya secara diam-diam. Ia mulai merasa jengah. “Amanda, can we talk outside?” rayunya nyaris berbisik.

And why would I do that?”

“Aku harus menjelaskan sesuatu.”

I’m busy.”

Five minutes, I promise.” Ucap Henry setengah memohon.

Tiba-tiba Amanda beranjak dan berjalan lebih dulu ke pintu tangga darurat. Henry bergegas menyusul. Dan mereka pun berdebat di tangga darurat.

“Kenapa tak kau habiskan saja sisa satu harimu di Bangkok bersama Laura?” bentak Amanda.

Henry menghela napas. “Itu salahku, aku tahu. Maafkan aku, Amanda.”

Susah mati Amanda menahan agar air matanya tak jatuh. Nada suaranya mulai bergetar. “I told you from the very beginning. Aku sama sekali tidak bisa menoleransi keberadaan perempuan lain apapun yang terjadi, Henry.”

Henry melirik jari manis Amanda yang kini tidak dihiasi cincin tunangan pemberiannya. “Aku sama sekali tidak menyukai Laura.”

“I HEARD EVERYTHING, HENRY!” teriak Amanda hingga terdengar menggema. Ia menggeleng pelan. “Just leave me alone.” Ia membuka pintu dan kembali menuju meja kerjanya.

Henry masih berdiri di bawah tangga darurat yang mulai berkarat. Ia meletakkan ransel besarnya dan duduk bersimpuh di sisi tangga.

***

Ditulis oleh: Febriyanti Pratiwi
Ilustrasi oleh : @msekarayu

Leave a Reply