Turning Point of The White Era (2)

Malam itu ada empat orang yang berkumpul di ruangan gelap bekas hangar pesawat. Tiga pria, satu wanita. Satu pria di antaranya terikat di kursi dengan wajah lebam dan penuh darah. Napasnya tinggal satu-satu dengan suara berat di setiap tarikannya. Di luar hujan deras, yang menghasilkan suara bising ketika tumpahan air hujan bertubi-tubi menjatuhi genteng seng yang mulai lapuk di atas mereka.

Dari kejauhan, terlihat seorang pria yang baru saja turun dari mobil. Berjalan dengan tenang menghampiri sekumpulan orang yang sudah menunggunya. Ia membiarkan kepalanya basah dengan air hujan. Kemudian tangan kanannya mengambil sebuah pistol dari balik mantel dan langsung menembak kepala pria yang terikat di kursi. Pria itu pun langsung tak bergerak. Suara tembakan itu berhasil diredam oleh kencangnya gemuruh angin, petir, serta suara hujan di luar sana yang masih deras.

“Menurutmu ini semua tak terlalu tergesa-gesa?” tanya seorang wanita di antara mereka.

“Kita mulai berhasil menarik perhatiannya. Let’s keep it that way. Satu hal yang selalu berhasil memancingnya, rasa penasaran.” Ujar pria itu pelan sambil memasukkan pistolnya kembali.

“Dan dia akan berhasil menjadi umpan yang baik?” seorang pria lain yang bertubuh lebih kecil mengerling ke arah mayat yang baru saja ditembak.

“Tentu saja. Tidak ada yang lebih menarik baginya selain kematian kriminal keparat itu. Pagi ini, kita berikan sajian paling mencengangkan untuk dunia.”

Keempat orang itu saling tatap dalam diam.

***

Suara petir berhasil membuat Fanny terbangun. Matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan semua sensor tubuhnya ikut terjaga. Ruangan kamar yang masih gelap, suara hujan deras, tubuh Mark menempel rapat di punggungnya dengan hembusan napas hangat yang bisa Fanny rasakan di sekitar tengkuk, serta jam di meja kecilnya yang masih menunjukkan pukul dua pagi, adalah potongan informasi yang berhasil ia tangkap untuk mengembalikan kesadarannya secara penuh. Ia menghela napas dan memutar tubuhnya pelan, berusaha melepas lengan Mark yang memeluk erat pinggangnya.  Fanny membelai wajah Mark yang masih tertidur pulas, ia kecup ujung hidungnya pelan.

Fanny beranjak dari kasur dan merapatkan gaun tidurnya, berjalan menuju kamar mandi sambil menggenggam tabung kecil yang ia ambil dari meja. Tangannya membuka tutup tabung dan ternyata tersisa tinggal satu pil saja. Matanya menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel. Fanny membenci pantulan itu, garis wajah yang terlihat lelah dan kurang tidur. Segera ia menenggak pil terakhirnya.

“Kupikir kau sudah tidak meminumnya lagi.” ucap Mark yang sudah berdiri di belakang Fanny.

Ia melirik bayangan Mark di cermin. “Kupikir kau masih pulas di atas kasur.”

Mark mendekat dan memutar tubuh perempuan kesayangannya itu. “I can’t sleep without you.” Ia menarik pinggang Fanny dan mencium bibirnya.

Sengaja Fanny membiarkan ciuman itu berlangsung sedikit lebih lama. Mark adalah satu-satunya laki-laki di dunia ini yang pernah merasakan bibirnya, dan ia selalu bisa menemukan ketenangan di dalam bibir Mark yang lembut.

Are you okay, Babe?” tanya Mark setelah kecupan panjangnya selesai. “Kau kembali berobat dengan dokter Phill? You never told me about that.”

“Aku selalu merasa istirahatku tidak pernah cukup. Setidaknya obat itu bisa membuat tidurku lebih nyenyak walaupun hanya sebentar. Maaf, aku hanya tidak ingin kau khawatir soal itu.”

Mark membelai pipi Fanny dan tertawa kecil. “Khawatir denganmu? Kau perempuan paling tangguh yang pernah aku tahu.”

Fanny tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berdering kencang. Ia bergegas kembali ke meja dan memperhatikan layar ponselnya. Panggilan dari Lucy. Biasanya panggilan tengah malam yang berasal dari tim redaksinya menandakan ada sebuah berita terbaru yang sangat penting. Belum sempat ia menjawabnya, terdengar dering ponsel Mark yang juga menandakan panggilan masuk. Keduanya menjawab telepon masing-masing nyaris bersamaan.

Lucy? What’s happening?” tanya Fanny langsung.

Terdengar jeda Lucy mengambil napas sebelum menjawab. “Lanford Gale, jaksa korup yang sempat ingin kau bongkar beberapa bulan lalu, ditemukan tewas malam tadi.”

Fanny tertegun, ia melirik Mark yang juga terlihat terkejut mendengar sesuatu dari ponselnya. Keduanya pun saling tatap. Ia yakin mereka berdua sedang menerima berita yang sama.

***

“Lanford Gale? Sounds so familiar to me.” Amanda setengah berlari menuju lift sambil otaknya berusaha mengingat nama itu.

Of course, Fanny menjadikannya target investigasi beberapa bulan lalu, dicurigai menjadi otak penggelapan pajak, remember?” David mencoba membantu Amanda memancing ingatannya sambil kakinya mengimbangi langkah Amanda.

Tepat ketika keduanya sudah berdiri di dalam lift, Amanda membelalakkan matanya. “Ah, I see, yang kemudian berita itu dibiarkan begitu saja tanpa kelanjutan?”

Telunjuk David menekan tombol dengan angka tujuh. “Yup, sepertinya mulai hari ini kasus itu akan menjadi jauh lebih menarik.”

Wow, I’m afraid Fanny has some kind of death note or something, don’t you think?”

David hanya terkekeh geli. Pintu lift terbuka di lantai tujuh, dan terlihat beberapa orang yang sudah berkumpul di sana, meski langit di luar jendela masih terlalu gelap dengan sedikit semburat biru tua tanda matahari pun terlalu enggan untuk muncul pada jam ini. Mereka berdua langsung melangkah lebih cepat menuju ruang meeting. Mata Amanda tertarik pada Mark yang terlihat duduk di salah satu kursi. Begitu ia mendekat dan kepala Mark sudah berada di jangkauannya, Amanda melancarkan satu pukulan di kepala Mark. Yang langsung membuat Mark kaget dan protes.

“Aww! What’s that for?!” tanya Mark bingung.

I knew it, you brought something to us, and you didn’t even think to tell me?” Amanda menggeser satu kursi dan langsung duduk di sebelah Mark.

Well, I work for Fanny. Not for you.”

What’s the difference? Kau bekerja di Koma, dan aku…”

“Sshh.. Sshh…” Mark langsung menyela. “I love her, so much. And… I don’t even like you.” Ia tersenyum cuek.

Fuck you, Mark.” Amanda membanting tasnya di atas meja.

Fuck you, too.” Sahut Mark jahil sambil tertawa manis.

Listen up…” suara Fanny berhasil mengambil perhatian seluruh orang di ruangan itu. Terdengar ia menghela napas berat. “Beberapa bulan lalu, aku yang pertama kali memulai berita Lanford Gale. I had a convincing sources back then, butnow it’s gonna be a lot harder.” Wajah Fanny terlihat sedikit lebih tegang, yang membuat seisi ruangan ikut cemas, karena baru kali ini mereka melihatnya ragu-ragu dan tak tentu arah. “Mark, you have any thoughts?”

Semua mata pun langsung tertuju pada Mark. Sementara mata Mark masih menatap Fanny dengan tatapan khawatir. Ia tahu betul apa yang membuat Fanny takut dan kebingungan. Ia pun mengambil alih suasana. “Penyebab kematian belum diketahui publik, aku yakin polisi masih meredam banyak informasi soal kematian Lanford Gale. Meskipun aku sudah memegang data terpercaya soal itu. But, we need to take another option.”

What? Mengapa tidak kita gunakan saja data sari sumbermu itu?” tanya David.

I’m sorry, David. That will be too obvious. Kita tidak boleh terlihat terlalu mencolok kali ini. Selain berita kematian Lanford Gale, kita juga menjadi sorotan. You know why.” Mark melirik Fanny.

“Breaking news, ambil tiga segmen di berita pagi. That’s our best option. Hingga aku bisa memastikan semuanya di bawah kendali, kita ambil jalan paling aman. Let’s get to work.” Lanjut Fanny, ia langsung bergegas meninggalkan ruangan.

Mark ikut menyusul langkah Fanny. Semua orang yang ada di ruang meeting hanya saling tatap dan terheran.

Well, that was absurd.” Celetuk Tom.

Indeed.” Sahut Marcel.

Amanda mencuri pandang ke arah Mark dan Fanny yang baru saja memasuki ruangan kerja Fanny. Sudah jelas ada yang mereka tutupi, dan kini ia harus tahu apa itu.

***

Fanny memasuki ruangannya dengan gelisah. Mark menutup pintu pelan sambil tetap memperhatikan perempuan kesayangannya itu.

“Mark, I don’t know why and how, but…”

Something is attacking us, I know.” Pungkas Mark.

Fanny menatap Mark. “Not us, just me.”

Hey…” Mark meraih tangan Fanny dan menggenggamnya erat. “Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi denganmu.”

Can you stay with me this time? Don’t leave. Aku punya firasat yang buruk.”

Mark dapat melihat dengan jelas ketakutan yang terpancar dari wajah Fanny. Ia mencoba tersenyum untuk menenangkan. “Okay, if you want me to stay, I’ll stay. Tapi konsekuensinya…”

“Apa?” potong Fanny.

Mark tersenyum kecil, menunjukkan kedua lesung pipinya yang terlihat simetris. “Semua orang akan tahu soal hubungan aneh kita.”

Ia melengos. “It doesn’t matter, lagipula semua orang sudah tahu sejak lama.”

“Bahwa Fanny lebih memilih seorang jurnalis lepas daripada bos Lunar Post?”

Fanny melirik Mark dengan jengah. “Really, Mark?”

Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka kencang. Amanda masuk tanpa permisi dan langsung menutup pintu rapat-rapat.

Fanny bingung dengan tingkah Amanda kali ini. “Amanda, what the…”

What the hell is going on? Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. I know you guys hide something from me, from everyone. Sekarang aku benar-benar membutuhkan jawaban yang jelas. Kalau memang kau…” matanya menatap Fanny tegas. “…menginginkanku bekerja semaksimal mungkin untuk membantumu membongkar kasus ini. Now please, tell me something!”

Tantang Amanda penuh kekesalan. I know, this is stupid, but… please don’t fire me. Gumamnya dalam hati yang terselip sedikit ketakutan melihat mata Fanny kini menatapnya geram.

Fanny menoleh ke Mark, yang justru sedang berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Ia menghela napas. “Mark, give us a way in.”

Are you sure about this?”

Fanny menggeleng. “No, tapi kita harus melakukan sesuatu.”

Mark mengangguk pelan. “Okay, then.” Ia menoleh ke arah Amanda dan tersenyum. “We need to meet your fiancée.” Ia berjalan melewati Amanda dan membuka pintu untuk Fanny yang melenggang keluar lebih dulu.

You’re going with us, Amanda.” Ucap Fanny pelan.

Sementara Amanda hanya bisa terkejut tak percaya. “Wait… what… Henry?”

“Memangnya kau punya tunangan lain selain Henry?” tanya Mark sambil menahan pintu. “Come on, we have to go.”

Amanda mengekor langkah Fanny dan mengutuk sejadi-jadinya. “Oh shit! Shit… shit…shit…

Yeah, yeah, mengumpatlah sepuasmu.” Gumam Mark yang berjalan di belakang Amanda.

***

Amanda duduk di jok tengah mobil dengan resah. Sejak tadi ia memutar otaknya mencari-cari benang merah apa yang membuat Henry harus terlibat urusan mereka kali ini. Ia belum berbicara lagi dengannya sejak tunangannya itu nekat menyusul ke kantor sepulang dari Bangkok. Dan kini tanpa aba-aba, justru keadaan memaksa mereka berdua untuk bertemu. Amanda sedikit menyesal dengan kelakuan sok memberontaknya yang terjadi di ruangan Fanny tadi.

Setelah otak Amanda tak berhasil merangkai kemungkinan yang terjadi, ia menyerah. “Mark, I don’t understand. Jadi kali ini Henry menjadi sumber kuncimu dalam kematian Lanford Gale?”

Umm, it’s more complicated actually.” Jawab Mark sambil memutar kemudinya. “Peran Henry kali ini menjadi penting karena ternyata beberapa jam sebelum kematiannya, Gale diwawancarai oleh Laura dan Henry…”

Ugh, that bitch.” Sentak Amanda kesal.

Mark melirik Amanda dari spion. “Yang…” ia melanjutkan kalimatnya yang masih menggantung. “Menurutku mereka berdua sangat beruntung, karena Gale adalah tipikal orang yang tidak suka wawancara eksklusif. Dalam footage rekaman yang dipegang Henry, Lanford Gale memberikan satu pernyataan aneh yang sepertinya ada hubungannya dengan kematiannya.”

“Pernyataan apa?”

We’re about to find out soon. Aku pun belum tahu. Aku hanya memerintahkan Henry untuk menahan rekaman wawancara itu supaya tetap berada di tangannya sampai kita datang dan melihatnya bersama-sama.”

Amanda menghempaskan punggungnya ke sandaran. Kepalanya terasa lebih pusing menyadari bahwa persoalan ini akan menjadi rumit. Duduk di sebelah Mark, Fanny tidak mengeluarkan suara sedikit pun sejak memasuki mobil. Mark menatapnya sekilas, ia meraih tangan kanan Fanny dan menggenggamnya erat. Fanny membalas genggaman itu lebih erat lagi. Di belakang, Amanda menyaksikan kedua tangan yang terpaut itu dengan kening berkerut, ia melirik Mark dan Fanny bergantian.

“Satu hal yang perlu kau tahu, Amanda.” Ujar Mark tiba-tiba. “Kematian Lanford Gale membuat posisi Koma jadi tersorot, terutama Fanny. Kemungkinan terburuk yang aku takutkan, ada orang licik berusaha memanfaatkan posisi genting kita kali ini. Kita harus berhati-hati.”

Amanda hanya terdiam. Yang ada di pikirkannya kali ini adalah bagaimana harus menyikapi Henry yang akan ia temui beberapa menit lagi.

***

Henry menyesap kopinya perlahan sambil terus mengintip ke luar jendela. Ini baru cangkir kopi pertamanya dan ia sungguh tak suka jika harus menikmatinya dengan perasaan resah dan terancam seperti ini. Tepat di tegukan ketiga, mobil sedan berwarna biru metalik yang ia tunggu-tunggu itu akhirnya memasuki halaman rumahnya. Turunlah sosok Mark, Fanny, dan Amanda. Sama seperti Amanda yang tidak mengharapkan pertemuan mereka, Henry juga sama sekali tidak siap jika harus bertemu dengan tunangannya pagi ini. Oh fuck, batinnya dalam hati sebelum membuka pintu depan.

“Henry, aku harap kau masih memegang janjimu.” Kata Mark saat melangkahkan kaki ke dalam ruang tamu rumah Henry, disusul Fanny dan Amanda.

It’s safe.” Jawab Henry singkat. Kini matanya berhadapan dengan Amanda yang berdiri di sudut ruangan.

Mark melirik mereka berdua yang bertingkah canggung. “Oh, first of all, aku sama sekali tidak berniat mengajaknya. I don’t like her, actually. Tapi dia sendiri yang memaksa, so…” Mark mengendikkan bahu. “Here she is.”

Henry mengangguk sekilas dan melangkah menuju pintu kecil yang terselip di bawah tangga. “Kita turun ke bawah.” Ia mendorong pintu itu, menunjukkan tangga sempit mengarah ke ruangan gelap di bawah sana. Henry turun lebih dulu disusul Fanny dan yang lainnya. Tangga itu terus membawa mereka menuju ke bawah, yang terasa semakin gelap.

Nice place to get laid, huh?” bisik Mark di telinga Amanda.

Shut up, Mark.”

What? Henry tidak pernah mengajakmu turun ke sini?”

Amanda memutar bola matanya. Menghadapi Henry dan Mark di waktu yang bersamaan kali ini adalah kombinasi terbaik untuk menghancurkan suasana hatinya. Kemudian ruangan itu menjadi terang berkat lampu-lampu berwarna kuning yang baru saja dinyalakan Henry. Rak buku yang berjajar, meja-meja dengan berkas-berkas berserak, serta dua unit komputer tersedia di situ. Seperti sebuah ruang kerja rahasia yang menyimpan banyak data penting milik Henry.

“Apa tujuanmu mewawancarai Lanford Gale?” tanya Fanny.

“Terkait dengan putusannya dalam sidang kasus kematian puluhan buruh yang terjadi dua minggu lalu.”

“Haruskah kau mewawancarainya dengan Laura?” tanya Amanda sinis.

Fanny melirik Amanda, dengan tatapan yang seolah berkata, Jangan sekarang, Amanda.

 Henry menatap Amanda sekilas dan memutuskan untuk tidak mempedulikannya sementara. Ia menyalakan komputernya, “Saat wawancara, kami sama sekali tidak menyinggung dugaan penggelapan uang yang sempat kau tuduhkan padanya, Fanny. Tapi hasil wawancara itu sebenarnya sangat kacau. Pembicaraannya melantur. Ia seperti ketakutan akan sesuatu. Kau harus melihatnya sendiri.”

Henry memutar rekaman wawancaranya. Fanny, Amanda, dan Mark langsung bergerak mendekat memperhatikan layar monitor Henry. Terlihat sosok Lanford Gale dengan mata letihnya duduk menghadap kamera.

“Terima kasih untuk waktu yang telah kau berikan pada kami, Tuan Gale. Kami hendak menanyakan klarifikasi anda mengenai putusan pengadilan yang kau jatuhkan pada perusahaan tekstil dua minggu lalu, yang menewaskan puluhan buruhnya.” Terdengar suara Laura dalam video yang memulai sesi wawancaranya.

Amanda menyilangkan tangannya, terasa jengah mendengar suara perempuan yang nyaris merebut tunangannya itu.

Dari gelagatnya, terlihat Lanford Gale sama sekali tidak nyaman mengikuti wawancara. “Yeah, just… let me straight to the point, okay?”

Oh… sure…” jawab Laura.

“Aku rasa soal putusan pengadilan itu sudah sangat adil dan jelas, bukan? Sekarang yang perlu kita khawatirkan adalah tentang gerakan yang dimulai lewat website misterius itu.”

“Maksud anda… whiteflag.com?” Laura berusaha memastikan.

“Tentu saja.” Jawab Lanford Gale dengan tegas tanpa keraguan.

Mark dan Fanny saling lirik, terlihat mulai cemas.

“Aku merasa mereka tidak akan berhenti sampai di situ saja. Mengobrak-abrik kandidat gubernur itu hanya satu hal kecil.”

“Jadi menurut anda apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Lanford Gale menyandarkan punggungnya. Ia menarik napas sejenak. “Sepertinya kali ini mereka mulai mengincar seseorang.”

“Apakah anda punya petunjuk tentang siapa orang yang akan menjadi target mereka?” pancing Laura lagi.

Mark berbisik ke telinga Amanda. “Mungkin menurutmu Laura memang kurang ajar karena nyaris merebut Henry, but I think she’s a great journalist, tho.”

Can we stay focus, please?” balas Amanda dengan jengkel.

Kembali ke layar monitor, Lanford Gale terlihat makin gelisah mendengar pertanyaan Laura. Ia menghela napas berat. “Aku tidak tahu persis, tapi sepertinya aku harus bersiap. Kita harus bersiap menghadapi serangan mereka berikutnya.”

Video wawancara itu pun berhenti. Semua orang terdiam sejenak dan berpikir.

“Apa yang terjadi setelah wawancara selesai?” Tanya Amanda tiba-tiba.

Henry menjawabnya dengan kikuk. “Laura pergi lebih dulu, dan aku langsung kembali ke kantor. Kami tidak pergi berdua.”

I mean… what happened to him.” Amanda menegaskan.

“Oh… dia… dia langsung bergegas masuk ke dalam mobilnya, dikawal ajudan pribadi. Aku tak tahu kemana tujuan mereka waktu itu.”

Fanny mengusap wajahnya yang kusut. “Kupikir kita harus mencari tahu dari mana Gale bisa menebak gerakan mereka. Ia tahu bahwa selanjutnya akan ada seseorang yang menjadi target, dan… sepertinya ia juga sudah tahu kalo ia yang menjadi incaran.”

Amanda mengerutkan keningnya. “Tapi dari mana kita harus memulai?”

Fanny mencoba untuk tenang sejenak. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan kepada seseorang. “Aku punya satu cara yang semoga bisa membawa titik terang. Tapi aku butuh bantuan dari kalian semua.”

“Termasuk aku?” celetuk Henry.

Of course.” Sahut Fanny pendek.

Amanda menganga tak percaya. Wajahnya jadi semakin kusut.

Mark justru nyengir tanpa merasa bersalah. Ia menepuk pundak Henry. “Welcome to the hell, Henry.”

***

Glen baru saja mengakhiri teleponnya ketika James, salah satu komisaris Lunar Post, masuk ke ruangannya. “Sudah mendapatkan sesuatu yang menarik dari kehebohan pagi ini?” tanyanya dari ambang pintu.

Glen hanya mendengus kesal. “Bertahun-tahun aku menghadapi kehebohan baru setiap harinya, rasanya tidak ada yang menarik lagi buatku.” Ia melepas jasnya dan duduk di kursi.

James melangkah masuk sambil menutup pintu. Ia menarik kursi, ikut duduk di seberang meja Glen. “Bisa dibilang bahwa aku satu-satunya dewan komisaris Lunar yang masih menaruh harap padamu, Glen. Kau direktur muda yang cemerlang, aku tak pernah meragukan itu sedikitpun.”

“Lama-lama aku merasa semakin bosan, James. Mungkin tahun ini kita bisa pensiun bersama-sama, what do you think?”

“Jangan bodoh. Kau boleh pensiun kalo rambutmu sudah memutih seluruhnya seperti punyaku ini.”

“Aku tidak yakin bisa menunggu selama itu. Anyway, ada perlu apa kau kemari? Ini terlalu pagi untukmu memasuki ruanganku. Bahkan aku belum menyeduh kopi pertamaku, James.”

James tertawa. “I’m sorry, aku hanya ingin mengalihkan perhatianku. Lanford Gale… you know, he’s one of my good friend.”

Really? Aku tidak pernah tahu kalian sedekat itu.”

James menatap keluar jendela, seolah berusaha mengingat kenangannya bersama Lanford Gale. “Dia juniorku di kampus.  Anak jenius yang justru bisa lulus kuliah bersamaan denganku. Lama tak berkabar, ternyata kami sama-sama berkarir di kota ini. Semenjak itu kami sering bertemu sekedar untuk segelas kopi, bir, atau mungkin barbeque. Yeah… he’s a nice guy.”

Glen tertegun. “Aku… turut berduka, James.”

James mengangguk pelan. “Sudah tiga minggu ini aku tidak bisa menemuinya karena kesibukanku. Aku sedikit merasa bersalah. Sebenarnya… aku menemuimu pagi ini untuk sebuah ideku. Apakah kita bisa memberikan penghormatan terakhir untuk Gale? Setidaknya aku ingin berbuat sesuatu untuk mengenangnya, Glen.”

“Aku usahakan, James. Nanti kubicarakan pada seluruh tim sebelum on air. Mungkin kami bisa menyiapkan sesuatu untuk penghormatan Lanford Gale.”

Thank you, Glen. I really appreciate it.”

My pleasure.”

“Baiklah, aku harus segera kembali. Sampai bertemu lagi, Glen.”

Take care, James.”

James berbalik lagi ketika hendak membuka pintu. “Ehm, kudengar kau cukup dekat dengan Fanny, benar begitu?”

Well, aku sedang berusaha.” Glen meringis mengingat usahanya belum membuahkan hasil apapun.

“Mungkin ia tahu sesuatu soal kematian Lanford Gale. Kau tahu ia sempat menyerangnya, bukan?”

Perkataan James membunyikan alarm di kepalanya. Ia melupakan hal kecil itu yang sepertinya tidak boleh terlewatkan. Tak urung Glen mengangguk, “Barangkali aku bisa sedikit mencari tahu saat kami bertemu.”

James tersenyum. “Thank you.” Ia keluar dan menutup pintu rapat-rapat.

***

Mark membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir kantor kepolisian. Setelah berhenti dengan sempurna, Fanny bergegas melepas sabuk pengamannya. “Kalian tunggu di sini. Jangan ada yang ikut masuk.” Ucapnya tegas tanpa mengharap dibantah. Ia berjalan cepat memasuki gedung utama.

Mark, Amanda, dan Henry hanya diam saja di tempatnya masing-masing. Sekian menit berlalu dengan hening dan kikuk. Mark melirik spion, melihat Amanda dan Henry yang duduk berjauhan, menyisakan jarak antara mereka berdua yang sepertinya masih cukup diisi oleh dua orang lagi.

“Apa aku perlu ikut bergabung ke belakang?” Tanya Mark jahil, yang langsung dijawab dengan tendangan kaki Amanda ke joknya. Mark melirik kedai kopi yang baru saja buka di sebelah bangunan utama kantor polisi. “Baiklah kalau begitu, I definitely need a coffee right now. Kau mau juga, Henry? You’ll need a strong caffeine kicks to deal with Amanda today.”

Lagi-lagi Mark merasakan joknya ditendang kedua kalinya oleh Amanda.

I’m fine, Mark.” Sahut Henry pelan.

Okay then.” Mark melepas sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Meninggalkan Amanda dan Henry di dalam.

Mobil dibiarkan menyala dengan hembusan angin dari AC yang terasa semakin dingin. Henry melirik Amanda yang bersandar di pintu mobil. Pandangannya mencari jari manis Amanda yang ternyata masih memakai cincin tunangannya. Henry tersenyum tipis. “Setidaknya aku sedikit lega melihatmu masih memakai cincin itu.”

“Kalau saja Fanny tidak menemukannya setelah kubuang, mungkin sampai sekarang akan tetap hilang.”

Ia mencoba meraih tangan Amanda yang langsung ditepis. Henry menghela napas berat. “Amanda, I’m sorry, okay?”

“Sebelumnya aku sempat berpikir akan memaafkanmu, Henry. Kalau saja kau tidak berangkat mewawancarai Lanford Gale bersama Laura.”

“Menurutmu aku bisa apa?” Henry mulai kesal. “Aku ditugaskan wawancara dengan Laura. Aku sudah menyatakan keberatan pada atasanku tapi tetap saja ia tidak mau tahu. Sungguh aku tidak punya pilihan lain, Amanda.”

“Kau bisa resign dari kantormu kan?”

Really? Hanya perkara seperti itu kau ingin aku keluar dari pekerjaanku? Memangnya kau mau menikah dengan seorang pengangguran?”

“Lalu apa yang bisa menjamin kau tidak macam-macam lagi dengan Laura?”

Pertengkaran keduanya mulai memanas. Raut wajah Henry terlihat semakin lelah menghadapi Amanda. Benar kata Mark, sepertinya ia butuh kopi untuk mengisi tenaga sebelum bertengkar dengan tunangannya. Henry menarik napas dalam-dalam dan ia mulai menurunkan intonasi suaranya. “Amanda, just give me a chance, okay? Aku minta maaf padamu sungguh-sungguh.”

Amanda tidak menjawab. Kepalanya mulai berpikir keras. Selama ini memang Henry tidak pernah macam-macam, mungkin saja kejadian dengan Laura waktu itu memang bukan sepenuhnya kesalahan Henry. Ia menghela napas, “I don’t know, Henry. Aku…”

Tiba-tiba Mark masuk ke dalam mobil, ia menyodorkan dua gelas kopi dan sekotak pastry. “Kubawakan kopi dan croissant untuk kalian. Aku baik hati se…” Mark terdiam begitu melihat Amanda dan Henry menatapnya sinis. “Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat ya?” ia meringis.

Di dalam kantor polisi, Fanny bertemu dengan kawan lamanya, Arthur, yang sekarang menjabat sebagai kepala kepolisian. Ia yakin Arthur pasti mengetahui sesuatu tentang kematian Lanford Gale.

“Aku tahu kau pasti orang pertama yang menemuiku hari ini, Fanny.” Ucap Arthur saat Fanny memasuki ruangannya.

“Dan aku berharap kita masih menjadi teman baik.”

Arthur tertawa. Ia bangkit dari kursinya dan memeluk Fanny erat. “Tentu saja. Memangnya aku bisa berada di sini sekarang karena siapa?”

Fanny mengendikkan bahu. “Karena reputasiku tentu saja.” Keduanya duduk berhadapan. “Langsung saja, Arthur. Lanford Gale.”

Arthur mengangguk paham. “Sudah kuduga. Tapi aku tidak yakin kau akan suka dengan apa yang kutemukan.”

“Maksudmu?”

Arthur memelankan suaranya. “Wewenang investigasi Lanford Gale dialihkan ke pusat. Aku bahkan belum sempat mencari tahu hasil forensik yang ada. Fanny, yang kita hadapi kali ini mungkin sedikit lebih beresiko.”

I don’t understand.” Kening Fanny semakin berkerut.

“Aku akan mengatakan ini sebagai teman baikmu, Fanny.” Arthur menarik napas dalam-dalam. “Tepat pagi ini aku mendapat arahan untuk menginvestigasi seseorang.”

“Siapa?” potong Fanny tak sabar.

You.” Jawab Arthur dengan cemas. “Kau pernah menyerang dan menuduh Lanford Gale sebagai otak penggelapan uang di salah satu acara beritamu, bukan?”

Fanny menggeleng tak percaya. “Arthur, this is insane. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai jurnalis. Dan…”

“Sepertinya ada yang merasa bahwa kau menjadi salah satu ancaman untuk Lanford Gale. Dan ada yang ingin menyudutkanmu kali ini.”

Fanny berdecak kesal. Ia berdiri dari kursi dan menggaruk kepalanya yang semakin pusing. “What about you?”

What do you mean?”

“Menurutmu aku punya hubungan dengan kematiannya?” Fanny menatap Arthur.

“Aku percaya padamu, Fanny. Dan aku yakin ada yang memanfaatkan situasi ini untuk menjatuhkanmu. Jujur, sebenarnya aku merasa sedikit tenang jika kasus Lanford Gale dialihkan ke pusat. Aku akan merasa bersalah kalau harus menyidikmu.”

Fanny tertawa sinis. “Apakah itu artinya kau mau membantuku keluar dari situasi ini?”

“Sebenarnya aku ingin menjaga jarak.”

Damn you, Arthur.”

Arthur tertawa. Ia melihat bawahannya mulai berdatangan memasuki kantor dan mencuri pandang ke ruangannya. “Ehm, I think you should leave right now, Fanny. Mungkin bawahanku juga sudah menerima arahan dari pusat. Aku tidak ingin situasimu semakin runyam di sini.”

“Atau sebenarnya kau tidak ingin situasimu sendiri yang semakin runyam.”

“Aku akan berusaha membantumu sebisaku, Fanny.” Ucap Arthur tenang.

Fanny menatap teman baiknya itu dengan perasaan campur aduk. “It’s okay, Arthur. Kau tahu aku tidak mungkin mempersulit posisimu kali ini. Terima kasih untuk peringatannya yang lebih awal. Kini aku tahu harus melakukan apa.”

You do?” Arthur tampak takjub dengan segala kalkulasi yang bekerja di dalam kepala Fanny.

“Berani-beraninya kau meragukanku.” Fanny melenggang keluar ruangan Arthur.

Be safe, Fanny.”

I will.” Pintu itu pun tertutup. Fanny bisa merasakan kehadirannya yang terlalu pagi di kantor itu menarik banyak pasang mata yang diam-diam mengamatinya dari jauh. Ia berjalan lebih cepat menuju mobil.

How was it?” tanya Mark langsung ketika Fanny sudah kembali duduk di jok sebelahnya, sambil masih mengunyah croissant yang memenuhi mulut.

Fanny melirik Mark cemas. “Kurasa ada yang tidak beres.”

What is it?” Amanda mencondongkan tubuhnya lebih dekat.

Belum sempat ia menjawab pertanyaan Amanda, ponsel di saku kirinya berdering. Fanny bergegas meraihnya. Tertera nama Lucy di layar. Ia segera menjawabnya dengan mode speaker. “Lucy? Is everything okay?

Terdengar suara Lucy yang cemas. “Not really. Fanny, kau harus segera kembali ke kantor.”

“Apa yang terjadi di sana?”

“Polisi.” Sahut Lucy lirih.

Amanda langsung lemas dan menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Mark memaksakan kunyahan terakhir croissant memasuki kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering. Hanya Fanny satu-satunya manusia yang bisa tenang di dalam mobil itu. Sementara kening Henry semakin berkerut karena berusaha keras memahami situasi yang membuatnya ikut terseret bersama mereka bertiga.

“Mark, kita kembali ke Koma. Tidak perlu buru-buru, kita harus merencanakan sesuatu selagi menuju kesana.”

***

 Lucy melirik jam tangannya dengan gelisah. Sudah setengah jam berlalu semenjak ia menghubungi Fanny, namun sampai sekarang belum terlihat kehadirannya. Ia mencuri pandang ke arah tiga laki-laki yang kini sudah berada di dalam ruangan Fanny. Salah satu di antaranya mengaku kepadanya sebagai seorang polisi. Dalam hati Lucy berharap semoga lelaki itu benar-benar seorang polisi.

“Dimana mereka?” tiba-tiba suara Fanny membuyarkan lamunan Lucy.

Lucy terkejut hingga langsung berdiri tegak dari kursinya. Begitu khawatirnya ia hingga kedatangan Fanny pun tak disadari sedikit pun. “Di dalam ruanganmu.”

Fanny menatap bayangan beberapa orang di dalam ruangannya.

“Ma… maaf, Fanny. Aku sudah berusaha menahan mereka supaya tidak memasuki ruanganmu. Tapi…”

It’s okay, Lucy. No need to worry.” Ucap Fanny sekilas, berusaha menenangkan sekretarisnya itu.

“Fanny, are you sure about this?” bisik Henry, yang sedari tadi mengekor Fanny. Dalam perjalanannya kembali ke Koma, Fanny bersikeras mengajak Henry untuk ikut menemui polisi yang sudah menunggunya di kantor, sementara Mark dan Amanda tetap menunggu di dalam mobil. Meskipun enggan, Henry akhirnya mengiyakan perintah Fanny.

“Ini rencana yang bisa kita lakukan sekarang, Henry. Setidaknya sampai kita tahu apa sebenarnya mau mereka.” Balas Fanny dengan suara lirih. Matanya tegas menatap Henry. “I need you to stay calm. Aku yakin mereka akan mengorek informasi darimu, jawab pertanyaan mereka seperti yang sudah kukatakan padamu sebelumnya. Kau mengerti?”

Henry menelan ludahnya lebih dulu sebelum mengangguk mantap.

Good.” Fanny bergegas melangkah menuju pintu ruangannya. Ia lebih dulu menyapa tiga orang mengaku polisi yang sudah berada di dalam ruangannya. “Gentlemen…”

Ah, there you are, Fanny.” Sapa salah satu polisi yang memakai jaket jeans berwarna gelap. “Syukurlah, kupikir aku tidak akan menemukanmu di sini.”

Tanpa perlu berpikir terlalu lama, Henry bisa merasakan sesuatu yang tidak beres di dalam ruangan ini. Ia memperhatikan tiga orang polisi di depannya itu dengan seksama.

Fanny masih berusaha untuk tetap mengendalikan situasi. Ia melangkah ke balik mejanya. “Kurasa terlalu pagi untuk kalian datang kemari. Dan… tentu saja terlalu lancang untuk memasuki ruang kerja seseorang tanpa kehadiran penghuninya.” Fanny melirik penampilan polisi di depannya. “Apalagi tanpa mengenakan seragam.”

Well, of course, sorry. I’m Alex, alasan kami datang kemari terlalu pagi dengan penampilan seperti ini adalah kami mendapat perintah langsung dari pusat, dengan catatan… immediate action.” Ucap Alex, dengan penekanan yang terlalu kentara di akhir kalimatnya.

What exactly do you want?” Henry menyela.

Alex menoleh. “Oh, I’m sorry, and you are…?”

Henry melirik Fanny sekilas. “Troy, I’m her driver.

“Wow, I think you look too fine to be a driver.” Alex kembali menghadap Fanny. “So, aku butuh kau ikut dengan kami kali ini. Don’t worry, hanya sekadar meminta keterangan darimu.”

Then you can just do it here.

Alex mengehela napas. Ia terlihat mulai kehilangan kesabarannya. “Look, Fanny. I just want to make it simple.” Tangan kanannya meraih sesuatu dari balik jaketnya.

***

“Menurutmu apa yang akan terjadi, Mark?” tanya Amanda nyaris berbisik. Wajahnya nyaris menempel di kaca mobil, sembari memandangi deretan jendela di lantai tujuh.

I don’t know.” Mark menyangga dagunya di atas kemudi. “Tapi Fanny pasti sudah memperhitungkan semuanya.”

“Termasuk soal hubungan kalian yang tidak akan berujung kemana-mana?” ungkit Amanda tiba-tiba, tanpa ekspresi.

What the hell? What about yours, then? Kau yakin Henry masih setia denganmu?” Mark melirik Amanda kesal.

Ughhh…” gumam Amanda. Ia kembali menyandarkan punggungnya. “Kau sudah tahu Fanny tidak akan menganggapmu terlalu serius, Mark. Mengapa kau masih begitu mencintainya?”

I always love her, Amanda. I always love her.” Mark merapalnya nyaris berbisik seperti memanjatkan doa.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari atas. Amanda dan Mark serentak mendongak. “Mark, something’s happening.” Amanda mulai panik. “Kita harus menyusul mereka.”

No! we stay here, Amanda.” Tegas Mark.

“Mark, apa kau tidak mendengarnya dengan jelas? Itu suara tembakan, Mark!”

Just wait!

Terlihat orang-orang mulai panik berlarian keluar dari gedung. “I don’t like this. I really don’t like this.”

Sesaat kemudian terlihat Fanny keluar dari kerumunan orang, menghampiri mobil dengan tergesa. Ia membuka pintu dan langsung duduk di samping Mark. “Go! Now!” teriaknya.

Mark langsung menginjak gas dan mobil mereka pun melaju kencang. Fanny masih berusaha mengatur napasnya.

“Fanny?! Fanny, where’s Henry?” tanya Amanda semakin panik. “Where is he?”

Fanny melihat kedua tangannya yang berlumuran darah. “Henry tertembak.”

What?! Dan kau meninggalkannya sendirian di sana? We need to go back, Mark. Mark, please…”

“No! Keep going, Mark!”

That’s my fiancée, Fanny!” sentak Amanda sambil menangis.

You’re gonna get us all killed by going back, Amanda.” Fanny balas membentak. “He’s alive. Tertembak di kaki. Dia akan baik-baik saja.”

Amanda menangis di tempat duduknya. “Sejak kapan orang tertembak menjadi perkara biasa saja buatmu?!”

“Lalu… darah di tanganmu…” tanya Mark sambil tetap mengemudikan mobilnya dengan kencang.

“Bukan darahku. Aku baik-baik saja.” Fanny mengelap kedua tangannya. “Mark, I need you to stay focus. Kita menuju tempat yang sudah direncanakan sebelumnya. Amanda…” Ia melirik bayangan Amanda dari spion. “I’m sorry, aku harus meninggalkan Henry. Situasinya benar-benar kacau.”

Mark tetap menatap lurus ke jalan berusaha membawa mereka ke tempat tujuan secepat mungkin. “Bagaimana kondisi orang-orang di Koma? Kau yakin mereka aman bersama para polisi itu?”

“Dua hal yang aku tahu dengan jelas, Mark. Pertama, mereka bukan polisi. Dan yang kedua, Koma sudah pernah menghadapi ancaman bom sebelumnya, kejadian seperti ini pasti akan lebih mudah untuk mereka atasi.”

Di belakang mereka, Amanda sedang sibuk dengan ponselnya. Berusaha menghubungi Henry lewat telepon, namun tidak tersambung. Dan ia pun hanya bisa pasrah dengan mengetik pesan untuk tunangannya itu sambil mengusap air matanya.

Henry, are you okay? Please call me back when you read this, please, I’m so worried about you.

Tak lama kemudian, mobil mereka berbelok menuju batas perkotaan dan terus melaju hingga tak terlihat gedung-gedung mewah. Kini di kanan dan kiri mereka hanya ada pohon dan perbukitan yang berwarna cokelat.

“Kau yakin ia masih mau menerima kita, Fanny? Sudah terlalu lama sejak kalian berdua bertemu.” Ucap Mark.

Fanny melengos. “Dia akan selalu keberatan menerima kita, Mark.”

Where are we going, exactly? Kita sudah terlalu jauh dari kota. Aku tidak ingin ikut kalian sejauh ini.” Sahut Amanda masih menyimpan kesalnya.

“Kalau memang kau ingin pergi, tunggu sampai besok. Hari ini kita harus tetap bersama. Setidaknya sampai kita bisa mengendalikan situasi.” Fanny menegaskan.

Well, terakhir kali aku percaya dengan rencanamu, kau justru meninggalkan tunanganku tertembak dan kini kau membawa kita kabur, Fanny.”

“Silahkan mendebatku jika kau punya rencana yang jauh lebih baik, Amanda.”

Amanda hanya terdiam dan membuang muka. Sesaat kemudian, mobil itu memasuki halaman rumah serba kayu yang tertutup pohon-pohon rimbun. Mark mengambil parkir di bawah salah satu pohon. Fanny bergegas turun dan berjalan menuju teras rumah.

“Ini rumah siapa, Mark?”

You’ll see.”

Mark  lebih dulu menyusul Fanny. Ragu-ragu, Amanda ikut mengekor Mark.

Fanny mengetuk pintu rumah dengan kencang. “Josh, open the door!” beberapa detik tak ada jawaban, Fanny menggedor lebih kencang. “Come on, Josh. Aku tahu kau di dalam.”

Amanda dan Mark saling bertatap, kemudian terdengar suara kunci pintu yang diputar dan pintu kayu itu pun terbuka. Memperlihatkan si penghuni rumah, seorang laki-laki yang menatap Fanny dingin. “Who’s gonna kill you this time?”

Fanny membalas tatapan Josh dengan diam.

Josh melirik ke belakang Fanny, melihat sosok Mark dan Amanda. “Kau tahu peraturannya kan? Jangan membawa orang lain.”

“Kau sungguh sekesal itu melihat adik perempuanmu masih hidup? Terimalah Josh, aku hanya bisa mati saat aku memang mau mati.” Fanny mendorong pintu dan langsung melenggang masuk.

Josh mengatupkan rahangnya kesal. Melihat Mark dan Amanda yang masih berdiri di ambang pintu, ia langsung memberi kode untuk mereka segera masuk. Kemudian Josh mengunci pintu dan mulai menutup jendela rapat-rapat.

“Fanny… punya kakak?” bisik Amanda di samping Mark.

Mark hanya mengangkat alisnya. “Percayalah, bukan tipikal hubungan kakak-adik yang ideal.”

“Apa maumu kali ini, Fanny? Kau hanya datang kemari saat keadaan darurat. Aku tidak ingin membahayakan nyawaku lagi hanya untuk melindungimu.” sentak Josh saat memasuki ruang tengah.

“Aku hanya butuh tempat untuk berpikir, Josh. Kau tidak perlu repot-repot membahayakan nyawamu hanya dengan meminjamkan rumahmu sebentar kan?”

“Ada yang mengikuti kalian selama perjalanan kesini?”

“Tidak ada.” Jawab Mark singkat.

Josh melirik Mark. “You better be right about that, Mark.” Ia mengambil tas ranselnya dan melangkah ke arah pintu. “Besok pagi. Besok pagi kalian sudah harus pergi dari sini.” Josh membuka pintu dan menutupnya kencang. Tinggal mereka bertiga yang ada di dalam rumah.

Ketiganya hening sejenak. Fanny melepaskan blazernya yang terkena noda darah. “Kita menginap di sini sampai besok pagi, sambil menyusun rencana berikutnya.”

***

Hari sudah semakin gelap saat Amanda keluar dari kamar mandi. Ia dibalut dengan kaos dan celana pendek milik Fanny yang nyaris berubah menjadi kostum hiphop kebesaran ketika melekat di tubuhnya. Tangannya mengecek ponselnya sekali lagi. Belum ada balasan apapun dari Henry. Sudah berkali-kali ia mencoba untuk menghubunginya namun masih tidak tersambung. Akhirnya ia melempar ponselnya ke atas kasur dengan jengah. Ia pun mulai melihat seisi kamar dengan seksama. Kamar yang sepertinya sudah terlalu lama tidak berpenghuni, terdeteksi dari bau pengapnya yang begitu kuat. Mata Amanda menangkap sebuah foto kecil berpigura di atas rak kayu. Ia mengambilnya dan meniup sekilas, berusaha mengusir debu yang menutupi foto. Terlihat seorang laki-laki yang mungkin sudah berumur 50 tahun, di sebelahnya berdiri seorang wanita cantik yang sudah pasti istrinya. Keduanya merangkul anak laki-laki dan perempuan di depannya yang mungkin masih berumur belasan tahun. Amanda jelas mengenali anak perempuan itu, Fanny yang masih muda.

“Keluarga Fanny.” Gumamnya pelan. Tidak pernah ada yang tahu seperti apa keluarga Fanny, termasuk dirinya. Yang hari ini mulai tergambarkan dengan jelas semenjak ia bertemu Josh. Ia membalik pigura itu dan menemukan beberapa baris tulisan. Anthony Cooper, Dennise Rose Cooper, Joseph Cooper, Fanny Rose Cooper. Seketika Amanda mengerutkan dahinya. “Fanny Rose Cooper? Is that her real name?” gumamnya lagi.

“Amanda, dinner’s ready.” Teriak Mark dari ruang tengah.

Ia segera meletakkan foto itu kembali ke tempatnya. “I’m coming, Mark.”

Di kamarnya, Fanny perlahan mengeluarkan sebuah surat kusut dari kantong dalam blazernya. Ia melirik pintu, memastikannya sudah terkunci rapat. Kembali ia menatap surat itu dengan cemas. Di bagian ujung tertulis dengan jelas nama aslinya yang tidak diketahui orang lain kecuali Mark. Fanny Rose Cooper. Tangannya segera merobek amplop dan membaca isinya perlahan.

Ms. Cooper,

We need to talk in person. Kami sudah mengincarmu sejak lama, setiap langkah yang kami ambil kali ini sudah diperhitungkan dengan begitu matang. Tidak ada satu pihak pun yang bisa menggagalkan rencana kami. We need you. And trust me, tidak ada satu orang pun yang bisa kau percaya saat ini, bahkan orang terdekat yang berada satu ruangan denganmu kali ini. Semua orang akan menyudutkanmu, dan itu bagus. Be ready Ms. Cooper, for the white era.

Meet us next Saturday, 8 PM, at Dean’s

Napas Fanny mulai memburu. Ia meremas surat itu beserta amplopnya dan melemparnya ke dalam api unggun. Kali ini ia sungguh buta, tidak bisa membaca situasi yang akan terjadi selanjutnya. Dan itu sudah cukup membuatnya gelisah setengah mati.

***

Ditulis oleh : Febriyanti Pratiwi

One thought on “Turning Point of The White Era (2)

Leave a Reply