TENANG SAJA, MAKIN BANYAK PILIHAN LAGU INDONESIA UNTUK KONDISI MENTAL HEALTHMU

TENANG SAJA, MAKIN BANYAK PILIHAN LAGU INDONESIA UNTUK KONDISI MENTAL HEALTHMU.

Sejak kecil, radio di kamar saya lebih sering hidup daripada kipas angin. Sensasi mendengarkan lagu-lagu di radio sembari siap-siap berangkat ke sekolah seolah menambah semangat menghadapi ujian matematika. Sampai sekarang pun masih menjadi kebiasaan meskipun lebih sering bergeser ke aplikasi musik semacam Spotify.

Tapi semakin ke sini, kok rasanya lagu sekarang serba sedih. Kangen banget sing along lagu pop genit nan centil ala Ratu, Duo Maia, Mulan Jameela, dan Cinta Laura. Teman Tapi Mesra, Mahluk Tuhan Paling Seksi, Emang Gue Pikirin, Oh Baby, Aku Bukan Boneka-nya Rinni Wulandari, adalah lagu-lagu yang rasanya bisa bikin gairah independent woman menggelora. Bisa bikin percaya diri meningkat, berasa jadi sosok paling keren se-koridor sekolah, aura positif memancar seketika.

Tema lagu dari penyanyi Indonesia saat ini sebagian besar membicarakan mental health. Cemas di kerjaan, galau di hubungan, takut masa depan, berdamai dengan masa lalu, sampai berduka sekalipun. Barangkali ini menjadi tonggak bagaimana menciptakan lagu tak melulu soal asmara dua sejoli. Sepanjang ingatan saya dan playlist di Spotify, sepertinya tren ini dimulai oleh Kunto Aji di album Generation Y di tahun 2015, yang meledak lewat single Terlalu Lama Sendiri. Sesuai judul album, isi lagu-lagunya menyorot kegalauan atau curhatan generasi milenial yang masih jomblo, miskin di akhir bulan, maupun bangkit dari masa lalu. Lalu muncul Nadin Amizah, Sal Priadi, Hindia, dan yang paling baru Bernadya.

Lalu apa sih yang bikin lagu-lagu tersebut disambut antusias? Ada dua teman dekat saya yang bisa jadi contoh. Pertama sebut saja Rita, ia pekerja kantoran yang hampir setiap hari lembur, single. Baginya, lagu Kunto Aji menyelamatkan hidupnya. Setiap mendengarkan lagu Kunto Aji ia seolah mendengarkan sosok sahabat dekat yang selalu ada menyemangati hari-harinya. Ia merasa dimengerti dan ditenangkan oleh lirik-lirik lagu Kunto Aji. Lalu ada satu teman laki-laki saya yang seorang Teman Tulus garis keras, bilang bahwa lagu-lagu Tulus itu magis. Tidak pernah sebelumnya ia mendengar lagu Indonesia yang bisa membuatnya kontemplasi begitu dalam tentang perjalanan hidupnya.

Sependek pengamatan pribadi, teman-teman saya yang kelihatannya harus meminta bantuan profesional untuk mengatasi kecemasan dan stressnya justru memilih untuk mendengarkan lagu-lagu kesayangan mereka itu. Bahkan rela mengalokasikan duit berobatnya untuk nonton konser saja daripada membayar psikiater. Alasannya, “Ini lebih murah dan menyenangkan daripada ikut sesi psikiater yang gak kelar-kelar.”

Saya tidak punya pengalaman bermusik profesional apalagi sampai memproduksi lagu. Tapi kelihatannya para penulis lagu Indonesia saat ini betulan jitu membidik pendengar baru yang sedang dilanda kesibukan dan setumpuk permasalahan yang bikin stress. Bagai psikolog dan teman curhat andalan, mereka berhasil meramu kata-kata, ditambah progresi chord yang sederhana tapi enak di telinga, seketika langsung menyelipkan ketenangan seperti membelai kita dan memastikan semua akan baik-baik saja. Penggunaan diksi lirik lagunya pun lugas dan familiar kita gunakan sehari-hari. Lebih mudah dimengerti bila dibandingkan lirik lagu-lagu dari Guruh Soekarno Putra yang puitis.

“YOUR SONG SAVE MY LIFE”, “LAGUMU MENYELAMATKAN HIDUPKU”. Tulisan itu berulang kali saya lihat dari dokumentasi konser beberapa penyanyi yang diunggah di Instagram. Tulisan yang dibawa oleh penonton, ditulis di handphone lalu diacungkan setinggi-tingginya berharap penyanyi kesayangan mereka membaca dan tahu, bahwa musik mereka sudah menjadi alasan untuk tetap hidup. Tak jarang juga penonton terlihat menangis meresapi interaksi yang terjadi lewat musik yang ia dengarkan langsung.

Banyak lagu sedih yang mengusung mental health ini bisa jadi salah satu pengingat bahwa mungkin masyarakat kita hari ini memang butuh terapi sebanyak mungkin dan bisa lewat mana saja. Salah satunya adalah dengan musik. Project Pilu Membiru Experience oleh Kunto Aji adalah contoh nyata bagaimana interaksi musik bisa perlahan membasuh duka dan luka. Menjadi bentuk terapi yang bisa dijangkau siapapun.

Sisi baiknya, makin banyak pilihan lagu-lagu yang cocok sama kondisi mentalmu sekarang. Kalau lagu Tulus yang Hati-Hati Di Jalan berhasil tembus chart Billboard Global sih, berarti masih didominasi masalah cinta pupus di tengah jalan ya.

Ditulis oleh : Febriyanti

JOGJA PERGANTIAN TAHUN: AIR HUJAN AJA BINGUNG MAU TURUN DI MANA

JOGJA PERGANTIAN TAHUN: AIR HUJAN AJA BINGUNG MAU TURUN DI MANA

Barangkali ini yang selalu saya tandai menjelang bulan November hingga Januari, selama enam tahun saya tinggal di Jogja. Kombinasi antara gerah luar biasa, mendung gelap, tapi tidak turun hujan. Alhasil efeknya adalah keringat mengucur deras, haus tak berkesudahan, dan sambat sama Tuhan kapan hujannya bakal turun. Setelah bertanya-tanya mengapa cuaca akhir-akhir ini tidak jelas dan hujan masih jarang-jarang pula, ternyata ada satu alasan yang cukup konkrit sebagai penyebabnya. Jogja akhir tahun sampai awal tahun kebanyakan event, hujannya disarang terus.

Tentunya ini bisa dimengerti. Para penyelenggara event pasti ingin acaranya sukses, banyak partisipan, viral, dan meriah. Jadinya ya begitu, profesi pawang hujan mendadak banyak orderan untuk menahan air hujan jatuh di area-area tertentu tempat event-event itu berlangsung. Entah gimana jadinya kalo ada beberapa event di hari yang sama. Barangkali pawang hujan sedang adu kekuatan menahan dan memindahkan awan mendung sejauh mungkin dari lokasi acara.

Dipantau dari 2 akun Instagram event Jogja (@eventjogjakartrans, @info.eventyogya) aja, setidaknya rata-rata event yang ada di Jogja selama bulan November-Desember terselenggara 3 sampai 5 event per hari di lokasi yang berbeda. Ya syukur-syukur kalo eventnya indoor. Lha kalo outdoor semua? Saya penasaran pawang hujannya apa perlu briefing dulu untuk janjian buang hujannya di daerah mana gitu. Air hujan aja jadi bingung mau turun di mana biar semuanya win-win solution, reputasi pawang hujan terjaga, yang punya event tenang, tapi gak mau kualat juga sama Tuhan -mau dikasih hujan kok digeser-geser terus awannya-.

Mungkin, atau bahkan bisa dipastikan, bahwa pawang hujan se-Jogja punya grup Whatsapp tersendiri untuk persoalan menahan atau mengalihkan jatuhnya air hujan ini. Daerah mana yang sementara bisa menampung hujan-hujan buangan ini. Menyiasati untuk sejenak menunda turunnya hujan pas setelah acara benar-benar selesai.

Jadi penasaran dengan bentuk rate card yang dipatok para pawang hujan ini seperti apa. Mungkin customer rate platinum akan dapat garansi uang kembali kalau-kalau hujannya gagal ditahan atau dialihkan. Bisa request pawang hujan standby di lokasi atau bisa work from home alias mengontrol dari jarak jauh. Kalo rate yang termurah ya palingan tetap kebagian gerimis sedikit-sedikit tapi gak perlu pakai mantrol atau payung.

Saya pernah dua kali menyaksikan langsung pawang hujan ini sedang beraksi. Pertama, di hari pernikahan kakak saya. Pawang hujan itu datang ke rumah, hanya minta secangkir kopi panas sekali (requestnya pun spesifik, kopinya harus panas, air mendidih langsung dituang ke dalam cangkir berisi kopi hitam) dan secangkir air putih. Lalu pak pawang hujan itu hanya minta duduk di salah satu sudut ruang tamu. Ia pun menyesap kopi hitam dan air putih masing-masing sekali. Sisanya, ia hanya duduk tegak dengan menutup mata. Begitu saja sampai tiga jam kemudian para tamu di resepsi mulai pada pulang. Setelah dirasa acara resepsi sudah selesai, beliau membuka mata, menghabiskan kopi hitam dan air putih lalu pamit pulang. Sepulangnya beliau, hujan deras langsung turun setumpah-tumpahnya.

Yang kedua, ketika saya bekerja memproduseri salah satu syuting iklan di Magelang. Waktu itu sutradara butuh cahaya matahari sore supaya gambarnya sesuai keinginan dia. Tapi sayang langit mendung pekat sekali. Saya langsung meminta manager lokasi untuk mencari pawang hujan lokal yang dekat-dekat saja supaya cepat ditangani. Tak lama kemudian, manager lokasi saya mengabari bahwa ia sudah dapat seorang pawang hujan dan sudah dimulai ritual mengalihkan mendungnya. Saya bingung, lha orangnya ada di mana sekarang? ternyata dia bisa kerja remote. Canggih betul. Dan kira-kira butuh waktu lima belas menit, awan mendung perlahan tersibak membuka jalan untuk cahaya matahari sore menyinari lokasi syuting kami. Betul-betul tepat mengarah ke lembah yang akan kami ambil gambarnya. Saya sungguhan kagum dibuatnya. Tapi begitu melihat invoice jasa pawang hujan tersebut, saya menelan ludah. Yah, ada harga ada kualitas.

Nyatanya, sampai sekarang pun profesi ini tetap dibutuhkan untuk kelancaran hajat masyarakat. Semoga air hujan yang turun, baik itu hujan kiriman atau buangan, akan selalu mengalirkan kebaikan-kebaikan untuk orang banyak.