Sang Pahlawan (3)

Raiden membuka matanya. Ia terkejut mengetahui dirinya berada di sebuah ruangan yang asing. Ia mengawasi sekitar. Ia berada di sebuah ruangan yang lembap dengan tembok yang catnya sudah lapuk. Ia masih merasakan rasa sakit di tubuhnya. Ia berusaha bangkit dari tidurnya sembari menahan rasa sakit. Ia melihat tubuhnya yang sudah dipenuhi perban.

“Oh, sudah bangun rupanya.” Terdengar sebuah suara dari pintu yang terbuka di ruangan itu.

Sebuah sapaan yang mengejutkan Raiden. Ia melompat dari tempat tidur dan memasang kuda-kuda. Ia melihat sesosok wanita paruh baya sedang menggendong seorang balita yang tertidur. Wanita itu sedang berdiri di ambang pintu di sisi kanan tempatnya berada. Ia bisa melihat dengan jelas sosok wanita itu meskipun ruangan itu hanya diterangi oleh sebuah lampu kecil yang temaram. “Siapa kau?” tanya Raiden.

“Tenanglah, Nak. Aku bukan bagian dari mereka.” Jawabnya sembari berjalan mendekati Raiden lalu duduk di sebuah kursi kecil di samping tempat tidur Raiden. “Kau pulih dengan sangat cepat ya rupanya.” Ucapnya pelan. Ia membawa segelas air putih. “Minumlah, air putih selalu bisa membuat kita merasa lebih baik.” Timpalnya sembari menyodorkan segelas air putih kepada Raiden.

Raiden yang tidak merasakan ancaman darinya pun memutuskan untuk duduk lalu menerima air putih itu. Ia meminumnya dengan cepat.

“Wah, kau pasti haus sekali. Aku akan mengambilkannya lagi nanti. Oh ya, Sepertinya ada beberapa potong roti juga.” Kata wanita itu sambil beranjak dari duduknya.

Raiden menghabiskan minumannya. “Tidak perlu repot-repot. Terima kasih.” balasnya sembari memberikan kembali gelas kosong itu kepada wanita paruh baya itu.

Ia  hanya tersenyum kecil. Lalu menerima gelas kosong itu, dan kembali duduk.

“Apa yang terjadi?” tanya Raiden.

“Kau hampir mati. Kami menemukanmu tertimbun puing-puing bangunan. Kami pikir kau sudah mati. Rupanya kau masih bernapas meskipun terluka sangat parah. Akhirnya aku memutuskan untuk membawa dan merawatmu.” Jelas wanita itu sambil mengelus-elus balita yang ia gendong.

Raiden bersujud kepadanya. “Terima kasih banyak!”

“Hei, hei. Tidak perlu sampai begini.” ucapnya sambil menyentuh pundak Raiden. Mengisyaratkan Raiden untuk menghentikan tindakannya.

Raiden pun kembali duduk.

“Justru kami yang harus berterima kasih kepadamu, Nak.” Ucap wanita itu dengan sebuah senyuman manis. “Kami semua melihat pertarunganmu.” Tambahnya lagi.

Raiden hanya terdiam dan menatapnya dengan sedih.

“Selama puluhan tahun kami tertindas. Dia tiba-tiba muncul dan menguasai kota ini. Tidak ada satupun aparat, bahkan petinggi negara ini yang bisa menyentuhnya. Setiap ada yang berusaha menyentuhnya pasti akan berakhir tragis. Kami hanya bisa pasrah dan tinggal di kota ini dengan penuh tekanan.” Jelas wanita itu.

“Jadi kalian sudah tau kalau dia...” Raiden belum selesai berbicara.

Ia  menyela dengann sebuah anggukan pelan.

Raiden menghentikan perkataannya.

“Entah sihir atau teknologi apa yang dia gunakan. Bahkan suamiku telah menjadi salah satu pengikutnya. Dia telah dicuci otaknya.” Jelas wanita itu sembari menerawang ke jendela. Tampak sebuah tatapan sedih muncul darinya. Tapi ia berusaha menahan air matanya. “Esok hari akan ada sebuah gerakan pemberontakan.” Ucapnya.

“Apa maksud anda?” tanya Raiden dengan terkejut.

“Tindakanmu kemarin telah membuka mata kami. Kami memutuskan untuk melakukan pemberontakan. Kami tidak mau ditindas terus-menerus.” Jawab wanita itu.

“Tapi seperti yang anda bilang tadi. Jose itu sangat kuat. Seperti yang anda telah lihat juga, bagaimana dia menghancurkanku.” Balas Raiden.

“Tidak apa-apa, Nak.” Kata wanita itu sambil bangkit dari duduknya. “Esok hari semua pria, dan beberapa wanita yang cukup berani akan melakukan serangan besar-besaran ke tempat tinggal Jose. Kami sudah menyiapkan segalanya sejak lama. Kami hanya butuh momen yang tepat.” Imbuhnya. Ia kemudian berjalan meninggalkan Raiden.

“Tapi...” balas Raiden dengan nada tinggi.

Ia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. “Kalau tidak dicoba tidak akan pernah tau kan? Entah kami berhasil atau kami akan dimusnahkan. Kami tidak peduli. Kami hanya ingin memperjuangkan hak kami. Meskipun kami semua mati, yang penting kami tidak mati dengan menyedihkan. Kami mati setelah kami berjuang. Itu akan terasa jauh lebih terhormat. Kami sudah siap dengan segala resikonya. Kami akan berjuang.” Jelasnya. Suaranya terdengar bergetar. Balita yang ia gendong pun merengek seperti merasakan kengerian. Ia menangkan si balita lalu pergi meninggalkan Raiden.

Beberapa saat kemudian ia muncul lagi di pintu. “Kau lebih baik istirahat untuk sekarang.” Ucap wanita itu dengan sebuah senyuman yang menenangkan. Ia pun akhirnya pergi dan menutup pintu itu. Meninggalkan Raiden sendirian di dalam ruangan.

Raiden tidak bisa berkata apa-apa. Mulutnya seperti terkunci.

Raiden duduk termenung. Kota itu begitu sunyi. Sesekali terdengar teriakan yang mengerikan yang tak asing baginya. Ia memandang jauh ke luar jendela. Ia merasa begitu hancur. Ia merasa gagal. “Kenapa? Kenapa aku begitu lemah, begitu bodoh, begitu ceroboh?” Ia menghardik dirinya sendiri. Ia memegangi kepalanya dengan kalut. Pandangannya tiba-tiba teralihkan dengan sebuah foto yang terpajang di kusen jendela. Tampak di foto itu ada wanita paruh baya yang menyelamatkannya, bersama seorang pria. Ia terkejut. Ia menutup mulutnya dengan tangannya. Pria yang ada di foto itu adalah salah satu penjaga Jose yang telah ia bantai dalam pertarungan sebelumnya. Matanya terbelalak. Tangisannya tak terbendung. “Semua ini gara-gara aku!” ucapnya menyalahkan dirinya sendiri. “Nyonya maafkan aku!” rengeknya. Ia merasa begitu hancur. “Ayah maafkan aku. Aku sepertinya tidak bisa memenuhi ramalan ini.” Tangisnya.

Raiden menangis semalaman. Ia tidak tau apa yang harus di lakukan. Cahaya matahari terbit perlahan menyinari ruangan itu. Menyirami dirinya dengan cahaya hangat yang menembus jendela. Ia yang telah kehabisan air mata hanya sesengukan sambil memukul-mukul kepalanya. Cahaya matahari terbit membuat Ia menyadari sesuatu. Ia menatap lengan kanannya. Ada sesuatu yang mencuat, menonjol dari balik perban yang membalut lengan kannanya. Ia segera membuka perban yang membalut lengan kanannya. Sebuah gigi besar tertancap di kulitnya. Menyatu dengan kulitnya yang telah pulih dari luka yang disebabkan oleh gigi itu. Ia kemudian mencabut gigi itu dengan perlahan. “Ini...” gumamnya pelan sambil memandangi gigi yang kini ia pegang dengan kedua jarinya. Ia memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Ia menggenggam gigi itu dengan erat. Ia kemudian menatap kembali foto keluarga di kusen jendela itu dengan tajam.

***

Kerumunan orang mengepung bangunan tempat tinggal Jose. Suara dentuman, berondongan peluru, teriakan kesakitan, teriakan kemarahan, dan dentingan hasil tubrukan benda keras membuat suasana pagi itu pegitu bising. Mereka membawa berbagai macam senjata. Tampak beberapa orang memakai seragam militer dan membawa senapan. Mereka memberondong sepasukan Golem. Tampak beberapa tank sedang menembak ke arah bangunan itu.

Pertarungan telah terjadi sejak matahari terbit. Para pemberontak bertarung menggunakan masker. Ada yang memakai masker gas, masker medis, bahkan beberapa hanya menggunakan sehelai kain untuk menutup hidung dan mulut mereka. Mereka menghindari efek gas hitam Jose yang bisa merubah mereka menjadi Golem.

Serangan-serangan mereka tampak sia-sia. Para Golem dengan mudah menahan dan membalikkan serangan mereka. Tapi jumlah mereka yang begitu banyak berhasil menjadi variabel penyeimbang pertempuran itu.

Raiden berlari menuju pusat pertempuran.

“Lihat! Itu pria yang waktu itu!” terdengar suara teriakan dari kejauhan.

“Buka jalan!” terdengar lagi suara teriakan lain.

Seketika para pemberontak itu merangsek maju. Mereka menghantam, dan mendorong pasukan Golem. Menciptakan sebuah jalan lurus menuju bangunan itu.

Raiden menghentikan larinya. Ia menatap jauh ke bangunan itu. Ia meneteskan air mata melihat perjuangan para pemberontak itu membukakan jalan untuknya.

“Hei! Jangan diam saja! Cepat masuk!” teriak salah satu pemberontak memarahi Raiden.

Raiden mengangguk pelan. Ia kemudian melanjutkan larinya. Ia menerjang maju dengan cepat.

Sebuah tank menembak tepat ke arah pintu bangunan itu.

Dari balik kepulan asap tampak sebuah lubang besar terbentuk di bangunan itu. Hasil dari tembakan meriam tank.

Sekelompok tentara merangsek masuk. Mereka memberondong pasukan Golem yang ada di dalam gedung. Mereka memuluskan jalan Raiden untuk maju menyerang.

Raiden bergegas maju memasuki gedung. Tampak beberapa tentara sedang dihajar oleh Golem. Ia melompat, menerjang salah satu Golem dengan pukulannya.

Golem itu hancur menjadi beberapa kepingan. Namun berangsur kembali ke wujudnya semula.

“Jangan hiraukan kami! Pergilah!” teriak salah satu tentara.

Raiden mengangguk. Ia segera menaiki tangga menuju ruangan atas.

Tampak beberapa tentara mengikutinya. Terdengar teriakan kesakitan dari beberapa tentara yang ada di lobi bangunan itu.

Raiden memejamkan mata mendengarnya. Ia terus berlari.

Raiden berada di depan sebuah pintu. Tiba-tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya. Tampak sesosok yang tidak asing baginya sedang duduk santai di sebuah kursi mewah.

“Luar biasa. Kupikir kau telah musnah.” Ucap Jose dengan senyumannya menyeringai. Ia beranjak dari duduknya. Ia membalik badannya kemudian menatap ke luar jendela. “Sudah tiga puluh tahun sejak pemberontakan terakhir, hebat.” Imbuhnya pelan. “Menyedihkan.” Imbuhnya lagi sembari membalik badannya menatap Raiden dengan sinis. “Kau tau? Mereka semua akan mati, pemberontakan mereka akan sia-sia, dan semua itu gara-gara kau, Raiden.” Tambahnya dengan senyum khasnya. Menampilkan giginya yang tersusun rapi namun berwarna kehitaman.

“Kau salah. Tidak ada yang sia-sia dari sebuah perjuangan. Tidak ada yang sia-sia dari sebuah usaha untuk mendapatkan kondisi yang lebih baik. Entah mereka berhasil atau tidak. Setidaknya mereka telah berjuang!” Bela Raiden.

“Omong kosong.” balas Jose. “Apa kau tidak melihat kelakuan manusia-manusia itu? Yang bisa mereka lakukan hanyalah kerusakan. Lihatlah mereka dipenuhi amarah. Lalu apa bedanya mereka dengan kami? Tentu lebih baik aku menghapus mereka dari dunia ini lalu membiarkan kami, ras yang lebih tinggi untuk menguasai dunia.” Imbuhnya.

Raiden menghela napas. Berusaha menahan amarahnya.

“Baiklah, kita selesaikan saja sekarang.” Ucap Jose sembari meregangkan otot tangannya.

Raiden menatap Jose dengan tajam. Ia bersiap dengan kuda-kudanya.

Jose menembakkan energi kegelapan dengan tiba-tiba kepada Raiden.

Sebuah ledakan terjadi di dalam bangunan itu. Atap dan beberapa lantai atasnya hancur menampakkan sosok Raiden dan Jose yang sedang berhadapan.

Radien tampak mengalami beberapa luka yang tidak cukup parah. Ia berhasil menahan serangan Jose.

Jose tersenyum lebar. Entah apa yang ia pikirkan.

Raiden menerjang maju. Tangan kanannya bersinar. Ia menggunakan Brajamusti.

Jose menahannya menggunakan perisai energinya. Benturan energi keduanya begitu kuat. Menciptakan gelombang kejut yang kuat menyebar dari tempat mereka bertarung. Keduanya saling beradu kekuatan.

Jose menembakkan energi kegelapan.

Raiden sesekali tidak berhasil menghindar. Ia menahan tembakan Jose dengan energi Brajamusti dari tangannya. Ia tak mau kalah. Beberapa kali ia sempat membalas serangan Jose dengan tinjunya.

Jose pun beberapa kali terpental karena kecolongan dengan kecepatan Raiden.

Setelah terjadi banyak serangan, tampak Raiden dan Jose saling terdiam.

“Entah apa yang telah kau lakukan, tapi sepertinya kali ini kau lebih kuat. Maafkan aku, telah meremehkanmu sebelumnya.” kelakar Jose. Ia kemudian bangkit berdiri. Kepulan asap hitam muncul dari badannya, matanya berubah menjadi hitam pekat.

Raiden merasa terancam.

Perlahan bentuk manusia Jose lenyap. Wujudnya melebur menjadi satu dengan kepulan asap hitam. Wujudnya berubah menjadi sekumpulan energi berwarna hitam pekat, energi kegelapan.  Aura kengerian muncul sosoknya. Langit seketika menjadi gelap.

Tubuh Raiden bergetar. Ia bergidik setelah instingnya secara alami merasakan aura energi Jose.

“Sebenarnya aku masih ingin bersenang-senang denganmu. Tapi sepertinya kau cukup merepotkan.”  Sebuah suara yang mengerikan muncul dari kumpulan energi itu. “Kita akhiri saja sekarang.” Jose menghujani Raiden dengan tembakan energi secara bertubi-tubi.

Raiden berusaha menahan serangan itu. Tapi serangan yang bertubi-tubi itu membuat Ia terpental. Bahkan teknik Brajamustinya tidak bisa menandingi serangan Jose. Ia tersungkur. Tubuhnya babak belur.

“Jadi, ada kata-kata terakhir?” kelakar Jose setelah melihat Raiden kewalahan.

“Kau tau, seberapa kuat kau berusaha menghancurkanku. Kau tidak akan bisa.” Balas Raiden sambil tebatuk-batuk, dan berusaha kembali berdiri.

“Oh, jadi seperti itu. Baiklah, aku akan menyiksamu sampai kau tidak sanggup membuka mulutmu lagi.” Balas Jose. Ia kembali menembakkan energi kepada Raiden.

Raiden bangkit berdiri. Ia tampak pasrah menerima hujanan serangan Jose. Ia mengambil gigi taring yang sedari tadi ia simpan di kantongnya. Ia menggenggamnya dengan erat. “Vetalla, kumohon kembalilah. Aku membutuhkanmu.” Ucap Raiden di dalam hatinya.

Saat terakhir sebelum serangan Jose mengenainya. Sebuah bayangan besar mendarat tepat di depan Raiden. Melindunginya dari serangan itu. Menimbulkan sebuah ledakan.

Dari balik kepulan asap sesosok bayangan besar muncul. Perlahan menampakkan dirinya. Sosok itu adalah Vetalla. Tampak tak ada luka yang cukup signifikan di tubuhnya. Ia menatap Raiden dengan tajam. Suaranya erangannya terdengar begitu mengerikan.

“Cih, sampah ini lagi.” Hujat Jose.

“Vetalla, kau.” Kata Raiden pelan.

“Rai... den...” balas Vetalla dengan pelan dan suaranya yang parau. Tiba-tiba sebuah kepulan energi hitam menyelimutinya. Ia menjerit kesakitan dengan sangat kencang. Mengeluarkan suara yang sangat mengerikan. Menggema memenuhi kota itu.

“Tidak, tidak! Jose, kau...” teriak Raiden melihat Jose berusaha menguasai wujud Vetalla.

Sebuah suara tawa yang mengerikan keluar dari mulut Vetalla. Diiringi dengan keluarnya asap hitam pekat dari mulutnya.

“Rupanya makhluk rendahan ini punya energi yang cukup kuat.” Terdengar suara Jose yang telah mengambil alih tubuh Vetalla. Ia menatap Raiden dengan penuh hina. Matanya yang sebelumnya merah menyala berubah menjadi hitam pekat.

“Kurang ajar!” teriak Raiden. Dipenuhi amarah, ia menerjang Vetalla dengan tinju Brajamustinya. Pukulannya mendarat tepat di perut Vetalla. Menimbulkan ledakan energi yang kuat. Cahaya hasil ledakan itu menyilaukan mata. Membuat para pemberontak dan bahkan para Golem menghentikan pertempurannya untuk sesaat.

Setelah pancaran cahaya itu menghilang. Tampak Vetalla masih berdiri tegak dengan setelah menerima pukulan darinya. Kulitnya yang biru pucat memancarkan aura hitam pekat setelah menerima pukulan Raiden.

“Serangga.” Hina Vetalla.

Raiden terkejut. Serangannya tidak mempan. Matanya terbelalak.

Vetalla kembali berteriak. Ia menghempaskan Raiden dengan tekanan energi dari tubuhnya.

Raiden terhempas. Ia tersungkur di lantai. Ia menatapnya dengan penuh kemarahan dan kesedihan. Pikirannya campur aduk.

Vetalla mengepakkan sayapnya. Ia melayang rendah. Ia menerjang maju. Ia berancang-ancang menggunakan cakarnya untuk menyerang Raiden.

Raiden merasakan sebuah getaran di tubuhnya. Sarung pedang yang diikat di punggungnya bergetar. “Rasa ini. Seperti waktu itu.” Gumamnya. Ia bangkit dari jatuhnya. Ia mengambil sarung pedang yang ada di punggungnya. Ia mengacungkannya ke arah Vetalla hendak menyerangnya.

Vetalla mendaratkan cakarnya ke Raiden. Suatu keajaiban terjadi. Gerakannya terhenti ketika cakarnya menyentuh sarung pedang yang Raiden gunakan untuk menghalau serangannya.

***

Raiden berada di sebuah ruangan gelap. Tak ada benda apapun di sekitarnya. “Vetalla.” Ia memanggil-manggil di ruangan itu. Suaranya menggema. Tak ada yang membalas panggilannya. “Vetalla! Vetalla!” Ia terus berusaha memanggil Vetalla. Ia berlari berusaha mencari Vetalla. Sepasang cahaya mata berwarna merah menyala menghentikan larinya.

Secara perlahan sosok Vetalla muncul di hadapan Raiden. Ia hanya menggeram pelan.

“Vetalla, tolong kembalilah. Kau satu-satunya temanku. Kau satu-satunya yang kumiliki.” Ucap Raiden dengan tangisnya.

Vetalla hanya terdiam.

“Kumohon kembalilah. Aku berjanji aku akan mendengarkanmu kali ini.” Raiden terjatuh dengan lututnya.

Vetalla masih tak menjawab.

“Carilah teman. luruskan tujuanmu untuk menumpas kejahatan di muka bumi ini.” Sebuah suara yang tak asing bagi Raiden muncul di kepalanya.

“Ayah...” Balas Raiden pelan. Ia pun terdiam selama beberapa saat di hadapan Vetalla. “Aku mengerti Ayah. Terima kasih telah percaya kepadaku. Aku akan mencari dan memenuhi ramalanku.” Imbuhnya dengan penuh tekad. Ia bangkit. Ia berjalan pelan menuju Vetalla.

Vetalla menyerang Raiden, mencakarnya.

Raiden terhuyun kebelakang. Menimbulkan luka yang parah di dadanya. Ia kembali berdiri lagi. Ia tidak mau menyerah. Ia kembali berjalan menghampiri Vetalla.

Vetalla kembali menyerang Raiden.

Raiden mengulangi usahanya. Ia tak mau menyerah. Ia tak peduli harus berapa ribu kali berusaha mengulangi usahanya untuk bisa menjangkau Vetalla kembali. Setelah banyak percobaan. Berkali-kali ia terhuyung menerima serangan Vetalla, hingga tubuhnya bersimbah darah.

Vetalla tiba-tiba menghentikan serangannya.

Membuat Raiden berhasil menjangkaunya. Raiden memeluknya dengan erat. “Vetalla, temanku. Kau temanku, kau sahabatku. Kau bukanlah senjata atau apalah itu. Tolong, kembalilah!” teriaknya dengan berlinang air mata memeluk tubuh Vetalla.

***

Angin bertiup pelan, membuat debu di sekitar Raiden dan Vetalla beterbangan. “Kenapa? Apa yang terjadi?” ucap Jose dengan panik. Jose terus berusaha menggerakkan tubuh Vetalla dengan paksa. Tapi tubuhnya tidak mau bergerak.

Raiden menatapnya dengan penuh harapan.

Tiba-tiba sebuah teriakan penuh amarah keluar dari mulut Vetalla. Perlahan matanya berubah menjadi kuning.

“KAU!” terdengar teriakan Jose dari dalam tubuh Vetalla. Perlahan kumpulan energi hitam menguap meninggalkan tubuh Vetalla. Kumpulan energi itu kemudian berkumpul kembali menjadi satu. Membentuk kembali menjadi wujud energi Jose.

Tubuh Vetalla kembali normal. Ia tidak lagi diselimuti energi kegelapan.

“Dasar sampah! Aku akhiri saja semua sekarang!” teriak Jose. Ia mengumpulkan sebuah energi hitam yang begitu besar. Lalu ia menembakkannya kepada Raiden dan Vetalla.

“Vetalla, kau...” ucap Raiden sambil berlinang air mata.

Vetalla hanya menatap Raiden dengan tajam. Matanya yang berwarna kuning menyala tampak memandang Raiden dengan sayu.

Ledakan besar kembali terjadi. Ledakan itu kembali membuat pertarungan di bawah bangunan itu terhenti untuk sesaat.

Kepulan asap pekat menyelimuti bagian atas bangunan. “Selesai sudah.” Ucap Jose pelan.

Dari balik kepulan asap perlahan tampak sosok Raiden berjalan menghampiri Jose. Ia kali ini menggenggam sebilah pedang, Vetalla.

“Apa?” teriak Jose terkejut.

Tampak mata kanan Raiden berubah menjadi kuning. Dari punggungnya muncul kumpulan energi berwarna biru tua membentuk dua pasang sayap. Tangan kirinya menyala keemasan. “Sudah kubilang, sekuat apapun kau mencoba. Aku tidak akan mati.” Ucapnya dengan tegas. “Karena sudah menjadi takdirku untuk mengalahkanmu.” imbuhnya. Raiden maju menerjang Jose.

Jose menembakinya dengan tembakan energi.

Raiden berhasil menghindari semua serangan Jose. Ia menebas wujud energi Jose. Tebasannya berhasil. Jose terbelah menjadi dua.

“Kurang ajar kau!” teriak Jose. Ia berusaha mengembalikan wujudnya.

Raiden dengan sigap memukul Jose dengan Brajamustinya. Energi dari pukulan itu menghantam telak ke tubuhnya yang perlahan kembali menyatu.

Pukulan itu menghempaskan Jose beberapa meter. Namun iba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.

“Kau...” kata Raiden pelan.

“Sebenarnya aku berencana menyimpan ini untuk aku gunakan di waktu yang akan datang. Tapi sepertinya harus aku lakukan sekarang.” Kelakar Jose.

“Apa yang kau rencanakan?” tanya Raiden dengan penuh kewaspadaan. Ia kembali bersiaga dengan kuda-kudanya.

Jose mengubah wujudnya kembali ke wujud manusia. Namun kini wajahnya tampak mengerikan. Matanya berwarna hitam dengan pupil merah, dan melotot seperti akan keluar dari rongga matanya. Ia mengumpulkan semua energi dan menggabungkannya menjadi bola energi besar di hadapannya. “Hei kalian semua manusia, makhluk-makhluk hina. Terimalah akhir dari kehidupan kalian di muka bumi ini. Biarlah kami para penghuni dunia kematian yang menguasai dunia ini!” suaranya menggema ke seluruh penjuru kota. Suaranya terdengar sampai ke penjuru negeri.

Semua orang menghentikan kegaitannya. Mereka semua merasakan kengerian dari suara tersebut.

“Selesai sudah.” Ucap Jose pelan. Kulitnya kini telah berubah warna menjadi merah menyala, seperti api. Sepasang tanduk mencuat dari kepalanya.

Energi itu perlahan membentuk sebuah bola hitam pekat. Tiba-tiba bola itu mengeluarkan gravitasi yang begitu kuat. Menghisap segala sesuatu yang ada di hadapannya. Lantai bangunan itu retak. Bangunan itu pun hancur. Semua terhisap oleh bola energi itu.

Jose melayang di belakang bola energi itu.

Para pemberontak berusaha melarikan diri. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari hisapan bola energi itu. Beberapa orang yang tak beruntung pun terhisap. Mereka semua berteriak meminta tolong. Tapi semua itu sia-sia. Tempat itu jadi kacau. Orang-orang berlarian dengan panik. Mereka berlarian dengan histeris. Berusaha menyelamatkan diri masing-masing.

Raiden berada di tanah. Ia sempat menghindari hisapan dari bola energi itu dengan memanfaatkan kekuatan dari Vetalla untuk terbang menjauh dari jarak hisapan bola energi. Ia kini bersimpuh di tanah. Menancapkan pedangnya di tanah. Ia berusaha menahan dirinya dari hisapan gravitasi.

“Raiden, aku punya ide.” Ucap Vetalla dari dalam diri Raiden.

“Bagaimana?” tanya Raiden.

“Hanya ada satu cara.” Balas Vetalla pelan.

Raiden mencabut tancapan pedangnya dari tanah. Ia membiarkan dirinya terhisap oleh tarikan gravitasi. Ia meluncur tepat menuju bola energi itu.

“Sudah menyerah rupanya.” Hina Jose melihat Raiden yang membiarka dirinya terhisap oleh bola energi itu. Kumpulan gigi tajam yang tersusun rapi tampak menyeringai di balik senyumannya.

“Tidak semudah itu.” Gumam Raiden pelan.

Raiden kemudian mengepalkan tangan kirinya. Sekumpulan energi keemasan terkumpul di tangan kirinya. Ia mendaratkan pukulan Brajamusti tepat sebelum ia terhisap oleh bola energi itu. Pukulannya menimbulkan efek ledakan yang begitu besar. Ledakan itu menghempaskannya. Seketika efek ledakannya juga terhisap oleh bola energi itu. Ia  menggunakan sisa-sisa kekuatan Vetalla berusaha dengan kuat terbang menghindari jarak jangkau hisapan energi itu. Ia tampak meneteskan air mata. “Vetalla aku serahkan padamu!” teriaknya. Ia kemudian melemparkan pedangnya ke arah bola energi itu. Pedangnya meluncur dengan cepat memanfaatkan daya tarik dari efek hisapan bola energi itu.

***

“Tidak Vetalla, aku tidak akan melakukannya.” ucap Raiden pada Vetalla.

“Tidak ada cara lain Raiden. Sepertinya ini memang takdirku.” Balas Vetalla dengan tegas.

“Aku akan mencari cara lain. Aku tidak mau kehilangamu, lagi.” Saut Raiden.

“Raiden, kau masih ingat kan mengapa aku memohon untuk mengikutimu?” tanya Vetalla.

“Vetalla.” Balas Raiden pelan.

“Mungkin inilah satu-satunya cara untukku menebus segala dosaku. Satu-satunya cara untukku supaya bisa kembali ke dimensi kematian. Raiden, percayalah padaku.” Jelas Vetalla.

“Bagaimana kalau tidak berhasil?” balas Raiden pelan.

“Kita tidak akan pernah tau jika kita tidak mencobanya, kan?” tanya Vetalla.

Raiden berusaha menahan tangisnya dalam posisi bertahan dari hisapan bola energi.

“Raiden, aku percaya padamu. Kumohon, untuk terakhir kalinya. Percayalah padaku. Mari kita selesaikan semua ini.” Ucap Vetalla dengan tenang.

Air mata menetes dari kelopak mata Raiden yang terpejam. Ia membuka matanya. Matanya tampak berkaca-kaca. Ia berdiri, lalu mencabut tancapan pedangnya dari tanah. Membiarkan dirinya terhisap oleh bola energi itu.

***

Vetalla meluncur menuju dari bola energi itu. Sepersekian detik sebelum terhisap, Vetalla berubah menjadi wujudnya monsternya. Sayapnya mengepak dengan berat. Ia menggunakan segala sisa kekuatannya untuk terbang menghindari hisapan itu.

“Apa yang kalian rencanakan? Semuanya akan sia-sia.” gumam Jose pelan.

Vetalla berhasil menghindari hisapan itu. Ia terbang melayang ke arah Jose yang berada di belakang bola energi. Iamencengkram tubuh Jose dengan cakarnya.

“Apa?” Jose terkejut. Ia tidak sempat merespon cengkraman Vetalla.

Vetalla langsung membanting tubuh Jose ke belakang. “Kembalilah ke asalmu!” teriak Vetalla.

“Kau! Apa yang kau lakukan? Dasar makhluk rendahan!” hardik Jose.

“Vetalla. Terima kasih. Terima kasih kau sudah menemaniku selama ini!” teriak Raiden yang masih melayang di udara.

“Raiden. Terima kasih telah menyelamatkanku. Telah membawaku ke takdirku. Tetaplah hidup! Jadilah sang pahlawan!” teriaknya tepat sebelum dirinya dan Jose terhisap oleh bola energi itu.

Jose berteriak dengan sangat kencang sesaat sebelum ia terhisap oleh bola energinya sendiri.

Seketika sebuah ledakan yang sangat besar terjadi di langit. Sebuah ledakan yang lebih besar dari ledakan-ledakan sebelumnya. Ledakan yang menimbulkan efek kejut yang menghancurkan sisa-sisa bangunan yang ada di sekitarnya. Cahayanya sangat kuat, menimbulkan efek menyilaukan yang mengalahkan pancaran cahata matahari.

“Vetalla!” teriak Raiden.

***

“Eh, dia masih hidup!” teriak seseorang.

“Lihat dia bergerak!” suara kerumunan orang terdengar samar-samar oleh Raiden.

Raiden membuka matanya. Ia tergeletak di tanah. Ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya namun tidak bisa. Ia perlahan melihat ke sekitar.

Kerumunan orang mengelilinginya. Mereka menatapnya dengan penuh kebahagiaan. “Dia masih hidup! Dia selamat!” ucap salah seorang yang memakai seragam tentara yang compang-camping.

“Hore! Yeay!” terdengar sorak-sorai yang begitu riuh dan ramai dari kerumunan mereka.

Raiden dengan susah payah dibantu oleh beberapa orang berusaha bangkit dan berhasil berdiri.

Kerumunan orang di sekelilingnya mengelu-elukannya. Mereka semua mengangkat tangannya. Wajah mereka tampak begitu bahagia. Beberapa orang tampak menangis dengan penuh kebahagiaan. “Sang Pahlawan!” terdengar salah satu dari mereka bersorak.

“Sang Pahlawan! Sang Pahlawan! Sang Pahlawan!” sorakan itu dilanjutkan oleh semua orang di situ dengan saling bersaut-sautan. Mereka semua bersorak kepada Raiden.

Raiden menatap semua orang di sekitarnya. Bibirnya bergetar. Air mata berlinang di pipinya.

***

“Wow, Keren sekali!” ucap Tomi dengan matanya yang berbinar-binar.

“Tentu saja keren. Kan Ayah yang cerita.” Balas Ayah Tomi sambil menggosok-gosok kepala Tomi.

“Aku pengen punya kekuatan seperti Raiden. Aku juga pengen punya teman yang setia seperti Vetalla.“ balas Tomi dengan penuh semangat.

Ayah Tomi hanya membalasnya dengan senyuman.

“Oh ya, Ayah. Lalu setelah itu Raiden pergi ke mana, Yah?” tanya Tomi.

“Kemana ya? Ayah tidak tau. Kapan-kapan Ayah coba cari tau. Sekarang Tomi harus tidur. Sudah jam sepuluh. Besok Tomi harus bangun pagi.” Jawab Ayah Tomi.

Tomi mengangguk dengan penuh semangat. Tampak kelopak matanya sudah sayu.

Ayah Tomi pun beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan meninggalkan kamar Tomi.

“Terima kasih Ayah!” ucap Tomi.

Ayah Tomi menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Tomi. “Selamat malam, Tomi.” Balasnya dengan senyumannya yang hangat.

Tomi membalasnya dengan senyuman. Ia kemudian berbaring di tempat tidurnya.

Ayah Tomi menutup pintu kamar Tomi.

***

“Lalu... Raiden akhirnya jadi pahlawan.” Cerita Tomi.

“Ah, aku tidak percaya dengan ceritamu!” timpal seorang anak yang duduk di samping Tomi.

“Kau ini masih seperti anak SD aja. Suka dengan dongeng seperti itu, Tom.” Ejek anak yang lain.

Tomi dan dua temannya sedang duduk bersama di sebuah meja makan di kantin. Mereka menikmati makanan masing-masing.

“Terserah, tapi itu cerita yang pernah Ayahku ceritakan. Aku suka sekali dengan cerita itu.” Tomi membalas ejekan teman-temannya.

***

Cahaya pagi menembus jendela kamar Ayah Tomi. Pagi itu begitu hangat. Suara burung berkicauan di luar rumah membuat pagi itu terasa begitu damai dan tenang. Ia sedang duduk di mejanya sambil memegangi sebuah foto. Ia memandanginya dengan tatapan sayu. “Tomi, Ayah sudah mengirim semuanya lewat surat. Maafkan Ayah ya. Ayah terpaksa melakukan semua ini. Ini semua di luar kendali Ayah. Ini semua sudah takdir Ayah.” Tampak matanya berkaca-kaca. “Tomi kamu harus kuat ya. Ayah tau ini pasti berat. Tapi Ayah yakin Tomi pasti kuat melalui semua ini.” Ucapnya. “Terima kasih telah menemani Ayah selama ini. Tumbuhlah menjadi anak yang baik, anak yang kuat, anak yang berguna. Sebarkan kebaikan di sekitarmu. Ikutilah mimpimu. Jadilah dirimu sendiri.” Imbuhnya.

Perlahan tubuhnya bersinar. Tubuhnya perlahan melebur. Tubuhnya berangsur-angsur menghilang. Tampak air mata bercucuran dari matanya, mengalir di pipinya. Ia lenyap menjadi satu dengan cahaya matahari yang menyinarinya.

Foto yang sebelumnya dia genggam terjatuh di atas meja. Tampak di dalam foto lusuh itu sepasang paruh baya.

Foto itu adalah foto yang ada di ruangan tempat Raiden di rawat oleh seorang wanita saat dia dikalahkan oleh Jose. Setetes air mata jatuh membasahi foto itu. Ruangan itu kini kosong, tak ada lagi sosok Ayah Tomi di ruangan itu.

-TAMAT-

Berlangganan

Jadilah pembaca setia Filolofi.com dan dapatkan pemberitahuan 
tentang judul cerita terbaru langsung ke emailmu!
Filolofi adalah platform cerita bersambung hasil karya dari beberapa penulis yang dipublikasikan berbasis website sehingga dapat diakses langsung oleh pembaca. Judul atau bagian terbaru akan terbit setiap minggu. Pastikan untuk menjadi pembaca setia Filolofi dan nantikan kisah-kisah menarik setiap minggunya.
Follow
3088
Total Visitors
users linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram