Bharma (4)

Berharap Tak Berpisah

“Kalau Reza tahu situasi Jia sedang terancam. Berarti aku tidak jadi kerja di sana, Kalua.” ucap Atok sambil tetap memperhatikan rumah Jia dari dalam mobil.

“Terancam? Seorang suami yang mencari istrinya sendiri bisa disebut ancaman ya?” protes Kalua.

“Ya tentu saja. Apalagi suami yang tiba-tiba muncul setelah sekian lama.” Atok menghela napas. Ia mengecek jam di layar handphonenya. “Sudah hampir jam 12 malam, Kalua. Harus kita tunggu sampai kapan?”

Kalua bimbang. “Sedikit lagi. Aku yakin sedikit lagi pasti Jia akan merespon.”

“Bagaimana kau tahu itu? Koneksimu dengan dunia dukun sudah menguat lagi?”

Kalua menggeleng. “Bukan dengan dunia dukun. Melainkan dengan anakku.” Tatapan Kalua lurus ke satu rumah yang sedari tadi mereka perhatikan dari seberang jalan.

***

Jia mengintip dari celah pintu kamar. Memastikan bahwa Reza sudah benar-benar tertidur dengan lelap. Lalu dengan langkah hati-hati, ia meraih handphonenya. Tangan kanannya gemetar saat hendak mengetik nomor Kalua yang tertulis di kartu ucapan. Sebelum menekan tombol panggil, Jia menutup matanya dan mengatur napas senormal mungkin.

“Ini bukan masalah besar, Jia. Kau sudah pernah melaluinya. Kali ini kau akan baik-baik saja…” gumam Jia menguatkan diri sendiri. Dengan sekali tarikan napas, Jia menekan tombol panggil.

Tak perlu menunggu lama, panggilan itu pun terjawab. “Jia?”

Suara itu berhasil mengorek luka lama Jia begitu cepat dan jitu. Suara yang kini terdengar lebih berat dari terakhir kali Jia mendengarnya.

“Jia?” panggil Kalua sekali lagi.

“Apa maumu, Kalua?” tembak Jia langsung.

“Jia, aku mohon. Kita harus bertemu. Aku akan menjelaskan semuanya.”

“Jadi kau memanfaatkan Reza untuk bisa menemukanku? Untuk apa? Kau ingin menyeretku kembali ke desa?”

Kalua terdiam sejenak sebelum meneruskan penjelasannya. “Jia, sudah kubilang, ini soal bapuh kita. Dia dalam bahaya. Satu-satunya tempat aman hanya kembali ke desa.”

“Lebih baik aku mati daripada harus kembali ke tempat itu, Kalua.” Suara Jia bergetar meredam marahnya. “Sampai kapanpun aku tidak akan kembali ke sana, begitu pula anakku.”

“Kau tahu soal proyek Reza di desa kita?” tanya Kalua tiba-tiba.

Jia terdiam. Ia melirik pintu kamar Reza. “Proyek apa yang kau maksud?”

“Jia, kantor Reza mengerjakan proyek besar yang akan meruntuhkan desa kita dalam waktu dekat. Itulah mengapa aku mencarimu dan bapuh kita. Aku tidak yakin kalian berdua akan aman di sana.”

Jia tidak menanggapi. Ia sama sekali tidak memiliki petunjuk dan informasi jelas tentang pekerjaan Reza.

“Jia, aku berjanji akan menjelaskan semuanya. Kita harus bertemu. Aku perlu memastikan kalian betul-betul aman. Setengah jam saja?”

Jia menimbang tawaran dari Kalua.

“Hanya setengah jam, Jia. Aku mohon. Aku ada di kota, kau bisa minta bertemu kapan saja, bahkan saat ini juga.”

“Hanya kita berdua. Tanpa anakku.” Tegas Jia.

Akhirnya Kalua pasrah. “Baiklah. Kita berdua saja.”

Jia memutus panggilannya begitu saja. Ia segera mencari segelas air putih dan meneguknya hingga habis. Barulah napasnya mulai stabil. Ia ragu-ragu apakah sanggup menghadapi masa lalunya lagi secara langsung setelah ini.

***

Kalua menatap layar handphonenya dengan lemas.

“Istrimu menakutkan.” Celetuk Atok tiba-tiba.

“Sepertinya Jia tidak memberi tahu Reza soal pesan rahasiaku di hadiah itu.”

“Dan pastinya Reza tidak memberi tahu Jia soal proyek pekerjaannya. Atau dia tidak tahu kalau lokasi itu adalah desa tempat sahabat tersayangnya berasal.”

Kalua melirik Atok kesal.

“Apa? Memang betul mereka saling menyayangi, kan?”

“Tidak mungkin Reza tidak tahu soal desa itu.”

Atok geleng-geleng kepala. “Banyak sekali rahasia di antara kalian.”

Handphone Kalua berdering singkat. Ada satu pesan masuk.

“Aku ikut senang handphonemu akhirnya bisa berfungsi dengan baik kali ini.”

Kalua tidak menghiraukan Atok. Matanya serius membaca isi pesan tersebut. “Ini nomor Jia…”

“Dia bilang apa?”

Tiba-tiba Kalua menepuk pundak Atok panik. “Kita harus pergi dari sini. Cepat! Cepat, Tok!”

Buru-buru Atok menyalakan mesin. “Iya, iya! Memangnya ada apa?”

“Jia minta bertemu sekarang juga. Jangan sampai dia tahu kita berdua mengintai di sini sejak tadi. Cepat, Tok!”

“Iya, sabar, Kalua! Kau pikir gampang membelokkan pick up di jalan sempit begini?” teriak Atok. Susah payah ia menyetir pick up keluar dari jalan perumahan.

***

Hanya lampu neon putih minimarket 24 jam yang menjadi satu-satunya penerangan di sudut tempat Jia duduk menanti. Ia hanya membeli sekotak kopi hitam instan yang sampai detik ini masih utuh. Kaki Jia tak berhenti bergoyang, dengan tangan terlipat di depan dada, menahan dinginnya angin tengah malam. Sosok yang Jia tunggu belum juga muncul.

Sementara dari kejauhan, Kalua dan Atok sudah memperhatikan Jia sejak kedatangannya. Hanya saja Kalua membutuhkan waktu untuk menguatkan diri.

“Jia masih tetap cantik seperti biasa.” Gumam Kalua.

“Betul itu istrimu? Kau tidak salah orang?” Atok memastikan.

Tatapan Kalua masih terpaku pada Jia yang duduk di depan minimarket seberang jalan.

Atok menggerutu. “Ah, dunia ini benar-benar tidak adil.”

“Tiba-tiba aku ingin merokok. Kau punya rokok?” todong Kalua.

“Aku tidak merokok, Kalua. Lagipula kalau harus menunggumu merokok sebatang dulu, Jia akan pergi. Cepatlah kau kesana!” Atok mendorong bahu Kalua.

Kalua terpaksa menggerakkan kakinya menghampiri Jia. Setiap langkah yang mendekatkan jaraknya dengan Jia, membuat perasaan Kalua semakin berantakan. Ada saat dimana Kalua hanya mengenal Jia sebagai teman masa kecil, lalu tiba-tiba takdir mempertemukan keduanya menjadi suami-istri, dan kemudian Jia tegelincir dari genggaman Kalua menjadi orang asing begitu saja. Dan kini, hanya berjarak beberapa meter dari pandangannya, Kalua harus segera mengurai perasaannya sekaligus. Ia bingung mana yang harus didahulukan. Rindukah? Marahkah? Bahagiakah?

Jia menangkap sosok laki-laki yang berjalan mendekat. Pandangannya masih terhalang gelap malam dan bayang-bayang. Namun Jia tahu betul cara jalan itu, postur tubuh itu, tidak ada yang berubah bagi Jia. Degup jantungnya jadi tak karuan ketika cahaya lampu minimarket berhasil menjangkau wajah laki-laki itu.

“Jia…” panggil Kalua pelan.

Jia berdiri, tak berpindah sedikitpun dari tempatnya berpijak.

Kalua meresapi betul kehadiran Jia. Ia merekam sebaik mungkin perubahan istrinya itu. Rambut yang semakin panjang, tubuh yang berubah setelah melahirkan, wajah yang terlihat takut namun sama sekali tidak menutupi kecantikannya.

Jia balik menatap Kalua dengan diam. Tak tahu harus mengawali dari mana, sekaligus menimbang begitu hati-hati setiap gerak-gerik dan perkataan yang akan keluar.

Kalua melirik minimarket sekilas. “Aku… beli rokok dulu.” Ia bergegas masuk ke dalam minimarket.

Jia akhirnya punya kesempatan untuk mengatur napasnya lagi. Ia kembali duduk dengan gelisah.

Kalua menyalakan sebatang rokok ketika sudah duduk di hadapan Jia. Berusaha mengalihkan gugupnya.

Jia menatap Kalua serius. “Katamu hanya setengah jam, kan? Sekarang waktumu tersisa dua puluh menit.”

Kalua menatap Jia lagi. “Kau… baik-baik saja?”

Jia tidak menjawab.

“Jia, aku… sudah tahu semuanya.” Kalua menunduk, merasa tak kuat melanjutkan kalimatnya sendiri. “Soal perjanjianmu dengan… Angken.”

Satu nama itu berhasil menguak luka lama Jia. Kini air mata sudah menumpuk di pelupuk matanya.

“Bapuh kita… akan menjadi perpanjangan dari rencana Angken apabila ia berada di pihak yang salah, Jia.”

Jia tersinggung. “Pihak yang salah? Siapa yang kau maksud? Reza?”

“Aku sama sekali tidak ingin menyimpulkan bahwa Reza…”

Suara Jia meninggi. “Reza sudah berbuat jauh lebih banyak untukku dibanding kau, Kalua.”

“Itu karena kau pergi dariku, Jia.” Balas Kalua kesal. Ia memejamkan mata, berusaha meredam semua kekesalannya. “Aku tahu, aku tahu bahwa aku hanya umpan dan kedok agar kau bisa segera pergi dari desa, Jia. Tapi kumohon, jangan kau lemparkan keadaan ini padaku seolah aku yang memulai semuanya.”

“Memangnya siapa lagi? Semua ini terjadi karena kau yang terpilih sebagai Among Penjaga, Kalua.” Air mata Jia jatuh setitik. “Yang entah apakah sebutan itu sekarang berhasil menyelamatkan orang satu desa. Bagiku itu hanya panggilan tak berguna.”

“Kau pikir aku senang mendapatkannya? Aku sama sekali tidak menginginkannya, Jia. Sekarang kau ikut-ikutan menjadi korban… apalagi ada bapuh kita. Aku harus membereskan yang terlanjur terjadi. Menyelamatkan kalian berdua…”

“Lebih tepatnya memaksa kami pulang, kan? Itu rencanamu?”

“Tentu aku akan sangat senang kalau kau punya rencana yang jauh lebih baik, Jia. Tapi kurasa kita tidak punya itu sekarang. Apa kau bisa memastikan bahwa Reza tidak punya maksud jahat denganmu? Dengan bapuh kita?”

Tatapan Jia penuh amarah. “Aku dan Jata bisa hidup sampai detik ini berkat kebaikan Reza, Kalua. Justru kehadiranmu yang membuat kami tidak aman.”

Kalua terdiam. “Jata? Itu nama yang kau pilih?” ujung bibirnya membentuk senyum sekilas. “Aku suka.”

Jia tak menghiraukan pujian itu. “Nama yang tidak akan bertahan lama jika kau ikut campur kehidupan kami.”

Kalua membuang muka. Ia menyesap rokoknya yang entah mengapa kini terasa sedikit pahit. “Kau dan Reza…”

“Kalua, aku ingin kita pisah secara resmi.” Todong Jia langsung. “Aku setuju bertemu denganmu malam ini karena aku perlu menyampaikan itu. Kita harus sepakat untuk bercerai.”

Kalua menunduk lesu. Ia menggeleng pelan. Tidak sekarang, Jia. Batinnya memberontak.

“Sekarang kau tetua adat tertinggi, kan? Kau bisa langsung memutuskannya sendiri. Para Among tua lainnya pasti akan mematuhi keputusanmu.”

“Apa yang membuatmu berpikir aku akan menyetujuinya begitu saja?”

“Aku berhak bahagia dengan pilihanku sendiri, Kalua.”

Jawaban Jia menampar Kalua begitu keras. Seketika ia melupakan tujuan utamanya untuk membawa Jia dan anaknya kembali ke desa.

Hening cukup lama menyelimuti mereka berdua yang bergelut dengan isi pikiran masing-masing. Kalua tidak memiliki daya tawarnya lagi. Ancaman bahaya yang sering ia katakan nyatanya belum menunjukkan wujud konkritnya hingga saat ini. Sementara Jia kini berusaha melepaskan diri sepenuhnya dari genggaman Kalua. Ia tak tahu lagi harus menahan dengan cara apa.

Jia tahu betul ini saat yang tepat untuk menyudahi masa lalunya bersama Kalua. Ia melirik Kalua yang jelas terlihat lesu. Hati kecilnya sempat menyimpan kenangan manis bersama Kalua, namun tak sebanding dengan begitu besarnya bekas luka menyakitkan yang masih menganga lebar.

“Lalu soal bapuh kita…”

“Jata…” potong Jia. “Anakku, tentu aku yang akan mengasuhnya.”

“Jia…” Kalua berusaha menjelaskan sekali lagi dengan sabar. “Harus berapa kali kubilang, Jata tidak akan aman berada di luar desa sampai dia bisa mengendalikan kekuatannya sendiri.”

“Dia masih bayi, Kalua. Memangnya kekuatan sebesar apa yang kau harapkan? Dia tidak akan meledakkan apapun sambil tidur.” Jawab Jia kesal. “Apa kau sungguh yakin? Darimana kau dapat peringatan-peringatan seperti itu? Among Retu? Kau yakin sudah mempertimbangkannya sendiri? Kau pernah bilang tidak ingin sekolot mereka.”

Kini Kalua melihat raut kecewa di wajah Jia. “Mereka lebih dulu menjadi Among tetua adat, Jia. Mereka pasti tahu apa yang harus dilakukan. Aku hanya ingin kau dan Jata selamat.”

“Kami berdua baik-baik saja, Kalua. Astaga.” Jia meremas rambutnya putus asa. “Apa yang dikatakan oleh orang-orang tua kolot itu tidak terbukti sampai sekarang, kan?”

Kalua terdiam. Kini tidak punya alasan lagi untuk membujuk Jia. Rokok di tangannya sudah mati lebih dulu tanpa ia hisap.

Jia melirik jam tangannya. “Ini sudah setengah jam, Kalua. Kau pergi saja.” Ia meraih sekotak kopi instan yang masih utuh dan bersiap pergi.

“Tunggu…” Kalua membuang putung rokoknya. “Kau cari tahu soal proyek Reza di desa kita. Dari situ kau mungkin bisa percaya denganku.” Kalua menggenggam tangan kiri Jia. “Aku akan terus melindungi dan mengawasi kalian, aku janji. Jika ada satu hal janggal yang terjadi, sekecil apapun, aku akan segera datang.”

Jia menarik tangannya. “Lebih baik kau pulang, kau urus keperluan orang satu desa. Itu yang terpenting. Aku bisa jaga diri.”

“Tolong kau pikirkan juga Among dan Ambamu, Jia. Mereka membutuhkan kabar darimu.”

Jia terus berjalan meninggalkan Kalua. Pertemuan ini berhasil membuka satu memori masa lalu yang terlampau kuat, memaksanya untuk memikirkan semua permasalahan kusut sekaligus.

***

Meski hanya melihat dari kejauhan, Atok bisa menyimpulkan upaya pertama Kalua tidak mulus begitu saja. Terbukti dengan wajah kusut Kalua ketika kembali masuk ke dalam mobil pick up.

“Jia tidak mau?”

Hanya terdengar helaan napas panjang dari Kalua.

Atok hanya mengangguk paham. “Mungkin butuh waktu, Kalua.”

“Aku tidak yakin apakah waktu yang tersisa masih banyak, Tok.”

“Aku tahu itu. Lalu sekarang bagaimana?”

“Aku perlu mengawasi Jia dari dekat.”

“Kupikir kau perlu pulang dulu, Kalua. Desamu harus tahu soal proyek Reza.”

Kalua menggeleng. “Jia prioritasku sekarang. Mengamankan Jia dan Jata berarti aku juga mengamankan desaku.”

“Jata?” Atok bingung mendengar nama yang masih asing itu.

“Anakku. Namanya Jata.”

“Oh…” Atok memasang sabuk pengamannya. “Menurutmu Reza akan tahu kalau Jia menemuimu?”

Kalua mengangkat kedua bahunya. “Entahlah.”

Atok menyalakan pick upnya. “Kita perlu tahu soal proyek itu lebih dalam, Kalua. Kau lihat sendiri kan, itu proyek skala masif. Desa kalian bisa rata sepenuhnya.”

“Iya aku tahu. Maka…” Kalua melirik Atok. “Sebentar. Kau… sungguh mengatakan itu barusan?”

“Memangnya kenapa?”

“Kau peduli denganku sekarang? Kau sungguh tulus membantuku kali ini?” ujar Kalua takjub.

“Kau sudah melibatkanku sejauh ini, Kalua. Lagipula semua kejadian yang terjadi sejak kau datang ke rumahku terlalu mengerikan untuk diabaikan.” Atok menginjak gas.

“Ternyata jauh lebih mudah membujukmu daripada membujuk Jia.”

“Jangan sampai aku berubah pikiran gara-gara tingkahmu menyebalkan.” Ancam Atok.

Mobil pick up mereka satu-satunya kendaraan yang membelah jalanan gelap itu.

***

Belum sempat tangannya menyentuh gagang pintu, terdengar suara putaran kunci yang dibuka buru-buru. Pintu itu menyibak wajah Reza yang terlihat khawatir setengah mati.

“Jia, kau dari mana tengah malam begini?”

Jia menunjukkan sekotak kopi instan di tangannya. “Dari minimarket.”

“Kau malam-malam begini ke minimarket hanya untuk beli kopi?”

“Beli pulsa sekalian.” Tambah Jia pendek.

Reza menghela napas panjang. Ia memegang kedua pipi Jia. “Kenapa kau tidak membangunkanku?”

“Kau sudah tidur pulas.”

Reza menarik Jia ke dalam pelukannya. “Astaga, tidak perlu begitu, Jia. Aku pasti akan menemanimu. Jangan membuatku khawatir seperti ini.”

Pelukan Reza seketika meredam emosi dan kegundahan Jia setelah bertemu dengan Kalua. Kini ia yakin sudah berada di tempat paling aman.

***

Kontak Kedua

Bukan hal yang sulit bagi Among Sani untuk mencari Jia dan anaknya. Ia dikenal sebagai penunjuk arah paling akurat di antara para Among tetua adat. Termasuk dalam hal mencari seseorang. Jarinya hendak menekan tombol panggil di layar handphonenya ketika ia melihat sosok laki-laki keluar dari rumah yang ia intai sejak tadi. Among Sani memastikan penglihatannya tidak salah.

“Among Retu, aku sudah menemukannya.” Ucap Among Sani lewat handphone usangnya.

“Bagus. Kau melihat ada Amongku Kalua?” terdengar suara serak Among Retu dari speaker handphone.

“Tidak ada. Justru aku melihat laki-laki lain. Sepertinya ia tinggal serumah dengan Jia.”

“Kalau begitu harusnya tugasmu lebih mudah. Cepat bawa mereka sebelum keduluan Amongku Kalua.”

Among Sani mematikan teleponnya. Ia memutuskan untuk tidak gegabah. Terlalu beresiko untuk bertindak secepat ini.

***

Jia membungkus kotak bekal bertingkat dan tak lupa termos kecil berisi kopi favorit Reza.

“Yang memberi hadiah itu, siapa namanya?” pancing Jia.

“Oh itu, Atok, harusnya hari ini dia mulai masuk kerja. Kenapa memangnya?” sahut Reza sambil mengikat sepatunya.

Bukan Kalua, mungkin temannya? Pikir Jia. “Sampaikan terima kasihku untuk dia.” Ia menyerahkan perbekalan yang sudah terbungkus rapi untuk Reza.

Reza tersenyum lebar menerima bekal dari Jia. “Sebanyak ini?”

“Di kantor kan banyak orang, bagi-bagi saja dengan yang lain.”

“Kau memang terbaik, Jia. Terima kasih ya.” Reza lanjut menyiapkan barang-barangnya.

“Kau… sedang mengerjakan proyek apa?” tanya Jia penasaran.

“Tidak ada yang spesial. Hanya menyelesaikan laporan-laporan saja.” Reza melirik Jia. “Tumben kau tanya soal kerjaanku.”

“Hanya penasaran.” Jawab Jia asal.

“Mungkin hari ini aku bisa pulang lebih cepat. Timku sudah lengkap, jadi beban kerjaku sedikit berkurang.”

Jia berusaha tersenyum. “Baguslah kalau begitu.”

Reza meraih ransel dan bekal pemberian Jia. “Aku berangkat ya. Kau hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa segera telepon.” Ia mengecup dahi Jia.

Jia mengangguk pelan, ia berdiri di ambang pintu rumah menunggu Reza dan mobilnya beranjak pergi. Setelah mobil Reza menghilang dari pandangan, Jia buru-buru masuk dan mengunci pintu.

Kamar Reza yang tak terkunci membuat Jia leluasa masuk memeriksa meja kerjanya. Ia membuka tumpukan berkas-berkas di sisi meja. Jia membacanya sekilas, belum ada yang menarik perhatian. Kemudian ia menarik laci, setumpuk map berwarna cokelat langsung menyambutnya. Tulisan ‘Proyek Tambang Kapur PT. Harsindo’ di sampul map mencuri perhatian Jia. Ia mengeluarkan map itu dan langsung membaca ratusan halaman berkas di dalamnya. Matanya hanya memindai sesuatu yang ia kenal. Tak lama kemudian ia menangkap halaman berisi alamat dan peta proyek yang mengarah pada lokasi desa.

Kenapa Reza menyembunyikannya? Benak Jia berkecamuk. Pikirannya pun mulai terbagi antara mempercayai Reza atau harus mendengarkan Kalua. Jia membaca isi halaman itu lebih seksama.

Pembangunan resort… revitalisasi desa wisata… penggalian gunung kapur… semua itu berhasil membuat Jia semakin bingung untuk merangkai tiap peristiwa yang terjadi.

“Angken sudah sejauh ini?” gumam Jia. Rencana Angken yang dulunya ia sebut bodoh ternyata sudah berjalan begitu detail dan tepat sasaran, meski Angken sudah meninggal sejak tahun lalu.

Jia melirik Jata yang tertidur di kamar seberang. Kini ia mulai khawatir jika situasi semakin menghimpit mereka berdua.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu ruang tamu. Jia menjadi waspada. Ketukan itu terdengar lagi. “Sebentar…” teriak Jia. Sembari melangkah menuju pintu depan, ia berusaha mengingat apakah ada janji temu atau paket yang mungkin datang hari ini. Jia membuka pintu depan dan nyaris berteriak ketika melihat sosok yang berdiri di ambang pintunya.

“A-Among Sani?... Kenapa bisa…” Jia tergagap sekaligus ketakutan.

Among Sani memberi salam hormat dengan sopan. “Maafkan Among tidak mengabarimu dulu sebelum mampir ke sini. Boleh Among masuk? Ada yang perlu Among bicarakan denganmu.”

Jia berusaha mengatur napasnya. Ia mengangguk gugup dan membuka pintu lebih lebar. Di kepalanya, ia mempersiapkan skenario untuk segera kabur dari situ dengan membawa Jata.

***

Atok berdiri di depan cermin. Memperhatikan penampilannya yang dirasa aneh. Baru kali itu ia berdandan begitu rapi menyambut kebiasaan barunya sebagai pegawai kantoran yang entah akan bertahan berapa lama.

“Menurutmu aku akan bekerja di sana berapa hari, Kalua?”

Kalua yang terbaring di atas kasur hanya melamun menatap langi-langit.

Atok akhirnya melepas dasi hitamnya dan melempar ke wajah Kalua. “Hei, aku melakukan ini demi rencanamu. Aku harus berpura-pura kerja di sana berapa lama?”

“Aku juga tak tahu.”

Atok mengangkat alisnya. “Maksudmu?”

“Ya aku masih belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, Tok. Aku masih menunggu keajaiban.”

Atok mengedarkan pandangannya. “Menunggu keajaiban di kamar kos begini? Kau seharusnya ikut bergerak mencari sesuatu atau kita hanya akan menghabiskan uang dengan berlama-lama di sini.”

Kalua melirik Atok sinis. “Kita? Aku yang bayar sewanya. Harusnya kau tak perlu khawatir.”

“Kau pikir kita pinjam mobil pick up dan isi bensinnya tidak membutuhkan uang?” Atok merapikan rambutnya sekali lagi. “Seminggu, Kalua. Jika seminggu ke depan tidak terjadi apa-apa, aku harus pulang. Aku perlu merawat Ibuk dan membuka warungku lagi.” Atok meraih tas ransel dan kunci mobil. “Sepakat?” tanyanya lagi sebelum meninggalkan kamar.

Kalua hanya mengangguk sekilas. “Seminggu.”

Atok menghilang bersamaan dengan suara debam pintu. Kalua menghela napas pasrah sambil tetap menatap langit-langit kamar. Rasa kantuk pun mulai datang menyergap kesadarannya.

***

“Bagaimana… Among Sani tahu aku tinggal di sini?” tanya Jia takut-takut. Ia terduduk tegak di hadapan Among Sani, sambil meremas tangannya sendiri.

Among Sani menyesap air putih yang disuguhkan Jia kemudian ia tersenyum. “Kau masih ingat kan kalau di antara Among tetua adat, Among Sani lah yang paling ahli membaca angin, membaca masa depan, dan mencari orang?”

Jia hanya berusaha tersenyum dan menunduk.

“Lebih tepatnya Among tidak mendeteksi keberadaanmu, Jia. Tapi bapuhmu. Koneksi Among Kalua dengan bapuhmu juga begitu kuat. Tidak susah bagi Among untuk mencarinya.”

Suara Jia bergetar. “Among, aku mohon… aku tidak…”

“Jia, Among hanya ingin membicarakan semuanya baik-baik. Ini perintah dari para Among tetua adat.” Among Sani berusaha menenangkan.

Terdengar suara Jia terisak menahan tangisnya. Kini ia sungguh ketakutan. Ia tahu itu berkat pengaruh dari energi Among Sani yang terkenal bisa mempengaruhi orang. Jia pun terpaksa mengangguk pelan, meski hatinya memberontak bukan main. Anehnya ia tidak bisa mengikuti keinginannya. Kekuatan Among Sani berhasil mengambil alih.

“Kau bisa menceritakan soal hubunganmu dengan Among Kalua?” pinta Among Sani.

Jia berusaha menahan namun mulutnya bergerak begitu saja menceritakan semuanya. “Aku dan Kalua sudah tidak bersama lagi, Among.”

“Mengapa begitu?” tanya Among Sani lembut sambil tetap menatap mata Jia lekat-lekat.

Air mata Jia mulai jatuh. Otot lehernya menegang berkat energi dari Among Sani yang memaksanya tetap duduk dan berbicara. “Aku… aku hanya memanfaatkannya.”

“Memanfaatkan bagaimana?” lanjut Among Sani.

Jia melihat mulut Among Sani berkomat-kamit merapalkan mantra, membuat Jia tetap tertekan. Ia memejamkan mata memohon pertolongan. Kalua, tolong aku.

***

“Mas Reza…”

“Reza saja. Kita kan sudah satu tim sekarang. Gak perlu lah panggil Mas.” protes Reza sambil melangkah ke ruangannya, diikuti Atok di belakang.

“Ah iya, Reza, soal lokasi proyek tambang kapur ini. Kau… apa sudah pernah survey lokasinya langsung?”

“Belum, karena timku belum lengkap. Nah, kebetukan kau sudah melengkapi tim kita sekarang, kemungkinan kita akan sama-sama survey kesana minggu ini.”

Atok mengangguk. “Begitu ya.”

Reza duduk di kursinya. “Memangnya kenapa?” Ia menangkap ekspresi ragu-ragu di wajah Atok.

“Oh, aku… hanya penasaran.” Atok membuka isi map di tangannya, telunjuknya menandai salah satu halaman berisi detail proyek. “Proyek ini skala masif. Dari target waktu sepertinya ada yang berusaha mengebut progressnya. Lagipula, ini kan lokasi desa adat. Kau yakin ijinnya sudah betul-betul beres?”

Mendengar pertanyaan yang cukup serius, Reza mengubah posisi duduknya menghadap Atok. “Pertanyaan bagus. Soal ijin, kurasa pihak kontraktor sudah mengantongi ijin penuh dari perwakilan desa dan salah satu tetua adatnya bahkan sejak tahun lalu. Soal target waktu, ya… itu memang luar biasa ketat. Tapi proyek ini bernilai sangat besar. Sepadan dengan usaha yang akan kita keluarkan. Itulah mengapa aku butuh bantuanmu di tim ini.” Reza menepuk pundak Atok.

Atok hanya terdiam, sibuk merangkai kemungkinan di pikirannya sendiri.

***

Kalua tiba-tiba berada di dalam kamar yang asing. “Ini…” Ia memperhatikan lebih seksama setiap sudut ruangan. Kemudian telinganya menangkap suara bayi. Ia menyadari kehadiran bayi di atas kasur tanpa ditemani siapapun. Kalua mendekat, “Jata?” ia mengenali setiap lekuk wajah bayi itu. Lebih dari apapun, ia merasakan koneksi sangat kuat yang membuatnya yakin bahwa bayi di hadapannya adalah anaknya.

“Bapuhku…” Kalua tersenyum membelai tangan kecil Jata. “Kau memanggil Among kemari? Kau ingin bertemu dengan Among?”

Jata menatap Kalua dengan tersenyum. Kemudian Kalua mendengar suara Jia. Seketika ia merasakan energi lain yang tak kalah kuat. Energi yang melumpuhkan.

Kalua bergegas ke asal suara Jia. Ia kaget bukan main ketika melihat Among Sani ada di sana, yang ia yakini sedang mempengaruhi Jia untuk melakukan apapun kehendak Among Sani.

“Tidak… Jia… Jia!” Kalua berusaha membuat Jia terlepas dari kekuatan Among Sani namun tentu saja gagal.

“Sialan!” Kalua panik karena ia berada dalam dimensi yang berbeda dengan Jia. Satu ide mendadak terlintas di pikirannya. Kalua bergegas kembali ke kamar Jata. Ia berlutut di samping kasur.

“Jata, maafkan Among, sungguh Among membutuhkan bantuanmu kali ini.” Kalua mengarahkan telapak tangannya tepat di atas wajah Jata. Ia memejamkan mata sejenak. Terlihat pancaran energi yang keluar dari tangan Kalua, membungkus wajah Jata sekaligus. Tak lama berselang, terdengar suara tangisan Jata yang begitu kencang. Kalua melepaskan koneksinya. “Bagus, Jata. Pintar sekali bapuhku. Bertahanlah sedikit lagi. Among akan menyelamatkanmu dan Ambamu.”

Kalua kembali memejamkan mata. Berusaha keras untuk bisa keluar dari dimensi itu.

***

Tangisan kencang Jata seketika membuat energi yang mengikat Jia menghilang begitu saja. Jia bisa merasakan tubuhnya kembali seperti sedia kala. Tak mau membuang kesempatan, Jia langsung berlari ke dalam. Ia meraih handphone di meja dapur lalu masuk ke dalam kamar Jata dan menguncinya rapat-rapat.

Among Sani menatap ke luar rumah. “Amongku Kalua ada di dekat sini.”

Di dalam kamar Jata, Jia berusaha menelepon Reza. Sementara sebelah tangannya mendekap Jata erat.

***

Reza sedang berada di ruang rapat bersama Atok dan dua teknisi lainnya, ketika telepon dari Jia masuk. Ia segera mengangkatnya. “Halo Jia…”

“Reza, tolong aku. Cepatlah pulang sekarang, ada orang yang ingin menculikku dan Jata.”

“Apa?!” Reza langsung berdiri tegap. Teriakan Reza membuat Atok dan yang lainnya kaget.

“Cepatlah pulang, Reza!” Jia memohon nyaris putus asa.

“Aku pulang sekarang!” tanpa permisi dan tak mengindahkan barang-barangnya, Reza berlari keluar ruangan.

Atok dan yang lain hanya saling pandang kebingungan. Tiba-tiba handphone Atok berdering kencang. Nama Kalua berkedip di layarnya. “Halo?”

“Atok! Ke rumah Jia sekarang! Jia dan anakku dalam bahaya!”

“Apa? Kau dimana ini?”

“Aku sedang berlari menuju rumah Jia! Kau cepat kemari, Keparat!”

Telepon itu terputus tiba-tiba. Butuh sepersekian detik bagi Atok untuk memproses semuanya. Ia meraih ransel dan segera berlari menyusul Reza.

“Kenapa sih mereka berdua?” celetuk orang-orang di ruang rapat.

***

“Reza! Rezaaa!” teriak Atok memanggil Reza yang sudah berlari sampai halaman parkir. Ia melambaikan kunci mobil pick upnya. “Aku antar! Mobilku yang lebih cepat keluar!”

Reza yang panik tak ingin berpikir lebih lama. Ia berlari menuju mobil pick up Atok.

Keduanya masuk ke dalam mobil dengan napas terengah-engah. “Tok, aku mohon kau harus mengebut secepat mungkin.” Wajah Reza begitu cemas. “Rumahku di…”

“Aku tahu.” Sahut Atok pendek.

Reza mengernyitkan dahi mendengar jawaban Atok. Tapi ia tidak ingin membahas lebih jauh. Jia yang terpenting saat ini.

Atok menyalakan mesin dan langsung menginjak gas.

***

“Jia, kau perlu tahu bahwa perbuatanmu ini akan membahayakan kita semua.” Ucap Among Sani di depan pintu kamar Jata. “Aku tidak akan melakukan ini kalau situasinya tidak genting.”

Di dalam kamar, Jia hanya bisa menangis dan mendekap Jata seerat mungkin.

“Kami semua membutuhkan bapuhmu. Dia yang terpenting.”

Jia menggeleng kepalanya, berusaha mengenyahkan kemungkinan ia akan terpisah dengan Jata. “Jata bersamaku sampai kapanpun. Jata harus bersamaku.” Bisiknya di tengah-tengah tangis.

Suara decit rem mobil di halaman rumah mengalihkan perhatian Among Sani.

Reza melihat pintu ruang tamu yang terbuka. Ia turun dari mobil dan berlari masuk. “Jia!” teriaknya mencari Jia. Melihat ada seorang pria paruh baya berdiri di depan kamar Jata, Reza langsung murka. “Siapa kau? Apa maumu, hah?” Ia menarik kerah baju Among Sani dan menjatuhkannya ke lantai. Reza berusaha mencekik leher Among Sani.

Atok yang baru masuk langsung mencari-cari keberadaan Jia. Intuisinya mengarah pada satu kamar yang terkunci rapat. Ia berusaha membuka namun masih terkunci. “Jia… Jia, cepat keluar. Kita harus pergi dari sini.” Teriak Atok.

Mendengar keributan di luar, Jia langsung berdiri. Tangannya yang masih tremor susah payah memutar kunci. Begitu pintu terbuka, Jia terkejut dengan kehadiran sosok yang tak dikenalnya sama sekali. Kemudian ia melihat Reza yang sedang menindih Among Sani.

“Jia, cepat masuk ke mobil sekarang.” Atok menyuruh Jia untuk segera masuk ke mobil.

Jia tertatih berlari sambil memeluk Jata. Sementara Atok masih berusaha menarik Reza.

“Reza, tinggalkan dia. Kita pergi dari sini.”

Reza mengepalkan tangan bersiap untuk menghajar Among Sani.

Among Sani hanya menatap Reza dengan tenang. “Kau memihak orang yang salah, Reza Artha.”

Reza tertegun mendengar nama lengkapnya disebut tanpa salah.

“Reza, aku mohon cepat naik ke mobil.” Teriak Atok, yang akhirnya berhasil menyeret Reza keluar. Meninggalkan Among Sani tersungkur sendirian di dalam rumah.

Atok segera duduk di belakang kemudi. Reza lompat naik ke bak pick up. Atok hendak menyalakan mesin ketika tangannya terasa kaku tak bisa digerakkan.

“Sialan… mengapa badanku susah digerakkan.” Atok mengerang kesakitan.

Dari pintu rumah, terlihat Among Sani berkomat-kamit dan berjalan mendekat.

“Tok! Cepat jalan, Tok!” Reza menggebrak kaca pembatas di punggung Atok.

“Itu kekuatannya, ia bisa mengendalikan orang lain.” ucap Jia pelan.

Atok semakin terasa kesakitan ketika Among Sani sudah mendekat. “Aah!” otot leher Atok mulai menegang.

Among Sani masih tetap berkomat-kamit.

“Atok, cepat! Apa yang kau tunggu?” teriak Reza dari belakang.

Napas Atok mulai melemah, matanya pun terpejam.

“Tidak, hei, bangun! Aku mohon, bangunlah!” teriak Jia di sampingnya.

Dalam kesadarannya yang memudar, Atok melihat sosok Atok Penjaga Mercusuar di dalam benaknya. Kilas peristiwa yang ia alami bersama Kalua di dalam dimensi mercusuar mendadak berputar di pikirannya begitu cepat. Tiba-tiba Atok berteriak dan refleks mengarahkan tangan kanannya pada Among Sani. Energi besar muncul dari tangannya yang langsung membuat Among Sani terjengkang.

Baik Atok maupun Among Sani sama-sama terkejut dan tak percaya. Atok melihat telapak tangannya sendiri.

“Atoook! Jalan sekarang!” Terdengar suara Kalua dari belakang mobil pick up. Ia lompat naik ke bak pick up. Atok segera menyalakan mesin.

Belum sempat Among Sani melancarkan jurusnya, Kalua lebih dulu menahan energi Among Sani. Membuat Among Sani kembali tersungkur di halaman rumah.

Atok menginjak gas. Pick up itu langsung melaju kencang.

Among Sani menatap mobil pick up yang menjauh itu dengan terkejut. “Ada Among Penjaga lainnya? Siapa dia?”

Atok baru bisa bernapas normal ketika mobil pick up mereka sampai di jalanan kota. Ia menurunkan jendela dan mengacungkan jari tengah untuk Kalua di bak belakang. “Emang dasar kau dukun keparat, Kalua! Aku nyaris mati gara-gara larimu lambat!”

Di bak belakang, Kalua hanya mengibaskan tangannya tak peduli. Reza menatapnya dingin. “Jadi kau Kalua? Kau… mantan suami Jia?”

Kalua membalas tatapan Reza. Ia mengangguk pelan.

“Apa-apaan ini? Kau… Atok…”

“Kita harus sembunyi dulu. Baru bisa bicara.” Ucap Kalua pelan.

Reza membuang muka.

Sementara Jia hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Pelukannya untuk Jata tak melonggar sedikit pun.

***

Berlangganan

Jadilah pembaca setia Filolofi.com dan dapatkan pemberitahuan 
tentang judul cerita terbaru langsung ke emailmu!
Filolofi adalah platform cerita bersambung hasil karya dari beberapa penulis yang dipublikasikan berbasis website sehingga dapat diakses langsung oleh pembaca. Judul atau bagian terbaru akan terbit setiap minggu. Pastikan untuk menjadi pembaca setia Filolofi dan nantikan kisah-kisah menarik setiap minggunya.
Follow
3088
Total Visitors
users linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram