Memulai Murakami dengan Norwegian Wood

  • Judul novel : Norwegian Wood
  • Penulis : Haruki Murakami
  • Tahun terbit : 2005 (Indonesia)
  • Resensi oleh : Febriyanti

Tentu saja Murakami yang dimaksud adalah Haruki Murakami. Ketika mendengar ‘penulis Jepang’ atau ‘novel Jepang’, nama Murakami selalu ikut melintas di kepala saya. Nama Murakami sering saya dapatkan di rekomendasi buku, daftar buku yang harus dibaca sebelum mati, novel-novel Jepang terbaik, pokoknya nama Haruki Murakami selalu masuk dalam daftar seperti itu. Tapi entah mengapa saya sering melewatkan kesempatan untuk membaca karyanya. Hingga akhirnya di Januari 2024 ini saya berhasil menamatkan satu novelnya yang berjudul Norwegian Wood.

Sehingga resensi buku Norwegian Wood ini ditulis dengan kondisi -saya hanya tahu Murakami sebagai penulis Jepang yang terkenal karena banyak direkomendasikan oleh reviewer buku, aktor, dan sutradara favorit saya- itu saja.

Potongan sinopsis di bagian belakang buku Norwegian Wood terkesan biasa saja. Hanya seorang tokoh bernama Toru Watanabe yang bernostalgia ke masa mudanya karena mendengar lagu Norwegian Wood karya The Beatles. Tidak ada petunjuk tentang tujuan spesifik yang ingin dicapai si Watanabe dalam cerita.

Menamatkan novel Norwegian Wood ternyata menjadi tantangan tersendiri buat saya. Sebagai penggemar Dee Lestari dan Dan Brown yang selalu menyuguhkan peristiwa gedebak-gedebuk di dalam novel-novelnya, membaca karya Murakami bagaikan belajar meditasi. Cerita disampaikan sangat mendalam dengan jalan peristiwa yang begitu lambat. Sepanjang 428 halaman yang saya baca, tidak ada transformasi signifikan antara tokoh Watanabe di awal cerita dengan Watanabe di penutup cerita. Tidak ada kekurangan dan permasalahan berarti yang membuat tokoh Watanabe harus melakukan gebrakan untuk memperbaiki hidupnya. Barangkali saya justru tertarik dengan kisah hidup si Kopasgat dan Nagasawa-san. Sosok Watanabe terlihat menarik ketika ia berinteraksi dengan dua teman asramanya itu.

Mengenai tokoh-tokoh perempuan dalam novel Norwegian Wood –Naoko, Reiko, Midori, Hatsumi– kesemuanya dihadirkan dengan kondisi unik dan misterius. Saya membayangkan bila bertemu mereka berempat di dunia nyata, pastinya saya menganggap mereka adalah orang-orang yang memiliki banyak kesamaan karakter, hanya berbeda dari segi usia saja. Karakter tokoh-tokoh perempuan di Norwegian Wood terasa memiliki banyak repetisi –baik dari segi fisiologis, psikologis, maupun latar ceritanya– bahkan ketika ada satu nama tokoh perempuan yang baru muncul, saya bisa menebak karakternya seperti template.

Tanpa ada plottwist, tanpa ada kartu as yang mengejutkan, membaca Norwegian Wood adalah membaca sisi gelap manusia.

Bagaimana kondisi mental manusia memiliki dampak mematikan dan proses pemulihan mental yang bermasalah bukanlah perkara mudah. Barangkali cerita Norwegian Wood sejalan dengan prinsip Asrama Ami tempat Naoko dan Reiko-san dirawat. Tidak ada rahasia, keterbukaan, saling menyembuhkan satu sama lain. Novel ini adalah sesi keterbukaan masing-masing tokoh-tokoh yang berusaha sembuh dari apapun kabut di pikirannya. Jadi tidak ada adegan ambisius terlalu dramatis apalagi kejar-kejaran dengan bis.

Satu aspek yang mungkin aneh bagi saya –atau hanya soal selera– bagaimana Murakami menyajikan adegan seksualitas yang sangat eksplisit. Sebelumnya saya mendengar reputasi novel Murakami dari Dee Lestari bahwa Murakami termasuk salah satu penulis yang memiliki daya pikat penggunaan diksi dan penggambaran yang indah. Agak shock ketika adegan seks ternyata disajikan sevulgar itu di Norwegian Wood. Seperti membaca cerita dewasa stensilan atau cerita seks ditulis oleh orang-orang yang pengetahuan seksnya hanya dari film bokep saja. Sampai di tengah novel, sebenarnya saya sempat skeptis untuk melanjutkan karena terasa sudut pandang Murakami dan tokohnya Toru Watanabe yang membuat tokoh perempuan sekadar menjadi pelengkap perjalanan mereka.

Tentu saya memahami novel Murakami melewati proses penerjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia. Saya yakin ada banyak diksi dan kata-kata yang mengalami reduksi ketika beralih ke bahasa Indonesia. Pun novel Norwegian Wood terbit pertama kali di tahun 1987. Ketika saya membacanya di tahun 2024, ada perbedaan masa 37 tahun yang sangat jauh. Wajar jika apapun yang terjadi dalam Norwegian Wood terasa asing bagi saya.

Tapi tidak adil rasanya jika saya menyimpulkan karya Murakami hanya dengan membaca satu novel saja. Saya akan beralih ke 2 atau 3 judul lain untuk melanjutkan memahami Murakami. Mungkin pengalaman pertama saya memulai Murakami ini adalah efek kejut pertama. Bahwa setiap tokoh cerita layak untuk diselami dan dipahami. Seaneh, seburuk, segelap apapun mereka hadir, kita siap untuk memahaminya.

Berlangganan

Jadilah pembaca setia Filolofi.com dan dapatkan pemberitahuan 
tentang judul cerita terbaru langsung ke emailmu!
Filolofi adalah platform cerita bersambung hasil karya dari beberapa penulis yang dipublikasikan berbasis website sehingga dapat diakses langsung oleh pembaca. Judul atau bagian terbaru akan terbit setiap minggu. Pastikan untuk menjadi pembaca setia Filolofi dan nantikan kisah-kisah menarik setiap minggunya.
Follow
3088
Total Visitors
users