Merawat Kenangan Hangat
Sepertinya tak susah novel Funiculi Funicula mencuri hati saya bahkan ketika belum membukanya sekalipun. Mengambil latar sebuah kafe, secangkir kopi, dan interaksi hangat di meja bar sudah berhasil merampok imajinasi saya yang memang menyukai kopi dan kafe. Bahkan sengaja saya mulai membaca novel ini dengan menyiapkan secangkir kopi pula, demi atmosfir yang lebih menyenangkan.
Ukurannya yang tidak terlalu tebal, membuat Funiculi Funicula bisa dibabat habis dengan cepat. Bahkan mungkin hanya beberapa jam saja bagi pembaca yang terbiasa menandas novel berukuran epik. Desain cover begitu cantik dan memikat dengan full ilustrasi setting kafe Funiculi Funicula.
Pembuka novel terasa menjanjikan lewat adegan sepasang kekasih berpisah di kafe Funiculi Funicula setelah perdebatan yang tidak jelas. Pembaca langsung dibuat terikat dan bertanya-tanya ‘ada apa sebenarnya?’
Lalu informasi tentang sejarah kafe Funicula Funicula dan legendanya bisa membawa orang ke masa lalu tersebar melalui interaksi tokoh dengan narasi yang pas serta tidak menumpuk di satu peristiwa saja. Cerita-cerita tokoh di dalamnya adalah permasalahan yang begitu dekat, dengan orangtua, pasangan, kegelisahan mengenai apa yang tidak disampaikan di masa lalu.
Aturan-aturan yang berlaku sebelum kembali ke masa lalu menjadi prasyarat menarik untuk mengetahui bagaimana kesungguhan pengunjung demi mencari jawaban di masa lalu. Bahwa upaya mereka di masa lalu tidak akan mengubah kenyataan masa kini. Syarat satu ini begitu mengharukan. Seringkali cerita kembali ke masa lalu selalu dengan misi untuk mengubah masa kini, tapi kafe Funiculi Funicula membuat kita untuk harus berdamai dan menerima keadaan yang sudah digariskan.
Hantu wanita bergaun putih seketika menarik perhatian saya sejak awal. Sosok tokoh misterius yang selalu ada di kafe itu ternyata menjadi kunci bahwa legenda kembali ke masa lalu itu benar. Mengenai latar belakang bagaimana ia bisa menjadi hantu di sana, sungguh saya berharap akan diceritakan lebih detail kronologisnya di salah satu bab. Tapi ternyata hanya sekilas saja.
Fumiko, Kotake, Hirai, dan Kei, semuanya menjelajah waktu dengan alasan masing-masing yang masuk akal dan jelas tujuannya. Semua bisa diterima dan dipahami –setidaknya bagi saya, si pembaca– mengapa mereka ingin mengulang waktu dan mencari jawaban. Pun alasan mereka barangkali bisa kita temukan di permasalahan orang-orang di sekitar kita. Apa yang tersembunyi, apa yang sebenarnya diinginkan, dan apa yang belum sempat dikatakan. Barangkali bisa disimpulkan bahwa konflik mereka begitu dekat dan logis.
Narasi penceritaan tidak berbelit dan mudah dipahami. Atau barangkali saya perlu mengapresiasi penerjemah novel ini, Dania Sakti, yang mampu mengalihbahasakan novel Funiculi Funicula begitu sederhana namun tetap dengan deskripsi narasi yang mendalam. Tidak perlu susah payah berimajinasi karena semua adegan dan dialog terasa mengalir tanpa hambatan.
Novel Funiculi Funicula tentu membuat saya untuk merefleksikan kembali apa saja yang terlewat begitu saja dalam hidup. Setiap kenangan yang mungkin berlalu tanpa penjelasan, terlewat tanpa sempat diabadikan, ataupun kenangan-kenangan yang mulai terlupakan. Tentu saja kita tidak bisa kembali ke masa lalu untuk mengulangnya, tapi Funiculi Funicula mengajarkan bagaimana merawat kenangan supaya tetap hangat dan bermakna. Kenangan-kenangan yang harus diterima jika memang meninggalkan kesan tidak baik. Serta mensyukuri kenangan yang sudah membawa kita hidup sampai di titik ini.
Jadi saya ingin merayakan semua kenangan yang menyenangkan maupun tidak baik dengan secangkir kopi, yang harus saya habiskan sebelum dingin.