JOGJA PERGANTIAN TAHUN: AIR HUJAN AJA BINGUNG MAU TURUN DI MANA

Barangkali ini yang selalu saya tandai menjelang bulan November hingga Januari, selama enam tahun saya tinggal di Jogja. Kombinasi antara gerah luar biasa, mendung gelap, tapi tidak turun hujan. Alhasil efeknya adalah keringat mengucur deras, haus tak berkesudahan, dan sambat sama Tuhan kapan hujannya bakal turun. Setelah bertanya-tanya mengapa cuaca akhir-akhir ini tidak jelas dan hujan masih jarang-jarang pula, ternyata ada satu alasan yang cukup konkrit sebagai penyebabnya. Jogja akhir tahun sampai awal tahun kebanyakan event, hujannya disarang terus.

Tentunya ini bisa dimengerti. Para penyelenggara event pasti ingin acaranya sukses, banyak partisipan, viral, dan meriah. Jadinya ya begitu, profesi pawang hujan mendadak banyak orderan untuk menahan air hujan jatuh di area-area tertentu tempat event-event itu berlangsung. Entah gimana jadinya kalo ada beberapa event di hari yang sama. Barangkali pawang hujan sedang adu kekuatan menahan dan memindahkan awan mendung sejauh mungkin dari lokasi acara.

Dipantau dari 2 akun Instagram event Jogja (@eventjogjakartrans, @info.eventyogya) aja, setidaknya rata-rata event yang ada di Jogja selama bulan November-Desember terselenggara 3 sampai 5 event per hari di lokasi yang berbeda. Ya syukur-syukur kalo eventnya indoor. Lha kalo outdoor semua? Saya penasaran pawang hujannya apa perlu briefing dulu untuk janjian buang hujannya di daerah mana gitu. Air hujan aja jadi bingung mau turun di mana biar semuanya win-win solution, reputasi pawang hujan terjaga, yang punya event tenang, tapi gak mau kualat juga sama Tuhan -mau dikasih hujan kok digeser-geser terus awannya-.

Mungkin, atau bahkan bisa dipastikan, bahwa pawang hujan se-Jogja punya grup Whatsapp tersendiri untuk persoalan menahan atau mengalihkan jatuhnya air hujan ini. Daerah mana yang sementara bisa menampung hujan-hujan buangan ini. Menyiasati untuk sejenak menunda turunnya hujan pas setelah acara benar-benar selesai.

Jadi penasaran dengan bentuk rate card yang dipatok para pawang hujan ini seperti apa. Mungkin customer rate platinum akan dapat garansi uang kembali kalau-kalau hujannya gagal ditahan atau dialihkan. Bisa request pawang hujan standby di lokasi atau bisa work from home alias mengontrol dari jarak jauh. Kalo rate yang termurah ya palingan tetap kebagian gerimis sedikit-sedikit tapi gak perlu pakai mantrol atau payung.

Saya pernah dua kali menyaksikan langsung pawang hujan ini sedang beraksi. Pertama, di hari pernikahan kakak saya. Pawang hujan itu datang ke rumah, hanya minta secangkir kopi panas sekali (requestnya pun spesifik, kopinya harus panas, air mendidih langsung dituang ke dalam cangkir berisi kopi hitam) dan secangkir air putih. Lalu pak pawang hujan itu hanya minta duduk di salah satu sudut ruang tamu. Ia pun menyesap kopi hitam dan air putih masing-masing sekali. Sisanya, ia hanya duduk tegak dengan menutup mata. Begitu saja sampai tiga jam kemudian para tamu di resepsi mulai pada pulang. Setelah dirasa acara resepsi sudah selesai, beliau membuka mata, menghabiskan kopi hitam dan air putih lalu pamit pulang. Sepulangnya beliau, hujan deras langsung turun setumpah-tumpahnya.

Yang kedua, ketika saya bekerja memproduseri salah satu syuting iklan di Magelang. Waktu itu sutradara butuh cahaya matahari sore supaya gambarnya sesuai keinginan dia. Tapi sayang langit mendung pekat sekali. Saya langsung meminta manager lokasi untuk mencari pawang hujan lokal yang dekat-dekat saja supaya cepat ditangani. Tak lama kemudian, manager lokasi saya mengabari bahwa ia sudah dapat seorang pawang hujan dan sudah dimulai ritual mengalihkan mendungnya. Saya bingung, lha orangnya ada di mana sekarang? ternyata dia bisa kerja remote. Canggih betul. Dan kira-kira butuh waktu lima belas menit, awan mendung perlahan tersibak membuka jalan untuk cahaya matahari sore menyinari lokasi syuting kami. Betul-betul tepat mengarah ke lembah yang akan kami ambil gambarnya. Saya sungguhan kagum dibuatnya. Tapi begitu melihat invoice jasa pawang hujan tersebut, saya menelan ludah. Yah, ada harga ada kualitas.

Nyatanya, sampai sekarang pun profesi ini tetap dibutuhkan untuk kelancaran hajat masyarakat. Semoga air hujan yang turun, baik itu hujan kiriman atau buangan, akan selalu mengalirkan kebaikan-kebaikan untuk orang banyak.

Berlangganan

Jadilah pembaca setia Filolofi.com dan dapatkan pemberitahuan 
tentang judul cerita terbaru langsung ke emailmu!
Filolofi adalah platform cerita bersambung hasil karya dari beberapa penulis yang dipublikasikan berbasis website sehingga dapat diakses langsung oleh pembaca. Judul atau bagian terbaru akan terbit setiap minggu. Pastikan untuk menjadi pembaca setia Filolofi dan nantikan kisah-kisah menarik setiap minggunya.
Follow
3088
Total Visitors
users