Bharma (3)

Kutukan Mercusuar

Atok mondar-mandir di halaman rumah, menunggu teleponnya diangkat oleh Reza. Sementara Kalua hanya duduk, matanya tak lepas dari Atok. Keduanya sama-sama mengantisipasi yang akan terjadi setelah ini.

“Halo…” Atok mulai berbicara di telepon. “I-ini benar nomor Mas Reza ya? Reza Arthamevia… oh maksud saya Mas Reza Artha.” Ia menepuk jidatnya sendiri berusaha menghalau gugup.

Kalua memberi isyarat untuk tetap tenang.

“Ini saya Atok, yang beberapa waktu lalu ketemu Mas Reza di rumah sakit… Iya mas, betul.”

Kalua hanya bisa mendengar percakapan itu dari sisi Atok saja. Ia berharap janji temu itu segera dibuat hanya dengan sekali telepon. Lagi-lagi ia memberi isyarat pada Atok. “Kapan… bisa… ketemu…” gerak bibirnya begitu jelas menginstruksi Atok.

Atok harus fokus pada telepon di telinga dan kode dari Kalua yang membuatnya kesal. “Kira-kira… kapan bisa ketemu Mas Reza di kantor ya?”

Jeda cukup panjang sebelum akhirnya Atok mendapatkan jawaban dari Reza. “Besok?” Atok menganga. Ia menjauhkan handphonenya sejenak. “Dia minta besok, Kalua.” bisik Atok pada Kalua.

“Tidak apa-apa, lebih cepat lebih baik.” seru Kalua sambil menahan suaranya.

“Hei… kau lupa ya, ini bukan soal mencari Jia saja. Aku harus interview pekerjaan yang sama sekali tidak kuinginkan.” Giliran Atok yang menahan suara dan amarahnya. “Bagaimana kalau aku sungguh diterima?”

“Kau bisa menolaknya nanti dengan alasan ibumu sakit atau apalah… cepat kau iyakan saja dulu.” Suruh Kalua.

Atok kembali menempelkan handphonenya. “Oh be-besok. Bisa… bisa.” Ia melirik Kalua kesal. “Ah iya, sampai ketemu besok… di kantor, Mas Reza.” Atok memaksakan suara tertawanya. Jempolnya mematikan telepon itu. Ia menghela napas panjang. “Aku sungguh berharap akan mendapatkan imbalan besar darimu untuk semua ini, Kalua.”

“Apapun yang kau minta, Tok.” Ucap Kalua.

“Apa? Memangnya apa yang bisa kau beri, hah?” Atok menantang Kalua. “Jadi dukun masih magang, punya keluarga juga berantakan. Sekarang mau menjadikanku umpan?”

Kalua mengatupkan rahangnya. “Tok, sudah kubilang ini soal…”

“Hidup dan mati orang-orang di desamu? Bukan di desaku, kan?” Atok tertawa. “Harusnya aku tidak peduli.”

Kalua menggeleng tidak percaya. “Kau masih belum mengerti juga ya? Kita berdua, Tok. Kita berdua ditakdirkan untuk menyelesaikan persoalan ini. Tidak hanya keluargaku, tapi semuanya sedang berantakan, dan kau terlibat di dalamnya, Tok.”

“Terlibat bagaimana?” Atok meremehkan. “Jangan-jangan kau mengarang cerita untuk bisa membujukku terus ya? Untuk bisa memanfaatkanku?”

Pukulan Kalua mendarat di pipi kiri Atok. Yang langsung dibalas lebih keras. Perkelahian itu membuat keduanya ambruk di tanah. Dengan ukuran tubuh yang lebih besar, Atok berhasil menindih badan Kalua dan bersiap untuk pukulan berikutnya.

Melihat kepalan tangan Atok yang sudah menuju wajahnya, Kalua memejamkan mata.

Yang Luhur, Para Among Penjaga Suci Bharma

Ijinkan Aku untuk membuktikan kebenaran keagunganmu

Aku mohon, ijinkan aku membawanya,

Aku mohon, sekali saja,

Tangan kanan Kalua menahan pukulan Atok, yang seketika membuat keduanya pingsan tergeletak di halaman rumah. Kesadaran mereka berpindah masuk ke dimensi mercusuar.

Kalua membuka matanya. Dengan posisi berdiri, ia mendongak. “Terima kasih.” Bisiknya. Lalu ia disadarkan dengan suara Atok yang masih tergeletak tak berdaya.

Atok terbatuk kencang, dadanya berusaha mengatur napas satu-persatu. Matanya menyipit, “Kau… kau bawa aku kemana, dukun keparat?”

“Kau butuh bukti, kan? Aku sedang membuktikan semuanya padamu.” Ucap Kalua tenang. Tangannya membantu mengangkat tubuh Atok hingga berdiri tegak. “Meskipun tempatnya sedikit berbeda, tapi masih dimensi yang sama.”

Atok susah payah menegakkan badannya. “Dadaku… sesak sekali rasanya.” Ia meringis kesakitan.

“Sepadan dengan pukulanmu.”

Atok melirik Kalua. “Kau yang memulai lebih dulu…”

Kalua mengangguk cepat. “Iya aku tahu, aku minta maaf. Aku tidak mau melanjutkan itu semua di dalam sini, Tok. Kau bisa mati konyol.”

Bayangan seorang laki-laki terlihat mendekat. Kaki Atok mundur beberapa langkah, ia ketakutan.

“Jadi benar kau sebenarnya takut hantu?” ledek Kalua.

Belum sempat Atok mengumpat, sosok laki-laki itu menyapa mereka. “Kali ini membawa tamu, Amongku?”

Kalua menunduk. “Aku minta maaf. Seharusnya ini tidak perlu terjadi.”

“Tidak apa-apa, Amongku.” Sosok Atok yang berjubah abu-abu mulai terlihat sepenuhnya. “Lagipula aku ingin menyapanya sejak lama.” Ia melihat Atok di sebelah Kalua.

Atok menganga tak percaya. Ia hanya bisa diam mematung melihat laki-laki di hadapannya seolah sedang bercermin. Semua terlihat sama persis. Kecuali baju yang dipakai. “Aku… Kau…”

Atok si Among Penjaga melirik Kalua. “Aku harap Amongku sudah pernah menjelaskan ini padanya.”

“Persis seperti perkataanmu, tidak akan ada yang percaya keberadaan kita berdua.”

“Jadi kau… dukun itu?” tanya Atok terbata.

“Among Penjaga.” Koreksi Kalua.

“Mengapa kita persis sama?”

Atok si Among Penjaga tersenyum. “Karena sudah seharusnya begitu, Atok. Kita sudah ditakdirkan untuk menyeimbangkan. Tapi aku memilih untuk tidak terkoneksi denganmu karena akan merusak semuanya. Menjadi Among Penjaga yang sadar seutuhnya akan terlalu berat untukmu.” Ia menatap Kalua. “Itulah mengapa aku harus menjaga jarak dengan Amongku. Di dalam sini, aku bertugas menjaga dimensi Bharma tetap utuh selama Amongku pergi dari desa. Sementara kau…” Tatapannya kembali pada Atok. “Bertugas membantu Amongku di dunia nyata.”

Atok menelan ludah. “Kalau aku tidak mau?”

“Kita berdua akan mati.” Tegas Atok si Among Penjaga. “Ah… lebih tepatnya, aku yang akan lebih dulu menghilang bersama runtuhnya dimensi Bharma. Lalu cepat atau lambat, ragamu akan ikut musnah.”

Atok tersentak.

Kalua memotong keduanya. “Maafkan aku. Sekali lagi maafkan aku. Seharusnya itu menjadi tugasku untuk meyakinkannya…”

“Ini juga sudah ditakdirkan oleh Bharma, Amongku. Jangan khawatir.” Ia menjulurkan telapak tangan kanannya. “Kurasa apa yang kalian inginkan sudah cukup.”

Kalua mengangguk. Tangan kirinya mencengkeram lengan Atok yang masih terbengong. Sementara tangan kanannya menyentuh si Among Penjaga.

Kau sungguh-sungguh soal kalian berdua akan mati? Tanya Kalua di dalam pikirannya. Matanya menatap Atok si Among Penjaga lekat-lekat.

Atok si Among Penjaga tersenyum, Tentu saja tidak, Amongku. Tapi kita perlu bahan bakar yang lebih ampuh, bukan?

Kalua menahan tawanya. “Aku suka interior yang baru.”

“Ah ini, aku hanya ingin menyambut Atok di tempat yang lebih nyaman. Kalau aku membawanya ke tempat seperti biasa, dia pasti panik.”

“Sampai bertemu lagi, Atok.” Ucap Kalua.

Atok si Among Penjaga mengangguk. Ia melirik kembarannya dalam bentuk manusia. “Sayang sekali, ini adalah kali pertama dan terakhir kalinya kita bertemu, Atok. Tapi aku percaya padamu. Sepenuhnya.”

Atok tertegun.

Detik berikutnya, sensasi itu kembali. Tubuh Kalua dan Atok seperti ditarik paksa dengan kecepatan yang mengerikan.

Kalua lebih dulu membuka mata. Ia langsung melihat tubuh Atok yang menindihnya akibat pertengkaran kecil mereka tadi. Sekuat tenaga Kalua menggulingkan tubuh Atok.

“Kau… lumayan berat juga.” Geram Kalua. Ia membenarkan posisi tubuh Atok. Menepuk-nepuk pipi kanannya, “Tok… Atok.”

Atok masih belum sadarkan diri.

“Tok?” Kalua menggoyang-goyangkan bahu Atok. “Kenapa lama sekali?” Kalua mengecek detak jantung Atok dan menepuk-nepuk wajahnya lagi. Ia mulai panik. “Atok… bangun, Tok.” Akhirnya tangan Kalua menampar wajah Atok lebih keras. “TOK!” teriaknya.

Mata Atok langsung terbuka, ia mengerang kesakitan dengan tubuh yang masih kaku. “Argh…! Aku… tidak bisa ber-bergerak.”

Kalua terduduk lemas, lega melihat Atok akhirnya sadar kembali. Ia menahan tubuh Atok yang berusaha untuk duduk. “Pelan-pelan, Tok. Tubuhmu butuh waktu untuk menyesuaikan lagi.”

Atok meremas kepalanya. “Kepalaku serasa mau meledak.”

Kalua paham betul rasanya. “Dengan kecepatan seperti tadi, sensasinya memang menyakitkan.”

Sambil memijat pelipisnya, Atok mulai membenahi pikirannya satu-persatu. “Jadi itu… dunia dukunmu? Tadi itu… si dukun penjaga mercusuar?”

Kalua mengangguk lagi.

Atok menghela napas. “Sepertinya mercusuar itu memang mengutukku.”

“Aku benci harus mengatakan ini, tapi…” Kalua melirik puncak mercusuar. “Awalnya kita berdua sama-sama tidak menginginkan ini semua, Tok. Nyatanya justru kita yang terpilih. Aku tidak punya pilihan lain.” Ia menatap Atok yang masih terbaring lemah. “Sepertinya kau pun juga begitu. Kita sama-sama kena kutukan.”

 Atok mencoba menggerakkan lengan dan kaki-kakinya. “Tadi aku melihat Ayahku, Kalua. Ketika kita keluar dari sana.”

“Ayahmu?”

“Entahlah, mungkin itu hanya pikiranku saja. Tapi kurasa…” Atok melihat langit. “Itu pertanda baik.”

“Jadi… kau mau membantuku?” tanya Kalua.

Atok menatap Kalua. “Memangnya aku punya pilihan lain?”

Kalua tersenyum. “Dasar dua manusia terkutuk.”

***

Rencana Dalam Rencana

“Among Retu yakin? Itu akan melanggar perintah dari Among Kalua.” tanya Among Sani memastikan.

Among Retu meremas tangannya resah. “Kurasa… kita tak punya cara lain, Among Sani. Bharma tidak bisa kuakses lebih lama, ia pasti mencegah kebocoran lainnya. Aku tidak bisa mengontak Among Kalua juga.”

“Aku yakin Among Kalua sedang melakukannya sekarang. Hanya butuh waktu sedikit lebih lama.”

“Tapi kita sudah tidak punya banyak waktu!” tegas Among Retu. “Among dengar sendiri dari mereka, kan? Satu bulan lagi.”

“Jadi… kau ingin aku ikut mencari Bapuh Among Kalua? Mencari Jia juga?”

Among Retu mengangguk. “Bapuhnya. Bapuh Among Kalua yang harus segera kita bawa pulang. Jia tidak perlu dipikirkan. Bagaimanapun caranya, kita harus mempercepat rencana ini.”

“Jia… akan menjadi penghalang yang cukup memberatkan, Among.”

“Aku tahu itu.” Among Retu memalingkan muka. “Jia adalah faktor yang belum diperkirakan Among Kalua sebelumnya. Ia masih istrinya. Siapa yang bisa memastikan bahwa Among Kalua akan bertindak serasional mungkin, menghiraukan begitu saja perasaannya untuk Jia? Tidak mungkin.” Among Retu menggeleng. Ia menatap Among Sani. “Maka dari itu kita harus ikut bergerak. Memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.”

“Menurutmu Among Kalua akan tahu langkah kita?”

“Aku yakin Among Kalua akan tahu, tapi tidak secepat itu. Aksesnya dalam Bharma terbatas. Itu akan memberi kita sedikit waktu untuk memulai.”

Among Sani mengangguk. “Aku akan bersiap kalau begitu.” Ia berjalan meninggalkan pondok tetua adat.

***

Atok berhasil meminjam satu mobil pick up kusam milik si juragan ikan, yang sering memanggilnya untuk membetulkan mesin-mesin kapal nelayan. Mobil pick up itu terlihat bersih meski masih tercium bau amis yang sepertinya tidak akan pernah hilang apapun merk pembersih yang dipakai.

Atok menyetir pick up menuruni bukit. Membelah jalanan desa di siang hari. Di sebelahnya, Kalua masih kebingungan menggunakan sebatang power bank milik Atok. Tangan kiri Atok menjulur, memencet tombol kecil power bank yang langsung menghidupkan daya baterai handphone Kalua.

“Aku tidak percaya kau membiarkan handphonemu mati seharian begitu saja, lupa bawa pengisi dayanya pula. Cara dukun berkomunikasi harus lewat dunia dukun ya? Tidak butuh wi-fi atau paket data lagi?” tanya Atok datar sambil tetap fokus menyetir.

“Bukan begitu, Tok.” Kalua menepuk punggung handphone ke telapak tangannya. “Aku hanya tidak cakap memakai handphone. Lagipula sudah usang, sering rusaknya. Lebih cepat masuk ke dunia dukun daripada mencari sinyal internet.” Kalua meletakkan handphonenya ke atas dasbor.

Atok tertawa pelan.

“Perjalanan akan berapa lama, Tok?”

“Kurang lebih dua setengah jam.”

Kalua menatap pemandangan ke luar jendela. Angin meniup wajah dan rambutnya, membawa aroma asin laut yang masih tercium kuat dari bak pick up. “Reza ini… seperti apa orangnya?”

Atok melirik sekilas. “Maksudmu, secara fisik… atau apa?”

“Apapun.” Kalua masih menatap ke luar jendela.

Atok menggaruk kepalanya. “Dia… tinggi, putih, terlihat rajin olahraga, meski tidak sekekar tubuhku, orang kantoran. Ya pria mapan pada umumnya. Setidaknya itu yang kuamati dari penampilan Reza.”

Kalua memejamkan matanya. Ciri-ciri yang disampaikan Atok persis sama seperti pria yang ia lihat di dimensi mercusuar. “Waktu pertama kali aku bertemu dukun penjaga mercusuar, ia membawaku melihat Jia dan anakku. Ada satu pria yang menemani dan tinggal bersama mereka. Mendengar ciri-ciri yang kau sebutkan, sepertinya pria yang kulihat itu benar Reza.”

“Ya bagus dong. Berarti tujuan kita sudah benar.”

Kalua tidak menanggapi. Tatapannya kosong melihat jalanan di depan.

Melihat ekspresi Kalua, mulut Atok membentuk huruf O sempurna. “Oh… cemburu?”

“Aku tidak bisa mendampingi istriku melahirkan dan melihat bayiku pertama kali, justru Reza yang menemani Jia saat itu. Tentu saja aku cemburu.”

“Aku juga lebih dulu melihat bayimu daripada kau. Kau tidak cemburu?”

Kalua mendengus kesal.

Atok tertawa. “Aneh sekali rasanya. Beberapa waktu lalu aku melihat bayi laki-laki yang sama sekali tak kukenal asal-usulnya. Sekarang aku justru membawa ayah kandungnya. Harus kuakui, dunia dukunmu begitu taktis.” Tangan Atok membunyikan klakson. “Bisa kupastikan, mereka baik-baik saja waktu itu. Namun ada satu hal yang terasa aneh.”

Kalua mulai tertarik dengan cerita Atok.

“Reza bilang mereka berdua bersahabat. Tapi mendengar cerita sekilas darinya, dia tidak tahu sama sekali soal ayah kandung bayi Jia, kau. Kurasa Jia sama sekali tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya, bukan?”

Kalua mengerutkan kening. Mencerna potongan informasi baru tentang Jia.

“Sepertinya Jia menutupi keberadaanmu, Kalua. Seolah ada yang ingin ia lupakan begitu saja.” Atok memutar setirnya, membelokkan pick up menuju jalan besar penghubung kota. “Yang akhirnya, membuatku memikirkan kemungkinan terburuk.” Atok menginjak rem. Berhenti tepat di bawah lampu lalu lintas yang sedang menyala merah. “Bagaimana kalau Jia tidak ingin bertemu denganmu?” Ia menatap Kalua.

“Kontak kami terakhir kali…” Kalua mengingat hari dimana Jia menghilang secara mendadak dari rumah dan desanya. “Jia seolah berusaha menghilang tak terlacak. Tidak ada lagi komunikasi denganku setelah itu.” Ia mengusap wajahnya. “Jia sempat menyinggung ingin terbebas dari desa. Menjadi perempuan yang seutuhnya menentukan hidupnya sendiri.”

“Lalu bagaimana caramu membujuknya pulang?”

Kalua menggeleng pelan. “Aku belum tahu. Aku belum mendapatkan petunjuk dari…”

“Oh, ayolah Kalua!” Atok jadi gemas mendengar jawaban Kalua. “Kau buat keputusanmu sendiri. Kau ini masih manusia. Jangan semuanya kau serahkan begitu saja pada leluhurmu. Memangnya mereka tahu apa dengan situasimu sekarang? Urusan manusia, ya harus diselesaikan dengan otak manusia.” Ia memarahi Kalua sepenuh hati. Kakinya menginjak pedal gas pick up dan melaju lagi lebih cepat. “Lagipula kita sedang jauh dari mercusuar dan desamu, bagaimana caramu masuk ke dunia dukunmu?” gerutunya belum selesai.

“Tapi ini masalah perempuan, Tok. Kau punya pengalaman?” Wajah Kalua terlihat sungguh-sungguh memohon bantuan.

Atok langsung terdiam. Kemudian jari-jari tangan kirinya sontak membentuk lingkaran. “Nol besar!” serunya yakin.

“Dasar manusia terkutuk.” Punggung Kalua melorot di sandaran.

“Jia kan istrimu. Pasti ada celah yang bisa membuatnya luluh padamu, Kalua. Kau harus mencari celah itu.”

“Saran yang bagus sekali.” Kalua menanggapi datar.

“Ah, sebagai tambahan, Reza akan sangat membencimu. Dia menganggapmu sebagai orang tidak bertanggung jawab yang menelantarkan sahabatnya begitu saja.”

Kalua menegakkan kepalanya lagi. “Reza bilang begitu?”

“Tidak persis seperti itu. Tapi kemarahannya padamu cukup besar.”

Nyali Kalua ciut. “Reza akan jadi penghalang yang cukup merepotkan kita, Tok.”

“Aku tahu. Dia pasti akan melindungi Jia bagaimana pun caranya.” Atok melirik Kalua. “Kau… apa sama sekali tidak terpikirkan bahwa… Reza…” Ia ragu untuk melanjutkan.

“Punya perasaan pada Jia? Mencintai istriku? Itu maksudmu?” Kalua mulai terusik.

“Kau yang bilang.” Atok menunjuk hidung Kalua. “Kau yang bilang begitu.”

“Ya tapi yang kau maksudkan juga begitu, kan?”

“Yaaah…” Atok mengendikkan bahu. “Aku mengira mereka berdua sepertinya begitu dekat. Kau juga melihat dari dunia dukun kalau ternyata mereka tinggal bersama. Kalian berdua juga hampir satu tahun berpisah tanpa ada kabar sedikitpun. Mustahil kemungkinan itu tidak terjadi.”

“Pasti.” Mau tak mau Kalua mengakuinya. “Reza pasti punya perasaan pada Jia. Gelagat itu begitu jelas kulihat dari dimensi mercusuar.”

Atok mengangguk. “Kau sendiri bagaimana?”

Kalua menoleh.

“Perasaanmu untuk Jia. Tidak berubah sama sekali?” lanjut Atok.

“Aku selalu mencintainya, Tok.”

“Yakin itu berasal dari hatimu sendiri? Bukan untuk demi menyelamatkan desa seperti yang selalu kau bilang?”

“Pada akhirnya aku akan selalu mencintai Jia.”

Atok menggaruk kepalanya lagi. “Rumit sekali.” Tangan kirinya memindah gigi dan menambah kecepatan. “Yang jelas, kita harus cari cara untuk berkontak dengan Jia. Tanpa dicurigai Reza.”

Kalua tiba-tiba mendapatkan satu ide. “Lewat hadiah.”

***

Hadiah Paling Mengejutkan

Reza sudah menenteng ransel dan jaketnya, berjalan menyusuri kubikel-kubikel yang sudah sepi. Langkahnya dihentikan oleh seorang pria dengan rambut penuh uban dari arah berlawanan.

“Reza!” Panggil pria itu sumringah. “Terima kasih ya. Berkat kamu semuanya jadi serba cepat. Awal bulan depan proyek ini sudah bisa kita sikat.” Ia menepuk Pundak Reza.

“Sama-sama, Pak.” Reza tersenyum bangga.

“Kamu ikut ke lokasi kan untuk survey pertama?”

“Sepertinya… saya tidak akan ikut dulu, Pak. Tim masih belum lengkap. Begitu kami sudah siap, kami pasti ikut survey selanjutnya.”

“Oh begitu, baiklah kalau begitu biar saya kasih update dari hasil surveynya saja. Kau sudah mau pulang?”

Reza mengangguk. “Iya, Pak. Sudah dua hari saya menginap di kantor.” Ia meringis.

Pria itu tertawa maklum. “Ah betul betul, lebih baik kau istirahat sebanyak mungkin. Masih tidur sendirian nih? Belum ada yang menemani?”

Reza jadi kikuk. “Wah… belum, Pak.”

“Segeralah menikah, Reza. Perlu aku bantu carikan?”

“Tidak perlu, Pak. Doakan saja tahun ini sudah ada calonnya.” Jawab Reza sopan.

“Ya sudah, segera pulang lah. Sampai ketemu lagi besok.” Pria itu berjalan lebih dulu.

“Baik, Pak.” Reza melanjutkan langkahnya.

Mobil Reza terparkir di tengah-tengah basement kantor. Ia melempar ransel dan jaketnya di jok belakang, lalu duduk di jok kemudi. Ia membuka handphone, satu pesan dari Jia yang belum terbaca.

Jia : Hari ini pulang ke sini dulu kan?

Reza tersenyum membacanya. Kenapa? Kangen banget ya? balasnya.

Tak lama, balasan dari Jia masuk lagi. Kangen dibawain martabak spesial.

Reza : Baiklaaah, abis ini aku belikan martabak dulu. Ada yang lain lagi?

Jia : Hati-hati bawa mobilnya ya. Aku khawatir kau kurang tidur.

Reza : Tentu saja, sampai bertemu di rumah.

Reza meletakkan handphonenya di atas dasbor. Ia mengencangkan sabuk pengaman dan membawa mobilnya keluar dari gua basement.

Sesuai janji, Reza mampir sejenak di warung martabak langganannya bersama Jia. Ia menenteng sekotak martabak spesial pesanan Jia.

“Martabaknya tidak lupa, kan?” Seru Jia ketika pintu ruang tamu dibuka oleh Reza.

“Kau lebih menanti martabak daripada aku ya?”

Jia merebut kresek berisi sekotak martabak dari tangan Reza. “Tentu saja.” Ia kegirangan seperti anak kecil.

“Si Boy sedang apa?”

“Jata, Reza. Aku sudah bilang kan namanya Jata.” Koreksi Jia. “Baru saja tidur. Sudah nyenyak sekali dia.” Jia duduk di meja makan, mengambil sepotong martabak dan melahapnya.

“Aku lebih suka memanggilnya Boy.” Reza menarik kursi dan duduk di sebelah Jia.

“Mukamu kusut sekali. Mau kubuatkan sesuatu?”

Reza menggeleng. Ia meraih segelas air putih, meneguknya sampai habis.

Jia memperhatikan wajah Reza seksama. “Ada masalah di kantor? Kau seperti masih banyak pikiran.”

Reza menoleh. “Cuma kelelahan saja. Kalau akhir minggu ini kita pergi jalan-jalan saja bagaimana? Aku suntuk sekali.”

Muka Jia tidak tertarik. “Membawa Jata juga?”

Reza mengangguk. “Tentu dong.”

Jia membuang muka. “Kau saja lah yang pergi. Pasti susah sekali kalau harus bawa Jata jalan-jalan.” Ia mengambil potongan martabak keduanya.

“Kalau aku sendirian yang pergi ya sama saja dong.”

“Aku tidak punya uang untuk jalan-jalan. Aku harus berhemat.”

Reza bingung. “Memangnya kau perlu berhemat untuk apa?”

Jia terdiam. Ia menarik selembar tisu dan mengelap bibirnya. “Za…” ia memutar kursi untuk menghadap Reza. Pertanda pembicaraan ini akan serius. “Aku berpikir aku harus secepatnya pindah dari sini. Mencari rumah sendiri untukku dan Jata.”

“Apa? Kenapa tiba-tiba begitu?”

“Sebenarnya sudah lama aku memikirkan ini.”

“Untuk apa?” Reza protes. “Kau bisa tinggal di sini sampai kapanpun, Jia.”

“Sampai Jata kuliah?”

“Silakan saja.” Reza mengiyakan.

Jia tertawa. “Ini kan rumah asetmu untuk disewakan, Za. Kalau aku tinggal di sini terus, kau tidak akan mendapatkan uang dari rumah ini. Dulu aku bersikeras membayar sewa malah kau tolak mentah-mentah. Ya sudah, lebih baik aku pindah saja.”

“Mau pindah kemana? Memangnya kau sudah dapat rumah lain?”

“Ada beberapa pilihan yang perlu aku cek dulu.”

Reza menggeleng cepat. Ia memegang kedua tangan Jia erat-erat. “Jia, kau tak perlu merasa tak enak denganku. Prioritasku adalah menjaga kau dan si Boy aman.”

“Prioritasmu?” ulang Jia.

Reza tergugup. “I-iya, yang penting kau dan si Boy aman.”

Jia tersenyum. Ia membelai tangan Reza. “Aku beruntung kau ada di sini, Za. Terima kasih kau selalu membantuku selama ini. Tanpa kau, entah aku dan Jata ada di mana sekarang.”

“Aku janji kalian berdua aman bersamaku. Jadi, tetap di sini ya? Jangan pergi kemana-mana.”

Jia menggigit bibirnya. “Setidaknya… biarkan aku membayar sewa mulai bulan depan, ya?”

“Tidak perlu, Jia. Aku sungguh-sungguh.”

Jia meremas tangan Reza. “Aku pun sungguh-sungguh, Reza.”

Reza menyerah. “Baiklah. Tapi hanya setengahnya saja, setuju?”

Jia mengangguk. “Setuju.”

“Ya sudah kau habiskan martabak sekotak ini. Aku mau mandi dulu.” Reza beranjak mengambil handuknya.

Jia tersenyum.

***

Kalua membawa sekeranjang belanjaan berisi popok, handuk, sabun dan bedak bayi. Ia menyodorkannya pada Atok. “Menurutmu sebanyak ini cukup?”

Atok mengintip isi keranjang. “Aku belum pernah punya anak, Kalua. Aku juga tidak tahu.” Tangannya membolak-balik barang belanjaan. “Dari jumlahnya sih sepertinya cukup.” Ia menarik selembar kartu ucapan dari meja kasir. “Jangan lupa kau tuliskan pesanmu. Harus singkat dan jelas. Pastikan setelah membaca pesanmu, Jia bersedia diajak bertemu.” Ia menyodorkannya di hadapan Kalua.

Kalua menatap kartu kosong itu dengan bimbang. Pikirannya bekerja keras mencari kata-kata.

Atok melirik perempuan penjaga kasir yang menahan tawa melihat mereka berdua kebingungan membeli perlengkapan bayi. Atok melengos dan berbisik di telinga Kalua. “Aku tunggu di mobil. Cepat sedikit.” Atok meninggalkan Kalua sendirian di meja kasir, masih berkutat dengan selembar kartu ucapan yang masih kosong.

Jari Kalua bergerak ragu-ragu. Kartu ucapan itu mulai terisi tulisan tangannya.

***

Reza membereskan mainan dan baju kotor di lantai kamar Jia. Lalu Ia duduk di tepi tempat tidur, memandangi wajah Jia yang tertidur pulas. Reza meraih tangan Jia, menggenggam dan menciumnya pelan. Ia beranjak dan menarik selimut hingga menutupi leher Jia. Setelah mematikan lampu kamar, Reza keluar dan menutup pintu.

Perlahan Jia membuka matanya. Ia menatap bayangan tubuh Reza yang masih terlihat di celah pintu. Senyumnya mengembang, sambil merapatkan selimut, menjaga perasaan hangat itu tetap ada.

***

Mobil pick up kusam itu terparkir di halaman warung makan 24 jam. Di jok pengemudi, ada Atok yang masih terlelap. Sementara Kalua menepuk-nepuk layar handphone. Mencoba segala cara agar handphone satu-satunya dapat bekerja optimal menangkap sinyal. Beberapa saat kemudian bunyi pesan masuk langsung memberondong tanpa henti. Butuh waktu cukup lama hingga pesan-pesan itu terbaca.

“Ayolaaah…” Kalua tidak sabar.

Ia berhasil membuka satu pesan dari ibunya. Kalua, sampai kapan kau pergi? Jangan terlalu lama, upacara purnama mana mungkin digelar tanpa kau.

Satu pesan lagi dari ayah Jia. Mohon maaf Amongku, kiranya sudah ada kabar soal keberadaan Jia, mohon kami diberitahu.

Dan pesan terakhir dari Among Retu. Amongku, apapun rencana Amongku, mohon dipercepat. Situasi sedang gawat, Amongku. Kita hanya punya waktu satu bulan lagi.

“Satu bulan? Dari mana Among Retu bisa menentukan waktu seyakin itu?” pikir Kalua. Jarinya terus menggulirkan layar, kemudian ia melihat satu kontak yang muncul. Jia. Ragu-ragu ia membuka kontak Jia. Nomornya yang tercatat masih sama, namun ia yakin sudah tak digunakan lagi oleh Jia sejak meninggalkan desa. Apakah aku bisa mendengar suaramu lagi setelah ini Jia? Bisakah kita bersama lagi?

Otak Kalua memikirkan segala kemungkinan terbaik maupun terburuk yang akan terjadi dalam rencananya kali ini. Masih ada peluang meski sangat kecil baginya, untuk berkumpul bersama Jia lagi.

***

“Ah sialan. Aku sungguh kurang tidur.” Atok menepuk pipinya sendiri, mencoba mengembalikan fokusnya menatap jalanan pagi hari yang penuh kendaraan. Ia memutar setirnya memasuki area ruko mewah.

“Sebenarnya aku tidak peduli kau akan diterima bekerja atau tidak, kecuali kau memang membutuhkan pekerjaan itu. Yang terpenting, kita harus berhasil mengontak Jia.”

“Iya aku tahu.” Atok memarkir pick up. Ia menatap spion merapikan rambutnya yang kusut. “Kau tunggu di sini?”

Kalua mengangguk. “Jangan lupa hadiahnya.”

Atok mengapit hadiah di lengan kirinya. Sementara tangan satunya meraih ransel. “Pastikan handphonemu terus menyala. Kalau ada apa-apa, aku telepon.” Ia membanting pintu mobil.

Kalua hanya bisa menunggu di dalam mobil pick up. “Semoga berhasil, Atok.” Gumamnya pelan.

Atok masuk ke lobi kantor yang tidak terlalu besar, namun cukup mewah dengan ornament kayu yang mendominasi. Di sudut lobi, ada café kecil untuk menjamu para tamu kantor. Ia langsung berjalan menuju front desk.

“Permisi mbak…” sapa Atok pada salah satu resepsionis.

“Selamat pagi, Bapak. Ada yang bisa kami bantu?”

“Saya ada janji untuk ketemu Mas Reza. Reza Artha.”

Resepsionis itu melihat handphonenya sekilas. “Oh, Mas Atok ya?”

Atok mengangguk. “Iya betul.”

“Sudah ditunggu Pak Reza di ruangannya, mari saya antar.”

Atok mengekor. Berjalan melewati beberapa ruangan besar, kemudian resepsionis itu membuka satu pintu di ujung koridor. “Silakan masuk, Pak.” Ucapnya sopan.

Atok langsung masuk ke ruangan.

“Mas Atok. Wah saya senang sekali kita bisa ketemu lagi. Ketemu di kantor saya pula.” sambut Reza.

Atok hanya menanggapi sambutan berlebihan itu dengan kikuk. “Eh, i-iya Mas Reza. Saya juga senang.” Wajahnya yang kaku memaksakan senyum tulus. Lalu ia menyodorkan hadiah di tangannya. Hadiah itulah tujuan utamanya bertemu Reza. “Oh iya Mas, ini ada sedikit hadiah, untuk sahabat Mas Reza yang melahirkan waktu itu. Maaf baru bisa kasih sekarang.”

Reza terkejut. “Wah…” Ia menerima hadiah itu. “Terima kasih banyak, Mas Atok. Sahabat saya pasti senang sekali. Dia gak punya teman di sini, jadi kalau ada yang kasih kado begini, pasti dia senang. Terima kasih ya.” ucapnya tulus.

“Sama-sama, Mas Reza.”

“Silakan duduk, Mas Atok.”

Keduanya duduk hampir bersamaan. Atok melihat seisi ruangan dengan gugup. Setelah hadiah untuk Jia diberikan, ia sebenarnya tak punya alasan tetap di sini. Mau tak mau interview pekerjaan itu harus dilalui untuk menghindari kecurigaan Reza.

“Kita ngobrol santai aja ya, Mas. Jadi, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Tim kami butuh teknisi baru secepatnya. Karena ada proyek di wilayah tambang kapur yang akan kami kerjakan mulai bulan depan. Pekerjaan kami fokus di supply alat-alat berat dan bekerjasama dengan beberapa kontraktor untuk pengerjaan proyek. Yang terdekat ya untuk bulan depan. Makanya saya seneng banget begitu Mas Atok telepon saya. Biar timnya segera komplit, kita bisa segera kerjakan.”

“Tambang kapur?” Atok memastikan.

“Iya. Bagaimana? Mas Atok mau bergabung dengan tim kami?”

Atok menimbang-nimbang keputusannya.

***

Kalua nyaris tertidur lagi ketika ia melihat Atok berlari kecil keluar dari lobby kantor. Ia menegakkan badannya. Sudah banyak pertanyaan yang ingin ia keluarkan. Atok buru-buru membuka pintu mobil pick up.

“Bagaimana? Berhasil…”

Atok melempar satu map berisi berkas di wajah Kalua. “Kita harus pergi dulu dari sini.” Tangannya memasang sabuk pengaman dengan cepat.

“Apa? Kenapa tiba-tiba pergi? Kita harus menunggu Reza…”

“Ini penting, Kalua! Kau baca dulu itu apa yang tertulis di dalam map.” Sentak Atok. Ia menyalakan mesin dan langsung tancap gas. Mobil pick up itu keluar dari area ruko.

Sementara Atok menyetir, Kalua membuka berkas-berkas yang ada di dalam map. Ada alamat lengkap dari proyek terbaru yang akan dikerjakan. Ia kenal betul alamat itu, peta wilayah proyek, area tambang kapur, semua itu mengarah pada titik desanya.

Kalua semakin panik. “Ini…”

“Itu desamu bukan? Aku sudah mengira ketika Reza menjelaskan proyek itu. Ia menyinggung soal tambang kapur, sementara tambang kapur terdekat dari sini hanya rumahmu, kan?”

Kalua menggeleng tidak percaya. “Kapan proyek ini mulai dikerjakan?”

“Menurut rencana Reza, bulan depan.”

Satu bulan lagi. Kini Kalua mengerti apa yang dimaksud oleh Among Retu.

Atok melirik Kalua. “Dunia dukunmu benar-benar sakti, sekaligus mengerikan.”

***

Reza langsung menyodorkan hadiah pemberian Atok ketika Jia membuka pintu rumah. “Hadiah dari tim teknisi baru, untukmu dan si Boy.”

Jia terkejut. “Wah, baik sekali. Sampaikan terima kasihku kalau kau bertemu dengannya ya.”

“Nanti aku sampaikan.”

“Kau langsung menerimanya bekerja?”

Reza meletakkan ranselnya. Ia mengangguk mantap. “Tentu saja. Dia sepertinya bertanggung jawab, sudah terbiasa urus mesin, sedikit butuh penyesuaian untuk mesin alat berat. Tapi kurasa itu tidak masalah sama sekali. Lagipula aku butuh orang baru secepatnya.” Reza merebahkan duduk di sofa, disusul Jia.

“Oh iya, uang sewa untuk bulan ini sudah kutransfer ke rekeningmu ya.” Jia mengingatkan.

Reza menatap Jia dan tersenyum. Tanpa aba-aba, Reza menggenggam kedua tangan Jia. “Jia…”

Jia yang tidak siap hanya melongo.

“Ah sialan, harusnya aku belum ingin mengatakannya sekarang, tapi…” Reza menatap Jia lekat-lekat. “Aku tahu caranya agar kau bisa tinggal di sini selamanya. Tanpa perlu bayar sewa, tanpa perlu merasa tak enak denganku, dan tanpa perlu pindah ke tempat lain.”

“Ba-bagaimana caranya?”

“Kita menikah, ya?”

Jia terkejut bukan main. Beberapa detik berlalu tanpa respon apapun. Lalu ia hanya bisa memaksa tawanya keluar. “Reza, kau ini apa-apaan? Kita kan…”

“Berteman sejak lama, kau tau baik-burukku, aku pun akan terima kau apa adanya, termasuk keberadaan Jata.” Tegas Reza.

Jia menunduk. “Lalu…”

“Soal mantan suamimu?”

Jia memberanikan diri menatap Reza, ia mengangguk pelan. “Kami… sebenarnya tidak pernah memutuskan berpisah secara gamblang.”

“Tapi sudah hampir satu tahun kalian berdua tidak berhubungan sekalipun, kan? Kalau kau ingin berpisah secara resmi, aku akan meminta bantuan teman pengacaraku untuk mengurus semuanya. Kau pasti menang Jia, suamimu tidak pernah memberimu apa-apa, hak asuh Jata akan jatuh ditanganmu dengan mudah.”

Jia tersenyum. “Ini pertama kalinya kau memanggil anakku Jata.”

“Anak kita.” Reza menegaskan. “Kini aku bersedia dituduh sebagai ayah kandungnya.”

Keduanya tertawa.

“Bagaimana?” tanya Reza menanti kepastian.

Hati Jia sudah memutuskan ini sejak lama. Sejak kepergiannya dari desa, sejak melarikan diri dari Angken, sejak keinginannya untuk menentukan hidupnya sendiri. Ia bermimpi akan bertemu lelaki pilihannya sendiri, tanpa campur tangan orang tua maupun tetua adat yang sama sekali tak tahu tujuan hidupnya. Maafkan aku Kalua, kau pasti mengerti, batinnya.

Jia pun mengangguk.

Reza mencium kedua tangan Jia. “Aku akan selalu ada untukmu, Jia. Kau jangan takut lagi.”

Reza menarik Jia ke dalam pelukannya. Kini Jia merasakan berada di tempat paling aman.

***

Jia tersenyum melihat Reza yang tertidur lelap bersama Jata. Ia menarik selimut Reza hingga menutupi dadanya. Jia mencium kening Reza sekilas. Ia mematikan lampu kamar dan beranjak keluar, membersihkan piring dan gelas kotor yang masih berserakan di meja makan.

Kemudian matanya menangkap hadiah dari rekan Reza yang belum dibuka. Jia pun duduk di sofa dan membuka hadiah itu perlahan. Terlihat sebungkus popok, alat mandi dan bedak untuk bayi. Tangannya mengeluarkan isi hadiah satu persatu. Lalu ada kartu ucapan yang terlipat. Jia membuka kartu ucapan itu.

Jia,

Aku ingin bicara denganmu.

Ini soal desa, dan yang terpenting, soal anak kita.

Kau boleh membenciku selamanya.

Tapi kita tidak boleh membiarkan anak kita dalam bahaya.

Aku mohon hubungi aku.

080845771235

Kalua.

Degup jantung Jia seketika tak beraturan setelah membaca sebaris nama di akhir pesan. Tidak, tidak mungkin. Jia ketakutan setengah mati. Matanya mulai berair. “Kenapa sekarang?” isaknya tak bisa dibendung. Baru sekejap saja hidupnya terasa manis dan indah, kini secarik pesan itu berhasil mencabik-cabik hatinya lagi.

***

Berlangganan

Jadilah pembaca setia Filolofi.com dan dapatkan pemberitahuan 
tentang judul cerita terbaru langsung ke emailmu!
Filolofi adalah platform cerita bersambung hasil karya dari beberapa penulis yang dipublikasikan berbasis website sehingga dapat diakses langsung oleh pembaca. Judul atau bagian terbaru akan terbit setiap minggu. Pastikan untuk menjadi pembaca setia Filolofi dan nantikan kisah-kisah menarik setiap minggunya.
Follow
3088
Total Visitors
users linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram