Tempat Aman
Setelah memutuskan bahwa kamar kos Kalua dan Atok tidak akan aman, Reza mengarahkan mobil pick up itu ke rumahnya yang lain di pinggiran kota. Butuh waktu nyaris satu jam untuk sampai ke sana. Begitu mobil pick up mereka berhenti tepat di depan pagar rumah, banyak lalu-lalang gerombolan anak-anak sekolah yang baru saja pulang.
Reza lompat turun. Ia mengangkat salah satu pot bunga dan merogoh kunci di bawahnya.
“Reza, maafkan aku, aku …” kata Jia ketika sudah berdiri di samping Reza.
Reza membuka gembok pagar. “Masuk.” Ucapnya datar. Jia hanya menunduk dan segera masuk ke rumah. Reza menyusul.
Atok menutup pintu pick up. Ia melihat Kalua masih duduk di bak belakang. “Kau mau duduk di situ sampai kapan?”
Kalua tak menjawab. Tatapannya lurus ke arah belokan jalan. Atok mengikuti pandangan Kalua. “Dia mengikuti kita?”
“Belum. Tapi tempat ini pasti sudah terdeteksi.”
Atok mulai kesal. “Karena itulah, sebelum kejar-kejaran lagi, kita punya utang penjelasan untuk Jia dan Reza. Kita selesaikan itu sekarang, Kalua.”
Kalua melirik Atok. “Sejak kapan kau peduli soal mereka?”
“Oh jadi kau memilih mengabaikan mereka begitu saja?” Atok menunjuk wajah Kalua. “Kau yang memulai semuanya. Jia itu istrimu, Reza itu temanku. Kita berdua yang menyeret mereka semua kesini, Kalua. Dan lebih tepatnya, kau!” Suara Atok meninggi. “Kau ingin membiarkan kita dalam bahaya tanpa tahu apa-apa? Aku juga masih punya banyak pertanyaan untukmu.”
Kalua terdiam. Tatapan dinginnya mulai melunak. “Aku takut, Tok. Aku takut kalau ternyata aku sama tidak tahunya seperti kalian.”
“Kita masuk dulu, Kalua. Setidaknya ini jadi tempat aman kita sementara. Langkah selanjutnya kita pikir lagi.”
Berat hati Kalua turun dari bak pick up. Atok lebih dulu masuk ke rumah. Kalua menatap rumah serba putih itu dengan perasaan campur aduk. Entah harus dari mana ia memulai penjelasan untuk mereka.
***
Sudah hampir setengah jam mereka berada di dalam rumah itu. Jia masih berusaha menidurkan Jata di kamar tidur, sementara Atok, Kalua, dan Reza duduk terdiam di ruang tengah. Belum ada yang berusaha memulai pembicaraan. Reza beberapa kali mengintai Kalua dari sudut matanya. Atok hanya menerka-nerka berapa lama lagi bom waktu keheningan itu akan meledak begitu dahsyat.
Pintu kamar terbuka pelan. Jia keluar tanpa Jata, yang sepertinya sudah tertidur pulas.
“Baiklah …” Reza akhirnya bersuara, dengan lagaknya seperti pimpinan rapat. “Sepertinya aku yang paling tidak tahu apa-apa di sini …” Ia memaksakan senyum.
Jia memejamkan mata. Ia tahu betul Reza marah besar dan merasa dipermainkan. Atok dan Kalua hanya saling lirik.
“Karena aku sangat yakin, tidak mungkin secara kebetulan begitu saja, tiba-tiba kau …” Reza menunjuk Atok. “Teknisi baruku yang baru hari pertama bekerja, tahu dengan persis dimana lokasi rumahku tanpa aku memberi tahu. Lalu dengan siap siaga seperti pahlawan di siang bolong membawaku pulang ketika Jia dan Jata hendak diculik oleh entah siapa, seolah kau sudah siap dengan situasi itu sejak lama. Kemudian kau …” Tangan Reza kini menunjuk Kalua. “Mantan suami Jia yang mendadak muncul seperti dikirim Tuhan tepat di halaman rumah ketika Jia dalam bahaya, padahal selama ini kau menelantarkannya sendirian begitu saja.” Wajah Reza memerah dan rahangnya menegang menahan marah. “Dan kalian saling kenal?!” Teriak Reza menggelegar.
Jia meneteskan air mata. Belum pernah ia melihat Reza semurka itu. “Reza, aku …”
“Dan kau, Jia …” Reza berdiri menghampiri Jia. “Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?”
Jia menggeleng. “Aku tidak …”
“Kau diam-diam bertemu lagi dengan mantan suamimu?”
“Aku masih suaminya.” Tegas Kalua. “Kami belum resmi berpisah.”
Reza menoleh. Tatapannya begitu tajam menatap Kalua. “Begitu? Lalu kemana kau selama ini?” Ia mendekat ke hadapan Kalua. “Hampir setahun Jia meninggalkanmu tapi kau tak berusaha mencarinya sekali pun, tak ada kabar satu pun. Siapa yang membantu Jia saat dia tak tahu harus tinggal dimana? Aku. Siapa yang setiap bulan mengantarnya ke dokter agar anak kandungmu sehat? Aku. Siapa orang yang siaga menemani saat anak kandungmu lahir? Aku!” Teriak Reza tepat di wajah Kalua. Tangannya meremas bahu kiri Kalua. “Lalu sekarang, kau muncul ingin membawa Jia dan Jata pulang begitu saja? Aku perlu memberi tahu, yang pantas menjaga Jia, hanya aku. Yang paling tahu perasaan Jia, hanya aku.” Reza melirik Jia. “Dan yang paling pantas menjadi suami Jia, hanya aku. Aku akan menikahinya, Bangsat!”
Satu pukulan Kalua mendarat di pipi Reza. Ia menindih Reza dan memberi dua pukulan berikutnya.
“Jangan, Kalua!” teriak Jia berusaha melerai.
“Kalua, hentikan!” Atok susah payah menahan Kalua. Ia menarik badan Kalua sekuat tenaga.
“Kudengar kau tetua adat kan? Tetua adat sampah!” bentak Reza ketika keduanya berhasil dipisahkan. Jia menahan Reza yang masih ingin membalas pukulan Kalua. “Bagaimana bisa kau mengurus orang satu desa kalau keluargamu sendiri tak kau urus.”
“Reza… Reza, cukup.” Jia memohon di sela tangisnya.
Kalua hendak menghambur lagi ketika Atok menahan dari belakang. “Kalua, sudah!” bentak Atok.
Reza mengelap darah dari ujung bibir dengan punggung tangan. Bercak darah berhasil menodai kemeja kesayangannya. Pandangannya kini menuju Atok, “Kau tak usah berlagak pahlawan, Tok. Memanfaatkanku supaya kalian bisa melacak Jia, hah?”
“Kalau memang kau ingin melindungi Jia, mengapa kau terima proyek tambang kapur itu?” tanya Kalua.
“Apa urusanmu dengan proyek kantorku?” bentak Reza.
“Tambang kapur itu desaku, desa Jia. Kau hendak meratakan seluruhnya, jelas aku punya urusan dengan itu, keparat!”
Reza terdiam. Semua orang menunggu jawaban darinya. Ia tertawa sinis. “Aku yakin Jia akan senang jika desamu rata dengan tanah.”
Kalua menatap Jia. “Benar itu yang kau harapkan?”
Jia benci dengan pertanyaan itu. Tak pernah ada sedikitpun keinginan untuk kembali ke desa, dan ia juga tak bisa bohong bahwa rasa dendam itu masih kuat. Hidupnya yang selama ini terasa dibelenggu oleh kepentingan semua orang di desa, tak pernah memihak padanya sekali saja.
“Jia?” panggil Kalua sekali lagi.
“Aku tidak ingin kembali ke sana, Kalua.” Ia balik menatap Reza. “Tapi aku juga tidak ingin tindakanmu sejauh itu.” Jia meremas kepalanya. “Kalian berdua benar-benar membuatku seolah paling jahat di sini! Aku hanya ingin hidupku tenang, apa itu salah?”
Reza, Kalua, dan Atok hanya terdiam.
“Aku tidak tahu-menahu soal proyek kantor Reza, aku juga tak peduli dengan ancaman di desa kita, Kalua.”
“Jia … Among dan Ambamu ada di desa. Kau ingin mereka celaka juga?” Tanya Kalua.
Jia mengusap air matanya.
“Mereka mencarimu, Jia. Ambamu merindukanmu.” Tambah Kalua berusaha meyakinkan.
“Cukup. Aku tak perlu mendengarnya lagi. Mereka berdualah yang pertama kali memaksaku menikah denganmu. Dan kau lihat sekarang keadaannya seperti apa.”
“Lebih baik kalian berdua pergi dari rumah ini secepatnya.” Reza menambahkan.
“Dan membiarkan Jia celaka di rumah ini dengan kau yang tak tahu masalah sebenarnya? Tentu tidak.” sahut Kalua tegas.
“Kita perlu bekerja sama …” potong Atok tiba-tiba, yang membuat semua mata tertuju padanya.
“… setidaknya sekali lagi.” Lanjutnya ragu-ragu. “Situasi ini sama berbahayanya untuk kita semua, bahkan untuk Jata sekalipun. Maaf Reza, aku harus setuju dengan Kalua, meninggalkan kau dan Jia di rumah ini sangat berbahaya. Orang tadi bisa dengan mudah menemukan dan membunuh kalian berdua kalau perlu.”
Reza memalingkan muka.
Atok kini menoleh ke Kalua. “Seperti yang sudah kubilang tadi, Kalua. Kau perlu menjelaskan semuanya.”
Kalua terlihat enggan.
“Kami semua butuh penjelasan supaya bisa menyelamatkan diri lagi, Kalua. Itu yang terpenting. Aku mohon lupakan masalah pribadi kalian sebentar saja.” Atok menatap Kalua, Reza, dan Jia bergantian.
Hening cukup lama hingga akhirnya Jia yang pertama kali bersuara. “Orang tadi bernama Among Sani.” Ia melirik Reza. “Dia salah satu tetua adat dari desa. Salah satu yang terkuat juga.”
“Untuk apa dia ingin menculikmu dan Jata?” tanya Reza.
Jia menatap Reza. “Karena Jata anak ajaib.”
Reza mengusap wajahnya. Ia duduk di sofa. “Jadi maksudmu ini saatnya Jata menjadi penerus tetua adat? Ia bisa mendapatkan kekuatan apalah itu?”
Kalua mau tak mau mengangguk.
“Kalian para tetua adat gila! Jata masih bayi, kekuatan macam apa yang kau harapkan dari dia?”
Kalua balas menatap Reza. “Yang tidak pernah terbayangkan di pikiranmu.”
Di samping Kalua, Atok diam-diam melirik telapak tangan kanannya. Ia mencoba mengingat bagaimana tangannya bisa menghempaskan Among Sani begitu kuat. Bahkan sisa kekuatan itu masih bisa ia rasakan di pembuluh darahnya. Atok menggenggam tangannya erat-erat. Sisa pertanyaan ini akan ia tanyakan nanti saja.
Tergelincir
“Aku tidak percaya kau mengusulkan ide sebodoh itu, Tok.” Protes Kalua sembari mengikuti Atok berjalan menuju mobil pick up.
Atok masih cuek mengeluarkan barang-barang dan menyodorkannya ke tangan Kalua.
“Lalu aku harus apa diam bertiga di rumah ini?” tanya Kalua lagi.
“Kau sendiri yang bilang ingin melindungi Jia, kan?” jawab Atok kesal. “Ya kau saja yang tunggu di sini. Aku perlu mengambil barang-barang kita di kamar kos.”
Wajah Kalua terlihat semakin cemas.
Atok menutup pintu mobil dan berkacak pinggang di hadapan Kalua. “Kau sungguhan seperti anak kecil yang mau ditinggal ibunya pergi. Kau ini tetua adat, masa begini saja ciut? Mana tadi adrenaline yang sempat menonjok Reza?”
“Bukan begitu, Tok.” Kalua melirik dua ransel di tangannya yang penuh. “Aku merasa lebih tenang kalau kita berempat bersama-sama dulu. Setidaknya sampai kupastikan Among Sani sudah kembali ke desa.”
Atok menggelengkan kepala. “Aku baik-baik saja. Hanya ambil barang, Kalua. Dua jam lagi aku sudah kembali ke sini. Aku janji.” Ia naik ke kursi kemudi dan menutup pintu. Tangannya memutar kunci, yang langsung menyalakan mesin mobil pick up. “Kalau dua jam lagi aku belum muncul, gunakan kekuatan dukunmu untuk melacakku.” Atok memutar kemudinya.
Kalua menatap mobil pick up yang kini belok ke ujung jalan. Ia menghela napas berat. “Semoga saja semudah itu.”
***
Atok menikmati betul perjalanan sendirian itu. Ia membuka jendela dan membiarkan angin malam mengayunkan rambutnya kesana kemari. Tangan kirinya meraih handphone dan mengetuk salah satu kontak. Hanya terdengar dua kali nada sambung lalu telepon itu terjawab.
“Halo, Tok?”
“Bang Moli, rumah dan warung baik-baik saja?”
“Baik. Kau dan si dukun itu bagaimana?”
Atok mendengus panjang. “Panjang ceritanya, Bang. Tapi yang jelas kami berdua masih baik-baik saja.”
“Masih?”
“Iya, masih ada urusan yang perlu diselesaikan. Maaf Bang, sepertinya rencana pulangku mundur dari semula.”
“Tak apa lah. Kalian tuntaskan dulu. Biar Bang Moli jaga ibuk, rumah, dan warung.”
Perkataan Moli terdengar seperti upaya penebusan bagi Atok. Ada masanya dimana Atok hidup di rumah menjaga ibu dan rumah supaya baik-baik saja tak ada masalah, tanpa kehadiran Moli. Kini peran itu seolah berusaha diisi kembali oleh Moli.
“Ibuk gimana, Bang?”
“Nah, itu dia yang agak aneh, Tok.”
Atok menaikkan volume speaker handphone. “Aneh gimana, Bang? Ibuk makin drop?” suaranya mulai khawatir.
“Justru sebaliknya, Tok. Ibuk sehat betul. Dua hari lalu Bang Moli bawa ibuk ke dokter, hasilnya bagus semua. Ibuk udah kuat jalan lebih lama. Udah nyoba-nyoba masak juga.”
“Emang ibuk habis dapet obat apa? Ikut terapi?”
“Nggak, Tok. Bang Moli gak kasih apa-apa. Obatnya juga masih dari dokter itu, gak ada tambahan.”
Tiba-tiba Atok teringat satu momen Kalua sempat menggenggam tangan ibunya saat hendak berpamitan. Atok hanya tertawa kecil dan geleng-geleng kepala. “Dasar dukun keparat.”
“Kenapa?”
“Nggak, Bang. Ya baguslah kalo kondisi ibuk semakin membaik. Semoga aku bisa pulang secepatnya.”
“Satu lagi, Tok. Si dukun itu, apa masih memanfaatkan mercusuar kita?”
“Setahuku tidak. Memangnya kenapa, Bang?”
“Ehm…” Terdengar suara Moli ragu-ragu. “Lampu mercusuar itu gak bisa mati. Bang Moli udah berusaha memutus aliran listriknya tapi tetap aja nyala.”
Si dukun penjaga mercusuar. Pikiran Atok melayang pada setiap pertanyaannya yang belum memiliki jawaban. “Biarkan saja, Bang. Kurasa itu pertanda bagus.”
“Maksudmu, kalo lampunya mati … berarti ada pertanda buruk?”
“Bisa jadi begitu. Jadi biarkan saja mercusuar itu berulah semau dia.”
“Ya sudah, kau baik-baik di sana. Ibuk menunggumu pulang.”
“Titip semuanya ya, Bang. Aku pergi dulu.” Atok memutus panggilan itu.
Mobil pick up kini mulai masuk ke jalan yang lebih sempit. Setelah tiga kali belok, Atok melihat rumah kos dua tingkat di sisi kiri jalan. Ia berhenti tepat di depannya. Terlihat bapak kos yang sedang merokok di teras.
“Lho kok pulang sendirian? Mas satunya mana?” tanya bapak kos ramah.
“Masih ada urusan, Pak. Oh iya, Pak, sepertinya malam ini saya langsung ambil barang-barang dan pulang saja. Ternyata kami berdua gak bisa lama-lama di sini.”
“Oh begitu. Jadi ini sekalian mau kembalikan kunci kamar?”
Atok mengangguk. “Tapi saya perlu beresin kamar dulu sebentar ya, Pak.”
“Silakan, Mas Atok. Kalo butuh bantuan panggil saya ya.”
“Terima kasih, Pak.” Atok bergegas membuka gerbang samping dan berlari kecil menuju kamarnya.
Cepat-cepat Atok mengepak baju-baju di dalam lemari, alat mandi, dan sisa barang-barang di atas meja serta rak. Satu ransel ukuran sedang dan satu kresek besar sudah menggembung berisi semua barang dari kamar itu.
“Mas Atok, ada tamu, Mas. Saya suruh masuk kamar langsung ya?” teriak bapak kos tiba-tiba dari gerbang.
Seruan bapak kos langsung memicu alarm tanda bahaya bagi Atok. Tamu?. Ia tahu betul Kalua tidak bisa dan tidak mungkin menyusul kesini. Atok panik, ia segera berdiri meraih gagang pintu kamar, namun terlambat. Ada satu tangan yang menjulur menahan agar pintu tidak tertutup. Ia membukanya lebih lebar.
Wajah Atok seketika tegang melihat sosok itu lagi. “Among Sani …” ucapnya lirih.
“Kini kau sudah tahu namaku.” Among Sani tersenyum sopan. Detik berikutnya ia mendorong Atok begitu kuat hanya dengan sekali ayunan tangan.
Atok terhempas hingga menabrak tembok. Tubuhnya tergelincir di lantai seketika. Dari sisa kesadarannya, ia melihat Among Sani mendekat dan mencengkeram bahunya, sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
***
Jia membuat secangkir minuman dari apa saja bahan yang bisa ia temui di rumah itu. Akhirnya secangkir teh hitam ia sodorkan ke hadapan Reza. Reza hanya melirik teh itu, masih dalam diam.
“Kau tahu aku tidak berhak mendapatkan perlakuan seperti ini darimu, Reza. Semua kejadian ini di luar kuasaku.”
Tatapan Reza berpindah ke mata Jia.
“Aku sungguh tidak ingin kau ikut memojokkanku kali ini. Kemana lagi aku harus mencari tempat aman?”
Reza mengusap wajahnya yang sangat lelah. Ia memutar badan menghadap Jia. Tangan Jia ia genggam erat. “Kau masih mencintainya?”
Jia tidak siap dengan pertanyaan tak terduga itu. Ia menatap punggung Kalua yang sedang duduk di teras luar. “Pernikahan kami berdua atas dasar kepentingan banyak pihak, Reza. Aku tahu dia mencintaiku. Tapi buatku itu menyakitkan. Aku hanya merasakan belenggu.” Jia menunduk di hadapan Reza. “Bisakah kau tidak ikut campur dengan proyek kantormu itu?”
“Tidak mungkin, Jia. Terlalu rumit untuk mengundurkan diri.”
“Aku hanya tidak ingin kau terseret lebih jauh, Za.”
“Mungkin… aku bisa mengulur waktu sedikit agar kita bisa menyusun rencana lebih baik. Bagaimana?”
Jia termenung. “Aku tidak tahu harus melakukan apa.”
Reza menyentuh dagu Jia. “Kau mencintaiku?”
Jia menatap mata Reza. Hanya perasaan itu yang ia butuhkan. Rasa untuk bebas memilih. Jia mengangguk.
“Buatku itu sudah cukup.” Bisik Reza. Ia mengecup tangan Jia.
Dari teras luar, Kalua mencuri pandang ke dalam rumah. Ia tidak bisa menjelaskan rasa panas tiba-tiba menjalar di dadanya hingga membuat sesak. Entah akibat tiga batang rokok yang sudah terhisap abis, atau karena Jia yang tergelincir tepat di hadapan matanya dan disambut oleh lelaki lain dengan jitu. Kaki kiri Kalua bergerak gelisah. Sekuat tenaga ia menikmati hisapan terakhir rokoknya. Bersamaan dengan air mata yang tiba-tiba jatuh setitik di pipi.
“Ah sialan … Kenapa Atok lama sekali?”
***
Meredup
Samar-samar Atok mulai mendengar pembicaraan dua orang. Dari tipikal suaranya, Atok menebak Among Sani salah satunya, sedang berbicara dengan sosok lebih tua.
“Kau yakin?”
“Bekas luka di lenganku ini akibat kekuatannya, Among.”
Atok ingin sekali menggerakkan tubuhnya tapi ada sesuatu yang menahan. Ia hanya bisa mengenali bau dan tekstur kayu besar menopang tubuhnya.
“Tidak mungkin ia bisa mengakses kekuatan dari bharma.”
“Bagaimana kalau ternyata Amongku Kalua yang memberinya ijin?”
“Tapi untuk apa?”
Atok menggeram kesakitan. Perlahan ia membuka mata dan mendapati dirinya di dalam pondok remang-remang. Dari mendengar sedikit pembicaraan dua orang tua di hadapannya, ia bisa memastikan mereka dari tempat yang sama dengan Kalua.
“Kalian… salah orang…” susah payah Atok berusaha berbicara. Tenggorokannya seolah dikunci.
“Semakin kau memberontak, akan semakin sakit.” Kata Among Sani.
“Aku masih tidak mengerti mengapa kau justru membawanya kemari, Among Sani. Perintahku cukup jelas, kan? Anak Jia, dia yang terpenting.”
“Percayalah, Among. Dia bisa membawa anak Jia kemari, lengkap dengan Jia dan Kalua sekaligus. Kita tinggal menunggu saja, tidak akan lama lagi.”
Among Retu mendekati Atok. “Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa memiliki kekuatan bharma?”
Atok perlahan menggeleng dengan otot leher menegang. “Aku bukan siapa-siapa.”
“Kita lihat saja sama-sama.” Among Retu mengarahkan tangan kanannya tepat di depan wajah Atok. Tidak menyentuh, hanya mengambang sekian sentimeter. Namun sensasinya begitu menyakitkan untuk Atok.
Atok teriak kesakitan. “Aaah!”
Among Retu memejamkan matanya.
***
Jia sudah berdiri di ambang pintu ruang tamu. Tangannya memegang secangkir teh hangat. Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya ia memutar gagang pintu dan mendorong pintunya lebar-lebar. Ia yakin betul Kalua mendengar suara pintu terbuka, tapi lebih memilih untuk acuh.
Jia meletakkan secangkir teh di meja samping Kalua. “Malam semakin dingin, setelah ini lebih baik kau istirahat.”
Kalua hanya melirik sekilas. “Aku menunggu Atok kembali.”
“Coba hubungi saja. Seharusnya tidak selama ini kan?”
“Tidak tersambung. Entah kenapa.”
Jia mengangguk. “Aku kembali ke dalam dulu. Kalau butuh sesuatu bilang saja, Kalua.” ia kembali masuk rumah.
“Benar dia akan menikahimu?”
Langkah Jia terhenti.
“Itu yang membuatmu bahagia?”
Jia terpaksa menghadap Kalua lagi. Tapi ternyata ia tak punya kekuatan untuk menjawab.
Kalua mendekat dan berdiri tepat di hadapan Jia. “Aku butuh mendengarnya langsung darimu.”
Kini Jia memberanikan diri menatap mata Kalua lekat-lekat. Sepasang mata yang terlihat sangat lelah. Baru kali ini Jia menyadari sorot mata Kalua yang berubah. Tatapan itu kini menuntut kejelasan, setelah sekian lama perasaan mereka berdua berkabut tak ada titik terang.
Jia memberanikan diri. “Aku … sudah pernah memintamu menceraikanku secara resmi, kan?”
Tatapan Kalua masih lurus menatap Jia. Bukan kata-kata itu yang ingin ia dengar.
“Aku mencintai Reza, Kalua.”
Jitu dan tepat sasaran. Kalua dapat merasakan pikiran dan hatinya berperang begitu hebat. Keinginan mendekap Jia seerat mungkin, tertahan logikanya yang menyuruh berhenti. Akhirnya ia pun kalah. Sekuat tenaga Kalua berusaha tetap tenang. Ia mengangguk pelan.
“Kalua, aku…”
Kalua menggeleng cepat. “Tidak perlu… dan tidak usah.” Ia menghela napas panjang. Seolah ingin mengeluarkan semua emosi yang mengendap. “Tolong ijinkan aku tetap menjaga kalian. Sampai aku menemukan titik terang semua permasalahan ini. Sampai aku tahu betul, bahwa kau dan Jata bisa aman selama di luar desa. Sampai aku yakin, aku tidak perlu mencarimu lagi. Bantu aku, Jia.”
Jia berpikir cepat. “Tapi…”
“Dengan begitu permintaanmu akan kukabulkan.”
Jia tertegun. Sepasang mata Kalua menunjukkan keteguhan. Ia tahu Kalua akan menepati setiap perkataannya sendiri.
Tiba-tiba mata Kalua terbelalak lebar. Ia meremas kepalanya dan menggeram kesakitan.
“Aaah!”
“Kalua? Kalua kau kenapa?” Jia ikut panik.
Tubuh Kalua tersungkur menahan sakit. “Kepalaku… aaah!”
Tak punya pilihan lain, Jia memanggil Reza. “Reza! Rezaaa!”
Reza langsung muncul di ambang pintu. “Ada apa, Jia?”
“Kalua… tolong dia.”
Reza ragu-ragu mengecek keadaan Kalua yang meringkuk kesakitan. “Dia kenapa?”
“Aku tidak tahu. Tolong, kita bawa dia ke rumah sakit.”
Reza melihat wajah Jia yang betulan khawatir.
“Aku mohon Reza.”
Sedetik kemudian terdengar suara tangisan kencang Jata dari dalam kamar.
“Kau cek Jata, aku akan membawa Kalua.” perintah Reza.
Jia berdiri enggan. Reza berusaha menopang badan Kalua. “Jia, Jata!” seru Reza mengingatkan.
Jia segera masuk menuju kamar.
***
Kalua tahu betul ia sedang di dalam Bharma bahkan ketika matanya belum terbuka. Tekstur tanah, aroma, hembusan angin, hingga hawa dingin khas Bharma menguatkan kesimpulan Kalua bahwa sudah berpindah ke dimensi lain.
“Kalua…”
Panggilan itu langsung mempercepat proses kesadaran Kalua. Ia menoleh ke asal suara. “Atok?” Kalua terkejut melihat sosok Atok di dalam Bharma. “Kenapa kau… tunggu….”
“Aku juga tidak tahu mengapa aku masuk ke sini, Kalua. Tolong aku, Among Sani menangkapku.”
Kalua melihat penampilan Atok yang memakai jubah abu-abu sama dengannya. “Tidak seharusnya kau dalam pakaian itu. Apa mereka membuatmu terkoneksi?”
Atok menggeleng. “Terakhir kali aku sadar, aku sedang mengepak barang-barang kita di kamar kos. Dan seingatku…” Ia melirik jubah abu-abu yang dipakainya. “Tidak ada baju yang seperti ini.”
Kalua menahan marah. “Ini keterlaluan. Terlalu berbahaya menjebloskanmu dalam Bharma begini.” Kalua cepat-cepat menarik kedua tangan Atok dan menggenggamnya erat. “Kita harus segera kembali. Tunggu aku, Tok. Aku akan menyelamatkanmu segera.”
Pandangan Atok menjadi tidak fokus. “Menyelamatkanku… dari apa?” ucapnya melantur.
“Bertahanlah, Atok. Aku mohon.” Kalua memejamkan mata dan mencengkeram tangan Atok.
***
Among Sani mulai cemas melihat tubuh Atok yang lunglai kehilangan tenaga.
“Among, kau membawanya ke dalam Bharma? Apa tidak berbahaya?”
Among Retu berdiri dan merapikan bajunya. “Itu cara tercepat untuk memanggil mereka kemari.” Ia melirik Atok tergeletak lemas. “Kau jaga di sini. Aku perlu menghadap leluhur.” Among Retu meninggalkan pondok.
Atok tak mampu mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Ia seolah kehilangan banyak darah dan oksigen sekaligus.
***
Kalua terbangun di atas sofa. Ia terduduk dengan siaga. Matanya menangkap Reza dan Jia menatapnya cemas.
“Mereka menangkap Atok.” Kata Kalua.
Reza tak mengerti. “Apa? Kau mimpi apa sih sebenarnya? Aku mau membawamu ke rumah sakit.”
“Atok… Atok ditangkap dan dibawa ke desa.”
“Among Sani?” tanya Jia.
Kalua mengangguk. Ia meremas kepalanya. “Ia bahkan membawanya masuk ke Bharma. Dasar orang tua gila. Atok bisa demensia dengan cepat.” Kalua menatap Jia. “Jia, kita harus ke desa segera, aku mohon.”
“Kita? Aku tidak salah dengar?” tanya Reza.
Kalua berdiri menghadap Reza. “Atok akan mati jika kita tidak segera kesana.”
“Sejak kapan itu menjadi urusanku? Mereka mencarimu, kan?”
“Kemunculanku seorang diri tidak akan memuaskan mereka, Reza.” Kalua putus asa. Matanya mulai berair. “Aku tidak bisa kehilangan temanku lagi. Aku tidak bisa.”
“Aku bersedia pergi ke sana asalkan Reza ikut.” Sahut Jia tiba-tiba.
Kalua dan Reza kompak menatap Jia.
Reza mendekat. “Jia, apa-apaan. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa.”
Jia membelai pipi Reza. “Itulah mengapa aku ingin kau ikut serta.”
Kalua diam menatap mereka berdua. Pandangannya terasa semakin kabur.
“Kalua, kau masih tetua adat tertinggi. Lindungi aku, Reza, dan Jata selama kami ada di sana. Bagaimanapun caranya.”
Reza menggerutu. “Ah sialan, ini terlalu bahaya untuk Jata. Kau tahu itu kan? Aku tidak ingin menyerahkan Jia dan Jata kepada kalian. Ingat itu!” ancamnya tegas.
Kalua mengangguk.
“Aku hanya ingin membantumu untuk terakhir kalinya, Kalua. Setelah itu kau harus mengabulkan permintaanku.”
Hati Kalua remuk mengingat bahwa setelah masalah ini selesai, ia harus melepas Jia dan Jata sepenuhnya.
***
Moli sedang mengurus warung Kopi Atok ketika matanya melihat ada yang tidak beres dengan lampu mercusuar. Ia meletakkan cangkir-cangkir kopi di tangannya dan melihat puncak mercusuar lebih seksama. Lampunya tidak stabil, sinarnya melemah, sesekali mati kemudian nyala kembali.
“Kenapa itu lampunya, Mol?” tanya salah satu temannya.
“Aku juga tidak tahu. Sepertinya ada yang tidak beres.”
“Ya kau perbaiki lah. Apa sih yang gak bisa kau perbaiki dengan tangan ajaibmu ini.”
Moli masih termenung. Itu bukan masalah listriknya. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan Atok. Atok, semoga kau baik-baik saja.
***
