“Bagaimana? Apakah jalannya sudah aman untuk dilewati?” Mateo, anak Abah mulai cemas. Pasalnya langit mulai gelap. Ia tidak ingin pemakaman ayahnya terjebak hujan.
Para pemangku adat lainnya menggeleng pelan. “Belum, Teo. Tidak ada mobil yang bisa lewat, apalagi ambulance. Jembatan utama sudah runtuh sepenuhnya. Kondisi jalan tanah terlalu licin dan berlumpur.”
Mateo lemas. Ia kembali ke rumah duka. Terlihat ibunya masih bersimpuh di samping jasad suaminya sambil merapal doa. Perlahan Mateo duduk di samping ibunya. “Mak…”
Ibunya mendongak, dengan raut wajah tampak tegas dan tenang.
“Sepertinya tidak bisa diadakan arakan adat untuk Abah. Tidak ada jalan yang bisa dilewati. Bagaimana kalau dimakamkan tanpa upacara dulu? Upacara bisa menyusul jika keadaan sudah membaik.” Mateo perlahan menjelaskan.
Ibunya melirik jasad Abah. “Apa Abahmu berbuat banyak salah tanpa sepengetahuan kita, Teo? Sampai-sampai ia tidak bisa dimakamkan secara adat.”
“Mak,” Mateo mengelus pundak Ibunya. “Bukan begitu. Jangan Mak berpikir ini kutukan. Tidak ada hubungannya dengan Abah. Desa kita kena bencana, sama seperti desa lainnya.”
“Tapi Abahmu kan Tetua. Pemimpin Adat. Apa kata leluhur kalau Abahmu tidak diantar secara adat? Apa bisa ia bertemu leluhur kita kelak?” Ibunya mulai terisak.
Mateo mengusap kepalanya. “Leluhur pasti memahami kondisi Abah. Leluhur kita tidak sepicik itu, Mak.”
Percakapan mereka berdua dihentikan oleh suara rintik hujan yang menjatuhi atap rumah.
“Tidak, tolong jangan dulu.” Mateo segera keluar rumah. Di depan rumah ia melihat gerimis dan mendung pekat.
Para pemangku adat berkumpul di teras rumah duka. Salah satunya memberi saran. “Mateo, akan lebih baik kita segera makamkan Abah. Ini sudah hampir sore.” Ia menatap langit yang semakin gelap.
Mateo resah. “Apakah tidak apa-apa memakamkan ketika hujan begini?”
“Alam dan leluhur pasti mengerti, Mateo. Kita harus penuhi hak Abah untuk menghadap leluhur lebih cepat. Bagaimana pun caranya.”
Bagaimanapun caranya. Mateo berpikir keras. Ia menatap jasad ayahnya. Abah maafkan aku. Ini demi Abah.
***
“Mak, sungguh aku minta maaf. Tapi ini satu-satunya cara. Aku memohon restumu.” Mateo bersimpuh di hadapan Ibunya.
Disaksikan para pemangku adat, Ibu akhirnya pasrah. “Baiklah, kalau memang harus seperti ini.”
“Aku berjanji akan membuat upacara adat setelah kondisi kita membaik, Mak.”
Ibunya hanya mengangguk pelan.
***
Mateo menyalakan motor trailnya. Bersamaan dengan itu, jasad ayahnya diangkat oleh para pemangku adat, diiringi doa para penduduk. Perlahan jasad itu didudukkan di belakang Mateo. Tubuh keduanya pun diikat dengan kain pemakaman khas adat.
“Jangan lupa kau tutup jasad Abah dengan kain ini nanti.” Pinta seorang pemangku adat.
Mateo mengangguk. “Tentu saja aku ingat.” Ia mengencangkan kain di perutnya. Memastikan jasad ayahnya aman di belakang.
Doa terakhir dipanjatkan sekali lagi. Motor trail Mateo disiram dengan air suci untuk keselamatan.
“Sudah, Mateo. Berangkatlah.”
Mateo memejamkan mata. Ia menarik napas dalam-dalam. Tangannya menarik gas perlahan dan mereka pun berangkat. Seorang pemuda yang memboncang jasad ayahnya ke pemakaman.
Mateo menerjang gerimis dengan patah hati. Tak semestinya pemakaman ayahnya harus berlalu seperti ini.
“Abah…” Teriak Mateo. “Abah ingat kan betapa bencinya Abah dengan motorku ini? Abah bilang ini motor tidak berguna. Hanya untuk foya-foya, merusak jalanan desa kita, suaranya pun berisik. Sekarang lihat, Bah. Hanya motor ini yang bisa membawa Abah ke tempat peristirahatan terakhirmu.” Ia tertawa getir. "Motor trail yang kubeli dengan uangku sendiri, ternyata jadi kendaraan terakhir Abah."
Punggung Mateo merasakan tubuh ayahnya yang kaku dan dingin. “Aku bukan tidak ingin menjadi penerusmu, Abah. Tapi Abah terlalu naif. Sudah lama kita diinjak-injak oleh penguasa. Lihat tanah kita. Semakin tergerus dengan proyek-proyek tidak jelas.”
Mateo menahan sekuat tenaga agar motornya tidak goyah saat melintasi jalanan berlumpur. Sebagian jalan masih tertutup dahan-dahan patah akibat puting beliung sejak pagi. Mesin motor Mateo berderu kencang mencoba melewati medan yang berat.
“Siapa yang mengira, Abah, bahwa aku bisa mengajak Abah off road begini? Tentu saja Abah mau. Abah kan sudah tidak bernyawa.”
Medan terberat sudah berhasil dilalui. Di jalan perkebunan yang kini lebih rata, Mateo bisa melihat jembatan penghubung utama yang sudah terputus total. “Abah lihat? Begitu tidak pentingnya kehidupan adat kita, Bah. Jembatan runtuh saja tidak ada yang peduli. Abah meninggal pun tidak ada yang bisa membantu. Kita bukan siapa-siapa, Abah.”
Ini adalah tahapan berduka sesungguhnya bagi Mateo. Membawa jasad ayahnya, sembari melihat kenyataan bahwa betapa tidak pentingnya kematian seorang pemangku adat di negeri ini. Masyarakat adat sepenuhnya terpinggirkan. Mateo tahu itu sejak lama. Kini ia menanggung sendiri beban itu. Tanpa upacara adat, tanpa iringan doa, tanpa arakan, tanpa kendaraan yang layak, adalah episode paling memilukan dari kematian ayahnya. Episode berduka yang ternyata memiliki babak kedua.
Mateo menambah kecepatan. Tangan kirinya memastikan ikatan kain di perutnya tetap kencang. “Bertahanlah, Abah. Sebentar lagi kita sampai.”
Di liang lahat pemakaman yang sudah tergali sejak empat jam lalu, ada tiga pemuda adat yang melindungi liang lahat dari rintik hujan. Mereka adalah kawan-kawan Mateo. Gege, Tor, dan Boni.
Suara deru motor Mateo mulai terdengar. Gege mengerutkan kening. “Suara motor Teo itu.” Ia menatap arah datangnya suara. Matanya menyipit. Memastikan ia tak salah lihat. “ANAK GILA!” teriaknya.
Tor dan Boni langsung terkesiap. “Ada apa, Ge?” keduanya mengikuti tatapan Gege.
Mateo mendekat, memarkir motornya tepat di hadapan mereka bertiga. “Salam, Para Bujangan.” Ia menurunkan standar motor. Berusaha melepas ikatan kain di perutnya. Tak menyadari ketiga kawannya masih berdiri mematung menatap jasad di punggung Mateo.
“Teo…”
“Itu…”
“Mayat Abahmu?” tanya mereka bergantian.
“Iya, cepat kalian bantu aku sini.” Jawab Mateo santai.
“Kau sungguh gila ya!” todong Gege.
“Mana tetua yang lain?” sambung Boni.
“Kenapa tidak ada arakan adat?” Tor ikut penasaran.
“Heh!” seru Mateo. “Menurut kalian arakan adat dan mobil bisa lewati jalan berlumpur? Atau terbang saja lewat jembatan putus itu?”
“Memangnya tidak ada cara lain yang lebih baik dari ini?”
Mateo melengos. “Ayolah, kalian mau bantu aku tidak? Aku sungguh lelah. Abah harus segera kita makamkan untuk bertemu leluhur. Aku sudah sedih kehilangan Abahku, jangan buatku makin bersedih karena aku tidak bisa memakamkan Abahku dengan layak. Kumohon. Sekarang cuma kalian bertiga yang bisa membantuku.”
Gege, Tor, dan Boni saling tatap. Mereka pun bergegas melepas ikatan yang melekat di tubuh Mateo dan jasad ayahnya.
“Terima kasih.” Ucap Mateo lirih.
Pemakaman pun berjalan sederhana dan cepat. Jasad Abah sudah terbaring layak di liang lahat yang lembab. Mateo menatap wajah ayahnya yang kaku. “Sampai jumpa lagi, Abah. Besar jasamu untuk kehidupan kami. Sekarang engkau sudah berada di tempat tertinggi. Berbahagialah.” Mateo menghamparkan kain adat menutupi tubuh ayahnya.
Gege, Bor, dan Toni segera menutup liang lahat dengan tanah.
-TAMAT-
