Hilang dalam Buku

Di sudut perpustakaan yang sepi, Bintang duduk di antara tumpukan buku klasik. Aroma kertas tua dan tinta khas menyelimuti ruang sunyi. Penglihatannya meneliti judul-judul buku yang telah dibacanya berulang kali. Tiba-tiba, ada satu buku tebal menarik perhatiannya. “Dunia yang Hilang” sebuah judul tertera di atas sampul kusam, tetapi ada sesuatu misterius tentangnya.

“Hey, Bintang! Sedang apa kamu di sini?” tanya Hanin, sahabatnya, yang tiba-tiba muncul di antara rak buku-buku.

“Aku menemukan buku ini, sepertinya menarik deh,” jawab Bintang sambil menunjukkan buku itu.

“Apaan? Buku tua? Gak ada gambarnya tuh, membosankan pasti.” Hanin mencibir. “Yuk, kita ke kafe depan. Ini sudah bukan jam kerjamu.”

“Sebentar, aku penasaran dengan buku ini nin. Lain waktu aja bagaimana kita pergi ke kafe-nya?” Bintang bersikeras.

“Ya sudah. Aku pulang dulu kalau begitu. Jangan terlalu lama berdiam di sini, nanti kamu bisa di telan buku loh!” Pasrah Hanin. Ia pun berlalu dari hadapan Bintang.

Bintang menggelengkan kepala mendengar celetukan Hanin, ia memusatkan perhatiannya kembali pada buku itu, membuka halaman pertama, dan mulai membaca.

Terlalu hanyut dalam tulisan-tulisan di buku itu, tak terasa Bintang sudah sampai pada halaman terakhir. Tetapi ada sesuatu membuatnya mengernyit heran. Halaman terakhir pada buku itu terlipat rapi seperti menandakan ada suatu misteri di dalamnya. Sesuatu yang tak seharusnya dibuka jika tidak mampu. Bintang membuka lipatan itu dan mulai membacanya, tetapi ketika ia selesai membaca kalimat terakhir di halaman itu, cahaya terang menyilaukan matanya. Dalam sekejap, ia merasa melayang dan dunia di sekitarnya berubah.

***

Bintang terjatuh di tanah berumput subur. Di sekelilingnya, pepohonan tinggi menjulang, dan suara burung berkicau ceria. Dia melihat seseorang wanita berpakaian kuno mendekat.

“Selamat datang, Penjelajah,” ucapnya. “Aku Althea, penjaga dunia ini. Kamu telah membaca halaman terlarang. Untuk kembali, kamu harus menyelesaikan tiga tantangan.”

“T-antangan seperti apa?” tanya Bintang. Ia bingung dan sedikit ketakutan.

“Pertama, datang dan pintalah Vespera's Tear pada Dremlith, penyihir tua penjaga Vespera’s Hollow.”

Vespera’s Tear? Itu semacam permata atau sesuatu yang lain?” Bintang bertanya, masih sulit mencerna semuanya.

Althea tersenyum samar, matanya berkilat misterius. “Vespera’s Tear adalah lebih dari sekedar permata. Ia adalah esensi kehidupan dari bintang-bintang. Sesuatu yang tidak dapat dimiliki secara mudah. Dan dreamlith, penyihir yang menjaganya, tidak akan memberi begitu saja tanpa sebuah imbalan.”

Bintang merasa seolah ada sesuatu menjanggal di tenggorokannya. “Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkannya?”

“Tantangan pertama ini bukan hanya tentang kekuatan atau kecerdasan, tapi keberanian dan hati nuranilah kunci sesungguhnya. Dreamlith akan mengujimu. Dan hanya jika kamu benar-benar memahami makna dari air mata itu, kamu bisa membawanya kembali.”

“Bagaimana aku bisa menemui Dreamlith?” Bintang melirik sekeliling, berharap melihat suatu petunjuk.

Althea menggerakkan tangannya perlahan. Sebuah peta bercahaya terbentuk di udara di hadapan Bintang. Garis-garis terang menyusun gambar-gambar peta yang rumit. “Ini adalah jalan menuju Vespera’s Hollow. Tapi berhati-hatilah, Penjelajah, jalannya penuh dengan ilusi dan bayangan. Hanya mereka yang benar-benar yakin dengan tujuan mereka yang bisa mencapai tempat itu.”

Bintang menelan ludah, perasaan ragu-ragu mulai muncul. “Apa tantangan berikutnya setelah ini?”

Althea menatap tajam, senyum misteriusnya memudar. “Itu tidak penting sekarang. Fokuslah pada tantangan pertama, karena jika kamu gagal di sini, kamu tidak akan pernah kembali ke duniamu.”

Setelahnya, Althea menghilang dalam semburat cahaya, meninggalkan Bintang sendirian di tengah dunia asing dan sunyi. Peta bercahaya masih melayang di udara, menunggu untuk diikuti.

Bintang menarik napas dalam-dalam dan menguatkan hati serta tekad. Tanpa banyak pilihan, ia mulai mengikuti peta menuju Vespera’s Hollow. Langit di atas berubah warna perlahan-lahan, dari biru terang menjadi jingga pekat seiring ia melangkah. Udara disekitarnya menjadi semakin berat dan dingin, dengan suara angin berdesir lembut mulai terdengar seperti bisikan samar.

Setelah berjalan selama beberapa waktu, Bintang sampai di tepi hutan gelap dan lebat. Pintu masuk ke hutan tampak menganga seperti mulut raksasa. Dia tahu bahwa disitulah Vespera’s Hollow berada, di dalam kegelapan pekat itu.

Langkahnya terasa berat, tapi dia tetap melangkah maju. Setiap langkah yang diambilnya membawa lebih banyak bayangan bergerak di pingir pandangannya. Sesekali ia merasa seperti ada yang mengawasinya dari dalam kegelapan.

“Siapa yang datang kesini?” Suara serak tiba-tiba terdengar dari antara pepohonan, membuat Bintang berhenti mendadak.

Seorang pria tua dengan jubah abu-abu lusuh muncul dari balik kabut. Matanya berkilauan penuh dengan kebijaksanaan dan rahasia. Di tangannya ada tongkat kayu tua, dan di ujungnya terdapat kristal kecil bersinar samar.

“Dreamlith,” Bintang bergumam, teringat apa yang dikatakan Althea.

Penyihir tua itu memandangnya dengan tajam, seolah-olah menilai jiwanya hanya dari tatapan pertama. “Kamu datang untuk mencari Vespera’s Tear,” ujarnya, suaranya seperti bunyi daun kering yang terinjak.

Bintang mengangguk meski di dalam pikirannya bertanya bagaimana Dreamlith bisa tahu tujuannya. “Ya, aku membutuhkannya  untuk kembali.”

Dreamlith terkekeh pelan, namun tidak ada kehangatan di balik tawa itu. “Vespera’s Tear bukan untuk mereka yang hanya mencarinya karena sebuah kebutuhan. Untuk mendapatkannya, kamu harus menjawab pertanyaanku. Apakah kamu siap?”

Bintang merasa jantungnya berdebar kuat, tetapi ia tahu bahwa tidak ada lagi jalan kembali selain ini. “Aku siap!” jawabnya yakin.

Dreamlith mengangkat tongkatnya, dan seketika udara di sekitar mereka terasa lebih berat dan dingin. Cahaya dari kristal di tongkatnya mulai bersinar terang, menciptakan bayangan-bayangan aneh di sekeliling mereka.

“Vespera’s Tear adalah air mata bintang-bintang, lambang dari kesedihan, harapan, dan pengorbanan. Pertanyaanku cukup sederhana: Apa yang akan kamu korbankan untuk mendapatkan kekuatan dari air mata itu?”

Pertanyaan itu seperti gelombang dingin menghantam Bintang dengan kuat. Apa yang bersedia ia korbankan? Kekuatan itu terdengar begitu besar dan menggiurkan, tetapi apa arti baginya jika ia ia salah menjawab? ia tahu bahwa tantangan ini akan berakhir di sini, begitupun dirinya.

Sambil memikirkan pertanyaan itu, Bintang menyadari bahwa jawabannya mungkin bukan tentang kekuatan atau ambisi. Dengan suara pelan namun yakin, ia menjawab, “Aku tidak ingin kekuatan dari air mata itu. Aku hanya ingin kembali ke tempatku berasal, tanpa merusak atau mengambil lebih dari yang aku butuhkan.”

Dreamlith terseyum, sebuah senyum yang sulit ditafsirkan. Lalu, ia menunduk sedikit. “Jawabanmu telah diterima, Penjelajah. Vespera’s Tear akan menjadi milikmu, bukan untuk kekuasaan, tetapi untuk pengetahuan bahwa tidak semua yang berkilau layak diraih tanpa hati yang murni.”

Sebuah botol kecil berisi cahaya samar muncul di tangan Dreamlith. “Ini, air mata bintang-bintang. Bawalah, dan lanjutkan perjalananmu.”

Dengan hati-hati, Bintang menerima botol itu dan menyadari bahwa tantangan baru saja dimulai. Cukup lama memfokuskan perhatiannya pada botol digenggamnya, ia mendongak berniat mengucapkan terimakasih pada Dreamlith, namun penyihir tua misterius itu telah menghilang, ditelan kegelapan dengan rasa dingin yang memudar.

“Selamat Bintang, apa kamu siap melanjutkan ke tantangan berikutnya?” Bisikan halus terdengar di telinga Bintang dengan perlahan menampakkan sosok Althea dengan senyum tipisnya.

“Bagus. Tantangan kedua, cari makna di balik kutipan ini: ‘Yang terpenting dalam hidup adalah bukan seberapa banyak kita tahu, tetapi seberapa dalam kita memahami.’”

Bintang berpikir keras, dan kemudian mulai menjawab pertanyaan yang dilontarkan Althea padanya. “Maksudnya... pengetahuan saja tidak cukup. Kita harus memahami dan merasakan pengalaman itu.”

“Benar sekali! Tantangan terakhir, hadapi ketakutan terbesarmu,” ujar Althea dengan nada serius.

“Ketakutan terbesarku?” Bintang mengernyit. “Apa itu?”

“Ketidakmampuan untuk berbagi ceritamu dengan orang lain,” jawab Althea. “Jika kamu tidak berani mengungkapkan cerita, kamu tidak akan pernah bisa kembali.”

Bintang tertegun mendengar itu. Dia teringat ide dan cerita yang sering ia simpan sendiri. “Baiklah, aku akan mencobanya.”

***

Kembali di perpustakaan, Bintang menemukan dirinya duduk di lantai sembari memegang buku yang sama. Keringat dingin membasahi dahinya, tetapi dia merasakan keberanian baru dalam dirinya. Ia tahu, inilah saatnya untuk berbagi.

Dalam beberapa minggu selanjutnya, Bintang mulai menulis cerpen dan membacakan karyanya di depan teman-teman kuliahnya. Dia merasakan kebebasan dan kepuasan yang tak pernah ia bayangkan dan rasakan sebelumnya.

Suatu hari, Hanin bertanya, “Aku suka kamu yang sekarang, terasa lebih bebas berekspresi. Kamu jadi penulis kan? Kenapa bisa berubah gini?”

“Semua berkat buku itu,” jawab Bintang, sembaru tersenyum. “Terkadang, kita perlu terlempar ke dunia lain untuk menemukan diri kita yang sebenarnya.”

Hanin hanya mengangguk, tidak sepenuhnya mengerti. Namun, Bintang tahu, dunia baru ini adalah tempat di mana dia bisa terus berkarya, menumpahkan ekspresinya, dan tidak akan pernah ragu untuk berbagi lagi.

***

Di sudut perpustakaan, “Dunia yang Hilang” masih terletak disana, menunggu penjelajah berikutnya untuk menjelajahi halaman-halamannya yang terlarang.

-TAMAT-

Ditulis oleh : Lintang Dinda

Berlangganan

Jadilah pembaca setia Filolofi.com dan dapatkan pemberitahuan 
tentang judul cerita terbaru langsung ke emailmu!
Filolofi adalah platform cerita bersambung hasil karya dari beberapa penulis yang dipublikasikan berbasis website sehingga dapat diakses langsung oleh pembaca. Judul atau bagian terbaru akan terbit setiap minggu. Pastikan untuk menjadi pembaca setia Filolofi dan nantikan kisah-kisah menarik setiap minggunya.
Follow
2984
Total Visitors
users linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram