Arum menggedor gerbang kerajaan sekuat tenaga. “Tolong, siapapun tolong kami. Bapak saya sekarat. Tolong!”
Gerbang itu tetap tertutup. Ranum, ibu Arum, kembali mengguncang tubuh suaminya sambil terisak. “Pak, tangi, Pak[1].”
Arum masih terus menggedor gerbang. “Tolong! Raja, tolooong, hamba mo…”
Tiba-tiba gerbang terbuka, menghempas tubuh Arum. Ia beringsut ke pelukan ibunya. Ranum dan Arum bersimpuh memberi hormat kepada siapa saja yang keluar dari gerbang.
Ada empat orang prajurit dengan baju biru dan hitam keluar dari balik gerbang. Pemimpin prajurit mengamati Ranum, Arum, dan seorang laki-laki yang tergeletak tak sadar diri. “Siapa kalian? Berani-beraninya tengah malam begini membuat keributan.” tanyanya dengan suara berat.
Ranum dan Arum bersimpuh di hadapan prajurit itu. “Mohon ampun. Kami dari lereng gunung Blawu di barat. Kami terpaksa meninggalkan desa kami yang terkena letusan gunung. Dan kesini hendak mencari perlindungan. Dan… suami saya pingsan karena kelelahan.” Ranum berusaha menjelaskan kondisi mereka.
“Gunung Blawu?” keempat prajurit itu saling tatap tak percaya. “Kenapa kalian datang jauh-jauh kesini?”
“Ampun, Patih. Sekiranya sudi menampung kami. Kami sudah tidak mampu berjalan jauh lagi.” Pinta Arum.
“Ada apa di luar, Patih Joyo?” teriakan menggelegar bergema dari balik gerbang bata. Suara yang disambut dengan sikap hormat dan tunduk dari para prajurit. Pemilik suara itu muncul di tengah-tengah barisan pengawal. Terlihat sederhana dengan pakaian lurik dan celana polos serta ikat kepala berwarna biru tua. Dari sikap hormat orang-orang di sekitarnya, bisa dipastikan ia adalah sang raja.
Pemimpin prajurit bernama Joyo itu menunduk. “Mohon ampun, Sinuwun. Ada pengungsi dari lereng gunung Blawu. Desa mereka kena letusan gunung.”
Raja bingung. “Blawu?” ulangnya tak percaya. “Jauh sekali.” Kemudian ia melihat tubuh seorang laki-laki terkulai lemas. “Ia masih hidup?” tanyanya pada Arum yang memangku kepala bapaknya, Jati.
Arum mendongakkan kepalanya sedikit, hanya bisa melihat perawakan sosok Raja hingga bahunya saja. Arum mengangguk pelan.
Raja menarik napas dalam. “Patih Joyo, tampung mereka di ndalem barat. Panggil tabib untuk mengobati yang terluka. Suruh Yu Sidhe memasak makanan.”
“Sendhika[2].” Sahut Patih Joyo.
“Kalian akan ditampung di kerajaan ini. Istirahatlah sampai pulih.” Titah Raja terucap. Ia kembali masuk ke gerbang kerajaan.
Ranum bersimpuh hormat pada Raja. “Maturnuwun, Sinuwun[3].”
Setelah Raja berbalik, barulah Arum berani mendongak. Mata Arum yang rabun gagal menangkap detail wajah sang Raja. Tangan Ranum sigap memapah tubuh Jati masuk ke kerajaan. “Arum, bawa barang-barang dan kuda.” perintah Ranum. Arum segera menarik tali kekang kuda.
***
Bagi Arum, kerajaan bernama Srojan itu terasa sibuk dan waktu berlalu lebih cepat. Semua penduduk begitu tekun bekerja, tersebar di beberapa ndalem utama wilayah kerajaan. Ada ndalem khusus membuat obat-obatan yang dikepalai oleh para tabib. Ndalem pawon untuk memasak makanan kerajaan. Ndalem gaman yang diisi Mpu pembuat senjata-senjata untuk pasukan. Dan satu lagi ndalem untuk para priyayi kerajaan. Keluarga Arum ditampung di ndalem paling barat. Berupa bangunan joglo sederhana untuk menyambut tamu atau tempat dihelat hajatan kerajaan.
Sama dengan Arum yang penuh antisipasi, masih ada satu hal mengusik hati Ranum tentang kerajaan Srojan. Ia menyenggol lengan Jati yang kini sudah bisa duduk tanpa sempoyongan. “Pak, sakjane bapak ngerti kerajaan iki teko ngendi?[4]”
Jati tersenyum. “Aku mbiyen ngobrol karo priyayi seng semedi ndek Blawu[5]. Ada satu kerajaan penyelamat yang makmur, sejahtera, kaya, dipimpin raja maha adil. Kerajaan seng bakal dadi kunci kemakmuran laut dan darat negoro iki, Bu.”
Ranum mengedarkan pandangan. “Terus? Bener iki kerajaan’e[6]?”
Belum sempat kekhawatiran Ranum tuntas, ada suara terdengar dari pintu, “Piye?[7] Sudah membaik semuanya?”
Jati, Ranum, dan Arum langsung bersimpuh. Kaget melihat Raja datang sendirian memasuki ndalem.
“Sampun, Sinuwun[8].” Jawab Jati
Raja berdeham, “Penduduk kerajaan Srojan adalah para pekerja keras, para pemikir, dan para priyayi. Tidak ada yang berpangku tangan di sini. Kalau kalian ingin menjadi penduduk Srojan, setelah ini carilah pekerjaan yang paling cocok dengan keahlian masing-masing. Belajarlah perlahan, tidak perlu takut membuat kesalahan. Para abdi kerajaan akan membantu. Kalau tidak berkenan, kapanpun kalian bisa meninggalkan tempat ini, tak ada paksaan.”
Suara Raja berhasil memancing rasa penasaran Arum. Ia mendongak sedikit. Kini sang Raja memakai baju atasan cokelat terang dengan sehelai celana kain berwarna polos hitam, berdiri tanpa alas kaki. Jauh dari bayangan Arum tentang sosok Raja berhias mewah dan angkuh. Jarak pandang Arum lebih dekat dibanding semalam. Rabun matanya masih mengijinkan Arum menangkap sosok Raja sedikit lebih jelas. Arum kembali menunduk ketika terasa gerakan tubuh Raja menghadap ke dirinya.
“Kowe wes sehat betul?[9]” tanya Raja pada Jati yang bersimpuh di samping Arum.
“Sampun, Sinuwun. Kulo nyuwun ampun[10], datang ke Srojan dalam keadaan pingsan.”
“Sopo jenengmu?[11]”
“Jati, Sinuwun.”
“Kowe[12] yang bawa keluargamu kesini? Kowe ngerti kan betapa bahayanya?”
Jati bersimpuh semakin rendah. “Ampun, Sinuwun. Sekiranya kulo hanya mencari tempat mengungsi terbaik. Sebagian penduduk Blawu memang ke barat. Tapi kondisi di barat sedang keruh. Akan ada perang besar sebentar lagi.”
Perkataan Jati membuat Raja terdiam. Ia mendekati Jati. “Apa pekerjaanmu sebelumnya?”
“Ampun, Sinuwun. Saya hanya juru kunci gunung Blawu. Juga membimbing orang-orang yang mau semedhi di Blawu.”
Raja berdeham. “Kowe melu aku saiki[13].” Ucapnya hanya untuk Jati. “Setelah ini ada abdi dalem yang membantu kalian.” Ia memberi pesan terakhir untuk Ranum dan Arum sebelum pergi.
Jati tertatih mengikuti langkah Raja. Keduanya berjalan menuju pendopo.
Dari ndalem barat, Arum memantau ayahnya dengan cemas. Punggung Raja dan ayahnya terlihat semakin kabur di matanya. “Bapak kok sendirian ngadep Sinuwun, Bu?”
“Kita tunggu saja. Semoga gak ono opo-opo.”
Hari itu pun diakhiri dengan para abdi dalem kerajaan mengajari berbagai keahlian untuk pekerjaan di Srojan. Ranum memilih untuk menenun sedangkan Arum ingin memasak. Sampai malam menjelang, Jati belum kembali dari pendopo Raja.
***
Hingga malam tiba, Arum masih sibuk membantu para abdi memasak makan malam di pawon. Tangannya cekatan mengikuti cara memasak para abdi.
“Orang-orang Blawu biasanya mangan lauk opo?” kepala pawon bernama Sidhe mendekati Arum. Ia memperhatikan Arum yang terlihat tidak biasa mengolah bahan makanan pesisir.
“Ngapunten[14], Yu Sidhe. Biasanya di Blawu kami makan sayuran dan buah-buahan gunung. Kulo masih belajar masak bahan pesisir.”
Yu Sidhe tersenyum. “Gak apa-apa. Coba kowe masak bahan-bahan ini pake bumbu masakan asli Blawu.”
Arum bingung. “Nopo saget[15], Yu? Nanti kalo orang-orang Srojan tidak terbiasa dengan rasanya pripun?”
“Wes tho. Manut opo jare aku.[16]”
Arum mengangguk. “Nggih, Yu. Kulo coba.[17]”
Seketika gerakan Arum begitu gesit. Matanya menyipit mencari-cari bahan masakan yang bisa diolah menjadi bumbu khas Blawu. Tangannya meraih kacang-kacangan merah, jamur, bawang, singkong, gula merah, dan jahe. Ia menumbuk semuanya menjadi satu hingga lembut. Satu tungku ia gunakan merebus air hingga mendidih, lalu bumbu tumbuk dimasukkan dan diaduk sampai larut. Sembari menunggu harumnya muncul, Arum memotong ikan menjadi beberapa bagian. Tak lama kemudian harum kuah buatan Arum tercium ke seluruh pawon.
“Hmmm, enak banget iki wangine, masakan’e Yu Sidhe iki mesti.[18]” Ujar salah satu abdi.
“Opo? Aku ra masak opo-opo. Iku lho si Arum.[19]”
Arum tersenyum malu. Ia lanjut memasukkan ikan ke dalam kuah ditambah potongan belimbing segar. Masakannya pun jadi.
“Masakan opo iki?” tanya Yu Sidhe sambil menyendok kuah buatan Arum.
“Ini… wedhangan ikan, Yu. Biasa dibuat di Blawu kalau cuaca malam sedang dingin. Harusnya pakai daging kambing, tapi kulo coba ganti dengan ikan biar orang Srojan mau makan.”
Yu Sidhe mencicipi kuah. Terlihat raut wajahnya sedikit terkejut setelah ia menelan. “Enak. Rasa kuah’e legit, mantep.” Ia mengangguk mantap. “Coba ini ikut disuguhno malam ini yo.”
“Saestu, Yu?”[20]
“Lha iyo! Percuma masak enak-enak gini kalo gak dimakan orang banyak.” Tegas Yu Sidhe.
Malam itu pun dilanjutkan dengan menyiapkan makan malam untuk Raja dan seluruh penduduk Srojan di pendopo. Arum melihat Jati ikut keluar bersamaan dengan Raja dan para panglima dari kediaman Raja.
“Bapak ngapain, tho? Seharian di kediaman Raja?” Ranum langsung menanyai Jati.
Jati mengisyaratkan untuk tetap diam dengan telunjuknya. “Nanti wae di ndalem. Ojo saiki.”[21]
Penduduk Srojan beserta pengungsi Blawu kini duduk bersimpuh melingkar di pendopo kerajaan. Para Raja dan priyayi turut duduk bersama di antara para penduduk.
“Hari ini kita semua kedatangan saudara baru. Mereka kesini membutuhkan perlindungan, membutuhkan rumah yang lebih aman. Maka mulai sekarang, mereka adalah penduduk Srojan juga. Saudara kalian semakin banyak. Bantu mereka untuk hidup seperti kita.” Titah Raja sebelum makan malam dimulai.
Semua penduduk menunduk. “Sendhika, Sinuwun.”
“Monggo, kita makan semuanya. Jangan ada yang disisakan.” Lanjut Raja.
Semua orang langsung mengambil jatah makannya masing-masing. Terdengar obrolan samar-samar, “Ono menu anyar iki, koyone enak.”[22]
“Hmmm enak. Bumbune luwih legit iki. Wah jan, Yu Sidhe tambah enak-enak ae masakan’e.”[23]
Raja melirik menu wedhangan ikan buatan Arum yang disuguhkan untuk penduduk. Ia memanggil Yu Sidhe, “Yu… Yu Sidhe,”
Yu Sidhe bergegas mendekat dan bersimpuh di hadapan raja. “Kulo, Sinuwun.”
“Aku gelem masakan anyarmu kuwi.”[24]
Yu Sidhe gelagapan. “Nga-ngapunten, Sinuwun. Itu bukan masakan kulo. Itu masakan si Arum. Anaknya Jati.”
“Oh ya? Yo wes, aku melu icip pisan.”[25]
Yu Sidhe menunduk. “Sendhika, Sinuwun. Kulo ambilkan sebentar.”
Sesaat kemudian Yu Sidhe membawa nampan berisi semangkuk wedhangan ikan buatan Arum. Ia suguhkan di hadapan Raja.
Tanpa menunggu lama, Raja menyantap wedhangan ikan. Ia tersenyum. “Ini menu pas untuk makan malam. Bikin kenyang, tapi juga bikin hangat badan.” Ujarnya kepada para priyayi dan panglima yang ikut menyantap di sisi Raja. “Panggilkan si Arum, Yu.”
Yu Sidhe buru-buru mencari sosok Arum di tengah-tengah pendopo. Kepalanya melongok ke kanan-kiri. Begitu matanya menangkap sosok perempuan bercepol kecil di sebelah Jati, ia memanggil, “Arum, Arum… kene cepetan.”[26]
Arum yang kebingungan segera mengelap mulutnya dan menghampiri Yu Sidhe. “Kulo, Yu?”
“Kowe dipanggil Raja, dipanggil ngadep Sinuwun, ayo…” Yu Sidhe menarik lengan Arum.
“Wonten nopo, Yu? Kulo wonten salah?”[27] Arum mulai ketakutan. Baru kali ini ia dipanggil menghadap raja seorang diri.
“Ora[28]. Sudah sana, jangan sampai sinuwun menunggu lama.”
Arum merapikan penampilannya sejenak sebelum menghadap Raja. Ia pun berjalan ke hadapan Raja, ditemani Yu Sidhe di belakangnya.
Arum menunduk memberi hormat. “Mohon ampun, Sinuwun. Sinuwun memanggil saya?”
“Masakanmu enak, Rum. Aku baru saja menghabiskannya. Biasanya aku akan berbagi makanan sama rata dengan para priyayi dan panglima, tapi untuk masakanmu, aku mengambil paling banyak.” Ujar Raja yang disambut tertawa oleh para priyayi.
Arum senang sekaligus tak tahu harus menjawab apa. “Ngapunten, Sinuwun. Besok saya akan masak lebih banyak.”
Raja mengangguk puas. “Yu Sidhe…”
Yu Sidhe langsung mendekat. “Kulo, Sinuwun.”
“Sepertinya Arum cocok bekerja di pawon. Bimbing dia, jadikan dia orang kepercayaanmu. Mulai besok, aku ingin makananku dimasak oleh Arum.”
“Sendhika, Sinuwun.”
Arum tak kuasa menahan senyum. Ia mendongak sedikit, cukup untuk melihat perawakan Raja hingga bahunya saja. Ia tak tahu apakah rakyat jelata boleh menatap langsung mata Raja. Namun ia cukup bahagia dengan apa yang ia lihat.
***
“Aku ditunjuk jadi telik sandinya Sinuwun, Bu.” Bisik Jati di sudut ndalem saat tengah malam tiba.
“Telik sandi? Buat opo? Katanya Srojan aman gak akan ikut prahara.”
“Sinuwun cuma ingin jaga-jaga. Mau gak mau Srojan pasti akan terseret juga. Sinuwun memastikan Srojan ada di pihak yang tepat.”
Ranum mendesah pasrah. “Bahaya ora, Pak?”
“Aman, Bu. Ada Patih Joyo, pasti aman.” Jati menepuk pundak Ranum.
Arum berbaring memunggungi orang tuanya. Sejenak lalu hatinya begitu gembira menyambut esok. Membayangkan resep-resep terbaik yang ingin ia masak untuk raja. Tapi keresahan perlahan merambat. Semoga Srojan baik-baik saja. Semoga pekerjaan bapak tidak membahayakan, semoga Sinuwun tetap ada di Srojan.
***
Pagi itu Arum terlihat lebih terbiasa dan percaya diri memasak di pawon. Dipandu oleh Yu Sidhe, ia memasak tiga menu sekaligus untuk makanan raja dan penduduk Srojan. Arum memasak sayur jamur kuah merah, daging kambing manis, dan singkong tumbuk gula merah. Lagi-lagi masakan Arum disambut antusias oleh semua orang termasuk raja.
Setelah membereskan pendopo sehabis gelaran makan siang, Arum mendapat titah menemui raja di kediamannya. Ia pun bergegas menuju kediaman raja. Bangunan kediaman raja begitu sederhana, tidak ada yang mewah. Persis seperti bangunan ndalem lainnya. Sampai di pelataran, Arum melihat raja duduk bersila seorang diri.
Raja berbalik. Ia tersenyum melihat Arum. “Kene, Rum. Lungguh sik.”[29]
Arum merapikan jariknya dan duduk bersimpuh.
“Dadi ngene…” [30]raja berdeham. “Aku khawatir Srojan ada di situasi yang rentan. Jadi aku perlu pergi beberapa waktu ke barat. Bapakmu, Jati, harus ikut denganku.”
Arum mengerutkan alisnya. Ia menangkupkan kedua tangannya memohon ampun. “Ampun, Sinuwun. Kulo mboten ngertos[31], kenapa sinuwun harus membicarakannya dengan kulo?”
Raja tersenyum. “Pertama, aku minta ijin ke kamu sebagai anaknya Jati. Bisa jadi bapakmu akan pergi sedikit lebih lama. Kedua, aku ingin kamu memasak untuk bekal perjalananku.”
“Apa… sinuwun akan pergi lama juga?” tanya Arum.
Hening sejenak sebelum raja menjawab. “Semoga tidak. Semoga aku bisa pulang sebelum bekal makananku habis.”
Hati Arum mendadak gundah.
“Yu Sidhe bilang kalau kamu ada penyakit mata?”
“Betul, Sinuwun. Mata kulo rabun sejak kecil. Susah melihat kejauhan.”
“Kalau begitu, segera aku perintahkan tabib kerajaan untuk mengobati matamu. Ketika aku pulang dari perjalanan, semoga matamu sudah sembuh.”
Arum mengangguk pelan. “Matur nuwun, Sinuwun. Sinuwun sudah membantu kulo begitu banyak. Entah bagaimana cara kulo membalas.”
“Sudah sepatutnya seorang raja berlaku demikian, Arum.”
Tiga hari setelah percakapan di kediaman raja, Arum tak lagi melihatnya langsung. Raja sibuk di kediamannya bersama para panglima, berkutat membicarakan strategi menjaga Srojan aman dari prahara kerajaan besar di barat. Jati pun hanya sebentar-sebentar saja menghampiri Ranum dan Arum. Sisa waktunya banyak digunakan untuk keluar kerajaan, ketika pulang ia langsung menghadap raja.
“Mereka gak bisa seenaknya ngatur Srojan. Srojan sudah bukan di bawah mereka lagi.” Geram Jati di satu malam, sepulang dari utara.
“Sopo, Pak?” Ranum ikut penasaran.
“Mataram. Srojan didesak sama Mataram.” Jati melepas ikat kepalanya dengan kesal. “Aku cuma iso mantau, Bu. Gak iso melu-melu[32]. Aku cuma telik sandi.”
“Terus? Dawuhe sinuwun piye?[33]” Ranum berusaha menenangkan Jati.
“Terpaksa sinuwun menuruti Mataram. Demi keamanan rakyat Srojan, besok sinuwun mau berangkat tanpa banyak pasukan. Aku harus ikut dampingi sinuwun, Bu.”
Apa yang ditakutkan Ranum dan Arum ternyata terbukti. Ternyata Srojan tidak seaman yang dibayangkan Jati, dan ternyata raja akan ikut pergi berperang demi martabat kerajaan Srojan.
***
Arum sudah sibuk di pawon dari pagi buta. Ia berkutat sendirian di pawon, meski tanpa Yu Sidhe. Dua tungku menyala mendidihkan kuah wedhangan ikan dan jamu jahe merah, sembari tangan Arum sibuk memotong ikan dan daging kambing.
Raja yang sedang semedi di kediamannya terusik dengan aroma khas masakan Arum. Dari jendela, ia melihat ndalem pawon yang penuh asap masakan. Raja beranjak, menghampiri ndalem pawon.
“Masak opo buat bekalku, Rum?” tanya raja sambil berdiri di ambang pintu.
Arum terkaget dan langsung menunduk memberi hormat. “Ngapunten, Sinuwun. Kulo siapkan semua masakan kesukaan sinuwun. Ditambah jamu jahe merah untuk kesehatan sinuwun.”
Raja tersenyum. Ia mendekat ke hadapan Arum. “Kowe tahu tho, kalau aku akan pergi ke barat. Kowe juga pasti tahu apa keperluanku. Bapakmu pasti sudah cerita.”
Jemari Arum memilin jariknya. Ia tak tahu harus menjawab apa. “Sinuwun, mau pergi berperang bersama Mataram?” ragu-ragu Arum menebak. Dari sudut matanya ia bisa melihat seragam pasukan Srojan lengkap di tubuh raja. Bahu raja tampak lebih gagah dari biasanya.
“Aku tahu keluargamu ke sini untuk menghindari perang. Tapi ternyata Srojan ikut terseret juga.” Raja menghela napas. “Itulah mengapa aku ingin berangkat sendiri saja ditemani beberapa pasukan. Supaya keluargamu dan penduduk Srojan lainnya tetap aman.”
Arum terkejut. “Jadi… sinuwun berkorban untuk kulo?”
“Tentu saja. Makanya aku ingin membawa bekal masakanmu. Supaya ada pengobat rindu dengan suasana makan di pendopo. Dan supaya ada semangat untuk berperang.”
Tak terasa air mata Arum jatuh. Buru-buru ia mengusapnya.
“Sepeninggalku, mata rabunmu harus diobati. Kamu harus lihat betapa indahnya pantai-pantai di selatan Srojan. Tunggu saja panji-panji Srojan berkibar dari utara membawaku pulang.”
“Sinuwun… kulo… apa tidak bisa sinuwun di Srojan saja? Mengabaikan permintaan Mataram?”
“Itu bukan kelakuan seorang raja, Rum. Aku ingin menjunjung kehormatan Srojan.”
“Kulo… belum sempat membalas kebaikan sinuwun. Kulo mohon pulanglah dengan selamat, Sinuwun.”
Raja tersenyum. “Aku pasti pulang, Rum.” Ia berbalik meninggalkan Arum sendirian lagi di pawon. Arum tidak bisa membayangkan bahwa masakannya pagi ini bisa jadi makanan terakhir yang ia berikan pada raja, manusia kesayangannya. Manusia yang belum pernah ia lihat jelas wajah dan kepalanya.
***
Ini sudah pengobatan keempat yang dilakukan tabib kerajaan untuk kesembuhan mata Arum. Rabunnya mulai berkurang. Sekarang ia bisa melihat dedaunan rimbun di atas pohon dengan jelas. Namun sesungguhnya ia hanya ingin sembuh untuk menyambut panji-panji Srojan yang berkibar dari utara. Ia ingin sembuh untuk menyambut raja.
Tepat di purnama berikutnya, pengobatan Arum selesai. Rabunnya sembuh. Di hari yang sama, terlihat rombongan pasukan Srojan mengibarkan panji-panji dari utara. Semua penduduk bergegas menyambut. Arum berusaha berdiri menyambut paling depan bersama Ranum.
“Sinuwuuun…”Salah seorang penduduk berteriak histeris.
Semua orang akhirnya tersadar bahwa pasukan Srojan datang sambil menggotong sebuah peti.
Penduduk Srojan bersimpuh dan menangis. Tak terkecuali Ranum dan Arum. Detik itu serasa hampa bagi Arum.
Sinuwun berjanji padaku untuk pulang. Terngiang janji raja padanya di pawon. Tapi tidak dalam keadaan seperti ini sinuwun. Tangis Arum seketika pecah ketika peti jasad raja lewat di hadapannya.
Pasukan Srojan meletakkan peti di tengah pendopo yang langsung dikelilingi para penduduk. Jati berdiri di samping peti dan membacakan sebuah lontar.
“Ini titah terakhir dari sinuwun sebelum sinuwun mengangkat senjatanya.” Jati mengusap air matanya. “Aku bersaksi bahwa Srojan akan merdeka dari belenggu penjajah. Aku bersaksi bahwa Srojan akan damai sepanjang hayat. Aku bersaksi bahwa cintaku akan selalu ada di Srojan.” Jati melipat lontarnya. “Sinuwun gugur membela kehormatan Srojan. Sinuwun gugur dalam memenangkan prahara di barat. Sinuwun tidak mati sia-sia. Sinuwun mengorbankan nyawanya untuk keselamatan Srojan. Ingatlah selalu namanya sampai mati, Sultan Renggono Aji Swastiko.”
Semua penduduk menangis histeris penuh kehilangan. Mata Arum sudah bisa melihat jelas. Namun kini yang ia lihat hanyalah sebuah peti tempat manusia kesayangannya berbaring selamanya. Belum sempat ia mengenali wajah rajanya. Belum sempat ia membalas kebaikan rajanya.
***
Sinuwun, kulo sudah bisa melihat pantai Srojan yang begitu indah. Kulo sudah bisa menulis lontar untuk menceritakan kisah perjuanganmu. Kulo yakin tidak ada tempat sedamai Srojan. Sesuai titahmu, Srojan kini makmur sejahtera. Sepeninggal Yu Sidhe, kulo menjadi kepala pawon. Kulo ingin masakan Srojan bisa menjadi jejak sejarah kebaikanmu, Sinuwun. Semoga ini bisa membalas semua kebaikanmu.
Lembar lontar Arum kini sudah penuh. Ia membaca tulisannya sekali lagi. Masih banyak yang ingin ia tuliskan tentang jejak Sultan Renggono, manusia tanpa kepala kesayangannya. Matahari mulai terbenam, meninggalkan semburat merah mewarnai langit pantai Srojan. Arum tersenyum merasakan angin sore membelai kulitnya.
-TAMAT-
[1] Pak, bangun, Pak.
[2] Siap.
[3] Terima kasih, Raja.
[4] Sebenarnya bapak tahu kerajaan ini dari mana?
[5] Aku dulu ngobrol dengan priyayi yang sedang bertapa di Blawu
[6] Benar ini kerajaannya?
[7] Bagaimana?
[8] Sudah, Raja.
[9] Kamu sudah sehat betul?
[10] Sudah, Raja. Hamba mohon ampun
[11] Siapa namamu?
[12] Kamu
[13] Kamu ikut aku sekarang.
[14] Mohon maaf.
[15] Apa bisa
[16] Sudahlah. Nurut apa kataku.
[17] Baik, Mbak. Saya coba.
[18] Enak banget ini aromanya. Pasti masakannya Yu Sidhe.
[19] Apa? Orang aku gak masak apa-apa. Itu lho si Arum.
[20] Beneran, Mbak?
[21] Nanti saja di rumah. Jangan sekarang.
[22] Ada menu baru, sepertinya enak.
[23] Hmm enak. Bumbunya kental. Wah, masakan Yu Sidhe makin enak aja.
[24] Aku mau masakan barumu itu.
[25] Ya sudah aku ikut mencicipi.
[26] Sini cepat.
[27] Ada apa, Mbak? Saya ada salah?
[28] Tidak
[29] Sini, Rum. Duduk dulu.
[30] Jadi begini
[31] Saya tidak mengerti
[32] Tidak bisa ikut campur.
[33] Titah Raja bagaimana?
