Kali ini saya mulai menasbihkan diri sebagai pembaca dan penggemar baru karya Bu Leila S Chudori. Setelah membaca novel Pulang hasil pinjaman dari teman kuliah saya beberapa tahun lalu (Terima kasih banyak, Yeni), rasanya tidak perlu pikir panjang untuk ikut pra-pesan ketika sosok Segara Alam akan diceritakan panjang lebar dalam novel Namaku Alam. Persis seperti namanya, Segara, yang berarti laut, sosok Alam masih menyimpan banyak sekali sudut-sudut tak terjamah yang menunggu untuk terkuak. Masih banyak perasaan, pengalaman, dan kisah-kisahnya belum memiliki nama yang tepat. Tersembunyi seperti jutaan organisme kehidupan dalam laut menunggu untuk diklasifikasi, diberi nama, dan diberitakan pada khalayak luas. Angka 1 di punggung buku tentu layak disematkan, karena memang untuk menguak Segara tak akan cukup dituangkan dalam satu buku saja.
Novel Namaku Alam menceritakan tentang sosok Segara Alam -anak bungsu Hananto Prawiro dari novel Pulang- lebih banyak dan mendalam. Di novel Pulang kita bisa menemui Alam yang sudah dewasa, dalam Namaku Alam kita diberi kesempatan untuk menelisik kehidupan seorang Segara Alam dari masa kecilnya.
Judul Namaku Alam menurut saya menjadi satu pernyataan tegas. Bahwa kisah sepanjang 424 halaman –dan masih akan berlanjut ke bagian kedua– adalah milik Alam saja. Dan kita, para pembaca, diijinkan untuk meniti kisahnya tanpa bisa berhenti sejak halaman pertama. Bu Leila sangat cerdik mengemas Namaku Alam seperti sebuah buku harian seorang Segara Alam. Penggunaan sudut pandang Alam sebagai pencerita, ditambah dengan potongan tulisan buku harian Alam, membuat novel ini berhasil menarik simpati saya seperti membaca buku harian sahabat dekat saya sendiri.
Tidak seperti buku harian remaja pada umumnya yang banyak menceritakan keseharian dengan teman-teman di sekolah, serta romansa anak muda, buku harian Alam ibarat menyajikan harta karun. Ada cerita masa kecil, trauma masa lalu, sejarah bangsa, dan dinamika keluarga tapol yang berjuang tetap hidup di tengah-tengah masyarakat. Novel Namaku Alam terkesan seperti perpaduan antara biografi, jurnal, dan pengetahuan sejarah. Inilah penyebab mengapa sejak halaman pertama saya susah sekali meletakkan novel ini. Kalaupun sempat saya letakkan, pikiran saya masih terus membayangkan apa yang akan terjadi pada Alam selanjutnya? Cerita apa lagi yang akan terkuak dari kehidupannya?
Kalau photographic memory adalah kutukan bagi Alam, maka bagi pembaca adalah sebuah anugerah. Detail, detail, dan detail. Tulisan buku harian Segara Alam begitu detail membuat kami harus membayangkan banyak aroma hingga teror. Ada rasa kengerian mengimajinasikan kebengisan aparat masa orde baru yang terus mengintimidasi keluarga Alam dan orang-orang di sekitar mereka.
Sastra dan musik bukan sekadar kekenesan, melainkan “bagian dari darah dan oksigen kita”, demikian kata Yu Kenanga.
Demi menyelami sosok Segara Alam lebih dalam, saya ingin membuat playlist lagu-lagu kesukaannya –ternyata sudah ada yang membuat playlistnya di spotify– dan ingin sekali memenuhi rak buku saya dengan daftar buku-buku kepunyaan Alam. Bu Leila memberikan tribute yang manis untuk sosok seperti Pramoedya, Kosasih, George Orwell dan masih banyak penulis lain, lewat narasi bagaimana Alam begitu menyanjung dan menghargai karya mereka. Sebagai kelahiran tahun 90an, saya jadi penasaran ingin membaca komik maupun buku-buku dalam Namaku Alam yang terdengar asing bagi saya.
Tak kalah seru untuk meniti puluhan judul lagu-lagu lawas yang juga banyak disebutkan. Sembari membaca lagi adegan-adegannya supaya mendapatkan imajinasi yang lebih nyata. Tokoh Dan (Mark Ruffalo) dalam film Begin Again pernah berkata di salah satu dialognya bersama Greta (Keira Knightly) bahwa ‘kamu bisa menebak kepribadian seseorang hanya dengan melihat playlist lagunya’. Dari The Beatles, David Bowie, Bob Dylan sampai Koes Plus, Alam dengan senang hati berbagi selera musiknya pada kita semua para pembaca. Seandainya saya bisa berkenalan langsung dengan Alam di dunia nyata, saya akan menganggap Alam sebagai sosok yang serius, humanis, sekaligus romantis. Ya, jika dilihat dari lagu-lagu kesukaan Segara Alam.
Namaku Alam adalah sisi lain dari peristiwa ’65. Tentang cerita sejarah yang tersembunyi serta penuh misteri. Saya yakin banyak sekali Segara Alam di kehidupan nyata yang memiliki rasa trauma tersebut, saksi hidup dari sejarah kelam bangsa ini, dan sungguhan berjuang untuk tetap hidup di tengah-tengah masyarakat. Bu Leila S. Chudori menyajikan potongan kecil kisah tersebut dengan luwes, intim, namun tegas. Setelah membaca novel ini saya haus ingin mencari novel-novel dari penulis Indonesia lainnya yang mengambil latar peristiwa ’65.
Novel Namaku Alam seperti ensiklopedi lengkap. Saya dibawa menyelami karya sastra, musik, dunia seni lukis, sejarah kelam, episode trauma, hingga belajar karate. Perjalanan menyelami segara-nya Alam ini pun masih akan berlanjut di buku kedua yang kabarnya sudah masuk dalam proses penulisan oleh Bu Leila. Mungkin –dan tentu saja kami semua berharap– masih banyak lagi potongan cerita kehidupan Alam yang berlum terkuak, menunggu untuk dikunjungi, dan diberi ribuan kesan oleh kami para pembaca setia.