• Judul Novel : Tanpa Rencana
  • Penulis : Dee Lestari
  • Tahun Terbit : 2024
  • Resensi oleh : Febriyanti P

Saya sudah menjadi penggemar karya Dee Lestari kira-kira sejak pertama kali membaca novel Perahu Kertas di sekitar tahun 2009 atau 2010. Sejak saat itu saya begitu mengagumi bagaimana Dee menyajikan lanskap cerita dalam novelnya begitu detail, terstruktur, sampai-sampai saya mempercayai bahwa kehidupan dalam cerita-ceritanya adalah nyata dan begitu dekat. Baru di tahun 2020 ketika Dee Lestari pertama kali menyelenggarakan workshop menulis bertajuk Kaizen Writing secara online -yang dengan menggebu dan menguras tabungan saya langsung mendaftarkan diri- akhirnya saya mengetahui bagaimana proses membuat lanskap cerita itu begitu rumit dan membutuhkan tenaga ekstra serta pikiran yang berdedikasi penuh untuk menyusun kepingan cerita satu-persatu.

Setelah workshop itu berakhir, tiba-tiba saya merenungi kembali pilihan saya untuk serius menjadi penulis. Saya merasa kecil, tidak mampu, dan sungguh masih bodoh untuk bisa mencapai standar kepenulisan yang diajarkan Ibu Suri (panggilan sayang kami para penggemar beliau). Draft tulisan saya seketika langsung terlihat kacau, serampangan, tokoh-tokoh yang kurang motivasi, serta tujuan cerita yang tidak jelas. Berkali-kali akhirnya saya mendengarkan rekaman audio workshop tersebut demi menyempurnakan belasan draft tulisan saya. Semakin direvisi ternyata membuat saya semakin geli dengan tulisan saya sendiri. Tapi saya rasa ini pertanda bagus, sebuah pertanda bahwa pengetahuan mulai bertambah dan kepekaan melihat permasalahan mulai menajam. Dengan berkali-kali mengutuk diri sendiri, beberapa tulisan pun berhasil mencapai kata tamat. Wejangan penting dari Ibu Suri berhasil saya wujudkan, yakni capai kata tamat sebanyak-banyaknya.

Seri buku Rapijali yang rilis setelahnya membuat saya semakin kagum dengan kemampuan Ibu Suri menciptakan semesta cerita sepanjang tiga buku itu. Kemudian di tahun ini, sebuah gebrakan terjadi. Ibu Suri tiba-tiba mengumumkan akan merilis sebuah buku kumpulan cerita yang ia kerjakan secara spontan, tanpa rencana. Tidak bisa bohong, saya pun terhenyak! Apa-apaan ini! Setelah beliau berhasil membuat ratusan muridnya berpusing-pusing dengan materi workshopnya dan membuat kami terheran-heran betapa sulitnya membuat tulisan yang enak dibaca, tiba-tiba beliau mau menulis draft buku dengan dasar 'spontan' (uhuy!). Tapi setelah saya pikir, ya memang hanya Ibu Suri yang berhak begitu. Setelah belasan buku yang dirilis, beliau berhak menantang kemampuannya sendiri untuk merespon ide tanpa filter, tanpa struktur.

Berbulan-bulan berlalu, sampailah buku Tanpa Rencana di tangan saya. Dari ukuran buku, -dibandingkan Intelegensi Embun Pagi, Aroma Karsa, Rapijali Kembali- ini tentu lebih mudah dan cepat untuk ditamatkan. Dan seperti yang sudah diantisipasi, halaman demi halaman terus dibalik hingga tak sadar saya sudah sampai di pertengahan buku. Begitu lihainya Dee menghadirkan situasi cerita yang meski pendek namun meninggalkan kesan yang unik dan aneh. Aneh, karena di beberapa judul membuat saya percaya kisah itu nyata adanya, bukan fiksi.

Tiga judul favorit saya adalah Asam Garam, The Supernova Lounge, dan Surat Cinta di Botol Kaca. Tiga judul itu menimbulkan kesan yang berbeda-beda. Asam Garam berhasil membuat saya bengong dulu sekian menit sebelum lanjut membaca, karena premisnya yang sangat kuat. The Supernova Lounge berhasil membuat saya kangen bukan main dengan tokoh-tokoh serial Supernova, sampai saya keluarkan lagi buku Intelegensi Embun Pagi demi mengobati rindu itu. Surat Cinta di Botol Kaca begitu manis dan hangat tanpa adegan romantis yang berlebihan.

Beberapa kali saya juga terbahak ketika membaca cerita Kepada Suhail di Kota Batu. Saya yakin itu adalah pengalaman Ibu Suri sendiri saat berada di Oman. Membayangkan bagaimana wajah Ibu Suri yang berjungkir balik memenuhi itinerary dari Suhail saya sudah menjadi alasan saya untuk terbahak -Maafkan aku, Bu Suri-. Dan gongnya adalah ketika saya sampai di cerita Transendensi Ampas Insani yang seketika membuat saya berteriak TAI! KOK BISA-BISANYA BIKIN CERITA DARI TAI! ASTAGAAA!

Saya setuju dan bersyukur bahwa buku Tanpa Rencana ini rilis sebelum Ibu Suri akan berkutat dengan cerita Jati dan Suma di Lawu. Bisa terlihat dari kumpulan tulisannya di Tanpa Rencana bahwa ini adalah bentuk pemanasannya Ibu Suri untuk masuk lagi ke semesta sekuel Aroma Karsa. Beliau begitu lihai, bersenang-senang, hingga memuntahkan segala emosinya ke dalam 18 judul cerita ini. Ini adalah wahana yang menyenangkan bagi pembaca dan munkin bagi Ibu Suri sendiri. Saya betulan berharap bahwa Tanpa Rencana ini menjadi wadah menuangkan segala surplus ide di kepala Ibu Suri, agar ruang idenya kembali lengang, dibersihkan, dirapikan kembali setiap sudutnya, untuk menyambut sang ide selanjutnya.

#menungguaromakarsa2

Berlangganan

Jadilah pembaca setia Filolofi.com dan dapatkan pemberitahuan 
tentang judul cerita terbaru langsung ke emailmu!
Filolofi adalah platform cerita bersambung hasil karya dari beberapa penulis yang dipublikasikan berbasis website sehingga dapat diakses langsung oleh pembaca. Judul atau bagian terbaru akan terbit setiap minggu. Pastikan untuk menjadi pembaca setia Filolofi dan nantikan kisah-kisah menarik setiap minggunya.
Follow
3088
Total Visitors
users