Lukman menyolek bahu si penjual ronde. “Tambah isinya 3 lagi.” pintanya seraya menyodorkan mangkuk. Penjual ronde menyendok tiga bulatan kenyal dan menuangkan ke mangkuk Lukman.
Pas, batin Lukman. Kini ronde di tangannya sama persis dengan bayangan semangkuk ronde buatan ibunya. Ia kembali ke kursi plastiknya sebelah Robi dan perlahan mulai menyesap kuah ronde. Lagi-lagi, belum ada yang bisa menandingi level wedang ronde buatan ibunya, Ronde Rindu.
“Trus sekarang lu mau gimana, Man?” tanya Robi khawatir. “Nuntut? Kirim somasi? Pake UU ITE? Gak punya banyak duit kita, Man.”
Muka Lukman masih ketus seraya menggigit gemas bulatan kenyal yang begitu licin dan alot. “Minimal gue tonjok lah itu mulutnya Ronald sampe dia gak bisa makan lagi.” Akhirnya gigi geraham Lukman berhasil mencincang bulatan ronde yang terlalu alot itu. “Biar gak bisa cari duit lagi tu selebgram taik!”
Robi menghela napas. “Lu gak bisa gegabah gitu. Jangan sampe lu kena juga. Tau sendiri followers dia ngeri, Man. Bukan cuma jumlahnya, tapi kelakuannya juga ngeri. Mau tingkah si Ronald bajingan kayak gimana juga bakal dibelain tuh sama followersnya.”
Masih sisa tiga bulatan lagi di mangkuk Lukman. Tapi rahangnya cukup lelah setelah berusaha menggilas tiga bulatan sebelumnya. “Ronde kayak gini mungkin yang cocok buat mulutnya Ronald.” Gumamnya.
Robi menyenggol lengan Lukman, takut-takut si penjual ronde mendengar ucapan Lukman barusan.
“Jungkir balik nyokap berjuang ngurus resto keluarga gue setelah pandemi. Itu resep ronde turun-temurun sampe empat generasi. Terus sekarang reputasi resto keluarga gue ancur gara-gara mulut Ronald gak bisa bedain mana ronde pinggir jalan mana ronde legend.” Lukman menyerah, ia tak menghabiskan rondenya.
“Yah… emang dia foodvlogger modal bacot doang. Gak bakal paham dia soal ilmu kuliner, Man. Pokoknya enak buat dia ya bakal ngomong tuh enak banget mau meninggal, bla bla bla…”
Tatapan Lukman kosong. “Gue makin pengen pulang, Rob. Nyokap gue pasti sedih banget.” Ia menghela napas. “Tapi cuti gue gak diapprove lagi.”
“Udah lu telpon?”
“Udah. Ya bilangnya sih baik-baik aja. Tapi mana ada orang tua ngaku ke anaknya kalo lagi terpuruk kan.”
Robi mengangguk setuju. “Ya udah, biar dapet cuti, kita kelarin kerjaan kita sampe akhir bulan. Ntar gue temeni lu pulang deh. Yok!” ia meraih ranselnya.
Lukman berdiri mengikuti Robi.
Lagi-lagi Lukman tak bisa menahan jarinya untuk tidak membuka konten Ronald lagi. Ia mengetuk satu thumbnail video youtube dengan judul “Jogja Muanis”. Ia langsung scroll ke kolom komentar. Jumlah komentar di video itu sepertinya sudah semakin bertambah.
-Iya lagi, kalo di Jogja beneran gak pernah nyoba makan warung-warung lokal. Manis semua anjir.
-Menyala diabeteskuuu!
-Itu ronde juga manis banget. Padahal kudunya kayak wedang jahe gitu gak sih.
-Lu kalo gak suka makanan manis ya ngapain ke Jogja sih, Nal. Heran.
Makin membaca, Lukman makin membayangkan ibunya. Betapa usaha ibunya kini sia-sia hanya karena review dari Ronald yang asal-asalan. Lukman melempar handphonenya ke kasur. Ia menarik napas dalam-dalam. Bersamaan dengan helaan napasnya, Lukman meraih laptop dan membuka satu halaman kosong microsoft word. Lama ia menatap kursor yang berkedip-kedip. Hingga akhirnya ia mengetik satu kalimat, SURAT PENGUNDURAN DIRI.
RESTORAN SEHATI. Lukman membaca papan nama restoran keluarganya dengan hati tak keruan. Ia melihat ibunya sedang duduk di kursi kasir. Terlihat hanya ada satu pelanggan kali ini. Lukman menyeret dua koper dan menggendong satu ransel besarnya. Entah apa yang harus ia katakan kepada ibunya setelah ini.
“Lho, Lukman? Lukman itu?” Ibu beranjak dari kursi kayu. Menatap pintu masuk restoran dengan bingung.
Lukman menghambur ke pelukan ibunya.
“Kok… kamu tiba-tiba pulang, Cah Bagus?”
Setengah mati Lukman menahan air matanya hingga membuat suaranya bergetar. “Kangen, Bu.”
Ibunya seperti mengerti apa yang membuat Lukman seperti ini. Ia hanya menghela napas dan menepuk pundak Lukman. “Yo wes, masuk dulu. Beresin bawaanmu.”
Lukman masuk ke kamar lamanya. Kamar yang tak pernah berubah meski sudah bertahun-tahun Lukman merantau. Ia bergegas menutup pintu dan membongkar bawaannya. Ibunya belum tahu kalo Lukman sudah resign dari kantor dan mengembalikan kunci kos. Entah mengapa ia tiba-tiba bertekad sangat bulat untuk kembali ke Jogja saja. Meninggalkan semua jerih payah dan karirnya di Jakarta.
Pikiran Lukman begitu penuh hingga suara ketukan pintu menyadarkannya kembali. “Man, ayo makan dulu.” ucap ibunya.
“Nggih, Bu.”
Lukman menarik napas dalam-dalam. Ia menyusul duduk di meja makan. Ibunya sibuk menyendok nasi dan beberapa lauk ke piring. Tanpa Lukman lihat pun ia tahu betul mata ibunya tertuju ke dirinya. Intuisi terhebat ibunya yang entah kenapa sampai sekarang masih tak pernah berubah atau berkurang kemampuannya.
“Bawaanmu banyak sekali itu. Mau pulang berapa lama emangnya?”
Lukman berdeham, ia menyantap suapan pertamanya. Ibunya kini duduk tepat di hadapan Lukman. Lukman semakin susah menyembunyikan kegelisahannya.
“Lukman…”
“Lukman resign, Bu.” Akhirnya Lukman mengatakannya. “Semua barang-barang di kos Jakarta udah dikirim ke sini. Masih di perjalanan. Lukman… mau tinggal di sini saja sama ibu.”
Lukman memberanikan diri menatap ibunya. Raut wajah ibunya masih susah ia prediksi.
Ibu meletakkan sendoknya. Matanya lurus menatap Lukman. “Ngopo toh kowe iki, Man.” Nadanya ketus. “Gara-gara video review itu?”
Lukman sudah betul-betul kehilangan selera makannya. Kalau ibu sudah berbicara dengan nada rendah dan pendek-pendek seperti ini. Berarti beliau sungguhan marah besar. “Video itu keterlaluan, Bu. Bikin hancur restoran kita.”
“Kowe yang berlebihan.” tukas ibu. “Restoran kita udah lama melewati masa sulit sejak bapak meninggal dan pandemi. Ibu cuma berpikir siapa tahu memang rasa masakan kita gak seenak dulu. Siapa tau orang itu emang bener.”
“Nggak, Bu.” Lukman menggeleng tegas. “Orang itu cari sensasi, cari masalah. Sekarang usaha ibu sia-sia gara-gara mulut dia toh.”
“Memangnya sekarang kamu mau berbuat apa, Lukman?”
Pertanyaan yang sempat ditanyakan Robi padanya, kini ia dengar lagi dari ibunya. Dan lagi-lagi, Lukman masih belum tahu harus melakukan apa. “Pokoknya Lukman mau di sini dulu sama ibu.”
“Mesti ora dipikir sek. Kamu meninggalkan pekerjaanmu, terus di sini kamu mau kerja apa?”
“Ibu gak seneng tho aku pulang?”
Mata Ibu masih lurus menatap Lukman. “Ibu gak seneng kamu plin-plan, Man!” tegasnya. “Ibu gak seneng kamu selalu ceroboh ambil keputusan.”
Lukman memang tidak pernah suka dengan cara bicara ibunya yang selalu blak-blakan. Tapi ia selalu mengakui bahwa semua perkataan ibunya benar dan jitu.
“Sudah berapa kali ibu bilang, ibu gak apa-apa. Kamu fokus saja sama diri kamu sendiri. Lagian video viral begitu kan pasti akan jadi angin lalu juga.”
“Tapi sekarang anginnya masih badai, Bu. Lukman cuma pengen nemeni ibu ngelewati badai, bareng-bareng…” Lukman menahan air matanya.
Ibu mulai luluh. Ia memang tak pernah suka dikasihani, apalagi dikasihani oleh anak sendiri. Tubuhnya selalu tegap dan suaranya selalu tegas menghadapi masalah apapun. Kini ia sadar bahwa masalah yang menerpa bisnis restorannya, mungkin saja menjadi jalan untuk memperbaiki
hubungan dengan Lukman.
Lukman diam-diam mengusap air matanya, namun mata ibunya lebih cepat menangkap gerak-gerik itu.
Ibunya bangkit dari kursi makan dan mendekap Lukman. “Yowes, yowes…” tangannya memegang kedua pipi Lukman. Menatap lekat-lekat kedua mata anaknya. “Kalo memang itu yang kamu pengen, kita lewati badai ini. Bareng-bareng.”
“Anjing ya lu, Man! Bisa-bisanya lu resign gitu aja langsung cabut dari kantor gak ngabarin gue!” Suara Robi menggema dari pengeras suara.
“Sori, Rob. Udah gak tahan gue. Sisa kerjaan yang belum kelar bakal tetep gue kerjain kok dari sini.”
“Ya jangan sampe gak lu kerjain, gila apa! Kenapa dadakan banget sih?”
Lukman terdiam sejenak. “Karena waktunya udah pas.”
Tak ada jawaban dari Robi. Hanya terdengar helaan napas pendek. “Ya udah, terserah lu. Akhir bulan gue liburan ke Jogja deh mampir rumah lu.”
“Ngapain?”
“Gebukin lu!” teriak Robi.
Lukman tertawa kecil. “Iyeee! Gue pasrah deh mau lu gebukin kayak gimana juga.”
Panggilan dari Robi langsung tertutup dan pagi itu pun Lukman memulai apa yang sudah ia rencanakan di dalam kepalanya sejak semalam. Layar laptopnya bergeser ke menu google maps, mengetik Restoran Sehati Jogja di kolom pencarian. Tak berlama-lama ia klik menu review yang kini banjir bintang dua bahkan bintang satu dari banyak orang entah siapa, yang Lukman yakin mereka adalah pengikut si selebgram Ronald itu. Hatinya panas, kepalanya mendidih, tapi Lukman sadar ia harus tetap mengandalkan otaknya untuk fokus pada permasalahan.
Tangan Lukman mengarahkan kursor menambah laman pencarian baru. Kini muncullah kolom komentar Youtube dan Instagram dari Ronald dan Restoran Sehati. Ia sadar sudah terlalu lama akun-akun sosial media restorannya tidak terurus dengan baik. Lukman berpindah fokus ke selembar kertas putih di samping laptopnya. Ia cekatan menggambar bagan-bagan yang diperlukan untuk merapikan rencananya. Di bagian atas ia menuliskan satu kalimat berukuran besar RENCANA PENYELAMATAN RESTORAN SEHATI.
Lama Lukman berkutat dengan proyek kecilnya hingga ia tak sadar ibunya sudah bolak-balik menyusun piring makanan di meja itu.
Sesekali ibunya melirik Lukman, “Memangnya kita abis kena gempa? Kok sampe perlu diselamatkan.” telunjuk ibu menunjuk catatan Lukman.
“Ya iya lah, Bu. Lebih parah dari gempa. Tuh liat, reputasi kita di sosmed hancur, Bu.” Lukman menyodorkan layar laptopnya.
Alis ibunya hanya bertaut, wajahnya kebingungan. “Yah, berarti tugasmu membereskan yang ada di dunia internet, ibu yang beresin di dunia nyata.” Ibu duduk di hadapan Lukman.
Lukman melirik ibunya skeptis. “Kayaknya ibu santai-santai aja gak ada usaha apa-apa.”
“Menurutmu… kita harus gimana?”
“Rebranding besar-besaran, Bu. Promonya mulai dikencengin. Kalo perlu kita renov restoran juga sedikit-sedikit.”
Ibunya hanya tertawa geli. “Uangnya dari mana?”
Kepala Lukman otomatis mengingat angka-angka yang tertera di beberapa rekeningnya. “Lukman ada uang, Bu. Tenang saja.”
Ibunya menggeleng. “Kamu itu pengangguran. Uang yang kamu punya sekarang ya buat peganganmu hidup sampai kamu dapet kerjaan lagi. Ibu gak setuju kalo uangmu buat urusan restoran.”
Lukman mendesah. Ia meraih laptopnya lagi dan kembali berkutat dengan diam. “Waktu si Ronald kemari, ibu tanya gak dia tahu tempat ini darimana?”
Kedua mata ibu menatap langit-langit berusaha mengingat. “Kayaknya dia bilang ada yang kasih tahu suruh kesini.”
“Dia bilang siapa?”
“Dari fol… apa ya…”
“Dari followersnya? followers di instagram?”
“Iya itu lah mungkin. Ibu ya gak ngerti.”
Lukman terdiam sejenak. Seingatnya, Ronald tidak pernah menyebut ada pengikutnya yang menyarankan untuk datang kemari. Tapi bagi Lukman memang sudah mencurigakan sejak awal. Harusnya restoran keluarganya tidak terdeteksi oleh radar Ronald mengingat menu-menu Restoran Sehati yang jauh dari selera makanan Ronald di puluhan video sebelumnya. Lukman mengusap wajahnya.
“Gak perlu langsung nemu ide hari ini, Man. Gak usah buru-buru. Nikmati dulu suasana di rumah, jalan-jalan sekitar sini, ketemu orang-orang biar mereka tahu kalo kamu udah pulang. Urusan restoran gak ada deadlinenya kok.”
Lukman tertawa. “Ibu tahu deadline?”
“Tahu lah.” Ibu berdiri dan kembali ke dapur.
Lukman membereskan laptop dan catatannya.
Sore itu Lukman mengeluarkan motor Tossa restorannya. Tak ada pilihan kendaraan lain selain motor pick up Tossa ini untuk jalan-jalan keliling desa. Berjalan kaki atau berlari jelas tidak akan masuk pertimbangan Lukman mengingat betapa jarangnya tubuhnya berolahraga. Suara Tossa langsung menggelegar, tangan Lukman menarik gas dan melajulah ia melewati jalanan desa.
Terlihat jelas jumlah sawah yang berkurang tergantikan oleh pembangunan rumah-rumah dan ruko-ruko modern. Jalanan yang lebih mulus dilewati dan lampu jalan yang jumlahnya sudah bertambah. Entah apakah orang yang ia kenal di desa ini juga mulai berkurang jumlahnya atau justru masih tetap seperti yang ia ingat waktu sekolah.
“Man!” suara teriakan laki-laki terdengar tak tahu dari mana. Lukman menoleh kesana-kemari sambil menarik rem mendadak.
Akhirnya si empunya suara berhasil ditemukan Lukman. Ia berjalan mendekat ke arah Lukman sambil membawa celurit di tangan kanannya. Wajah yang mulai terlihat jelas itu langsung mengaktifkan memori Lukman. Mulutnya pun membuka O lebar-lebar. “Oooh, Pakdhe! Ngapunten Pakdhe,” kikuk Lukman menunjuk kedua matanya. “Gak pake kacamata. Gak keliatan.” ia menyengir canggung. “Sehat, Pakdhe?”
“Yo sehat toh!” Tangan kanannya menepuk pundak Lukman dengan celurit. “Mulai kapan di sini? Lagi liburan?”
Takut-takut Lukman melirik celurit Pakdhe Suhar. “Mulai kemaren, Pakdhe. Iya lagi pengen pulang.”
“Oalah, kok ibumu ora cerito ya nek kowe muleh. Mampiro omah. Budhemu mesti seneng ngerti kowe muleh.”
“Nggih, Pakdhe. Besok mampir sama ibu nggih.”
“Yowes, aku langsung nyawah sek yo, Le. Ojo lali dolan omah lho.”
“Nggih, Pakdhe.”
Pakdhe Suhar kembali ke motornya. “Mampiro Hari pisan, Le. Bar panen wong’e.”
“Nggiiih!” teriak Lukman lagi.
Pakdhe Suhar adalah teman baik ayah Lukman. Sepanjang ingatannya, ayahnya hanya punya dua teman baik di sini. Pakdhe Suhar dan Om Hari. Lukman kecil justru takut dengan Pakdhe Suhar karena perawakannya yang memang besar dan sangar. Sampai detik ini pun terlihat kesangarannya tidak pernah luntur di mata Lukman. Berbeda dengan Om Hari yang ramah dengan sepasang mata teduh yang selalu menenangkan siapapun yang ditatapnya. Ayah Lukman sering bilang, “Nek Suhar iki mesti bagian ngompor-ngompori, nah seng ngadem-ngademi bagiane Hari.” Ketika ayahnya dilanda masalah, kedua karibnya itulah yang maju paling depan. Seringnya Om Hari lebih dulu mencoba menyelesaikan baik-baik. Kalau tidak selesai, Pakdhe Suharlah yang tidak segan menyelesaikannya dengan tinju.
Sepeninggal ayahnya, Pakdhe Suhar dan Om Hari juga yang berinisiatif melindungi seluruh aset tanah keluarga Lukman agar tidak disalahgunakan. Mereka berdua memastikan sawah keluarga Lukman tetap produktif, baik diolah sendiri ataupun disewakan. Tentu saja hasilnya semua dikembalikan untuk keluarga Lukman. Lukman sangat bersyukur Pakdhe Suhar dan Om Hari mengambil peran yang mungkin seharusnya ia emban sebagai anak. Di saat ia harus pergi merantau.
Lukman melaju lagi menuju jalan utama desa. Ia belum tahu harus kemana lagi. Saran untuk pergi ke rumah Om Hari sepertinya tak terlalu buruk. Lagipula Pakdhe Suhar berhasil memantik satu ingatannya tentang seseorang yang lama tak ia temui, dan orang itu ada di rumah Om Hari.
Warna cat rumah Om Hari ternyata sudah berbeda dari terakhir kali Lukman kesana, kira-kira delapan tahun yang lalu. Kini rumah itu bernuansa putih gading. Terlihat bersih dan rapi namun tetap sederhana. Sosok perempuan terlihat sedang menyapu halaman rumah. Lukman terkejut sejenak. Suara tossanya berhasil menarik perhatian perempuan itu. Ia menatap Lukman bingung.
Lukman menyengir kikuk. “May.” sapanya pendek.
“Lho?” Maya menunjuk Lukman ragu. “Lukman?”
Lukman mengangguk antusias. Ia lompat turun dari tossa. Ia ingin memeluk Maya tapi tidak jadi.
“Kok… kamu tiba-tiba di sini?” Maya masih berusaha mencerna.
“Iya aku lagi pulang. Baru kemarin sampe.”
Maya tertawa kecil. “Akhirnya tahu jalan pulang juga ya.”
“Sopo, Nok?” suara serak Om Hari terdengar dari ruang tamu.
“Lukman, Pak.”
Om Hari melongok ke luar dan kaget bukan main melihat Lukman ada di halaman rumahnya. “Ya Allah, Lukman!”
Lukman langsung mencium tangan Om Hari. “Sehat, Om?”
“Sehat. Kowe kok gak kabar-kabar toh nek lagi muleh?”
“Dadakan, Om. Baru juga nyampe kemarin.”
“Ono acara opo kok muleh?”
Lukman berdeham. “Pengen pulang aja, Om. Mengurus sesuatu.”
Maya tertunduk. Om Hari mengangguk mengerti. “Ibumu pasti seneng kowe muleh. Temani ibumu sek yo. Biar ibumu semangat lagi.”
Lukman mengangguk mantap.
“Ayo ayo mlebu sek. Nok gawe wedhang karo jajan ya.”
“Mboten repot-repot, Om.”
“Halah koyok karo sopo ae kowe iki.” Om Hari menarik lengan Lukman, mengajaknya masuk ke rumah.
Maya bergegas menuju dapur.
“Ibune Maya sek lagi ning pasar. Bentar lagi paling udah pulang. Ditunggu sek yo?”
“Lagi rame pesenan toh, Om?”
“Alhamdulillah. Sejak bulan lalu Ibune Maya kok yo rame pesenan masak. Dadi podo sibuk ndek omah kabeh. Sempet sesekali ngajak ibumu pisan buat bantu-bantu.”
Lukman tersenyum. “Matur nuwun ya, Om. Sudah banyak bantu ibu.”
Om Hari mengibaskan tangannya. “Sodara sudah seharusnya bantu.”
Maya keluar dari dapur membawa dua gelas teh dan toples-toples kue kering.
“Nah, kalo ini hasil karyanya Maya, Man. Jualan anyar iki.” Om Hari menunjuk kue kering yang dibawa Maya.
“Ssh, bapak ah.” Maya tersipu.
Lukman terkejut. “Oya?”
Om Hari tertawa lebar. “Nah, coba kowe icip dulu. Enak gak kue buatannya Maya ini.”
Lukman mengambil satu kue kering berwarna cokelat keemasan bertabur parutan keju dan gula aren. Bentuknya meliuk seperti keong. Ia memasukkannya langsung ke mulut, yang terasa lumer dan lembut tanpa susah payah mengunyah. “Hmmm, lembut banget kuenya, May. Enak.” puji Lukman tulus.
Maya tertawa kecil. “Masih belajar kok, Man.”
“Nah, kalo enak, mulai lebaran tahun ini mau jualan lebih banyak, Man. Nanti kamu bantu jualin yo?” kata Om Hari semangat.
“Nggih, Om. Tenang aja. Pasti ta’bantuin.”
Maya terseyum.
Lukman baru memasuki halaman rumahnya lagi ketika suara adzan magrib mengumandang lantang. Ia membawa satu kresek besar berisi dua toples kue kering, sebungkus brongkos, dan sesisir pisang raja.
“Opo kuwi, Man?”
Lukman meletakkan kresek besar itu di meja makan. “Dari Om Hari.”
“Oalaaah, kok repot-repot to Lek Hari.”
“Awalnya udah kutolak lho, Bu. Om Hari malah naruh sendiri kreseknya ke bak tossa.”
Ibu Lukman geleng-geleng kepala. “Ya sudah ayo kita makan saja. Biar jadi pahala buat Lek Hari.”
Tiba-tiba handphone Lukman berbunyi nyaring tanda telepon masuk. Dari Robi.
“Halo, Rob?”
“Eh, udah cek youtube belom?”
“Ada apaan?”
“Episode podcastnya Denny yang baru, ngundang si Ronald. Dia klarifikasi soal kontennya yang rame kemaren. Kayaknya dia juga ngomongin soal restoran nyokap lu.”
Lukman bergegas membuka laptopnya dan mencari video yang dimaksud Robi.
Di video itu hanya ada Ronald dan Denny si host. Melihat huru-hara yang melibatkan Ronald akhir-akhir ini, tak heran Denny berusaha mendulang antusiasme netizen untuk menjadi angka views dan subscribe channelnya.
“Nald… gimana kabar lo, Nald?”
“Pusing, Om.” keluh Ronald.
Terlihat Denny tertawa kencang. “Lo mah pusing karena kebanyakan makan. Kolesterol lo naik tuh!”
“Pusing… Pusing taik kucing lah!” gumam Lukman. Iya memencet tombol forward berkali-kali. Tak sudi mendengar banyak celotehan dari Ronald.
“Gue tuh sampe diboikot, Om Den!”
“Oh ya?”
“Iya, jadi perkumpulan pengusaha F&B di jogja boikot gue supaya gak review resto-resto di sana lagi. Maksud gue gini lho, gue tu punya channel ini kan juga buat pekerjaan. Jadi pasti ada yang hire gue untuk review resto mereka, atau untuk review resto kompetitor mereka. Jadi seringkali opini gue itu karena dibayar, Om.”
“Ha? Bentar… bentar… gue lurusin dulu nih. Jadi, kadang ada orang hire lo untuk kasih review buruk resto kompetitor mereka gitu?”
Di video terlihat Ronald ragu-ragu dan gelisah menjawabnya. “Yaaah, itu udah rahasia umum, Om. Mereka bayar gue mahal untuk ngereview resto mereka yang bagus-bagus, dan ngasih review gak enak ke lawan mereka. Wajar banget itu.”
Denny tertawa. “Wah, ini nih yang gue suka. Blak-blakan begini jadi seru nih. Berarti soal resto di jogja kemaren, yang sempet rame itu, itu karena pesenan orang juga?”
Ronald mengangguk. “Ya mungkin ada kompetitor dia yang lebih laris, makanya dia minta tolong gue buat ngereview resto tandingannya itu.”
Denny mulai tersenyum licik. Ia berbisik. “Boleh spill gak siapa yang hire lo?”
Ronald menjawab mantap. “Boleh!”
Denny kaget. “Ha? Serius lo?”
Ronald tak kalah serius. “Iya! Nama akunnya @arenboy”
Denny hanya geleng-geleng kepala. “Wah emang gila ni anak.”
“Gue berani spill soalnya itu second account dia.” seru Ronald jail. Ia pun tertawa puas.
“Ah sialan lo! Jelas aja berani spill, orang fake account!”
Keduanya tertawa terbahak.
Lukman menghentikan video. Ia segera membuka instagram dan mencari akun @arenboy di kolom pencarian. Hanya ada satu akun yang muncul. Akun tanpa profil picture. Ia membuka akun itu dan tentu saja hanya akun kosongan. Hanya ada satu foto yang diupload, tanpa followers, hanya mengikuti 11 akun. Ia mengecek daftar akun yang diikuti. Ada akun resto sehati dan akun Ronald. Lukman mendengus kesal. Ia melihat satu-satunya foto yang ada di tampilan feed @arenboy. Sebuah foto mug kusam berwarna hijau dengan gambar lukisan sapi pembajak sawah. Di bawahnya terlihat jelas tulisan tangan yang bertuliskan Sampir.
Lukman menghela napas. Ia merasa akan percuma untuk mencoba mengontak sosok @arenboy ini via direct message.
“Kenapa, Man?” tanya Ibu Lukman mengembalikan kesadaran Lukman.
Lukman menggeleng pelan. “Gak apa-apa, Bu. Pusing.” Ia beranjak dari kursi. Mengambil handuk dari jemuran dan segera masuk ke kamar mandi.
Lukman hendak menyalakan motor tossanya ketika ia melihat Maya baru saja keluar dari gerbang pasar membawa banyak sekali belanjaan. Sontak ia langsung berteriak memanggilnya.
“Maya! May …”
Maya mencari-cari asal suara. Ia sumringah ketika melihat siapa pemilik suara itu. “Eh, Man. Abis belanja juga?”
“Iya, belanjaan titipan Ibu. Bareng aku aja yok, masih cukup nih buat kamu sama belanjaanmu.”
“Beneran gapapa?”
“Ya gapapa, emangnya kenapa?”
“Aku tambah gendut, tambah berat.”
Lukman tertawa terbahak. “Amaaan. Yok, aku bantu bawain.” Tangannya bergegas mengangkat belanjaan Maya dan meletakkan ke dalam bak tossa. Tak lupa ia membantu Maya naik juga.
Lukman menarik gas, tossa itu pun melaju meninggalkan pasar induk.
“Kamu gak buru-buru kan, May?” teriak Lukman agar suaranya terdengar Maya yang duduk di belakang.
“Nggak sih. Kenapa, Man?” jawab Maya tak kalah lantang.
“Jalan-jalan dulu, yok. Aku pengen ke jembatan tempat kita biasa sepedaan dulu. Masih bagus gak ya?”
“Ya jelas lebih bagus dulu. Tapi gapapa kalo kamu penasaran pengen kesana.”
Lukman mengangguk puas. Ia membelokkan setirnya menuju perbatasan desa.
Jembatan yang Lukman maksud adalah jembatan gantung penghubung desa yang dilewati sungai jernih tak terlalu besar tapi tak pernah terlihat sampah di sana. Setidaknya itulah gambaran yang masih ia ingat di kepalanya.
Ternyata begitu sampai di jembatan. Gambaran di kepalanya tentang sungai itu sudah berubah. Kini airnya mulai keruh. Tak ada lagi anak-anak yang mandi di sana. Lebih parahnya di salah satu badan sungai justru menumpuk sampah warga.
“Kok … jadi gini sekarang, May?”
“Ya makanya kan udah kubilang lebih bagus dulu.” Maya ikut duduk di samping Lukman. Kini kaki keduanya menggantung di atas sungai sembari mereka duduk di tepi jembatan.
“Kamu beneran gak bakal balik jakarta, Man?” tanya Maya.
“Belum tau juga sih, May. Tapi yang jelas aku pengen di sini dulu nemeni ibu.”
Maya menatap Lukman. “Aku ikut sedih soal kejadian restomu ya, Man. Harusnya … Ronald gak perlu komen sejahat itu sih.”
Lukman tersenyum tipis. “Ternyata capek juga jadi viral.”
Maya menepuk pundak Lukman. “Tapi viral itu juga cepat berlalunya kok, Man. Setelah ini pasti mereda. Kamu dan ibumu bisa bangkit lagi dari awal.”
Lukman mengangguk pelan. Menyadari betapa jahatnya dunia maya. Setelah seseorang jatuh tersakiti, tidak butuh waktu lama perhatian semua orang akan berpindah pada orang-orang tersakiti lainnya.
“Ya meskipun aku gak tau harus memulai lagi dari mana. Tapi aku akan bantu ibu dan resto bangkit lagi. Setelah itu, baru kuputuskan aku akan kembali lagi ke jakarta atau nggak.”
Maya menunduk. “Padahal aku lebih seneng kalo kamu tetep tinggal di sini aja.”
Lukman menatap Maya. “Kenapa?” Ia memutar posisi duduknya, sepenuhnya menghadap Maya. “Kangen sama aku ya? Gak rela aku pergi lagi?” tanyanya jahil.
“Apaan sih, Man.” Maya mendengus kesal. “Bukan gituuu. Maksudnya aku di sini kan udah gak punya teman seumuran. Temen-temen kalo gak bocil-bocil ya temennya bapak ibu. Kalo ada kamu kan enak aku bisa minta anter jemput buat ke pasar.”
Lukman melengos. “Hmmm ada maunya ternyata.”
Maya menahan tawa.
Setelah matahari mulai meninggi dan terik, barulah mereka pulang. Lukman mengantar Maya, menurunkan belanjaan Maya dan membantunya membawa ke dapur.
“Taruh mana ini, May?”
“Taruh deket kompor aja, Man.” Tunjuk Maya ke salah satu sudut dapur.
Lukman mengusap keringat di dahinya.
“Makasih banyak ya, Man. Bentar aku ambilin minum dulu. Duduk situ di meja makan.”
Lukman menarik kursi meja makan dan duduk.
Maya memberikan segelas mug berisi air es markisa. “Ini es markisa buatanku, Man. Seger lho apalagi pas panas-panas gini.”
“Wah mantaaap.” Lukman langung meneguknya hingga setengah gelas.
Maya tertawa. “Enak kan?”
Lukman yang masih minum hanya mengancungkan jempolnya sambil bergumam.
“Sori ya pake gelas jelek gitu. Gelas di rumah pada dipinjemin ke RW buat acara hajatan.”
Lukman mengusap mulutnya. “Iya gak apa-ap …” Mulutnya seketika terkunci ketika ia melihat gelas mug di tangannya. Sepertinya gelas itu adalah satu-satunya gelas yang ia hapal betul detailnya sejak semalam. Sejak satu foto gelas mug berwarna hijau menjadi satu-satunya info tentang siapa yang membayar foodvlogger Ronald untuk menjatuhkan resto ibunya.
Kini, rasanya semesta tiba-tiba menyodorkan jawaban langsung ke tangannya. Gelas mug berwarna hijau kusam dengan lukisan sapi pembajak sawah. Ragu-ragu Lukman memutar sisi gelas itu. Ada sedikit harapan bahwa dugaannya salah. Tapi seketika ia menemukan tulisan tangan bertuliskan Sampir. Jantungnya terasa merosot. Ia melirik Maya yang masih sibuk memasak sesuatu di depan kompor.
Cepat-cepat tangan Lukman meraih handphonenya. Membuka aplikasi instagram, mencari lagi akun @arenboy di kolom pencariannya. Akun itu masih ada, foto mug itu masih ada. Matanya bergantian menatap layar handphone dan gelas mug ditangannya. Kedua tangannya gemetar. Ia berusaha menenangkan diri sejenak.
“Man, kamu sekalian makan di sini mau gak? Aku masakin ya? Cepet kok masaknya.” Maya berbalik menatap Lukman, menunggu jawaban. “Mau ya?” tanyanya lagi.
Wajah Lukman kini berbeda. Ia menatap Maya dengan perasaan sakit. “Jadi … arenboy itu kamu, May?”
Maya terlihat bingung. Ia tertawa. “Apaan sih, Man?”
“Arenboy, akun yang sewa Ronald buat kasih review jelek resto ibu. Itu kamu?”
Maya menggeleng pelan. “Man, aku gak ngerti maksudmu.”
Lukman segera berdiri dan menyodorkan mug di tangannya. “Ini gelasmu kan?”
“I-Iya, tapi apa hubungannya …”
Lukman kini menyodorkan layar handphonenya. “Foto gelas ini satu-satunya foto di akun arenboy. Ini gelas yang sama, aku yakin.”
Maya kehilangan kata-kata.
Mata Lukman mulai berkaca-kaca. “May … kenapa, May?”
Mulut Maya masih kehilangan kemampuan untuk bersuara. Terlihat sorot matanya berusaha untuk menjelaskan tapi tak tahu harus dari mana.
“May …” Lukman pun merasa hatinya remuk bukan main. Ia tak berkata apa-apa lagi. Kepalanya begitu lelah mencari-cari jawaban dengan cepat. Mengingat kesalahan masa lalu apa dari keluarganya yang mungkin sempat terlewat. Nihil. Ia tak menemukan alasan yang tepat mengapa Maya berbuat sejahat ini padanya keluarganya.
Tangan Lukman meletakkan gelas mug di atas meja makan. Ia tak ingin menatap Maya lagi.
“Lukman …” Suara Maya bergetar.
Lukman sudah tidak peduli. Ia berjalan menuju pintu.
“Bapak ibuku mau pisah, Man.” Ucap Maya akhirnya. Lukman menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Ia tetap memunggungi Maya.
“Bapak ibu sudah lama hidup sendiri-sendiri dan sempat berencana cerai.” lanjut Maya dengan terisak. “Aku sudah berusaha untuk tetap membujuk mereka tapi gak pernah berhasil. Bisnis bapak gak ada hasil, pekerjaan ibu cuma bikin ibu semakin jauh dari rumah. Aku pikir … bapak bisa minta pekerjaan ke ibumu. Tapi bapak gak mau. Malu katanya.”
Lukman masih berdiri di tempat yang sama. Mendengarkan setiap perkataan Maya.
“Jadi aku bilang ke Ronald untuk sedikit mengurangi pamor resto ibumu supaya bisnis catering ibu dan hasil tani bapak sedikit naik. Aku hanya minta sedikit, Man, aku gak nyangka kalo Ronald bakal hajar restomu sejahat itu. Aku juga sudah marah dan protes ke Ronald. tapi gak digubris sama sekali.” Maya menghapus air matanya. “Lukman … aku …”
Lukman tak berbalik. Ia berjalan begitu saja meninggalkan Maya yang masih menangis.
Lukman membawa kantong-kantong belanjaan ke dapur ketika semerbak aroma itu tercium hidungnya. Aroma kuah jahe khas yang menjadi menu andalan restoran keluarganya. Ronde Rindu. Lukman memejamkan mata. Ia berusaha menahan air matanya agar tak keluar.
“Lukman … sini.” Ujar ibunya menyuruh Lukman mendekat.
Lukman berdiri di samping ibunya. Melihat bahan-bahan dasar ronde yang sudah disiapkan dengan rapi. “Ibu pikir … mumpung kamu di sini agak lama. Gimana kalo kita bikin ronde lagi. Kamu juga mulai belajar resepnya yang bener. Biar … resepnya tetap ada dan gak terputus, Man. Pesen dari bapakmu begitu.”
Lukman tercekat. Tenggorokannya terasa sakit karena menahan tangis dan rasa marah yang begitu sesak. Juga rasa rindu pada bapaknya, ibunya, dan ronde rindu warisan keluarganya. Ia pun hanya bisa mengangguk patuh dan berusaha tersenyum.
Ibunya langsung sumringah. “Nah, jadi yang pertama bahan-bahannya ada dua. Untuk kuah, sama untuk isian.”
Lukman memakai celemek dan mengikuti setiap tahapan yang diajarkan ibunya.
Beberapa jam berlalu, Lukman menatap semangkuk ronde buatannya bersama ibu. Tangan ibunya mengambil satu sendok kecil, menyendok kuah ronde dan menyesapnya pelan. Kedua mata ibunya seketika terpejam. Sekian detik hingga akhirnya mata ibunya membuka kembali. Ia menatap Lukman dengan teduh.
“Ternyata masih sama, Man. Tangan ibu masih bisa membuat ronde keluarga kita. Gak ada sedikit pun rasanya yang berubah. Bahkan … mungkin yang ini lebih enak, karena ibu membuatnya sama kamu.” ucap ibu pelan. Ia menyerahkan sendok di tangannya pada Lukman.
Ragu-ragu Lukman menyendok kuah ronde. Ia meminumnya perlahan. Kehangatan jahe yang membasahi tenggorokannya seketika mengaktifkan banyak memori yang lama terkunci di kepalanya. Memori kakek-neneknya berjualan ronde dengan gerobak di pinggir jalan. Kenangan betapa bangga bapaknya akhirnya bisa membangun restorannya sendiri. Lukman kecil yang selalu meminta bulatan kenyal yang lebih banyak untuk rondenya. Semuanya berkelebat begitu cepat di kepala hingga melelehkan air mata jatuh ke pipi. Ia buru-buru mengusapnya, sembari menyendok satu bulatan kenyal dan melahapnya tanpa ragu. Ia mengangguk-angguk dan bergumam, “Ini enak sekali, Bu. Gak ada ronde lain di dunia ini yang bisa menandingi ronde kita. Ibu harus ingat itu.”
Ibu tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Lukman.
“Kita harus jual ini malam ini, Bu.”
Ibunya terkejut. “Malam ini? Kita belum siap apa-apa, Man. Ibu belum siapin menu yang lain.”
Lukman menggeleng. “Gak ada menu yang lain, Bu. Malam ini kita hanya jualan ronde. Kita keluarin gerobak ronde di gudang, kita jualan di depan restoran, di pinggir jalan. Sama seperti waktu eyang jualan dulu.”
Lukman buru-buru melepas celemek dan pergi ke gudang. Ibunya menatap punggung Lukman dengan senyum haru.
Lukman mengeluarkan gerobak kayu usang dari gudang restoran dengan susah payah. Menggunakan air dan sikat seadanya, ia menyikat setiap sudut dan sela gerobak. Kenangan-kenangan masa kecilnya pun perlahan tersibak seiring debu dan kotoran terkelupas dari gerobak. Tulisan tangan dan coretan Lukman kecil di samping gerobak yang masih terlihat jelas, warna kayu, juga retak dan goresan menandakan usia gerobak yang sedikit lebih tua dari Lukman. Setelah gerobak itu bersih, Lukman mendorongnya ke halaman restoran. Ia tersenyum bangga. Sepertinya malam ini akan seru, pikirnya.
Menjelang sore, Lukman dan ibunya mulai menata panci, tungku arang, dan toples-toples isian ronde ke dalam gerobak. Kesibukan mereka berdua mulai menarik perhatian para tetangga dan orang-orang yang lewat.
“Lho? Sampun dodolan maneh, Bu?” salah satu tetangga menyapa.
Ibu Lukman menjawab dengan riang. “Nggih, Bu. Tapi cuma jualan ronde aja, mampir nggih, Bu.”
“Lha ronde-ne njenengan sing paling top, Bu.” Ia menyeberangi jalan menghampiri gerobak. “Kulo tumbas sa’niki saget?”
Ibu menatap Lukman. “Wah, ini masih belum siap semua, Bu. Masih … “
“Saget, Bu. Saget! Sebentar nggih!” Sahut Lukman tiba-tiba. Ia berlari ke dalam restoran mengambil plastik kresek.
“Waduh, anak’e njenengan semangat banget dodolan, Bu.”
Ibu tertawa kecil.
Lukman kembali ke gerobak dan dengan cekatan mulai meracik ronde. “Tumbas pinten, Bu?”
“Siji wae, Nang.”
“Lha kok mung setunggal, Bu. Tigo, nggih? Diskon kagem njenengan pembeli pertama, Bu.”
Si tetangga itu tertawa kecil dan geleng-geleng kepala. “Iyo wes aku tuku telu. Itung-itung ngelarisi dagangane panjenengan, nggih to, Bu? Mugi laris lan berkah.” Ia menepuk pundak ibu Lukman.
“Nggih, Bu. Amin. Kulo kalo gak ditemeni sama cah bagus ini, mungkin gak semangat jualan lagi, Bu. Alhamdulillah ini anak lanang kulo satu-satunya mau nemeni di sini.”
Lukman memasukkan tiga bungkusan ronde ke dalam satu kresek besar. “Sampun, Bu. Nyuwun tulung kabari tetangga-tetangga yang lain nggih, Bu. Kalo ronde rindu sampun buka lagi mulai malam ini.”
“Iyo, Nang. Tenang wae, pasti ta’ewangi woro-woro.” Tiba-tiba ia mengeluarkan handphonenya dan mengambil foto gerobak. “Nah, iki ta’kabari grup wasap arisan karo pkk. Ben melu ngelarisi.”
“Matur nuwun, Bu. Matur nuwuuun sanget.” Ibu Lukman berterima kasih dengan tulus.
Lukman begitu menikmati apa yang terjadi ketika malam menjelang. Tetangga sekitar bergiliran mendatangi gerobak dan membeli berkantung-kantung ronde rindu. Tangan ibu Lukman tak henti menyendok kuah jahe dan isian ronde. Lukman sesekali mengambil gambar dan video untuk diunggah di akun instagram restoran sehati.
Tiba-tiba satu motor mendekat dan terparkir tepat di sebelah gerobak, Om Hari turun dari motor itu.
“Lho kok moro-moro wes dodolan maneh, Mbak Yu? Kok gak kabar-kabar, kan aku iso ngewangi.” ujarnya.
“Oalaaah, dadakan, Lek. Lukman iki lho moro-moro pengen ndang dodolan bengi iki.”
Lukman menghampiri dan mencium tangan Om Hari sopan. Ia berusaha bertingkah sewajarnya.
“Syukurlah, gawe nyemangati ibumu yo?”
Lukman mengangguk singkat.
“Maya kok ora melu, Lek?” tanya ibu Lukman.
Nama yang mengusik hati Lukman.
“Maya iki mau sambat loro. Meriang jare. Makane iki sekalian tuku ronde gawe Maya ben awake luwih penak.”
“Lho loro opo? Mbok sesuk digowo perikso.” Ibu Lukman membungkus ronde dengan suara cemas.
“Yo gampang, Mbak Yu. Paling sesuk yo wes waras.”
Ibu Lukman menyerahkan satu kresek ronde ke tangan Om Hari. “Wes iki gowoen, gak usah bayar. Gawe anak bojomu.”
Lukman melirik ibunya.
Om Hari buru-buru menolak. “Lho, opo toh, Mbak Yu. Emoh aku, aku tuku yo kudu bayar to.”
“Wes to, Lek. Wes gowoen mulih.”
Om Hari menghela napas. “Kan iki dino pertama njenengan buka, mengko malah rugi lho.”
Ibu Lukman mengibaskan tangannya. “Gak mungkin. Pasti ono gantine seng lain.”
Om Hari hanya geleng-geleng kepala. “Yo wes, sesuk aku mrene wae gawe ngewangi resik-resik ya, Mbak Yu.”
Di tengah kehangatan obrolan ibunya dan Om Hari, Lukman terngiang kembali pertikaiannya dengan Maya. Ia masih bertanya-tanya apakah Om Hari tahu perbuatan anaknya. Apakah Om Hari ikut andil bermaksud menjatuhkan restoran keluarganya.
“Man, pamit sek ya. Besok main ke rumah lagi.” Om Hari menepuk lengan Lukman.
Kesadaran Lukman kembali. “Oh, nggih, Om.”
Om Hari naik motornya dan segera melaju. Lukman mendengus pelan.
“Kenapa, Man? Kamu capek? Ngantuk?” tanya ibunya.
“Nggak, Bu.”
Ibu Lukman mengecek isi panci dan toples-toples. “Cuma cukup buat dua porsi lagi ini, Man. Mau ikut dijual apa buat makan kita berdua aja?”
Lukman tersenyum. “Kita makan aja yok, Bu.”
Ibu Lukman mengangguk sepakat. Ia pun menyiapkan dua mangkuk ronde dan memakannya bersama Lukman.
Pagi-pagi sekali Lukman sudah berkutat dengan laptopnya. Membuat konten promo ronde rindu untuk jualan nanti sore. Sejak semalam handphonenya tak henti berdenting tanda notifikasi akun instagram resto sehati yang ramai like, repost, dan komentar. Lukman pun tak ingin menyia-nyiakan momentum. Malam ini harus lebih heboh dari kemarin.
“Lukman,”
Terdengar suara ibu yang tergopoh membawa satu tas belanja besar.
“Kamu pagi ini tolong ke Lek Hari ya. Tolong kasihkan ini.”
“Apa itu, Bu?”
“Lauk, sayur, sama buah buat sarapan. Maya kan lagi sakit katanya, kasian biar gak perlu masak buat sarapan.”
Lukman ragu-ragu. “Bu …”
Ibu Lukman menatapnya. “Kenapa, Man? Kamu masih sibuk banget to?”
Lukman menggeleng, tangannya segera menutup layar laptop. “Nggak kok, Bu. Ya udah aku anter sekarang.”
Meski dengan hati berat, akhirnya Lukman sampai juga di halaman rumah Om Hari. Kali ini suasana hatinya berbeda jauh dari pertama kali ia kesini. Ia pun mengetuk pintu, hanya ingin segera menuntaskan kewajiban dari ibunya dan segera pulang.
Tak disangka ternyata Maya lah yang membuka pintu. Maya pun ikut kaget dengan sosok Lukman yang tiba-tiba berdiri di depan pintu rumahnya.
“Man … “
Lukman membuang muka. Ia pun menyodorkan tas belanja titipan ibunya. “Dari ibu, buat keluargamu sarapan.” katanya datar. Ia menghindari kontak mata dengan Maya.
Maya menunduk dan menerima pemberian Lukman. Ia resah dan merasa serba salah.
“Aku langsung pulang ya.” Lukman berbalik menuju motornya.
Maya hanya berdiri, tidak berusaha menahan Lukman. Ia hanya menatap punggung Lukman dari jauh.
Merasa masih ada yang mengganjal hatinya, Lukman menoleh. “Bapak ibumu … apa mereka tahu yang kamu lakukan?”
Maya termenung.
“Apa mereka juga ikut-ikutan soal itu, May?”
Maya memejamkan mata dan menggeleng cepat. “Nggak, Man. Mereka gak tahu apa-apa. Itu semua rencanaku sendiri. Mereka gak terlibat sedikit pun.”
Lukman menatap Maya sedetik lebih lama. Memastikan kejujuran Maya. Ia pun naik motor dan pergi.
“Lukman … “ Maya hanya bisa memanggil lirih. Tentu bukan untuk didengar telinga Lukman, tapi untuk memberi alamat tujuan pada semua rasa bersalahnya.
Sore ini Lukman dan ibunya lebih sibuk. Mereka menyiapkan jumlah porsi ronde yang lebih banyak. Om Hari dan Pakdhe Suhar datang ikut membantu menyiapkan gerobak, meja dan kursi plastik, serta tikar untuk lesehan. Mulai malam ini ronde rindu bisa dimakan di tempat, tak hanya dibungkus saja.
Satu unggahan di instagram resto sehati yang diunggah Lukman sejak pagi sepertinya mulai menarik banyak sekali perhatian orang. Akun-akun para penggiat F&B dan foodblogger ikut meramaikan dan mendukung kembalinya ronde rindu.
Tak lama kemudian telepon dari sahabatnya, Robi, muncul lagi di layar handphonenya.
“Buset dah! Lu dari kemarin janji mau main kesini terus, omong doang lu!” Omel Lukman.
“Ape sih tiba-tiba marah gak jelas!”
“Ya elu! Bisanya cuma nelpon doang, kesini kek bantuin gue buka warung.”
Robi tertawa. “Cieee! Udah jadi juragan nih sekarang! Wah fix sih gak bakal balik ke jakarta lu kayaknya. Anyway, ini serius, Man. Selamat ya restoran lu udah bangkit lagi. Gue ikut seneng banget dengernya, gak bohong. Gue yakin setelah ini bakal lebih sukses deh.”
Lukman tersenyum. “Makasih ya, Rob. Makasih udah bantuin gue.”
“Nah, itu yang pertama, ada maksud yang kedua nih.”
“Apaan?”
“Lu tau series dokumenter di Youtube punya Chef Aldi? Yang diproduseri si Sherly?”
Lukman mengerutkan kening. “Oh iya tahu. Yang bagus banget itu kan?”
“Nah, sejak minggu lalu gue jadi Line Producer mereka.”
“Oh ya? wih keren banget lu bisa ikut tim produksi mereka.”
“Nah, kita lagi prepare buat season berikutnya, kebetulan episode pertama akan ke jogja. Gue udah usul ke Sherly untuk dateng ke resto keluarga lu, Man. Dan dia mau, Chef Aldi juga ternyata pernah makan ronde di sana tiga tahun lalu, jadi dia pengen kesana lagi. Pas nih, Man! Pas banget buat nonjok muka si Ronald. Ini gue yakin nih semesta emang merencanakan pembalasan dendam lu ke Ronald.”
Lukman menganga. Ia menggaruk kepalanya. “Tapi … lu liat kan postingan resto gue? Kita tuh lagi balik ke konsep gerobak sama lesehan, Rob. Jadi gak di dalem bangunan resto. Masih berantakan banget.”
“Ya itu dia, Lukmaaan. Justru itu yang dicari! Gue udah tunjukin kok postingan resto lu ke Sherly sama Chef Aldi. Mereka oke aja.”
Lukman menimbang dengan cepat. “Misalnya gue dan nyokap sanggup. Kira-kira tim lu kesini kapan?”
“Weekend ini!”
Belum terdengar jawaban dari Lukman.
“Oke ya, Man? Kesempatan langka ini! Resto lu gak usah dipermak, udah biarin konsepnya tetep gitu aja.”
Lukman menarik napas dalam. “Oke deh! Gue siap!”
“Nah gitu dong! Ayok kita tonjok si Ronald bareng-bareng.” Robi tertawa puas.
Lukman menggeleng kepala tak percaya. “Thank you ya, Rob. Lu udah bantuin gue banyak banget.”
“Eh tapi begitu nyampe sana gue tetep mau gebukin lu dulu ya. Enak aja lu!”
Lukman terbahak. “Iyaaa! Sini dah lu ah cepetan!”
Telepon mereka berakhir. Tapi Lukman merasa semesta telah menyelamatkannya lewat tangan si bengal Robi. Dan Lukman bersyukur memiliki sahabat seperti Robi.
“Man, tapi ibu gak pernah ngomong depan kamera. Ibu takut gak bisa ngomong, kalo jelek gimana?”
“Gak usah takut, Bu. Ibu ngobrol santai aja kayak lagi ngobrol sama Lukman atau ngobrol sama Pakdhe Suhar dan Om Hari. Gak usah dibuat-buat.”
Ibu Lukman tersenyum datar, masih merasa tidak nyaman. Ia melirik Chef Aldi dari kejauhan. “Ibu grogi mau ngomong sama chef Aldi. Ibu kan bukan siapa-siapa.”
Lukman mengusap lengan ibunya. “Kalo ibu bukan siapa-siapa, chef Aldi gak mungkin jauh-jauh datang ke sini, Bu.”
Tiba-tiba chef Aldi berjalan menghampiri. “Halo, perkenalkan saya Aldi.” ucapnya sambil menjabat tangan Aldi dan ibunya. “Dulu saya pernah makan di sini lho, Bu. Kira-kira tiga tahun lalu. Waktu itu bapak masih ada. Saya sempet ngobrol lama sama beliau.”
Ibu Lukman tersentak. “Oh ya? Wah kok saya gak ingat ya, chef”
Chef Aldi tertawa. “Gak apa-apa, Bu. Kan memang sudah lama. Lagipula waktu itu saya belum jadi siapa-siapa.” Ia berdeham. “Saya baru tahu kalau ternyata bapak sudah tidak ada. Saya ikut belasungkawa ya, Bu.” Matanya menatap bangunan restoran. “Semoga apa yang ditinggalkan bapak tetap terjaga dengan baik, termasuk resep masakan beliau. Itu peninggalan yang luar biasa, jangan sampai terputus.”
Apa yang dilihat ibu Lukman begitu meneduhkan hatinya. Kekakuannya hilang ketika koneksi antara masakan, restoran, dan mendiang suaminya terjalin begitu saja dengan chef Aldi. Ia mengangguk mantap. “Akan saya jaga, chef. Sampai kapanpun.”
Sisa hari itu berjalan menyenangkan. Ibu Lukman terlihat menjadi dirinya sendiri ketika disorot kamera. Chef Aldi lihai mengendalikan pembicaraan dan suasana sehingga ibu Lukman bisa nyaman berbincang.
“Man, untuk interview berikutnya lu ikut ya.” todong Robi tiba-tiba.
“Lah, ngapain gua ikutan? Nyokap gue aja lah.” Tolak Lukman.
Robi kesal. “Kan lu udah janji kita mau nonjok Ronald bareng-bareng. Lu harus ikut muncul sama nyokap lu, Man.”
“Gue harus ngomong apaan?”
“Tenang, chef Aldi udah tahu kasus kalian. Biar dia yang ngarahin obrolan ke sana. Percaya aja deh.”
Lukman mengangguk. Kali ini justru ia yang gugup.
Sesi interview berikutnya diatur sedemikian rupa oleh tim produksi agar terlihat natural seperti sedang berbincang sembari lesehan menikmati wedang ronde. Diawali dengan Chef Aldi yang duduk lesehan berdua dengan ibu Lukman. Lalu Lukman datang membawa semangkuk ronde untuk chef Aldi.
“Nah, ini nih, yang bikin saya kangen kembali ke sini. Namanya ronde rindu ya, Teman-teman. Ini sajian khas dari restoran sehati. Bener-bener bisa bikin kangen.”
Ibu Lukman tersipu. “Semoga rasanya masih tetap sama ya, Chef.”
Lukman ikut duduk di samping ibunya.
Chef Aldi mulai menyesap kuah jahe ronde dan bergumam pelan. “Hmm, masih tetap kaya rempah, aroma jahe bakarnya juga masih kuat. Gak ada yang berubah.” Ia mulai menyendok isian ronde dan mengunyahnya pelan. Alisnya bertaut, matanya terpejam, “Yang paling saya suka dari isiannya, ada rasa asap tipis sekali, tapi justru bikin makin legit.”
Lukman menyela. “Itu karena kacangnya disangrai dulu, Chef. Prosesnya pakai kendi tanah liat dan apinya dari arang. Gak pakai kompor gas. Jadi kalo kata orang, ada khas rasa sangit yang bikin aroma rondenya beda dari yang lain.”
Chef Aldi mengangguk-angguk.
Ibu Lukman menambahkan. “Ya inilah penerus kami, Chef. Anak saya satu-satunya ini. Baru saja belajar resepnya minggu lalu. Eh udah jago sekarang.”
“Oh ya? Syukurlah kalo begitu. Saya betulan ikut senang ada yang meneruskan resep legendaris ini.” Ia menyendok suapan terakhir dan meletakkan mangkuknya. “Saya percaya ronde ini akan tetap ada dan terus dicari, Bu. Gak usah dengerin kata orang yang bilang wedang ronde itu minuman orang tua, diminum cuma pas sakit aja, gak bisa dibikin dingin. Ronde rindu ini adalah perjalanan dan cerita keluarga Ibu. Banyak sekali perjuangannya untuk bisa tercipta ronde seenak ini.”
“Betul, Chef. Mungkin ini sederhana ya, hanya wedhang. Banyak yang tanya apa yang spesial. Kalau dari saya sendiri, justru gak bisa menjawab apa yang spesial. Mungkin chef dan pelanggan lain yang bisa menjawab. Yang jelas buat saya ini bentuk cinta dari orangtua saya. Saya juga ingin menjaga cinta ini diturunkan ke anak cucu saya.”
Chef Aldi sepakat. “Perjalanan resepnnya itu yang penting, Bu. Orang sekarang tidak paham itu. Kuliner saat ini hanya dinilai dari tampilannya layak difoto atau tidak, asal murah, asal banyak, tidak ada yang mengerti soal rasa otentik dan perjalanan dibaliknya. Kalo ada yang bilang ronde rindu ini gak enak, jelas dia gak ngerti apa-apa soal makanan.”
Lukman dan Ibunya tersenyum.
“Berarti, tantangan berat selanjutnya ada di kamu, Mas.” chef Aldi menunjuk Lukman. “Kamu lebih muda, akan lebih paham soal bagaimana menjaga cerita dan citra ronde rindu ini ke pelanggan yang lebih luas.”
Lukman sumringah. “Saya sudah tahu apa yang harus dilakukan berikutnya untuk ronde rindu, chef. Yah… meski kemarin sempat ada badai kecil, syukurlah kami bisa melaluinya dan bangkit.”
Chef Aldi mengibaskan tangannya. “Gak penting itu, sudah angin lalu. Saya pendukung pertama ronde rindu lho. Jadi gak usah takut.”
Mereka bertiga pun tertawa.
Syuting malam itu usai tepat jam sepuluh malam. Chef Aldi masih setia berbincang dengan Lukman dan ibunya soal resep, strategi pemasaran resto, dan banyak lainnya. Ibu Lukman kagum sekali dengan chef Aldi yang tidak pelit pengetahuan dan mau belajar banyak.
“Soal si Ronald kemarin gak kamu laporin aja? Bisa jadi pencemaran nama baik lho itu.” Tanya chef Aldi ke Lukman.
Lukman menggeleng. “Pertama, saya gak punya banyak uang, chef. Urusan begitu kan pasti mahal. Kedua, saya cuma mau menghabiskan waktu saya menemani ibu saja, daripada meladeni si Ronald. Dan yang ketiga, saya sedikit bisa memahami kenapa Ronald melakukan itu. Dia … tidak sepenuhnya salah.” Lukman mengucap kalimat terakhirnya dengan getir.
Chef Aldi mengerti. “Lagipula gak usah dengerin ucapan Ronald. Mana dia tahu soal esensi kuliner. Asal enak dikit aja udah dibilang mau meninggal lah, gak ada obat lah. Dia cuma asal omong.”
Lukman tertawa.
Chef Aldi menepuk pundak Lukman. “Semangat ya. Semoga saya bisa mampir lagi dalam waktu dekat.”
“Kami yang terima kasih banyak, Chef.”
Lukman menghembuskan napas lega. Ia merangkul ibunya. “Kita akan baik-baik saja, Bu. Tenang saja.”
Robi menghampiri mereka dan ikut girang. “Maaan!”
Lukman menyambut rangkulan Robi. “Rooob!”
Keduanya melonjak-lonjak seperti anak kecil. “Asli! Kelar sih si Ronald! Kelar dia, Man!”
“Rob, kalo bukan karena lu ini gak bakal kejadian, Rob. Thank you, Rooob!”
Ibu Lukman menyaksikan mereka sambil geleng-geleng kepala.
-TAMAT-
ditulis oleh : Febriyanti
