“Jadi, kau orang yang dibayar untuk menjaga kapal ini dari bajak laut?” tanya seorang Awak kapal yang penampilannya tampak lusuh.
Pertanyaan itu mengagetkan Raiden yang sedang melamun di geladak kapal. Ia melihat pemandangan lautan luas. “Hmm bisa dibilang seperti itu. Bayaranku hanya makanan dan diperbolehkan untuk ikut kapal ini sampai ke tujuan.” Jawabnya.
“Jika sampai.” Saut Awak kapal itu dengan senyuman sinisnya.
Raiden memandanginya dengan penuh heran.
“Kau tentu sudah tau kan kalau tujuan pelayaran ini adalah mencari dunia baru. Mengarungi lautan yang belum dikenal. Mencari tanah yang belum terjamah di belahan bumi lain?” jelas Awak kapal.
“Ya, aku tau itu. Karena itu kalian membutuhkan penjaga. Seperti aku dan orang-orang di sana.” Balas Raiden sambil menunjuk sekumpulan orang dengan badan tinggi besar yang sedang mabuk rum.
“Kuharap kalian punya cukup kekuatan dan keberanian ya.” Ucap Awak kapal dengan sinis.
Raiden hanya merespon dengan mengangkat alis.
Awak kapal berbisik kepadanya. “Yang akan kita hadapi tidak hanya bajak laut. Karena lautan ini luas dan belum terjamah. Kita mungkin akan bertemu dengan monster laut.”
Raiden mengangguk pelan.
“Kuharap kau tau resikonya anak muda.” Imbuh Awak kapal sambil tersenyum sinis. Ia lalu pergi meninggalkan Raiden.
Beberapa saat kemudian, terdengar sebuah teriakan dan suara suatu benda jatuh ke air. Suara itu membangunkan Raiden dari tidur siangnya. Ia seketika bersiaga. Ia meningkatkan kewaspadaannya. Ia melihat ke sekitar.
Orang-orang di kapal itu kebingungan. Mereka tidak tau apa yang sudah terjadi.
Para penjaga bayaran yang memiliki badan kekar juga telah bersiaga di pinggiran kapal.
“Apa yang terjadi?” tanya Raiden ke Awak kapal muda yang ada di sampingnya.
“A-aku juga tidak tau. Aku sedang mengepel geladak, lalu tiba-tiba aku mendengar suara teriakan.” Jawab Awak kapal itu dengan ketakutan.
Suasana laut tiba-tiba menjadi sunyi. Bahkan sepertinya tidak ada ombak. Angin laut pun terasa begitu pelan meniup layar kapal. Kapal hampir tidak bergerak. Terhenti di tengah lautan luas.
Semua orang bersiaga. Beberapa tampak ketakutan.
Raiden mendengar dan mencium sesuatu. Ia segera mendongak ke langit. Ia yang sudah memiliki penguatan panca indera kesulitan melihat langsung ke arah matahari yang dengan teriknya tepat berada di atas kepala.
“Raiden, ada yang datang, jumlahnya banyak, aku bisa merasakannya.” Ucap Vetalla.
“Aku kesulitan melihatnya. Aku hanya mendengar kepakan sayap dan bau anyir darah.” Gumam Raiden pelan sambil memicingkan mata.
“Bersiaplah Raiden. Mereka sepertinya cukup merepotkan.” Imbuh Vetalla.
Raiden mengangguk pelan. “Semuanya! Menunduk!” teriaknya.
Semua orang di kapal tampak kebingungan. Lalu secepat kilat sebuah bayangan muncul dari langit menyambar seorang Awak kapal. Teriakannya saat disambar terdengar begitu nyaring. Suaranya perlahan-lahan menghilang seiring dengan lenyapnya bayangan itu dari pandangan orang-orang di kapal.
Bayangan itu bergerak vertikal ke atas. Membuat orang-orang kesulitan untuk mendeteksi keberadaannya karena terik sinar matahari.
“Semuanya menunduk! Masuk ke lambung kapal! Cepat!” Raiden kembali berteriak.
Orang-orang di dalam kapal berlarain memasuki lambung kapal. Terjadi kericuhan mereka berebut masuk. Beberapa penjaga tampak ikut berebut masuk.
“Hei, di mana kapten kapal dan orang penting lainnya?” Tanya Raiden ke salah satu penjaga yang tidak ikut berebut masuk lambung kapal.
“Mereka semua aman. Mereka sudah ada di lambung dari tadi.” Jawab penjaga itu.
“Baguslah.” Balas Raiden pelan.
Kericuhan yang diselimuti teriakan ketakutan itu begitu bising. Memcah kesunyian lautan beberapa saat lalu. Terdengar sesuatu yang berat mendarat di kapal. Seketika kericuhan di kapal terhenti untuk beberapa detik.
Sesosok burung besar dengan bulunya berwarna coklat keemasan. Berkilau begitu terang memantulkan cahaya matahari. Sosok itu memiliki kepala peremuan.
“SIREN!” terik Raiden.
Orang-orang semakin ketakutan. Mereka semua berteriak dengan histeris. Mereka berusaha menyelamatkan diri masing-masing.
“Tutup telinga kalian! Gunakan kain atau benda lain!” perintah Raiden.
Orang-orang tidak menghiraukan Raiden. Mereka terus berlarian dengan histeris. Mereka berebut memasuki lambung kapal.
Hanya beberapa orang yang menghiraukannya. Mereka segera menyumbat telinga mereka dengan kain, kayu penutup minuman, dan benda-benda lain.
Raiden menyumbat telinganya dengan kain. Ia bersiap menyerang Siren itu. Ia baru berjalan beberapa langkah.
Namun Siren itu mulai membuka mulutnya. Ia memekikkan jeritan yang begitu nyaring. Suara itu sangat mengerikan.
Orang-orang yang tidak menyumbat telinganya seketika tersiksa dengan teriakan itu. Mereka berjatuhan, berguling-guling di geladak. Mereka kesakitan sambil memegangi telinga mereka.
Beberapa orang yang sudah menyumbat telinganya juga masih merasakan kebisingan jeritan Siren itu. Tapi mereka masih bisa menahannya. Mereka yang telah menyumbat telinganya berhasil masuk ke lambung kapal dengan cepat.
Raiden berusaha menahan rasa sakit di gendang telinganya yang jauh lebih tajam daripada manusia normal.
Siren itu terus menjerit.
“Raiden, serahkan padaku. Aku sudah lama tidak merasakan darah, dan mereka itu juga bukan manusia. Mereka tidak seharusnya ada di dunia manusia ini.” Ucap Vetalla.
“Ya, boleh juga.” Balas Raiden sambil menahan sakit. Ia kemudian mencabut Vetalla dari sarungnya. Seketika tubuhnya bergerak dengan cepat. Ia seperti dikendalikan oleh sosok lain. Ia menerjang Siren. Dalam satu gerakan, Ia berhasil menebas kepala Siren itu.
Kepalanya yang ditumbuhi rambut hitam lusuh panjang menjuntai sampai ke geladak kapal itu jatuh dan menggelinding di geladak kapal. Mulutnya yang masih terbuka menganga mengeluarkan asap tipis. Matanya yang berwarna hitam pekat masih terbelalak. Darah hitam mengucur dari luka tebasan dan mengotori geladak kapal. Suara jeritan yang mengerikan itu berakhir.
Orang-orang segera bangkit meskipun dalam kondisi lemah. Mereka berjalan terhuyun-huyun masuk ke dalam lambung kapal.
“Kau hebat juga anak muda.” Kata seorang penjaga yang berada di samping Raiden.
“Belum, bersiaplah.” Gumam Raiden.
Pria itu mengangguk dan meningkatkan kewaspadaannya.
Benar saja, seketika sejumlah Siren mendarat di kapal. Beberapa ada yang beterbangan begitu cepat melayang di atas kapal.
Orang-orang yang sudah merasa aman sebelumnya, kembali ketakutan. Mereka panik dan histeris. Mereka berlarian dengan kacau. Mereka berebut memasuki lambung kapal.
Siren-Siren itu kemudian menjerit, saling beresonansi. Jeritannya memberikan efek sisksaan yang lebih menyeramkan dan menyakitkan.
Banyak orang yang berjatuhan tak kuat menahan teriakannya. Mereka menjerit kesakitan. Jeritan mereka membuat suasana di kapal itu semakin mencekam.
Beberapa Siren mengambil orang-orang yang sedang menderita. Mencengkramnya dengan kaki mereka yang ditumbuhi kuku tajam. Mereka membawanya terbang meninggalkan kapal.
Jeritan orang yang dibawa oleh Siren begitu mengerikan.
Raiden bergegas menyerang para Siren tersebut. Ia memenggal kepalanya satu persatu.
Beberapa Siren yang sedang terbang membalas Raiden. Mereka menyerbu dan menyerangnya. Seperti burung merpati yang mengerumuni sekantung gandum.
Gerakan Raiden sedikit terganggu. Refleksnya sedikit menurun karena efek dari jeritan Siren tadi.
Beberapa kali Siren itu sempat melukai Raiden dengan kukunya.
“Sial, mereka banyak sekali.” Keluh Raiden. Ketika Ia tengah sibuk bertarung dengan sejumlah Siren.
Beberapa Siren dengan mudah menangkap orang-orang yang masih tersisa di geladak kapal.
Beberapa penjaga berusaha melawannya dan melindungi orang-orang yang lemah. Tapi kekuatan mereka masih kurang. Justru beberapa dari mereka tertangkap dan dibawa pergi olehnya.
“Panca inderamu tidak mempan melawan mereka. Brajamusti juga terlalu berbahaya jika digunakan di sini.” Gerutu Vetalla.
“Benar.” Jawab Raiden sambil berusaha menghindari serangan Siren.
“Aku butuh kendali lebih untuk mengaktifkan instingku.” Imbuh Vetalla.
Raiden menyayat sedikit kulit telapak tangannya. Darahnya mengucur menetes di mata pedang Vetalla. Tubuhnya seketika memancarkan aura yang mengerikan. Mata kanannya berubah warna menjadi kuning menyala.
“Heh sudah lama aku tidak bertarung seperti ini. Tenang, Tuan Raiden. Aku tidak akan mengecewakanmu.” Kelakar Raiden yang telah dirasuki oleh Vetalla.
Raiden maju. Ia menerjang Siren-Siren itu dengan secepat kilat. Semua serangan mereka selalu bisa dihindari oleh Raiden.
Beberapa Siren mencoba menyerang dengan jeritan. Namun tidak memberikan efek apapun terhadapnya.
“Kalian pikir suara kalian bisa berpengaruh terhadap monster sepertiku? Jangan harap. Saatnya aku makan.” Ucap Raiden. Sebuah senyuman lebar dan mengerikan terlukis diwajahnya. Sepasang taring pendek tampak menyeringai dari mulutnya.
Hanya butuh kurang dari satu menit, Raiden berhasil mengalahkan semua Siren yang mengerumuninya.
Beberapa Siren masih beterbangan di sekitar kapal. Mereka masih mengejar-ngejar orang-orang yang belum bersembunyi.
Raiden melihat sekitar.
Semua penjaga yang bersamanya tadi sudah tidak ada. hanya menyisakan beberapa Awak kapal yang tergeletak kesakitan dan beberapa yang dikejar-kejar oleh Siren.
“Cih, bagaimana bisa makhluk seperti mereka bisa menembus dimensi kematian?” ucap Raiden yang dirasuki oleh Vetalla. Ia memasang kuda-kuda. “Mari kita akhiri saja semuanya.” Imbuhnya.
Raiden berdiri dengan tegak, tak tergoyahkan di atas geladak kapal. Ia tampak menjilati pedangnya yang bersimbah darah berwarna hitam.
“Kita selamat? Kita selamat!” ucap seorang Awak kapal yang tiba-tiba muncul dari dalam lambung kapal. Terdengar sayup-sayup hingga riuk suara orang-orang di kapal berteriak kegirangan. Mereka bergembira. Mereka bersorak-sorai diri mereka telah selamat. Beberapa bahkan tampak menangis.
Raiden kembali mengambil alih kendali dirinya. Perlahan matanya yang berwarna kuning kembali berubah menjadi biru cerah.
Warna geladak kapal itu berubah dari coklat cerah kayu yang diplitur menjadi hitam pekat dan dipenuhi bau anyir. Sejumlah potongan jasad Siren tergeletak di geladak kapal. Serta beberapa potong bagian tubuh manusia yang telah menjadi korban keganasan Siren pun tergeletak berceceran di geladak.
***
Kapal yang dinaiki Raiden tampak bersandar di sebuah pelabuhan kecil.
Pelabuhan itu tampak seperti pelabuhan kurcaci di hadapan kapal besar yang dinaiki Raiden. Hutan hujan lebat tampak mengelilinginya.
Tampak beberapa orang berkulit putih sedang menolong para awak kapal yang tengah dalam kondisi buruk setelah diserang oleh sekumpulan Siren.
Raiden duduk di sebuah batu besar yang berbatasan dengan hutan. “Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan?” tanya Raiden.
“Ya. Ada yang memanggil mereka. Tidak mungkin mereka bisa masuk ke dimensi manusia dengan begitu saja, apalagi dengan jumlah banyak.” Balas Vetalla.
Raiden mengawasi sekitar. Tatapannya terhenti saat memandang ke arah hutan.
“Wah, rupanya ada yang mengawasi kita sedari tadi.” Celetuk Vetalla.
“Sepertinya mereka tidak berbahaya. Mereka tampak ketakutan.” Balas Raiden.
“Dengan kita?” Jawab Vetalla cepat.
“Tidak. Mereka ketakutan dengan orang-orang yang kita tumpangi tadi.” Imbuh Raiden pelan.
Tampak siluet beberapa orang yang bersembunyi di balik semak-semak hutan. Mereka mengawasi orang-orang yang membuat perkemahan di sekitar pelabuhan.
“Aku lebih khawatir dengan aura yang kurasakan.” Ucap Raiden sembari berdiri. Ia memandang langit di pelabuhan.
“Ada yang bersembunyi. Sesuatu yang jahat. Sesuatu yang begitu gelap.” Imbuh Vetalla. “Hei, kau bisa merasakan aura? Kupikir kau tidak punya indera ke-enam.” Imbuhnya lagi dengan cepat.
“Aku memang tidak punya indera ke-enam, kok.” Balas Raiden pelan.
“Itu artinya...” Tanya Vetalla dengan menggantung.
“Sepertinya kita akan menetap di sini cukup lama.” Jawab Raiden. Sebuah senyuman kecut terlukis di wajahnya.
***
“Wah! Sepertinya ada yang menggangguku kali ini.” Kata sesosok pria yang duduk di sebuah kursi singgasana yang terbuat dari batu granit yang dilapisi emas. Beberapa potong batu berpendar tampak menghiasi kursinya. Sosok itu bertelanjang dada. Tampak banyak perhiasan emas dan batu mulia menghiasi tubuhnya. “Sabar ya. Masih belum saatnya kita berjumpa. Masih banyak yang harus aku persiapkan.” Imbuhnya. Sebuah senyuman lebar yang mengerikan menghiasi wajahnya.
***
Raiden sedang duduk di sebuah kursi di pinggir taman di tengah kota. Gedung-gedung pencakar langit tampak mengelilingi taman itu. Hiruk-pikuk orang-orang berjalan dengan kesibukannya masing-masing di jalan setapak meramaikan taman itu. Sesekali terdengar suara sirine mobil. Ia sedang duduk sambil membaca koran dan menikmati teh yang dibungkus dengan gelas kertas. Ia menyelimuti Vetalla dengan sebuah kain sehingga tidak nampak mencurigakan.
“Sudah saatnya kah?” Tanya Vetalla.
“Setelah ratusan tahun gagal menemukan lokasinya? Kurasa benar.” Jawab Raiden sambil meminum teh.
“Kau yakin?” Vetalla kembali bertanya.
Raiden mengangguk pelan. “Entahlah, tapi aku merasakan kalau kali ini aku akan menemukan tempatnya dengan tepat.” Jawabnya. Ia menutup koran yang Ia baca. “Ayo pergi. Sekarang atau kita harus menunggu puluhan tahun lagi.” Timpalnya sembari menjinjing Vetalla.
***
Raiden berdiri di pinggir jalan raya di dekat taman. Ia mencegat sebuah taksi yang sedang melaju pelan. Taksi itu berhenti. Ia lalu menaikinya. Ia menunjukkan sebuah tempat yang tertulis di salah satu kolom berita di koran yang ia bawa. “Ke sini ya pak.” Perintahnya kepada supir taksi.
“Oh ke tempat ini? Apa kau tidak salah tujuan?” tanya supir taksi.
“Oh tidak pak. Aku ada janji dengan seorang teman lama. Kebetulan kami janjian di tempat yang dekat dengan wilayah itu.” Jelas Raiden.
“Oke, dimengerti.” Jawab supir taki. Taksi itu kemudian melaju meninggalkan taman kota.
***
Raiden berjalan di trotoar sebuah kota kecil yang sepi. Kota itu terasa begitu panas. Beberapa orang tampak melihatnya dengan penuh kewaspadaan.
“Namanya Jose. Dia dikenal sebagai mafia kelas kakap yang menguasai kota ini. Rumornya dia juga mengatur pemerintahan negara ini dengan presiden sebagai bonekanya.” Gumam Raiden. “Sudah ratusan tahun aku selalu kecolongan oleh orang ini. Dia selalu berhasil kabur dari tempat persembunyiannya. Lalu muncul lagi di tempat lain dengan identitas baru.” Imbuhnya
“Apakah mungkin dia orangnya?” tanya Vetalla.
“Mungkin? Apa kau tidak merasakan auranya semakin kuat ketika kita mendekati tempat tinggalnya?” Raiden balik bertanya.
“Ya.” Jawab Vetalla singkat.
Raiden hanya mengangguk pelan. Langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan mewah yang tampak menonjol di kota itu. Ia berjalan menuju pintu masuk bangunan itu.
Dua orang dengan setelan jas menghadang langkahnya.
“Berhenti. Kau mau kemana?” ucap salah satu pria.
“Maaf, aku hanya ingin bertemu dengan tuan Jose.” Jawab Raiden.
“Apa kau sudah membuat janji?” tanya pria satunya sembari melihat dengan seksama penampilan Raiden.
“Belum.” Jawab Raiden singkat.
Raiden tak pikir panjang. Dengan tiga gerakan serangan dia membut mereka pingsan.
Seketika sirine langsung berbunyi. Pintu terbuka dengan sendirinya. Dari dalam pintu muncul sekelompok orang yang membawa senapan. Mereka semua menodong Raiden.
Raiden mengangkat kedua tangannya. Sekejap mata, ia membuka kain yang membungkus pedangnya. Ia mencabut Vetalla dari sarungya. Ia menerjang maju.
Mereka memberondong Raiden dengan timah panas.
Raiden dengan sangat lincah menghindari tembakan itu dan sesekali menepis peluru dengan pedangnya. Ia menerjang. mengalahkan satu persatu penjaga itu dengan cepat. Melucuti senjata mereka. Memukul, menendang mereka semua sampai tak sadarkan diri.
Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan dari dalam bangunan itu.
Raiden menghentikan serangannya. Beberapa penjaga yang masih sadarkan diri dengan terhuyun-huyun bergegas berkumpul di depan pintu sembari menodongkan senapan ke arah Raiden.
“Raiden.” Ucap Vetalla.
“Ya, aku sudah tau.” Gumam Raiden. Ia meningkatkan kewaspadaannya. Ia menggenggam Vetalla dengan kuat-kuat.
Sosok itu perlahan munampakkan dirinya dan berdiri di ambang pintu. “Cukup merepotkan ya. Sampai-sampai aku harus turun tangan sendiri.” Ucapnya. Seorang pria berbadan gempal.
“Jose.” Kata Raiden.
“Ya, benar. Aku Jose. Seorang pebisnis yang kebetulan tinggal di kota ini.” Balas Jose sambil membuka lebar kedua tangannya. “Kalian semua turunkan senjata kalian, kita kedatangan tamu yang menarik.” Perintah Jose sambil menggosok kepala botaknya yang berkilauan memantulkan cahaya matahari.
Mereka segera menurunkan senjatanya.
Jose berjalan pelan keluar dari bangunan tempat tinggalnya. Ia kini berada di depan para penjaga. Ia tampak memakai setelan jas hitam rapi dan sepatu kulit berwarna putih. Setelannya membalut kulitnya yang pucat seperti maya. “Jadi, apa yang kau inginkan, Anak muda?” tanyanya pada Raiden.
“Apa yang aku inginkan? Aku ingin kau menghentikan segala sesuatu yang tengah kau lakukan. Yang sedang kau rencanakan.” Jawab Raiden tanpa menurunkan kewaspadaannya.
“Apa yang kulakukan? Hei aku hanya berbisnis di sini. Apakah aku terlihat seperti bukan pebisnis?” kelakar Jose diikuti sebuah tawa yang terbahak-bahak.
“Berbisnis? Kudengar kau membuat penduduk di kota ini sengsara. Kudengar juga kau bahkan mengontrol negara ini dari belakang tirai. Bukan begitu?” Raiden balik bertanya.
“Wah wah, kau dengar dari mana?” tanya Jose kembali sambil cekikikan.
“Burung. Aku mendengarnya dari cuitan burung yang lewat.” Jawab Raiden.
“Sebuah humor yang cukup lucu.” Jose terbahak.
“Bersiaplah.” Gumam Raiden pelan.
“Hei apa kau ya...” Vetalla belum selesai berbicara.
Raiden langsung menerjang maju. Berusaha menyerang Jose. Ia langsung menebaskan pedangnya kepada Jose.
Jose hanya mengarahkan tangannya kedepan. Sebuah kumpulan energi berwarna hitam terbentuk dari telapak tangannya. Menahan tebasan Raiden. Hembusan angin yang kuat terbentuk dari bentrokan mereka. Angin itu membawa terbang debu yang ada di tanah. Suara deritan pedang Raiden beradu dengan perisai energi milik Jose. Benturannya menimbulkan efek kilatan kecil.
“Katakan, siapa namamu?” tanya Jose dengan tenang.
“Raiden.” Jawab Raiden singkat.
“Baiklah Raiden, sepertinya ada sesuatu di dalam dirimu. Juga di dalam pedangmu.” Balasnya dengan tersenyum kecil. Tangan kirinya tiba-tiba menembakkan energi berwarna hitam.
Raiden melompat mundur. Berusaha menghindari tembakan itu. Tapi tembakannya cukup kuat untuk membuat sebuah ledakan yang tidak bisa Raiden hindari. Ia terlempar beberapa meter. Mendarat dengan berlutut dan menancapkan Vetalla ke tanah untuk menahan dirinya supaya tidak terlempar lebih jauh.
“Sudah lama aku menunggumu. Menunggu kau bisa menemukanku. Dan ya, akhirnya kau berhasil berjumpa denganku di sini.” Ucap Jose dari balik kepulan asap. Asap dan debu sisa ledakan perlahan memudar. Menampakkan sosok Jose yang masih berdiri tegak di hadapan Raiden.
Raiden bangkit lalu memasang kuda-kuda. Ia berkonsentrasi kepada Jose.
“Kau tau? Tindakanmu selama ini, sejak serangan Siren waktu itu, sangat merepotkanku. Semua rencanaku selalu bisa kau hancurkan. Selama itu pun aku merasa persiapanku kurang untuk bertemu denganmu. Tapi kali ini berbeda.” Kelakar Jose. Tiba-tiba sebuah kepulan asap hitam pekat muncul dari dalam mulutnya. Asapnya memenuhi tempat itu.
“Raiden, tutup hidung dan mulutmu!” perintah Vetalla.
Ia segera menutup hidung dan mulutnya menggunakan jaket yang ia pakai.
Perlahan sosok Jose menghilang dibalik kepulan asap yang membuat jarak pandang menjadi nol.
Beberapa saat kemudian, Raiden masih menutup hidung dan mulutnya di dalam kepulan asap. Ia berusaha fokus dan konsentrasi meningkatkan kewaspadaannya. Berusaha merasakan keberadaan ancaman yang kapanpun bisa menyerangnya dibalik kepulan asap itu.
Perlahan kepulan asap itu menghilang. Samar-samar mulai terlihat sosok para penjaga masih berdiri di tempat mereka sebelumnya. Hingga asap hitam itu benar-benar menghilang, Jose sudah tidak ada di tempatnya berdiri tadi.
Raiden mengawasi sekitar dengan seksama, ia melihat Jose sudah kembali berdiri di belakang mereka. Berdiri di ambang pintu. Sebuah keanehan. Tidak terjadi apa-apa setelah asap itu menghilang.
Jose tampak tersenyum lebar.
Raiden tidak mau membuang waktu. Ia kembali merangsek maju. Ia menerjang para penjaga. Sebuah tinju mengagetkannya. Ia segera menangkisnya dengan pedangnya. Membuanya kembali mundur. “Apa itu? Sialan.” Ucap Raiden kesal.
Tampak beberapa perubahan terjadi pada tubuh para penjaga. Perlahan tubuh mereka membesar. Membuat baju yang meraka pakai sobek. Kulit mereka mengeras dan warnanya berubah menjadi coklat pucat. Mata mereka hilang ditelan kulit mereka yang mengeras seperti batu. Dalam sekejap tubuh mereka semua telah berubah menjadi sesosok makhluk tinggi besar dengan kulit yang seperti batu.
“Apa yang kau lakukan?” teriak Raiden penuh amarah.
“Tidak ada. Aku hanya mengubah mereka menjadi Golem. Pasukan kuat tanpa pikiran, tanpa rasa. Yang mereka tau hanyalah bertarung menuruti perintahku.” kelakar Jose.
Golem-Golem itu menyerang Raiden dengan membabi buta. Menghujaninya dengan pukulan dari tangannya yang telah berubah menjadi batu. Namun mereka itu tidak cukup cepat untuk mengimbangi Raiden.
Meskipun pukulan mereka begitu kuat. Sampai membuat tanah yang mereka pukul hancur. Raiden dengan mudah berhasil menghindari pukulan mereka. Ia ingin segera menyerang Jose. Tapi gerakannya terhalang Golem yang jumlahnya cukup banyak. Ia lalu menebas kaki dan tangan mereka. Membuat mereka tidak bisa bergerak dan menghalanginya. Ia bergegas maju berusaha menyerang Jose.
Tiba-tiba Golem-Golem itu muncul dari dalam tanah tepat di hadapan Raiden. Meraka telah kembali ke wujud semula. Ia kembali menebas mereka. Tapi semua sia-sia. Mereka selalu bisa kembali pulih ke wujudnya semula. Ia mulai kelelahan menghadapi mereka yang tidak ada habisnya.
Jose hanya memandangi pertarungan Raiden dengan senyuman lebar.
Mereka sekali lagi bangkit. Mengerumuni Raiden. Menghujaninya dengan pukulan kuat.
Radien mulai kalut. Ia menyerang meereka dengan bengis. Memotong-motong tubuh mereka sampai ke potongan kecil. Ia kelelahan. Nafasnya terengah-engah. Tapi kali ini mereka tidak ada yang bangkit. Ia justru keheranan. Ia melihat ke sekitar. Ia terkejut. Matanya yang berwarna biru gelap terbelalak. Puluhan potongan tubuh manusia tergeletak dan berceceran di sekitarnya. Tanah itu menjadi kolam darah. “Jose! Kau!” teriaknya dengan penuh amarah.
Jose hanya tersenyum kecil menanggapinya.
Raiden yang pikirannya sedang kacau tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah getaran dari pedangnya.
Vetalla yang bersimbah darah bergetar kencang.
“Vetalla! Apa yang terjadi?” Raiden berusaha berkomunikasi dengan Vetalla. Namun tidak ada respon balik dari Vetalla.
Vetalla terus bergetar kencang. Hingga akhirnya ia lepas dari genggaman Raiden dengan paksa.
Raiden kebingungan. “Vetalla! Vetalla!” teriak Raiden berusaha memanggil pedangnya.
Vetalla jatuh ke tanah yang telah dipenuhi darah. Ia tiba-tiba mengeluarkan kepulan asap hitam tipis.
Raiden segera mengambil pedangnya. Namun sebuah ledakan kecil muncul dari Vetalla. Ledakan itu membuatnya sedikit terlempar kebelakang. Kepulan debu berbau anyir darah menyelimuti udara di tempat itu.
Perlahan kepulan debu itu menghilang. Menampakkan sesosok monster. Tangannya menjuntai panjang ke tanah dengan dihiasi kuku-kuku panjang berwarna hitam. Sosok itu adalah Vetalla.
“V-Vetalla...” ucap Raiden terbata melihat wujud Vetalla yang lebih mengerikan dari yang ia tau sebelumnya. Ia kini dua kali lipat lebih besar dari wujudnya sebelumnya. Membuat Raiden tampak kerdil di hadapannya.
Suara erangan yang pelan tapi mengerikan keluar dari mulut Vetalla yang mengaga dihiasi puluhan gigi tajam serta dua taring panjang mencuat dari rahang atasnya.
“Aku sudah merencanakan semua ini. Kau pikir asap tadi itu apa? Asap itu adalah katalisator untuk membangkitkan jiwa jahat dari makhluk yang menghirupnya. Kau pikir pedangmu tidak akan menghirupnya? Dasar bodoh!” kelakar Jose.
Raiden tampak sangat marah. Ia bangkit berdiri. Menatap Jose dengan tajam.
“Saat kau mulai lengah. Aku merubah semua Golem itu kembali menjadi wujud manusia di saat terakhir kau akan menebasnya. Kupikir aku tidak tau apa yang ada di dalam pedangmu hah? Darah manusia pasti akan membangkitkan wujud aslinya.” Jose kembali berkelakar.
Raiden terdiam. Ia merasa kecewa. Ia kecewa dengan dirinya sendiri yang menyebabkan hilangnya kesadaran Vetalla. Seketika dia ambruk di atas lututnya.
“Wahai makhluk penghisap darah, lihatlah di depanmu! Orang yang selama ini memenjarakanm, memanfaatkanmu. Bunuh dia.” Perinah Jose kepada Vetalla.
Vetalla tak menghiraukan perintah Jose. Rambutnya yang kusut, panjang, dan kaku menjuntai dari kepalanya hingga ke tanah bergerak pelan tertiup angin. Ia melihat sekelilingnya. Secara mengejutkan Ia membalik badannya. Mengepakkan sepasang sayap kelelawar besar yang tumbuh mencuat dari punggunngya. Ia merangsek maju. Ia berusaha menerjang Jose.
“Cih, dasar makhluk rendahan.” Gumam Jose.
Vetalla hendak mendaratkan cakarannya ke tubuh Jose. Matanya yang berwarna merah menyala memancarkan aura kebengisan dan keliaran.
Jose mampu menangkis serangannya dengan mudah menggunakan perisai energinya.
Vetalla terpental. Badannya terperosok ke tanah tepat di hadapan Raiden.
Raiden hanya bisa terdiam melihatnya. Ia masih shock.
Vetalla kemudain bangki. Ia mengerang keras. Mengeluarkan suara jeritan yang mengerikan. Ia melihat sosok Raiden yang terdiam di hadapannya. Ia lalu melampiaskan amukannya dengan menyerang Raiden dengan bengis. Ia mendaratkan cakarnya ke tubuh Raiden, mencabik-cabik tubuh Raiden.
Raiden menerima serangan Vetalla dengan pasrah. Tampak air mata menetes dari matanya.
Vetalla kemudian menggigit pundak Raiden. Melempar tubuh Raiden ke udara. Ia menangkapnya lalu membantingnya ke tanah.
Raiden tergeletak di tanah. Tubuhnya bersimbah darah. Namun berkat kemapuan regenerasinya, luka di tubuhnya berangsur sembuh dengan perlahan.
Vetalla kembali menghampiri Raiden. Ia bersiap mendaratkan serangan lagi.
“Kuselesaikan saja sekarang.” Gumam Jose pelan. Ia mengumpulkan energi kegelapan di genggaman tangannya Ia kemudian menembakkan energi itu ke arah mereka.
Vetalla dengan instingnya menyadari akan datangnya bahaya. Ia kemudian mengurungkan niatnya menyerang Raiden. Dengan cepat Ia mengepakkan sayapnya lalu terbang tinggi tepat sebelum serangan Jose mendarat padanya.
Raiden yang tengah babak belur tidak bisa menghindari serangan itu. Ia menerimanya dengan pasrah.
Sebuah ledakan besar terjadi di kota itu. Suaranya menggema sampai beberapa kilometer. Kepulan asap jamur membumbung tinggi beberapa ratus meter ke langit.
***
