Sejumput Merah Putih

Diki dan ketujuh kawan KKNnya sedang sibuk melatih anak-anak desa untuk menari di pawai kemerdekaan tiga hari lagi. Sementara kawannya sibuk mengarahkan gerakan tarian, Diki mengecek baju adat yang disewa untuk kostum anak-anak yang tampil.

“Kita besok pake itu, Pak?” tanya seorang anak.

“Iya, kalian semua pake ini besok. Supaya bagus waktu tampil di lapangan.” Ujar Diki semangat.

“Kenapa gak pake baju kita sendiri aja?”

“Yaaa, kalo buat acara 17an kan bagusnya pake baju adat Indonesia.”

“Tapi kan itu bukan baju adat sini.” Celetuk anak itu.

Diki bingung. “Emang, tapi sekarang kita cuma bisa pinjam ini aja. Gapapa ya?”

“Yaudah gapapa, biar keliatan ganteng sekali-sekali.” Anak itu tertawa.

Beberapa temannya mulai bergabung mengelilingi Diki yang sibuk dengan baju adat. “Memangnya besok kita merayakan apa, Pak?”

“Ya merayakan kemerdekaan kita.” Jawab Diki.

“Emang yang merdeka siapa?”

Diki terdiam.

Seorang anak berceletuk. “Itu lho, kalo kita pada pasang bendera merah putih. Nah itu artinya merdeka.”

“Oooh.” Anak-anak kompak menjawab.

Diki hanya tersenyum tipis. “Ya sudah, sekarang kalian coba satu-satu bajunya ya. Udah pas belum.”

***

Keesokan harinya, acara perayaan 17 agustus berjalan lancar meski digelar seadanya di lapangan kecamatan. Suasana meriah itu tak membekas lama. Para penduduk segera kembali ke kegiatannya masing-masing. Anak didik Diki tak sempat dan takkan punya waktu untuk mengikuti lomba-lomba tradisional yang sudah disiapkan Diki dan kawan-kawan KKNnya.

“Gak bisa, Pak. Harus bantu ibu jualan.”

“Aku juga, bantu bapak angkut kayu.”

Diki dan kawan-kawannya tersadar, keangkuhan jaket almamater kampus yang mereka kenakan tak memiliki nilai apapun di sini. Mereka berhadapan dengan sekelompok anak yang bahkan tidak pernah menginjakkan kaki di pulau Bali meski kini mereka mengenakan baju adat Bali untuk tampil. Beberapa anak sampai tak sempat ganti baju karena harus segera membantu ayahnya mengangkut kayu supaya tidak tertinggal truk.

Diki mengusap air matanya. Ia menatap segenggam bendera merah putih kecil di tangannya. Ini hanya sejumput ketidakadilan di negeri ini. Barangkali inilah wajah merah putih sesungguhnya. Yang berusaha mengembalikan warnanya yang memudar.

-TAMAT-

Berlangganan

Jadilah pembaca setia Filolofi.com dan dapatkan pemberitahuan 
tentang judul cerita terbaru langsung ke emailmu!
Filolofi adalah platform cerita bersambung hasil karya dari beberapa penulis yang dipublikasikan berbasis website sehingga dapat diakses langsung oleh pembaca. Judul atau bagian terbaru akan terbit setiap minggu. Pastikan untuk menjadi pembaca setia Filolofi dan nantikan kisah-kisah menarik setiap minggunya.
Follow
2984
Total Visitors
users linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram