Sang Pahlawan (1)

Suara jangkrik tedengar menghiasi malam yang tenang di sebuah komplek perumahan. Tomi sedang duduk di meja belajarnya. Ia tampak mengantuk.

“Sudah jam sembilan malam. Waktunya tidur, Nak.” Kata Ayah Tomi entah sejak kapan bersandar di kusen pintu kamar Tomi.

“Eh, Ayah!” Tomi menoleh dengan senyum lebarnya.

Ayah beranjak dari pintu dan menata tempat tidur Tomi.

Tomi bergegas membereskan buku-bukunya lalu beranjak ke kasur.

“Besok kita berangkat pagi sekali. Kau harus segera beristirahat.”

“Benar, Ayah. Tapi aku ingin mendengar dongeng, Yah, sebelum tidur.” Tomi menggebu-gebu

“Loh? Tomi kan udah besar. Besok udah masuk SMP, masih mau denger dongeng?” Ayah terkejut.

“Iya, mulai besok kan Tomi sudah masuk asrama. Tomi pengen denger dongeng dari Ayah sekali lagi sebelum Tomi jauh dari Ayah. Tomi juga sudah lama tidak mendengar dongeng dari Ayah.”

“Baiklah, kamu mau dongeng yang mana?” tanya Ayah sembari duduk di kasur.

“Tentu saja dongeng yang baru! Yang Tomi belum pernah denger.” Jawab Tomi menggebu-gebu.

“Sebentar Ayah pikirkan dulu.” Ucap Ayah sambil berusaha mengingat-ingat cerita. “Oh, Ayah tau sebuah cerita yang Tomi belum pernah dengar.”

Tomi tidak menjawab. Ia hanya membalas senyuman Ayahnya dengan senyum kecil. Tomi berusaha fokus mendengarkan.

Ayah mulai bercerita. “Baik, mari kita mulai petualangan malam ini. Pada suatu hari...”

***

Matahari terbit menyinari seorang pria muda dengan kulit sawo matang sedang berlatih memukul-mukul potongan batang pohon yang besar. Ia bertelanjang dada di tengah tanah lapang yang dipenuhi salju, tampak ototnya begitu kekar.

“Ayah...” ucap pria itu menghentikan latihannya sambil bergegas meninggalkan tempat latihan.

***

Ia telah berada di sebuah ruang tertutup dalam rumah yang tak jauh dari tempat latihan tadi. Ia kini memakai pakaian lengkap dan sopan, duduk berlutut menghadap sesosok pria tua berbadan besar di atas kursi goyang.

“Raiden,” ucap sosok itu dengan suara parau namun kuat.

Pria itu bernama Raiden. Ia hanya mengangguk pelan menanggapi panggilan Ayahnya.

“Aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Sudah saatnya kau tahu tentang ramalan kuno ini.” Kata Ayahnya pelan.

Raiden tampak terkejut.

“Dua puluh tahun lalu Ayah pergi meninggalkan sebuah kerajaan besar yang berada jauh di belahan bumi lain. Ayah adalah seorang petinggi dari kerajaan itu. Tapi setelah terjadinya sebuah perang besar, Ayah memutuskan untuk menyepi. Di saat menyepi itulah Ayah bertemu dengan seorang peramal. Dia mengaku titisan seorang raja dari kerajaan kuno yang memiliki kemampuan meramal masa depan. Bahkan dia sudah meramalkan runtuhnya kerajaanku. Peramal itu juga menyatakan bahwa anakku yang terlahir di masa perang lalu adalah anak istimewa. Anak yang nantinya akan menghentikan satu kejahatan besar yang berniat menghancurkan dunia ini.” Ayah Raiden menceritakan ramalan itu.

“Jadi, Ayah. Anak itu adalah...” belum selesai Raiden berbicara, sang Ayah memotong ucapannya.

“Benar, kaulah orangnya. Peramal itu berkata aku harus membawamu tinggal menyendiri untuk menjaga kesucian hati dan jiwamu. Aku juga harus melatihmu sampai punya kekuatan yang cukup. Ketika usiamu menginjak dua puluh tahun, kau harus menerima takdirmu.”

Raiden bertanya dengan ragu-ragu. “Apa yang harus aku lakukan, Ayah?”

“Dia menitipkan satu kesaktian untukmu. Dan dia menunjukku sebagai perantaranya. Dengan kesaktian ini, kau harus berkeliling dunia menghapuskan segala kejahatan yang kau temui selama perjalanan. Hingga akhirnya kau bertemu dengan takdirmu. Entah sepuluh tahun, lima puluh tahun, seratus tahun, atau bahkan lebih, tidak ada yang tau pastinya.”

Raiden terdiam.

“Maafkan aku, Anakku. Aku tidak memberi tahu lebih awal. Maafkan aku telah membentukmu menjadi seperti ini. Tidak punya teman, hidup menyendiri, tapi semua ini harus kulakukan, demi kebaikan dan keselamatan dunia ini.” Suara Ayah Raiden bergetar menjelaskannya.

“Ayah, demi baktiku untukmu, dan dunia ini yang telah memberikan kehidupan kepadaku, aku siap memenuhi ramalan tersebut!” ucap Raiden dengan lantang.

Ruangan itu jadi terasa lebih sunyi. Dinginnya salju di luar sepertinya tidak lebih dingin dari suasana di antara mereka berdua.

“Raiden, kau telah memiliki kekuatan Brajamusti. Panca inderamu juga telah diperkuat. Dan kemampuan bela diri tingkat tinggi. Kali ini aku akan memberikan kekuatan terakhir kepadamu, yang dititipkan peramal itu lewat diriku.” Jelas Ayah Raiden.

“Baik, Ayah. Aku akan sangat berterima kasih dengan pemberian ini.” Balas Raiden dengan mantap.

“Perlu kau ketahui, kekuatan ini cukup berbahaya. Dengan kekuatan ini kau tidak akan bisa mati. Bisa dibilang kau akan abadi, semua luka, penyakit, dan sejenisnya akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu singkat. Tapi kau masih akan merasakan rasa sakitnya. Kau hanya bisa mati dalam sepuluh tahun setelah kau memenuhi ramalan tersebut. Ketika kekuatan ini meninggalkan inangnya, inangnya akan lenyap. Jiwa dan raganya akan menyatu dengan alam, Moksa.” Jelas Ayah Raiden.

“Ayah, apakah itu artinya...” tanya Raiden dengan menggantung.

Ayah hanya mengangguk dengan mantap.

Raiden kembali terdiam, tampak air mata menetes membahasi pipinya.

“Jadi, bagaimana? Apakah kau mau memenuhi ramalan ini?” tanya Ayah Raiden sekali lagi.

“Baik, Ayah. Aku siap!” jawab Raiden dengan tegas.

Ayah Raiden beranjak dari duduknya, berdiri di hadapan Raiden yang masih berlutut. Ia menempelkan telunjuknya di dahi Raiden.

Beberapa detik berlalu. Raiden keheranan. Ia tidak merasakan apa-apa.

Ayah Raiden melepasan telunjuknya dari dahi Raiden. “Kau tidak merasakan apa-apa?” tanya Ayah Raiden.

Raiden hanya menggelengkan kepala.

“Kekuatan ini memiliki sumber energi dari alam. Saat kau mendapatkan kekuatan ini kau memang tidak akan merasakan apa-apa.” Jelas Ayah Raiden. Ia kemudian membalikkan badan lalu mengambil sebuah kotak yang tampak cukup tua dan dipenuhi debu. “Berdirilah, anakku!” perintah Ayah Raiden.

Raiden lalu bangkit berdiri.

Ayah Raiden membuka kotak itu dan tampak di dalamnya ada sebuah potongan akar pohon dengan panjang sehasata, akar itu masih segar. “Ambillah!” perintahnya.

Raiden mengambilnya dan menggenggamnya dengan erat. Ia mengamati akar itu dengan penuh penasaran.

Ayah Raiden kembali duduk di kursi goyang. “Selain untuk melatih dan menyucikanmu, aku memilih tinggal di tempat ini adalah untuk mencari akar itu.” Ucapnya pelan.

Raiden menatap Ayahnya dengan kebingungan.

“Itu adalah potongan dari akar pohon kehidupan. Orang-orang di belahan bumi ini menyebutnya akar pohon Yggdrassil. Tidak ada yang tahu dimana pohon itu berada. Tapi konon katanya ada seorang yang berhasil menemukan lokasi pohon itu lalu memotong akarnya untuk dibawa dijadikan jimat. Ketika dia meninggal, akar itu disembunyikan di daerah ini. Aku akhirnya berhasil menemukannya. Akar itu memiliki banyak kesaktian. Bisa kau gunakan sebagai segel, obat penyembuh, penghasil energi pelindung, membantu pertumbuhan tanaman lain, dan masih banyak lagi. Tergantung bagaimana kau menggunakannya. Dan akar itu tidak bisa digunakan untuk tujuan buruk.” Jelas Ayah Raiden.

Raiden memperhatikan penjelasan Ayahnya dengan seksama.

Suatu hal aneh terjadi, tiba-tiba tubuh Ayah Raiden bercahaya, perlahan-lahan keberadaan tubuhnya memudar.

“Ayah!” teriak Raiden.

“Sudah saatnya, Nak. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku akan moksa setelah kehilangan kekuatan titipan ini. Pergilah anakku, hapuskan kejahatan di muka bumi ini. Gunakan semua kekuatanmu utuk kebaikan. Carilah teman dalam perjalananmu. Gunakan akar itu sebagai pengikat hubungan kalian. Maafkan Ayah.” tubuh Ayah Raiden perlahan lenyap tak menjadi cahaya, menyatu dengan alam, tak ada yang tersisa.

Raiden ambruk dengan tangisan. “Baik Ayah, demi baktiku padamu, pada bumi ini, aku akan menuntaskan ramalan itu!” tangisannya.

***

“Sebentar, Ayah. Ayah Raiden namanya siapa? Lalu dia berasal dari kerajaan mana?” tanya Tomi memotong cerita Ayahnya.

“Ayahnya Raiden? Hmm siapa ya? Kau pasti tidak akan percaya jika Ayah menyebutkannya.” Jawab Ayah Tomi dengan wajah sinis.

“Ayolah, Ayah! Katakan saja!” rengek Tomi.

“Baiklah, Ayahnya Raiden bernama Gajah Mada. Bagaimana?” jawab Ayah Tomi.

“Hah? Ayah bercanda!” ucap Tomi tidak percaya.

“Kan Ayah sudah bilang, kau tidak akan mempercayainya.” Ayah Tomi kembali sinis.

“Tentu saja aku tidak percaya. Tapi itu tetap keren, Yah! Lanjutkan, lanjutkan!” ucap Tomi menggebu-gebu.

***

Raiden sedang berjalan di sebuah gurun di bawah teriknya matahari. Dia menuju ke arah mata hari terbenam. Ia mendengar sesuatu mengikutinya dari jauh. Ia membiarkannya dan terus melanjutkan perjalanan.

***

Raiden sampai di sebuah oase. Ia mencuci muka dan mengambil perbekalan air. Ia baru meminum seteguk air ketika sebuah pedang terkalung di lehernya.

“Serahkan semua barang-barangmu. Atau kau akan menerima akibatnya.” Seorang pria berbadan tinggi besar menodong Raiden dari belakang dengan mengalungkan sebuah pedang panjang ke leher Raiden.

Raiden mengacuhkan ancaman itu, ia justru melanjutkan meneguk airnya. Ia sempat melirik ke pria itu. Tampak kulitnya coklat gelap bersinar seperti tembaga ketika terkena cahaya matahari.

“Wah dia mau menjemput maut ya.” Bisik pria itu.

Sekian detik sebelum Ia hendak membunuh Raiden, tiba-tiba Raiden bergerak dengan cepat dan menepis tangannya. Pedangnya terjatuh, dengan spontan Ia berusaha mengambil pedangnya. Raiden menendangnya dengan keras tepat di wajah. Ia terhempas ke belakang. “Jadi kau bandit yang terkenal berkelairan di gurun ini ya? Lemah.” Hina Raiden.

“Kurang ajar! Jangan remehkan kami ya.” Ancam pria itu.

Tiba-tiba dari balik bukit pasir muncul orang-orang yang berpenampilan mirip dengan pria itu, mereka semua membawa pedang panjang.

Raiden terdiam dan memandangi sekitarnya.

Dengan sekali aba-aba gerakan tangan oleh pria yang menodong Raiden, mereka menyerbu Raiden bersamaan.

Sekejap mata semua bandit itu dibuat kalah oleh Raiden. “Kalian ini ya, sudah meresahkan orang-orang yang melakukan perjalanan di wilayah ini, coba berapa orang yang telah kalian bunuh?” tanya Raiden sambil memasukkan air dari oase ke wadah.

Tidak ada satupun yang menjawab. Mereka semua mengerang kesakitan.

Raiden kemudian mengambil pedang, Ia menghunuskannya ke pria yang tadi menodongnya.

“Tolong, ampuni kami. Kami berjanji tidak akan menjadi bandit lagiii.” Rengeknya.

Bandit lain menyauti ucapannya. “Tolong. Aku mohon ampuni kami, Tuan! Kami punya keluarga yang harus dihidupi.”

“Tolong jangan bunuh kami!”

“Aku berjanji, Tuan. Aku berjanji atas nama keluargaku untuk tidak berbuat jahat lagi!” mereka saling menyauti.

Raiden diam.

Raiden kembali meneruskan perjalanannya meninggalkan oase. Tampak di belakangnya samar-samar pasir gurun itu telah berwarna merah pekat. Banyak tubuh yang bersimbah darah tergeletak di pasir gurun.

***

Suatu malam yang tenang di lereng sebuah gunung. Bulan purnama bertengger tepat di atas puncak gunung itu. Cahaya bulan purnama membanjiri puncak gunung yang bersalju itu dengan sinarannya yang begitu terang.

Sesuatu terjadi. Sebuah titik gelap muncul dari pusat bulan purnama. Perlahan titik gelap itu melebar dan menutupi cahaya bulan purnama, seperti sebauh gerhana. Malam menjadi gelap gulita.

Binatang-binatang nokturnal yang berada di lerang gunung itu tampak ketakutan. Mereka semua berlarian dengan panik karena merasakan sebuah ancaman.

Pusat kegelapan itu berlahan memendarkan cahaya berwarna merah menyala. Perlahan cahaya itu meluas, membuka sebuah portal dari dimensi lain.

Siluet sesosok makhluk dengan wujud tampak seperti manusia yang memiliki sepasang tanduk mencuat dari kepalanya, muncul dari portal itu. Ia melayang dengan perlahan keluar dari portal. Ia menapakkan kakinya di puncak gunung.

Perlahan portal itu tertutup dan memunculkan kembali bulan purnama. Pancaran cahaya bulan itu kini berubah menjadi merah temaram. Cahayanya seperti menghujani gunung itu dengan darah.

Sosok itu menatap sekitar dengan tenang. Ia tersenyum sinis, menampakkan jajaran gigi kecil yang tajam tertata rapi dibalik senyumannya. Matanya memancarkan kilauan cahaya berwarna merah, selaras dengan cahaya rembulan yang menyinarinya.

“Jadi di sini tempat hidup manusia.” Ucapnya pelan. “Makhluk-makhluk hina. Lemah, hanya dipenuhi dengan kedengkian dan keburukan. Apa bedanya denganku? Justru akan lebih baik jika kami yang menguasai dunia ini. Toh kami tak jauh beda dengan mereka. Justru kami adalah ras yang lebih kuat dari mereka.” Imbuh lagi dengan cekikikan. “Baiklah, akan aku persiapkan mulai dari sekarang.” Imbuhnya lagi sembari terbang melayang menuruni gunung. Angin berhembus kencang, menerbangkan kelopak bunga berwarna merah muda yang pohonnya memenuhi lereng gunung itu. Kelopak bunga merah muda itu beterbangan mengikuti kepergian sosok itu.

Seekor kijang yang sedang bersembunyi di balik sebuah bebatuan tampak bergidik. Badannya bergetar hebat melihat penampakan sosok itu yang baru saja terbang melayang melewatinya.

***

Suara binatang malam bersautan di sebuah hutan lebat. Raiden berjalan sendirian di tengah hutan itu. Hanya cahaya bulan purnama yang menjadi sumber penerangan. “Hanya dengan berjalan saja kan? Lalu tunggu dia muncul.” Gumam Raiden. Ia mengamati sekitar. Tiba-tiba hutan itu menjadi sunyi, tak terdengar satupun suara binatang. Bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar. Ia berusaha fokus, berusaha mendeteksi apapun yang mendekatinya. Dalam sekejap Ia mendengar sesuatu bergerak di semak-semak yang tak jauh darinya. Sesuatu itu bergerak begitu cepat dan memutarinya. Sesekali sosok itu terdengar meloncat dari pucuk satu pohon ke pohon lain. “Keluarlah, kau belum sarapan kan?” teriak Raiden dengan percaya diri.

Sebuah suara tawa serak dan sangat nyaring terdengar menggema memecah kesunyian hutan. Suaranya terdengar begitu mengerikan, bahkan angin pun sampai hampir tidak terasa hembusannya. Tiba-tiba sesosok tinggi dan kurus mendarat tepat di hadapan Raiden. Sosok itu berlajan keluar dari bayangan, cahaya bulan perlahan menampakkan wujud sosok itu. Wujudnya seperti manusia, hanya saja tingginya melebihi 2 meter. “Apa yang kau lakukan di hutan tengah malam begini manusia?” tanya sosok itu dengan suara serak dari mulutnya yang dipenuhi dengan gigi tajam dan dua gigi taring panjang yang menyeringai.

“Tidak ada. Aku hanya sekedar berjalan mencari angin.” Jawab Raiden dengan tenang sambil mengangkat bahu.“Hahaha aku sangat suka ketika sarapanku datang sendiri kepadaku.” Ucapnya.

Raiden tidak mersepon.

Secepat kilat Ia menerjang Raiden. Menghunuskan kuku hitamnya yang menjuntai dari jari-jarinya yang kurus kering kepada Raiden.

Raiden bisa menghindari serangan pertama.

Tiba-tiba Ia sudah berada di belakang Raiden, mencengkeramnya, cakarnya yang kotor itu menembus tubuh Raiden. Ia berusaha menggigit leher Raiden.

Raiden dengan cekatan berkelit lalu menggunakan kemampuan bela dirinya untuk membalik keadaan. Raiden membantingnya ke tanah, Tubuh kurus keringnya menggelepar, lalu meloncat menjauhi Raiden.

“Lumayan. Sudah lama aku tidak mendapat mangsa yang mampu melawan.” Ucapnya sambil melenturkan otot lehernya. Tampak guratan pembuluh darah berwarna hitam menojol menghiasi kulitnya yang berwarna biru pucat.

Raiden meringis menahan rasa sakit dari lubang di pundak dan perutnya. Darah bercucuran dari bekas luka itu. Tapi dalam sekejap luka itu sembuh dengan sendirinya.

Ia menjilati kukunya dan merasakan darah Raiden. “Wah wah, menarik juga. Rupanya kau bukan manusia biasa.” Ia memuji kemampuan pemulihan Raiden.

Ia kembali maju menerjang Raiden. Pertempuran sengit tak terelakkan. Ia rupanya mampu mengimbangi reflek dan kecepatan Raiden. Ia berusah mendaratkan serangan cakar dan taringnya ke bagian vital Raiden.

Raiden berusaha menghindari dan berhasil membalas serangannya dengan pukulan telak. Beberapa serangannya pun sempat memberikan luka ke tubuh Raiden.

Sebuah serangan tepat mendarat di punggung Raiden. Cakarnya menancap di punggung Raiden. Raiden dengan cekatan menendang ke belakang. Tendangannya begitu kuat sampai melepaskan cengkramannya. Raiden meraih tangannya, lalu memelintirnya hingga terdengar suara tulang yang remuk dan patah.

Ia berteriak, teriakan yang menyeramkan keluar dari mulutnya. Teriakannya begitu nyaring dan menyeramkan, menggema memenuhi hutan.

Raiden kemudain melemparnya ke sebuah pohon besar. Suara benturannya begitu keras. Ia jatuh tersungkur di tanah. Nafas Raiden tak beraturan, ia berusaha kembali menstabilkan nafasnya sembari tidak menurunkan pengawasannya. Raiden mengawasi tubunya yang sedang tergeletak di bawah pohon. Sekilas tampak beberapa helai bulu kaku menyelimuti tubuhnya dengan jarang-jarang.

Sebuah gerakan kecil tampak muncul dari tubuhnya. Tubuhnya bergetar, lalu seketika tubuh itu bangun kembali. Nafasnya tampak terengah-engah. Tangan kanannya masih menjuntai dengan lemas setelah dipatahkan oleh Raiden. “Rupanya banyak kesamaan diantara kita ya.” Katanya dengan senyum lebar yang mengerikan. Tanpa diduga, tangan kanannya mengeluarkan suara seperti retakan. Tangan kanan itu berputar dan kembali ke kondisi semula, pulih kembali seperti keadaan semula.

Raiden terkejut. Ia tak menyangka sosok itu juga punya kemampuan pemulihan.

“Mari kita lanjutkan!” ucapnya yang lagi-lagi sudah berada di belakang Raiden dan siap mendaratkan serangan.

Raiden hanya bisa mengelak sedikit dan cakarannya berhasil menibulkan luka cakaran yang begitu parah di punggung Raiden. Raiden mengerang kesakitan. Berusaha menahan dirinya tetap berdiri dan siaga. “Baiklah sepertinya harus aku akhiri sekarang.” Gumam Raiden. Raiden kemudian maju menerjangnya.

Pertempuran sengit kembali tak terelakkan, kali ini Raiden terdesak.

“Tidak ada pilihan lain.” Gumam Raiden yang sedang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Berusah menghindari kejarannya. Raiden mendarat di tanah.

Ia terjun dari atas pohon berusaha menyerang Raiden dari ketinggian.

Raiden memasang kuda-kuda, “Brajamusti” gumam Raiden pelan. Ia mengepalkan tangan kirinya. Pancaran cahaya muncul dari kepalan tangan kirinya. Ia hendak mendaratkan pukulannya ke sosok itu.

Sekian detik sebelum pukulan Raiden menghantamnya. Ia segera berkelit dan berusaha mengincar leher Raiden dengan cakarnya.

Raiden dengan sigap langsung memutar badannya. Kali ini pancaran cahayanya berpindah ke kepalan tangan kananya. Dengan satu gerakan, Raiden mendaratkan sebuah pukulan telak ke ulu hati sosok itu menggunakan tinju tangan kananya.

Ia terbelalak. Matanya yang berwarna oranye cerah melotot setelah menerima pukulan Raiden. Menghancurkan semua tulang dan organ dalamnya. Suara ledakan terdengar setelah pukulan Raiden mendarat di tubunya.

Ia terlempar beberapa meter dari Raiden. Tubuhnya kembali menghantam sebuah pohon besar, kali ini pohon itu sampai tumbang. Kericuhan yang terjadi memecahkan kesunyian malam di hutan itu.

Malam semakin larut. Hutan itu kembali menjadi sunyi, tak terdengar suara binatang apapun. Raiden tampak mencekik sosok itu dengan tangan kirinya.

Ia tampak tak berdaya. tubuhnya lemas dan babak belur. Darah hitam bercucuran keluar dari mulutnya. Kini mata mereka berada di level yang sama.

“To-tolong...” pintanya dengan pelan menahan rasa sakit.

Raiden menatapnya dengan dingin.

“Ampuni aku...” Ia berusaha berbicara meskipun tidak terdengar dengan jelas.

“Ampun katamu? Kau sudah membunuh banyak manusia di hutan ini. Coba katakan berapa banyak manusia yang sudah kau makan? Apakah aku masih harus mengampunimu?” tanya Raiden.

“I-ini.. sudah takdirku. Aku sendiri tidak ingin seperti ini. Tapi aku harus.” Jawabnya.

Raiden mengangkat alisnya, lalu melonggarkan cekikannya.

“Namaku Vetalla. Begitulah orang-orang di sini menyebutku. Aku dulunya juga manusia sepertimu, seperti semua orang.” Ucap Vetalla dengan suara yang lebih jelas.

Tiba-tiba sesuatu bergetar di dalam kantong celana Raiden. “Yggdrassil, sama seperti di gurun waktu itu.” Kata Raiden di dalam hati. Raiden kembali memandang Vetalla yang sudah tidak berdaya. Raiden melepaskan cekikannya. Tubuh Vetalla ambruk di tanah. Sudah tidak sanggup berdiri lagi.

“Siapa? Siapa namamu?” tanya Vetalla.

“Kau sudah akan mati. Untuk apa kau masih menanyakan namaku?” Raiden balik bertanya.

“Siapa? Siapa namamu?” Vetalla kembali mengajukan pertanyaan yang sama.

“Raiden.” Jawab Raiden dengan dingin.

“Raiden, terima kasih. Terima kasih kau telah mengalahkanku.” Ucap Vetalla.

Raiden tampak keheranan.

“Dulu aku juga seorang manusia. Karena sebuah kesalahan aku mendapatkan kutukan. Sehingga jiwaku tidak diterima di dimensi orang hidup dan dimensi orang mati. Ketika aku mati, jiwaku mengambang di sebuah dimensi kekosongan. Hingga suatu waktu aku menemukan jalan untuk kembali ke dimensi manusia. Namun kondisiku sudah berubah. Aku menjadi seperti sekarang ini, sesosok monster yang haus darah manusia. Aku butuh darah manusia untuk menjaga wujud dan jiwaku untuk tetap berada di dimensi ini.” Cerita Vetalla.

Raiden memperhatikannyadengan seksama.

“Tujuanmu datang kesini untuk membunuhku bukan? Tujuanmu adalah untuk menumpas kejahatan bukan?” tanya Vetalla.

Raiden hanya mengangguk pelan.

“Tolong! Tolong bawalah aku. Bawalah aku dalam perjalananmu. Aku tidak tau lagi bagaimana cara menghentikan kutukan ini. Bagaimana aku bisa menuju dimensi orang-orang mati. Aku tidak ingin lagi terjebak di dimensi kosong. Entahlah aku tidak tau apakah ini akan berhasil atau tidak, tapi tolonglah aku. Tolong bantu aku untuk menebus semua kejahatanku. Menebus semua dosaku. Izinkan aku membantumu menolong manusia di muka bumi ini dari kejahatan.” jelas Vetalla, suaranya bergetar.

“Apa? Apa maksudmu?” tanya Raiden terkejut.

“Jadikan aku pengikutmu. Aku berjanji untuk selalu mematuhimu. Aku berjanji akan membantumu menumpas kejahatan. Jika aku melanggar janjiku, kau boleh membunuhku. Tapi tolong berikanlah aku kesempatan!” jawab Vetalla.

Raiden terdiam. Pergolakkan batin terjadi di dalam dirinya. Apakah akan memberikan kesempatan bagi Vetalla, atau akan melenyapkannya untuk menebus segala kejahatannya.

Yggdrassil kembali bergetar, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

“Apa yang dia inginkan?” tanya Raiden dalam hatinya menanggapi getaran yang ditimbulkan oleh Yggdrassil. Ia kemudian mengambil Yggdrassil dari kantungnya. Getarannya semakin kuat saat di dekat Vetalla. “Apakah ini sebuah pesan darimu?” tanyanya di dalam hati sambil menatap Yggdrassil. Ia kemudain menatap Vetalla yang kondisinya sudah semakin memburuk.

***

Sinar matahari terbit menyinari sebuah perkampungan di pinggir hutan. Tampak kerumunan warga desa sedang berkumpul di pinggir desa. Mereka berkumpul di ujung sebuah jalan yang menuju ke hutan. Dari kejauhan tampak sesosok manusia berjalan di jalan setapak dari dalam hutan menuju desa. Sosoknya menjadi siluet karena membelakangi matahari terbit. Beberapa warga tampak memicingkan mata berusaha melihat sosok itu dengan jelas.

Semakin lama Ia mulai menampakkan dirinya. Ia adalah Raiden. Ia tampak kelelahan. Beberapa bagain tubuhnya tertutup darah yang sudah mengering. Ia tampak menjinjing seonggok kepala Vetalla yang sudah terpotong dari tubuhnya. Sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya.

Seketika warga desa bersorak-sorai menyambut kedatangan Raiden. Mereka tampak begitu bahagai, bahkan sampai ada yang menangis.

***

Malam itu Raiden sedang berada di sebuah ruang pertemuan bersama beberapa petinggi desa. Api unggun kecil menjadi penerang di ruangan dengan atap terbuka itu.

“Raiden, apa yang bisa kami berikan sebagai ucapan terima kasih?” tanya Kepala Desa kepadanya.

“Selain baju baru dan persediaan makanan untuk meneruskan perjalananku, sepertinya tidak ada.” Jawab Raiden.

Kepala desa dan orang-orang lain di ruangan itu kemudian bersujud kepada Raiden “Kami mohon, biarkanlah kami melakukan atau memberikan sesuatu lagi padamu. Kami sangat berterima kasih kepadamu. Kami semua berhutang nyawa padamu yang telah mengalahkan Vetalla. Selama puluahan tahun ini telah meresahkan warga desa ini.” Ucap kepala desa.

Raiden tampak kebingungan & canggung. Lalu ia teringat sesuatu. “Oh, adakah seorang pembuat senjata? atau Pandai besi di desa ini?” tanya Raiden.

“Anda datang di tempat yang tepat.” Jawab salah seorang petinggi desa sambil bangkit dari sujudnya dan tersenyum lebar.

***

“Senjata apapun yang kau minta akan kami buatkan. Kami adalah salah satu pemasok senjata untuk prajurit kerajaan yang menguasai tempat ini. Tapi sayang sekali mereka tidak mengambil tindakan apapun terhadap keberadaan Vetalla.” Ucap pria berbadan gemuk yang mengantarkan Raiden melihat-lihat sebuah rumah tempat praktek Pandai besi.

Tampak berbagai senjata terpajang dengan cantik di dinding ruangan itu. “Kau juga bisa memilih salah satu senjata yang ada. Kami akan memberikan yang terbaik yang pernah kami buat.” Jelasnya sembari memamerkan senjata-senjata yang terpajang di dinding.

“Aku ingin dibuatkan sebuah senjata.” Ucap Raiden pelan.

“Dengan senang hati.” Jawabnya sembari mengantar Raiden masuk ke ruangan penempaan.

“Beliau adalah Pandai besi terbaik di desa ini. Silakan meminta kepadanya.” Jelasnya sembari mengenalkan Raiden ke Pandai besi.

Sosok Pandai besi itu sudah sangat tua. Tubuhnya kurus kering dan rambut keriting ikalnya sudah berwarna putih semua. Pandai besi itu mengangguk pelan sambil tersenyum lebar.

Raiden kemudian mengambil sesuatu dari kantongnya. Ia meletakkan dua buah gigi taring di meja.

Mereka  bingung dan terheran-heran melihat apa yang Raiden letakkan.

“Tolong buatkan aku sebuah pedang dari benda ini. Pedang yang berbentuk seperti pedang dari ksatria dari timur jauh.” Kata Raiden sambil menggambarkan bentuk pedangnya di udara dengan jari telunjukknya.

“Saya mengerti.” Jawab Pandai besi sambil mengangguk pelan. Ia mengambil kedua gigi taring tersebut dan membawanya ke tempat penempaan pedang.

“Dia sudah punya banyak pengalaman membuat pedang. Dia pasti sudah mengerti pedang seperti apa yang kau inginkan. Bahan apa yang tepat untuk menjadi campuran dari gigi yang kau berikan. Kita tunggu saja sampai esok.” Ucapnya.

Raiden hanya mengangguk.

Raiden tidak tidur semalaman. Ia duduk di halaman rumah Pandai besi, bak seorang Ayah yang menunggu kelahiran anaknya.

“Tuan, sudah selesai.” Tiba-tiba suara parau dan pelan memecah konsentrasi Raiden.

Tampak Pandai besi sedang berdiri di ambang pintu rumahnya sambil membawa sebilah pedang yang berbentuk Katana. Pedang itu berwarna hitam pekat namun berkilauan memantulkan cahaya matahari. “Saya akan pergi mencari kayu terbaik untuk membuat gagang dan sarungya. Pedang ini butuh gagang dan sarung yang spesial, Tuan. Saya merasakan energi yang sangat besar dari pedang ini.” Jelas Pandai besi.

“Oh anda tidak perlu repot-repot. Aku sudah memilikinya.” Jawab Raiden sembari merogoh kantong bajunya.

Ia terdiam dan menatap Raiden dengan penuh penasaran.

Raiden mengeluarkan akar Yggdrassil dari kantongnya. Akar itu kembali bergetar saat berada di dekat pedang itu.

“Tu-tuan... jangan bilang itu?” tanyanya terbata. Ia terkejut melihat Yggdrassil yang dikeluarkan oleh Raiden.

“Kau tahu tentang akar ini?” Raiden balik bertanya.

“Tentu saja, tuan. Itu adalah potongan dari pohon suci, Bodhi. Saya bisa merasakan energinya. Saya pernah sekali menyentuh sebuah senjata milik raja yang konon juga terbuat dari pohon Bodhi. Saya merasakan sensasi energi yang sama, Tuan. Dan tentu bukan orang sembarangan yang bisa memilikinya, Tuan” Jelas Pandai besi.

Raiden menangguk pelan. “Oh, jadi di tempat ini Yggdrassil disebut Bodhi.” Ucap Raiden di dalam hatinya.

Pandai besi lalu berlutut dan menyerahkan sebilah pedang itu kepada Raiden.

Raiden mengambil pedangnya dengan perlahan. Menancapkan ujung bawahnya ke akar Yggdrassil. Sebuah keajaiban terjadi. Akar itu berhenti bergetar. Lalu memancarkan berkas cahaya hijau yang tidak begitu terang. Intensitasnya hampir menyamai cahaya matahari terbit. Tiba-tiba akar itu tumbuh kembali. Menjulur membalut seluruh permukaan pedang. Beberapa saat kemudian akar itu mengering dan mengelupas. Melepaskan lapisan terluarnya. Menampakkan wujud sebuah pedang yang tertancap di gagang pedang berwarna keemasan. Diselubungi oleh sarung pedang berwarna coklat kemerahan. Mereka terkesima dengan apa yang barusan terjadi.

Ia menatap ke Pandai besi itu. “Terima kasih banyak.” Ucap Raiden.

Ia membalas dengan sebuah anggukan pelan.

***

Raiden sedang berjalan di sebuah jalan setapak yang dikelilingi oleh lahan tanaman padi. Langkah Raiden terhenti saat pedang yang berada dipunggungnya bergetar. Ia menarik pedangnya dari sarung, lalu menghunuskannya kedepan.

“Tuan...” sebuah suara terdengar dari pedangnya.

Raiden tampak keheranan.

“Ini aku, Tuan. Vetalla. Terima kasih, Tuan. Kau telah memberikan kesempatan kepadaku. Aku berjanji dan bersumpah akan menjadi pengikut setiamu. Aku akan menjadi pelindung juga senjatamu.” Ucap suara dari pedang itu dengan penuh keteguhan.

“Vetalla? Jadi semua ini benar? Kau berada di dalam pedang ini?” tanya Raiden keheranan.

“Benar, Tuan. Seperti yang aku katakan malam itu. Aku sudah memanifestasikan jiwa dan kekuatanku pada kedua taringku. Kini dengan bantuan dari akar suci Bodhi kau telah berhasil menyegelku dalam pedang ini. Aku sepenuhnya ada di bawah kendalimu, Tuan. Oh ya, dan hanya anda yang bisa berkominukasi denganku, Tuan.” Jelas Vetalla.

Raiden tersenyum kecil. “Jangan panggil aku tuan, Raiden saja.” Balas Raiden. Kemudian Ia kembali menyarungkan Vetalla di punggungnya. Raiden kembali melanjutkan perjalanan.

***

Berlangganan

Jadilah pembaca setia Filolofi.com dan dapatkan pemberitahuan 
tentang judul cerita terbaru langsung ke emailmu!
Filolofi adalah platform cerita bersambung hasil karya dari beberapa penulis yang dipublikasikan berbasis website sehingga dapat diakses langsung oleh pembaca. Judul atau bagian terbaru akan terbit setiap minggu. Pastikan untuk menjadi pembaca setia Filolofi dan nantikan kisah-kisah menarik setiap minggunya.
Follow
3088
Total Visitors
users linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram